TADBM-416

<< kembali ke TADBM-415 | lanjut ke TADBM-417 >>

tadbm-416

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 24/11/2016 at 02:36  Comments (160)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-416/trackback/

RSS feed for comments on this post.

160 KomentarTinggalkan komentar

  1. matur nuwun mas Risang …. sepur kluthuk sudah mampir lagi bawa cerita tombo kangen ….

  2. matur nuwun mas Putut.Risang ….

  3. Hadir, Kamis dinamis dan optimis ….. tetap semangat !

    • Absen di belakang Ki JW, mudah2an sepur klutuk segera lewat dengan gerbong rontalnya. Aamiin.

  4. Sugeng enjang….dipadepokan GS sepertinya sudah turun salju musim dingin semangkin dingin…….

  5. “Ana tutuge”. Menunggu kiriman. Kok sekarang langsung lanjut ke TADBM-417. Apa benar spt itu, Ki Satpam?

  6. sugeng sonten ….. musim salju …. nunggu sepur lewat .. adeeemmm

  7. Selamat pagi semangat pagi hari ini tanggal 212 hari jum’at yang penuh doa dan harapan semoga damai negriku …..jangan lagi saling nista menistakan….saling caci dan mencaci…buanglah rasa kebencian dengki dan irihati……agar negri ini tetap hanya satu NKRI….janganlah digandakan…..dan celakalah orang yang melakukan penggandaan…..karena dia adalah penista Kuasa Allah yang memiliki segala “Maha” atas kuasa yang yidak terhingga…….waspadalah terhadap tunggangan kalau sikiranya mencurigakan hardiklah dengan menanyakan “Siape Elu”…..

    • Aamiin. Di wilayah Alam Sutera, Tangerang turun hujan dengan intensitas sedang. Semoga mujahid 212 di Jakarta tidak diguyur hujan, ya?!.
      Walau hujan pun tetap semangat, ikhwan!

  8. Absen. Jumat barokah

  9. Hadir, walaupun kesorean, Jum’at Barakah ….. tetap semangat !

    • Sabaaaaarrr menanti.

  10. Test

    • Halo…halo…1…2..3….testing……testing…..demokrasi di NKRI telah diuji dan berakhir damai….Allhamdullilah….amin….amin….

      • Wilujeng sonten, salam 212!!!
        NKRI tetap utuh, Ki Adiwaswa. Semoga….. Sampai akhir zaman.

        • Aamin Ki Ahmad……

  11. Test lagi

  12. geng ndalu,wah keaulitan masuk wp, gaptek….

    • Gang dalu memang kusus montor jalannya sempit Ki Widi kalau wagon pickup tidak bisa masuk …..

      • Selamaat malam buat para Canmen.
        Alhamdulillah negeri ini ttp damai.
        Jkt dan sekitarnya siang tadi diguyur hujan, bumi Parahiyangan sore hingga malam ini cerah

        • 412 ada demo lagi dengan menunggangi Car Free Day menggelar aksi budaya NKRI…ujud cinta pada negri dan lambang lambangnya….

          Setelah peristiwa 411 dilanjutkan dengan 3 gelar yaitu “ANAS – ADA -WAN ABUD”

          ANAS = Apel Nasional
          ADA = Aksi Damai
          WAN ABUD =Wawasan Nusantara Aksi Budaya

          Damai Negriku……….

  13. Sugeng enjang…..
    Hadir gasik nengok gandok…agak sepi tp tetep bersih dan tampak terawat…😊😊

    • Wilujeng enjing…..Nyi rien monggo…..sembari melihat butir butir salju yang turun……semoga bukan butir2 air mata…….😊😊

    • Sugeng enjing nyi RM, kadose sepur klutuke dereng liwat nggih?? Sepure telat, kentokan arengwatu mbokan. Sabar mawon mugi2 ndang liwat nggih mas Satpam???

  14. Wilujeng enjing
    Simbah sedang sibuk di kebunnya, dan kendaraan yang dipakai ke padepokan ngadat, sehingga wedaran terganggu.

    • Matur unnuw

      • Matur nuwun Ki P Satpam infone…….

    • Matur nuwun mas Risang informasinya ….. sehat terus Mas ,,,,

  15. Sugeng ndalu sedanten …. mampir gandhok …. ingak inguk ,,,, kopi panas di tambah jadah goreng hmmmmm ,,,, teklak tekluk angin semilir di gandhok bikin ngantuk ……

  16. TADBM 416 Halaman 22-25

    Demikianlah, ketika mereka bertiga telah sampai di tempat kuda-kuda itu merumput dengan tenangnya di sebelah-menyebelah bulak, dengan tangkasnya mereka pun segera melompat turun. Ketika mereka kemuidan melangkah mendekat dan mengamati salah seekor kuda yang berwarna hitam legam, mereka pun segera menyadari bahwa menilik ciri-ciri yang terdapat pada pelananya, kuda-kuda itu berasal dari kesatuan pasukan berkuda Mataram.

    “Kuda-kuda ini agaknya milik pasukan berkuda Mataram,” berkata salah satu prajurit itu, “Tentu telah terjadi sesuatu dengan para penunggangnya. Segera beri isyarat ke kawan-kawan kita yang ada di Jati Anom.”

    Segera saja salah seorang mengambil panah sendaren beserta busurnya yang disangkutkan di pelana kudanya. Memang sudah menjadi aturan bahwa para prajurit yang sedang bertugas nganglang, baik dalam sebuah kelompok kecil maupun besar, salah satu harus membawa panah sendaren.

    Sejenak kemudian udara malam menjelang dini hari itu pun telah terkoyak oleh suara raungan panah sendaren yang terlontar ke udara tiga kali berturut-turut.

    Dalam pada itu di padang rumput lemah Cengkar, mereka yang sedang menyabung nyawa ternyata lamat-lamat telah mendengar suara raungan panah sendaren yang merobek udara malam.

    “Gila!” teriak Pangeran Ranapati mengguntur, “Orang-orang Mataram memang gila! Kalian memang pantas mati!”

    Teriakan Pangeran Ranapati itu ternyata merupakan aba-aba bagi para pengikutnya untuk semakin meningkatkan tekanan mereka terhadap para prajurit Mataram.

    Maka sejenak kemudian, terdengar sorak-sorai disertai umpatan, makian dan cacian dari mulut pengikut Pangeran Ranapati. Mereka mencoba melemahkan perjuangan prajurit Mataram itu dengan cara yang kasar dan liar.

    “Jangan terpengaruh!” Lurah prajurit yang menggantikan Ki Tumenggung Purbarana berteriak tak kalah kerasnya untuk membangkitkan semangat para prajurit Mataram, “Kita sudah dibantu murid-murid padepokan bercambuk dan sebentar lagi pasukan dari Jati Anom segera tiba!”

    “Omong kosong!” kembali Pangeran Ranapati berteriak menggelegar, “Suara panah sendaren itu tidak berarti apa-apa bagi kita. Pasukan di Jati Anom jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari. Hampir seluruh prajurit di Jati Anom ikut melawat ke Panaraga dan belum kembali!”

    “Kalian salah hitung!” balas Ki Swandaru tak kalah kerasnya, “Panah sendaren itu pertanda bahwa pasukan Mataram yang berkedudukan di Jati Anom telah mengetahui pertempuran di lemah Cengkar ini. Jumlah mereka masih cukup banyak dan sebentar lagi mereka akan datang dalam jumlah segelar sepapan. Kalian akan digulung seperti badai menggulung rumput-rumput kering.”

    “Tutup mulutmu!” bentak Pangeran Ranapati.

    Selesai berkata demikian Pangeran yang keras hati itu segera meningkatkan serangannya. Keris luk sembilan di tangan kanannya telah mengeluarkan asap hitam yang semakin pekat dan tebal bergulung-gulung mengepung lawannya dari segala arah.

    Namun lawannya kali ini adalah murid kedua orang bercambuk. Walaupun pada awalnya Ki Swandaru hanya menekuni kekuatan wadag saja, namun setelah kekalahannya yang pahit dari kakak seperguruannya ketika mereka berdua mengadakan penjajagan ilmu, dia mulai sadar akan pentingnya menekuni kekuatan tenaga cadangan yang dapat menjadi pancadan dalam mempelajari ilmu-ilmu pada tataran tinggi.

    Ketika Ki Swandaru terluka dan di bawa oleh Ki Rangga ke padepokan Jati Anom, Ki Rangga telah banyak memberikan tuntunan sebagai saudara tua pengganti guru mereka. Bersama Ki Widura, dengan tekun Ki Swandaru pun mulai menekuni dan mendalami isi kitab peninggalan Perguruan Windujati.

    “Paman dan Adi Swandaru,” demikian kata Ki Rangga pada waktu itu sebelum meninggalkan padepokan Jati Anom, “Kitab perguruan Windujati ini aku tinggalkan di padepokan. Aku harap Paman dan Adi Swandaru meluangkan waktu untuk mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. Suatu saat jika tugasku telah selesai, aku akan menengok padepokan ini dan melihat perkembangan ilmu kalian berdua.”

    Pada saat itu Ki Widura dan Ki Swandaru hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa berkata sepatah kata pun. Mereka berdua maklum, kemampuan ilmu Ki Rangga dapat dikatakan sudah sejajar dengan guru mereka yang telah tiada, Kiai Gringsing.

    Demikianlah serangan demi serangan lawannya dihadapi oleh Ki Swandaru dengan tenang dan penuh perhitungan. Pengendalian perasaan dan nalar itu sangat penting dalam sebuah benturan ilmu. Jika seseorang kurang mampu menguasai perasaan dan nalarnya, setinggi apapun ilmu orang itu, pengetrapan ilmunya akan menjadi tumpang tindih dan wor suh sehingga dengan mudah dapat terbaca oleh lawan.

    Cambuk di tangan Ki Swandaru berputar dahsyat sehingga menimbulkan pusaran angin yang memporak-porandakan gulungan asap hitam beracun dari lawannya. Sesekali sambil menggeser kedudukannya Ki Swandaru masih sempat untuk balas menyerang lawannya dengan ujung cambuknya.

    “Setan! Iblis! Demit!” umpat Pangeran Ranapati sambil meloncat mundur. Gumpalan asap beracun itu justru berbalik ke arahnya.

    Walaupun Pangeran Ranapati juga dibekali sejenis ramuan yang dapat membuat tubuhnya kebal terhadap segala jenis racun, namun sedapat mungkin dia berusaha menghindarinya.

    Tiba-tiba Pangeran Ranapati yang meloncat mundur itu menghentikan serangannya. Sekejap Ki Swandaru sempat melihat lawannya yang meloncat mundur itu mengangkat kerisnya di atas ubun-ubun. Sejenak kemudian dari ujung keris itu terlontar bola-bola api yang meluncur deras menerjang ke arahnya.

    Ki Swandaru yang selalu waspada dengan segala gerak-gerik lawannya segera melenting ke samping. Ketika bola-bola api yang lain berubah arah dan mengejarnya, dengan tangkasnya ujung cambuk murid kedua Kiai Gringsing itu pun meledak dan menghancurkan bola-bola api yang menyerangnya.

    Namun ternyata serangan Pangeran Ranapati dengan bola-bola apinya itu baru permulaan. Dengan teriakan menggelegar, murid Ki Ageng Sela Gilang itu pun meloncat sambil mengayunkan senjatanya ke arah dada lawan.

    Ki Swandaru terkejut. Selain bola-bola api yang berterbangan mengerumuninya, dari ujung keris itu terpancar sinar menyilaukan menyambar dada.

    “Gila!” sekarang giliran Ki Swandaru yang mengumpat. Dengan cepat ditundukkan kepalanya sambil membungkuk. Sinar yang menyilaukan itu pun lewat sejengkal di atas kepalanya dan menghantam tanah beberapa langkah di belakangnya. Terdengar suara ledakan yang menggelegar. Tanah pun terbongkar dan rerumputan hangus menjadi abu.

    “Luar biasa,” desis Ki Swandaru dalam hati. Namun dia tidak sempat berlama-lama mengagumi kedahsyatan ilmu lawannya, bola-bola api yang berpijar itu masih meluncur mengancam tubuhnya.

    Kembali Ki Swandaru melenting sambil menghentakkan cambuknya dengan cepat beberapa kali. Ujung cambuk itu pun seakan akan menjadi berlipat ganda dan meledak berturut-turut menghantam bola-bola api itu sehingga pecah berantakan.

    Pangeran Ranapati menggeram melihat serangannya hanya mengenai tanah, sedangkan bola-bola api yang dapat menghanguskan pokok pohon randu sebesar pelukan orang dewasa itu dengan mudah dihancurkan oleh lawannya. Dengan segera dia meningkatkan kecepatan serangannya dan semakin banyak bola-bola api berpijar yang mengurung Ki Swandaru.

    Ki Swandaru yang tidak memiliki ilmu kebal itu harus benar-benar berhati-hati agar jangan sampai bagian tubuhnya tersentuh bola api itu. Dengan mengerahkan kelincahannya anak laki-laki satu-satunya Demang Sangkal Putung itu pun semakin sering meledakkan cambuknya.

    Demikianlah pertempuran antara dua orang itu semakin sengit. Untuk sementara Ki Swandaru hanya mampu menghindar tanpa dapat membalas serangan. Cambuknya meledak-ledak sementara tubuhnya berloncatan menghindari sinar menyilaukan yang meluncur dari ujung keris lawannya.

    “Apa boleh buat!” geram Ki Swandaru dalam hati sambil terus berloncatan dan meledakkan cambuknya berulang kali, “Jika untuk menghentikan serangan-serangan ini harus dengan cara membenturkan ilmu pamungkasku, aku sudah siap.”

    Dalam pada itu, Ki Widura yang bertempur beberapa tombak dari lingkaran pertempuran Ki Swandaru menjadi berdebar-debar. Sekilas mantan perwira Pajang itu melihat Ki Swandaru terdesak hebat. Lawannya mengurung Ki Swandaru dari segala arah dengan bola-bola apinya. Sementara sesekali dari ujung keris lawannya meluncur sinar menyilaukan yang mampu meledakkan dan menghanguskan sasaran.

    • Makin seru nih, Mbah_Man. Maturnuwun.
      Siap menunggu rontal berkutnya. Sehat selalu semua, aamiin.

  17. Matur nuwun Ki P Satpam…..

    Setan! Iblis! Demit! Umpat Pangeran Ranapati….Swandaru!!!…. Jaga nyawamu jangan sampai Pandan Wangi berbahagia menjadi janda….geram Pangeran Ranapati…..

  18. Mtrnuwun Mbah Man..om Satpam…

    Sugeng sonten para kadang….
    Sore diujung libur akhir pekan…
    Salju turun menyelimuti gandok pojok belakang…

  19. matur kasuwun lontaripun Mbah_Man, ugi kegem Mas Satpem (Ki Pamedar rontal

    • Matur nuwun mBahMan,psatpam satriyo pamedar..

  20. top markotop pokoke mbah man

  21. mantab mbah man

  22. Perasaan, tadi malam sudah wedar rontal, kok tidak bisa masuk ya.
    Harus ulang lagi deh…., hadu….. Dikerjain WP

    TADBM 416 Halaman 26-30

    Namun Ki Widura sendiri sedang mengalami tekanan yang dahsyat dari lawannya, seorang anak muda bersenjatakan sepasang trisula. Kedua ujung trisula itu secara bergantian meluncur dan mematuk bagian-bagian tubuhnya yang berbahaya. Walaupun Ki Widura sudah berusaha dengan sekuat tenaga memagari dirinya dengan putaran cambuknya, namun sesekali ujung trisula itu masih mampu menembus pertahanannya.

    “Luar biasa,” desis Ki Widura dalam hati sambil memiringkan tubuhnya, ujung trisula yang mematuk pundaknya itu pun lewat hanya setebal daun dari kulitnya.

    Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh ayah Glagah Putih itu. Usianya yang telah mendekati senja benar-benar menjadi kendala yang utama. Walaupun mantan perwira Pajang itu mempunyai pengalaman bertempur dari medan ke medan, namun di usia yang senja itu, tenaga dan kemampuan penalarannya telah jauh menyusut.

    “Engkau akan segera mati, kakek tua!” teriak anak muda itu sambil terus berputaran mengelilingi Ki Widura, “Mengapa engkau membunuh diri dengan cara seperti ini? Bukankah lebih baik tinggal di rumah saja sambil momong cucu-cucu mu? Aku rasa itu akan lebih baik.”

    Ki Widura tidak menjawab. Rasa-rasanya nafasnya memang sudah berkejaran keluar masuk lewat kedua lubang hidungnya. Sementara lawannya semakin lama rasa-rasanya dapat bergerak semakin cepat dan tangkas.

    Dalam pada itu, lingkaran pertempuran antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan guru Pangeran Ranapati yang lebih dikenal dengan nama Ki Singawana Sepuh, semakin lama telah bergeser semakin menjauhi medan pertempuran. Memang mereka sengaja menjauh dari medan pertempuran agar benturan ilmu kedua orang yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu tidak mengganggu orang-orang di sekelilingnya.

    Lawan Ki Rangga kali ini benar-benar seorang yang mampu menguasai ilmunya dengan sempurna. Pada awalnya Ki Rangga menyangka bahwa hawa dingin yang perlahan-lahan mencekam di sekeliling lingkaran pertempuran itu karena pengaruh udara dini hari yang memang semakin dingin. Namun ketika Ki Rangga merasakan hawa dingin itu semakin mencekam dan rasa-rasanya telah membekukan darahnya, sadarlah Ki Rangga bahwa lawannya telah mengetrapkan sejenis ilmu yang mampu membuat udara di sekitarnya berubah menjadi sangat dingin.

    Untunglah ilmu kebal Ki Rangga yang sudah mencapai tingkat hampir sempurna itu dapat memancarkan hawa panas, sehingga dengan hawa panas yang memancar dari dalam tubuhnya itu, Ki Rangga masih dapat bertahan dari gempuran hawa dingin yang semakin lama terasa semakin mencekam.

    “Hawa dingin ini rasa-rasanya lambat laun akan dapat menembus ilmu kebalku,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil terus bertempur, “Jika udara ini menjadi semakin dingin dan mampu menembus pertahananku, tentu darahku akan menjadi beku dan urat-urat nadiku di sekujur tubuh akan pecah.”

    Demikianlah kedua orang itu akhirnya bertempur dalam ujud mereka yang sebenarnya. Ki Singawana Sepuh sudah tidak bermain petak umpet lagi, sedangkan Ki Rangga pun telah melepaskan kedua ujud semunya.

    “Tidak ada gunanya aku bersembunyi dengan aji kakang pembarep adi wuragil,” kembali Ki Rangga berkata dalam hati, “Rasa dingin yang membekukan darahku ini tetap akan mampu menjangkau tubuhku walaupun aku bersembunyi di antara kedua ujud semuku.”

    Sebenarnyalah hawa dingin di seputar lingkaran pertempuran Ki Rangga menjadi sangat dingin di luar batas kewajaran. Ki Singawana Sepuh telah mengungkapkan sejenis ilmu yang didapatkannya semasa dia masih muda. Semasa dia masih senang menjelajahi negeri ini dari ujung ke ujung bahkan sampai ke manca negara.

    “Nah, apa kataku Ki Rangga,” berkata Ki Singawana Sepuh sambil melancarkan serangan. Dari telapak tangannya menyembur percikan-percikan air yang membeku dan menjadi sangat tajam setajam ujung pedang di setiap sisinya, “Jarang ada orang yang mampu bertahan menghadapi ilmuku pada tingkat ini. Engkau akan mati membeku sebelum engkau mampu memecahkan rahasia ilmuku ini.”

    Ki Rangga tidak menjawab kata-kata lawannya. Dengan cepat dia melenting tinggi menghindari sambaran ilmu lawannya. Ki Rangga hanya mampu bergerak menghindar tanpa balas menyerang. Hawa dingin yang diciptakan lawan membuat Ki Rangga kesulitan untuk bergerak mendekati lawannya dan balas menyerang.

    “Semakin mendekati sumbernya, hawa dingin ini semakin mencekam dan tak tertahankan,” kali ini Ki Rangga benar-benar mengeluh dalam hati.

    Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu harus berjuang dengan sekuat tenaga mengatasi hawa dingin yang semakin lama semakin mencekam. Sementara serangan-serangan lawannya yang berupa percikan-percikan air yang membeku dan setajam ujung pedang pada setiap sisinya tidak dapat diabaikan begitu saja.

    Dalam pada itu di dalam sanggar yang terletak di halaman belakang kediaman Ki Gede Menoreh, dalam temaram sinar lampu dlupak yang diletakkan di ajug-ajug, tampak tiga orang perempuan cantik sedang duduk bersimpuh dengan kepala tunduk. Di hadapan mereka beberapa langkah, tampak Kanjeng Sunan sedang duduk di atas sebuah batu hitam.

    “Nyi Sekar Mirah dan Ni Anjani,” berkata Kanjeng Sunan lembut namun terasa menusuk jantung, “Apakah sebenarnya yang telah membuat kalian berdua bersilang sengketa sehingga telah melupakan segala suba sita dan lebih mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan sebuah masalah?”

    Kedua perempuan itu sama sekali tidak berani mengangkat wajah mereka. Kepala mereka tertunduk dalam-dalam sementara bibir mereka pun terkunci rapat.

    Kanjeng Sunan menarik nafas dalam, dalam sekali. Ketika pandangannya jatuh di wajah Pandan Wangi yang juga menundukkan wajahnya, Kanjeng Sunan pun kemudian berkata, “Mungkin Nyi Pandan Wangi dapat menjelaskan padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi pada kedua perempuan ini sehingga mereka menjadi waringuten dan berniat untuk saling menghancurkan?”

    Mendapat pertanyaan seperti itu, sejenak Pandan Wangi menahan nafas. Tanpa sadar dia mencuri pandang kearah kedua perempuan yang bersimpuh di sebelahnya. Namun agaknya kedua perempuan itu tetap pada sikap mereka semula, menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan mulut yang terbungkam.

    Beberapa saat tadi memang Sekar Mirah telah bertempur dengan sengitnya melawan Anjani. Kedua perempuan itu masing-masing sudah tidak mampu menahan diri lagi. Sementara Pandan Wangi yang telah menyanggupi sebagai saksi tidak mampu mencegah perkembangan keadaan yang telah terjadi.

    “Mirah..! Anjani..!” teriak Pandan Wangi diantara suara denting senjata yang beradu, “Sudahlah..! Kendalikan diri kalian masing-masing. Tidak sepatutnya kalian mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu hal yang sebenarnya masih dapat dibicarakan lagi!”

    “Tidak mbokayu!” teriak Sekar Mirah sambil memutar tongkat baja putihnya. Sambil mengayunkan tongkatnya menyambar kening Anjani, dia melanjutkan, “Harga diri ini harus dibayar tuntas. Perempuan mana yang tidak tersentuh harga dirinya jika ada seorang perempuan jalang telah menggoda suaminya!”

    “Aku bukan perempuan jalaaang…!” jerit Anjani sambil menangkis senjata lawannya. Pedang tipis di tangan kanannya kini yang ganti berputar cepat untuk melibat tongkat baja putih di tangan Sekar Mirah.

    “Kalau engkau bukan perempuan jalang, mengapa engkau menggoda suamiku.?!” tak kalah kerasnya Sekar Mirah membentak sambil menarik senjatanya. Sebagai gantinya kaki kanannya lurus menendang perut Anjani.

    Anjani yang mendapat serangan di bagian perut telah menggeser kaki kirinya selangkah ke belakang Serangan itu pun lewat sejengkal dari tubuhnya.

    Sambil membalas serangan dengan tusukan pedang ke arah ulu hati, Anjani pun balas membentak, “Suamimulah yang telah menjadikan aku sebagai taruhan dan dia telah memenangkan taruhan itu. Apakah aku salah jika aku menagih janji dari Ki Rangga untuk membawaku ke Menoreh..?!”

    “Bohong..! Bohoong…! Bohooong..!” kembali Sekar Mirah membentak-bentak sambil mengayunkan tongkatnya menangkis serangan Anjani. Namun kali ini suara Sekar Mirah terdengar sendat dan sedikit terisak.

    Demikianlah kedua perempuan itu sudah benar-benar waringuten. Pandan wangi yang berdiri di luar lingkaran pertempuran menjadi semakin berdebar-debar. Bagaimana pun juga, jauh di lubuk hatinya anak perempuan satu-satunya Ki Gede Menoreh itu tidak rela jika salah satu dari kedua perempuan itu akan menjadi bebanten hanya karena permasalahan yang belum jelas.

    “Bagaimana Nyi Pandan Wangi?” Kanjeng Sunan mengulangi pertanyaannya sehingga membuat Pandan Wangi tersadar dari lamunannya.

  23. Hadir, setelah 212, sekarang 512 ….. tetap semangat !

    • Hayo piyeee Pandanwangi, ayo wangsulono aja malah blangkemen ngono??
      Msturnuwun sanget mas Satpam
      Udan2 ana sepir klutuk liwst, jan mantabs tenan.

      • Nggih Ki Pak Sri kulo ngatosi serat from Mbah Man selanjutnya agar tidak salah duga seru Pandan Wangi dan sabaaaaar nasihat dari Ki Widiaxa….

        Matur nuwun Ki P Satpam ….

  24. mbok yo di jawab to.,. jeng PW
    ben ndang metu meneh terusanne…rak nggih leres to Ki P Satpam ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: