TADBM-416

<< kembali ke TADBM-415 | lanjut ke TADBM-417 >>

tadbm-416

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 24/11/2016 at 02:36  Comments (403)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-416/trackback/

RSS feed for comments on this post.

403 KomentarTinggalkan komentar

  1. Maaf bukan Pangeran Puger tapi Pangeran Purbaya . . . ?

    • Benowo pak

  2. Kyai Tanpa Aran, opo iki Kyai Gringsing yo, tanpa mengurangi hebat dan menariknya cerita ini, apa para sedulur sudah ada yang bisa menduga akhir drama cinta RAS, SM, PW dan An…….

    • Sudah Ki Djumadi…akhir drama cinta segi empat sebentar lagi akan mecungul dari data base nya Mbah_Man….itulah akhir cerita bocoran yang didengar dari angin mamiri….

      hehehe…..geng dalu…..sabar…..semangat….

  3. ….Ndak apa apa Ki PS. …di wilayah Mataram ndalem Kapageranan Puger sangat dekat dengan ndalem Kapageranan Purubayan dan hampir satu komplek dengan ndalem Kapageranan Benawa….

    …..tidak terlalu jauh dari Sitihinggil….

    • Leres Ki Dik Har…..kulo cobi nerawang Ki Haris Hp id Ki Ranga Sedayu asal Surokerto pemilik cerito Gugat Trahning Kusumo mungkin beliau ada dipadepokan GS juga??

      • Waduh…saya kurang paham Ki Adi….

        • Kendali DATA nya kan ada di Ki Satpam dan Ki Putut Risang….

          • Nggih Ki dik Har mboten nopo nopo sekedar ngerasaniae Ki Haris PH …..😊

  4. Oalah . . . . Kok salah terus, mungkin perlu baca lagi . . . .

  5. Sugeng ndalu sedaya can men, baik para sesepuh, yang senior dan yang junior tidak lupa ki satpam

    • Sugeng dalu ugi Ki Hrg.

  6. Apa tindakan ki singawana sepuh dalam menolong muridnya ki Ranapati setelah sama-sama terlempar akibat benturan ilmu dengan swandaru geni … lalu bagaimana pertarungan lanjutan antara ki singawana sepuh dengan Agung sedayu, serta bagaimana kelanjutan kisah cinta nyi Anjani dan Agung Sedayu? …. dibongkar saja data base mbah panembahan mandaraka … haha … llaannjjuuutt ndoro

    • Mari kita nantikan episode berikutnya pasti akan terungkap dan pasti seru hadirlah….Hadirlah …..Banjirilah…Jangan lupa pakai helm….

    • Sabar sedikit Ki Sn…itu di gandok sebelah sudah terlihat ana sinar kelip kelip….

  7. Absen pagi….sami sugeng sederek sedaya?

    • Ikutan absen Sugeng enjang…Sederek sedoyo.. semoga Mbah Man selalu diberikan kesehatan….Aamin

      • …..terdengar lamat lamat kicauan burung kutilang di pucuk pohon beringin Lemah Cengkar yang datanya di intip dari data base Ki Lurah…..

        1. RAS segera dicopot jabatanya yang sekarang dan di anugerahi tiga bintang emas dengan jabatan barunya….(maaf tidak lengkap … pas signalnya lemah)
        2. Ki Dadap Ireng terbaring mabuk terkena ajian seribu bunga…
        3. Anjani bersikeras ingin ikut para prajurit menuju Mataram…
        4. ……hallo….hallo….ada angin ribut…signal terputus…

        www@kicauankutilanggacau.dot.wae.hehehe

        • Hehe ….yang point 3 ini yang membuat hati seakan terbang dug..dug..plas…dug..dug..plas…kataktau…kutaktau……oooooo……. kumau!!!!…..

  8. Tuit……….

    empat gerbong sepur dengan muatan rontal (gerbong depan dan belakang masing-masing hanya terisi separuh) segera diberangkatkan dari sepur empat.

    jesss…. jess…. jess…. jo jajan … jo jajan … jo jajan …

  9. TADBM 416 halaman 62 (lanjutan)

    Sejenak Ki Lurah Adiwaswa tertegun. Pandangan matanya bagaikan lekat pada seraut wajah yang sangat cantik itu.

    Kyai Dadap Ireng yang sudah siap melancarkan serangan susulan kepada Ki Lurah, sejenak langkahnya menjadi tertahan. Dengan sedikit ragu diikutinya arah pandang mata lawannya itu.

    Betapa terkejutnya Kyai Dadap Ireng begitu menyadari ternyata di arena pertempuran mereka berdua telah hadir seorang perempuan yang sangat cantik.

    “Ni Sanak,” Kyai Dadap Ireng lah yang pertama kali menyapa sambil melangkah mendekat, “Ada keperluan apakah Ni Sanak mendekati arena pertempuran kami?”

    “O, tidak ada apa-apa Kyai,” jawab perempuan itu yang tak lain adalah Anjani, “Aku hanya tertarik untuk melihat kalian bertempur. Apakah kalian sadar bahwa pertempuran ini sudah hampir selesai?”

    TADBM 416 halaman 63

    Terkejut Kyai Dadap Ireng mendengar perkataan Anjani. Dengan cepat diedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Ternyata pertempuran benar-benar hampir selesai. Sebagian pengikut Pangeran Ranapati telah melarikan diri, dan sebagian lagi telah menjadi korban. Ternyata tidak ada seorang pun yang menyerah. Mereka lebih senang melarikan diri atau sekalian terbunuh di pertempuran dari pada tertangkap atau menyerah dan akan menjadi pengewan-ewan.

    “Bagaimana Kyai?’ bertanya Anjani kemudian dengan sebuah senyum yang dapat merontokkan jantung hampir setiap laki-laki.

    Kyai Dadap Ireng tidak segera menjawab. Dijelajahinya lekuk-lekuk sekujur tubuh Anjani dengan pandangan nanar. Ketika Anjani kemudian terbatuk-batuk kecil, barulah pemimpin perguruan Dadap Ireng itu bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang sangat mengasyikkan.

    “Maaf Ni Sanak,” berkata Kyai Dadap Ireng kemudian sambil mengatur gejolak di dalam dadanya, “Di pihak manakah Ni Sanak ini berdiri?”

    Anjani tidak segera menjawab. Sebuah senyuman manis kembali tersungging di bibirnya yang ranum bak delima merekah. Dengan kerling sedikit manja dia menjawab, “Tentu saja aku berdiri di pihak Mataram, karena aku adalah sahabat baik Ki Rangga Agung Sedayu.”

    “He? Ki Rangga Agung Sedayu?” hampir bersamaan Ki Lurah Adiwaswa dan Kyai Dadap Ireng mengulang nama itu. Bagi mereka berdua, nama itu adalah nama yang sangat ditakuti lawan dan disegani kawan.

    “Ya,” jawab Anjani tetap dengan senyum yang menawan dan sepasang lesung pipit yang sangat indah untuk dipandang.

    Kemudian pandangan matanya diarahkan kepada Ki Lurah Adiwaswa yang sedari tadi termangu-mangu seperti orang kehilangan akal. Katanya kemudian, “Kalau Ki Sanak yang berpakaian prajurit ini tentu sangat mengenal Ki Rangga Agung Sedayu.”

    TADBM 416 halaman 64

    “Ya, ya.. Tentu saja Ni Sanak. Aku sangat mengenalnya sebagai senapati pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh,” jawab Ki Lurah Adiwaswa dengan suara sedikit bergetar karena jantungnya yang mulai melonjak-lonjak.

    “Nah sekarang, silahkan melanjutkan pertempuran kalian,” berkata Anjani kemudian sambil berjalan menepi, “Aku akan menjadi penonton yang baik.”

    Namun ternyata kedua orang itu sudah tidak mempunyai selera untuk bertempur lagi. Mereka lebih senang memandangi perempuan cantik itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

    “He?’ seru Anjani kemudian begitu menyadari kedua orang itu tidak segera meneruskan pertempuran mereka, “Mengapa kalian diam saja? Atau kehadiranku telah mengganggu kalian?” Anjani berhenti sejenak. Kemudian sambil melangkah pergi dia berkata, “Baiklah, kalau kehadiranku mengganggu, lebih baik aku pergi saja.”

    “Jangaan..!” hampir bersamaan kedua orang itu mencegah sambil tanpa sadar melangkah maju.

    “He?” kembali Anjani terkejut sambil memutar tubuhnya kembali menghadap kedua orang itu. Gerakannya yang gemulai dan pinggulnya yang sedikit bergoyang lembut ketika berbalik telah membuat kedua orang itu menelan ludah berkali-kali. Berkata Anjani selanjutnya, “Jadi, aku harus bagaimana?”

    Kyai Dadap Ireng segera melangkah semakin dekat. Katanya kemudian dengan nafas yang sedikit memburu, “Ikutlah denganku ke perguruan Dadap Ireng. Engkau akan kujadikan Ratu di sana. Apapun yang engkau inginkan, akan aku penuhi walaupun aku harus menyeberangi lautan api.”

    “Ah,” Anjani tertawa pendek. Suara tertawanya yang renyah dan merdu itu telah membuat pemimpin perguruan Dadap Ireng itu semakin kehilangan nalar.

    TADBM 416 halaman 65

    Sedangkan Ki Lurah yang lebih banyak termenung itu menjadi terkejut begitu mendengar permintaan Kyai Dadap Ireng. Katanya kemudian sambil ikut melangkah mendekat, “Kyai Dadap Ireng, Ni Sanak ini tidak ada sangkut pautnya dengan engkau. Biarlah dia bertindak sesuai dengan kata hatinya. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya.”

    “Omong kosong!” bentak Kyai Dadap Ireng, “Setiap kata yang terucap dari mulutku adalah paugeran yang harus diikuti, senang atau tidak senang. Aku dapat memaksakan kehendak kepada siapapun yang aku kehendaki.”

    “Tentu saja tidak,” tiba-tiba terdengar suara seseorang memotong, “Justru pemaksaan kehendak itu merupakan bentuk pelanggaran terhadap paugeran itu sendiri.”

    Serentak mereka bertiga segera berpaling ke arah suara itu berasal. Tampak dalam keremangan dini hari, seorang anak muda bersama seorang yang sudah sangat sepuh berjalan mendekati mereka.

    Untuk beberapa saat Anjani mengerutkan keningnya dalam-dalam. Rasa-rasanya dia mengenal kedua orang itu. Sementara Ki Lurah Adiwaswa dan Kyai Dadap Ireng hanya dapat menduga-duga.

    • Aaaaaakh…. macetttttt lagi.
      Tapi.. terima kasih juga buat Ki Satpam dan Mbah_Man.
      Untuk rekan” can-men harap sabar dan tetap semangat.

  10. Matuf nuwun Ki P Satpam….kiriman paketnya sudah sampai…semoga tidak jemu jemu minum jamu ramuan Mbah Man yang ahli mengurai keelokan lawan jenis lelaki yang bernama Anjani …..klepek…kleplek…sepur kluthukpun ikut mabok….hihihi

  11. Sepur sudah masuk stasiun gandhok gagakseta ….. monggo pinarak rumiyin nyi anjani teng gandhok gagakseta …

    • matur nuwun sanget mas satpam ….

  12. Haduuuh..semakin penasaran , maturnuwun eyang panembahan & dimas satpam , salam sehat selalu

  13. Sugeng siang.
    Matur nuwun mas Satpam mbah Man wedaranipun.
    Semakin penasaran . . .

  14. Absen sore sambil menikmati bis Solo -Yogya. Ternyata ada Anjani. Melu deg deg gan.

  15. matur nuwun Mbah_Man lan Pak Satpam, malah nambah ruwet lakone…

    • Wah ono sing ketiban wulung iki , Matur suwun Mbah Man lan Pak Satpam

  16. Wah, ada tebakan lagi. Siapakah anak muda dan orang tua itu ? Tapi sepertinya mudah ditebak ya . . . .

    • Ya pastinya cantrik Gatra Bumi.
      Betul kan.

    • Raden Mas Rangsang dengan Ki Tanpa Aran.

      • Wah kemungkinannya sangat besar Ki Adi…..kalau Raden Mas Rangsang yang hadir ….pupuslah harapanku….”Tentu saja tidak”….karena ada yang lebih berhak…..bukan begitu Anjani…”hamba kyai…tapi…tapi…siapakah yang lebih berhak itu Kyai”??…..ya sudah tentu Mbah Man toh….bukan begitu Ki Lurah….”nggih Kyai….tapi…tapi…” ….tapi opo meneh Ki Kurah sudahlah jangan ganggu Mbah Man masih banyak cerita yang belum tertulis Ki Widura saja masih tidur pulas, belum lagi acara perkawinan prajurit jati anom masih tertunda karena Tumenggung Untaradira belum pulang dan ada masalah baru pembelotan Ki Rangga dipayana mungkin dijilid selanjutnya tambah seru bukan begitu Ki Dadap Ireng…..nggih Kyai…tapi…tapi…nanti saya tampil lagi tidak Kyai…..ya itu juga terserah Mbah Man bukan begitu Ki Lurah……nggih Kyai….tapi…tapi….nuwun sewu Kyai kaki saya jangan diinjak…..ooooo….kutaktau…kutaktau….ooooo….kulupa!!

  17. Dan Ki Tanpa Aran itu siapa ya . . . ? Jangan2 Kyai Gringsing sehat kembali . . . ?

  18. Hadir di saat suara adzan berkumandang. Mudah-mudahan ba’da zhuhur ini sepure teko mneh di station GS.

  19. Hadir, jilid 416 telah tamat ….. tetap semangat !

  20. Diujung jilid 416 yang sangat mengharukan Swandaru pralaya dan menitipkan pesan ke Agung Sedayu sambil berbisik…….

    “Kakang kutitipkan anakku padamu dan rawatlah dia seperti anakmu kakang dan aku juga menitipkan Panda Wangi jadikanlah istri kedua kakang karena aku tahu Pandan Wangi masih mencintaimu maaf aku yang telah merobek hati masa lalunya aku ikhlas kini menyerahkan kembali kepada kakang”…nungkin bisiksn ini yang membuat terkejut dan memerah wajah Agung Sedayu…..

    Selengkapnya tunggulah sepur kluthuk untuk mengirim berita selengkapnya……..saat ini masinisnya sedang bersedih dan berduka dulu….karena Anjani sudah kelain hati……sedang aku tak bisa kelain hati…dan aku selalu datang kekotamu….dimana setiap dudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna…terhanyut aku akan nostagia…saat kita sering luangkan waktu….nikmati bersama….susana Jogya…dipersmpangan langkah kuterhenti…melihat engkau duduk berdua…bercanda mesra dengan sidia….pupuslah harapanku……

  21. Sugeng sonten can men gagakseta sedanten ….. mbah man menuliskan cerita penuh kejutan di lanjutan wedarannya ….

    Kita tunggu sepur kluthuk pembawa berita mampir stasiun gagakseta … masinisnya sedang sedih setelah baca wedaran lanjutannya ….

    Sabaaar … perguruan orang bercambuk tetap akan ada untuk mereka yang membutuhkannya …

  22. Tuit……. Tuit…… Tuit……

    Sepur barang dengan deretan gerbong pegangkut rontal terakhir TADBM sudah siap diberangkatkan.

    Dengan berangkatnya gerbong ini, berakhir pulalah kewajiban Risang untuk menghantarkan naskah karya Panembahan Mandaraka.

    Gandok TADBM segera ditutup.

    Apakah akan dibuat gandok baru, sepenuhnya bagaimana keinginan para cantrik yang selama ini berkumpul di Padepokan Gagakseta.

    Secara pribadi sih, sebenarnya Risang sudah capek. Tetapi, jika para can/men masih menghendaki, masih bisa Risang usahakan senyampang belum ada kegiatan yang padat.

    Nuwun ….

    jes… jesss…. jesss…. jo jajan … jo jajan… jo jajan……

    • Matur suwun sanget Mbah Man dan Mas Risang…….atas segala usaha dan kepeduliannya untuk selalu mengawal para sanak kandang pencinta ADBM dan TADBM…..saya pribadi merasa berkesan dan kerasan di gandhok ini , dan hanya bisa berharap semoga dapat berlanjut walaupun nantinya berubah judul dan itupun kalau Mbah Man dan Mas Risang juga para sesepuh menghendakinya tentunya para canmen …..salam hormat untuk para pinisepuh yang juga ikut mengawal padepojan GS 2🙏🙏

      • …idem pareng nggih Ki Adi ???….

        Salam hormat untuk para sanak kadang semuanya.

        Semoga Kita semuanya senantiasa mendapatkan Ridha Allah dalam menjalani tugas kita masing masing.

        Aamin.

  23. TADBM 416-Halaman 65 (lanjutan)

    Ketika kedua orang itu telah semakin dekat, barulah Anjani dapat mengenali siapakah kedua orang itu.

    “Selamat datang kakek Tanpa Aran,” berkata Anjani kemudian sambil mengangguk hormat kepada orang yang sudah sangat sepuh itu. Sedangkan kepada anak muda yang berjalan di sebelahnya, Anjani segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Selamat datang Raden Mas Rangsang.”

    “Terima kasih Ni Anjani,” Raden Mas Rangsang lah yang menjawab. Sementara kakek Tanpa Aran hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Dalam pada itu, Ki Lurah Adiwaswa yang mendengar nama calon penerus tahta Mataram itu disebut segera menyongsong Raden Mas Rangsang dengan tergopoh-gopoh.

    “Maafkan hamba Raden,” berkata Ki Lurah kemudian sesampainya di hadapan Raden Mas Rangsang, “Hamba sangat jarang bertemu dengan Raden, sehingga hamba tidak dapat mengenali kehadiran Raden di tempat ini.”

    Raden Mas Rangsang  tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih Ki Lurah. Jangan menyambutku berlebihan. Kita sedang berada di medan perang. Kesiap-siagaan dan kewaspadaan itu lebih penting dari pada segala unggah-ungguh dan suba sita.”

    TADBM 416-Halaman 66

    Orang-orang yang mendengar ucapan Pangeran Pati itu hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah mendengar akan kesederhanaan dan kebersahajaan Putra Mahkota itu. Kecuali Kyai Dadap  Ireng yang sedari tadi hanya mengerutkan kening sambil pandangan matanya yang tajam tak pernah lepas menatap wajah Raden Mas Rangsang.

    “Kesempatan yang sangat langka,” berkata Kyai Dadap Ireng dalam hati, “Belum tentu seumur hidupku aku dapat bertemu muka langsung dengan trah Mataram ini. Jika aku berhasil menangkapnya hidup-hidup, atau pun membunuhnya, tentu Mataram akan kehilangan penerusnya. Cita-cita Pangeran Ranapati untuk merebut tahta  tentu akan lebih mudah.”

    Teringat akan Pangeran Ranapati, tiba-tiba saja Kyai Dadap Ireng menjadi gelisah. Beberapa saat tadi dia sempat melihat Pangeran yang keras hati itu terjatuh akibat benturan ilmu dengan lawannya. Kemudian gurunya, Ki Singawana Sepuh telah datang untuk menolongnya. Namun beberapa saat kemudian ketika perhatiannya tersita oleh Anjani, dia sudah tidak melihat lagi keberadaan guru dan murid itu.

    Ketika Kyai Dadap Ireng kemudian mencoba mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan, di sana sini yang tampak hanyalah prajurit-prajurit Mataram dibantu oleh beberapa murid perguruan bercambuk,  sedang sibuk menolong  para korban.

    “Gila!” geram Kyai Dadap Ireng tanpa sadar, “Apa sebenarnya yang telah terjadi?”

    “Pertempuran telah selesai Ki Sanak,” Raden Mas Rangsang lah yang menyahut, “Ki Sanak jangan mencoba mencari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Kelihatannya dia telah terluka parah dan telah dibawa menyingkir oleh gurunya.”

    “Persetan!” kembali Kyai Dadap Ireng menggeram, “Aku tidak peduli lagi dengan Pangeran itu. Sekarang aku akan membunuhmu. Bukankah orang-orang tadi menyebut namamu Raden Mas Rangsang, calon penerus trah Mataram?”

    TADBM 416-Halaman 67

    “Namaku memang Mas Rangsang,” jawab Putra Mahkota itu, “Adapun orang-orang memanggilku dengan gelar kebangsawanan atau pun tidak, itu tidak akan ada bedanya bagiku. Aku tetap sebagaimana diriku ini.”

    “Anak sombong!” bentak Kyai Dadap Ireng, “Bersiaplah untuk mati!”

    Selesai berkata demikian, pemimpin perguruan Dadap Ireng itu segera bersiap untuk melancarkan serangan pertamanya.

    “Tunggu!” hampir bersamaan Ki Lurah Adiwaswa dan Anjani melangkah maju.

    “Raden, biarlah hamba tuntaskan sekalian tugas hamba,” berkata Ki Lurah Adiwaswa mendahului Anjani, “Sebelum Raden hadir di tempat ini, kami memang telah bertempur untuk beberapa saat lamanya.”

    Raden Mas Rangsang hanya tersenyum dan menggeleng menanggapi kata-kata Ki Lurah. Sambil berpaling ke arah Anjani, Raden Mas Rangsang pun kemudian bertanya, “Rara Anjani, apakah Rara bersedia membantuku sekali lagi?”

    Terkejut Anjani mendengar dirinya disebut Rara. Sebutan Rara itu hanya untuk perempuan trah bangsawan, sedangkan dirinya sama sekali tidak pantas disebut Rara.

    Berpikir sampai disitu dengan segera dia menyembah sambil berkata, “Ampun Raden, hamba ini hanyalah trah pidak pedarakan yang tidak pantas menyandang gelar Rara. Sekali lagi hamba mohon maaf.”

    Raden Mas Rangsang tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Atas nama Penguasa Mataram Ayahanda Prabu Panembahan Hanyakrawati, aku telah menganugrahkan gelar Rara kepada mu atas jasa Rara Anjani menyelamatkan aku sewaktu di Tegal Kepanasan.”

    Berdesir dada orang-orang yang hadir di situ tak terkecuali Ki Lurah Adiwaswa. Dirinya segera maklum bahwa agaknya Putra Mahkota Mataram itu telah berkenan dengan perempuan yang bernama Anjani itu.

    TADBM 416-Halaman 68

    Untuk beberapa saat Anjani justru telah membeku di tempatnya. Secara samar dia segera menyadari apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Raden Mas Rangsang itu. Berbagai pertimbangan pun segera bergolak di dalam dadanya.

    “Bagaimana Rara Anjani?” bertanya Raden Mas Rangsang kemudian sambil tersenyum penuh arti, “Apakah engkau sekali lagi mau menolongku? Sungguh aku benar-benar memerlukan pertolonganmu dan aku akan memberimu hadiah yang mungkin diluar  jangkauan nalarmu.”

    Kembali berdesir dada Anjani. Bahkan sekarang ini begitu tajamnya desir yang menggores jantungnya sehingga membuat sekujur tubuh Anjani tiba-tiba menggigil.

    Tiba-tiba Anjani teringat nasihat Kanjeng Sunan beberapa saat yang lalu ketika mereka sedang berkumpul di dalam goa di puncak Suralaya pebukitan Menoreh.

    “Ni Anjani. Aku tidak dapat menentukan masa depan seseorang. Banyak-banyaklah memohon petunjuk kepada Yang Maha Agung di setiap doamu. Selain itu usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan niat baik dan ikhlas, akan membawamu ke masa depan yang engkau cita-citakan. Namun semua itu tetap di dalam kuasaNYA. Jika Yang Maha Agung berkehendak lain, tiada seorang pun yang mampu menolaknya.”

    Sebenarnyalah Anjani adalah seorang perempuan yang cerdas dan tanggap. Adalah sangat deksura bila menolak keinginan seorang Putra Mahkota walaupun dia menyadari sepenuhnya bahwa bukanlah sifat dari Raden Mas Rangsang itu untuk memaksakan kehendaknya. Namun jauh di lubuk hatinya, Anjani merasa begitu tersanjung dan ada keinginan untuk tidak mengecewakan calon pewaris tahta Mataram itu. Sementara nasibnya sendiri untuk saat ini masih terombang-ambing tidak menentu.

    “Jika memang aku diperkenankan untuk suwita di Mataram, apa salahnya?” berkata Anjani dalam hati, “Sedangkan harapanku selama ini terlalu jauh dan terjal untuk kurengkuh. Akan aku buktikan kepada orang-orang Menoreh bahwa aku bukanlah perempuan yang sedemikian rendahnya untuk diremehkan.”

    TADBM 416-Halaman 69

    Dengan segala pertimbangan itulah, Anjani pun segera menghaturkan sembah sambil membungkuk dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mohon ampun Raden. Adalah merupakan suatu kewajiban bagi semua kawula Mataram termasuk hamba untuk melindungi Raden dari segala mara bahaya. Hamba tidak pernah memimpikan untuk mengharapkan hadiah. Apa yang hamba lakukan adalah semata-mata karena sebuah kewajiban.”

    Kembali Raden Mas Rangsang tertawa pendek. Katanya kemudian, “Baiklah Rara Anjani. Aku serahkan keselamatanku kepadamu. Marilah kita panjatkan doa,  semoga  Yang Maha Agung berkenan untuk melindungki kita semua.”

    Semua yang hadir di tempat itu tampak mengangguk-angguk kecuali Kyai Dadap Ireng. Dengan tertawa lebar dia maju selangkah. Katanya kemudian, “Baiklah, kalau memang Putra Mahkota ini terlalu pengecut, siapapun yang menjadi gantinya aku tidak peduli. Jika memang perempuan yang bernama Rara Anjani ini yang akan menjadi lawanku, aku tidak berkeberatan. Namun ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Aku tidak sampai hati jika harus melukai bahkan sampai membunuh perempuan yang terlalu cantik ini. Aku hanya akan menundukkannya dan setelah itu, tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi aku untuk membawanya ke padepokan Dadap Ireng.”

    Terkejut orang-orang yang hadir di tempat itu. Serentak mereka berpaling ke arah Raden Mas Rangsang. Namun ternyata Raden Mas Rangsang menanggapi persyaratan Kyai Dadap Ireng itu dengan dingin. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak, jika Ki Sanak mampu mengalahkan Rara Anjani, Ki Sanak boleh membawanya kemana saja sesuka hati Ki Sanak. Namun jika Ki Sanak kalah, Ki Sanak akan menjadi tawanan prajurit Mataram.”

    “Omong kosong!” geram Kyai Dadap Ireng, “Lebih baik aku terbujur menjadi mayat dari pada harus menyerah kepada Mataram.”

    Orang-orang yang hadir disitu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya pemimpin perguruan Dadap Ireng itu terlalu yakin akan dapat mengalahkan Rara Anjani.

    TADBM 416-Halaman 70

    Demikianlah, sejenak kemudian mereka yang hadir di situ segera menepi kecuali Rara Anjani dan Kyai Dadap Ireng yang telah berhadap-hadapan untuk saling mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang.

    Dalam pada itu di tempat Ki Swandaru terbaring, tampak Ki Rangga dengan wajah yang tegang sedang memantau detak jantung adik seperguruannya itu.

    “Sangat lemah dan tersendat-sendat,” berkata Ki Rangga dalam hati dengan  jantung yang berdebaran, “Semoga adi Swandaru mampu bertahan. Aku akan menghilangkan pengaruh racun diluar tubuhnya terlebih dahulu.”

    Sejenak kemudian Sekar Mirah pun telah sampai di tempat itu dan segera berlutut di sisi suaminya.

    “Ini Kakang,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil mengangsurkan lodong yang penuh berisi air.

    Ki Rangga yang menerima lodong bambu itu sejenak mengerutkan keningnya. Adalah sangat aneh Sekar Mirah bisa mendapatkan sebuah lodong bambu yang penuh berisi air di tengah padang rumput lemah Cengkar.

    Agaknya Sekar Mirah tanggap atas keheranan suaminya. Maka katanya kemudian, “Ada seorang yang mengaku bernama kakek Tanpa Aran yang telah memberikan lodong bambu ini kepada Cantrik Jati Anom.”

    “Cantrik Jati Anom?” bertanya Ki Rangga sambil menuangkan sedikit air kedalam bumbung kecil yang berisi serbuk berwarna kehitaman, “Apakah engkau menyuruh cantrik itu untuk mencari air? Dan siapakah kakek Tanpa Aran itu?”

    “Tidak kakang, dia mencari air atas kehendaknya sendiri. Sewaktu di pinggir padang rumput lemah cengkar, dia bertemu seorang kakek-kakek yang menyebut dirinya Ki  Tanpa Aran dan kemudian memberinya lodong bambu itu,” Sekar Mirah berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dia mencari air untuk Paman Widura yang terluka.”

    “He?” terkejut Ki Rangga sehingga dia menghentikan tangannya yang sedang mengaduk bumbung yang berisi cairan obat. Tanyanya kemudian sambil berpaling ke arah istrinya, “Bagaimana keadaan Paman Widura sekarang?”

    TADBM 416-Halaman 71

    “Kelihatannya Paman Widura baik-baik saja,” jawab Sekar Mirah, “Sewaktu aku di sana tadi, aku sudah mencoba membangunkannya, namun Paman Widura terlihat tidurnya sangat lelap.”

    “Tidur? Paman Widura tertidur?”

    “Ya, Kakang. Tidurnya terlihat sangat tenang dan wajahnya tidak terlihat pucat,” Sekar Mirah berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Keadaan paman Widura benar-benar terlihat nyaman dan sehat. Karena itulah aku telah meminta cantrik itu untuk menungguinya, sementara aku membawa lodong bambu ini ke sini.”

    “Dan Kakek Tanpa Aran itu?” sahut Ki Rangga.

    Sekar Mirah menggeleng, “Dia hanya mengaku bernama Ki Tanpa Aran, itu saja.”

    Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Dia telah selesai mengaduk obat di dalam bumbung kecil itu. Dengan menuangkan sedikit demi sedikit di telapak tangan kanannya, Ki Rangga pun mulai membaluri luka-luka di sekujur tubuh Ki Swandaru yang tampak lebam dan berwarna biru kehitam-hitaman.

    Sejenak kemudian, tampak warna kehitam-hitaman itu secara berangsur mulai memudar.

    “Pengaruh racun di luar tubuh Adi Swandarau mulai berkurang,” berkata Ki Rangga kemudian, “Aku akan mencoba mengobati luka dalamnya.”

    “Bagaimana caranya kakang?” hampir bersamaan kedua perempuan itu bertanya. Memang mengobati luka dalam biasanya dengan cara memberikan obat untuk diminum, sedangkan keadaan Ki Swandaru pada saat itu masih belum sadarkan diri.

    TADBM 416-Halaman 72

    Ki Rangga tidak menjawab. Dengan perlahan dia meraba dada adik seperguruannya itu. Kerut merut di dahinya pun semakin dalam.

    “Luar biasa,” berkata Ki Rangga kemudian perlahan, seolah ditujukan kepada dirinya sendiri.

    “Bagaimana kakang?” sekarang giliran Pandan Wangi yang bertanya. Wajahnya terlihat sembab penuh air mata.

    Kembali Ki Rangga tidak menjawab. Untuk beberapa saat dia merenungi tubuh yang terbujur diam itu. Luka dalam Ki Swandaru menurut pengamatannya ternyata sangat parah. Dadanya bagaikan hancur diterjang kekuatan ilmu lawannya. Sementara racun yang meresap ke dalam urat nadinya telah merambah ke jantung walaupun Ki Rangga telah berusaha untuk menghentikannya beberapa saat yang lalu.. Namun racun itu ternyata sangat kuat  dan jahat sehingga perlahan tapi pasti telah mampu menembus jalur-jalur urat nadi yang telah dihentikan oleh Ki Rangga dan merambat menuju ke jantung.

    “Jika saja Adi Swandaru mempunyai waktu yang cukup untuk mematangkan tingkatan ilmu yang telah dicapainya itu, tentu dia akan dapat bertahan mendapat gempuran puncak ilmu Pangeran Ranapati. Demikian juga  walaupun adi Swandarau tidak mempunyai kekebalan terhadap racun, namun jika tenaga cadangannya cukup kuat, akan dapat menolak racun itu merambah sampai ke jantungnya,” berkata Ki Rangga dalam hati dengan penuh rasa  penyesalan.

    “Kakang..?” kali ini Sekar Mirah yang mengguncang lengan suaminya. Nada suaranya terdengar sangat gelisah, sedangkan Pandan Wangi mulai terisak-isak dan tidak kuat lagi menahan tangisnya.

    Ki Rangga benar-benar dibuat kebingungan. Sejauh pengetahuan yang  telah dipelajarinya dari kitab peninggalan gurunya, luka yang sedang diderita adik seperguruannya itu sepertinya sangat mustahil untuk disembuhkan. Namun dia tidak sampai hati untuk menyampaikan semua itu kepada Pandan Wangi dan Sekar Mirah.

    TADBM 416-Halaman 73

    Tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan oleh suara desahan yang keluar dari mulut Ki Swandaru. Sejenak kemudian tampak tubuh Ki Swandaru sedikit menggeliat, sementara kedua kelopak matanya pun mulai terlihat sedikit terbuka.

    “Kakang..?” bisik Pandan Wang  di antara sedu sedannya sambil mendekatkan wajahnya, “Ini aku Pandan Wangi, istrimu?”

    Tampak seleret tipis senyum Ki Swandaru di bibirnya yang pucat. Katanya kemudian dengan setengah berbisik, “Wangi, engkau tidak apa-apa?”

    Dengan sekuat tenaga Pandan Wangi mencoba menahan tangisnya. Jawabnya kemudian, “Ya, kakang aku tidak apa-apa. Di sini juga ada Sekar Mirah dan kakang Agung Sedayu.”

    Ki Swandaru tampak kembali tersenyum. Bisiknya kemudian, “Di mana Kakang Agung Sedayu?”

    “Aku di sini adi,” dengan cepat Ki Rangga menjawab sambil mendekatkan wajahnya agar dapat dilihat oleh adik seperguruannya. Lanjutnya kemudian, “Aku sudah menyiapkan obat untuk engkau minum agar dapat  membantu memulihkan kekuatanmu.”

    Namun tanggapan Ki Swandaru sangat mengejutkan. Dengan menggeleng lemah dia berkata, “Kakang tentu sudah memahami keadaanku yang sebenarnya, karena selain ilmu kanuragan, kakang juga mewarisi ilmu pengobatan dari guru,” Ki Swandaru berhenti sebentar. Nafasnya menjadi tersengal-sengal. Ketika Sekar Mirah menyodorkan air minum di bumbung kecil, Ki Swandaru menggeleng. Lanjutnya kemudian, “Aku titip anakku, kakang. Didiklah dia agar menjadi murid perguruan bercambuk yang mumpuni seperti engkau.”

    Semua yang hadir di tempat itu diam tergugu. Hanya sedu-sedan kedua perempuan itu yang terdengar di antara deru nafas Ki Swandaru yang terengah-engah.

    “Kakang,” tiba-tiba Ki Swandaru memberi isyarat Ki Rangga untuk lebih mendekat.

    TADBM 416-Halaman 74

    Ki Rangga pun tanggap. Dengan segera didekatkan telinganya ke bibir adik seperguruannya itu. Sejenak kemudian terlihat bibir Ki Swandaru mengucapkan sesuatu yang hanya Ki Rangga yang dapat mendengarnya. Begitu Ki Swandaru selesai, tampak wajah Ki Rangga merah padam. Sementara kerut merut di keningnya pun semakin dalam.

    “Itu tidak perlu adi, itu aku kira tidak perlu,” berkata Ki Rangga kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

    Namun Ki Swandaru hanya tersenyum. Kemudian sambil berpaling ke arah Pandan Wangi dia berdesis perlahan, “Wangi, maafkan aku selama ini. Aku tidak bisa menjadi seorang suami yang baik dan ayah teladan bagi anakku.”

    Pandan Wangi tidak menjawab. Hanya tangisnya yang semakin meledak-ledak.

    “Sudahlah, aku mohon pamit,” desah Ki Swandaru hampir tak terdengar. Nafasnya menjadi semakin sesak dan tersengal-sengal. Pengaruh racun itu telah mencengkam jantungnya. Lanjutnya kemudian setelah sesak nafasnya agak mereda, “Mirah, sampaikan maafku pada Ayah. Aku anak laki-laki kebanggaannya,  namun yang telah mengecewakannya.”

    Selesai berkata demikian, Ki Swandaru segera memejamkan matanya.  Dengan susah payah dia berusaha menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

    “Kakaaang..!” hampir bersamaan kedua perempuan itu menjerit.

    Ki Rangga Agung Sedayu yang tanggap bahwa saat-saat terakhir Ki Swandaru telah dekat, segera membisikkan sesuatu di telinga adik seperguruannya itu.

    Sejenak kemudian, kuasa Yang Maha Agung yang menguasai seluruh alam raya beserta isinya itu pun berlaku. Tidak ada satupun makhluk di jagad raya ini yang luput dari takdirNYA, dan Ki Swandaru telah menjalani takdir NYA.

    Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Hanya isak tangis kedua perempuan itu yang terdengar tertahan-tahan. Sementara langit di ufuk timur telah merona. Sinar Matahari pagi mulai menyentuh awan yang berarak tipis. Burung-burung pun mulai berkicau memperdengarkan suaranya yang merdu dan penuh riang gembira.

    TADBM 416-Halaman 75

    Ki Rangga segera bangkit berdiri. Dilemparkan pandangan matanya ke arah barat. Dengan aji sapta pandulu, semua yang terlihat masih remang bagi Ki Rangga  menjadi sangat jelas. Tampak tiga orang sedang berjalan ke arah barat menjauhi padang rumput lemah Cengkar meninggalkan sesosok tubuh yang terbujur diam di belakang mereka.

    “Raden Mas Rangsang dan Anjani,” desis Ki Rangga dalam hati sambil mengamati kedua sejoli yang tampak berjalan dengan riang di bawah siraman sinar Matahari yang masih lemah, “Syukurlah. Semoga Anjani menemukan kebahagiaan yang selama ini dirindukannya.”

    Namun ada segores luka yang terasa sangat pedih jauh di dasar hatinya yang paling dalam. Kenangan bersama Anjani memang tidak  mungkin akan dapat dilupakan sepanjang hidupnya

    Ketika Ki Rangga kemudian mencoba mengenali bayangan orang yang sudah sangat sepuh yang berjalan di sebelah kanan Raden Mas Rangsang, Ki Rangga menjadi sangat terkejut bagaikan melihat hantu di siang bolong.

    “Ah, tidak mungkin,”   berkata Ki Rangga akhirnya tanpa sadar, “Aku sama sekali tidak mengenal orang itu,”

    Ki Widura yang telah tersadar dari tidur lelapnya dan sedang berjalan  mendekati keponakannya itu sekilas mendengar ucapan Ki Rangga. Tanyanya kemudian, “Siapakah yang angger maksud?”

    Sekilas Ki Rangga berpaling ke arah pamannya. Jawabnya kemudian sambil memandang kembali ke arah titik-titik bayangan di kejauhan, “Bukan siapa-siapa Paman. Mungkin aku hanya salah melihat saja.”

    Demikianlah akhirnya, para korban pertempuran lemah cengkar telah dikumpulkan dan diangkut dengan dua buah pedati yang dipinjam dari  padukuhan terdekat, padukuhan Kaliasat. Jasad Ki Tumenggung Purbarana dan para Prajurit akan dibawa ke Mataram. Sedangkan korban dari para pengikut Pangeran Ranapati langsung dimakamkan di Lemah Cengkar.  Sementara jasad Ki Swandaru akan dibawa langsung ke Sangkal Putung untuk mendapatkan penghormatan terakhir di sana.

    Dalam pada itu, langit di ufuk timur telah semakin cerah. Sinar Matahari yang menyentuh butir-butir embun pagi yang masih manja bergelayutan di pucuk-pucuk dedaunan memantulkan sinar yang indah berwarna-warni. Seindah warna hati Rara  Anjani yang telah menemukan masa depannya.

    TAMAT

    Akan ada lanjutannya, tetapi masih belum ditentukan judulnya.

    • Terima kasih mbah man dan pak satpam. TADM tamat dengan meninggalkan segores luka krn kepergian rara anjani dengan mas rangsang.
      Apakah lanjutan ceritanya nanti tetap dengan tokoh sentral Ki RAS? Semoga saja.

    • Nopo judulipun mbah……..

  24. Huhuhuhu…..selamat jalan Rara Anjani takkan kulupa bentuk alismu bak semut beriring…….

    • Sejenak menyimak sebagian kecil kompetensi para “pendiri”
      Gandok Gagak Seto 2
      (mohon maaf apabila banyak kekurangan dan kesalahan data)

      1. Ahli ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
      2. Ahli Sejarah Nusantara (lengkap)
      3. Pujangga
      4. Ahli Bahasa
      5. Sasterawan
      5. Budayawan
      6. Dalang Kondang
      7. Wartawan
      8. Ahli IT
      9. Novellis
      10. Pak Guru & Bu Guru
      11. ……dan adalah Ki Satpam Pelangi dan Ki Putut Risang selaku pengendali data yang tulus dan hebat…
      12. Dan lain lain (termasuk kelompok komentator sepak bola….hehehe….)

      GS 2 memang hebat……persahabatannya sangat hebat…

      Semangat !!!

      • Ternyata dari berbagai kalangan / lapisan masyarakat ya ki dik Har. Dalam pada itu saya hanyalah mengenal berupa tulisan/komentar nya saja. Ikut semangat sebagai mana semangatnya Anjani yang telah mendapatkan anugerah gelar Tata dari pangeran pati Mataram.

        • gelar Rara

          • Cinta membara dibukit Kendalisada
            Melihat Agung Sedayu datang berlima
            Terobek kembali hati yang lara walau sudah bergelar Rara
            Cinta memang membuat hati menjadi buta
            Gubuk reyot terlihat bak istana karena ada hiasan cinta
            Bahkan melihat Ki Lurah bagaikan Raja
            Karena taburan aji seribu bunga…..hehehe….mblayuuu

  25. Nsmun ada segores luka yg terasa sangat pedih jauh didasar lubuk hatinya . . . .
    “Aku titipkan isteriku kepadamu kakang, jagalah dia baik2” bisik ki Swandaru . . .
    Sugeng enjang mbah Man, sugeng enjang mas Satpam.
    Matur nuwun sanget.

    • . . . . mencoba mengenali bayangan orang yang sudah sangat sepuh yang berjalan disebelah kanan Raden Nad Rangsang, Ki Rangga menjadi sangat terkejut bagaikan melihat hantu disiang bolong. “Guru???? ….”. “Ah, tidak mungkin” berkata Ki Rangga tanpa sadar.
      …………
      …………..

      …….” Siapa ngger” bertanya ku Widura yang tiba2 saja sudah berada dibelakang Ki Rangga. ” Ah bukan siapa2 paman”.
      ……
      . ……

  26. Wah, Tamat . . . . Masih banyak pertanyaan belum terjawab . . . ?

  27. luar biasa menegangkan cerita mbah man. di akhir babak masih ada bayangan ketegangan baru yang tampakx akan lebih dalam. semoga Agung Sedayu tetap menjadi tokoh utama di kisah selanjutnya. RAS sudah terlalu membekas di hati. menggantikannya akan terasa menyakitkan bagi pecinta ADBM….trims mbah man…Anda bahkan telah melampaui maestro aslinya…salut..

  28. Nuwun sewu mbah! Anggen kula kaget sami kaliyan kagetipun Ki Lurah Agung Sedayu dupi aningali seratan inngkang pungkasan. Namung kadospundi malih menawi kedah makaten kersanipun. Mboten sanes kula ngaturaken agunging maturnuwun dene panjenengan sampun kathah sanget paring lelipur kanthi cariyon TADBM. Menawi kepareng kula anyenyadhong cariyos lelipur candhakipun minangka rerentenging TADBM.
    Nuwun!

    • Leres ki/ni Weni P, mbok bilih judulipun : Terusan TADBM.

  29. Akhir episode api di bukit menoreh yang mengharukan, dengan gugurnya Swandaru dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah seorang pahlawan yang mengabdi pada Mataram, meskipun masih meninggalkan sesuatu yang membuat saya penasaran, bagaimana nasib Pandan Wangi, kemudian nasib Ranapati. Saya tetap mengharapkan lanjutan cerita ini TADBM, entah apa judulnya, yang jelas masih banyak yang lebih menarik, semoga tidak terlalu lama, salam dari penggemar setia Api di Bukit Menorerh…

    Wassalam,

    Djuma’ali

    • Atas nama keluarga Sangkal Putung…kami mengucapkan terimakasih semoga dimaafkan segala kekurangannya…dan apabila ada sanak kandang yang mempunyai hubungan hutang/piutang mohon kiranya menghubungi Ki Demang dan keluaraga…..

      Wassalam
      KI Demang Sangkal Putung

  30. Sugeng tanggap warsa mbah man, mugi barokah

    • Matur suwun Ki

    • Lho…. wah ……
      Panembahan Ulang Tahun to?

      Kurang gaul aku…., hi hi hi …

      Selamat Ulang Tahun Panembahan, semoga selalu pinaringan kesehatan, rejeki dan umur panjang yang barokah. Hidup rukun bersama Eyang Putri beserta anak cucu, sehingga tetap bisa berkarya. #ngarepterusanneadbm

      • Selamat ulang tahun Mbah Man semoga karunia kesehatan,rizki dan kebahagiaan selalu mengiringi Mbah Man beserta keluarga dan selalu sukses dalam bertugas dan berkarya…..Aamin

        🎂🎂🎂🙏🙏

  31. Judulnya Baru, tidak membawa Nama ADBM, tetapi lanjutannya. Semoga

  32. Selamat Ulang Tahun Eyang Panembahan, semoga selalu pinaringan kesehatan, rejeki dan umur panjang yang barokah.

  33. إنّا للّه و إنّا اليه راجعون
    Akhirnya tuntas juga diiringi gugurnya Ki Swandaru Geni.
    Saya mengucapkan terima kasih kepada Mbah_Man dan Ki Satpam atas kesediannya memberikan karyanya yg cukup memuaskan ini. Semoga masih terus berkarya dan karya-karya tersebut dapat bermanfaat bagi umat sedunia, aammiin.
    Untuk para sedulur canmen, selamat berpisah untuk sementara. Saya berharap dapat segera berkumpul lagi dlm karya-karya Mbah_Man yg lain.

    ثمّ السّلام عليكم و رحمة اللّه و بركاته

  34. Tak terasa 10 tahunan sudah jadi santri disini . mengikuti perkembangan alur cerita dari awal hingga akhir disini, terima kasih semuanya dan spesial buat Mbah Man yang luar biasa…..!!!!!!!!

    TETESING TRESNO

    yen sinawang ono netro
    Sopo wonge sing ra nandang tresno
    Janur kuning lengkung lengkung
    Sopo wonge sing ra nandang wuyung

    Roso tresno rino wengi
    Nanging aku ra biso duweni
    Godong kates dadi jampi
    Tetesing treno kanggo tombo ati.

    Panyuwunku wong ayu
    Mugo sliramu ra bakal lali
    Nadjan sewindu tresnomu
    Bakale tak tunggu.

    Treno iki ora mendho
    Soyo suwe soyo tambah nyikso
    Waton kowe ra bandingake.
    Nadjan aku uwong ora duwe.

  35. Ternyata Kyai Gringsing masih hidup. Ditunggu Episode barunya Mbah Man. Matur suwun, sepuntenipun taksih dereng saged sowan Padepokan Sekar Putih. Mboten kraos sampun 3 tahunan mboten sowan malih.

  36. Endingnya seorang pahlawan (Swandaru)….apapun kekurangannya dia adalah pahlawan telah berjasa besar untuk mataram/…..
    dan cerita ini masih akan berlanjut sesuai woro2 mbahman….apakah judulnya masih sekitar kemelut menoreh atau mataram yg sedang tumbuh dengan rajanya yang paling Agung yang menyatukan tanah jawa dari ujung ke ujung…kita tunggu karya mbahman yang sangat bagus ini….dan raja itu adalah menyatunya pangeran benowo dan raden sutawijaya…..Agung sedayu pasti akan punya tempat kusus dari Sang Raja Agung mataram itu.

    • matur nuwun mbahman salam

  37. Dalam cerita baru yang belum berjudul ada bocoran cerita Agung Sedayu berlima mengunjungi bukit Kendalisada atas perintah Pangeran Pati untuk menemui Rara Anjani…..siapakah formasi 5 itu ?

    Apakah pertama F5 :
    1.Agung Sedayu
    2.Sekar Mirah
    3.Pandan Wangi
    4.Glagah Putih
    5.Rara Wulan
    Apakah kedua F5 :
    1.Agung Sedayu
    2.Pandan Wangi
    3.Ki Jagaraya
    4.Glagah Putih
    5.Sambungsari
    SM dan Rara tidak disertakan karena punya tugas mengurusi anaknya yang masih kecil dan Pandan Wangi yang diajak sekalian bulan madu mengingat selama ini Pandan Wangi belum pernah mengembara arau berkelana dan Sambungsari sangat dekat dengan AS dan GP
    Apakah Ketiga F5 :
    1.Agung Sedayu
    2.Pandan wangi
    3.Glagah Putih
    4.Sambungsari
    5……………….menerima lowongan baru syarat sbb:

    Jenis kelamin laki dan perempuan
    Berbadan sehat berparas cantik untuk perempuan dan utk lelaki yang sedang sedang saja
    Umur 25 s/d 27 utk wanita utk lelaki yang tua saja
    Pendidikan apa adanya yang penting bisa diajak guyon…..

    • Ki adiws, Saya tidak masuk kriteria dong, soalnya ki hrg belum terlalu tuwir

    • gatra bumi pripun ki ^^

      • kalau masih muda dikawatirkan nanti larak lirik Rara Anjani lagi Ki HRG…..hehehe

        Ngggih Ki Cantrik Bergota ….seharusnya GB tapi GB sekarang ikut Ki Ajar Mintaraga kalau tidak salah….

  38. Wadhuh… Kok dibikin tamat???!!!?

  39. Menunggu wangsit untuk mendapatkan judul semoga Mbah Man dalam mesudiri dapat menemukan Judul…..apapun judulnya isinya pasti seru dan masih mengikat karena tokohnya tetap Agung Sedayu berserta keluarga dan para kerabatnya…….

  40. Sugeng siang can men sekalian ….. semoga semua diparingi Sehat Sukses ….

    Di Taman Bacaan Mbah Man sudah ada sinopsis serial baru Sejengkal Tanah Setetes Darah ….. tetap sebuah cerita rakyat yang dibalut sejarah dengan sentuhan cinta, pertikaian, dan ajaran tentang kehidupan … Mbah Man memang luar biasaaaaa ….

    Yang jelas sabaar dan semangat untuk terus mendoakan Mbah Man supaya bisa terus berkarya ….

    • Amiin

    • Semoga…… Aamiin. Ki DP.

  41. Judul “Sejengkal Tanah Setetes Darah” terlihat garang dan menggentarkan tetapi dibalik itu sepertinya ada unsur kuat romantikanya terhardap pertahanan cinta yang kebetulan bersamaan dengan ada gugatan sang putra Jaka Swandana atas dua wilayah penompang kejayaannya Mataram dimana unsur romantikanya bisa diurai dengan menggunakan lagu yang berjudul “Sejengkal Tanah” karya Mansur S dimana penggalan liriknya sbb:

    Seribu cinta yang datang akan kuhadang
    Hanya satu yang kuharapkan dirimu seorang
    Sejengkal Tanah yang hilang akan ku genggam
    Begitu pula cintaku akan kupertahankan
    Sampai langitpun menjadi bumi
    Atau bumipun menjadi langit

    Apakah Manoreh akan berhadapan langsung dengan Sangkal Putung
    Seiring gejolak perebutatan tahta di Mataram
    Pssti cerita ini tambah greget dan seru…..hehehe

    Ngapunten Mbah Man 🙏🙏

    Kagem KI P Satpam apakah gandok baru akan tetap dibuka matur suwun sanget……

    • Ki Adiwa. Jadi Jaka Swandana punya warisan Perdikan Menoreh dan Kademangan Sangkal Putung ya? Bayi yang kaya raya.

      • Hebat ya Mbah Man … buat alur cerita yang penuh intrik intrik kehidupan … tetapi tidak jd cengeng … hehehehe nggak sabar nunggu kelanjutannya ….

        • Menurut sinopsis Mbah Man Jaka Swandana juga menuntut hak di Sangkal Putung dari jalur ayahnya, dan Jaka Swardana tidak berkiblaf ilmu ke jalur ayahnya tapi kejalur ibu dan kakeknya Ki GM sudah terputus dari jalur ilmu SG….mungkin sifat GS menurun ke JS tambah lagi ada kompor gas pamannya Om Pratawa yg juga punya rasa sakit hati dengan SM dan AS ….ini yang dikhawatirkan dendam asmara mulanya ….tapi mudah mudahan PW jadi istri kedua AS …hanya sekedar curhatan Ki HRG …Mbah Man memang okee….hehehe

          • Jadi kita menunggu alur yang tak terduga dan susah ditebak serta timbulnya intrik2 yang timbul sehubungan ada kubu Bagus Sadewa+Putut Pratama kontra Jaka Swandana yang nantinya timbul konflik Menoreh-Sangkal Putung yang berusaha diredam oleh Glagah Putih. Begitu ki Adiwa sekedar komentar sore ini

  42. Sugeng sonten can men sedanten … saya kok kangen komen komennya Ki Mbleh yaaa …. sehat sehat aja to Ki Mbleh ? Atau sebenarnyalah Ki Mbleh tetap ada tp dengan baju yang berbeda ?

    hehehehehe … Ngapunten Ki Mbleh ….

    Saya penasaran nunggu ramalan ki mBleh apa tahun depan anakmas Lewis bs jd juara dunia lagi ?

    Semanggaat ….

    • Nggih Ki DP saya juga kangen sama Ki Gembleh….semoga beliau sehat sehat saja.

    • Ki mBleh masih melanjutkan tapa kungkum di lendut benter. Sebelumnya terganggu oleh kahadiran Anjani.
      Hi hi hi …..

  43. WORO WORO

    Sehubungan dengan telah tamatnya TADBM di jilid 416, maka dengan ini gandok TADBM sudah bisa diistirahatkan. Tetapi jika masih ingin “nyepi” di sini ya monggo saja. Hi hi hi …..

    Meskipun belum minta secara resmi kepada Panembahan Mandaraka, Risang memberanikan diri buka gandok di sini, sekedar tempat berkumpul para can/men Gagakseta.

    Monggo, gojegan bisa dilanjutkan di https://cersilindonesia.wordpress.com/sejengkal-tanah-setetes-darah/

    Nuwun

    Risang

  44. Terima kasih kepada sanak kadang yang biasa sambang di padepokan.
    Tahun yang luar biasa menurut Risang.
    Sampai tanggal 22 Desember, padepokan telah dikunjungi 720902 kali oleh orang Indonesia yang berada di 69 negara di dunia.
    Puncak kunjungan terjadi pada bulan April 2016 sebanyak 77.137 junjungan oleh 14.950 orang sebagaimana gambar di bawah ini

    kunjungan-bulanan-2016

    kunjungan-2016

    Asal negara tetap Indonesia yang terbanyak, diikuti oleh Amerika sebagaimana daftar di bawah ini

    Indonesia 612561
    Amerika Serikat 85989
    Malaysia 8464
    Singapura 3768
    Inggris 1612
    Korea Selatan 1029
    Belanda 975
    Kanada 715
    Taiwan 665
    Uni Eropa 615
    Jepang 513
    Arab Saudi 441
    Mozambik 422
    Australia 411
    Thailand 383
    Norwegia 347
    Jerman 330
    Uni Emirat Arab 271
    Qatar 183
    Hong Kong SAR China 175
    Prancis 175
    Brunei 131
    China 116
    Rusia 80
    Turki 69
    Malta 66
    India 66
    Filipina 41
    Vietnam 40
    Irlandia 37
    Kepulauan Faroe 36
    Spanyol 34
    Selandia Baru 22
    Nigeria 21
    Israel 11
    Austria 10
    Afganistan 9
    Italia 9
    Brasil 8
    Azerbaijan 6
    Yunani 4
    Aruba 4
    Islandia 2
    Rumania 2
    Irak 2
    Afrika Selatan 2
    Aljazair 2
    Belgia 2
    Sudan 2
    Zimbabwe 2
    Turkimenistan 2
    Kepulauan Virgin A.S. 2
    Polandia 2
    Meksiko 1
    Venezuela 1
    Yordania 1
    Tunisia 1
    Republik Cheska 1
    Suriname 1
    Slovakia 1
    Swedia 1
    Albania 1
    Pakistan 1
    Sri Lanka 1
    Peru 1
    Kazakstan 1
    Uganda 1
    Mesir 1
    Ekuador 1

  45. Tujuh orang dengan komen terbanyak (dari 100 komen terakhir),\.

    Selamat kepada

    1. adiwaswa, 161
    2. P. Satpam, 109
    3. Dimas Parikesit, 79
    4. Pandanalas, 55
    5. dik Har, 48
    6. harno restu galih, 41
    7. widiaxa, 41

    • Hahaha….wongusil.com yang jadi biang keroknya nuwun sewu Ki P Satpam mudah mudahan tidak kualat nyalip Masinis sepur kluthuk🙏😆😆

      • hehehe gak pernah ngitungi komen … komen yaa karena pingin komen … matur nuwun mas Satpam informasinya ….

  46. Weh ternyata mendunia “TADBM” ini seperti “Om Telolet Om” Selamat untuk Padephokan Gagakseta 2 semoga ditahun baru mendatang seiring dengan judul yang baru “Sejengkal Tanah Setetes Darah” bisa lebih sukees….matur nuwun infonya Ki P Satpam👍🚂🚃🚃🚃🚃

    • Salut setinggi tingginya untuk Mas Satpam dengan semua dedikasinya … jadi satpam, jadi wasit, jadi juru wedar, sampai jadi masinis …..

      Luar biasa karena hasilnya juga sangat luar biasa …..
      Matur nuwun sanget mas Risang aka Mas Satpam

      Hijab jambon gimana ? Masih dalam rencana atau sudah berubah warna ? hehehehhehe nuwun sewuuu … mblaayuuuu disik …

  47. Akhir cerita TADBM yang mengharukan, dengan gugurnya salah satu tokoh Swandru Geni. Pertempuran antara Swandaru dan P. Ranapati menggambarkan pertempuran antara perguruan Windujati dan perguruan Singawana, gugurnya Swandaru yang merupakan murid perguruan windujati/bercambuk melawan P. Ranapati, merupakan “kekalahan perguruan windujati” dari perguruan Singawana, kita ketahui Swandru dalam pertempuran selalu mengalahkan musuh2nya, hanya pernah kalah dari kakak seperguruannya, Agung Sedayu. Mudah2an cerita selanjutnya, terungkap nasib dari P. Ranapati setelah terluka parah akibat pertempuran dengan Swandaru. seandainya nanti P. Ranapati nsnti dikalahkan oleh Glagah Putih, tetap bekum menyembuhkan luka Perguruan Windujati, karena Glagah Putih bukan murid langsung dari Perguruan Windujati. Sisi lain semoga kelapangan Sekar Mirah untuk menerima Pandan Wangi menjadi istri Agung Sedayu, sekaligus membina anak Swandaru dan anak agung Sedayu sebagai penerus Perguruan Windujati, meskipun perlu waktu lama……pertanyaannya kapan ya trerbit, wassalam Djuma’ali

    • Swandaru ilmunya masih dibawah Pangeran Ranapati karena ilmu pamungkasnya belum sempurna bukan kesalahan perguruuannya karena yang kita tahu Swandaru hanya mengolah ilmu dengan kewadagkannya yg juga menggrigis dia sangat malas untuk mengolah tenaga dalam karena syaratnya harus mesudiri dan melakukan ritual patigeni yang kita tshu Swandaru berbadan gemuk memang tidak kuat menahan lapar, hanya puasa rhamadan aja karena hukumnya wajib kalau mesudiri tapageni hukumnya sunah😆

      Agung Sedayu juga mengatakan seandainya ilmu itu sempurna takkan separah itu sedangkan guru Ranapatipun belum merasa mampu mengalahkan AS jadi dalam hal ini bukan perguruannya yang salah atau kalah tapi kesalahan itu disebabkan oleh orangnya…sama dengan tragedi pesawat jatuh bukan karena pesawatnya tapi karena human error kata pabriknya……karena dari pabrik ada kaca spion tapi karena kehabisan bahan bakar kaca spionnya digadaikan dan terjadilah musibah…..hehehe..helm helm…😆😆

      • 1. saya curiga, swandaru berbisik ke agung sedayu pasti tentang masa depan pandanwangi 😀
        2.agung sedayu tidak sepenuhnya murid windujati, swandaru 100% murid windujati (karena gurunya cuma 1 kyai gringsing), sedangkan kyai gringsing pun tidak sepenuhnya belajar dari mpu windujati, sedangkan kitab yang ditinggalkan kyai gringsing dijelaskan kitab windujati. mungkin, kemampuan kyai gringsing yang diperoleh dari luar perguruan windujati tidak dituangkan dalam catatan kitab warisan kyai gringsing.

        • Betul AS tidak memiliki hanya satu jalur ilmu orang bercambuk saja AS banyak memiliki ilmu tapi tanpa guru hanya info saja seperti ilmu kebal racun dari PB infonya dan ilmu semu hanya dipinjami saja oleh Ki Waskita dan menuntaskan ilmu dari jalur ayahnya Ki Sadewa di gua dll dan Kiai Gringsing mengetahui dan sebagai penguji dari Ilmu ilmu yg didapat AS jadi Guru AS tetap hanya KG kalau tidak salah karena AS tidak bisa kelainan hati….Kecuali pada Rara Anjani..
          Ngapunten Ki Hartanto hanya intermezo..hehehe

  48. Pindah gandhok baru.

  49. Sepertinya bahkan Pandan Wangi dan Sekar Mirah akan bermusuhan karena membela anaknya masing-masing . . . ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: