TADBM-404

<< kembali ke TADBM-403 | lanjut ke TADBM-405 >>

TADBM-404

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30/12/2013 at 20:00  Comments (1.109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-404/trackback/

RSS feed for comments on this post.

1.109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Monggo Ki Punakawan, sampun dipun tenggo ….

    • monggo mbah-Man
      soho ki-Puna
      katah ingkang nenggo
      cantrik, mentrik…………

  2. Nuwun

    NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (I)
    © Punakawan Sang Botjah Angon

    Om awignam astu namas sidam, Mugi linupútnå ing rêridhu
    Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nityasa

    Tuhan, Pencipta, Penjaga, Pelindung, Pemelihara dan Pengakhir Alam, semoga tak ada halangan, sudjudku sesempurna sempurnanya.

    Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah duli Paduka Sang Maha Penguasa Alam Semesta.

    Dia yang kita harapkan. Dia yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, pelayan para kawula, pelindung orang miskin, pengatur segala isi negeri. Sang Penguasa dari raja penguasa, yang mengejahwantah, nampak di muka bumi, yang lebih diagungkan daripada segala mahluk. Merata, serta mengayomi semua hamba-hambaNya, Nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, Smaradewa di dalam cinta. Sang Maha Pati di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damainya mahluk dan dunianya.

    Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah pujasastra sejarah raja, mengawali tutur sabdanya.

    Dari zaman ke zaman sering kali kita mendapatkan pelajaran sejarah tentang hancurnya suatu kaum atau bangsa. Baik kehancuran akibat ketamakan bangsa itu sendiri atau karena serbuan dari pihak asing. Jika menggali sejarah Nusantara kita sendiri, maka kita mendapatkan hikmah dari hancurnya kerajaan Singosari, Kadiri, Sriwijaya, dan Majapahit atau kerajaan lainnya yang pernah ada di Nusantara. Ternyata faktor yang paling banyak menghancurkan suatu negeri atau bangsa adalah akibat perebutan kekuasan antara keluarga penguasa negara, kelompok, atau keturunan.

    Untuk membaca naskah selengkapnya silahkan kunjungi https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/49/

    • matur suwun ki puna.

      hmmmm …. kenapa ya kekisruhan demi kekisruhan selalu terjadi di tanah tercinta?

      akibat ulah para pangreh praja, rakyat kecil yang selalu jadi korban.

      • pagi yang mendung di kota smg

      • Ya benar Ki,disetiap kekisruhan pasti ada pihak-pihak yang ingin mencari kesempatan dalam kesempitan untuk meraih keuntungan pribadi. Manusia macam itu yang selalu membuat dunia ini tidak pernah aman semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan mereka .

    • Hadir, disambut oleh Ken Dedes Gadis Jelita ….. matur nuwun Ki Punakawan, nuwun sewu bahasane Ken Arok to niku ….. tetap semangat !

      • Katur Ki Jokowono,

        Kasinggihan Ki, “Bahasanya” Ken Arok melalui rontal Sêrat Para Datu, pada masa Jawa Pertengahan, kira-kira antara abad ke 12 dan abad ke 16.

    • matur nuwun ki… pengen cpt baca yg bagian 2 jg…. 🙂

  3. slamat siang..
    absen dulu ah…..

  4. Para mentrik..mbok di call mbah man gitu…kira2 ada apa dengan mbah man…

  5. dunia penuh warna
    kalau hanya putih saja
    semua maya
    kalau hitam saja
    seperti jelaga
    mungkin itulah
    kehidupan nyata

    matur nuwun Ki-Puna

  6. Nuwun

    Wayah lingsir wêngi.

    Kepada Sanak Kadangku yang masih terjaga,
    Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku.
    Untuk mengajakmu sejenak mengingat kembali langkah-langkah perjalanan kehidupan ini
    Mengendapkan hati namun sambil menembangkan kidung wengi
    tentang tanah negeri ini milik kita sendiri

    Saudara-saudaraku sesama diriku
    Sêdulur-sêdulurku semua anak-anak negeri

    Aku ajak engkau semua wahai sêdulur-sêdulurku untuk menarik nafas sejenak
    Untuk menata hati,
    menata kembali negeri ini
    meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali

    Ayolah saudara-saudaraku, wahai sêdulur-sêdulurku

    …..

    Sanak kadangku,

    Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …………..

    Selalu saja udrêg-udrêgan, rêbut mênang, rêbut bênêr, dan rebutan kekuasaan, demikian juga jika mencermati keadaan sekarang ini, para pemimpin, para penguasa, para manggala negara, sudah banyak yang durhaka kepada Tuhannya.

    Aturan dan hukum yang berlaku adalah tidak ada aturan dan hukum, dan itu mereka buat sendiri, dan mereka sendiri pula yang melanggarnya. Sementara aturan dan hukum yang telah dibuat Tuhan, karena Kasih SayangNya kepada mereka diabaikan, bahkan mereka tolak dan tentang habis-habisan. Agama yang hukum Tuhan itu hanya sebagai topeng dan alat semata.

    Mereka menganggap bahwa hukum Tuhan hanya layak disimpan di museum, dipajang di lemari, enak dilihat, dikaji, didiskusikan, diseminarkan, tetapi tidak enak untuk diberlakukan.

    Bencana berupa adzab. Longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung, kebakaran. Tindak durjånå, culikå, deksurå, adigang, adigung adigunå, Mo Limå Maling, main, madat, mabok, madon semakin meraja lela dan dianggap sudah biasa.

    Oh……
    Negeriku Nusantara Indonesiaraya.

    dan Dongeng Negeriku Nusantara Indonesiaraya ini masih akan berlanjut.

    Nuwun

    punåkawan

    • matur nuwun ki….

    • Maturnuwun Ki Puna.
      Dulu ada slogan tiji tibeh, sekarang malah saling mblejeti. Rame.

  7. sepi sekali…………

    • Kula rencangi Ki Ban

      • Wah ada Ki gembleh… Bagaimana kabar Ki..?

        • Katur:
          Ki Anatram
          Ki Bancak
          Ki Ki Gembleh

          Pangayubagyå kagêm panjênêngan pårå kaki ingkang dahat kinurmatan.

          punåkawan

          • Dhawah sami-sami, kagem panjenenganipun Ki Punakawan…
            Nuwun…

          • Maturnuwun Ki Puna.
            Katur Ki Rangga Anatram, jaya jaya wijayanti, kapan kondur ke nagari tetangga ?

  8. matur nuwun ki….

  9. Selamat malam….
    Absen dulu ahh….

  10. malem minggu
    ngancani pak satpam ronda

    nggih…, mangga Ki Bancak.
    Sayang pohong belakang gardu ronda belum waktunya dicabut. jagung juga baru berbunga, he he he …
    cuma ada wedang sere, masih hangat kok.

    • wedang sere
      karo jadah bakar
      maaaattuuukk

  11. Satpam dapat info (mudah-mudahan benar), kalau Ki Anatram telah menyelesaikan tapa pati geni tiga-hari tiga malam dan diakhiri dengan mandi keramas landa merang. Buah perjuangan tanpa lelah selama sekian tahun, mengaji dan melatih jurus-jurus baru untuk membuka simpul syaraf agar bisa mengungkap tenaga sakti sesuai dengan yang diinginkan.

    Dan…, berhasil…..

    Selamat Ki Anatram, semoga ilmunya berguna bagi masyarakat indonesia yang sedang “carut marut” ini.

    hmmm……

    • Amin ya robbal alamin,

      …inipun semua tidak lepas dari doa dan dorongan dari semua sesepuh, sanak kadang di gandhok ini….

      Salam hormat,

      • Alhamdulillah …….

        Sebentar lagi tentu “turun gunung” untuk mengamalkan ilmu yang telah dikuasainya.

        Akan segera muncul Anatram Midak di “dunia persilatan” sebagai “pendekar baru.”
        Jadi ingat Pendekar Pulau Es, yang belajar silat di pulau terpencil dan dingin sekali. Semoga kesaktian dan ketenaran Ki Anatram sebagaimana Pendekar Pulau Es tersebut. he he he … (maaf, bila tidak berkenan dengan persamaan tersebut)

        hmmmm, kapan ya Satpam bisa mengikuti jejak Ki Anatram.
        tentu bisa…., entah kapan.
        semangaat…….!!!!!

        Selamat…selamat….selamat….!!!!!

        • barusan dapat link berikut dari Kiaine.

          mohon maaf jika kurang berkenan link fotonya saya upload di sini, sungguh…, satpam senang sekali ada sanak kadang yang berhasil karena kerja kerasnya, untuk penyemangat satpam/risang agar lebih giat lagi untuk menyongsong hari depan

          • Walah jadi ikut narsis sedikit… Foto itu sebenarnya pesanan dari Nyi Anatram, katanya biar ada kenang2an..

            Semoga demikian bisa menjadi penyemangat Ki Satpam, dan rekan2 semua..

            Semangat..!!

            Nuwun,..

          • He he he …..
            ngapunten Ki.

            Insha Allah Ki Anatram, info ini telah membangkitkan semangat satpam, semangat untuk berjuang tak kenal lelah membangun cita-cita.

          • konten tidak tersedia

        • wow… selamat ki anatram… smgt saya jd ikut terbangkitkan untk bersungguh2 dlm menjalani laku… (meskipun tingkatanny terpaut jauh hehe..)

          • Nuwun, Nyi…semoga ketularan…

          • Saya sebetulnya sudah mendapat info dari Ki Mataram namun mau ngucapin selamat disini takut ga berkenan. Sekarang udah dibuka sama nakmas Risang, selamat atas keberhasilan meraih jurus sakti Ki Prof, eh Ki Anatram Midak.

  12. Waduh ketinggalan, sehari tidak nginguk gandok ternyata ada rerasan dari Ki Punakawan, matur nuwun Ki, ujare Ki Dalang “MANUT JAMAN KELAKONE” gitu Ki, mungkin Ki Punakawan bisa ‘ njlentrehke’ ….. matur nuwun, tetap semangat !

  13. Nuwun

    NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (II)
    © Punakawan Sang Botjah Angon

    Pakuwon Tumapel, yang di lereng Gunung Kawi itu kemudian berkembang menjadi kerajaan besar Singasari, setelah Tunggul Ametung dikudeta dengan cara yang licik oleh Ken Arok.

    Singasari semakin jaya di bawah kepemimpinan Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Kraton Kadiri dan Baginda Sri Kertajayapun ditundukkan dalam perang Ganter.

    Singasari yang semakin moncèr. Ken Arok pun selain gelarnya yang panjang itu, disebut juga sebagai swapitãmahã stawanã binaśrantalokapãlaka, orang yang mententramkan dan mempersatukan dunia.

    Tetapi kekuatan yang dibina Sang Bhatara inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran demi pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå sanak-kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Golongan Sinelir dan Golongan Rajasa.

    Untuk membaca naskah selengkapnya silahkan kunjungi https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/50/

    • Maturnuwun Ki Puna.

      • maatur nuwun ki wicaks

        • Ki Bukan……………

  14. Hadir, sambil menyimak Indonesia Raya 2, matur nuwun Ki Punakawan, ….. tetap semangat !

    • ikut nyimak juga……..,sambil makan marneng

      • awet donk ki…..🙂

  15. Hadir, sudah 3 pasaran Ki Haji Panembahan Mandaraka tidak menurunkan rontal ….. tetap semangat !

  16. Lanjutan TADBM 404 (Trims atas SMS nya)

    “Baiklah,” berkata Ki Patih Mandaraka selanjutnya, “Kita perlu Ki Tumenggung Tirtayudha untuk hadir disini. Ki Tumenggung Tirtayudha adalah perwira yang membawahi Prajurit Jalamangkara, prajurit yang mempunyai kemampuan sangat khusus, yaitu mampu bergerak di air dengan kemampuan yang luar biasa. Sedangkan di darat mereka adalah prajurit prajurit tangguh tanggon yang mampu menyerang dengan cepat kemudian menyingkir dengan cepat pula.”

    Ki Rangga Agung sedayu dan Pandan Wangi sejenak termangu mangu mendengarkan keterangan Ki Patih. Ki Rangga memang pernah mendengar rencana untuk membentuk sepasukan prajurit Jalamangkara yang mempunyai kemampuan bertempur di bawah air. Mereka bergerak bagaikan ikan dan mampu bertahan di bawah air dengan menggunakan alat khusus. Namun sejauh ini Ki Rangga belum pernah bertemu dengan para prajurit Jalamangkara, apalagi dengan Ki Tumenggung Tirtayudha.

    Ki Patih agaknya mengerti jalan pikiran kedua tamunya. Maka katanya kemudian, “Aku telah menyuruh seorang prajurit jaga untuk memanggil Tumenggung Tirtayudha agar hadir disini.”

    Belum selesai Ki Patih melanjutkan kata katanya, tiba tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Sejenak kemudian seorang yang berperawakan sedang dengan kumis tipis melintang di atas bibirnya telah memasuki ruang khusus tempat Ki Rangga dan Pandan Wangi mengahadap Ki Patih. Setelah menyembah terlebih dahulu, orang itupun kemudian duduk beberapa jengkal di sebelah Ki Rangga menghadap Ki Patih Mandaraka.

    “Nah, inilah Ki Tumenggung Tirtayudha itu,” berkata Ki Patih sambil tersenyum. Orang yang disebut Tumenggung Tirtayudha itu segera mengangukkan kepalanya kearah Ki Rangga dan Pandan Wangi.

    Segera saja Ki Rangga dan Pandan Wangi membalas anggukan Ki Tumenggung Tirtayudha itu.

    “Ki Tumenggung Tirtayudha,” berkata Ki Patih kemudian, “Apakah pasukanmu sudah siap? Malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh.”

    Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi menoleh ke arah Ki Tumenggung Tirtayudha, Tumenggung yang usianya tidak terpaut jauh dengan Ki Rangga Agung Sedayu sendiri.

    • ngangeni ki mBah

    • Alhamdulillah….
      akhirnya yang ditunggu datang juga

      matur suwun mbah

      • lho knapa bajuku berubah, hadu….

  17. Sambil melakukan sembah, Ki Tumenggung Tirtayudha pun kemudian menjawab, “Ampun Ki Patih. Pasukan Jalamangkara sudah siap untuk sewaktu waktu digerakkan. Tinggal menunggu titah dari Ki Patih.”

    Ki Patih mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian katanya sambil menoleh ke arah Ki Rangga Agung Sedayu, “Ki Rangga, malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh. Tugas pasukan Jalamangkara adalah bergerak dengan senyap kemudian menghancurkan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berjaga di tepian sebelah barat kali praga,” Ki Patih berhenti sejenak kemudian lanjutnya, “Ki Rangga dan Ki Tumenggung Tirtayudha masing masing akan membawa sepasukan parajurit Jalamangkara untuk menyeberang di tempat yang tidak diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Kalian harus berpacu dengan waktu. Hancurkan para pengawas musuh yang ada di tepian barat kali praga tanpa suara. Jangan sampai para pengawas itu sempat melontarkan isyarat ke padukuhan terdekat yang dijadikan landasan para pengikut Panembahan Cahya Warasta.”

    Ki Rangga dan Ki Tumenggung mengangguk anggukkan kepala mereka. Keduanya sudah mendapat gambaran bagaimana mereka harus membawa pasukannya menyeberang kali praga tanpa diketahui oleh lawan dan kemudian sekaligus menghancurkan mereka.

    Sementara Pandan Wangi yang hanya menjadi pendengar telah terusik. Tanpa sesadarnya dia telah mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Ki Patih yang justru sedang memandanginya sambil tersenyum. Agaknya Ki Patih telah menduga apa yang tersirat dalam dada anak perempuan satu satunya Ki Gede Menoreh itu.

    “Pandan Wangi,” berkata Ki Patih akhirnya, “Engkau tidak aku tugaskan untuk ikut menyeberang dengan berenang bersama Ki Rangga,” Ki Patih berhenti sejenak sambil mencoba melihat kesan yang tersirat di wajah Pandan Wangi, tampak seleret rona merah menghias wajah perempuan setengah baya itu. Sambil menahan senyum, Ki Patih pun kemudian melanjutkan kata katanya, “Aku telah menerima laporan dari prajurit sandi yang bertugas di tepian sebelah timur, mereka telah mengadakan hubungan dengan Glagah Putih dan Rara Wulan serta beberapa kawan kawannya. Tugasmu adalah bergabung dengan mereka. Tunggulah isyarat dari Ki Rangga maupun Ki Tumenggung. Jika tepi barat kali praga telah dibersihkan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra, tugas kalian adalah melumpuhkan para tukang satang yang ada di sebelah timur tepian kali praga, kemudian dengan menggunakan rakit rakit yang ada, kalian dapat menyusul Ki Rangga menyeberang ke Menoreh.”

    • Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Pandan Wangi bergumam, “O…. begitu to”

      he he he ……

      • Tiwas deg2an arep nyilem bareng Ki Rangga……
        TRimakasih Mbah-Man….pagi2 ndobel.

    • Maturnuwun mbah_man, kepereng nyuwun pirsa,
      Tumenggung Tirtayudha punapa taksih dhawah kadang kaliyan Tumenggung Yudhapramana saha Tumenggung Kartoyudo ?
      Ki Menggung……….dho neng ndi to priyagung loro kae ?

      • Ki Menggung YP awal tahun sempat jenguk padepokan, kalau Ki Menggung Kartoyudo sudah lama tidak sambang padepokan, bersamaan dengan menghilangnya cucunya, he he he ….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, sampai ketinggalan ……

      • sugeng siang sanak kadang sedoyo
        matur nuwun
        ki-Puna lan mbah-Man

  18. Matur nuwun sewu Mbah haji, semoga secepatnya keluar lanjutannya

  19. Tanpa disadarinya Ki Rangga telah menarik nafas dalam dalam mendengar keterangan Ki Patih Mandaraka, walaupun sebelumnya Ki Rangga telah menduga bahwa tidak mungkin Pandan Wangi akan diikut sertakan dalam gerakan pasukan Jalamangkara, namun tak urung hatinya merasa lega begitu Ki Patih telah menjatuhkan titah.

    “Baiklah,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Gerakan penyusupan kalian ke tepi barat kali praga ada kemungkinannya akan diketahui oleh pihak lawan. Tidak menutup kemungkinan para pengawas lawan akan berhasil mengirimkan isyarat ke padukuhan terdekat sehingga pasukan lawan akan berdatangan bagaikan lebah yang diganggu sarangnya dan pertempuran di tepi barat kali praga pun tidak mungkin dielakkan lagi.”

    “Ampun Ki Patih,” Ki Tumenggung Tirtayudha menyela, “Bukankah tujuan kita menyeberang ke tepi barat itu untuk mengalihkan tempat pertempuran keluar dari ibu kota Mataram?”

    “Engkau benar, Ki Tumenggung. Namun sebenarnyalah aku menginginkan sebuah kejutan bagi orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu. Setelah melumpuhkan para pengikutnya yang berjaga di tepi barat kali praga, begitu Matahari terbit, kita akan menyerbu padukuhan yang dijadikan landasan para pengikut Cahya Warastra itu.”

    Ki Tumenggung Tirtayudha mengangguk anggukkan kepalanya. Sementara Ki Rangga segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih. Kita memerlukan berpuluh puluh rakit untuk menyeberangkan pasukan cadangan yang sekarang masih berada di barak barak.”

    “Ya,” jawab Ki Patih cepat, “Sementara kalian berdua menyeberang ke tepian sebelah barat, aku sendiri yang akan memimpin pasukan cadangan dan sebagian pasukan dari Kadipaten dan Kademangan Kademangan yang tidak jadi diberangkatkan ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka yang kurang memenuhi syarat waktu itu untuk ikut bertempur ataupun karena suatu hal yang lain, namun sekarang mereka telah siap untuk terjun ke medan perang sedahsyat apapun.”

    Ki Rangga dan Ki Tumenggung hampir bersamaan telah menarik nafas dalam dalam sambil mengangguk anggukkan kepala. Ki Patih ternyata telah memperhitungkan semua itu dengan cermat. Pasukan cadangan yang ada di ibu kota Mataram sengaja disimpan di barak barak dan tidak diperkenankan untuk keluar menampakkan diri kecuali ada ijin khusus dari Perwiranya. Demikian juga pasukan pasukan yang tidak jadi dikirim ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka atau suatu hal yang lain, kini telah siap untuk diturunkan ke medan pertempuran.

    “Kesan yang tampak di ibu kota Mataram memang sangat lemah,” gumam Ki Rangga dalam hati, “Penjagaan dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lemah. Hanya beberapa penjaga yang terlihat di gerbang Timur dan gerbang Barat. Sedangkan prajurit yang meronda pun hanya tiga atau empat orang dengan berkuda. Berbeda dengan biasanya yang terdiri dari lima belas sampai dua puluh prajurit berkuda.”

    • wah…..
      masih ada lagi…
      matur suwun mbah….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, tripel sudah …..

  20. Mbah, sms nya cuma sekali, tapi wedaran sampai triple…
    makasih ya

    • ehem…ehemm..
      sama2 Non..

      • ini pertanda akan wedar lagi rontal kah?
        he he he ….. ngapunten mbah….. (mblayu…!!!)

      • Melu2 ehem…ehem….ah,
        suwun nggih mbah.

      • selamat pagi Mbah_Man, nyuwun gunging pangapunten dereng saged kintun sms, tlp, kintun sanesipun. Nembe buruh derep meniko…

    • o…. yang sms Bu Lik Miss Nona ta
      matur suwun nggih.

      supaya keluar yang ke empat, Bu Lik nelpon saja, he he he …..

      • setuju dengan pak Satpam…

        hehehehe

    • Suwun Mbah,…..kapan-kapan sowan Mbah Man lagi lah, ayo siapa mau ikut ?

    • Bulik, sms lagi dong……

  21. Satpam lupa-lupa ingat, maklum sudah agak lama simbah tidak wedaran. Dan buku besar ada di padepokan.
    Sepertinya satu rontal lagi (paling banyak 2), TADBM-404 sudah bisa ditutup.

    monggo mbah

    satpam sudah menyiapkan ubo-rame buka gandok baru.

    • O..o…, ternyata masih kurang dua rontal lagi, baru bisa ditutup.

      • hari ini panen raya
        matur sanget nuwun
        mbah-Man

  22. “Ampun Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Kapankah pasukan Jalamangkara diperkenankan bergeser ke tepian kali praga untuk memulai pergerakan menyusup ke daerah lawan?”

    Sejenak Ki Patih menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Ki Tumenggung Tirtayudha. Jawabnya kemudian, “Wayah sirep uwong pasukan Jalamangkara sudah harus ditepian sebelah timur kali praga. Kalian berdua harus memilih tempat yang terpisah jauh dan akan dipandu oleh para prajurit sandi yang telah mengenal daerah sepanjang tepian kali praga,” Ki Patih berhenti sejenak untuk mengambil nafas, kemudian lanjutnya, “Sementara pasukan cadangan ditambah dengan pasukan yang tidak jadi berangkat ke Panaraga, mungkin jumlahnya mendekati dua Bregada, secara berangsur angsur akan bergerak secara berkelompok agar tidak banyak menarik perhatian, sudah harus tiba di tepian sebelum tengah malam.”

    “Bagaimana dengan rakit rakit itu, Ki Patih?” bertanya Ki Rangga dengan nada sedikit ragu ragu. Menyeberangkan pasukan sejumlah hampir dua bregada memerlukan sekitar delapan puluh buah rakit.

    Ki Patih tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum, “Kita bersyukur bahwa Panembahan Cahya Warastra telah berbaik hati membuatkan kita rakit rakit yang tersimpan di tepian sebelah barat kali praga. Rencananya rakit rakit itu akan digunakan oleh para pengikut Cahya Warastra itu untuk menyeberang ke Mataram pada saat penyerbuan tiba. Adalah tugas Ki Rangga dan Ki Tumenggung untuk melumpuhkan para penjaganya dan sekaligus menguasai rakit rakit itu untuk selanjutnya didorong ke tepian sebelah timur sebagai sarana mengangkut pasukan kita,” sampai di sini Ki Patih berhenti sejenak sambil berpaling ke arah Pandan Wangi. Kemudian lanjutnya, “Dan itu adalah tugasmu Pandan Wangi. Engkau akan dibantu oleh Glagah Putih bersama kawan kawannya.”

    Mereka yang hadir di ruangan itu hampir bersamaan telah mengangguk anggukkan kepala mereka. Agaknya para prajurit sandi Mataram telah mendapatkan keterangan yang lengkap tentang keadaan di tepian sebelah barat kali praga.

    “Apakah masih ada sesuatu yang membuat kalian ragu ragu atau kurang jelas?” bertanya Ki Patih setelah sejenak mereka yang berada di ruangan itu terdiam.

    Ki Rangga yang duduk bersila tepat di depan Ki Patih segera beringsut setapak maju. Sambil menyembah katanya kemudian, “Ampun Ki Patih. Setelah pertemuan ini selesai, ijinkanlah hamba bersama dengan Ki Tumenggung untuk menemui pasukan Jalamangkara di barak mereka. Kami berdua masih memerlukan waktu untuk menjelaskan rencana kita kepada para pemimpin prajurit agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam melaksanakan rencana sesuai petunjuk Ki Patih.”

    Ki Patih tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Memang demikianlah seharusnya Ki Rangga. Namun ingat, gerakan kita ini adalah bersifat sangat rahasia. Hanya para pemimpin prajurit sajalah yang wajib mengetahui arah gerakan kita. Untuk selanjutnya, para prajurit akan diberi penjelasan yang lebih mendalam setelah kalian berada di tepian sebelah timur kali praga.”

    • Ups…..
      baru tahu kalau simbah medar rontal.

      ngapunten njih, untuk menutup rontal TADBM-404 ternyata masih kurang satu rontal lagi.

      Tetapi, monggo kerso panjenengan, apakah sudah boleh ditutup atau masih harus menunggu satu rontal lagi.

      nuwun

  23. Matur nuwun Mbah……

  24. satu rontal lagi…buka 405…
    matur nuwun mbah,
    ki patih mandaraka memang jendral besar,
    perhitungannya detail dan matang…

  25. “Hamba, Ki Patih,” hampir berbareng Ki Rangga dan Ki Tumenggung menjawab.

    “Kunci keberhasilan rencana kita ini adalah kerahasiaan,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Masing masing pihak harus menjaga kerahasiaan rencana ini. Walaupun kepada orang terdekat kita, istri atau anak misalnya, kalau mereka tidak ada hubungannya dengan rencana ini, atau mereka memang tidak berhak untuk mendengar rencana ini, jangan sampai rencana ini diceritakan kepada mereka.”

    Ketiga orang yang menghadap itu hanya mengangguk anggukkan kepala mereka tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara dari arah Masjid Kepatihan terdengar suara panggilan yang mendayu dayu memanggil umat manusia untuk menunaikan kewajiban menyembah kepada Sang Pencipta alam semesta.

    Sejenak Ki Patih berdiam diri sambil mendengarkan suara panggilan untuk menunaikan kewajiban kepada Yang Maha Agung itu sampai selesai.

    “Nah,” berkata Ki Patih kemudian, “Kita masih mempunyai waktu beberapa saat untuk mempersiapkan diri. Pergunakanlah waktu sebaik baiknya. Jangan menampakkan kesibukan yang luar biasa yang dapat memancing pertanyaan bagi orang orang yang tidak ada hubungannya dengan rencana ini, sehingga kemungkinan kebocoran rencana kita ini sampai ke telinga musuh dapat dihindari,”

    Setelah selesai memberikan pesan pesannya, Ki Patih pun segera bangkit berdiri, sedangkan ketiga orang itu dengan tergopoh gopoh segera berjongkok sambil menyembah.

    “Hamba bertiga mohon diri, Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha mewakili ketiga orang yang menghadap itu.

    “Baiklah,” jawab Ki Patih, “Lakukan tugas kalian masing masing dengan penuh kesungguhan dan rasa pengabdian yang tinggi terhadap kelangsungan kejayaan negeri ini.”

    Demikianlah akhirnya, setelah tidak ada lagi hal hal yang perlu disampaikan, Ki Patih Mandaraka pun kemudian mengijinkan ketiga orang yang menghadap itu untuk mengundurkan diri. Sementara Ki Patih telah bersiap siap pergi ke Istana Panembahan Hanyakrawati untuk melaporkan rencana penyeberangan ke Menoreh mendahului menyerang Panembahan Cahya Warastra dan para pengikutnya.

  26. sampai bertemu di TADBM 405
    matur suwun atas segala perhatian Cantrik Mentrik semuanya

    mbah man

    • Matur suwun mbah

      gandok 405 segera dibuka.

    • mantap mbah man…. matur nuwun…
      sepertinya di gandok 405 bakalan ada pergumulan yg dahsyat…. wah, hrs cari gledeg bambu yg kuaat agar tdk mudah roboh terkena desak-desakan para cantrik mentrik yg ingin rebutan rontal….

      • ha ha ha ….

    • Matur nuwun Ki Haji Mbah_Man, ternyata kemarin sore dan tadi malam ada kiriman lagi berarti 5 pel rontal di hari Selasa sekaligus bagian akhir jilid 404, tetap semangat !

    • Gaya/cara mbah man menulis TADBM sudah mirip dengan gaya/cara ki SHMintarja almarhum menulis..saya suka yg begini.tidak perlulah setiap langkah sampe detail.bisa bisa mereka tidak kunjung ”nyabrang” kali progo.nyuwun pangapunten mbah man dene putut dusun tumut tumut nyuwanten.

    • Pangapunten mbah_Man..sampun dangu kawulo mboten nginguk gandok ,tapi masih tetap setia mengikuti terus kok..(Tambah gayeng) ,salam dumateng Mbah_Man ugi ki.Puna ,p.satpam lan sedoyo sederek padepokan…mugiyo sedoyo pinarengan sehat selalu dalam lindungan اَللّهُ. SWT..amin

      • Nuwun

        @ Ki djoko_thole

        Salam sampun katampi, matur agung ing panuwun Ki.
        Ngaturakên kawilujêngan, sumånggå sinarêngan samyå dongå-dinongå, mugi konjuk katur dumatêng Ngarså Dalêm Gusti Hang Måhå Mêngku Lêlakon, tansaå paring kanugrahan dumatêng kitå sadåyå.

        Nuwun

        punåkawan

  27. matur suwn ingkang mboten upami mbah man……

  28. sampai ketemu di tepian
    kali Progo

  29. wuih…matep mbah…langsung digerojok rontal…

  30. Ngaturaken agunging panuwun dumateng mbah man..

    Sekaliyan salam taklim kagem Ki Djojosm……

  31. Mbah Man ada yang tertinggal, apa tidak seharusnya, Ki Patih Mandaraka sholat dulu ???

    • he he he ….
      mungkin yg dimaksud siap2 ke istana itu termasuk sholat dulu.

      • iYa.. masjidny kn deket dg istana…… ato mlh satu kompleks…🙂

    • hehehe..Ki BP memang super teliti..
      memang cerita kadang tidak harus mendetail, jadinya susah …
      contoh: waktu di hutan tambak baya, AS dan PW juga tidak diceritakan sholat ashar.. tau2 sudah nyampe di kepatihan menjelang magrib. mungkin mereka sholat ashar setelah PW ketemu kudanya itu..(sengaja gak dicritakan biar pembaca berimajinasi sendiri..)
      demikian..
      matur suwun

      • Ini khan termasuk da’wah dengan cerita dalam tulisan Mbah. Karena diawali dengan adanya tulisan Adzan, maka alangkah baiknya jika sekalian berjama’ah di Masjid atau Mushola. Karena pada kenyataannya masih banyak kaum muslimin yang tidak memenuhi panggilan adzan ini. Sepunteneipun lho Mbah. InsyaAlloh kapan-kapan kalau ngantar daftar ulang anak ke pesantrennya sy usahan mampir, semoga Mbah Man berkenan dan tidak terganggu seperti kemarin.

        • @ Ki BP,

          mbah man sudah pernah mencoba seperti yang disampaiakn Ki BP di jilid 403, namun beberapa cantrik keberatan dan akhirnya mbah man kembali ke jalur semula jalur SHM dengan “sedikit” tambahan saja.

          ini mbah man masih menyimpan teksnya.

          Baru saja Glagah Putih merebahkan tubuhnya di atas amben besar yang terletak di tengah tengah bilik yang cukup luas itu, tiba tiba terdengar suara adzan Magrib berkumandang dari arah Masjid Kepatihan yang terletak di samping kanan depan dari bangunan induk istana Kepatihan.

          “Rara,” berkata Glagah Putih sambil bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu bilik, “Aku akan ke Masjid Kepatihan dulu untuk sholat berjama’ah. Sambil menunggu waktu, engkau dapat beristirahat sejenak.”

          “Ya, Kakang,” jawab Rara sambil mengikuti langkah Glagah Putih menuju ke pintu bilik, “Aku akan menyelarak pintu ini dari dalam. Kalau nanti Kakang kembali, jangan lupa untuk mengetuk pintu dengan irama dua kali ganda, ingat Kakang, dua kali ganda.”

          “Ya, aku akan mengingatnya,” sahut Glagah Putih, “Sebaiknya engkau pergi ke pakiwan dulu sebelum beristirahat.”

          “Ya, Kakang. Nanti saja setelah orang orang pergi ke Masjid Kepatihan.”

          Glagah Putih mengangguk anggukkan kepalanya sambil membuka pintu bilik kemudian melangkah keluar.

          “Berhati hatilah Rara,” pesan Glgagah Putih.

          “Ya, Kakang,”

          Sejenak kemudian Glagah Putih telah melangkah menyusuri halaman samping istana Kepatihan menuju ke tempat untuk membersihkan diri dan bersuci sebelum memasuki Masjid Kepatihan.

          Ketika kemudian Glagah Putih telah berdiri berjajar jajar bersama sama dengan para Jama’ah Sholat Magrib di Masjid Kepatihan, Iqomah pun segera dilantunkan dengan merdu dan mendayu dayu oleh seorang prajurit yang kebetulan sedang bebas tugas. Sejenak kemudian Ki Patih Mandaraka yang berkenan mengimami pun telah hadir.

          Sambil berdiri menghadap para jama’ah yang telah berdiri dengan tertibnya dalam shof shof yang teratur, Ki Patih pun berkata pelan namun getarannya bergaung sampai di baris yang paling belakang, “Luruskan shofmu dan berdiri merapatlah pada saudaramu, sesungguhnya bengkoknya barisanmu adalah gambaran bengkoknya hatimu, dan renggangnya engkau berdiri di antara saudaramu adalah gambaran putusnya persaudaraanmu.”

          Shof shof yang sudah tertata itu sejenak masih bergeser sedikit. Beberapa orang berusaha menyesuaikan dengan orang di sebelahnya.

          Ketika Ki Patih sudah yakin dengan tertibnya shof shof yang akan dipimpinnya untuk sholat berjama’ah, segera Ki Patih membalikkan badan dan memulai untuk Sholat Magrib berjama’ah.

          Sementara itu seorang Perwira yang berpangkat Rangga dengan tergesa gesa mendekati gardu penjagaan di regol depan istana Kepatihan. Beberapa prajurit yang sedang bertugas segera berdiri tegap dan berjajar di samping pintu regol yang terbuka lebar. Ketika perwira itu sudah tinggal beberapa langkah saja dari pintu regol, seorang prajurit tertua diantara mereka segera memberi aba aba penghormatan.

          “Terima kasih,” berkata perwira itu setelah membalas penghormatan, “Berapa orang dari kalian yang mengikuti Sholat Magrib?”

          Prajurit tertua itu menjawab dengan tegas, “Siap, kami seluruhnya ada sembilan prajurit yang bertugas di regol depan, dan empat prajurit ijin untuk menunaikan sholat magrib.”

          “Bagus,” sahut perwira itu, “Setelah empat orang kawanmu itu selesai, kalian dapat melaksanakan sholat Magrib berjamaah dengan aku.”

          Para prajurit yang sedang berjaga itu serempak menjawab, “Siap, Ki Rangga.”

          Perwira itu menganggukanggukkan kepalanya kemudian katanya sambil melangkah berlalu, “Aku akan ke pakiwan dulu. Setelah kawan kawan kalian kembali, susul aku di Masjid Kepatihan.”

          “Siap, Ki Rangga,” kembali para prajurit itu menjawab serempak.

          • sing iki wes nate diwedar…kudu diganti

      • Suwun Mbah, lanjut…………

  32. Rontal datang bertubi-tubi, padahal sudah pakai ajian Kakang Kawah Adi ari-ari masih belum mampu juga …. matur nuwun mBah Man

  33. selamat siang
    hari ini apa
    ada rontal ya?

  34. doanya orang berilmu g sm dng kebanyakan,laku diamnya orang mungkin jg krn untuk kewajiban.lawong namanya doa np jg hrs pake waktu setiap saat kan bs,hirup udara msk jg pake waktu,padahal jembatan hidup kita kan cm nafas,lbh banyaklah bersyukur,setiap nafas yg u hirup,krn itu kt msh diksh kesempatan untuk hidup,jng ingt hanya saat menjelang waktunya saja,suwun,…..

  35. kulonuwun, Assalamualaikum. Niki pripun, Mbah Man. unduh jilid 404-405 lan 406. Matur nuwunsak durunge.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: