TADBM-405

<< kembali ke TADBM-404 | lanjut ke TADBM-406 >>

TADBM-405

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 11/03/2014 at 20:01  Comments (1.156)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-405/trackback/

RSS feed for comments on this post.

1.156 KomentarTinggalkan komentar

  1. Lanjutan TADBM 405

    Putut Luarsa yang berusaha menyadarkan Ki Lurah ternyata usahanya sia sia. Ketika kemudian tombak pendek di tangan Ki Gede telah berputaran dengan cepat kemudian menyambar dadanya, murid perguruan Cahya Warastra itu pun segera memusatkan perhatiannya untuk bertempur menghadapi Ki Gede.

    Sementara Damarpati yang telah diambil alih lawannya oleh Ki Gede masih berdiri termangu mangu. Anak itu masih belum bisa menguasai jantungnya yang berdebaran di dalam rongga dadanya. Dengan mata yang nanar dia mengawasi jalannya pertempuran antara Ki Gede melawan Putut Luarsa.

    “Damar,” tiba tiba terdengar bisik lembut di belakangnya, “Beristirahatlah, semuanya akan baik baik saja.”

    Mendengar suara lembut Sekar Mirah, barulah Damarpati menarik nafas dalam dalam. Betapa dadanya bagaikan disiram banyu sewindu setelah mengalami ketegangan yang luar biasa ketika bertempur melawan Putut Luarsa.

    Sekarang baru terasa betapa pedih luka luka yang terdapat di beberapa bagian tubuhnya. Sejenak diamat amatinya beberapa luka yang terdapat di pundak kiri dan lengan kanannya. Ketika Damarpati kemudian dengan tidak sengaja telah berpaling ke belakang, agaknya Sekar Mirah telah tanggap, dengan tetap mendekap bayinya yang tertidur lelap, perlahan Sekar Mirah berdiri kemudian berjalan mendekat dan meraih tangan Damarpati untuk dibimbing menjauhi arena pertempuran.

    Dalam pada itu, di luar langit mulai dihiasi oleh sinar merah kekuning kuningan yang membias indah pada mega mega yang berarak arak di langit sebelah timur. Pagi mulai datang, alam bagaikan terbangun dari kegelapan yang penuh dengan misteri. Kekuatan sirep yang ditebarkan oleh Bango Lamatan dan kawan kawannya mulai memudar seiring dengan datangnya pagi.

    Beberapa pengawal yang tidur silang melintang di depan regol kediaman Ki Gede mulai terusik. Sambil menggeliat dan menguap lebar lebar mereka mulai menyadari keadaan masing masing. Rasa rasanya mereka telah tidur terlampau nyenyak di penghujung malam itu.

    “He!” tiba tiba seorang pengawal yang tertidur sambil bersandaran pintu regol telah meloncat bangun. Sejenak diedarkan pandangan matanya yang masih buram itu ke sekeliling penjagaan di regol kediaman Ki Gede. Betapa jantungnya bagaikan berhenti berdenyut begitu melihat sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Beberapa pengawal telah tertidur silang melintang di regol itu.

    Ketika sudut mata pengawal itu menangkap bayangan orang yang sedang bertempur di halaman, pengawal itu pun segera menyadari bahwa sesuatu telah terjadi di kediaman Ki Gede justru pada saat semua pengawal yang berjaga jaga telah tertidur.

    “Sirep,” gumam pengawal itu, “Seseorang telah menebarkan sirep. Apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

    Dengan tergesa gesa diguncang guncangkannya tubuh kawan kawannya yang masih terbuai dalam mimpi. Ketika satu persatu pengawal itu mulai tersadar dari pengaruh sirep yang melemah karena datangnya sinar Matahari, penjagaan di regol depan itu pun segera menjadi gempar. Dengan tergesa gesa mereka segera membenahi pakaian mereka yang tampak kusut serta senjata senjata mereka yang dibiarkan tergeletak begitu saja ketika mereka jatuh tertidur.

    • suwun..

      salam sakaw

      • Tandhuk …… mbaHmaN. …… dereng wareg!!!!

        • Podo mbah, aku juga….

    • Wah….., para pinisepuh wis pada rawuh
      he he he ….

      suwun mbah

      • Anakmas Satpam,
        Kemarin Jeng Larasati tlp embah katanya masuk gandhok gak bisa lagi, kena cekal..
        Ada apa ya..?
        matur suwun

        • mboten kok mbah
          Ki Arema njih dipun sambati Bu Lik Laras.
          Satpam masih belum tahu, apa penyebabnya.
          WP kadang-kadang memang nganyelke, he he he ….

        • Alhamdulillah…
          Akhirnya….
          aaaaaaaaa
          Hari ke 4 nyoba baru berhasil

  2. namung saget ngeturaken panuwun kemawon ki arema soho mbah man…..

  3. Alhamdulillah…..

  4. Dengan sigap tiga orang pengawal segera berlari larian menuju ke pendapa, sedangkan beberapa yang lain dengan senjata terhunus mencoba mendekati pertempuran antara Kiai Sabda Dadi dan Bango Lamatan.

    Ketika tiga orang pengawal yang menaiki tlundak pendapa itu telah mencapai pendapa, alangkah terkejutnya mereka begitu mendapati sesosok mayat yang tertelungkup di tengah tengah pendapa dalam genangan darah yang mulai mengering. Tahulah kini mereka bahwa di atas pendapa telah terjadi pertempuran yang dahsyat.

    Begitu ketiga pengawal itu mencoba mengenali sesosok mayat yang tertelungkup itu dengan membalikkannya, kembali ketiga pengawal itu terkejut. Bekas luka yang menganga di dada mayat itu jelas bekas tusukan sebuah tombak.

    “Ki Gede Menoreh,” gumam salah satu pengawal itu tanpa sadar. Kedua kawannya ikut mengangguk anggukkan kepala begitu mengenali bekas luka di dada mayat itu.

    “Marilah kita lihat di ruang dalam,” berkata pengawal itu kemudian kepada kawan kawannya.

    Sejenak kemudian ketiga pengawal itu telah menerobos pintu pringgitan yang terbuka. Dengan cepat tanpa membuang buang waktu lagi ketiganya pun segera meluncur ke ruang tengah.

    Dari pintu ruang tengah yang terbuka itu mereka segera menyaksikan pertempuran yang dahsyat antara Ki Gede Menoreh dan Putut Luarsa. Keduanya tampaknya telah sampai pada puncak ilmu mereka yang nggegirisi. Pedang Putut Luarsa berputaran cepat dan menimbulkan pusaran angin yang melibat apa saja yang diterjangnya, sementara Ki Gede telah bergerak setapak demi setapak dengan kemampuan puncak ilmunya yang mampu mendahului gerak wadagnya.

    Ketiga pengawal itu masih sempat melihat Putut Luarsa meloncat tinggi sambil memutar pedangnya. Sebuah pusaran angin segera saja melibat Ki Gede yang dengan sengaja menyongsong pusaran angin itu. Ketika tubuh Ki Gede terseret beberapa langkah karena kekuatan pusaran angin yang menerjangnya, lawannya segera menggunakan kesempatan itu untuk mengayunkan pedangnya menebas leher.

    Kesempatan itu memang telah ditunggu oleh Ki Gede. Putut Luarsa yang belum menyadari kekuatan ilmu dari perguruan Menoreh itu ternyata telah salah perhitungan. Dengan segenap kemampuan tenaga cadangannya Ki Gede dengan sengaja membenturkan tombak pendeknya dengan pedang lawannya yang terayun deras mengarah ke leher. Benturan yang terjadi kemudian ternyata menjadi akhir dari pertempuran itu. Pedang Putut Luarsa yang bagaikan membentur sepotong besi gligen telah terpental kesamping. Selagi Putut Luarsa memperbaiki genggaman pada pangkal pedangnya agar tidak terlepas, Ki Gede ternyata telah menghentakkan ilmunya dengan menghujamkan tombak pendeknya ke arah dada lawannya yang terbuka.

    Menyadari bahaya yang datang ke arah dadanya, Murid Panembahan Cahya Warastra itu dengan tergesa gesa memiringkan tubuhnya sejengkal. Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungannya. Ujung tombak itu secara kasat mata memang masih kurang sejengkal dari dadanya sehingga Putut Luarsa tidak menyangka ketika tiba tiba saja terasa ujung tombak itu telah menghujam dadanya cukup dalam.

    Tubuh Putut Luarsa beberapa saat terhuyung huyung ke belakang terkena dorongan dari tombak Ki Gede yang telah berhasil melobangi dadanya cukup dalam. Darah segar segera memancar dari luka itu. Luka yang cukup parah sehingga sejenak kemudian Putut Luarsa telah menjadi gemetar.

    “Gila,” umpatnya, “Ilmu iblis, benar benar ilmu iblis,” dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang menjadi semakin tersengal sengal. Kini pedangnya telah dilepaskan dan dengan kedua tangannya dia mencoba mendekap luka itu untuk menghentikan darah yang terus mengucur, namun ternyata luka itu memang cukup parah sehingga Putut Luarsa tidak mampu menghentikannya. Lanjutnya kemudian, “Engkau berhasil Ki Gede. Kami ternyata salah perhitungan, kami menyangka Ki Gede masih tergolek sakit dan…”

    Putut Luarsa tidak mampu lagi melanjutkan kata katanya. Tiba tiba tubuhnya condong ke depan dan terjatuh pada lututnya. Sejenak saudara seperguruan Putut Gagat Rahina itu mengumpat sambil menyeringai menahan sakit yang mendera dadanya. Ketika Ki Gede maju selangkah untuk mencoba menolongnya, Putut yang dipercaya oleh Panembahan Cahya Warastra untuk membantu Bango Lamatan menculik anak Ki Rangga Agung Sedayu itu pun akhirnya terjungkal dan menemui ajalnya.

    • Aku duluan yang baca, terima kasih mbah man…….

      • wah…
        cepat sekali Bu Lik sampai di sini, he he he ….
        kalah aku

      • Tes

    • Makasih Mbah…

      • Risang tidak nyekal lho Bu Lik, suwer………
        Kemarin Risang mau dijewer oleh Kiaine, hadu……

        • Hehe…
          Sejak hari minggu nyoba masuk gak bisa e ms Risang….
          Blm dijewer to?

    • muantap…. tyt ki gede msh dahsyat dlm betarung….

    • Suwun mbah_man, mangke dalu wedharan malih to ?

  5. hayooo terrrus rontalnya,makin sering makin gayeng….nuwun ki arema n mbah man

  6. Alhamdulillah…….

    • wah…keri dewe aku…do ablasmen…

  7. Sejenak suasana menjadi sepi. Ki Gede Menoreh masih berdiri termangu mangu di depan mayat Putut Luarsa. Beberapa langkah di depannya agak jauh di dekat pintu butulan samping terlihat Ki Lurah Sanggabaya terbujur diam entah pingsan entah mati. Sementara perempuan muda dan cantik yang menjadi lawannya itu telah pergi entah kemana.

    Ketiga pengawal itu segera berlari menghadap Ki Gede. Setelah membungkuk hormat, salah satu pengawal itu berkata, “Ma’afkan kami Ki Gede. Kami tidak mampu berbuat apa apa justru pada saat kediaman Ki Gede telah diserbu oleh orang orang tak dikenal.”

    Ki Gede menarik nafas dalam dalam. Dipandanginya satu persatu ketiga pengawal yang sedang berdiri di depannya sambil menundukkan kepala itu. Kata Ki Gede kemudian, “Semua itu bukan salah kalian. Musuh yang datang mempunyai kemampuan diluar jangkauan ilmu kalian. Untunglah ada seseorang yang ikut membantu. Sayang dia telah pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih.”

    Ketiga pengawal itu saling pandang sejenak. Mereka tidak sempat melihat pertempuran antara Ki Lurah Sanggabaya dengan perempuan yang masih muda dan sangat cantik itu. Ketika mereka memasuki ruang tengah, mereka hanya sempat menyaksikan akhir dari pertempuran Ki Gede dengan lawannya.

    “Nah,” berkata Ki Gede selanjutnya, “Bersihkanlah ruangan ini. Ajak kawan kawanmu yang lain untuk menyelenggarakan mayat ini dan yang ada di pendapa. Aku akan melihat keadaan orang yang tergeletak di dekat pintu samping itu.”

    Selesai berkata demikian dengan bergegas Ki Gede segera menuju tempat Ki Lurah Sanggabaya tergeletak. Dengan bertumpu pada tombak pendeknya, ki Gede pun kemudian berjongkok di sisi Ki Lurah sambil meraba dadanya.

    Sejenak Ki Gede mengerutkan keningnya. Setelah yakin akan pengamatannya, dengan perlahan Ki Gede berdiri dan berkata sambil berpaling ke arah ketiga pengawal yang masih berdiri menunggu di dekat tubuh Putut Luarsa yang terbujur diam, “Agaknya orang ini hanya pingsan saja. Carilah tali yang kuat untuk mengikatnya, kemudian bawalah ke bilik khusus untuk para tawanan. Aku akan ke halaman melihat keadaan Kiai Sabda Dadi.”

    Namun baru saja Ki Gede melangkah beberapa tindak, ternyata justru Kiai Sabda Dadi yang muncul terlebih dahulu dari pintu butulan samping.

    “Kiai?” terkejut Ki Gede segera mendekat, “Bagaimana dengan lawan Kiai?”

    Kiai Sabda Dadi tidak segera menjawab. Pandangan matanya menyapu ke seluruh ruangan dengan penuh tanda tanya. Agaknya Kiai Sabda Dadi sedang mencari Damarpati.

    Menyadari hal itu Ki Gede pun segera berkata, “ Jangan kawatir Kiai, cucumu selamat. Hanya mendapat sedikit luka sebagai pengalamannya yang pertama bertempur di medan yang sebenarnya.”

    Mendengar penjelasan Ki Gede, pemimpin padepokan Glagah Tinutu dari pegunungan Kendeng itu pun menarik nafas dalam dalam sambil memanjatkan syukur kepada Yang Maha Agung atas perkenanNYA memberikan perlindungan kepada hambaNYA.

    “Jadi, dimanakah lawan Kiai?” Ki Gede mengulangi pertanyaannya.

    Sadar belum memberikan jawaban atas pertanyaan Ki Gede, Kiai Sabda Dadi pun tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Dia telah menghilang. Agaknya dia itu sejenis hantu yang takut kamanungsan ketika melihat sinar Matahari pagi.”

    “Ah,” desah Ki Gede, “Kiai masih suka bercanda.”

    “Tidak,” sahut Kiai Sabda Dadi dengan bersungguh sungguh, “Aku berkata sebenarnya. Lawanku itu memang mempunyai kemampuan untuk menghilangkan ujud wadagnya. Ketika dia menyadari bahwa kawan kawannya tidak ada yang kembali, maka dia memutuskan untuk menghilangkan ujud wadagnya dari hadapanku dan meninggalkan medan.”

    “Halimunan,” desis Ki Gede dengan dada yang berdebar debar, “Sebuah ilmu yang sudah hampir punah. Ternyata masih ada orang yang mampu menekuninya,” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Apakah Kiai tidak berusaha untuk mengejarnya?”

    Kiai Sabda Dadi menggeleng, “Aku kehilangan waktu sekejab ketika tiba tiba saja dia meloncat mundur kemudian menghilang dari pandangan mataku. Ketika aku sedang memusatkan nalar dan budi untuk mencoba mengenali keberadaannya, ternyata dia telah jauh meninggalkan tempat ini.”

    Beberapa saat Ki Gede masih berdebar debar mendengar keterangan dari Kiai Sabda Dadi. Seandainya orang yang mempunyai ilmu halimunan itu yang memasuki rumahnya terlebih dahulu, tentu keadaan akan menjadi lain. Dengan mudahnya dia akan melumpuhkan Sekar Mirah dan Damarpati.

    Menyadari hal itu, tak henti hentinya Ki Gede Menoreh mengucap syukur atas pertolongan dan perlindungan dari Yang Maha Agung. Betapa segala sesuatunya seolah olah telah diatur oleh “tangan”NYa sehingga seluruh keluarga yang menjadi tanggung jawabnya itu tidak mengalami suatu apapun.

    • Wah…hujan rontal nih
      Suwun Mbah…

      • bonus untuk Bu Lik yang beberapa hari tidak bisa nulis komen, he he he …..

    • hmmm… ajian panglimunan dr Bango Lamatan smkn matang ni kayanya….
      ga sabar deh menyimak tandang ki Rangga Agung Sedayu di menoreh…..

      matur nuwun mbah… semakin mendebarkan….

    • Matur nuwun mbah_man, seharian tidak nengok gandhok ternyata tripel rontal telah turun ( lupa ngisi daftar hadir), …… tetap semangat !

    • Katur mbah Man,
      Kalau berkenan, dalam alur cerita TAdBM yang akan terus mbah Man dongengkan untuk para sanak kadang, mungkin pada satu kesempatan berikutnyat (terserah mbah Man kapan baiknya) kalau bisa disisipkan sebuah cerita masa lalu (flash back) yang bisa mengungkap sebuah rahasia secara tuntas tentang sosok Kyai Gringsing khususnya mengenai jalur ilmu yang ada pada Kyai Gringsing.
      Dalam ADBM memang telah diceritakan bahwa Kyai Gringsing adalah seorang yang mempunyai garis keturunan Majapahit karena merupakan Cucu Pangeran Windudjati sekaligus juga pewaris ilmu perguruan mpu Windudjati.
      Selain itu diceritakan juga bahwa dalam diri Kyai Gringsing juga ada pengaruh ilmu Sasra Birawa bahkan tampak begitu dominan dalam ungkapan puncak ilmu cambuknya.
      Pengaruh ilmu Sasra Birawa pada ilmu yang dimiliki oleh Kyai Gringsing ini juga diceritakan karena Kyai Gringsing juga pernah berguru (bahkan Guru Utama) pada seorang tokoh yang bersahabat dengan perguruan Pengging (mungkin Ki Ageng Sepuh).
      Bahkan sekelebatan diceritakan dalam ADBM (episode saat saat menjelang meninggalnya Ki Gede Pemanahan) ada dugaan bahwa mungkin Kyai Gringsing juga pernah tinggal dan menjadi murid di padepokan Karang Tumaritis yang dipimpin oleh Panembahan Ismaya.
      Dalam cerita NSSI, padepokan Karang Tumaritis merupakan padepokan Panembahan Ismaya atau juga disebut Pasingsingan Sepuh sekaligus yang sebenarnya dari Panembahan Ismaya adalah Raden 8untara yang merupakan trah Majapahit karena Raden Buntara adalah adik dari Prabu 8rawijaya Pamungkas.
      Dan di Karang Tumaritis ini pula pernah tinggal tokoh2 seperti Kebo Kanigoro, Mahesa Jenar, Arya Salaka bahkan juga Mas Karebet dan mungkin cantrik cantrik yang lain. Diluar itu Panembahan Ismaya sendiri juga mempunyai murid yaitu Djaka Umbara yang akhirnya juga bernama Pasisingan namun dengan sifat sifat yang berliran hitam/jahat. Juga murid berikutnya adalah Radite atau Paniling dan Anggara atau Darba.
      Nah, kalau berkenan kiranya mbah Man bisa meng othak athik mathuk kan kira kira siapa guru Kyai Gringsing selain dari Mpu Windudjati sendiri yang nota bene memang kakeknya.
      Apa mungkin Panembahan Ismaya adalah salah satu guru dari Kyai Gringsing juga atau jangan jangan Kyai Gringsing adalah murid Panembahan Ismaya saat itu antara RADITE atau ANGGARA.
      Mungkin mbah Man bahkan mempunyai pemahaman lain tentang sosok Kyai Gringsing…. monggo di terjemahkan mawon dalam dongeng TAdBM, karena dalam ADBM sosok Kyai Gringsing begitu misterius bahkan kematianyapun di dongengkan dengan penuh rahasia dan tanda tanya. Ada memang dalam episode tertentu di ungkapkan tentang sosok Kyai Gringsing namun tidak tuntas dan bahkan membuat penasaran.
      Dalam TAdBM pun, mbah Man juga sudah mencoba mengungkap jejak Kematian Kyai Gringsing namun juga tidak tuntas dan juga menyisakan sebuah rasa penasaran.
      Selebihnya, matur nuwun kagem mbah Man,
      walau hanya sebuah dongeng kadang kita terbawa dalam alur cerita dari sang pendongeng hingga tanpa sadar kita tak jarang ikut larut dan melibatkan perasaan kita dalam menikmati alur cerita dari dongeng tersebut.
      Dan mungkin dalam saat saat tertentu memang begitu perlunya kita menikmati dan mencoba menghayati sebuah dongeng yang kita senangi, mungkin hanya sebatas hiburan, hobby, menambah pengetahuan atau bahkan munkin mencoba mencari penyegaran pikiran dan hati setelah dalam keseharian kita begitu disibukan dan dicapekan oleh rutinitas harian kita masing masing baik untuk mencari rejeki, mengejar cita cita dan aktifitas dunia nyata lainya.
      Lebih dari itu, dongeng mbah Man saat ini lebih bermanfaat dibanding sekedar larut dalam panasnya berita dan kabar tentang kampanye hitam Yang menyerang para Capres. Karena begitu masifnya kampanye hitam para capres itu seolah olah kabar dan berita itu menyeruak, menyusup dan memenuhi ruang udara negeri tercinta ini.

  8. Hanya bisa mengucap
    Alhamdulillah…..
    Matur nuwun mbah Man.

  9. Wis….
    jian…..
    simbah kalau sedang “marah”, persediaan rontal langsung diobral, he he he ….
    kalau persediaan habis, piye jal…. (tiru-tiru Ki Gembleh, he he he …)

    Tetapi, sebelum liburan mbah, jika ada satu rontal lagi sepanjang yang terakhir, rontal TADBM-405 sudah bisa dibundel, tutup gandok dan buka gandok yang baru.

    dan simbah bisa istirahat sejenak (jika simbah berkenan, he he he …)

    sumonggo….

    • wah…., komentar yang tadi dapat nomor cantik
      komentar di halaman 11 dan komentar nomor 1101, he he he …
      siapa yang akan daftar menjadi pemegang komen 1111 (kurang 10 komen lagi), nanti dapat pembagian kripik kentang/nangka/salak/dll pilih yang paling disuka (diambil sendiri di Sengkaling, ha ha ha …)

  10. gusti ora sare………………………. nuwun

  11. Mbah Man, jazakallah khairan katsira! Saya sejak membaca ADBM kok ngebayangin Sekar Mirah itu kayak Nunung Srimulat, sedangkan Agung Sedayu kayak Andre Stingky, Kyai Gringsing kayak Alm. Timbul Srimulat, Sutawijaya itu kayak Andi Malarangeng. Wis pokoknya komplit.

    • Leres,
      Swandaru Geni kados Bang Rhoma ……😛

  12. sugeng dalu
    jal telat lik sebo
    matur nuwun mbah-Man

  13. Selamat Pak De Wid
    Dapatt voucer yang risang janjikan
    Dapat diambil di sengkaling, tak tambahi bumbu pecel wis
    Ha ha ha ….

    • 😦
      No rontal no pecel ….. kecuueeet

  14. Selamat pagi……

  15. Hadir………..
    Kemarin 3 rontal, hari ini 4 ya mabh_man ya…!!!???

  16. wah…..
    simbah sik rung rawuh….

    please……, satu rontal mbah…..
    supaya gandok 405 bisa ditutup dan buat gandok baru di akhir pekan ini
    mumpung libur mbah…..
    minggu depan Risang banyak tugas yang harus dikerjakan.

    nuwunn

    • Satu rontal tanggung mbacanya mbahman, sepuluh rontal ya cekapan🙂 ini sekedar saran atas nama rakyat Indonesia. Hiks

      • Saran saking kula mbah, setunggal rontal mawon ning kalih dasa halaman, matur nuwun.

        • Setuju, nyoblos Ki RanggaW dan Ki Djojosm.

          • Aku rapopo…..

          • isoraisoyorapopo

  17. ndherek maos….

  18. Mau pindah gandhog 406 tanpa rontal disana sama dengan pindah rumah tapi belum ada perabotnya …. Malahan belum ada isteri disana …. Kuueeecuuut tenan! Tul kan mBah?

  19. Yang ideal hari ini mbah Man wedarmya 8 rontal aja ndak usah banyak banyak.
    1 rontal untuk penutupan gandok 405 dan yang 7 rontal untuk acara pembukaan di gandok 406.
    Setuju nggih mbah…….
    Siipp…….ditunggu.

    • Lha kok 7 to Ki AL ?
      Seperti Presiden yg akan datang, urutan ke 7.

      • Walaaah……,
        ndak sengaja en ndak bermaksud kalau mengarah ke presiden yang ke 7, wong tadi komen nya asal njeplak aja yang penting mbah Man bisa ngamuk en trus obral rontal.
        Malah lagi “ngeh” juga kalau ternyata negara kita dah mau punya presiden yang ke 7, rasanya kok begini begini terus aja ya, kayak nggak punya presiden.

        • Ada banyak lho Ki AL,
          Presiden Penyair Indonesia
          (dulu dijabat oleh Pak Sutardji CB, sekarang kelihatannya mulai ada politikus yang suka bikin syair….)
          Presiden Pelawak Indonesia.
          (jabatan ini juga sudah akan direbut para politikus, lha wong senengane dho nDhagel je….)
          Njur piye jal……???

  20. Risang ndelik ah…, wedi didukani simbah, soalne nggarahi rame-rame ngogrok rontal, he he he … apa maneh sing ngogrok para pinisepuh…. (Pak De Wid dan Eyang Djojosm)

    • Protes! Aku isih pinibocah kok di bilang pinisepuh! Itu nyidir si Mbah! Pak SBY bilang kalau wedar rontal harus memadai kebutuhan rakyat:(

      • wehhh….jan gayeng tenan….ngrungokke do crito sinambi leyeh2 neng ngarep pasar jongke iki…nuwun nggih mbah…

  21. Lanjutan TADBM 405 (halaman terakhir)

    “Marilah , Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi membuyarkan lamunan Ki Gede, “Kita tengok keadaan Nyi Sekar Mirah dan Damarpati.”

    Ki Gede mengangguk. Dengan berjalan beriringan kedua orang yang sudah menjelang hari hari tuanya itu berjalan menuju ke ruang belakang di dekat dapur.

    Dalam pada itu, dengan semakin memudarnya pengaruh sirep yang melingkupi kediaman Ki Gede Menoreh dan sekitarnya, para perempuan pembantu di rumah Ki Gede telah terjaga dari tidurnya masing masing. Dengan riuhnya mereka saling menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga mereka tidak menyadari keadaan diri masing masing.

    Salah seorang perempuan yang hampir sekujur tubuhnya basah kuyup karena tertumpah air dari lodong lodong bambu yang di bawanya telah bersungut sungut sambil membenahi lodong lodong bambu yang berserakan di depan tungku.

    “Untung tungku ini tidak membakarku,” desisnya perlahan sambil memperlihatkan wajah yang cemberut.

    Kawannya yang mendengarnya tertawa, katanya, “mBakyu, bergantilah pakaian. Pakaianmu basah kuyup nanti engkau bisa sakit.”

    “Nanti saja,” jawabnya kemudian tanpa menoleh, “Aku akan memenuhi tempayan ini dulu sebelum berganti dengan pakaian yang kering.”

    Kawannya tidak berkata kata lagi. Dipandanginya saja perempuan separo baya yang bajunya basah kuyup itu menjinjing lodong lodong bambu keluar dari pintu dapur.

    Ketika kemudian perempuan separo baya itu telah sampai di perigi. Diletakkannya lodong lodong bambu itu berjajar jajar di dekat perigi siap untuk diisi air sampai penuh. Namun baru saja dia menyentuh batang senggot untuk mengambil air dari perigi, tiba tiba lamat lamat didengarnya suara kesibukan dari arah pendapa.

    Sejenak perempuan separo baya itu mengerutkan keningnya. Sebuah desir tajam telah menyelinap di sudut hatinya.

    “Aku akan melihat apa yang sedang terjadi di pendapa,” katanya dalam hati.

    Dengan bergegas perempuan separo baya itu melintas di samping rumah induk menuju longkangan yang menghubungkan rumah induk dengan gandhok kanan. Ketika langkahnya hampir mencapai pintu seketeng, hatinya menjadi berdebar debar. Dengan perlahan didorongnya pintu seketeng itu untuk mengintip apa yang sedang terjadi di pendapa.

    Namun alangkah terkejutnya perempuan separo baya itu begitu pintu seketeng itu terbuka sejengkal, pandang matanya segera menangkap dua sosok mayat yang terbujur kaku di lantai pendapa.

    Bagaikan melihat hantu di siang bolong, perempuan separo baya itu segera berlari terseok seok kembali ke dapur. Sesampainya di depan pintu dapur, dengan nafas yang masih berkejaran dia berseru, “Mayat.. mayat ada mayat!”

    Kawan kawannya yang ada di dapur serentak menghentikan pekerjaannya. Beberapa orang segera bergegas mendapatkan perempuan separo baya itu dan merubungnya.

    “Ada apa, Yu? Mayat siapa? Di mana?” bertubi tubi pertanyaan itu menghujani perempuan separo baya itu.

    Sambil menekan dadanya untuk mengurangi getaran debur jantungnya, perempuan separo baya tu menjawab, “Di pendapa ada mayat, dua mayat. Entah aku tidak tahu siapa mereka.”

    Gemparlah dapur itu begitu mengetahui bahwa pagi itu ternyata telah terjadi raja pati di kediaman Ki Gede Menoreh justru pada saat mereka mengalami hal yang aneh, tertidur tanpa mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.

    “Tenanglah!” tiba tiba terdengar suara yang berat dan dalam mengatasi riuhnya suara para perempuan yang ada di dapur.

    Serentak para perempuan pembantu di rumah Ki Gede itu berpaling ke arah pintu yang menuju ke ruang tengah. Tampak Ki Gede Menoreh dengan masih menjinjing tombak pendeknya berdiri di depan pintu. Sementara di sampingnya Kiai Sabda Dadi berdiri termangu mangu.

    “Memang telah terjadi raja pati pagi ini,” berkata Ki Gede selanjutnya, “Aku harap kalian semua tetap tenang dan bekerja seperti biasanya. Masalah ini telah kami atasi, dan semoga tidak akan terulang lagi di masa masa yang akan datang.”

    Para perempuan pembantu di rumah Ki Gede itu mengangguk anggukkan kepala mereka. Ada perasaan aman di dalam hati mereka ketika pemimpin tertinggi tanah Perdikan Menoreh itu sendiri yang memberikan penjelasan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi.

    “Silahkan kembali bekerja,” berkata Ki Gede setelah sejenak mereka terdiam, “Para pengawal belum mendapatkan ransum pagi ini. Namun mereka menyadari sepenuhnya karena kalian telah terlambat bangun akibat terkena pengaruh sirep.”

    “Sirep?” perempuan perempuan pembantu rumah Ki Gede itu saling berpandangan.

    “Ya, sirep,” jawab Ki Gede, “Menjelang dini hari tadi seluruh rumah ini telah terkena pengaruh sirep yang sangat kuat.”

    Kembali para perempuan pembantu rumah Ki Gede itu saling berpandangan sambil menahan nafas menunggu penjelasan Ki Gede lebih lanjut.

    “Bersyukurlah bahwa Yang Maha Agung telah menyelamatkan kita, sehingga kita terhindar dari maksud maksud jahat orang orang yang dengan sengaja menebarkan sirep dan memasuki rumah ini.”

    “Jadi?” tiba tiba perempuan separo baya itu mendesak kedepan, “Mayat siapakah yang ada di pendapa itu, Ki Gede?”

    Beberapa saat Ki Gede terdiam, ketika kemudian dia berpaling ke arah Kiai Sabda Dadi, dilihatnya Kakek Damarpati itu mengangguk.

    Sambil menarik nafas dalam dalam Ki Gede pun akhirnya menjawab, “Mereka adalah orang orang yang berusaha memasuki rumah ini dan agaknya memang mereka sedang mencari sesuatu.”

    Perempuan separo baya itu mengkerutkan lehernya sambil berdesis, “Syukurlah mereka telah terbunuh, dan aku masih utuh tidak kurang suatu apapun.”

    “He! Apa maksudmu?” kawannya yang berdiri di sebelahnya berseru sambil menggoncangkan bahu perempuan separo baya itu.

    “Siapa tahu yang mereka cari adalah aku,” jawab perempuan separo baya itu.

    “Ah,” beberapa perempuan pembantu rumah Ki Gede berdesah maklum. Perempuan separo baya itu memang sudah cukup lama menjanda semenjak ditinggal mati suaminya hampir sepuluh tahun yang lalu.

    Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi hampir tidak dapat menahan senyum mendengar kelakar perempuan separo baya itu. Akhirnya Ki Gede pun berkata, “Sudahlah, silahkan kembali bekerja. Semuanya sudah kembali seperti sediakala. Aku dan Kiai Sabda Dadi akan ke depan untuk melihat penyelenggaraan kedua jenasah itu.”

    Demikianlah akhirnya, setelah sejenak menengok keadaan Sekar Mirah dan Damarpati, kedua orang tua itu pun kemudian ke pendapa untuk melihat persiapan penyelenggaraan jenasah kedua Putut murid Panembahan Cahya Warastra.

    (bersambung ke jilid 406)

    • top

    • Suwun mbah…….
      (nambah lagi dong……banyakin kuahnya ya mbah…)

    • Boyongan ah ke gandok 406…
      Tapi kelihatannya kok masih terkunci regolnya…..

  22. TADBM 406

    Dalam pada itu, Ki Jayaraga bersama Empu Wisanata dan Nyi Dwani masih berdiri di atas panggungan yang di dirikan di sebelah menyebelah regol padukuhan induk. Mereka bertiga tidak habis mengerti, mengapa pasukan para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu tidak kunjung menyerang? Mereka justru telah mengambil jarak yang cukup jauh dari dinding padukuhan dan sepertinya ada yang sedang mereka tunggu.

    “Mengapa mereka tidak segera menyerbu padukuhan ini, Ayah?” bertanya Nyi Dwani.

    Empu Wisanata menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, Dwani. Mungkin mereka menunggu Matahari terbit.”

    “Bukankah Matahari telah terbit beberapa saat yang lalu?”

    “Ya,” jawab ayahnya, “Mungkin masih terlalu pagi bagi mereka untuk memulai sebuah pertempuran.”

    “Aku tahu jawabannya,” tiba tiba Ki Jayaraga menyahut.

    Ayah dan anak itu hampir bersamaan berpaling sambil bertanya, “Apakah itu, Ki?”

    Sambil tersenyum Ki Jayaraga pun menjawab, “Mereka menunggu dibukanya gandhok TADBM 406 oleh Anakmas Risang agar mereka dapat bertempur di medan yang lebih luas.”

    Hehehehehehe….
    ayooo ayooo buka gandhok baru….!!!!

    • first

      • nunut Ki, numero loro

    • kangmas risaang…….aaaaooooooooo

    • Huaha ha ha……….
      gantian Pak Satpam diogrok mbah_man.
      Suetuju banget aku……!!!!!!!

      • Tenang…

        Belanda masih jauh…

        gampang kok..

        sim salabim ….. gandok 406 jadi….!!!!

        silahkan

  23. hahahaha…. mbah man bisa aja …:D

    • Wah…..
      kakangmas Sukra hadir….
      berbahagianya hati ini, he he he …..

  24. jernih mengalir,…. diam,tenang menghentak n terurai dari sumber yg tidak beda,….. nuwun ki arema soho mbah man

  25. Sip🙂

    terimakasih Mbah_Man

  26. Mbah, Ki Waskita jarang rawuh lagi ngurusin dapil daerah mana??

  27. hahahaha, aku terharu

  28. Terima kasih, Alhamdulillah Suramnya Bayang Bayang dan Sayap Sayap terkembang sudah tamat saya baca, namun kisah tentang gugurnya Arya Penangsang hanya sebatas lalu saja ceritanya (bukan cerita utama) dalam episode tersebut.

  29. hehehe….mbah…mbah,….tak kiro tutuke kuwi gathuk…jebule geseh nyang risang….hehehe…nuwun nggih mbah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: