TADBM-398

<< kembali ke TADBM-397 | lanjut ke TADBM-399 >>

tadbm-398

Halaman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 31/05/2012 at 03:01  Komentar (1.075)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-398/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

1.075 KomentarTinggalkan komentar

  1. Menunggu datang cinta, … eh rontal …

    • wisiiiik esuk esuk kok mpun nunggu niku ta ? :)

      • Lah iya nunggu nyambi kerja, biasane Mbah_man medar rontale esuk esuk,

        • kedahipun, kerja nyambi nunggu rontal ten, …. ampun kolawik, mangke bosse necuuu lheeee :) :)

          • kecuali klo ki jokowo yg jd bosse :)

          • Oh gitu ya, wah iku ketemu ahli bahasa, …..

          • ingkang ahli bahasa menika, mbak dalem, … mbak padmi :)

          • eh ki jokowo itu termasuk supporternya ki jokowi ingkang nyalonaken dados adipati wonten bang kulon ga ? :)

          • sing bade ninggalake bang bang tut…eh…tengah ? :D

          • menawi bang wetan, adipatinipun taksih ki yupram ya ? …. lom ada tanda2 rekayasa penggulingan ya ? :) :) :)

          • eh tapi denger2 klo malem ki yupram suka digulingkan ama nyainya ya ? :)

          • Penonton biasa wae lah, Jeng Mita kalian Mbak Padmi sing tanggane Jokowi toh ?

          • injih ki, dalem wonten bang tengah :)

  2. test test

  3. sepi…… sugeng sonten

  4. Sugeng Ndalu

  5. sugeng enjing…wah dereng wonten lanjutanipun rontal, damel sangu malem minggu…mbah dilanjut, sakderenge berangkat…hiks…

  6. Malam Minggu mampir padepokan

    • minggu soree mampir nginguk padepokan

      • Malem Senin Nginguk Lagi

        • Hari Senen…ingak inguk

          • Ingak-inguk hari Senin …..

          • Sugeng ingak inguk…..senenan ! :D

        • nginguk bawuk

  7. senengane ingak inguk, sugeng diseneni…

    • Weh….Ki Bawuk…eh…Ki mbah Man paring dawuh….
      Sugeng……nyeneni mbah… :D

      • weh….bawuke sopo

    • Niku lho diseneni Mbah Man …., mbok ampun dho ingak inguk !

  8. Masih setia menunggu

  9. Lanjutan TADBM 398

    Sementara itu Ki Demang Sangkal Putung yang sedang duduk bersandaran tiang pendapa menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di halaman rumahnya dengan hati yang terguncang guncang. Swandaru yang terluka, pemimpin perguruan Toya Upas yang terbujur diam, entah mati atau pingsan, dan Wanengpati yang hancur lumat menjadi sayatan daging dan pecahan tulang. Hati tua Ki demang itu benar benar tergunjang, perlahan lahan kesadarannyapun mulai melemah. Samar samar masih terdengar umpatan dan cacian kemarahan para pengawal Sangkal Putung, namun yang terasa sangat memilukan hati adalah jeritan Pandan Wangi yang berusaha menolong suaminya yang perlahan lahan jatuh terlentang tak sadarkan diri karena pengaruh racun dari senjata Kyai Sarpa Kenaka.

    Bersamaan dengan hilangnya kesadaran Ki Demang, dua sosok bayangan menyelinap memasuki halaman rumah Ki Demang justru melalui regol depan yang tak terjaga, karena seluruh perhatian pengawal tercurah kepada Wanengpati.

    Sejenak kedua orang yang menyelinap masuk ke halaman itu ragu ragu. Sambil menggamit seseorang yang berdiri di sebelahnya, orang yang kelihatannya sudah sangat tua tapi masih sehat dan kuat itu memberi isyarat untuk mendekat kearah kerumunan para pengawal Sangkal Putung.

    Ketika seorang pengawal yang berdiri di paling belakang dari kerumunan itu mendengar desir langkah di belakangnya itu berpaling, tanpa menggunakan nalar yang bening segera saja dia berteriak untuk menarik perhatian kawan kawannya.

    Segera saja kedua orang yang baru memasuki halaman rumah Ki Demang itu terkepung dengan senjata yang teracu, bahkan beberapa orang sudah mulai mendesak ke depan sambil mengayun ayunkan senjata mereka.

    “Selamat malam Ki sanak semua,” dengan tenang orang tua itu menyapa sambil menggandeng tangan cucunya, seorang pemuda tanggung yang berwajah sangat tampan.

    Untuk beberapa saat para pengawal itu tertegun. Ketenangan dan kewibawaan orang tua itu justru telah menggetarkan hati. Tidak tampak kegelisahan sama sekali dari kedua pendatang itu, bahkan pemuda tanggung yang sangat tampan itu dengan manja telah menyandarkan kepalanya di bahu orang tua yang menggandengnya.

    Namun kejadian itu tidak berlangsung lama, seorang pengawal yang bertubuh kurus segera saja melangkah ke depan sambil berkata, “Ki Sanak, kami tidak mengenal kalian berdua. Di halaman ini baru saja terjadi peristiwa yang menggemparkan dan tiba tiba saja kalian muncul. Jangan salahkan kami kalau kami terpaksa bertindak tegas jika kalian berdua tidak dapat menjelaskan jati diri dan keperluan kalian memasuki halaman ini.”

    Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk, kemudian katanya, “Kami adalah perantau yang berasal dari Padepokan Glagah Tinutu di lereng gunung Kendeng. Pemuda ini bernama Damarpati dan aku adalah Kakeknya.”

    Pengawal yang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Nama perguruan itu masih asing di telinganya, sambil berpaling ke arah kawan kawannya, dia berseru, “Apakah diantara kalian ada yang pernah mendengar nama padepokan Glagah Tinutu dari lereng gunung Kendeng?”

    Beberapa pengawal saling berpandangan, namun akhirnya beberapa orang menggelengkan kepala sambil berkata, “Kami belum pernah mendengarnya.”

    “Nah, apa katamu Kakek tua?” pengawal bertubuh kurus itu kembali bertanya sambil memandang tajam kearah kedua orang yang berdiri di hadapannya.

    “O.., itu memang mungkin sekali karena letak perguruan kami sangat jauh dan baru kali inilah kami merantau sampai di tempat ini.” Jawab Kakek tua itu dengan tenang.

    “Jadi, apakah aku harus mengirimkan satu dua pengawal ke lereng gunung Kendeng untuk membuktikan kebenaran ucapanmu itu?” kembali pengawal bertubuh kurus itu bertanya dengan nada setengah jengkel.

    “O.., tidak Ki sanak, itu tidak perlu. Tapi sebenarnyalah kami memang berasal dari padepokan Glagah Tinutu, dan yang menuntun kami sampai ketempat ini adalah suara cambuk itu. Suara cambuk yang dapat mengingatkan kami pada seseorang yang bergelar orang bercambuk.”

    Ketika kakek tua itu menyebut nama orang bercambuk, bagaikan tersadar dari mimpi buruk, para pengawal itupun serentak berpaling kearah dimana Swandaru telah jatuh terduduk.

    Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Swandaru ternyata telah terbujur diam dan di sampingnya, Pandan Wangi sambil menahan tangis berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyadarkannya.

    Hampir berbarengan para pengawal itu pun segera berlomba lomba berlari dahulu mendahului untuk sampai ketempat Swandaru terbaring, sehingga keberadaan Damarpati dan Kakeknya telah mereka lupakan.

    Kakek Damarpati hanya dapat tersenyum melihat tingkah polah para pengawal Sangkal Putung itu. Sambil tetap menggandeng tangan cucunya, dia segera melangkah dengan tergesa gesa menyusul ke arah para pengawal itu berlari menuju tempat Swandaru terbaring.

    Para pengawal yang telah sampai di tempat Swandaru terbaring segera mengerumuninya. Beberapa orang mencoba membantu Pandan wangi untuk menyadarkan Swandaru. Ada yang memijit mijit kakinya, menekan nekan pundaknya, bahkan ada yang telah mencari air ke perigi di belakang rumah untuk dibasuhkan diwajah Swandaru.

    Sedangkan Pandan Wangi yang sedang meraba dada suaminya menjadi sangat terkejut. Tubuh itu terasa sangat dingin dan hampir tidak terasa detak jantungnya. Ketika dengan tergesa gesa ditempelkan telinganya di dada suaminya, detak jantung itu begitu jauh dan lembut, kadang muncul kadang tenggelam.

    “Apakah ada diantara kalian yang dapat memanggil Tabib di Kademangan ini?” akhirnya dengan suara yang sendat menahan tangis Pandan Wangi berkata.

    Para pengawal itu saling pandang sejenak, namun baru saja beberapa orang berdiri untuk menjemput Tabib yang ada di Kademangan itu, terdengar suara lembut tepat dibelakang Pandan Wangi.

    “Ijinkanlah aku melihat lukanya,” ternyata Kakek Damarpati telah sampai ditempat itu. Sambil berjongkok di sebelah Pandan Wangi, dia berusaha mengamat amati luka di pinggang Swandaru yang tidak mengalirkan darah sama sekali, namun kulit disekitar luka itu telah menghitam dan membengkak.

    Pandan Wangi terkejut begitu mendapati seseorang berjongkok disebelahnya, namun sebelum dia sempat bertanya, orang tua itu telah berbisik dengan sareh, “Ma’afkan aku, Nyi. Lukanya harus segera ditangani. Untunglah ketahanan tubuhnya luar biasa. Walaupun dia tidak mempunyai ilmu kebal, namun aliran racun di jalan darahnya belum sampai ke jantung.”

    Para pengawal yang berkerumun itu terkejut dan baru menyadari bahwa mereka masih mempunyai urusan dengan kedua orang asing itu, namun ketika dilihatnya Pandan wangi hanya diam saja, mereka menjadi ragu ragu untuk bertindak.

    Kakek Damarpati benar benar bekerja dengan cepat dan cermat. Dikeluarkannya dari kantong ikat pinggangnya sebuah batu yang berwarna putih bersih. Segera saja batu itu ditempelkan ke luka Swandaru yang berwarna hitam legam, perlahan batu itupun berubah warna menjadi hitam, sedangkan warna kehitam hitaman dari luka di pinggang Swandaru perlahan lahan telah memudar, sejalan dengan itu setetes demi setetes darah yang berwarna merah mulai mengalir dari luka itu.

    “Apakah aku bisa mendapatkan semangkuk air bersih?” berkata Kakek Damarpati sambil melepas batu yang menempel di luka Swandaru. Kemudian diambilnya lagi sekantung obat serbuk yang ditaburkan keatas permukaan luka yang mulai mengalirkan darah. Perlahan lahan darah yang mengalir dari luka yang cukup dalam itupun akhirnya mampat.

    Ketika seorang pengawal mengulurkan semangkuk air bersih, dengan cepat Kakek Damarpati menyambutnya. Kemudian dari kantung ikat pinggangnya yang lain dikeluarkan sebuah bumbung kecil yang berisi beberapa butir obat berwarna kehijau hijauan. Setelah memasukkan tiga butir obat kedalam mangkuk yang berisi air itu, orang tua itupun telah mengaduknya dengan menggunakan sebuah silatan bambu yang juga diambil dari kantung ikat pinggangnya.

    Pandan Wangi benar benar terkesima melihat gerak gerik yang cekatan dari oarng tua itu. Dalam pandangannya seolah olah dia kembali melihat seorang orang tua yang berkain gringsing dan berwajah sareh sedang mengobati ayahnya yang terluka oleh senjata lawannya, Ki Tambak Wedi.

    Pandan Wangi tersadar ketika orang tua itu berkata kepadanya, “Tolong bantu aku Nyi, untuk meminumkan cairan obat ini agar racun yang terlanjur mengalir dalam darahnya menjadi tawar dan membantu memulihkan kekuatannya.”

    Dengan cepat Pandan Wangi memangku kepala suaminya. Dengan perlahan lahan dan sangat hati hati, kakek Damarpati itu berusaha memasukan setetes demi setetes cairan obat itu ke mulut Swandaru. Memang sangat sulit karena Swandaru belum tersadar dari pingsannya, namun dengan keahlian seorang tabib yang mumpuni, akhirnya tetes tetes obat itupun mampu melewati tenggorokan Swandaru.

    • Matur nuwun Mbah Man, rontalnya untuk lauk makan siang ….

      • Matur nuwun Mbah Man, ……senenan-e …. :D

        • Wah Kek Karto itu “sungguh terrrlaaluuu”
          masak nama mbah man diganti mbah bawuk…?
          hehehehe
          cucunya dah muncul tapi kok gak seperti dulu yaaa?
          penuh canda dan ceria..
          sebagai orang tua mbah bisa merasakan kelainan itu..
          hayooo..sama kek Karto diapain aja…?
          ngakuuuuuu….?
          hehehehehe

          • mbah man ngeceeee :( :( :(
            iya emang sekarang bedaaaa :(
            dah tambah tuaaaa :( :( :(

    • maturnuwun sanget njih mbah :)

      • On 18/09/2012 at 17:38 Risang said:

        mbah_man said:

        …………. Insya Alloh syukuran haji tgl 26 sep 2012 wonten padepokan sekar keluwih sidoarjo. Bidal dateng tanah suci insya Alloh tgl 3 Okt 2012.
        Para Cantrik dalah Mentrik ingkang ngersakaken badhe rawuh tgl 26 Okt 2012 wonten padepokan sekar keluwih kawulo sumanggakaken.

        he he he …..
        monggo…, sanak kadang yang berada di sekitar padepokan sekar keluwih Sidoarjo bisa hadir pada acara tersebut: Ki “Menggung” Kartojudo, Ki Budi Prasojo, Ni Nunik, Ki “Rakyan” Gembleh, Ki “Menggung” Yudha Pramana (Ki Gundul, eh…. kok sudah lama gak muncul ya?), siapa lagi ya? ….
        kalau mau kontak beliau, nanti saya kirim no email beliau, tapi apakah alamat email para cantrik itu benar, jangan-jangan alamat palsu. Kena deh……., Satpam ketipu lagi, he he he ……, atau kirim alamat email yang benar kepelangisingosari@gmail.com
        Satpam hanya titip salam saja, karena tidak mungkin bisa menghadiri karena….., jauh……..

        “Nuwun sewu Mbah Man, kawula mboten saget nderek ratiban wonten Padepokan Sekar Keluwih, mugi-mugi sedayanipun lancar, dumugi Panjenengan tindak tanah suci dipun paringi gampil anggenipun anindakaken rukun haji, widada nir sambe kala, kondur ngasto Haji Mabrur”

        • matur sembah nuwun do’anya Ki. Pulang dari tanah suci insya Alloh tgl 12 Nov 2012. Monggo menawi badhe tindak ngabyantoro dateng padepokan “sekar keluwih”

    • mbah bade tanglet, …. dik damar menika sampun gadah sisihan dereng njih ? :) :) :)

      • mitaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
        aimisyu

      • cucuku, carilah yang lebih berpengalaman dalam olah kanuragan, walaupun dijadikan yang kedua..
        hehehehehehe

        • contonipun sinten ? :) :) :)

          • sinten mawon..
            heheheheh

          • ..sinden mawon ? :D

          • sinten rawon ? …… dalem mbah ingkang pesen :)

    • bagaikan tetesan obat itu turut mengobati luka dahaga kami…

      tetesan berikutnya monggo mBah dipun wedar

      • ngogrok maneh…
        kadospundi kabaripun Ki PA? sampun angsal menapa dereng..?
        kok sajak alot kaya jenang alot

        • nyuwun pandonga panjenengan mBah…mugio jenange mboten alot

          • …..tapi empuk….

          • tur mboten mlenyek :)

  10. Tansaya keren, jan mbah Man pancen oye

  11. matur sembah nyuwun mbah man, engkang sampun setio ngobati rindu poro cantrik kagem maos lanjutan adbm , mugi2 saget sampe paripurno.
    lan kawulo ngaturaken selamat jalan wonten nglaksanaken rukun islam kaping 5 mugi2 dados kaji engkang mabrur. amin

  12. Sugeng sonten, matur nuwun lontaripun mbah_Man.

  13. hup….!!!!

    datang diam-diam, nyapu sebentar karena sudah ada rontal berceceran dan pergi juga dengan diam-diam

    suwun mbah

    • diam diam …

    • Katanya tapa ngrame, lah kok ini diam diam ……. absen ndhisik ah !

      • topo ngrame niku pripun ta ?
        duduk bersila, tak bergerak, mata terpejam, penuh konsentrasi, …. tapi di kupingna dipasangi headphone isine lagu rock n metal ? ?

        • Nggih ngoten iku topo ngrame jaman sak niki, ayake ???

          • Saya kutipkan dari gandok orang lain, Tapa Ngrame biasanya dilaksanakan bukan dalam posisi bertapa, namun justru sang pelaku selalu mendatangi tempat-tempat keramaian orang berkegiatan, dan biasanya selalu menawarkan bantuan terutama berujud bantuan tenaga (kerja) dengan tanpa mengharapkan satu imbalan. Hanya keinginan membersihkan hati dan menciptakan satu keikhlasan yang menjadi tujuan disana.

            Satpam disini juga membantu mbah_man medar rontal, menata rontal di gandoknya agar sanak-kadang bisa menikmati dengan baik. Hanya…, apakah satpam ikhlas…., orang lain yang menilai, tidak baik kalau menilai diri sendiri. he he he …..

            Jaman komunikasi memang sangat beda, sebelum menjalani laku, satpam sudah khawatir tidak bisa nyambangi gandok, sehingga di gandok sebelah satpam sudah menyiapkan wedaran sampai pertengahan bulan Nopember. Tetapi ternyata kekhawatiran tersebut tidak terbukti, meskipun dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang tahu, dan harus nunut kendaraan orang lain, satpam masih bisa hadir di padepokan untuk sekedar nyapu dan menyiram tanaman.

            nuwun

          • dik satpam klo mo topo ngrame mbok ke rumahku aja, …. ini loh lagi dandan-dandan rumah :) :) :) ….. lumayan bisa ngurangin jumlah tukang yang mbayar :) :) :)

          • cepeeet looh selak usum udan :) :)
            tur kudu ikhlas looh :) :)

        • Mas Satpam kok kados dereng kenal kalih Jeng Mita, mbok dinggihi mawon, lah damel remenipun tiyang sanes rak pikantuk ganjaran, ….. Sugeng Topo Ngrame !

          • ssssssst …. ki jokowo kok kados dereng kenal kalih dik satpam ingkang saweg seriyuuus ta ? , …..mbok diinggihi mawon, lah damel remenipun tiyang sanes rak pikantuk ganjaran :) :) :) , ….. Sugeng Topo Ngrame !

          • ssssst…..mbok dilinggihi mawon, lah damel remenipun tiyang sanes rak pikantuk ganjaran :) :) :) , ….. Sugeng Topo Ngrame !

          • ssssst…..mbok dilinggisi mawon, lah damel remenipun tiyang sanes rak pikantuk ganjaran :) :) :) , ….. Sugeng Topo Ngrame !

          • …ah !….koq dilinggisi… :oops:

          • maksudipun, … ada seorang tua yg lagi bikin lobang tuk tempat dsampah, …. terlihat kepayahan, … trus ada seorang muda yg lagi topo ngrame datang menolongnya … dengan jalan ‘melinggisi’ lobang tempat sampah tsb ……. gitu loooh :) :)

          • ..O….melobangi tho…

  14. sugeng enjing sedoyo…wah matur nuwun lontaripun mbah…

  15. Assalamu’alaikum, selamat pagi…..
    Pha Kabar semuanya…..
    Mbah Man…….miss u already….
    Semoga selalu di lancarkan segala sesuatunya….
    Amin, Ya Robbal Alamin….

    • waalaikum salam…

      Nona nona nona ….. nano nano nano

    • waalaikumsalam wr wb
      eh mbak nona dah tau no hpna mbah man belum ?
      klo belum, ada di halaman sebelumnya 2x looh
      tapi klo males nyari, ini nih tak copaskan ya :)

      Padepokan sekar keluwih
      Sidoarjo
      mbah_man
      08813258382

      • Mbah Man wis tak contact, Thank’s Mitha….

        • u r welcome, mba nona :)

      • perlu nomerku Mit ?

        • udah bisa ngira-ira kok, paling ’36′ kan ? ….. menika nomer jeans lheeee :) :) :)

          • lah…sing 36 nggonaku opo nggone mita ?

          • laah menawi jeans kulo nomer 36, sak bolongan jeans saged kangge suku kalih teeen :)

  16. Sugeng Enjang….Alhamdulillah wonten rontal enggal…… Ngapunten Mbah Man lagi saget sowan padepokan….

  17. tes

    • …ngates yaa….? :D

      • mbaleeeeezzz :( :(

      • ngates ? ….. ngantuk pas neng tretes ? :)

        • eh kakek suka maen ke tretes ga ? ….. dah luuuaaaamaaa bgtz loh ga men sana, …… sekarang tambah bagus ga ?

          • ..ga suka tuh…….mending lewat puncak…bisa nyate maranggi :) ato cemoro sewu….. bisa buat gelungan ! :D

          • :) :) :) cemoro sewu nggo gelungan? ….. niku mustakane gek sepiro gedene yo ? …. lha sewu jeee cemorone ? :) :)

          • klo suka ke cemoro sewu berarti ya suka ke telaga sarangan juga ya ?

  18. Ngisi daftar hadir dulu ahh…

  19. monggo dipun lajengaken mbah Man………….

  20. Hari ini Mbah Man syukuran haji, walimatussafar dan ratiban, mudah-mudahan wedang sereh dan jenang alotnya sampai ke bang kulon …..

    • kedahipun sanes syukuran haji, tapi syukuran calon haji, …. lha wong dereng bidal jeeee :) :) :)

      • ..He’eh…..dilinggihi mawon Ki Jokowo… :D

        • padakke kursi waeee :( :( :(

      • Jan awas banget lo Jeng Mita ki ……

  21. Sugeng tindak haji mbah man….. ngapunten mboten saget sowan dumateng padepokan sekar keluwih…….mugi2 dados haji ingkang mabrur…..aminn

    • matur nuwun dumateng:
      1. Miss Nona yg berkenan contact dgn embah kemarin siang. (walau embah sempat kaget, dan dapat janji mo di sms tapi janji tinggallah janji)
      2. Ki Van, atas doanya.
      3. Ki PA yg masih sorangan wae, lagi coba2 menawarkan nomer Hp
      4. Ki Jokowo yg mau dilinggis ama Mita
      5. Mita, cucu yg gelisah mencari arah kemana hati akan melangkah,
      6. Ki Karto, yg senang memlesetkan kata,
      7. Ki Djojosm, Ki Afi yg senang ber “matur suwun” kalo rontal turun,
      8. Ki Surobodong yg lagi rindu (sama siapa?)
      9. Ki Donoloyo dan Ki Adji yg suka ingak inguk,
      10. Kakang Panji yg masih setia menunggu..?
      11. Ki Dra’uk yg pingin jadi bintang iklan oskadon pancen oye,
      12. Ki/nyi eds5 yang aahhhh…
      13. Anakmas Risang yg ada rame rame malah tapa..?
      14. Para Cantrik/ mentrik yg lagi mengendap endap dekat regol padepokan “sekar Keluwih” kemarin siang, tapi ndak berani mendekat? padahal mbah man sudah berdiri jauh di depan regol untuk menyambut…eee malah mobil putar balik, siapa yaaa…?
      nb: pelaksanaan syukuran haji kemarin siang dan malam, telah terlaksana dengan sukses berkat do’a para cantrik/mentrik, matur suwun.

      Rontal baru masih diketik, semoga sebelum tanggal 2 Okt 2012, masih sempat kirim rontal
      Sekali lagi matur suwun,

      Padepokan Sekar Keluwih
      mbah man

      • looh eyang kulo ingkang remen crito mbanyumasan, ki truno kok dereng dipun sebat ? ….. :( :( :(

        trus rencang pados neda kulo, ki vamp, kok dereng dipun sebat ? :( :( :(

        trus pak detektipe, ki anat, kok dereng dipun sebat ? :(

        trus ingkang bade sowan mbenjing menawi mbah man mpun kondur haji, ki bupras, kok dereng dipun sebat ?

        trus mba dewi yg dah nyumbang rontal kok lom disebut ?

        trus … trus … sopo maning ya ? :) :) :)

        • Ken Padmi mbakayune Jeng Mita Pendekar sakti mandraguna, Mbah Djojosm, dll ….. masa Pepunden kok didhawuhi ngabsen …..

          • mbak padmi saweg cuti panjang, amargi sibuk ngurusin keluarga barunya, … kayaknya :)

            klo eyang joyosm mpun disebut kok

            klo dll, dereng disebut :)

      • Semoga sehat selalu dan pulang menjadi haji yang mabrur

  22. cucu yg gelisah
    mencari arah
    kemana hati akan melangkah,
    mo ke kanan, bolehkah ?
    mo ke kiri, jalan teruskah ?
    mo nyerong, ketabrakkah ?
    mo brenti, ditilangkah ?
    jadi bingung dah
    nganti sirah mo pecah
    tapi yo wis lah
    ra sah digagas wae lah
    tapi kok tetep gelisah
    trus dimimiki setrup markisah

    kakeke ra gelem kalah
    trus mlumah
    njaluk dimimiki setrup merah
    koyo darah
    trus kelingan nyi saimah
    gandeng wanengpati wis kalah
    lan swandaru wis meh pejah
    dadi ono kesempatan ngajak nikah
    jadi istri keduah
    looh kata2ne kok dadi meksah
    yo benz lah

    • hmmmm……..

      • mmmmmhhh………

  23. Lanjutan TADBM 398

    Demikianlah akhirnya, dengan memijat dan menekan pada beberapa bagian penting yang ada di tubuh Swandaru, Kakek Damarpati telah mencoba untuk menyadarkannya.

    Ketika sebuah tarikan nafas yang berat disertai dengan sebuah desis perlahan keluar dari mulut Swandaru, Kakek Damarpati pun telah menghentikan sentuhannya di tubuh Swandaru.

    Pandan Wangi yang mengikuti semua gerak gerik kakek Damarpati dalam usahanya membantu mengendalikan racun yang sudah terlanjur memasuki jalur darah Swandaru melalui luka di pinggangnya menjadi sangat trenyuh. Orang tua yang berjongkok disebelahnya ini bukan sanak bukan kadang, bahkan mengenalpun dia tidak, namun kesungguhannya dalam usaha membantu kesulitan sesamanya, benar benar telah menyentuh hatinya dan menimbulkan kesan tersendiri.

    Ketika sekali lagi Swandaru berdesis perlahan sekali sambil menggeliat, Kakek Damarpati pun segera memberikan isyarat kepada Pandan Wangi agar memindahkan Swandaru ketempat yang lebih baik.

    Pandan Wangi segera menengadahkan wajahnya dan mengedarkan pandangan matanya untuk meminta bantuan para pengawal mengangkat Swandaru ke serambi. Namun pandangan Pandan Wangi sempat tertegun sejenak pada seraut wajah tampan dari seorang anak muda yang berdiri termangu mangu selangkah dibelakang orang tua yang telah menyelamatkan nyawa suaminya itu.

    Pandan Wangi bagaikan terpesona memandang wajah tampan itu. Kulitnya begitu putih dan halus dengan sepasang mata bagaikan bintang timur sedang bercahaya. Bulu bulu lentik matanya serta alis yang bagaikan semut beriring menjadikan wajah itu begitu sempurna. Hidung yang kecil dan mancung serta bibir bak delima merekah akan membuat seseorang akan menjadi bertanya tanya, perempuan atau laki lakikah pemuda ini?

    Namun naluri kewanitaan Pandan Wangi tidak bisa dipungkiri, pemuda tanggung yang berdiri beberapa langkah di sampingnya ini adalah seorang perempuan muda yang sangat cantik jelita dan entah oleh sebuah alasan apa, telah menyamarkan dirinya menjadi seorang laki laki.

    Agaknya Kakek Damarpati dapat membaca perasaan Pandang Wangi, untuk itulah dengan tergesa gesa dia berkata, “Ma’afkan kami Nyi, ini adalah cucuku Damarpati. Kami berdua tidak sengaja telah merantau sampai ke Kademangan Sangkal Putung ini, dan sesungguhnya suara cambuk itu yang telah menuntun kami sampai ke halaman ini.”

    Pandan Wangi tidak menjawab, akan tetapi pandangan matanya tidak lepas dari wajah Damarpati yang menunduk dalam dalam. Wajah yang sangat tampan tetapi terlalu lembut untuk ukuran seorang laki laki. Wajah yang tampak selalu murung, semurung dirinya dahulu ketika usianya mulai beranjak remaja.

    “Perkenankan kami memindahkan Ki Swandaru ke serambi, Nyi,” tiba tiba seorang pengawal berdesis perlahan disampingnya sambil berjongkok.

    “O.., silahkan, silahkan,” jawab Pandan Wangi sambil perlahan menurunkan kepala Swandaru dari pangkuannya untuk kemudian bergeser kekanan dan perlahan lahan bangkit berdiri.

    Tiga orang pengawal dengan cekatan telah mengangkat tubuh Swandaru yang masih belum sadarkan diri. Dengan cepat namun sangat hati hati, ketiganya pun kemudian membawa Swandaru masuk ke serambi.

    Sementara itu Pandan Wangi yang telah berdiri tegak telah berada tepat di depan Damarpati. Pandangan tajam dan naluri kewanitaan Pandan Wangi benar benar tidak dapat dikelabuhi dengan hanya mengenakan pakaian laki laki kebanyakan serta ikat kepala. Tanpa mengucapkan sepatah kata sebelumnya, tiba tiba Pandan Wangi telah menyentuh pundak Damarpati dan perlahan mengguncangnya.

    “Engkau yang bernama Damarpati?” tanya Pandan Wangi dengan tangan kanan masih melekat di bahu Damarpati.

    Damarpati mengangkat wajahnya sekilas, namun dengan cepat menunduk kembali begitu pandang matanya berbenturan dengan pandang mata Pandan Wangi. Hanya sebuah anggukan kecil yang hampir tak terlihat yang menjawab pertanyaan Pandan Wangi.

    Pandan Wangi menarik nafas dalam dalam, kemudian dengan penuh rasa keibuan ditariknya Damarpati kedalam pelukannya.
    Hampir saja sebuah tangis meledak ketika kepala Damarpati menyusup dalam dekapan Pandan Wangi. Namun dengan sekuat tenaga, Damarpati mencoba menahan tangisnya dan ternyata dia telah berhasil menguasai dirinya. Hanya sebuah isak kecil yang terdengar di telinga Pandan Wangi.

    “Sudahlah Damarpati,” berkata Pandan Wangi sambil melepaskan pelukannya, kemudian katanya perlahan sambil berbisik di telinga Damarpati, “Kita punya banyak waktu untuk berbicara tentang diri kita masing masing setelah semua urusan ini selesai.”

    Damarpati hanya mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menitik.

    Semua peristiwa itu tidak luput dari pengamatan Kakeknya. Orang tua itu hanya dapat menarik nafas dalam dalam. Kegelisahannya tentang masa depan cucunya itu menjadi semakin dalam. Semenjak kematian kedua orang tua Damarpati yang masih menyisakan teka teki sampai sekarang, memang telah diputuskannya untuk menyingkir dari padukuhan Ngerang, menempuh jalan yang panjang tanpa tujuan hanya untuk menyelamatkan Damarpati dari sebuah ancaman pembunuhan yang mungkin saja terjadi setelah kematian kedua orang tuanya.

    Damarpati adalah nama yang dipilihnya untuk cucunya selama dalam pengembaraan. Demi untuk menjaga segala kemungkinan buruk yang dapat timbul selama dalam perantauan, dia menyarankan cucunya untuk meyamar menjadi anak muda yang bernama Damarpati karena sebenarnyalah cucunya itu adalah seorang gadis remaja yang baru tumbuh menjadi sebuah bunga yang indah tiada taranya sehingga akan dapat menimbulkan banyak permasalahan.

    Kakek Damarpati itu tersadar dari lamunannya ketika Pandan Wangi berpaling kearahnya sambil bertanya, “Kakek, sebutan apakah yang sebaiknya aku gunakan untuk menyebut nama Kakek?”

    Kakek Damarpati itu tertegun sejenak. Nama baginya sudah tidak ada artinya lagi, tidak ada seorangpun yang akan mengenalnya dari padepokan Glagah Tinutu di lereng Gunung Kendeng, karena sesungguhnya padepokan itu sudah lama hilang dari permukaan bumi, hanya sisa sisa bangunan yang tidak utuh lagi yang menjadi saksi atas kejadian berpuluh puluh tahun yang lalu.

    “Bagaimana, Kek?” kembali Pandan Wangi mengulangi pertanyaannya.

    “Baiklah, Nyi,” akhirnya dia mengalah, “Engkau dapat memanggilku Kyai Sabda Dadi.”

    “Terima kasih,” jawab Pandan Wangi, “Aku adalah Pandan Wangi dari Tanah Perdikan Menoreh. Keberadaanku disini mengikuti suamiku Ki Swandaru putra Ki Demang Sangkal putung yang terluka tadi dan telah mendapat pertolongan dari Kyai.”

    “Ah..,” desah Kyai Sabda Dadi, “Aku hanyalah lantaran dari Yang Maha Agung, hanya dengan perkenanNya Ki Swandaru dapat tertolong.”

    Pandan Wangi mengangguk anggukan kepalanya, kemudian lanjutnya, “Kyai, bagaimanakah dengan Kyai Sarpa Kenaka yang menjadi lawan suamiku? Apakah Kyai berkenan untuk melihat keadaannya?”

    Kyai Sabda Dadi terkejut, tanpa menjawab pertanyaan Pandan Wangi dengan tergesa gesa dia melangkah mendekati tubuh Kyai Sarpa Kenaka yang terbujur diam menelungkup.

    Sesampainya di samping tubuh pemimpin perguruan Toya Upas itu, dengan sangat hati hati dibalikkannya tubuh yang menelungkup itu. Alangkah terkejutnya Kyai Sabda Dadi ketika dia menarik bahu Kyai Sarpa Kenaka, tubuh itu bagaikan tak bertulang. Ternyata tulang belakangnya telah hancur lumat oleh ilmu cambuk Swandaru yang nggegirisi.

    “Sasra Birawa,” desis Kyai Sabda Dadi dalam hati, “Ternyata Ki Swandaru mewarisi ilmu dari perguruan Pengging yang terkenal semasa pemerintahan Demak itu melalui jalur perguruan orang bercambuk. Agaknya memang benar menurut cerita orang tuaku dulu bahwa semasa mudanya, orang bercambuk itu bersahabat dengan salah satu murid perguruan Pengging, sehingga tidak menutup kemungkinan telah terjadi pertukaran ilmu diantara mereka, walaupun ujud dari ilmu itu sendiri akhirnya melebur dengan ilmu orang bercambuk, namun akibat yang dialami oleh lawannya benar benar akibat dari benturan ilmu yang disebut sasra birawa itu.”

    • Matur nuwun Mbah Man, sampun paring panglipur lumantar lontar punika, …..

    • maturnuwun sanget mbah man :)

      waduuuuch ternyata damarpati cewe to ? :(
      tiwas nakasirin :( :( :(

      • :P

        • ngeceeeee :( :( :(
          tak balang sandal sisan :( :(

  24. lemesssss dengan kerjaaan
    nginguk padepokan
    hehehehe MATURNUHUN MBAH MAN
    langsung nyedoooooooot rontalll
    maknyuuuusssss
    apakah kira kira ada yg mau di sedoooot hahahahahahah

  25. Cihui…….
    begitu datang sudah tersedia rontal
    hmm……
    langsung bungkus……

    suwun mbah
    besok sore datang lagi

  26. Sasra Birawa….
    Imajinasi Mbahman pancen oye…
    Jadi pingin terusannya…
    Kira2 Damarpati dapat anaknya Nyi Pandan Wangi gak ya…
    Menarik sekali ceritanya
    Semoga mbahman diberi kesehatan dan kemakmuran berlebih
    sehingga sering medar rontal
    Salam malem kemis

    • enak mana ama salam malem jumat ya ? :)

  27. aduh… ceritanya makin seru… sasra birawa… ada nama ilmu baru nih… Ilmu angin berpusing dari Kiai Gringsing namanya apa ya???

    • niku ilmune ki Ageng Pengging ki…diwarisi sempurna oleh Kebo Kanigoro dan Mahesa Jenar….

  28. Damarpati mungkin berjodoh dengan Sukra??? Hehehe… umurnya seimbang… Agung Sedayu ga mungkin rasanya… atau Glagah Putih?

    • …ato Damar….wulan ! :D

      • darmo…..gandul…?

        • darmo……kali ! :D

          • iki mesti jeneng daerah neng suroboyoan ya ?
            eh sakjane ‘darmo’ niku namine sinten ta ? nopo pahlawan ? nopo nami nopo ?

          • mbah darmo…..dodolan dawet neng semboja

    • Damar Pati iku anake Swandaru….pas ngledek neng bang wetan….

    • looh ? glagah putih kan mpun nikah ? …..
      mo usul dijadikan istri kedua gitu ya ? :( :( :(

  29. Sasra Bhirawa, ilmune Mahesa Jenar ndadak mecungul nang kene …… weleh-weleh. Jan mbah Man Numero Uno pokoke

    • sedelo maneh ono sing mateg aji Cundomanik

  30. bude pandan wangi, …. niku ki sabdo dadi ndang dijak tindak teng menoreh mawon ….. timbang nambani swandaru sing taksih petakilan, mending nambani eyang argopati rumiyin kemawon, …..

    mangke yen swandaru kebacut pejah, tenang aja, di padepokan gagak seta taksih katah ingkang ngersakke panjenengan kok :) :)

  31. Tinggal 5 hari lagi Mbah Man jengkar dari Padepokan Sekar Keluweh untuk berangkat haji, apakah masih sempat untuk medar rontal ? Tapi harapan itu masih ada …..

  32. looh kok ‘keluweh’ ta ? …. ‘luweh’ niku klo di yogya artinya ‘egp’ … klo ‘luwih’ niku artinya ‘lebih’ …. padepokan sekar keluwih niku merupakan kerata basa, … tempat belajar teng panggenane tiyang linuwih ….. mekaten :) … tapi niki kerata basa karangan kulo piyambak looh :) :) :)

    • tapi klo maksud mbah man menamai istananya dengan padepokan sekar keluwih niku, sebaiknya nanya langsung ke beliaunya ya :)

      yang jelas, mbah man itu termasuk tiyang linuwih, …. lulusan ostrali fakultas critologi :)

    • Lah rak tenan to, Jeng Mita iki opo muride Yus Badudu yo ? …..

      • nyuwun sewu, yus badudu niku sinten ta ?

        • Nek jaman rumiyin Yus Badudu niku ahli bahasa sing asring mlebet TVRI ….. cobi samangke Jeng Mita nyuwun pirso dhumateng Mbak Ken Padmi …. menawi bab critologi nggih kawon kaliyan Mbah Man …

          • maturnuwun infonipun, :)

            ahli bahasa ? …. bahasa nopo ? bhs jowo nopo bhs ndonesa nopo bhs nggrigis ?

            klo bahasa plesetan, presentere yus kartoyudo, njih ? :) :) :)

          • …ato yus….jeruk ! :D

  33. nginguk gandok…wah mantap mbah…

  34. Alhamdulillah…. Ngaturaken Agengin Panuwun Mbah Man……
    Sasra Bhirawa…..aji pamungkas perguruan Empu Gandring (Klo ga salah) yang diwarisi oleh Mahisa Agni, Witantra, Mahendra, Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat, Mahisa Murti, dst. Ilmu yang mulai awal ada d karangn SHM (SUNDSS, PDBS, HLHLP, NSSI)

  35. Semoga mbah-man masih ada kesempatan mengetik rontal hari ini…

  36. Kadingaren kok ora ono sing maran sowan yo ……

  37. ngisi presensi dlu… sugeng enjang poro kadang sedhoyo…

  38. Mangayubagya tiindake mbahman ke bang kulon.
    muga2 tan ana alangan sawiji apa.
    Lan sapa ngerti ana jebloking rontal, kaya mangsa jebloke kartika iki
    salam
    cantrik kang tansyah mangentu

    • Walah…. sampai lupa

      Sayang tidak bisa menghadiri syukuran mbah_man tanggal 26/12/2012.
      Risang ikut berdoa semoga perjalanan mbah lancar, selalu sehat sehingga bisa menjalankan semua aktivitas yang harus dilakukan dengan baik dan mendapatkan apa yang diharapkan oleh mbah_man dan seluruh orang yang datang kesana, memperoleh predikat HAJI MABRUR.

      Kalau tidak salah mbah berangkat tanggal 3 Oktober, selamat jalan mbah, waktunya mbah mengurusi diri sendiri untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan kesana, dan tentu juga banyak sanak-kadang yang berkunjung ke Padepokan Sekar Keluwih Sidoarjo.

      Tentang rontal, untuk sementara mbah tidak usah terlau pikirkan, kami tahu kesibukan mbah.

      nuwun

  39. Lanjutan TADBM 398

    Sejenak Kyai Sabda dadi masih merenungi jasad Kyai Srapa Kenaka yang terbujur diam. Perlahan Kyai Sabda Dadi bangkit berdiri sambil menarik nafas dalam dalam, kemudian katanya sambil berpaling kearah Pandan Wangi yang berdiri termangu mangu disisi Darmarpati beberapa langkah di belakangnya, “Nyai, kelihatannya tidak ada yang dapat aku perbuat terhadap orang ini. Lebih baik engkau dapat memerintahkan para pengawal untuk segera menyelenggarakan jasadnya.”

    “Benar, Kyai, ” jawab Pandan Wangi, “Demikian juga nasib muridnya, ternyata telah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari para pengawal Sangkal Putung.”

    “Suatu kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” desis Kyai sabda Dadi perlahan seolah olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Suatu pengingkaran dari sifat sifat manusia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai nilai luhur yang dikaruniakan oleh Yang Maha Agung, namun dorongan nafsulah yang telah menjerumuskan manusia dalam tindakan dan perbuatan yang justru bisa lebih buruk dari sifat sifat seekor binatang.”

  40. Lanjutan TADBM 398

    Semua orang yang mendengarkan perkataan Kyai Sabda Dadi tertunduk diam. Terlebih lebih adalah para pengawal Sangkal Putung yang telah ikut andil mencincang Wanengpati. Ada suatu penyesalan jauh dilubuk hati mereka yang paling dalam. Mengapa semua itu telah mereka lakukan, justru dikalangan suatu kehidupan bebrayan yang disebut beradab, suatu kehidupan yang penuh dengan tatanan yang yang mengatur hubungan timbal balik antara sesama dan hubungan mereka dengan Tuhannya.

    “Marilah Kyai,” akhirnya Pandan Wangi memecah kebisuan, “Biarlah para pengawal menyelenggarakan jenasah mereka berdua sebagaimana mestinya, kita dapat beristirahat sejenak diserambi sambil melihat perkembangan Kakang Swandaru.”

    Demikianlah akhirnya, perang tanding antara Swandaru dan Pemimpin padepokan Toya Upas itu telah berakhir dengan meninggalkan kesan tersendiri dihati masing masing orang yang hadir di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung malam itu. Berbagai tanggapan telah muncul di setiap dada, terutama para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendapat kesan yang buram tentang tingkah laku Swandaru selama ini.

    Keesokan harinya, ternyata Pandan Wangi telah bertindak cepat. Sambil menunggu perkembangan Suaminya, dia telah berunding dengan Ki Demang Sangkal Putung untuk segera mengirim kembali para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh dengan membawa berita tentang keadaan Swandaru.

    “Apakah itu perlu, Wangi,” bertanya Ki Demang dengan sareh, “Ki Argapati sedang menderita sakit, berita sekecil apapun yang dapat membebani pikirannya akan dapat menambah sakitnya.”

    “Akan tetapi Ayah Argapati harus mendapat berita yang sebenarnya mengapa aku tidak segera datang ke Menoreh untuk menjenguknya.”

    “Tunggulah barang sehari dua hari, jika kesehatan suamimu menunjukkan perkembangan kearah yang menggembirakan, engkau dapat berangkat ke Menoreh bersama sama dengan para pengawal.”

    Pandan Wangi tertunduk diam, dia benar benar dihadapkan pada permasalahan yang pelik. Untuk meninggalkan Swandaru rasa rasanya sebagai seorang istri tidaklah pantas, walaupun setiap hidung di Kademangan Sangkal Putung itu telah mengetahui apa yang telah diperbuat boleh suaminya, sedangkan disisi lain, Ayahnya di Menoreh sangat memerlukan kehadirannya.

    Kyai Sabda Dadi yang ikut duduk berbincang bincang pagi itu di serambi rumah Ki Demang ternyata tidak dapat menahan hati lagi, sambil beringsut setapak dari tempat duduknya dia perlahan lahan berkata, “Ki Demang dan Nyi Pandan Wangi, ijinkanlah saya menyampaikan sesuatu yang mungkin akan sangat berpengaruh terhadap keputusan keputusan yang akan diambil nantinya.”

    Hampir bersamaan Ki Demang dan Pandan Wangi berpaling kearah Kyai Sabda Dadi. Sambil mengerutkan keningnya ternyata Pandan Wangilah yang lebih dahulu menyahut, “Apakah yang Kyai maksud?”

    “Tentang perkembangan kesehatan Ki Swandaru, Nyi.” Jawab Kyai Sabda Dadi pelan.

    Berdesir dada Pandan wangi dan Ki Demang Sangkal Putung.

    “Apakah ada sesuatu yang mengkawatirkan?” tanya Ki Demang.

    “Tidak seluruhnya Ki Demang, kesehatannya memang menunjukkan tanda tanda kearah yang menggembirakan, namun ada suatu keanehan yang aku temukan pagi pagi tadi ketika aku menyeduhkan obat untuknya.”

    “Apakah itu?” serentak Pandan Wangi dan Ki Demang bertanya.

    Kyai Sabda Dadi tidak segera menjawab. Dilemparkan pandangan matanya ke halaman rumah Ki Demang sangkal putung melalui pintu pringgitan yang terbuka lebar. Tampak Damarpati sedang berjalan jalan mengelilingi halaman yang luas itu sambil sesekali melihat lihat berjenis jenis bunga yang ditanam sedemikian rupa sehingga benar benar menyerupai sebuah taman yang indah dan mempesona.

    “Kyai, apakah sebenarnya yang terjadi pada suamiku?” bertanya Pandan Wangi menyadarkan Kyai Sabda Dadi.

    Setelah menarik nafas dalam dalam, Kyai Sabda Dadi pun akhirnya memutuskan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya sedang dialami oleh Swandaru.

    “Nyi,” perlahan Kyai Sabda Dadi berkata, “Racun yang mengalir dalam darah Ki Swandaru memang sudah bersih, namun akibat luka yang diderita di pinggangnya itulah yang ternyata telah membawa akibat buruk pada tubuh bagian bawahnya.”

    “Maksud Kyai?” dengan tak sabar Pandan Wangi menyela.

    “Senjata Kyai Sarpa Kenaka itu ternyata telah mengenai simpul simpul syaraf yang ada di pinggang Ki Swandaru, sehingga Ki Swandaru mengalami gangguan untuk menggerakkan kedua kakinya.”

    “Maksud Kyai, anakku menjadi lumpuh?” Ki Demanglah kini yang menyela dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dadanya.

    “Demikianlah untuk sementara yang dapat aku simpulkan dari kejadian ini, namun aku masih berusaha untuk memperbaiki simpul simpul syaraf itu walaupun kenyataannya sangat rumit.”

    Pandan Wangi yang mendengar penjelasan dari Kyai Sabda`Dadi hanya termangu mangu diam. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sejak Suaminya melakukan hubungan dengan beberapa wanita lain walaupun dia sendiri tidak mengetahui dengan mata kepala sendiri, namun perasaan hatinya telah hampa. Seolah olah dia menjadi perempuan asing di rumah ini. Dia kembali menjadi pendiam dan pemurung. Hari harinya hanya dihabiskan dengan bermain main dengan anak laki laki satu satunya yang mulai beranjak remaja.

    • Ngaturaken sugeng tindak dhumateng ngarsanipun Mbah_Man, mugi-mugi tansah pinaringan kekiyatan lahir tuwin batos, kesarasan ingkang linangkung saengga tindakipun wonten Tanah Suci mboten manggihi rubeda nir sambe kala, saget ngayahi sedaya kewajiban soho sunnah-sunnah haji, ngantos kondur malih Padepokan Sekar Keluwih ngasto haji mabrur, amiin ya mujibassailin.

      • Nah Lho Swandaru=Wirasaba, perlu mahasa jenar nih untuk pinjam gundala seto…

  41. Alhamdulillah…… ngaturaken agengin panuwun mbah man…

  42. Udah ga sabar nih menunggu kabar kelahiran anaknya Agung Sedayu… :)

  43. Dumateng para Cantrik/ Mentrik:
    Sebelumnya embah minta maaf, waktu embah sangat sempit, para tamu sudah berdatangan tiap hari ke padepokan sekar keluwih.
    Dengan ini embah nyuwun pamit, rencana tgl 2 okt 2012 jam 14.00 kumpul di pendapa Sidoarjo, selesai upacara pemberangkatan oleh Bp. Bupati, jam 16.00 diharapkan sudah masuk asrama sukolilo.
    Tgl 03 Okt 2012 jam 16.00, rombongan jemaah haji kloter 33 berangkat dari bandara juanda dengan Saudia Airline menuju Madinah.
    Mohon doa restu semoga semuanya berjalan dengan aman, selamat, lancar dan barokah..Amiin.

    Padepokan Sekar Keluwih
    Sidoarjo

    mBah_Man

    • Monggo mbah

      Selamat jalan

      kami hanya bisa mengiringi perjalanan embah dengan doa
      syukur bage, jika embah masih sempat ingat kami-kami di padepokan, dan menyelipkan doa bagi kami semua, sehingga pada suatu sat Risang dan sanak kadang lain yang belum berkesempatan berkunjung kesana juga bisa hadir disana pada suatu saat nanti.

      Selamat jalan

      • He he he ….

        dengan berangkatnya embah jadi agak ringan beban Risang, tidak harus wira-wiri ke padepokan untuk menyapu halaman

        Risang juga bisa konsentrasi tapa ngrame yang masih harus Risang jalani 7 minggu lagi.

        Mohon maaf juga bagi sanak kadang jika Risang juga menghilang / tidak berkunjung ke padepokan.

        nuwun

    • Selamat jalan mbah Man …tetap semangat sehat dan semoga menjadi Haji yang Mabrur Amin …!

    • ndereaken mbah Man…nyuwun pandonganipun mugio kawulo saged nutwuri panjenengan

  44. Selamat menjalankan ibadah haji, semoga Mbah Man dapat menyelesaikan semua rukun haji dgn baik dan benar serta dapat kembali ke padepokan sekar keluwih dengan predikat “Haji Mabrur”

  45. selamat menjalankan ibadah haji mbah…semoga paring lancar lan mabrur…

  46. Sepi banget, opo podho ngeterke Mbah_Man yo ? Mas Risang lagi Topo Ngrame 7 minggu lagi, Mbah_Man tindak haji, Swandaru mau diamputasi, teruse kepiye iki ? Tapi harapan itu masih ada !

  47. Kangmas Risang Topo Ngrame….. liyane topo meper hawa napsu kepingin ngerti klanjutan critane mbah man…. SEMANGATTTT !!!!!

  48. Nginguk gandok, terus ……

  49. Tilik gandok, suwung …..

    • Nginguk gandok, terus ……Tilik gandok, suwung ….. gondok :(

  50. sepi…sepi….podo tindak sedoyo…!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: