TADBM-404

TERUSAN ADBM

(Lanjutan ADBM versi mbah_man)

karya mbah_man

Padepokan “Sekar Keluwih” Sidoarjo

ADBM Seri V Jilid 4 (Jilid 404)

Bagian 1

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu memutuskan untuk berterus terang, “Pandan Wangi, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu telah menghimpun perguruan-perguruan yang sehaluan dengannya untuk menghancurkan Mataram di tepian Kali Praga sebelah barat dengan menduduki beberapa padukuhan kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.”

Seketika wajah Pandan Wangi menjadi merah padam begitu mendengar penjelasan Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan lantang dia berteriak, “Kakang, apa maksud semua ini? Mengapa aku tidak diberitahu kalau Menoreh sedang dalam bahaya, sementara ayah Argapati sedang sakit? Malam ini juga aku akan ke Menoreh untuk bahu-membahu dengan seluruh rakyat untuk mengusir orang-orang yang telah menduduki beberapa padukuhan di tepi barat kali Praga.”

“Sabarlah Pandan Wangi,” berkata Ki Widura sareh, “Semua harus dihitung dengan cermat. Apabila kita salah dalam melangkah, akan jatuh korban sia-sia.”

“Paman Widura benar,” sahut Ki Rangga, “Besuk pagi aku akan berangkat menghadap Ki Patih Mandaraka untuk menerima perintahnya. Aku yakin sasaran orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu adalah Mataram bukan Menoreh. Menoreh hanya sebagai pancadan saja. Namun demikian kita tidak akan membiarkan bumi Menoreh diinjak-injak oleh orang-orang yang tidak berhak.”

Dada Pandan Wangi masih bergemuruh. Dia benar-benar mencemaskan nasib rakyat Menoreh, apalagi ayahnya, Ki Gede Menoreh selaku pemimpin tertinggi Tanah Perdikan itu sedang sakit dan Prastawa telah berangkat ke Panaraga memimpin sepasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang diperbantukan ke Mataram.

“Di Menoreh masih ada Ki Jayaraga dan seorang yang bernama Kiai Sabda Dadi,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Aku telah mendengar berita itu sebelumnya dari prajurit sandi. Aku kira keduanya telah mengambil langkah-langkah pengamanan yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyat Menoreh.”

Kata-kata Ki Rangga Agung Sedayu itu bagaikan titik-titik embun di teriknya sinar Matahari. Untuk sejenak gejolak hati Pandan Wangi agak mereda. Namun tiba-tiba dia bertanya dengan nada penuh kekhawatiran, “Kakang, bagaimana dengan Sekar Mirah? Bukankah dia sedang dalam keadaan mengandung tua?”

Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Widura sejenak saling berpandangan. Namun akhirnya Ki Rangga lah yang menjawab, “Atas ijin Yang Maha Agung dan atas karuniaNya yang tiada taranya, insya Allah Sekar Mirah telah melahirkan dengan selamat.”

“He?” Pandan Wangi terkejut, “Dari mana Kakang mendapat berita ini?”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah Pamannya, namun kelihatannya Ki Widura menyerahkan jawaban itu sepenuhnya kepada dirinya.

“Wangi,” akhirnya Ki Rangga menemukan jawaban atas pertanyaan Pandan Wangi itu, “Ada yang telah memberitahukan kepadaku atas kelahiran anakku dengan selamat, demikian pula aku berharap Sekar Mirah tak kurang suatu apa,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Nah, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana langkah-langkah kita selanjutnya menghadapi situasi yang cukup gawat ini.”

Pandan Wangi terdiam sejenak. Setelah beberapa saat kemudian dia baru berkata, “Kakang, aku akan ikut Kakang Sedayu besuk ke Mataram. Aku titipkan Kakang Swandaru kepada Paman Widura. Sebelumnya aku mohon ma’af telah merepotkan penghuni Padepokan ini, tapi aku tidak melihat jalan lain selain aku harus kembali ke Menoreh.”

Hampir bersamaan Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Mereka menyadari suasana hati Pandan Wangi pada saat itu, dan memang Pandan Wangi telah memilih pada pilihan yang sulit antara suaminya dan Ayahnya serta rakyat Menoreh.

“Baiklah Pandan Wangi,” akhirnya Ki Widura memberikan tanggapannya, “Bagaimanapun juga engkau jangan meninggalkan suamimu begitu saja, engkau harus meminta ijin terlebih dahulu kepadanya.”

Sambil menundukkan wajahnya Pandan Wangi hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu melihat perubahan yang terjadi pada wajah putri Kepala Perdikan Menoreh itu walaupun hanya sekilas.

“Kelihatannya Pandan Wangi tidak membutuhkan ijin itu,” berkata Ki Rangga dalam hati.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Angin malam yang bertiup perlahan menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitar halaman Padepokan. Bunga arum ndalu yang ditanam di sebelah kanan pendapa mengeluarkan bau yang semerbak mewangi, sementara suara binatang-binatang malam terdengar bersahut-sahutan dengan irama yang ajeg. Sesekali terdengar suara burung kedasih yang ngelangut di kejauhan.

Ketika kemudian dari gardu perondan di padukuhan sebelah yang terletak di ujung jalan yang menuju padepokan itu memperdengarkan suara kentong dengan nada dara muluk, ketiga orang itu pun segera menyadari bahwa waktu telah menjelang tengah malam.

“Marilah kita beristirahat,” berkata Ki Widura kemudian, “Kita masih memerlukan tenaga yang segar untuk besuk pagi, terutama angger berdua yang akan melaksanakan perjalanan jauh.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi mengangguk.

Demikianlah akhirnya ketiga orang itu kemudian telah menuju ke bilik mereka masing-masing untuk beristirahat.

Dalam pada itu di gunung Kendalisada, Resi Mayangkara tampak berdiri tegak bagaikan patung batu di tengah malam yang pekat di depan pondoknya. Sedangkan Anjani yang telah selesai melaksanakan mandi keramas dengan landa merang dan sesuci kemudian memakai sinjang pethak. Kain putih yang hanya selembar itu dibalutkan ke tubuhnya sebatas dada sampai lutut. Rambutnya yang panjang dan masih basah dibiarkan saja jatuh terurai menutupi punggungnya yang putih bersih bagaikan pualam.

“Sudah waktunya, Anjani,” tiba-tiba Resi Mayangkara yang berdiri tegak di tengah-tengah halaman itu menyapa Anjani begitu perempuan cantik itu keluar dari pondoknya, “Marilah aku antar engkau menuju goa pertapaan. Ingat, engkau akan berjalan dalam kegelapan goa dan tidak diperkenankan membawa penerangan apapun karena laku tapa kungkum ini juga sekaligus pati geni.”

“Aku mengerti Eyang,” jawab Anjani sambil berjalan mendekat. Langkahnya agak tersendat sendat karena kain putih yang membalut tubuhnya itu begitu ketat.

Dengan langkah satu-satu keduanya pun kemudian menuju ke belakang pondok yang selama ini ditempati oleh Resi Mayangkara. Tepat di belakang pondok itu terdapat sebuah goa yang tidak seberapa besar. Anjani harus membungkuk untuk memasuki goa itu.

“Jaga dirimu jangan sampai tertidur selama melaksanakan tapa kungkum,” pesan Resi Mayangkara begitu Anjani mulai memasuki goa, “Sendang di dalam goa itu tidak terlalu dalam. Ada sebuah batu besar di dasarnya yang dapat engkau jadikan sebagai tempat duduk.”

Anjani yang mulai menelusuri dinding goa yang gelap dan licin itu tidak menyahut. Dengan meraba raba dinding goa, Anjani melangkah satu-satu. Ternyata hanya mulut goa itu yang sempit, setelah masuk ke dalamnya Anjani dapat berjalan dengan berdiri tegak, tidak harus terbungkuk-bungkuk.

Semakin masuk ke dalam, Anjani merasakan hawa yang aneh menyelimuti sekujur tubuhnya. Rasa rasanya sekujur tubuhnya telah dicengkeram oleh sesuatu yang tidak tampak sehingga hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum itu telah membuat Anjani menggigil. Ketika kemudian lamat-lamat Anjani mendengar suara gemericik air, dia mulai berpengharapan untuk segera menemukan sendang itu.

Ketika jalanan mulai menurun dan berkelok ke kiri, suara gemericik air itu semakin keras. Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, Anjani mencoba meraba apa yang ada di depannya dan ternyata Anjani telah menyentuh air.

“Inilah sendang itu,” berkata Anjani dalam hati. Dengan sangat hati-hati Anjani melangkah lagi satu langkah. Ketika kakinya sudah terasa menyentuh bibir sendang kecil yang terdapat di dalam goa itu, Anjani pun dengan mantap telah melangkahkan kaki yang satunya turun ke dalam sendang.

Segera saja air yang sedingin banyu sewindu menyergap kulit kakinya. Namun Anjani tidak mempedulikan semua itu. Setelah dia benar-benar berada dalam sendang yang ternyata hanya sedalam pinggang orang dewasa itu, Anjani pun telah melepas satu satunya selembar kain putih yang membalut tubuhnya dan kemudian dilemparkannya selembar kain yang telah basah itu ke samping sendang.

Dengan tubuh yang polos Anjani mencoba meraba raba dasar sendang dengan kakinya untuk mencari batu besar yang terdapat di dasar sendang. Setelah agak jauh ke tengah sendang, barulah kakinya terantuk pada batu yang dimaksud oleh Resi Mayangkara itu. Dengan perlahan Anjani pun kemudian naik ke atas batu dan duduk bersila di atasnya untuk memulai laku tapa kungkum dan sekaligus pati geni.

Setelah sejenak memusatkan nalar dan budinya disertai dengan doa permohonan agar laku yang dijalaninya itu mendapat anugerah dari Yang Maha Agung, Anjani pun memulai laku yang sangat berat itu.

Sejenak suasana yang hening di dalam goa itu sangat membantu Anjani dalam memusatkan nalar dan budinya. Air sendang yang beriak perlahan sebatas lehernya terasa bagaikan membelai-belai lehernya yang jenjang itu. Ketika kemudian Anjani mencoba semakin menukik ke dalam keheningan, tiba-tiba jantungnya berdesir tajam ketika terasa sesuatu menyentuh punggungnya.

Anjani mencoba mengabaikan perasaan itu. Dengan segenap kemampuannya dicobanya untuk kembali memusatkan nalar dan budinya, namun alangkah terkejutnya ketika kini justru bagian dadanya yang tersentuh oleh sesuatu itu.

Hampir saja Anjani berteriak dan meloncat keluar dari sendang, namun niat itu ditahankannya dengan kuat. Dia menyadari semua itu pasti bagian dari cobaan laku yang sedang dijalaninya, dan Resi Mayangkara memang sengaja tidak menjelaskan cobaan apa saja yang akan dialaminya di dalam sendang itu.

“Mungkin sejenis ikan atau belut,” demikian Anjani berkata dalam hati untuk menenteramkan gejolak hatinya.

“Bagaimana kalau yang menyentuhku tadi seekor ular?” tiba-tiba pikiran itu menyelinap dalam benak Anjani.

“Ah, tidak mungkin,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Kalau memang di sendang ini ada ularnya, Resi Mayangkara pasti sudah tahu dan tidak akan menjerumuskan aku dalam bahaya seperti itu karena beliau tahu aku bukan seorang yang kebal racun.”

Mendapat pemikiran demikian itu Anjani menjadi sedikit lebih tenang. Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah benar-benar suatu kejadian yang hampir tak tertahankan oleh Anjani. Sentuhan-sentuhan itu semakin sering dan hampir di sekujur tubuhnya. Anjani benar-benar hampir pingsan karena menahan rasa geli yang tiada taranya dan akhirnya berubah menjadi sebuah ketakutan yang mencengkam jantungnya.

Dalam keadaan yang hampir tak tertahankan itu, tiba-tiba Anjani teringat akan sebuah ilmu yang telah diajarkan oleh Resi Mayangkara, aji seribu bunga.

“Akan aku coba mengetrapkan aji ini,” berkata Anjani dalam hati, “Kalau udara saja bisa dipengaruhi oleh aji ini dengan bau wangi yang sangat menyengat, mungkin air sendang ini akan berubah berbau sangat wangi sehingga memabokkan binatang-binatang yang ada di dalamnya.”

Mendapat pemikiran demikian, segera saja Anjani mengetrapkan aji yang telah dipelajarinya dari Resi yang aneh itu. Perlahan tapi pasti, tubuh Anjani telah menyebarkan bau semerbak mewangi seribu bunga. Semakin lama bau itu semakin tajam dan menyengat karena Anjani telah mengetrapkan aji itu sampai ke puncak.

Ternyata pengaruhnya sangat luar biasa. Air sendang di sekitar tubuh Anjani bagaikan berubah menjadi minyak kasturi, dan kini tidak terasa lagi sentuhan-sentuhan yang mengerikan itu. Anjani benar-benar terbebas dari perasaan ngeri yang mencengkam jantungnya.

Sejenak Anjani dapat bernafas lega. Kini dia menyadari mengapa Resi Mayangkara telah menurunkan ilmu seperti itu kepadanya, ternyata dalam menjalani laku yang sangat berat ini, ilmu itu sangat menolongnya.

Kini Anjani dapat kembali memusatkan nalar dan budinya untuk memohon kepada Yang Maha Agung agar mendapatkan amarahnya dalam menjalani laku yang sangat berat itu sampai tuntas.

Dalam pada itu Glagah Putih dan Rara Wulan yang masih tertahan di tepian Kali Praga sedang mencoba mencari jalan untuk menyeberang ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Rara,” berkata Glagah Putih dari atas tebing sambil mengamati tepian Kali Praga yang hanya kelihatan hitam pekat tersaput malam yang tanpa bulan, “Apakah kita perlu memakai jasa tukang satang untuk menyeberang?”

“Aku ragu Kakang,” jawab Rara Wulan, “Kalau mereka adalah bagian dari Panembahan Cahya Warastra, kita akan mendapat kesulitan.”

Sejenak Glagah Putih merenung. Kemudian katanya, “Bagaimana kalau kita menyeberang besuk pagi-pagi bersama para pedagang yang akan pergi ke Menoreh?”

Rara Wulan mengerutkan keningnya sambil memandang ke bawah, ke arah rakit-rakit itu biasanya di tambatkan, tapi yang tampak hanya kegelapan. Katanya kemudian, “Aku tidak yakin kalau besuk masih ada pedagang yang mau menyeberang ke Menoreh. Setidaknya berita yang terjadi di Menoreh ini pasti sudah sampai ke telinga mereka dan mereka tidak mau mengambil resiko, karena bisa saja justru dagangan mereka yang akan dirampas bahkan sekalian dengan nyawa mereka.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Engkau benar Rara. Kalau kita menyeberang lewat penyeberangan yang biasanya ini, kita pasti dicurigai. Lebih baik kita mencari jalan lain.”

“Maksud Kakang?”

“Kalau perlu kita berenang untuk menyeberang.”

“Ah, engkau ini ada-ada saja Kakang. Rasa rasanya malas bersentuhan dengan air di malam yang dingin ini.”

“Percayalah Rara, itu hanya awalnya saja, setelah beberapa saat berenang, perasaan dingin itu akan hilang dengan sendirinya.”

“Silahkan saja kalau mau berenang. Aku mau tidur saja.”

Selesai berkata demikian, Rara Wulan kemudian merapikan rumput-rumput kering yang dikumpulkannya tadi sore untuk alas tidurnya. Sejenak kemudian Rara Wulan pun telah merebahkan tubuhnya beralaskan rumput-rumput kering di bawah sebatang pohon yang cukup besar yang tumbuh di atas tebing itu.

Glagah Putih sejenak masih mengamati bawah tebing yang gelap pekat, namun pandangan mata Glagah Putih yang tajam mampu menembus kegelapan itu sehingga dengan jelas dia melihat di mana rakit-rakit itu ditambatkan beserta tukang-tukang satang yang tidur meringkuk berselimutkan kain panjang di atas rakit mereka.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, dia benar-benar belum menemukan cara yang aman untuk menyeberangi kali Praga. Panembahan Cahya Warastra pasti telah menempatkan orang orangnya di sepanjang tepian Kali Praga sebelah barat. Dengan demikian mereka yang tidak sehaluan dengan Panembahan itu akan sangat sulit untuk menembus pagar betis itu. Ketika kemudian terdengar Rara Wulan terbatuk batuk kecil, Glagah Putih pun akhirnya meninggalkan tempat pengintaiannya dan mengayunkan langkahnya menuju ke tempat Rara Wulan berbaring.

Namun baru saja Glagah Putih akan merebahkan tubuhnya yang terasa penat di sebelah istrinya, tiba-tiba di antara suara jeritan binatang-binatang malam, terdengar lengkingan suara yang sudah sangat dikenal oleh Glagah Putih, suara rinding. Memang suara rinding dengan nada melengking tinggi itu hanya sekejab, kemudian menghilang ditingkah oleh suara binatang malam. Namun bagi Glagah Putih itu sudah cukup memberikan isyarat bahwa seseorang atau bahkan mungkin sekelompok orang yang pernah sangat dekat dengan sepasang suami istri itu sedang berada di sekitar tempat itu.

Rara Wulan yang tampaknya belum tidur telah mengangkat kepalanya. Katanya kemudian setengah berbisik, “Kakang? Benarkah pendengaranku ini? Aku mendengar suara rinding.”

Glagah Putih tidak menjawab. Dengan hati-hati dikeluarkannya sebuah rinding yang disimpan di saku bajunya bagian dalam. Kemudian tanpa ragu-ragu ditiupnya rinding itu dengan nada yang sama dengan yang baru saja terdengar, melengking tinggi namun hanya dalam waktu yang sangat pendek.

Sejenak mereka berdua masih menunggu. Glagah Putih segera duduk di sebelah Rara Wulan yang telah bangkit dari tempat berbaringnya dan duduk sambil memeluk lutut.

Malam semakin dalam. Sementara angin yang dingin terasa menggigit kulit, namun kedua orang yang duduk di bawah pohon di atas tebing itu masih tetap bertahan sambil menunggu yang mereka harapkan untuk muncul, dan ternyata harapan itu memang tidak sia-sia.

Pendengaran mereka yang tajam segera mendengar suara beberapa orang sedang mendaki tebing. Walaupun pendakian itu telah dilaksanakan dengan sangat hati-hati, namun Glagah Putih dan Rara Wulan mampu menangkapnya dengan jelas.

Glagah Putih dan Rara Wulan segera bangkit berdiri ketika beberapa bayangan yang masih samar tampak telah mencapai puncak tebing dan melangkah mendekati tempat di mana mereka berdua telah berdiri menunggu.

Ketika orang-orang yang mendaki tebing itu sudah semakin dekat, dengan setengah berlari sepasang suami istri itu pun segera menyongsong mereka. Hampir saja mereka tidak mampu mengendalikan diri dalam pertemuan yang tak terduga duga itu.

Jerit tangis berbaur dengan tawa gembira hampir saja meledak di tempat itu kalau saja seorang yang terlihat paling tua di antara mereka tidak segera memperingatkan mereka dengan berdesis perlahan, “Kendalikan diri kalian, kita sedang berada di daerah yang tidak aman.”

Rara Wulan yang sedang dikerubuti oleh empat orang perempuan itu hanya dapat meneteskan air mata bahagia tanpa sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.

Seorang perempuan yang sudah cukup tua telah berbisik di telinganya, “Bagaimana keadaanmu selama ini, nduk? Bukankah engkau berdua selalu dalam lindungan Yang Maha Agung?”

Rara Wulan hanya berdesis pelan, seolah olah suaranya tertelan oleh isak tangisnya yang tertahan tahan, “Alhamdulillah, Ibu. Kami berdua sehat-sehat saja.”

Perempuan tua itu memang ibu angkat Rara Wulan yang lebih dikenal dengan nama Nyi Citra Jati, dan tentu saja ketiga perempuan muda yang ikut merangkul Rara Wulan adalah anak-anak Nyi Citra Jati yang lainnya yaitu Padmini, Baruni dan Setiti.

Sementara Glagah Putih segera menyalami Ki Citra Jati yang telah memperingatkan mereka tadi agar selalu waspada di daerah yang belum mereka kenal sebelumnya. Selanjutnya di belakang Ki Citra Jati adalah Mlaya Werdi yang berdiri termangu mangu.

“Selamat datang Ayah, Ibu, Kakang Mlaya Werdi dan adik-adik semua,” berkata Glagah Putih kemudian sambil mempersilahkan mereka mencari tempat duduk sendiri-sendiri. Sedangkan Rara Wulan masih saja berangkulan dengan adik-adik perempuannya seolah olah mereka tidak mau berpisah lagi.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, barulah Glagah Putih teringat pada seseorang, “Aku tidak melihat Adi Pamekas? Apakah dia memang sengaja tidak diajak ke Menoreh?”

Ki Citra Jati tersenyum, jawabnya kemudian, “Karena Mlaya Werdi ingin mengikuti kami ke Menoreh, maka Pamekas kami tinggal di Padepokan untuk mengawani Ki Wasesa agar Padepokan tidak kosong selama ditinggal Mlaya Werdi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan hanya dapat mengangguk anggukkan kepala mereka.

Dalam pada itu, di bawah tebing di tepian sebelah barat Kali Praga tampak sebuah bayangan hitam yang berdiri tegak di balik sebuah pohon sedang mengamati keadaan di atas tebing sebelah timur kali Praga. Bayangan itu tampak mengamati dengan seksama kejadian yang sedang berlangsung di atas tebing. Walaupun jarak itu cukup jauh, namun orang itu kelihatannya telah mengetrapkan aji sapta pandulu dan sapta pangrungu untuk mengetahui keadaan sebenarnya yang sedang terjadi di atas tebing.

“Lebih dari lima orang,” berkata orang itu dalam hati, “Agaknya telah terjadi sebuah pertemuan rahasia di atas sana. Siapakah sebenarnya mereka itu?”

Dengan perlahan orang itu membungkuk untuk mengambil sebuah batu kerikil. Dengan tanpa menimbulkan suara, batu kerikil itu telah dilemparkannya dan jatuh mengenai salah seorang tukang satang yang sedang meringkuk di atas rakitnya berselimutkan kain panjang.

Sejenak tukang satang yang terkena lemparan batu kerikil itu menggeliat. Kemudian dengan perlahan dia duduk sambil menyingkapkan kain panjangnya. Dengan sangat hati-hati dilepaskannya tali pengikat rakit yang tertambat pada sebuah patok di tepi sungai. Setelah tali pengikat itu terlepas, kemudian dikayuhnya rakit itu meluncur menuju ke tepian sebelah barat.

Ketika rakit itu telah menepi di sisi barat tepian Kali Praga, dengan tanpa menimbulkan suara berisik orang yang sedang mengamati sisi tebing sebelah timur Kali Praga itu telah meloncat ke atas rakit sambil berdesis perlahan, “Marilah kita lihat, siapa yang berada di atas tebing itu?”

Tukang satang yang mulai mengayuh rakitnya itu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Siapakah yang Ki Lurah maksud?”

“Kita akan segera tahu, siapakah mereka dan apa kepentingannya berada di atas tebing sebelah timur Kali Praga ini,” jawab orang yang dipanggil Ki Lurah itu sambil berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Sejenak kemudian rakit itu meluncur menembus kepekatan malam di atas arus air Kali Praga yang tidak begitu deras. Hanya dalam waktu sekejap rakit itu pun kemudian telah merapat di tepian Kali Praga sebelah timur.

“Bangunkan kawan kawanmu,” perintah Ki Lurah sambil melangkah perlahan di tepian yang berpasir.

Dengan tergesa-gesa, tukang satang itu segera membangunkan kawan kawannya yang berjumlah tiga orang.

“Ada apa?” bertanya seorang tukang satang yang berbadan kurus dengan wajah yang masih mengantuk.

“Ki Lurah memerlukan kita,” jawab tukang satang yang menyeberangkan Ki Lurah itu sambil beranjak membangunkan kawannya yang lain.

Beberapa saat kemudian di tepian yang berpasir itu telah berkumpul empat orang tukang satang dan orang yang dipanggil Ki Lurah itu.

“Aku melihat gerakan yang mencurigakan di atas tebing itu,” berkata Ki Lurah kemudian sambil menunjuk ke tempat Glagah Putih dan Rara Wulan bersembunyi, “Kemungkinannya jumlah mereka lebih dari lima orang tapi tidak akan sampai sepuluh orang.”

“Apakah kita perlu memanggil kawan-kawan kita yang berjaga jaga di sisi barat Kali Praga, Ki Lurah?” bertanya salah seorang tukang satang itu.

“Itu tidak perlu,” geram Ki Lurah, “Ingat, kita tidak terikat dengan jumlah, akan tetapi kemampuan masing-masing orang yang akan menentukan. Takaranku adalah lawan sebanyak lima orang, sisanya nanti terserah kalian berempat.”

Hampir bersamaan keempat tukang satang itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah mengenal betul dengan perangai Ki Lurah. Sebenarnyalah menurut pengamatan mereka selama ini Ki Lurah itu termasuk orang yang berilmu cukup tinggi, namun kesombongannyalah yang kadang-kadang membuatnya kurang perhitungan.

“Marilah,” berkata Ki Lurah sambil melangkah ke arah tebing, “Kita datang dengan dada tengadah, tidak usah mengendap-endap seperti laku seorang pencuri.”

Dengan tanpa menyamarkan kedatangan mereka, kelima orang itu pun akhirnya mulai mendaki tebing sebelah timur Kali Praga dari arah sisi barat yang medannya cukup terjal.

Dalam pada itu Glagah Putih dan kawan kawannya yang sedang berada di atas tebing telah mendengar hadirnya orang-orang yang tidak diundang itu sejak mereka masih berada di tepian. Ki Citra Jati yang sudah menduga hal itu akan terjadi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara anak-anak Nyi Citra Jati segera berkumpul di dekat ibu mereka untuk mendapatkan pengarahan.

“Baruni dan Setiti,” berkata Nyi Citra Jati, “Kalian berdua jangan terlalu jauh dengan mbokayu kalian Padmini. Sementara biarlah Rara Wulan berpasangan dengan Glagah Putih. Sedangkan Pamanmu Mlaya Werdi akan melindungi kalian dari belakang,” Nyi Citra Jati berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Aku dan Ayahmu akan berada di luar lingkaran untuk melindungi kalian kalau-kalau masih ada di antara mereka yang datang dengan sembunyi-sembunyi.”

Kedua gadis itu mengangguk tanpa menjawab. Keduanya segera bergeser merapat ke dekat Padmini. Sedangkan Nyi Citra Jati telah bergeser menjauh dan berlindung diantara semak-semak yang cukup lebat diikuti oleh Ki Citra Jati.

Glagah Putih yang maklum dengan siasat yang digunakan oleh Nyi Citra Jati segera tanggap. Bersama Rara Wulan, dia segera melangkah ke tempat yang cukup lapang sambil menunggu kedatangan orang-orang yang sedang mendaki tebing itu. Sedangkan Mlaya Werdi yang sedari tadi masih duduk di atas sebongkah batu padas, dengan perlahan bangkit dari tempat duduknya dan bergeser di belakang para keponakannya.

Ketika orang-orang yang mendaki tebing itu sudah mulai terdengar semakin dekat, Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah menanggalkan penyamaran mereka sejak Matahari terbenam tadi memang merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan jati diri mereka. Dengan penuh kewaspadaan, sepasang suami istri dan kawan-kawannya itu pun mulai mempersiapkan diri.

Agaknya kelima orang yang mendaki tebing itu benar-benar penuh percaya diri. Itu terbukti mereka tidak berusaha menyembunyikan kehadiran mereka, dengan langkah yang mantap dan penuh keyakinan akan kemampuan mereka, Ki Lurah yang berjalan paling depan telah berhenti beberapa langkah di depan Glagah Putih. Malam yang pekat ternyata tidak menghalangi pandangan Ki Lurah untuk mengenali lawan lawannya yang berdiri beberapa langkah saja di depannya.

Tiba-tiba tawa Ki Lurah meledak mengoyak malam yang sepi. Di sela-sela derai tawanya yang berkepanjangan Ki Lurah itu pun berkata, “Ah, ternyata yang kita temukan di sini adalah sekumpulan perempuan-perempuan cantik dan dua laki-laki entah sebagai pengawal atau pelayan mereka, aku tidak tahu,” Ki Lurah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Walaupun kalian memakai pakaian laki-laki, namun aku tetap bisa membedakan, manakah yang lelaki tulen dan manakah yang menyamar sebagai laki-laki.”

Glagah Putih yang berdiri di paling depan segera menyahut, “Ma’afkan kami Ki Sanak kalau kehadiran kami di atas tebing ini mengganggu keberadaan Ki Sanak yang berada di bawah tebing sana. Kami sekeluarga berasal dari Prambanan dan berniat untuk menengok saudara kami yang sedang sakit di Menoreh.”

Sejenak Ki Lurah mengerutkan keningnya, katanya kemudian setengah membentak, “Jangan membual. Aku tidak bertanya siapa diri kalian. Sekarang juga kalian harus mengikuti kami turun ke tepian. Kawan-kawan kami sudah hampir sepekan berjaga-jaga di tepian Kali Praga ini, dan agaknya mereka membutuhkan hiburan.”

“Gila..!” tiba-tiba justru Rara Wulan lah yang balas membentak, “Tutup mulutmu yang kotor. Jangan berpikir bahwa kami perempuan-perempuan murahan yang dapat seenaknya kalian perlakukan.”

Ki Lurah hanya tertawa pendek. Sambil menunjuk ke arah Rara Wulan, katanya kemudian, “Apa katamu tentang empat perempuan muda dan dua laki-laki di larut malam begini dan di tempat yang sepi seperti ini? Aku sudah terbiasa mendapat jawaban seperti ini dan akhirnya kalian pasti akan segera membuka kedok kalian setelah tercapai kesepakatan di antara kita.”

“Gila, gila, gila,” teriak Rara Wulan sejadi-jadinya sambil dihentak-hentakkannya kakinya ke tanah. Untunglah Rara Wulan masih sadar sehingga tidak menggunakan tenaga cadangannya ketika menghentakkan kakinya ke tanah.

“Sudahlah Ki Lurah,” tiba-tiba salah seorang Tukang Satang itu menyeletuk, “Malam semakin dingin dan tiba-tiba saja aku menjadi sangat bergairah. Kita jangan membuang-buang waktu terlalu banyak. Kita dapat melakukannya di sini atau di atas rakit agar lebih hangat. Terserah mereka.”

“Tutup mulutmu..!” Rara Wulan yang sudah tidak dapat menahan diri itu telah meloncat secepat tatit yang meluncur di udara menampar Tukang satang yang berdiri di sebelah kiri Ki Lurah.

Akibatnya adalah di luar dugaan semua orang yang hadir di atas tebing itu. Dengan deras ayunan tangan Rara Wulan yang terbuka menerjang wajah Tukang Satang itu sehingga kepalanya telah terpeluntir ke kanan bersamaan dengan terdorongnya tubuh tukang satang itu terjengkang ke belakang.

Sejenak orang-orang itu bagaikan membeku di tempatnya. Dengan dada yang berdebar debar mereka mengamati Tukang Satang yang terkapar tak bergerak di tanah yang berdebu.

“Mati?” seru Ki Lurah sambil melangkah mendekat. Sambil berjongkok, dirabanya dada Tukang Satang itu yang ternyata jantungnya telah berhenti berdetak.

Ternyata kemarahan Rara Wulan yang tersinggung harga dirinya sebagai seorang perempuan telah mengungkapkan tenaga cadangannya hampir sampai ke puncak sehingga akibatnya sangat mengerikan, leher Tukang Satang itu telah patah dan rahangnya terlepas bersamaan dengan lepasnya nyawa dari raganya.

Ki Lurah menggeram keras sambil berdiri. Kemarahannya benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun. Kini sadarlah Ki Lurah dengan siapa dia berhadapan. Ternyata perempuan yang menyerang salah satu Tukang Satang itu berilmu sangat tinggi, terbukti dengan sekali pukul leher Tukang Satang yang malang itu telah patah. Padahal para Tukang Satang itu bukan Tukang Satang yang sebenarnya. Mereka adalah anak buah Ki Lurah yang telah malang melintang dalam dunia hitam. Kemampuan olah kanuragan mereka tidak dapat dianggap enteng. Mereka selalu berhasil melakukan perampokan di padukuhan-padukuhan yang terbilang cukup kaya. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan para pengawal Padukuhan. Akan tetapi mereka selalu berhasil menuntaskan tugas mereka.

Kini Ki Lurah harus membuat perhitungan yang cermat. Di pihaknya telah jatuh satu korban, sementara di pihak lawan masih segar dan jumlahnya pun berlebih.

Menyadari akan kedudukannya itu, segera saja Ki Lurah melontarkan isyarat untuk meminta bantuan. Sejenak kemudian malam yang sepi itu terkoyak oleh suara suitan nyaring yang membelah udara malam. Suaranya terdengar sampai di tepian kali Praga sebelah barat tempat berkumpulnya para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang berjaga jaga.

Namun alangkah terkejutnya Ki Lurah ketika suara suitan itu belum mereda, terdengar suara lengkingan rinding yang ditiup oleh Ki Citra Jati dari balik gerumbul tidak jauh dari tempat itu.

Glagah Putih dan kawan kawannya sadar bahwa suara rinding dari Ki Citra Jati itu adalah sebuah isyarat agar mereka segera bergerak sebelum lawan mereka mendapatkan bantuan dari tepi barat Kali Praga.

Sejenak kemudian benturan pun segera terjadi dengan dahsyat. Para Tukang Satang yang telah tanggap dengan keadaan segera mencabut senjata masing-masing. Sementara Ki Lurah telah mencabut sebuah keris yang cukup panjang yang bercahaya kemerah-merahan di tengah malam yang pekat.

Anak-anak Nyi Citra Jati selain Rara Wulan telah mengurai senjata masing-masing. Padmini dan Baruni yang selalu membawa busur yang disilangkan di depan dadanya segera menggenggam busur mereka di tangan kiri yang digunakan sebagai perisai untuk menangkis serangan lawan. Sedangkan di tangan kanan mereka tergenggam sebatang anak panah yang digunakan sebagai senjata seperti sebuah pedang untuk menyerang lawan mereka.

Sedangkan Setiti yang selalu membawa bawa sumpit telah menggenggam sumpit itu di tangan kanan. Tidak seperti biasanya, sumpit itu tidak terbuat dari bambu namun terbuat dari baja pilihan yang dapat digunakan sebagai senjata yang mirip dengan tongkat baja putih milik Sekar Mirah namun tanpa kepala tengkorak di ujungnya.

Selebihnya, apabila dalam keadaan mendesak mereka akan melepaskan senjata-senjata mereka dan lebih mengandalkan pada kemampuan puncak mereka, Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Sementara Ki Lurah yang sudah waringuten segera menyerang Rara Wulan yang berdiri beberapa langkah saja di samping kirinya. Dengan sebuah tusukan ke arah dada, Ki Lurah meloncat disertai dengan suara teriakan yang menggelegar.

Rara Wulan yang mendapat serangan dari Ki Lurah segera menggeser kaki kirinya selangkah kebelakang. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya sehingga tusukan keris ke arah dadanya itu hanya lewat sejengkal di depannya, tangan kanan Rara Wulan bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Ki Lurah yang menggenggam keris.

Tentu saja Ki Lurah tidak akan membiarkan lawannya merebut senjatanya. Dengan tergesa-gesa ditariknya keris itu sambil kaki kanannya terayun deras mengarah ke lambung Rara Wulan.

Ada keinginan Rara Wulan untuk membenturkan siku tangan kirinya dengan kaki Ki Lurah yang terayun deras ke arah lambungnya, namun niat itu segera diurungkan. Dengan sekali lompat kebelakang, Rara Wulan sudah terbebas dari serangan Ki Lurah. Ketika Ki Lurah kemudian bermaksud memburu lawannya, ternyata di tangan Rara Wulan sudah tergenggam senjata andalannya, sebuah selendang yang cukup panjang.

Sejenak Ki Lurah tertegun dan menghentikan langkahnya. Senjata di tangan Rara Wulan itu sangat mendebarkan hatinya. Hanya orang-orang yang benar-benar sudah mumpuni saja yang mampu memainkan senjata sejenis itu dalam sebuah pertempuran yang sebenarnya.

Keraguan Ki Lurah itu ternyata terbaca oleh Rara Wulan. Dengan sengaja diputarnya selendang itu di atas kepalanya untuk mempengaruhi ketahanan batin lawannya. Putaran selendang itu begitu dahsyatnya sehingga menimbulkan pusaran angin dan suara berdengung bagaikan dengung seribu lebah hutan yang sedang mengamuk.

“Persetan,” geram Ki Lurah, “Aku bukan anak kecil yang takut dengan segala macam pengeram-eram. Selendangmu itu akan segera putus terbabat oleh kerisku yang tajamnya melebihi pitung penyukur.”

“Aku meragukan itu, Ki Sanak,” jawab Rara Wulan tanpa menghentikan putaran selendangnya, “Justru kerismu yang kau agung agungkan itu yang sebentar lagi akan berpindah ke tanganku.”

“Jangan banyak membual,” sekali lagi Ki Lurah menggeram sambil meloncat mengayunkan kerisnya membabat ke arah putaran selendang Rara Wulan.

Demikianlah akhirnya mereka berdua segera terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Ki Lurah benar-benar dibuat kerepotan dengan senjata Rara Wulan. Selendang itu kadang-kadang meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang hidup yang berusaha membelit tangannya, kadang lehernya, bahkan kakinya yang sedang meloncat di udara pun hampir saja terbelit dengan selendang itu. Namun suatu saat dengan tidak terduga duga selendang itu tiba-tiba berubah mengeras bagaikan sebuah tongkat baja dan mendera dadanya.

Glagah Putih yang menyaksikan perkelahian itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sadar kakinya bergeser menjauhi lingkaran perkelahian. Dia sudah yakin istrinya itu tidak akan mendapatkan kesulitan dalam mengatasi lawannya.

Tanpa sadar Glagah Putih justru mengayunkan langkah mendekati lingkaran pertempuran anak-anak Nyi Citra Jati yang lain. Betapa Padmini, Baruni dan Setiti telah membuat para Tukang Satang itu kebingungan. Beberapa kali senjata-senjata anak-anak Nyi Citra Jati itu mulai menyentuh tubuh- tubuh mereka sehingga yang dapat dilakukan oleh para pengikut Ki Lurah itu hanyalah bertahan sambil mundur dan mundur terus.

Namun mereka menyadari bahwa tidak mungkin untuk bertahan sambil bergerak mundur terus karena di belakang mereka adalah lereng tebing yang cukup terjal. Jika mereka sampai terjatuh, akibatnya akan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka.

Dengan pertimbangan seperti itulah, akhirnya para Tukang Satang itu pun memutuskan untuk menghentakkan segenap kemampuan mereka untuk mendesak anak-anak Nyi Citra Jati. Namun Padmini yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari adik adiknya segera memberi aba-aba untuk memperketat serangan mereka sehingga sejenak kemudian pertempuran itu pun bagaikan meledak dengan dahsyatnya.

Mlaya Werdi yang berdiri tidak seberapa jauh dari tempat pertempuran anak-anak Nyi Citra Jati itu sama sekali tidak lengah. Sesuai dengan pesan Nyi Citra Jati untuk mengamati keadaan jika ada bantuan lawan yang datang dengan diam-diam. Namun sejauh itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Dalam pada itu di tepian sebelah barat kali Praga, para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang berjaga-jaga telah mendengar isyarat dari Ki Lurah. Dengan tergesa-gesa mereka segera menarik beberapa rakit yang disembunyikan diantara semak belukar. Sejenak kemudian tiga buah rakit itu telah diturunkan ke Kali Praga dengan penumpangnya masing-masing rakit sekitar sepuluh orang.

Demikianlah rakit-rakit itu pun kemudian telah meluncur dengan cepat di atas air Kali Praga yang keruh. Hanya dalam waktu sekejab rakit-rakit itu telah merapat di tepian timur kali Praga. Dengan sigap para penumpangnya segera berloncatan ke tepian yang berpasir basah. Ketika kemudian sekali lagi terdengar suitan nyaring dari arah tebing, para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu pun segera berlari-larian menuju ke arah suara suitan itu berasal.

Memang Ki Lurah yang merasa tidak akan dapat mengatasi lawannya telah melontarkan isyarat sekali lagi. Namun dengan demikian isyarat itu pun bagi Rara Wulan dan anak-anak Nyi Citra Jati merupakan pertanda bahwa mereka harus segera menyelesaikan lawan-lawan mereka sebelum bala bantuan datang.

Ketika di bawah tebing mulai terdengar hiruk pikuk orang-orang yang memanjat naik, sekali lagi terdengar sebuah lengkingan bunyi rinding membelah udara malam. Dengan tanpa membuang waktu, Rara Wulan dan adik-adik angkatnya pun segera menyelesaikan lawan-lawan mereka.

Para Tukang Satang itu tidak sempat melihat bagaimana anak-anak Nyi Citra jati itu mempergunakan senjata mereka. Tiba-tiba saja dua orang Tukang Satang merasakan sesuatu telah hinggap di dada sebelah kiri. Ternyata anak panah Padmini dan Baruni telah menembus jantung mereka.

Sejenak kedua orang tukang Satang itu masih sempat mengumpat keras sambil terhuyung-huyung memegangi dada mereka sebelum akhirnya jatuh terjerembab tak bergerak untuk selamanya.

Sementara Setiti yang bersenjatakan sumpit telah menggunakan senjatanya itu sebagaimana mestinya. Segera saja sebuah paser kecil telah melesat dengan kecepatan yang luar biasa menembus leher lawannya.

Racun yang ada di ujung paser itu kekuatannya setara dengan racun ular bandotan macan. Hanya dalam sekejap sebelum lawannya menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tubuhnya tiba-tiba merasa kejang dan nafasnya pun telah tersumbat. Tukang Satang yang terakhir itu pun kemudian roboh berkelojotan mati.

Ki Lurah yang sempat melihat sekilas anak buahnya telah terbujur menjadi mayat menjadi semakin wuru. Dengan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi seolah olah ingin menembus langit, dipusatkannya segala nalar budinya untuk menghentakkan ilmu pamungkasnya.

Ketika kemudian serangannya yang membadai menerjang Rara Wulan, dari ujung keris itu seolah olah telah memancar lidah api yang sangat panas. Ujung lidah api itu ternyata telah mendahului dari ujud keris itu sendiri. Sehingga ketika keris yang ada di tangan Ki Lurah itu belum menyentuh tubuh Rara Wulan, lidah api itu telah menghanguskan ujung baju Rara Wulan.

Rara Wulan segera menyadari watak dari ilmu lawannya. Dia tidak ingin kehilangan waktu terlalu banyak sementara orang-orang Panembahan Cahya Warastra justru telah mulai memanjat tebing.

Setelah meloncat beberapa langkah ke samping menghindari kejaran jilatan api yang keluar dari ujung keris Ki Lurah, dalam waktu yang hanya sekejab Rara Wulan segera mengetrapkan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Sejenak udara di sekitar arena pertempuran itu bagaikan dipampatkan. Ketika udara yang telah dipampatkan itu kemudian berputar dan membentuk butiran-butiran air yang sangat panas, Ki Lurah ternyata telah terlambat menyadarinya. Langkahnya terhenti ketika butiran-butiran lembut air yang sangat panas itu menerjang tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa Ki Lurah meloncat ke belakang sejauh jauhnya sambil memutar senjatanya untuk melindungi dirinya dari terjangan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Namun ternyata kecepatan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce itu melebihi usaha Ki Lurah menghindarkan diri dengan meloncat kebelakang. Butiran-butiran air panas yang sangat lembut itu telah menyusup di sela-sela putaran kerisnya dan langsung menghunjam ke dalam tubuh Ki Lurah lewat lubang-lubang di kulitnya.

Untuk sejenak Ki Lurah telah terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah. Butiran-butiran lembut air panas itu telah menyusup ke dalam pembuluh darahnya dan menghancurkan jaringan urat darah di sekujur tubuhnya.

Akhir yang sangat mengerikan bagi Ki Lurah. Seluruh pembuluh darahnya seakan meledak dan darah pun mengalir deras keluar dari lubang-lubang di kulitnya. Dengan mengeluarkan teriakan kesakitan yang luar biasa, Ki Lurah pun akhirnya jatuh tertelungkup bermandikan darah dan tak bergerak lagi untuk selama lamanya.

 Dalam pada itu, para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang mendaki tebing telah semakin dekat dengan tempat pertempuran. Ketika kemudian mereka telah mencapai bibir tebing dan berlari-larian menuju ke medan pertempuran, alangkah terkejutnya mereka, ternyata medan pertempuran yang tadinya terdengar hiruk-pikuk kini telah menjadi sepi. Hanya bekas-bekas pertempuran saja yang masih mereka jumpai dan beberapa sosok mayat yang terbujur malang-melintang.

Dengan cepat mereka segera menyebar untuk memburu orang-orang yang telah membunuh kawan-kawan mereka. Hampir setiap jengkal tanah di atas tebing itu tidak luput dari pengamatan mereka. Sesekali mereka menemukan jejak-jejak kaki namun sudah sangat kabur dan susah dikenali. Demikian juga arah jejak kaki itu tidak jelas kemana arah tujuannya. Seolah olah jejak-jejak itu hanya melingkar-lingkar saja di atas tebing.

“Ki Lurah..!” tiba-tiba seorang yang wajahnya bulat dan berambut keriting berteriak lantang begitu mengenali sesosok mayat yang tertelungkup dalam keadaan yang mengenaskan.

Beberapa orang segera berlari ke tempat di mana orang yang wajahnya bulat itu menemukan mayat Ki Lurah. Mereka tidak yakin bahwa Ki Lurah yang menurut pengenalan mereka selama ini termasuk orang yang berilmu cukup tinggi telah terbunuh. Jika memang Ki Lurah ikut menjadi korban, berarti lawan yang dihadapinya pasti bukan orang kebanyakan.

Sesampainya di depan mayat yang tertelungkup itu, dengan tergesa-gesa seseorang segera membalikkannya. Dengan dada yang berdebar debar mereka melihat betapa keadaan mayat itu sangat mengerikan, sekujur tubuhnya bersimbah darah.

Beberapa orang berusaha mencondongkan tubuh ke depan agar lebih jelas melihat wajah mayat itu, sedangkan yang lainnya justru telah berjongkok di sisi mayat itu untuk meyakinkan penglihatan mereka bahwa tubuh yang telah terbujur kaku itu adalah Ki Lurah.

“Ki Lurah..!” seseorang berdesis perlahan setelah dia yakin dengan penglihatannya.

“Ya, benar. Ini memang Ki Lurah,” yang lainnya menyahut hampir bersamaan.

“Gila..!” terdengar beberapa orang telah mengumpat, “Ilmu apakah yang telah membunuh Ki Lurah?”

Seseorang yang rambutnya sudah ubanan melangkah maju sambil menyibakkan orang-orang yang sedang berkerumun dan kemudian berjongkok di sisi tubuh Ki Lurah yang telah membeku. Sejenak diamatinya sekujur tubuh yang telah dingin itu. Dicobanya mencari bekas-bekas luka yang mungkin terdapat pada tubuh Ki Lurah, namun tidak tampak segores luka pun yang terdapat pada mayat itu.

“Aneh,” desis orang yang rambutnya sudah ubanan itu, “Tidak ada segores luka pun, namun darah yang keluar dari pori-pori kulitnya bagaikan diperas,” orang itu berhenti sejenak. Dikerahkan kemampuan daya ingatnya untuk mengenali jenis ilmu yang telah membuat Ki Lurah terbunuh. Gurunya sering bercerita tentang berjenis jenis ilmu yang ada di muka bumi ini sebagai pengetahuan bagi murid-muridnya. Dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit dan aneh, aneh dalam kemampuannya menghancurkan lawan maupun aneh dalam memberikan nama aji itu sendiri.

Tiba-tiba bagaikan disengat oleh seekor kalajengking sebesar ibu jari kaki orang dewasa, orang yang rambutnya sudah ubanan itu terlonjak berdiri sambil berteriak, “Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce! Ya.., Pacar Wutah Puspa Rinonce, aku yakin itu.”

Orang-orang yang mengerumuninya itu terkejut. Seorang yang berperut buncit mendesak maju sambil bertanya, “Apakah engkau yakin Kakang Dumuk? Kalau memang Ki Lurah telah terbunuh dengan aji Pacar Wutah Puspa Rinonce, kita harus segera melaporkan peristiwa ini kepada Guru.”

“Engkau benar Adi Walang” jawab orang yang rambutnya sudah ubanan yang ternyata bernama Dumuk, “Hanya guru yang dapat mengatasi aji ini. Kita masih jauh di bawah tataran orang yang telah membunuh Ki Lurah ini, kecuali Kakang Labda Gati, ilmunya mungkin sudah mencapai tataran setingkat dengan Guru.”

Beberapa orang yang mendengarkan pembicaraan itu mengangguk angguk. Sementara beberapa orang yang lainnya telah sibuk menggali tanah di atas tebing itu dengan peralatan seadanya. Betapa pun kelamnya hati mereka serta jalan hidup yang mereka tempuh selama ini sangat jauh dari tuntunan hidup bebrayan, namun mereka masih mempunyai setitik rasa kesetia-kawanan terhadap kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dalam menjalankan tugas.

Demikianlah akhirnya, Dumuk yang merupakan orang yang dituakan dalam rombongan itu telah memerintahkan untuk mengubur lima orang kawan mereka yang telah terbunuh di atas tebing sebelah timur kali Praga. Dengan peralatan seadanya mereka pun kemudian mengubur kelima kawan mereka itu dalam satu lubang.

Sejenak kemudian, setelah mereka merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, mereka pun kemudian segera menuruni tebing dan kembali menyeberang ke tepi barat kali Praga.

****

Dalam pada itu di padepokan Jati Anom, malam telah sampai ke ujungnya. Burung-burung mulai terbangun dan keluar dari sarangnya sambil memperdengarkan kicau yang merdu menyambut terbitnya sang fajar.

Setelah menunaikan kewajibannya sebagai hamba kepada Penciptanya, Ki Rangga Agung Sedayu mulai mempersiapkan perjalanan ke Mataram untuk menghadap Ki Patih Mandaraka. Empat ekor kuda yang tegar telah disiapkan di halaman padepokan. Putut Darpa dan Putut Darpita pun telah siap dengan perbekalan mereka dan duduk di pendapa menunggu Ki Rangga dan Pandan Wangi keluar.

Kedua Putut kakak beradik itu tidak terlihat membawa pedang, namun senjata mereka adalah senjata ciri khas perguruan orang bercambuk, sehelai cambuk yang dililitkan pada pinggang mereka dan disembunyikan di bawah baju.

Ketika kemudian Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi muncul dari balik pintu pringgitan, kedua Putut itu segera berdiri dan menganggukkan kepala.

“Apakah kalain sudah makan pagi?” bertanya Pandan Wangi sambil melangkah mendekat.

Putut Darpa ternyata yang menjawab, “Kami tadi sudah makan di dapur Nyi. Jika Ki Rangga dan Nyi Pandan Wangi belum makan pagi, kami akan menunggu.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi tersenyum. Sambil berjalan melintasi pendapa Ki Rangga kemudian menuju ke tempat kuda-kuda mereka ditambatkan. Katanya kemudian, “Marilah, mumpung hari masih pagi. Semoga kita sampai di Mataram sebelum gelap.”

Kedua Putut itu hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Ki Rangga. Sejenak kemudian keduanya pun segera menuju ke kuda masing-masing dan mempersiapkan segala uba rampe untuk sebuah perjalanan yang cukup jauh.

Pandan Wangi yang telah mendapat ijin dari suaminya itu telah memakai pakaian khususnya dengan sepasang pedang di lambung. Rambutnya yang masih hitam lebat namun di sana sini sudah mulai dihiasi dengan rambut yang berwarna putih itu disanggul tinggi dan diikat dengan secarik kain berwarna merah saga. Pandan Wangi masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah mendekati setengah abad.

Demikianlah, keempat orang yang akan melakukan perjalanan ke Mataram itu masih harus menunggu Ki Widura untuk berpamitan. Agaknya Ki Widura masih ada keperluan sebentar di belakang. Setelah beberapa saat menunggu, barulah Ki Widura muncul dari balik pintu pringgitan dan berjalan mendekati keempat orang yang masih belum menaiki kuda-kuda mereka.

bersambung ke bagian 2

Iklan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30/12/2013 at 20:00  Comments (1.109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-404/trackback/

RSS feed for comments on this post.

1.109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Monggo Ki Punakawan, sampun dipun tenggo ….

    • monggo mbah-Man
      soho ki-Puna
      katah ingkang nenggo
      cantrik, mentrik…………

  2. Nuwun

    NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (I)
    © Punakawan Sang Botjah Angon

    Om awignam astu namas sidam, Mugi linupútnå ing rêridhu
    Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nityasa

    Tuhan, Pencipta, Penjaga, Pelindung, Pemelihara dan Pengakhir Alam, semoga tak ada halangan, sudjudku sesempurna sempurnanya.

    Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah duli Paduka Sang Maha Penguasa Alam Semesta.

    Dia yang kita harapkan. Dia yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, pelayan para kawula, pelindung orang miskin, pengatur segala isi negeri. Sang Penguasa dari raja penguasa, yang mengejahwantah, nampak di muka bumi, yang lebih diagungkan daripada segala mahluk. Merata, serta mengayomi semua hamba-hambaNya, Nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, Smaradewa di dalam cinta. Sang Maha Pati di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damainya mahluk dan dunianya.

    Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah pujasastra sejarah raja, mengawali tutur sabdanya.

    Dari zaman ke zaman sering kali kita mendapatkan pelajaran sejarah tentang hancurnya suatu kaum atau bangsa. Baik kehancuran akibat ketamakan bangsa itu sendiri atau karena serbuan dari pihak asing. Jika menggali sejarah Nusantara kita sendiri, maka kita mendapatkan hikmah dari hancurnya kerajaan Singosari, Kadiri, Sriwijaya, dan Majapahit atau kerajaan lainnya yang pernah ada di Nusantara. Ternyata faktor yang paling banyak menghancurkan suatu negeri atau bangsa adalah akibat perebutan kekuasan antara keluarga penguasa negara, kelompok, atau keturunan.

    Untuk membaca naskah selengkapnya silahkan kunjungi https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/49/

    • matur suwun ki puna.

      hmmmm …. kenapa ya kekisruhan demi kekisruhan selalu terjadi di tanah tercinta?

      akibat ulah para pangreh praja, rakyat kecil yang selalu jadi korban.

      • pagi yang mendung di kota smg

      • Ya benar Ki,disetiap kekisruhan pasti ada pihak-pihak yang ingin mencari kesempatan dalam kesempitan untuk meraih keuntungan pribadi. Manusia macam itu yang selalu membuat dunia ini tidak pernah aman semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan mereka .

    • Hadir, disambut oleh Ken Dedes Gadis Jelita ….. matur nuwun Ki Punakawan, nuwun sewu bahasane Ken Arok to niku ….. tetap semangat !

      • Katur Ki Jokowono,

        Kasinggihan Ki, “Bahasanya” Ken Arok melalui rontal Sêrat Para Datu, pada masa Jawa Pertengahan, kira-kira antara abad ke 12 dan abad ke 16.

    • matur nuwun ki… pengen cpt baca yg bagian 2 jg…. 🙂

  3. slamat siang..
    absen dulu ah…..

  4. Para mentrik..mbok di call mbah man gitu…kira2 ada apa dengan mbah man…

  5. dunia penuh warna
    kalau hanya putih saja
    semua maya
    kalau hitam saja
    seperti jelaga
    mungkin itulah
    kehidupan nyata

    matur nuwun Ki-Puna

  6. Nuwun

    Wayah lingsir wêngi.

    Kepada Sanak Kadangku yang masih terjaga,
    Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku.
    Untuk mengajakmu sejenak mengingat kembali langkah-langkah perjalanan kehidupan ini
    Mengendapkan hati namun sambil menembangkan kidung wengi
    tentang tanah negeri ini milik kita sendiri

    Saudara-saudaraku sesama diriku
    Sêdulur-sêdulurku semua anak-anak negeri

    Aku ajak engkau semua wahai sêdulur-sêdulurku untuk menarik nafas sejenak
    Untuk menata hati,
    menata kembali negeri ini
    meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali

    Ayolah saudara-saudaraku, wahai sêdulur-sêdulurku

    …..

    Sanak kadangku,

    Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …………..

    Selalu saja udrêg-udrêgan, rêbut mênang, rêbut bênêr, dan rebutan kekuasaan, demikian juga jika mencermati keadaan sekarang ini, para pemimpin, para penguasa, para manggala negara, sudah banyak yang durhaka kepada Tuhannya.

    Aturan dan hukum yang berlaku adalah tidak ada aturan dan hukum, dan itu mereka buat sendiri, dan mereka sendiri pula yang melanggarnya. Sementara aturan dan hukum yang telah dibuat Tuhan, karena Kasih SayangNya kepada mereka diabaikan, bahkan mereka tolak dan tentang habis-habisan. Agama yang hukum Tuhan itu hanya sebagai topeng dan alat semata.

    Mereka menganggap bahwa hukum Tuhan hanya layak disimpan di museum, dipajang di lemari, enak dilihat, dikaji, didiskusikan, diseminarkan, tetapi tidak enak untuk diberlakukan.

    Bencana berupa adzab. Longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung, kebakaran. Tindak durjånå, culikå, deksurå, adigang, adigung adigunå, Mo Limå Maling, main, madat, mabok, madon semakin meraja lela dan dianggap sudah biasa.

    Oh……
    Negeriku Nusantara Indonesiaraya.

    dan Dongeng Negeriku Nusantara Indonesiaraya ini masih akan berlanjut.

    Nuwun

    punåkawan

    • matur nuwun ki….

    • Maturnuwun Ki Puna.
      Dulu ada slogan tiji tibeh, sekarang malah saling mblejeti. Rame.

  7. sepi sekali…………

    • Kula rencangi Ki Ban

      • Wah ada Ki gembleh… Bagaimana kabar Ki..?

        • Katur:
          Ki Anatram
          Ki Bancak
          Ki Ki Gembleh

          Pangayubagyå kagêm panjênêngan pårå kaki ingkang dahat kinurmatan.

          punåkawan

          • Dhawah sami-sami, kagem panjenenganipun Ki Punakawan…
            Nuwun…

          • Maturnuwun Ki Puna.
            Katur Ki Rangga Anatram, jaya jaya wijayanti, kapan kondur ke nagari tetangga ?

  8. matur nuwun ki….

  9. Selamat malam….
    Absen dulu ahh….

  10. malem minggu
    ngancani pak satpam ronda

    nggih…, mangga Ki Bancak.
    Sayang pohong belakang gardu ronda belum waktunya dicabut. jagung juga baru berbunga, he he he …
    cuma ada wedang sere, masih hangat kok.

    • wedang sere
      karo jadah bakar
      maaaattuuukk

  11. Satpam dapat info (mudah-mudahan benar), kalau Ki Anatram telah menyelesaikan tapa pati geni tiga-hari tiga malam dan diakhiri dengan mandi keramas landa merang. Buah perjuangan tanpa lelah selama sekian tahun, mengaji dan melatih jurus-jurus baru untuk membuka simpul syaraf agar bisa mengungkap tenaga sakti sesuai dengan yang diinginkan.

    Dan…, berhasil…..

    Selamat Ki Anatram, semoga ilmunya berguna bagi masyarakat indonesia yang sedang “carut marut” ini.

    hmmm……

    • Amin ya robbal alamin,

      …inipun semua tidak lepas dari doa dan dorongan dari semua sesepuh, sanak kadang di gandhok ini….

      Salam hormat,

      • Alhamdulillah …….

        Sebentar lagi tentu “turun gunung” untuk mengamalkan ilmu yang telah dikuasainya.

        Akan segera muncul Anatram Midak di “dunia persilatan” sebagai “pendekar baru.”
        Jadi ingat Pendekar Pulau Es, yang belajar silat di pulau terpencil dan dingin sekali. Semoga kesaktian dan ketenaran Ki Anatram sebagaimana Pendekar Pulau Es tersebut. he he he … (maaf, bila tidak berkenan dengan persamaan tersebut)

        hmmmm, kapan ya Satpam bisa mengikuti jejak Ki Anatram.
        tentu bisa…., entah kapan.
        semangaat…….!!!!!

        Selamat…selamat….selamat….!!!!!

        • barusan dapat link berikut dari Kiaine.

          mohon maaf jika kurang berkenan link fotonya saya upload di sini, sungguh…, satpam senang sekali ada sanak kadang yang berhasil karena kerja kerasnya, untuk penyemangat satpam/risang agar lebih giat lagi untuk menyongsong hari depan

          • Walah jadi ikut narsis sedikit… Foto itu sebenarnya pesanan dari Nyi Anatram, katanya biar ada kenang2an..

            Semoga demikian bisa menjadi penyemangat Ki Satpam, dan rekan2 semua..

            Semangat..!!

            Nuwun,..

          • He he he …..
            ngapunten Ki.

            Insha Allah Ki Anatram, info ini telah membangkitkan semangat satpam, semangat untuk berjuang tak kenal lelah membangun cita-cita.

          • konten tidak tersedia

        • wow… selamat ki anatram… smgt saya jd ikut terbangkitkan untk bersungguh2 dlm menjalani laku… (meskipun tingkatanny terpaut jauh hehe..)

          • Nuwun, Nyi…semoga ketularan…

          • Saya sebetulnya sudah mendapat info dari Ki Mataram namun mau ngucapin selamat disini takut ga berkenan. Sekarang udah dibuka sama nakmas Risang, selamat atas keberhasilan meraih jurus sakti Ki Prof, eh Ki Anatram Midak.

  12. Waduh ketinggalan, sehari tidak nginguk gandok ternyata ada rerasan dari Ki Punakawan, matur nuwun Ki, ujare Ki Dalang “MANUT JAMAN KELAKONE” gitu Ki, mungkin Ki Punakawan bisa ‘ njlentrehke’ ….. matur nuwun, tetap semangat !

  13. Nuwun

    NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (II)
    © Punakawan Sang Botjah Angon

    Pakuwon Tumapel, yang di lereng Gunung Kawi itu kemudian berkembang menjadi kerajaan besar Singasari, setelah Tunggul Ametung dikudeta dengan cara yang licik oleh Ken Arok.

    Singasari semakin jaya di bawah kepemimpinan Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Kraton Kadiri dan Baginda Sri Kertajayapun ditundukkan dalam perang Ganter.

    Singasari yang semakin moncèr. Ken Arok pun selain gelarnya yang panjang itu, disebut juga sebagai swapitãmahã stawanã binaśrantalokapãlaka, orang yang mententramkan dan mempersatukan dunia.

    Tetapi kekuatan yang dibina Sang Bhatara inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran demi pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå sanak-kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Golongan Sinelir dan Golongan Rajasa.

    Untuk membaca naskah selengkapnya silahkan kunjungi https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/50/

    • Maturnuwun Ki Puna.

      • maatur nuwun ki wicaks

        • Ki Bukan……………

  14. Hadir, sambil menyimak Indonesia Raya 2, matur nuwun Ki Punakawan, ….. tetap semangat !

    • ikut nyimak juga……..,sambil makan marneng

      • awet donk ki….. 🙂

  15. Hadir, sudah 3 pasaran Ki Haji Panembahan Mandaraka tidak menurunkan rontal ….. tetap semangat !

  16. Lanjutan TADBM 404 (Trims atas SMS nya)

    “Baiklah,” berkata Ki Patih Mandaraka selanjutnya, “Kita perlu Ki Tumenggung Tirtayudha untuk hadir disini. Ki Tumenggung Tirtayudha adalah perwira yang membawahi Prajurit Jalamangkara, prajurit yang mempunyai kemampuan sangat khusus, yaitu mampu bergerak di air dengan kemampuan yang luar biasa. Sedangkan di darat mereka adalah prajurit prajurit tangguh tanggon yang mampu menyerang dengan cepat kemudian menyingkir dengan cepat pula.”

    Ki Rangga Agung sedayu dan Pandan Wangi sejenak termangu mangu mendengarkan keterangan Ki Patih. Ki Rangga memang pernah mendengar rencana untuk membentuk sepasukan prajurit Jalamangkara yang mempunyai kemampuan bertempur di bawah air. Mereka bergerak bagaikan ikan dan mampu bertahan di bawah air dengan menggunakan alat khusus. Namun sejauh ini Ki Rangga belum pernah bertemu dengan para prajurit Jalamangkara, apalagi dengan Ki Tumenggung Tirtayudha.

    Ki Patih agaknya mengerti jalan pikiran kedua tamunya. Maka katanya kemudian, “Aku telah menyuruh seorang prajurit jaga untuk memanggil Tumenggung Tirtayudha agar hadir disini.”

    Belum selesai Ki Patih melanjutkan kata katanya, tiba tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Sejenak kemudian seorang yang berperawakan sedang dengan kumis tipis melintang di atas bibirnya telah memasuki ruang khusus tempat Ki Rangga dan Pandan Wangi mengahadap Ki Patih. Setelah menyembah terlebih dahulu, orang itupun kemudian duduk beberapa jengkal di sebelah Ki Rangga menghadap Ki Patih Mandaraka.

    “Nah, inilah Ki Tumenggung Tirtayudha itu,” berkata Ki Patih sambil tersenyum. Orang yang disebut Tumenggung Tirtayudha itu segera mengangukkan kepalanya kearah Ki Rangga dan Pandan Wangi.

    Segera saja Ki Rangga dan Pandan Wangi membalas anggukan Ki Tumenggung Tirtayudha itu.

    “Ki Tumenggung Tirtayudha,” berkata Ki Patih kemudian, “Apakah pasukanmu sudah siap? Malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh.”

    Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi menoleh ke arah Ki Tumenggung Tirtayudha, Tumenggung yang usianya tidak terpaut jauh dengan Ki Rangga Agung Sedayu sendiri.

    • ngangeni ki mBah

    • Alhamdulillah….
      akhirnya yang ditunggu datang juga

      matur suwun mbah

      • lho knapa bajuku berubah, hadu….

  17. Sambil melakukan sembah, Ki Tumenggung Tirtayudha pun kemudian menjawab, “Ampun Ki Patih. Pasukan Jalamangkara sudah siap untuk sewaktu waktu digerakkan. Tinggal menunggu titah dari Ki Patih.”

    Ki Patih mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian katanya sambil menoleh ke arah Ki Rangga Agung Sedayu, “Ki Rangga, malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh. Tugas pasukan Jalamangkara adalah bergerak dengan senyap kemudian menghancurkan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berjaga di tepian sebelah barat kali praga,” Ki Patih berhenti sejenak kemudian lanjutnya, “Ki Rangga dan Ki Tumenggung Tirtayudha masing masing akan membawa sepasukan parajurit Jalamangkara untuk menyeberang di tempat yang tidak diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Kalian harus berpacu dengan waktu. Hancurkan para pengawas musuh yang ada di tepian barat kali praga tanpa suara. Jangan sampai para pengawas itu sempat melontarkan isyarat ke padukuhan terdekat yang dijadikan landasan para pengikut Panembahan Cahya Warasta.”

    Ki Rangga dan Ki Tumenggung mengangguk anggukkan kepala mereka. Keduanya sudah mendapat gambaran bagaimana mereka harus membawa pasukannya menyeberang kali praga tanpa diketahui oleh lawan dan kemudian sekaligus menghancurkan mereka.

    Sementara Pandan Wangi yang hanya menjadi pendengar telah terusik. Tanpa sesadarnya dia telah mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Ki Patih yang justru sedang memandanginya sambil tersenyum. Agaknya Ki Patih telah menduga apa yang tersirat dalam dada anak perempuan satu satunya Ki Gede Menoreh itu.

    “Pandan Wangi,” berkata Ki Patih akhirnya, “Engkau tidak aku tugaskan untuk ikut menyeberang dengan berenang bersama Ki Rangga,” Ki Patih berhenti sejenak sambil mencoba melihat kesan yang tersirat di wajah Pandan Wangi, tampak seleret rona merah menghias wajah perempuan setengah baya itu. Sambil menahan senyum, Ki Patih pun kemudian melanjutkan kata katanya, “Aku telah menerima laporan dari prajurit sandi yang bertugas di tepian sebelah timur, mereka telah mengadakan hubungan dengan Glagah Putih dan Rara Wulan serta beberapa kawan kawannya. Tugasmu adalah bergabung dengan mereka. Tunggulah isyarat dari Ki Rangga maupun Ki Tumenggung. Jika tepi barat kali praga telah dibersihkan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra, tugas kalian adalah melumpuhkan para tukang satang yang ada di sebelah timur tepian kali praga, kemudian dengan menggunakan rakit rakit yang ada, kalian dapat menyusul Ki Rangga menyeberang ke Menoreh.”

    • Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Pandan Wangi bergumam, “O…. begitu to”

      he he he ……

      • Tiwas deg2an arep nyilem bareng Ki Rangga……
        TRimakasih Mbah-Man….pagi2 ndobel.

    • Maturnuwun mbah_man, kepereng nyuwun pirsa,
      Tumenggung Tirtayudha punapa taksih dhawah kadang kaliyan Tumenggung Yudhapramana saha Tumenggung Kartoyudo ?
      Ki Menggung……….dho neng ndi to priyagung loro kae ?

      • Ki Menggung YP awal tahun sempat jenguk padepokan, kalau Ki Menggung Kartoyudo sudah lama tidak sambang padepokan, bersamaan dengan menghilangnya cucunya, he he he ….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, sampai ketinggalan ……

      • sugeng siang sanak kadang sedoyo
        matur nuwun
        ki-Puna lan mbah-Man

  18. Matur nuwun sewu Mbah haji, semoga secepatnya keluar lanjutannya

  19. Tanpa disadarinya Ki Rangga telah menarik nafas dalam dalam mendengar keterangan Ki Patih Mandaraka, walaupun sebelumnya Ki Rangga telah menduga bahwa tidak mungkin Pandan Wangi akan diikut sertakan dalam gerakan pasukan Jalamangkara, namun tak urung hatinya merasa lega begitu Ki Patih telah menjatuhkan titah.

    “Baiklah,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Gerakan penyusupan kalian ke tepi barat kali praga ada kemungkinannya akan diketahui oleh pihak lawan. Tidak menutup kemungkinan para pengawas lawan akan berhasil mengirimkan isyarat ke padukuhan terdekat sehingga pasukan lawan akan berdatangan bagaikan lebah yang diganggu sarangnya dan pertempuran di tepi barat kali praga pun tidak mungkin dielakkan lagi.”

    “Ampun Ki Patih,” Ki Tumenggung Tirtayudha menyela, “Bukankah tujuan kita menyeberang ke tepi barat itu untuk mengalihkan tempat pertempuran keluar dari ibu kota Mataram?”

    “Engkau benar, Ki Tumenggung. Namun sebenarnyalah aku menginginkan sebuah kejutan bagi orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu. Setelah melumpuhkan para pengikutnya yang berjaga di tepi barat kali praga, begitu Matahari terbit, kita akan menyerbu padukuhan yang dijadikan landasan para pengikut Cahya Warastra itu.”

    Ki Tumenggung Tirtayudha mengangguk anggukkan kepalanya. Sementara Ki Rangga segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih. Kita memerlukan berpuluh puluh rakit untuk menyeberangkan pasukan cadangan yang sekarang masih berada di barak barak.”

    “Ya,” jawab Ki Patih cepat, “Sementara kalian berdua menyeberang ke tepian sebelah barat, aku sendiri yang akan memimpin pasukan cadangan dan sebagian pasukan dari Kadipaten dan Kademangan Kademangan yang tidak jadi diberangkatkan ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka yang kurang memenuhi syarat waktu itu untuk ikut bertempur ataupun karena suatu hal yang lain, namun sekarang mereka telah siap untuk terjun ke medan perang sedahsyat apapun.”

    Ki Rangga dan Ki Tumenggung hampir bersamaan telah menarik nafas dalam dalam sambil mengangguk anggukkan kepala. Ki Patih ternyata telah memperhitungkan semua itu dengan cermat. Pasukan cadangan yang ada di ibu kota Mataram sengaja disimpan di barak barak dan tidak diperkenankan untuk keluar menampakkan diri kecuali ada ijin khusus dari Perwiranya. Demikian juga pasukan pasukan yang tidak jadi dikirim ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka atau suatu hal yang lain, kini telah siap untuk diturunkan ke medan pertempuran.

    “Kesan yang tampak di ibu kota Mataram memang sangat lemah,” gumam Ki Rangga dalam hati, “Penjagaan dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lemah. Hanya beberapa penjaga yang terlihat di gerbang Timur dan gerbang Barat. Sedangkan prajurit yang meronda pun hanya tiga atau empat orang dengan berkuda. Berbeda dengan biasanya yang terdiri dari lima belas sampai dua puluh prajurit berkuda.”

    • wah…..
      masih ada lagi…
      matur suwun mbah….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, tripel sudah …..

  20. Mbah, sms nya cuma sekali, tapi wedaran sampai triple…
    makasih ya

    • ehem…ehemm..
      sama2 Non..

      • ini pertanda akan wedar lagi rontal kah?
        he he he ….. ngapunten mbah….. (mblayu…!!!)

      • Melu2 ehem…ehem….ah,
        suwun nggih mbah.

      • selamat pagi Mbah_Man, nyuwun gunging pangapunten dereng saged kintun sms, tlp, kintun sanesipun. Nembe buruh derep meniko…

    • o…. yang sms Bu Lik Miss Nona ta
      matur suwun nggih.

      supaya keluar yang ke empat, Bu Lik nelpon saja, he he he …..

      • setuju dengan pak Satpam…

        hehehehe

    • Suwun Mbah,…..kapan-kapan sowan Mbah Man lagi lah, ayo siapa mau ikut ?

    • Bulik, sms lagi dong……

  21. Satpam lupa-lupa ingat, maklum sudah agak lama simbah tidak wedaran. Dan buku besar ada di padepokan.
    Sepertinya satu rontal lagi (paling banyak 2), TADBM-404 sudah bisa ditutup.

    monggo mbah

    satpam sudah menyiapkan ubo-rame buka gandok baru.

    • O..o…, ternyata masih kurang dua rontal lagi, baru bisa ditutup.

      • hari ini panen raya
        matur sanget nuwun
        mbah-Man

  22. “Ampun Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Kapankah pasukan Jalamangkara diperkenankan bergeser ke tepian kali praga untuk memulai pergerakan menyusup ke daerah lawan?”

    Sejenak Ki Patih menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Ki Tumenggung Tirtayudha. Jawabnya kemudian, “Wayah sirep uwong pasukan Jalamangkara sudah harus ditepian sebelah timur kali praga. Kalian berdua harus memilih tempat yang terpisah jauh dan akan dipandu oleh para prajurit sandi yang telah mengenal daerah sepanjang tepian kali praga,” Ki Patih berhenti sejenak untuk mengambil nafas, kemudian lanjutnya, “Sementara pasukan cadangan ditambah dengan pasukan yang tidak jadi berangkat ke Panaraga, mungkin jumlahnya mendekati dua Bregada, secara berangsur angsur akan bergerak secara berkelompok agar tidak banyak menarik perhatian, sudah harus tiba di tepian sebelum tengah malam.”

    “Bagaimana dengan rakit rakit itu, Ki Patih?” bertanya Ki Rangga dengan nada sedikit ragu ragu. Menyeberangkan pasukan sejumlah hampir dua bregada memerlukan sekitar delapan puluh buah rakit.

    Ki Patih tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum, “Kita bersyukur bahwa Panembahan Cahya Warastra telah berbaik hati membuatkan kita rakit rakit yang tersimpan di tepian sebelah barat kali praga. Rencananya rakit rakit itu akan digunakan oleh para pengikut Cahya Warastra itu untuk menyeberang ke Mataram pada saat penyerbuan tiba. Adalah tugas Ki Rangga dan Ki Tumenggung untuk melumpuhkan para penjaganya dan sekaligus menguasai rakit rakit itu untuk selanjutnya didorong ke tepian sebelah timur sebagai sarana mengangkut pasukan kita,” sampai di sini Ki Patih berhenti sejenak sambil berpaling ke arah Pandan Wangi. Kemudian lanjutnya, “Dan itu adalah tugasmu Pandan Wangi. Engkau akan dibantu oleh Glagah Putih bersama kawan kawannya.”

    Mereka yang hadir di ruangan itu hampir bersamaan telah mengangguk anggukkan kepala mereka. Agaknya para prajurit sandi Mataram telah mendapatkan keterangan yang lengkap tentang keadaan di tepian sebelah barat kali praga.

    “Apakah masih ada sesuatu yang membuat kalian ragu ragu atau kurang jelas?” bertanya Ki Patih setelah sejenak mereka yang berada di ruangan itu terdiam.

    Ki Rangga yang duduk bersila tepat di depan Ki Patih segera beringsut setapak maju. Sambil menyembah katanya kemudian, “Ampun Ki Patih. Setelah pertemuan ini selesai, ijinkanlah hamba bersama dengan Ki Tumenggung untuk menemui pasukan Jalamangkara di barak mereka. Kami berdua masih memerlukan waktu untuk menjelaskan rencana kita kepada para pemimpin prajurit agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam melaksanakan rencana sesuai petunjuk Ki Patih.”

    Ki Patih tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Memang demikianlah seharusnya Ki Rangga. Namun ingat, gerakan kita ini adalah bersifat sangat rahasia. Hanya para pemimpin prajurit sajalah yang wajib mengetahui arah gerakan kita. Untuk selanjutnya, para prajurit akan diberi penjelasan yang lebih mendalam setelah kalian berada di tepian sebelah timur kali praga.”

    • Ups…..
      baru tahu kalau simbah medar rontal.

      ngapunten njih, untuk menutup rontal TADBM-404 ternyata masih kurang satu rontal lagi.

      Tetapi, monggo kerso panjenengan, apakah sudah boleh ditutup atau masih harus menunggu satu rontal lagi.

      nuwun

  23. Matur nuwun Mbah……

  24. satu rontal lagi…buka 405…
    matur nuwun mbah,
    ki patih mandaraka memang jendral besar,
    perhitungannya detail dan matang…

  25. “Hamba, Ki Patih,” hampir berbareng Ki Rangga dan Ki Tumenggung menjawab.

    “Kunci keberhasilan rencana kita ini adalah kerahasiaan,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Masing masing pihak harus menjaga kerahasiaan rencana ini. Walaupun kepada orang terdekat kita, istri atau anak misalnya, kalau mereka tidak ada hubungannya dengan rencana ini, atau mereka memang tidak berhak untuk mendengar rencana ini, jangan sampai rencana ini diceritakan kepada mereka.”

    Ketiga orang yang menghadap itu hanya mengangguk anggukkan kepala mereka tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara dari arah Masjid Kepatihan terdengar suara panggilan yang mendayu dayu memanggil umat manusia untuk menunaikan kewajiban menyembah kepada Sang Pencipta alam semesta.

    Sejenak Ki Patih berdiam diri sambil mendengarkan suara panggilan untuk menunaikan kewajiban kepada Yang Maha Agung itu sampai selesai.

    “Nah,” berkata Ki Patih kemudian, “Kita masih mempunyai waktu beberapa saat untuk mempersiapkan diri. Pergunakanlah waktu sebaik baiknya. Jangan menampakkan kesibukan yang luar biasa yang dapat memancing pertanyaan bagi orang orang yang tidak ada hubungannya dengan rencana ini, sehingga kemungkinan kebocoran rencana kita ini sampai ke telinga musuh dapat dihindari,”

    Setelah selesai memberikan pesan pesannya, Ki Patih pun segera bangkit berdiri, sedangkan ketiga orang itu dengan tergopoh gopoh segera berjongkok sambil menyembah.

    “Hamba bertiga mohon diri, Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha mewakili ketiga orang yang menghadap itu.

    “Baiklah,” jawab Ki Patih, “Lakukan tugas kalian masing masing dengan penuh kesungguhan dan rasa pengabdian yang tinggi terhadap kelangsungan kejayaan negeri ini.”

    Demikianlah akhirnya, setelah tidak ada lagi hal hal yang perlu disampaikan, Ki Patih Mandaraka pun kemudian mengijinkan ketiga orang yang menghadap itu untuk mengundurkan diri. Sementara Ki Patih telah bersiap siap pergi ke Istana Panembahan Hanyakrawati untuk melaporkan rencana penyeberangan ke Menoreh mendahului menyerang Panembahan Cahya Warastra dan para pengikutnya.

  26. sampai bertemu di TADBM 405
    matur suwun atas segala perhatian Cantrik Mentrik semuanya

    mbah man

    • Matur suwun mbah

      gandok 405 segera dibuka.

    • mantap mbah man…. matur nuwun…
      sepertinya di gandok 405 bakalan ada pergumulan yg dahsyat…. wah, hrs cari gledeg bambu yg kuaat agar tdk mudah roboh terkena desak-desakan para cantrik mentrik yg ingin rebutan rontal….

      • ha ha ha ….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, ternyata kemarin sore dan tadi malam ada kiriman lagi berarti 5 pel rontal di hari Selasa sekaligus bagian akhir jilid 404, tetap semangat !

    • Gaya/cara mbah man menulis TADBM sudah mirip dengan gaya/cara ki SHMintarja almarhum menulis..saya suka yg begini.tidak perlulah setiap langkah sampe detail.bisa bisa mereka tidak kunjung ”nyabrang” kali progo.nyuwun pangapunten mbah man dene putut dusun tumut tumut nyuwanten.

    • Pangapunten mbah_Man..sampun dangu kawulo mboten nginguk gandok ,tapi masih tetap setia mengikuti terus kok..(Tambah gayeng) ,salam dumateng Mbah_Man ugi ki.Puna ,p.satpam lan sedoyo sederek padepokan…mugiyo sedoyo pinarengan sehat selalu dalam lindungan اَللّهُ. SWT..amin

      • Nuwun

        @ Ki djoko_thole

        Salam sampun katampi, matur agung ing panuwun Ki.
        Ngaturakên kawilujêngan, sumånggå sinarêngan samyå dongå-dinongå, mugi konjuk katur dumatêng Ngarså Dalêm Gusti Hang Måhå Mêngku Lêlakon, tansaå paring kanugrahan dumatêng kitå sadåyå.

        Nuwun

        punåkawan

  27. matur suwn ingkang mboten upami mbah man……

  28. sampai ketemu di tepian
    kali Progo

  29. wuih…matep mbah…langsung digerojok rontal…

  30. Ngaturaken agunging panuwun dumateng mbah man..

    Sekaliyan salam taklim kagem Ki Djojosm……

  31. Mbah Man ada yang tertinggal, apa tidak seharusnya, Ki Patih Mandaraka sholat dulu ???

    • he he he ….
      mungkin yg dimaksud siap2 ke istana itu termasuk sholat dulu.

      • iYa.. masjidny kn deket dg istana…… ato mlh satu kompleks… 🙂

    • hehehe..Ki BP memang super teliti..
      memang cerita kadang tidak harus mendetail, jadinya susah …
      contoh: waktu di hutan tambak baya, AS dan PW juga tidak diceritakan sholat ashar.. tau2 sudah nyampe di kepatihan menjelang magrib. mungkin mereka sholat ashar setelah PW ketemu kudanya itu..(sengaja gak dicritakan biar pembaca berimajinasi sendiri..)
      demikian..
      matur suwun

      • Ini khan termasuk da’wah dengan cerita dalam tulisan Mbah. Karena diawali dengan adanya tulisan Adzan, maka alangkah baiknya jika sekalian berjama’ah di Masjid atau Mushola. Karena pada kenyataannya masih banyak kaum muslimin yang tidak memenuhi panggilan adzan ini. Sepunteneipun lho Mbah. InsyaAlloh kapan-kapan kalau ngantar daftar ulang anak ke pesantrennya sy usahan mampir, semoga Mbah Man berkenan dan tidak terganggu seperti kemarin.

        • @ Ki BP,

          mbah man sudah pernah mencoba seperti yang disampaiakn Ki BP di jilid 403, namun beberapa cantrik keberatan dan akhirnya mbah man kembali ke jalur semula jalur SHM dengan “sedikit” tambahan saja.

          ini mbah man masih menyimpan teksnya.

          Baru saja Glagah Putih merebahkan tubuhnya di atas amben besar yang terletak di tengah tengah bilik yang cukup luas itu, tiba tiba terdengar suara adzan Magrib berkumandang dari arah Masjid Kepatihan yang terletak di samping kanan depan dari bangunan induk istana Kepatihan.

          “Rara,” berkata Glagah Putih sambil bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu bilik, “Aku akan ke Masjid Kepatihan dulu untuk sholat berjama’ah. Sambil menunggu waktu, engkau dapat beristirahat sejenak.”

          “Ya, Kakang,” jawab Rara sambil mengikuti langkah Glagah Putih menuju ke pintu bilik, “Aku akan menyelarak pintu ini dari dalam. Kalau nanti Kakang kembali, jangan lupa untuk mengetuk pintu dengan irama dua kali ganda, ingat Kakang, dua kali ganda.”

          “Ya, aku akan mengingatnya,” sahut Glagah Putih, “Sebaiknya engkau pergi ke pakiwan dulu sebelum beristirahat.”

          “Ya, Kakang. Nanti saja setelah orang orang pergi ke Masjid Kepatihan.”

          Glagah Putih mengangguk anggukkan kepalanya sambil membuka pintu bilik kemudian melangkah keluar.

          “Berhati hatilah Rara,” pesan Glgagah Putih.

          “Ya, Kakang,”

          Sejenak kemudian Glagah Putih telah melangkah menyusuri halaman samping istana Kepatihan menuju ke tempat untuk membersihkan diri dan bersuci sebelum memasuki Masjid Kepatihan.

          Ketika kemudian Glagah Putih telah berdiri berjajar jajar bersama sama dengan para Jama’ah Sholat Magrib di Masjid Kepatihan, Iqomah pun segera dilantunkan dengan merdu dan mendayu dayu oleh seorang prajurit yang kebetulan sedang bebas tugas. Sejenak kemudian Ki Patih Mandaraka yang berkenan mengimami pun telah hadir.

          Sambil berdiri menghadap para jama’ah yang telah berdiri dengan tertibnya dalam shof shof yang teratur, Ki Patih pun berkata pelan namun getarannya bergaung sampai di baris yang paling belakang, “Luruskan shofmu dan berdiri merapatlah pada saudaramu, sesungguhnya bengkoknya barisanmu adalah gambaran bengkoknya hatimu, dan renggangnya engkau berdiri di antara saudaramu adalah gambaran putusnya persaudaraanmu.”

          Shof shof yang sudah tertata itu sejenak masih bergeser sedikit. Beberapa orang berusaha menyesuaikan dengan orang di sebelahnya.

          Ketika Ki Patih sudah yakin dengan tertibnya shof shof yang akan dipimpinnya untuk sholat berjama’ah, segera Ki Patih membalikkan badan dan memulai untuk Sholat Magrib berjama’ah.

          Sementara itu seorang Perwira yang berpangkat Rangga dengan tergesa gesa mendekati gardu penjagaan di regol depan istana Kepatihan. Beberapa prajurit yang sedang bertugas segera berdiri tegap dan berjajar di samping pintu regol yang terbuka lebar. Ketika perwira itu sudah tinggal beberapa langkah saja dari pintu regol, seorang prajurit tertua diantara mereka segera memberi aba aba penghormatan.

          “Terima kasih,” berkata perwira itu setelah membalas penghormatan, “Berapa orang dari kalian yang mengikuti Sholat Magrib?”

          Prajurit tertua itu menjawab dengan tegas, “Siap, kami seluruhnya ada sembilan prajurit yang bertugas di regol depan, dan empat prajurit ijin untuk menunaikan sholat magrib.”

          “Bagus,” sahut perwira itu, “Setelah empat orang kawanmu itu selesai, kalian dapat melaksanakan sholat Magrib berjamaah dengan aku.”

          Para prajurit yang sedang berjaga itu serempak menjawab, “Siap, Ki Rangga.”

          Perwira itu menganggukanggukkan kepalanya kemudian katanya sambil melangkah berlalu, “Aku akan ke pakiwan dulu. Setelah kawan kawan kalian kembali, susul aku di Masjid Kepatihan.”

          “Siap, Ki Rangga,” kembali para prajurit itu menjawab serempak.

          • sing iki wes nate diwedar…kudu diganti

      • Suwun Mbah, lanjut…………

  32. Rontal datang bertubi-tubi, padahal sudah pakai ajian Kakang Kawah Adi ari-ari masih belum mampu juga …. matur nuwun mBah Man

  33. selamat siang
    hari ini apa
    ada rontal ya?

  34. doanya orang berilmu g sm dng kebanyakan,laku diamnya orang mungkin jg krn untuk kewajiban.lawong namanya doa np jg hrs pake waktu setiap saat kan bs,hirup udara msk jg pake waktu,padahal jembatan hidup kita kan cm nafas,lbh banyaklah bersyukur,setiap nafas yg u hirup,krn itu kt msh diksh kesempatan untuk hidup,jng ingt hanya saat menjelang waktunya saja,suwun,…..

  35. kulonuwun, Assalamualaikum. Niki pripun, Mbah Man. unduh jilid 404-405 lan 406. Matur nuwunsak durunge.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s