TADBM-412

<< kembali ke TADBM-411 | lanjut ke TADBM-413 >>

TADBM-412

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 11/12/2015 at 20:01  Comments (866)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-412/trackback/

RSS feed for comments on this post.

866 KomentarTinggalkan komentar

  1. matur kasuwun mbah… tambah mupeng…meniko praupan kulo… qiqiqiqi

  2. Semakin seru,,,,sulit ditebak alur ceritanya…..mbah man memang hebat

  3. matur nuwun sanget mbah man ….. baru mampir gandhok ternyata tadi malam ada wedaran lagi ….. makin seru makin buat penasaran …. yang jelas tetap semangaaat … mencintai cerita dari negeri sendiri …. mbah man memang pantes jadi penyemangat hari hari di gandhok …. semangaaaaat

  4. Kembali orang tua itu tersenyum sareh. Jawabnya kemudian, “Pada awalnya para sesepuh yang sedang duduk-duduk bersama Ki Patih di ruang tengah telah melihat Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang memasuki bilik ini dengan tergesa-gesa. Atas ijin Ki Patih, aku dan Ki Gede serta Kiai Sabda Dadi segera menyusul kedua perempuan itu ke dalam bilik ini,” Ki Waskita berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Di dalam bilik ini aku melihat angger yang sedang tidur dengan kedua tangan bersilang di dada. Aku sudah pernah mempelajari ilmu ini ngger walaupun tidak sampai tuntas sehingga panggraitaku telah mengatakan bahwa angger tidak sedang tidur dalam arti yang sebenarnya.”

    Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa saat Ki Rangga masih merenungi kata-kata Ki Waskita. Namun tiba-tiba Ki Rangga teringat sesuatu, maka katanya kemudian, “Ki Waskita, ketika aku mengikuti petunjuk yang ada di dalam kitab itu, sebagaimana aji kakang pembarep dan adi wuragil, ujudku dapat memecah, namun kali ini hanya menjadi dua. Aku bisa melihat ujud asliku yang tetap terbujur diam di atas pembaringan. Sedangkan ujud yang satunya, yang aku rasakan sebagai ujudku sendiri, seolah-olah melayang dan dapat menembus batasan apapun yang ada di sekitarku,” Ki Rangga berhenti sejenak sambil mencoba menggali ingatannya tentang kejadian aneh yang baru dialaminya. Maka lanjutnya kemudian, “Ketika aku memutuskan untuk keluar dari bilik ini, aku tidak harus melalui pintu bilik. Dinding bilik ini dapat aku tembus dengan mudahnya. Namun yang membuat aku kebingungan adalah ketika di halaman belakang aku menjumpai Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Aku mencoba menyapa mereka, namun aku tidak dapat mengeluarkan suara sepatah kata pun, bahkan kedua perempuan itu terlihat ragu-ragu mengenali ujudku.”

    Ki Waskita terenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Ki Rangga. Sambil menghirup udara malam untuk memenuhi rongga dadanya, Ki Waskita pun kemudian berkata dengan sareh, “Angger agung Sedayu, menurut cerita dari Sekar Mirah dan Pandan Wangi, mereka telah bertemu dengan seseorang yang mempunyai perawakan sangat mirip dengan angger di halaman belakang. Namun ujud itu tidak dapat dikatakan sebagaimana ujud manusia biasa, hanya sebuah bayangan hitam yang sulit dikenali wajahnya,” Ki Waskita berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Berdasarkan keterangan mereka berdua itu lah aku dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa angger sedang mencoba mengetrapkan sebuah ilmu yang dapat menjadi perantara untuk mewujudkan angan-angan kita.”

    “Angan-angan kita?” tanpa sadar Ki Rangga mengulang dengan kening yang berkerut-merut.

    “Ya ngger, untuk mewujudkan setiap angan-angan kita,” Ki Waskita berhenti sejenak sambil mengamati kesan di wajah Ki Rangga. Kemudian lanjutnya, “Itulah ngger, mengapa di lingkungan perguruan kami, aji itu diberi nama Aji pengangen-angen, karena dengan berbekal ilmu itu, seseorang dapat mewujudkan apa yang ada dalam angan-angannya walaupun itu juga ada batasannya. Setiap cabang ilmu yang bersumber dari kekuatan Aji pengangen-angen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.”

    “Aji pengangen-angen,” perlahan ki Rangga mengulang.

    Tiba-tiba Ki Rangga seperti teringat sesuatu, maka tanyanya kemudian, “Mengapa di dalam kitab Ki Waskita tidak pernah disebut nama Aji pengangen-angen itu?”

    “Memang di dalam kitab itu tidak pernah menyebut nama Aji pengangen-angen,” jawab Ki Waskita, “Itu adalah sebutan yang diberikan oleh para murid di perguruan kami. Sebutan yang disesuaikan dengan sifat dan watak dari ilmu itu sendiri.”

    “Jadi maksud para murid di perguruan Ki Waskita, jika mereka telah menguasai ilmu itu mereka akan mampu mewujudkan apapun sesuai dengan angan-angannya?”

    “Itu adalah harapan mereka, ngger,” sahut Ki Waskita, “Mereka tidak sepenuhnya benar. Aji pengangen-angen untuk menguasainya memerlukan tahapan demi tahapan. Memang tidak dijelaskan secara rinci di dalam kitab itu. Guru kami lah yang akan memberikan penjelasan hanya kepada murid-muridnya yang telah dianggap mumpuni.”

    Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Hatinya semakin tertarik untuk mendalami aji pengangen-angen itu.

    • Makin jleg.. marem ing manah…

    • Matur nuwun Ki Haji Panembahan Mandaraka ….. hadiah libur panjang !

    • Matur nuwun Kiai Haji Panembahan….
      Bonus wiken dan libur panjang….
      Babak ilmu baru Ki Rangga yg belum diketahui kedahsyatannya…

    • matur nuwun sanget mbah man …. semakin menarik … tetep dengan pakem yang selama ini di kenal …. selalu menyediakan tempat untuk berimajinasi …. mbah man memang top ….

    • Alhamdulillah… Matur nuwun Mbah Man. Semoga panjenengan selalu diberikan kesehatan oleh Allah swt…. Aamiin

  5. matur nuwun sanget mbah_man
    sampu pinten sasih meniko kulo mboten saged ndamel komen teng padepokan mbah. kaleresan kulo mbikak gandok melalui hp. lah hp kulo meniko mboten saged kagem ngintun komen duko kenging nopo.

    • Lha meniko saged ngintun komen, Ki Djojosm,
      saenipun mundut enggal kemawon, Ki..
      sekaliyan embah nitip…hehehehe..
      meniko guyon lho Ki….

  6. trimakasih mbah,.. komentar pertama

  7. Matur nuwun Mbah, rontal sabtu.

  8. Terima kasih Mbah Man atas rontalnya …. Sepertinya sejalan dengan keberadaan kekuatan maka akan terkandung pula kelemahan, serta selaras dengan hadirnya peluang atau kesempatan akan muncul pula tantangannya … Belajar sepanjang hayat itu mungkin kata kuincinya …

  9. Sip tenan, joss, ayo ki rangga kamu bisa…belajar tanpa guru…dan itu sudah terbukti

  10. Ki Rangga yang hanya iseng mencoba-coba aja hasilnya sdh hebat apalagi kalo dibimbing oleh guru yg mumpuni…nuwun mbah Man..

  11. Hadu… Dua hari yang melelahkan.
    Masih satu hari lagi.

  12. MOHON DOA RESTU.
    Satpam menyampaikan pesan dari Kiaine (Ki Arema) yang besok, minggu 7 Februari 2016 punya hajat mantu putri ketiga beliau.
    Beliau mohon doa restu sanak kadang gagakseta, agar acara berjalan lancar, dan pengantin berdua bisa membentuk keluarga Samara.

    • Dimana tempat acara pernikahannya???

      • Di Malang Ki.

        • Ikut berdoa semoga hajat ki Arema berjalan lancar tdk ada halangan dan mempelai menjadi keluarga yg samara, amin yra

    • Alhamdulillah ,
      Matur nuwun Mbah Man.

    • Sugeng mantu ki arema, semoga lancar sejahtera semuanya

    • Semoga acara hajat Kiai Arema besok berjalan lancar dan dimudahkan semua urusan serta kedua mempelai bisa membina Keluarga Samara. Aamiin YRA.

    • Sugeng ndalu … semoga hajatan Ki Arema lancar dan tidak ada halangan suatu apa …. salam untuk penganten berdua …

    • Selamat ngunduh mantu ki Arema.
      Semoga berjalan lancar, dan ananda pengantin berdua bisa membentuk keluarga Samara..

    • Kagem Ki Arema, semoga hajat mantu untuk putri ketiga, semuanya dapat berjalan lanacar dan pengantin berdua bisa membentuk keluarga samara, aamiin YRA…

  13. Matur nuwun mBah-Man, atas rontalnya ….sehat selalu.
    Untuk Ki Arema, semoga acaranya sukses.

  14. ikut mendoakan hajatan Ki Arema
    semoga sukses
    dan bagi yang membentuk keluarga baru
    semoga jadi keluarga yang samara

    matur suwun mbah-Man

  15. Aamiin….
    Matur nuwun pandonganipun sanak kadang gagakseta.

  16. Amin.semangat malming jg semangat ber samara.

  17. Sugeng ndalu sedoyo … bade ngancani Ki Satpam lek lek an ,,,,, tak leyeh leyeh cantik nang pojokan gandhok … mbokmenawi tasih onten kopi panas ….

  18. “Sudahlah ngger,” berkata Ki Waskita kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Beristirahatlah. Apakah angger tadi sore sudah sempat makan?”

    “Sudah Ki,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum, “Walaupun hanya beberapa suap namun aku sudah makan,” Ki Rangga berhenti sejenak. Agaknya masih ada sesuatu yang akan disampaikan kepada Ki Waskita. Maka katanya kemudian, “Ki Waskita, jika memang aku masih diperkenankan untuk mempelajari aji pengangen-angen ini, apakah ki Waskita berkenan membimbing aku?”

    Ki Waskita yang sudah hampir bangkit dari tepi pembaringan Ki Rangga menjadi urung. Jawabnya kemudian, “Aku memang pernah mempelajari ilmu itu, ngger, namun masih terbatas sekali. Apa yang dapat aku lakukan adalah sekedar menampilkan ujud semu sesuai dengan keinginan angan-anganku, namun tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap lingkungan sekitarnya. Sedangkan angger sudah merambah pada aji kakang pembarep adi wuragil yang merupakan pancaran dari kekuatan ilmu angger sendiri. Aji pengangen-angen ini mempunyai kemiripan dengan aji kakang pembarep dan adi wuragil, sehingga apa yang akan angger tekuni nanti seolah-olah berkesinambungan dengan apa yang telah angger pelajari sebelumnya,” Ki Waskita berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Lanjutnya kemudian, “Namun angger tetap harus menjalani laku baik lahir maupun batin dalam mendalami ilmu ini. Karena setiap ilmu mempunyai sebuah laku yang khusus. Namun semua itu terserah angger, keadaan wadag angger masih lemah, lebih baik tidak usah memaksakan diri. Ki Patih Mandaraka juga berpesan demikian ketika menyempatkan diri menengok angger sebelum kembali ke padukuhan induk.”

    “Ki Patih Mandaraka?” bertanya Ki Rangga kemudian, “Apakah Ki Patih sudah kembali ke kota Raja?”

    Ki Waskita menggeleng, “Mungkin Ki Patih baru sampai di padukuhan induk sekarang ini. Namun agaknya Ki Patih akan kembali ke kota Raja malam ini juga.”

    Ki Rangga kembali menarik nafas dalam-dalam. Berbagai pertimbangan sedang menyelimuti benaknya. Ada keinginan yang kuat untuk segera mendalami aji pengengen-angen itu, namun dia harus mempertimbangkan kekuatan wadagnya yang masih lemah.

    “Ah, sudahlah,” berkata Ki Waskita pada akhirnya, “Ki Rangga perlu istirahat. Apakah angger perlu seorang kawan? Aku akan memanggil Sekar Mirah jika memang angger menghendaki.”

    Sejenak Ki Rangga berpikir. Akhirnya Ki Rangga pun mengambil keputusan. Katanya kemudian, “Baiklah Ki, aku perlu baju yang kering dan mungkin semangkuk minuman hangat. Jika Ki Waskita tidak berkeberatan, sampaikan kepada istriku.”

    “O, tentu saja tidak ngger,” jawab Ki Waskita sambil bangkit dari tepi pembaringan Ki Rangga, “Beristirahatlah yang cukup. Kita akan membicarakan aji pengangen-angen ini dilain waktu. Sementara aku akan memanggil Sekar Mirah untuk menemani angger.”

    Selesai berkata demikian Ki Waskita segera melangkah keluar bilik dan menutup pintu bilik itu dari luar sebelum akhirnya menuju ke bilik yang terletak di belakang untuk menyampaikan pesan Ki Rangga.

    Dalam pada itu rombongan Ki Patih telah mendekati banjar padukuhan induk. Mereka sengaja tidak memacu kuda-kuda mereka agar tidak memberikan kesan yang mendebarkan kepada para penghuni padukuhan induk yang telah kembali dari tempat pengungsian mereka. Kuda-kuda itu berderap dengan irama yang sedang menuju ke banjar padukuhan induk dimana para prajurit pengawal kepatihan sedang menunggu.

    Beberapa pengawal serta prajurit yang berjaga di regol segera berloncatan dan membentuk barisan kawal kehormatan di sebelah menyebelah regol ketika rombongan Ki Patih muncul dari kelokan jalan di depan banjar. Prajurit tertua yang sedang berjaga saat itu segera memberi aba-aba penghormatan begitu rombongaqn itu lewat di depan mereka.

    “Terima kasih,” berkta Ki patih sambil membalas penghormatan barisan kawal kehormatan itu.

    Begitu kuda-kuda itu berderap memasuki halaman banjar yang luas, Ki Patih dan rombongan yang masih berada di atas punggung kuda itu telah dikejutkan oleh beberapa orang yang tampak sedang berdiri di tangga pendapa menyambut kedatangan Ki Patih.

    • Alhamdulillah….. Matur nuwun Mbah Man ….

    • Matur nuwun sanget mbah Man, hadiah rontal menyambut imlek, sepindah malih matur nuwun…

    • Alhamdulillah, matur nuwun Mbah_Man, pas pasar temawon ada wedaran “hadiah libur panjang ke – 2” ….. tetap semangat !

  19. Matur suwun mbah…. Kulo lg sinau ajian pengarep arep mugi2 rontale medun meleh… Niku sebagian ajian pengarep arep…..

    • Matur nuwun Mbah Man ,
      …….. selama ketulusan terpelihara , dalam setiap episode yg terjadi penuh hiknah……. belajar dari ki RAS.
      Semakin penasaran Mbah Man.

  20. Ki Jayaraga yang berkuda di belakang Ki Patih dan Ki Gede Menoreh itu sejenak mengerutkan keningnya begitu mengenal salah seorang yang berdiri di tangga pendapa tersebut.

    “Ki Gede Ental Sewu,” desis Ki Jayaraga dengan dada yang berdebaran.

    Demikian kuda-kuda itu hampir mencapai tonggak-tonggak tempat untuk menambatkan kuda yang berada di samping kanan pendapa, beberapa prajurit pengawal kepatihan yang berada di halaman itu segera berlarian menyambut tali kendali kuda Ki Patih dan orang-orang tua yang ikut dalam rombongan itu. Setelah menyerahkan tali kendali kudanya, Ki Patih diikuti oleh para sesepuh segera melangkah menuju ke pendapa.

    “Selamat malam Ki Patih,” sapa Ki Gede Ental Sewu yang segera turun dari tangga pendapa diikuti oleh kedua muridnya yang masih sangat muda, Sindang Wangi dan Bantar Kawung.

    “Terima kasih,” jawab Ki Patih sambil menerima salam dari Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya itu. Namun kening Ki Patih sejenak menjadi berkerut-merut ketika tampak seseorang yang sudah menjelang senja menghampirinya.

    “Kami juga menyampaikan selamat malam dan selamat datang kembali ke padukuhan induk, Ki Patih,” berkata seorang laki-laki yang sudah ubanan mewakili kawan-kawannya, “Semoga dalam perjalanan tadi tidak ada satu aral pun yang melintang.”

    “Terima kasih,” jawab Ki Patih sambil menerima salam laki-laki yang rambutnya sudah beruban semua itu.

    Sejenak Ki Patih mengedarkan pandangan matanya. Di belakang laki-laki ubanan itu ada seorang perempuan yang tak kalah tuanya dengan laki-laki beruban itu. Kemudian di sebelah menyebelah perempuan tua itu berturut-turut seorang laki-laki yang sudah cukup berumur dan tiga orang gadis yang masih remaja. Sedangkan di belakang perempuan tua itu tampak berjajar-jajar enam orang gadis yang juga terlihat masih remaja.

    Serentak mereka yang berdiri di belakang laki laki yang sudah ubanan itu segera membungkukkan badan mereka dalam-dalam begitu Ki Patih memandang ke arah mereka.

    “Terima kasih,” berkata Ki Patih kemudian sambil menganggukkan kepala membalas penghormatan mereka. Kemudian sambil berjalan menaiki tlundak pendapa, Ki Patih pun melanjutkan kata-katanya, “Marilah. Menjelang sepi uwong ini agaknya masih ada juga urusan yang harus mendapatkan perhatian.”

    “Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede Ental Sewu kemudian sambil mengikuti langkah Ki Patih, “Kami memang sengaja menunggu kehadiran Ki Patih di pendapa banjar padukuhan induk ini untuk memohon petunjuk Ki Patih.”

    Ki Patih mengerutkan keningnya. Rasa-rasanya Ki Patih memang belum mengenal Ki Gede Ental Sewu. Ketika Ki Patih kemudian berpaling ke arah Ki Gede yang berjalan di samping kirinya, Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pun kemudian tersenyum sambil mengangguk. Semetara Ki Jayaraga yang berjalan di belakang Ki Patih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengayunkan langkahnya mengikuti Ki Patih.

    • Keren ….
      Semakin degdegan n menarik .
      Matur nuwun Mbah

    • Deg deg pyur menunggu kelanjutannya, matur nuwun mbah man ..

    • Matur nuwun Mbah_Man “hadiah libur panjang ke -3” ……

    • Matur nuwun Kiai Haji Panembahan…
      Ternyata kolo wingi wonten 2 rontal diwedhar…
      Tambah semangat nyambangi gandhok niki… hehehe ….
      Mugi Panembahan tetep fit, sehat soho pikantuk kanugrahan saking Allah Swt.

    • Matur nuwun mbah…. mugi Gusti Allah paring sugeng kasarasan,, yuswo ingkah barokah, rizqi dumatheng Mbah ugi kaluwarga. Amiinn…

  21. @ Anakmas Risang,
    Embah tahu kalau Anakmas Risang hari ini sibuuuk luar biasa. Namun embah hanya ingin bertanya. Tinggal berapa kali wedaran untuk menutup jilid 412 ini? jika Anakmas Risang sempat menengok Padepokan.
    matur suwun sebelumnya..
    mbah man

    • Matur suwun Panembahan.
      Ngapunten belum bisa bandel, perkiraan Risang sebelumnya masih kurang tiga rontal. Masih belum tahu apakah yang itu sudah cukup. Nanti malam coba Risang bandel dan laporkan.
      Nuwun….

    • Kalau tidak salah, yang kemarin belum Risang bandel. Rasanya sudah cukup untuk bandel TADBM 412. Pastinya nanti malam nggih, sekalian buka gandok.

  22. Terima kasih Mbah Man atas double rontalnya dan mudah-mudahan nanti malam terlengkapi untuk TADBM 412… xixixi .. Dan selanjutnya berharap saat besok lusa sudah memanjat ke TADBM 413 … .

  23. Mangayubagya ki Ageng Arema ngunduh mantu, pasugatan saking ki dalang Panembahan Mandaraka….mak nyesss…matur nuwun panembahan.dan selamat buat mempelai semoga bahagia selama-lamanya.

  24. Wis mbaca ADBM dari tahun 2010.. nmbe rampung oktober 2014. sempat mandek gara2 ceritane Tamat. Belum lama iseng2 nyari di internet. Alhamdulillah akhirnya nemu lanjutan ADBM Karya Mbah_Man. lanjutane pancen luarbiasa. Petuah2 hidup dan guyonane tetep ada disamping sifat manusia yang lainnya.
    (maaf, bahasane ngawur. soale lahir di Ciamis besar di Kebumen punya pasangan hidup di Batang-Pekalongan. dadine sunda iya ngapak iya jawa pkalongan juga iya. tapi bahasa ngapak lebih dominan, hehe..)

    ngapunten..nulis unek2 tok. ojo diseneni🙂

  25. Siiiip……………….semakin penasaran

  26. Alhamdulillah….. TADBM 412 sudah bisa ditutup. Gandok TADBM 413 sudah dibuka.
    Monggo…, tulung tikar lan dingklik dipun gotong dateng gandok sebelah, jagongan luwih gayane wonten mriku.

  27. Tengok gandok, rasanya lelah jadi hilang.
    Dua hari kemarin, meski libur ternyata banyak sanak kadang yang hadir.
    Biasanya kalau sabtu-minggu sekitar 1000 klik, dua hari kemarin mencapai 2000 klik.
    Luar biasa.
    Terimakasih atas atas kehadirannya, menjadi penyemangat Risang untuk tetap jaga gandok.

    • Alhamdulillah….
      Nggih Ki Satpam,… siaaap. Nggulung tiker n nggowo bantal nyNg gandhok sebelah, 413,….

      Ada gula ada semut. Ada pasir berani kalau ada magnet yang menariknya, trmasuk eo-nya. Kangmas Risang yang jadi EO-nya mantaps….

      Kiai Haji Panembahan Mandaraka mulai wedharan di Sabtu Minggu bahkan hari libur. Ini yang buat CanMen tambah sregep nyambangi Gandhok. Apalagi Beliau wedharan pada jam yang acak, sehingfa CanMen akan tambah sering update n nginguk Gandhok…
      Wedi lokere neng gandhok dijikuk CanMen liyane..hahaha…
      Matur nuwun…

  28. Seingat saya, Ki Gede Ental Sewu dan orang2 yang menunggu Ki Patih Mandaraka adalah orang2 yang menjadi seteru saat peperangan yang belum lama usai.
    Apakah maksud mereka menemui Pepatih Mataram? Apakah mereka akan menyampaikan kesetiaan mereka kepada Mataram atau ini hanya tipu muslihat mereka untuk mencelakai… Tambahn penasaran….hemh….

    • Saya berpikiran sama….makin menarik….
      Juga masih menunggu kehadiran Sabungsari…

  29. matur kasuwunnn bundelane Ki Satpam…mangayu bagyo boyongan pindah gandok… sumonggo…

  30. matur nuwun Mbah Man ….wonten double wedaran penutup bundel 412 ….. makin seru makin penasaran ,,,, mbah man memang juara ….

  31. Setiap lontaran rontal Mbah Man selalu mengandung teka-teki yang membuat penasaran. Luar biasa . . . . .

  32. semakin rumit mengurai…………………….jempol.

  33. dono satro yg dahsyat dari mbah man n ki arema……….

  34. Mugi2 ajian pengarep arep q ampuh sesok medun rontale tnggal buka lawang mlebu gandok sebelah…. Matur nuwun mbah….

  35. kok mulai sepi sami pada pindah gandok yang baru ya, waduh telat telat aku

    • Matur nuwun Mbah

  36. sy mau lihat ki RAS sampai puncak karirnya dan terimakasih buat mbah_man semoga diberikan kesehatan oleh yg maha kuasa amin🙂

  37. Ini komentar pertama saya, Mbah Man. Anda benar-benar mengagumkan. Bisa mempertahankan warna Ki SHM namun dgn konflik yang lebih kompleks. Salam kenal juga buat para cantrik/mentrik,

    gading

  38. lanjutan tdbm seri 414 kapan tayang dan dimana

    TADBM 414 masih kejar tayang, bisa baca di gandoknya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: