TADBM-408

<< kembali ke TADBM-407 | lanjut ke TADBM-409 >>

TADBM-408

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 14/12/2014 at 09:49  Comments (1.155)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-408/trackback/

RSS feed for comments on this post.

1.155 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tumut Hadir ingak-inguk sareng ngantosi gogrokan rontal saking Mbah_Man…muantab Mbah…
    Lumuh tukua pawarta,
    Tan saranta nuruti hardengati,
    Satata tansah tinemu,
    Kataman martotama,
    Kadarmaning narendra sudibya sadu,
    Wus mangkana kalih samya,
    Sareng manguswa pada ji.
    Mingkar mingkuring angkara,
    Akarana karenan mardi siwi,
    Mangka nadyan tuwa pikun,
    Yen tan mekani rasa,
    Yekti sepi sepa lir asepa samun,
    Samangsane pakumpulan,
    Gonyak ganyuk nglelingsemi.

  2. “Anjani,” akhirnya Ki Rangga tidak dapat menahan hatinya lagi, “Percayalah, aku tidak akan ingkar dengan janjiku.”

    • Anjani dinikahkan saja dengan Rudita atau Mlaya Werdi saja kali ya …..

      • Kulo njih kerso nampung Anjani hiksss

        • Hanya ingin tahu… jika konflik fisik/kanuragan bisa terlewati oleh AS walaupun dengan sangat terpaksa, tapi bagaimana nanti dengan masalah Hati…? Kita semua tahu bahwa Sekar Mirah & Anjani sama2 perempuan yang mempunyai dasar Ego yang sangat kuat. Prediksi saya akan menghadirkan cerita yang sangat menarik dan butuh kedewasaan yang luar biasa… Mohon maaf mbah Man…

          • Di satu sisi AS adalah pribadi yang setia, disisi lain Anjani mewarisi ilmu memabokkan laki2 dari resi Mayangkara

      • Hehehe

  3. ingak inguk,tingak tinguk.presensi snn ag siang,ttap semangat.

  4. Wes yah mene kok durung ana wedaran ya……???
    Mbah-man………dinten menika wonten rapelan to….???

    • Sabar atuh mas, kan kemarin baru wedaran…
      Iyo thok mbah Man? Tuch kan ndak ada rapelan tapi yang ada setiap hari wedaran xixixixi kabuuuuuurrrrrr

      • Sabar siMbah masih sibuk cari2 ilmu yg bisa menandingi Berhala Wuru…. belum dapet2…

  5. Ketika Ki Gede Menoreh kemudian melangkahkan kakinya memasuki padukuhan induk, dia melihat Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi sedang tergesa-gesa menyusul rombongan yang membawa Pandan Wangi menuju ke salah satu rumah yang dipakai sebagai balai pengobatan.

    “Kiai,” sapa Ki Gede Menoreh kepada Kiai Sabda Dadi sambil berjalan setengah berlari, “Bagaimana dengan lawan Kiai?”

    Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi menghentikan langkahnya dan berpaling. Kata Kiai Sabda Dadi kemudian setelah Ki Gede berada di sebelahnya, “Agaknya aku kurang beruntung hari ini. Lawanku kembali pergi meninggalkanku.”

    Ki Gede mengerutkan keningnya, “Bagaimana mungkin orang itu bisa lolos kembali dari tangan Kiai Sabda Dadi?”

    Kiai Sabda Dadi tersenyum masam. Jawabnya, “Dia benar-benar pandai bersembunyi dengan aji halimunannya. Aku masih memerlukan waktu sekejap untuk mengenali apa yang sedang terjadi ketika dari kejauhan aku melihat bentuk yang nggegirisi dari Panembahan Cahya Warastra, tiba-tiba saja dia telah menghilang dari pandangan mataku.”

    “Jadi Kiai Sabda Dadi juga menyaksikan ilmu Panembahan itu?”

    “Ya,” jawab Kiai Sabda Dadi, “Agaknya Ki Jayaraga pun juga telah menyaksikan walaupun hanya dari kejauhan.”

    “Ya, Ki Gede. Sebuah ilmu yang hanya ada dalam dongeng,” berkata Ki Jayaraga.

    “Bukankah lawan Kiai Sabda Dadi melakukan hal yang sama pagi tadi di halaman rumahku?”

    “Begitulah Ki Gede,” jawab Kiai Sabda Dadi, “Dia menghilang begitu saja sehingga aku telah kehilangan waktu sekejap untuk mencarinya.”

    Ki Gede Menoreh hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika dia memandang ke depan, tampak rombongan yang membawa Pandan Wangi itu sudah memasuki balai pengobatan.

    “Kiai,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “Aku akan melihat keadaan anakku terlebih dahulu. Jika Kiai berkenan memberikan obat barang setetes untuk memperkuat ketahanan tubuhnya, aku akan sangat berterima kasih.”

    “Baiklah,” jawab Kiai Sabda Dadi. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Jayaraga dia bertanya, “Apakah Ki Jayaraga berkenan ikut menengok keadaan Nyi Pandan Wangi ataukah Ki Jayaraga akan melihat keadaan medan pertempuran.”

    Sebelum Ki Jayaraga menjawab, ternyata Ki Gede telah mendahuluinya, “Aku mohon Ki Jayaraga berkenan melihat perang tanding Ki Rangga Agung Sedayu. Kelihatannya Ki Rangga sedang mengalami kesulitan.”

    “Ya, aku dan Kiai Sabda Dadi sudah melihat ujud Panembahan Cahya Warastra yang berubah menjadi raksasa,” Ki Jayaraga berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Aji Brahala Wuru itu sebenarnya hanya ada di dalam dongeng. Aku tidak mengira kalau Panembahan Cahya Warastra ini mempunyai ilmu untuk melipat gandakan ujud wadagnya.”

    “Apakah Ki Jayaraga mempunyai kemampuan untuk melawan aji brahala wuru?” bertanya Ki Gede.

    Ki Jayaraga menggeleng, “Aku hanya pernah mendengar aji ini dari dongeng-dongeng yang pernah aku baca, dan baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.”

    Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Menoreh sejenak saling pandang. Akhirnya Ki Gede melangkah meninggalkan tempat itu sambil berkata, “Marilah Ki Jayaraga, aku akan melihat keadaan anak perempuanku. Semoga lukanya tidak terlalu parah.”

    “Silahkan Ki Gede, “ sahut Ki Jayaraga cepat, “Biarlah Kiai Sabda Dadi menemani Ki Gede. Namun setelah yakin Nyi Pandan Wangi tidak mengalami hal yang gawat, aku mohon kalian berdua menemaniku menunggui perang tanding Ki Rangga.”

    Tanpa menghentikan langkah, hampir bersamaan Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi mengangguk.

    Sepeninggal kedua orang tua itu Ki Jayaraga segera berjalan menuju regol padukuhan yang telah runtuh. Dari tempat itu Ki Jayaraga sudah dapat menyaksikan pertarungan dahsyat antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra.

    Sebenarnyalah Ki Rangga Agung Sedayu sedang memikirkan cara untuk mengurangi tekanan serangan lawannya sekaligus untuk mengimbangi kekuatan lawannya yang berlipat-ganda karena ujud aslinya telah bertiwikrama menjadi raksasa, walaupun aji yang akan ditrapkan itu mungkin kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan saudara kembar Kecruk Putih itu dalam ujud raksasa. Namun setidaknya Ki Rangga berharap ilmu yang akan ditrapkan itu dapat mengurangi tekanan lawannya.

    “Setidaknya Panembahan ini masih memerlukan waktu sekejap untuk mengetahui diriku yang sebenarnya, sehingga aku akan mempunyai kesempatan untuk balas menyerang” berkata Ki Rangga dalam hati sambil melenting berdiri menghindari sambaran kaki lawannya.

    Ketika ujud raksasa Panembahan Cahya Warastra itu mengayunkan tangannya sambil membungkuk untuk menghantam lawannya yang tengah berdiri, tiba-tiba saja Ki Rangga Agung Sedayu telah meloncat menghindar ke tiga arah yang berbeda. Ternyata Ki Rangga telah mengetrapkan aji kakang pembarep dan adi wuragil.

    • matur nuwun Mbah_man…. komen rontal No 1

      • sami2 Nyi…
        kok dereng kundur?
        menapa nglembur..? (nek purun kula kancani hehehe..)

        • Ngapunten Mbah_Man, kolo wingi mboten mampir gandok malih. Kulo wangsul gubuk jam 18.15 waktu borneo wetan he he he. Dinten meniko menopo wonten rapelan utawi hatrick kagem babar gandok enggal??

    • matur nuhun Panembahan

      • kurang berapa, anakmas Risang?

        • Ups…. harus lihat buku besar di padepokan Panembahan, ini masih nganglang.
          Nanti kalau sudah sampai di padepokan njih.

          • Empat rontal lagi nampaknya memadai untuk nutup gandhok mbah_man……..tambahi satu buat mbukak gandhok anyar…….

          • monggo mBah …dipun tuntasaken kemawon

        • Alhamdulillah Panembahan
          TADBM-408 sampun saged dipun tutup.

          TADBM-409 sampun cumawis kagem panjenengan “ndalang”.

          he he he ….

          monggo mbah
          setunggal rontal kemawon kagem “plaris” TADBM-409

    • Matur nuwun Mbah_Man …..

    • Top markotop mbah..

    • Kakang Kawah Adi Ari-ari dalam balutan kabut pekat, dan masing-masing mampu menyerang.

  6. “Jika kalian bersungguh-sungguh dan tekun, maka kalian akan mendapatkan banyak. Tetapi jika kalian malas dan tidak bersungguh-sungguh, maka kalian akan mendapatkan sedikit.”

    “Ya. Aku memiliki kitab yang memuat ajaran-ajaran perguruan Empu Windujati,” jawab Kiai Gringsing, “Semua ajaran akan kalian dapatkan pada isi kitab itu. Yang sudah kalian miliki dan yang belum pernah kalian miliki. Yang ada padaku-pun tidak lebih dari isi kitab itu.”

    (Jadi berdebar2 dech… ilmu apa yang akan dikeluarkan oleh AS menghadapi PCW… Apakah ilmu Tunjung Bumi yang mirip ilmunya Resi Mayangkara…, Ilmu kabut… atau … atau…)

  7. nginguk sithik

  8. Ilmu pukulan jarak jauh seperti yang dikeluarkan Kakang Panji dan Kiai Gringsing di Prambanan koq ga pernah keluar ya? Apa Agung Sedayu belum menguasainya? Atau Ilmu Kiai Gringsing melawan Kiai Jayaraga yang merupakan ilmu tertinggi Windujati?

  9. Matur nuwun mbah_man mpun radi lego atiku AS wis munggah aji kakang pembarep adi wuragil, paling tidak ada waktu buat mikir ilmu apa yang akan digunakan melawan Brahala Wuru?

    • kulo usul, AS dikawonaken rumiyin….terus berguru ke resi Mayangkari ditemenin Anjani

      • Apakah tidak kejauhan jika berguru ke resi Mayangsari Ki…?

      • Waduh… kalau dekat2 Anjani jadi berabe ki… nanti gak kuku..

      • Yes mother don’t like that = yo mbok ojo ngono to Ki PA…heuheuu

  10. Maturnuwun Mbah Man…
    Masih ditunggu kelanjutannya…

    • Nyi laras nuwun tulung man teman mentrik sing rajin nggorok si mbah, saya udah kena black list ga boleh nggogrok kacuali terpakso.

      • Siaaapp Ki Djojosm…

  11. Lha harak leres kan mesti kakang kawah adi ari-ari ingkang dipun rapal….he…he…mangke wonten petunjuk saking resi mayangkara kelemahan aji brahala wuru lewat aji pameling…tp sing pasti inggih ngrantos petunjuk saking Mbah_Man…he…he…

  12. nuwun………………..

  13. suk-isuk nguk-thenguk ning ngarep gandhok karo ngantuk…
    wan-awan ra doyan mangan nunggu Mbah Man kapan wedharan…
    absen…absen…absen nuwun….

  14. Selamat pagi poro kadang sedanten. mugi diparingingi sehat semua. salam

  15. Sugeng enjang sedaya taksih nenggo rontalipun…..

  16. inggih sami

  17. Sugeng siang, salam buat sedulur kabeh, mugi diparingi padhang sak kabehe.

  18. amiin amiiin

  19. D pun tenggo wedharipun nembahan…
    monggo katuran…
    he…he..

  20. Mestinya Ki Rangga AS menyerang lawannya dengan aji Ganda Puspa, atau ilmu kabut, supaya raksasa itu kebingungan, dan akhirnya jatuh sendiri.

  21. Absen dulu … mau mancing ke laut…ahh mudah-mudahan pulang nanti sudah ada rontal gogrok….. kalau dapat kakap merah..wah enak kepalanya di masak bumbu gulai…..
    Kalau pandepokan Mbah-Man dekat so pasti gulai kepala kakap nyampai………………….???????????????????????

  22. mbah maaaaaaannnnnn,………………..
    kangeeeeee……nnnnnnnnnnnnnnnnn

  23. Hadir, dipaksa ….. tetap semangat !

  24. Hadir, selamat siang teman teman, salam

  25. Tetap semangat menunggu rontal pembuka…namun kok inggih dereng gogrok-gogrok rontalipun, sampun semingguan kok dereng wonten rantal tumurun…gek-gek Mbah_Man wonten menopo-menopo?
    Yen wonten kabare Mbah_Man poro sederek ngapunten diinfokan dateng sedoyo kadang ing gandhok meniko…matur nuwun sakderenge…semangatttttt.

  26. Selamat pagi sedulur kabeh, lapor hadir menunggu gogrogan dgn sabar. salam

  27. Wuadhuuh, ngannti kelalen, eee mbah man, aji nipun nyi Rahutri kulo manah kok salah ketik, mesthinipun aji PAMILUTSIH dados sanes pAMULATSIH, makaten matur nuwun sadereng tuwin sasampunipun nyuwun agenging samodra pangaksami

  28. Mbah Man nembe semedi, sakderengipun badhe medhar carios saklajengipun . . . .

  29. Menghaturkan selamat ulang tahun kepada Ki Arema,
    semoga senantiasa mendapat perlindungan dan berkah yang melimpah dari Allah SWT.
    Untuk merayakannya mbah_man tentu akan menggrojogi rontal sebanyak banyaknya.

  30. di malang beli rontalnya dimana ya…

  31. libur….

  32. Ok Ok bagus

  33. gandhok sampun kebak, sampun mboten wonten papan tirah malih kangge nempelaken palenggahan (heheh bokong) sanajan samparan kedak dipun tekuk luk luk, namung wayang ipun kok dereng dipun beber/wiwiti, punapa malih ingkang dipun tengga to punika?

    sabar njih, Panembahan injih kagungan pakaryan kados tiyang sanesipun, menapa malih ing wulan ramadhan puniko. Bilih sampun wonten lodanging wekdal tamtu panembahan paring wedaran rontal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: