STSD-30

Kembali ke STSD-29 | Lanjut ke STSD-31

 

Jika para CanMen berkenan memberikan tali asih suka rela, silahkan mengirimkan donasinya ke rekening mbah Putri: Bank Mandiri an SRI SUPRATINI NO REK: 141 001159 796 0 Mbah Man sangat berterima kasih atas partisipasi para CanMen, merupakan bentuk kepedulian para CanMen dalam mendukung Mbah Man untuk terus berkarya Bagi CanMen yang berkenan bisa info ke email:s_sudjatmiko@yahoo.com.au Matur suwun

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30/01/2021 at 00:01  Comments (765)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/stsd-30/trackback/

RSS feed for comments on this post.

765 KomentarTinggalkan komentar

  1. On 21/02/2021 at 20:44 P. Satpam said:
    STSD-30 halaman 47-47

    “Maaf Ki Gede,” ………

    Waduh halamane double wah penerbit e salah cetak

  2. Dah hari terakhir ki Rangga di Muria, meski belum sampai malem. Kira-kira dah bisa memecahkan teka-teki kidung penutup kitab belum ya ?🤔

    • Wedaran lalu malah

    • RakuRa isi kudungnya apa Yaa Ki.sisol…
      Apa ada rembesannya…

      • Belum terbongkar isinya, belum ada info intelegen 😜

  3. STSD-30 halaman 49-50

    “Tetapi jangan terlalu dirisaukan Ki Gede,” Kiai Sabda Dadi lah yang kemudian berkata sambil memandang dan tersenyum ke arah Ki Gede Matesih, “Itu hanya sebatas kekhawatiran orang-orang tua saja. Pada kenyataannya para perempuan yang mempelajari olah kanuragan itu tetap dalam jati diri mereka. Apalagi jika nantinya nimas Ratri benar-benar akan menjadi murid Nyi Pandan Wangi, tentu apa yang kita khawatirkan itu tidak akan pernah terujud.”

    Kembali tampak kepala Ki Gede Matesih terangguk-angguk. Kegelisahan yang sempat hinggap di sudut hatinya itu pun kini telah sirna bagaikan tetes-tetes embun yang tertimpa sinar Matahari pagi.

    Sejenak suasana menjadi sepi. Ki Gede Menoreh segera mempersilahkan orang-orang tua itu untuk menikmati hidangan sekedarnya. Masing-masing orang pun kemudian menyempatkan untuk meneguk minuman mereka walaupun sudah tidak sepanas tadi, namun cukup menghangatkan tubuh di malam yang mulai terasa dingin menggigit kulit.

    “Ki Gede,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian sambil berpaling ke arah ayah Ratri itu, “Jika Ki Gede tidak berkeberatan, dari jalur perguruan manakah Ki Gede Matesih menyadap ilmu?”

    “Ah,” desah Ki Gede Matesih sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya berkali kali. Lanjutnya kemudian, “Tidak ada yang dapat dibanggakan apa yang aku peroleh selama ini jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang ada di perdikan Menoreh. Walaupun perguruan tempat aku menimba ilmu di masa lalu sangat berpengaruh dan disegani kawan serta ditakuti lawan, namun sepeninggal guru, perguruan itu telah jauh menyusut karena murid-murid utamanya belum menguasai puncak ilmu perguruan itu.”

    Terlihat Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi mengerutkan kening hampir bersamaan. Kiai Sabda Dadi lah yang kemudian bertanya, “Maaf Ki Gede, jika kami boleh mengetahui, dari cabang perguruan manakah Ki Gede Matesih berasal?”

    Tidak ada alasan bagi Ki Gede Matesih untuk menghindar lagi. Maka jawabnya kemudian dengan suara perlahan nyaris tak terdengar, “Perguruan Pandan Alas dari cabang gunung kidul.”

    “Perguruan Pandan Alas?!” hampir terlonjak kedua orang itu dari tempat duduknya begitu mengetahui asal perguruan Ki Gede Matesih menyadap ilmu.

    “Perguruan Pandan Alas adalah perguruan yang sangat disegani kawan dan ditakuti lawan!” setengah berseru Kiai Sabda Dadi kemudian menanggapi, “Semasa kerajaan Demak lama, nama Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang tokoh sakti yang mempunyai kebiasaan aneh. Dia selalu menandai kehadirannya dengan mendendangkan tembang dandang gula.”

    “Ya, aku ingat cerita guru-guru kita dahulu,” sahut Ki Gede Menoreh dengan bersemangat, “Setiap kali terjadi pertikaian antara tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam dengan golongan putih, kehadiran Ki Ageng Pandan Alas dengan tembang dandang gulanya akan membuat para tokoh golongan hitam itu berebut berlarian meninggalkan tempat.”

    Kiai Sabda Dadi tertawa pendek. Katanya kemudian, “Luar biasa memang tokoh sakti yang bergelar Ki Ageng Pandan Alas itu, dan sekarang di hadapan kita telah hadir salah satu cucu muridnya atau barangkali cicit muridnya. Namun aku yakin kemampuan aji cunda manik itu tidak akan luntur walaupun telah berpindah turun temurun kepada para penerusnya.”

    “Sebentar, Kiai,” cepat-cepat Ki Gede Matesih menyela, “Aku tidak berguru langsung kepada jalur dari Ki Ageng Pandan Alas. Aku berguru kepada Ki Sarayuda Demang gunung kidul yang merupakan murid Ki Ageng Pandan Alas. Namun ketika aku berguru, Ki Demang Sarayuda sudah sedemikian sepuhnya sehingga aku telah diajar oleh murid-murid utamanya. Namun tidak lama kemudian Ki Demang Sarayuda meninggal dunia,” sejenak Ki Gede Matesih berhenti untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Putra laki-laki satu satunya yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang dan sekaligus sebagai guru bagi kami murid-muridnya. Namun perguruan gunung kidul dapat dikatakan telah mengalami masa-masa yang suram. Sepeninggal Ki Demang Sarayuda memang tidak ada lagi murid-murid utamanya yang mampu menguasai dan meraih puncak ilmu perguruan gunung kidul warisan dari Ki Ageng Pandan Alas sebagaimana Ki Demang Sarayuda. Putra laki-laki satu satunya Ki Demang Sarayuda pun tidak.”

    • Wah argo menoreh lewat…makasih pak Satpam dan Mbah Man

    • mator sakalangkong ki.ps and mb.man
      sehat selalu.Aamiin

      • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin,jadi ingat Ki PA, gak pernah muncul disini. ..

    • Matur suwun mbah Man dan P.Satpam,nah cucu ki Pandan Alas jadi istrinya M.Jenar juoos

      • Saat ini posisi tahun 1613, penobatan Raden Mas Rangsang

  4. Maturnuwun kabar gembira yang diantu antu telah datang, semoga Ki Satpam senantiasa Allah berikan kesehatan hingga bisa menyelesaikan STSD sampai tuntas

  5. Ki ageng pandan alas, tokoh sakti pada saat itu yg cucunya dinukah rangga toh jaya. Ingat pada masa pengembaraan ini saya jd teringat. Dimana ya putra rangga toh jaya itu. Wahhh mungkin dah seusia kita kita. Wahh ngelantur lagi P. Breng.

    • Kalau nggak salah lanjutan NSSI Rangga Toh Jaya alias Mahesa Jenar bisa dilihat di sini https://cersilindonesia.wordpress.com/jjyt-01/2/ tapi masih belum selesai.

      • Last update nya dah lama. Anggap saja dah nggak lanjut

      • matur nuwun infonya…. kaget campur seneng nemu link ini…. salam sehat buat mbah man….

        • salut upaya luar biasa keras mbah man mengolah bahan2 dari SHM dan “menyambungkan” NSSI dengan dengan ADBM… tetap semangat dan sehat2 ya mbah man… saya siap support selalu…

    • Rangga Tohjaya seumuran Demang Sarayuda, saat itu usia pemuda belum nikah pas masa sultan trenggono (1521-1546). Kira-kira belum nikah pas masa itu usia berapa ya ?🤔

      Mataram sendiri berdiri tahun 1586

      • Saat ini posisi tahun 1613, penobatan Raden Mas Rangsang

        • Kalau putranya masih masuk akal masuk cerita.

    • Nggak apa apa ki.raos…just to memory…mengingat kembali masa masa kejayaan Rangga Tohjaya ….malah pak breng nggak ingak blaaas babar pisan…la wong ancene Sik durung Moco ki.raos…he he he…tifus kiiiii

      • Masih muda berarti, catet dulu📝

  6. Jegggggg…..jegggggg…..menghubungi…tuuttuuuuuutttt….argo bromo ora lewat²……qiqiqiqiqi….

    Mugi mugi mbah man n pak satpam sehat selalu..

    • Nguk inguk…

      • Ngok ti Ngok gerbong mataraman mbok menowo ada luncruttan gerbong penobatan RM Rangsang pas di tahun 1613 katar ki.sisol loo..

        tuuiiitan pak sep ditunggu looo
        semboyan telok lemak

  7. pak Satpam alon2 mawon… dalem nembe nyimak JJYT… mugi2 tetep lanjut… he he he…

  8. STSD-30 halaman 51-52

    Untuk sejenak kedua orang tua itu tampak termenung. Apa yang disampaikan oleh Ki Gede Matesih itu secara tidak langsung telah mengethuk hati mereka yang paling dalam.

    “Apakah memang ilmu jaya kawijayan guna kasantikan itu semakin lama akan semakin susut sejalan dengan perkembangan jaman?” pertanyaan itu ternyata telah berputar putar di dalam benak kedua orang tua itu.

    “Ki Gede Matesih,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Permasalahan yang terjadi di perguruan gunung kidul itu pun juga terjadi dalam perguruanku, dan aku yakin juga terjadi di perguruan-perguruan di seluruh tanah ini,” Kiai Sabda Dadi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sudah menjadi kebiasaan seorang guru untuk tidak menurunkan seluruh ilmunya kepada murid-muridnya dengan tujuan, jika kelak di kemudian hari murid itu ternyata telah menyimpang dari wewaler perguruan dan membahayakan sendi-sendi kehidupan bebrayan agung, sang guru masih mempunyai kekuatan untuk menegur bahkan jika perlu menghilangkan ilmu itu dari diri sang murid.”

    Tampak kepala kedua pemimpin tanah perdikan itu terangguk angguk. Dengan demikian kemampuan yang dimiliki seorang murid turun temurun dari guru mereka akan semakin berkurang, sehingga pada akhirnya ilmu-ilmu itu akan hilang tertelan jaman,

    “Tetapi seorang guru memang bertanggung jawab penuh atas pengamalan ilmu yang telah diturunkan kepada muridnya,” membatin Ki Gede Matesih sambil mengangguk angguk, “Jika kemudian murid itu ternyata telah menyelewengkan ilmu yang dipelajarinya, adalah tugas seorang guru untuk menegur bahkan sekalian menghukumnya.”

    Sejenak suasana menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam lamunan di masa-masa muda, masa yang penuh dengan cita-cita untuk mereguk ilmu dan meraih kemampuan setinggi bintang.

    “Aku jadi teringat masa-masa muda dulu,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian memecah kesepian, “Betapa hampir setiap hari kita bergulat dengan latihan olah kanuragan di sela-sela pekerjaan di sawah dan pategalan yang juga menuntut perhatian. Ketika saatnya guruku yang juga ayahku menurunkan ilmu puncak perguruan Menoreh, ayahku hanya berpesan; aku telah menurunkan dasar-dasar dari puncak ilmu perguruan kita, kembangkanlah sendiri sehingga suatu saat engkau akan mampu meraih kemampuan itu sampai ke puncak.”

    “Benar, Ki Gede,” sahut Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Matesih hampir bersamaan. Kiai Sabda Dadi lah yang kemudian meneruskan, “Hampir setiap guru mempunyai pesan yang sama kepada murid-muridnya. Kita tidak pernah dituntunnya untuk meraih puncak ilmu perguruan kita masing-masing. Kita disuruh untuk mencari sendiri dengan dasar-dasar yang telah diberikan. Bahkan kita juga diberi semangat jika mungkin untuk mengembangkannya.”

    “Itulah kearifan seorang guru yang tidak semata mata membatasi pemberian ilmu kepada muridnya. Seolah olah seluruh ilmu telah tuntas diberikan dan muridnya bahkan didorong dan disemangati untuk mengembangkannya agar suatu saat dapat melebihi kemampuan gurunya,” sahut Ki Gede Menoreh.

    “Tetapi pada kenyataannya sangat jarang,” sela Ki Gede Matesih dengan serta merta, “Perguruan gunung kidul hampir dikatakan tinggal sisa-sisa kenangan dari perguruan Pandan Alas yang disegani. Tidak ada satu pun murid dari Ki Demang Sarayuda yang mampu menyamai gurunya, apalagi melampauinya.”

    • Terima kasih ki PS dan Mbah Man

    • Maturnuwun pak Satpam dan Mbah Man. Jadi inget JJYT yg masih menunggu diwedhar he..he..

      • Saya ikut nunggu2 juga disana… He he…..

    • Tengkyu ki.ps and MB.man

      Tahes selalu…

      • Pak Breng mulai membaik kata🙃

        • Membalik, kena autocorrect

          • Abeeeh…
            Ki sisol…
            He He He…

            Gerbong masih seputar menorehan..mengenang perguruan masa lalu….Ki.GM..Ki.GMT..Ki.SD…dengan nggol senggolan ki.ageng pandan Laras dengan masa kejayaannya……….

            Apakah gerbong hari ini masih landai landai sajo…kiriman gerbong menoreh …goa langse….Muria…ato Mataram dgn penobatan RM Rangsang…ato RM Wuryah..
            Kita tunggu wedaran nya

  9. asalamualaikum wr wb… semoga mbah man sehat selalu… aamiin…

    • Aamiin
      Matur suwun
      Semoga demikian juga sanak kadang yang berada di gandhok ini.

      • Aamiin🤲🤲

      • Aamiin…

  10. Jangan” Ki Tanu Merir alias Kyai Gringsing itu, waktu mudanya pemilik Aji Sasra Birawa…😅

    • Mestinya lebih tua, Majapahit vs Demak.

      Lebih penasaran hubungan antara Ki Tanpa Aran, Ki Waskita, Ki Patih, dan Windujati. Orang-orang muncul saat mendengar siulan rahasia.

      Ki Patih bisa mecah rangkep 2 (mirip ujud semu yg sempurna). KTA bisa melepas jejak semu. Mau di bawa ke arah mana itu sama mbah man
      hubungan perguruan mereka ?🤔🧐

  11. STSD-53-54

    “Ki Demang Sarayuda pun aku yakin tidak sedahsyat gurunya sendiri, Ki Ageng Pandan Alas,” sahut Ki Gede Menoreh, “Kesibukannya sebagai Demang pasti telah banyak menyita waktunya.”

    “Ki Gede benar,” jawab Kiai Sabda Dadi sambil mengangguk, “Itu terjadi hampir di setiap perguruan. Dan kini tugas kita sebagai orang tua dan sekaligus guru bagi anak-anak kita untuk tetap melestarikan ilmu-ilmu itu agar tetap berguna di masa mendatang.”

    Terasa sebuah desir tajam menggores dada Ki Gede Matesih. Sebagai murid perguruan Pandan Alas dari cabang gunung kidul, Ki Gede Matesih merasa belum mampu menguasai puncak ilmu perguruannya bahkan rasa rasanya masih sangat jauh untuk bermimpi berdiri sejajar dengan Ki Demang Sarayuda, apalagi jika dibandingkan dengan Ki Ageng Pandan Alas.

    Tiba-tiba ingatan Ki Gede Matesih melayang ke orang aneh yang telah mencegatnya di tengah bulak beberapa saat yang lalu.

    “Orang aneh itu mengetahui bahwa aku mempunyai jalur ilmu dari perguruan Pandan Alas,” membatin Ki Gede Matesih sambil pandangan matanya menekuri anyaman tikar pandan di hadapannya, “Orang itu telah menolong diriku melancarkan jalur-jalur urat nadiku serta otot-otot bebayuku sehingga aku mampu mengungkapkan aji cunda manik walaupun masih pada tingkatan yang sangat rendah. Namun yang sedikit itu ternyata telah mampu menghancurkan kesombongan Raden Mas Harya Surengpati.”

    Terdengar Ki Gede Matesih menarik nafas dalam-dalam. Kenangan masa-masa yang gawat di perdikan Matesih saat itu seolah tergambar kembali dengan jelas di pelupuk matanya. Kedatangan rombongan Ki Rangga yang mengaku pengembara dari Prambanan itu ternyata telah membantunya ngudari benang ruwet yang dialami perdikan Matesih saat itu.

    “Ah, sudahlah,” gumam Ki Gede Menoreh kemudian sambil mengulurkan tangan kanannya mengambil mangkuk minuman di hadapannya. Setelah meneguknya beberapa kali Ki Gede pun kemudian meletakkan mangkuk itu kembali di hadapannya sambil melanjutkan, “Jika kita berbicara tentang masa lalu, tidak akan ada habis-habisnya. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi undangan perguruan Wirapati itu jika sampai saatnya tiba, Ki Rangga belum juga hadir di tengah-tengah kita.”

    Kini kerut merut tampak di kening Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Matesih. Walaupun Ki Gede Matesih tidak bersentuhan langsung dengan perguruan Wirapati, namun keberadaan Ratri di Menoreh telah menggelisahkan hatinya.

    “Ki Gede,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian, “Kita belum dapat menentukan langkah-langkah kita selanjutnya sebelum kita mendapat gambaran yang cukup jelas dari perguruan Wirapati itu. Yang jelas telah datang seseorang yang mengaku masih Trahing Wong Agung, Trah Kusuma Rembesing Madu dan membuat Pengeram-eram dengan tujuan yang belum dapat kita pastikan.”

    “Tetapi, bukankah Kiai berencana malam ini akan mengadakan penyelidikan ke perguruan itu?” sahut Ki Gede Menoreh kemudian sambil berpaling ke arah kakek Damarpati itu.

    “Sebentar lagi, Ki Gede,” jawab Kiai Sabda Dadi sambil menarik nafas dalam-dalam dan menegakkan punggungnya. Sambil mengamat amati langit yang kelam, Kiai Sabda Dadi pun meneruskan, “Sebentar lagi manjing sepi uwong. Aku akan bersiap siap untuk berangkat.”

    “Apakah Kiai perlu membawa bekal? Makanan dan minuman barangkali?” sela Ki Gede Menoreh.

    “Ah,” desah Kiai Sabda Dadi. Ki Gede Matesih pun tersenyum mendengar gurauan Ki Gede Menoreh.

    “Aku kira aku tidak membutuhkan semua itu, Ki Gede,” jawab Kiai Sabda Dadi kemudian sambil tersenyum, “Lagi pula makan yang berlebihan di malam hari tidak baik untuk kesehatan.”

    “Tetapi jika Kiai merasa lapar dan haus setelah mengadakan penyelidikan yang mungkin cukup menguras tenaga, bagaimana?” sergah Ki Gede Menoreh tak mau kalah, “Aku yakin Kiai tidak akan menjumpai sebuah kedai pun yang buka di saat-saat seperti itu.”

    • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin…

    • Alhamdulillah akhirnya datang juga gerbong menoreh nya…
      Ki.SD…lagi Yap SI Yap proses pendingkikan ke perguruan wirapati…budak wayahe sueeeeepi uwong…semoga berhasil Ki.SD..

      matur nuwun ki.ps dan MB.man moge moge sehat selalu Aamiin Yaa Rabb

      Langsung bubuk meyeng wes ki.sisol ..Ki.widiaxa…GUT NET

      • Pas nglayap kemasukan maling bisa itu😜

    • Benang merah yg tdk pernah lepas dr kisah ADBM lalu berlanjut ke STSD adalah sisipan humor yg ringan menyegarkan. Maturnuwun pak Satpam & mbah Man. Baru saja touch down stasiun Depok Baru.

      • ti ati ki.gagak rimang..
        pakek masker
        cuci tangan
        jaga jarak 2cm
        wkwkwkwk

  12. To’0”00’0’0P e poooll mbah Man,,gumun wong sing ambil mangkuk minum trus wedang teh di sruput Ki gede menoreh kok berasa ikut minum,,toh!

  13. Nginguk gandok sik ah….wkqkwkwkwkwkwkwk

  14. The best lah….
    Walau kadang alur cerita berjalan lambat, kadang terlalu cepat.
    Sehat selalu Mbah Man dalah Ki PS.

    • setuju… saya ngaglang ke berbagai situs yang “meneruskan” ADBM dan menurut saya ini yang paling oke… he he he…

      • *nganglang

        • Nguk inguk ,msh b afa tanda² hhhh

          • kayaknya bentar lagi………..

          • Tingok kiri
            Tingok kanan
            Tenguk tenguk
            Ngabti tengik

            Pola Lo Yoo ada gerbong yg nyelintut…dari
            menoreh ok
            Mataram ok
            Kendalisodo ok
            Matesih ok
            Pundak Lawang ok

            Pokok nya OK
            PAK SEP…AAAA. YUUUU. REDI.

            TUUUUUUIIIIIIITANNYA

  15. Blum juga keliatan….
    Rel kebanjirankah… Nunggu surut

  16. Lokomotif diservis, keblebeg lumpur banjir.

    hi hi hi …., baru bisa memberangkat kereta setelah diservis dulu.

    Meski Pak Sep tidak membunyikan peluit semboyan telok lemak, kereta tetap berangkat.

    Teoongggggg………………………….

    • mana…mana…mana..
      tak ngetelak gerbongah kiiiii

  17. STSD-30 halaman 55-57

    “Ah,” kembali kedua orang tua itu berdesah. Jawab Kiai Sabda Dadi kemudian, “Aku akan mencari pategalan dan mengambil apa saja yang dapat dimakan. Tentu saja aku akan berteriak tiga kali terlebih dahulu untuk meminta ijin pemiliknya.”

    “Jika pemiliknya ternyata tidur di gubuk dan kemudian terbangun, bagaimana?”

    “Lebih baik lari saja!”

    “Ah,” sekarang giliran kedua pemimpin tanah perdikan itu yang tertawa tergelak.

    “Nah, agaknya sudah waktunya kita untuk beristirahat, kecuali Kiai Sabda Dadi,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian setelah tawa mereka reda, “Sekali lagi aku memohon kepada Ki Gede Matesih sudilah kiranya untuk menunda kepulangannya ke perdikan Matesih barang sehari atau dua hari. Sokor-sokor bisa ditunda sampai pekan depan. Kita akan menunggu hasil penyelidikan Kiai Sabda Dadi sebelum kita menentukan langkah-langkah kita berikutnya.”

    Terdengar Ki Gede Matesih menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Gede. Aku akan ikut menunggu hasil penyelidikan Kiai Sabda Dadi. Jika keadaan memaksaku untuk tinggal, aku tidak berkeberatan. Aku siap membantu kerepotan yang dialami oleh Ki Gede Menoreh. Namun kedua orang pengawal Matesih itu biarlah pulang terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaanku dan Ratri di sini.”

    “Terima kasih,” sahut Ki Gede Menoreh dengan serta merta. Sedangkan Kiai Sabda Dadi hanya tampak mengangguk anggukkan kepalanya saja.

    Sejenak kemudian setelah sekali lagi mereguk minuman masing-masing sampai habis, ketiga orang tua itu segera bangkit berdiri. Setelah mengucapkan salam perpisahan ketiga orang itu pun segera menuju ke bilik masing-masing.

    Kiai Sabda Dadi dan Ki Gede Matesih tampak segera berjalan menuju ke gandhok sambil berbincang bincang ringan. Sementara Ki Gede Menoreh pun kemudian segera membuka pintu pringgitan dan melangkah masuk.

    Terlihat pringgitan yang sepi. Tampak seperangkat peralatan permainan dakon tertata rapi di salah satu sudut. Biasanya selepas Matahari terbenam Damarpati senang bermain dakon bersama Rara Wulan. Ki Gede Menoreh pun meneruskan langkahnya.

    Sesampainya di ruang tengah, Ki Gede segera mendorong pintu biliknya. Sejenak Ki Gede tertegun di tengah-tengah pintu. Tampak Pandan Wangi yang sedang tidur sambil memeluk Bayu Swandana.

    “Wangi?” desis Ki Gede kemudian sambil melangkah mendekat.

    Pandan Wangi yang sudah menyangka bahwa ayahnya yang memasuki bilik, segera bangkit perlahan sambil melepaskan pelukannya pada Bayu Swandana. Pandan Wangi pun kemudian duduk di bibir amben.

    “Apakah Bayu Swandana tadi rewel sebelum tidur?” bertanya Ki Gede kemudian sambil duduk di samping anak perempuan satu satunya itu.

    Pandan Wangi pun mengangguk sambil menjawab, “Anak itu sedari sore menunggu kakeknya. Katanya kakek mau mendongeng untuknya sebelum tidur. Jadi dia tidak mau tidur sebelum mendengarkan dongengan kakek.”

    Ki Gede tersenyum sambil memandang ke arah cucunya dengan penuh kasih sayang. Sambil mengangguk anggukkan kepala Ki Gede pun kemudian berdesis perlahan, “Begitu bangun pagi-pagi, dia pasti akan menagih dongeng itu. Benar-benar seperti ayahnya, pantang menyerah jika sudah mempunyai kemauan.”

    Pandan Wangi menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengar Ki Gede menyebut ayah Bayu Swandana. Ada segores luka lama yang terasa berdarah kembali. Tetapi puteri Menoreh yang terkenal dengan sepasang pedangnya itu tampak hanya menundukkan kepalanya saja.

    “Bagaimana mbokayu?” tiba-tiba pertanyaan Sekar Mirah yang duduk di sampingnya kembali mengguncang jantung

    • Mantaablah kreta berangkat juga…

    • matur nuwun
      ki.ps and mb.man
      tahes selalu

      • langsung bubuk meyeng wes…
        gut net

    • Kalau lihat pertanyaan SM di bawah gambar kok sepertinya sudah menjurus ke masa depan PW ki.

      • Bener. Bagus Sadewa ditinggal. Ki SD juga mau nglayap tuh😉😜

      • masa depan PW maknyutnya SM mempertegas lagi mimipi2 yg lalu SM…mbokayu ….
        aku relaa
        aku relaaa
        aku relaaaaa
        mbokayu dinikahi sama akang AS..suwer..suwer..suwer mbokayu..
        namun PW dengan menundukkan kepalanya sedari berucap..benarkah apa yg kamu ucapkan nimas SM..
        langsung SM mereply pertanyaan PW betul mbokayu…..
        gimana mbokayuuuuu..
        langsung PW berpantun…
        “”BUAH KEDONDONG BUAH SALAK”:
        “”MAU DONG…NGGAK NOLAK””:

        akhirnya…akhirnya…akhirnya..
        berrangkulan kedua sambil diringi isak tangis kegembiraan…

        iki rokiro loo ki.sisol..ki.ars

        • sido “ndhobel” telu tenan iki Pak Breng….? siapkan telur bebek dan sprite nyaaa….. he he he….

        • Kalau jawabe gini piye “Aku bacut janji karo Pak Breng mirah” 😉😜

          • Langsung pak breng berpantun.

            “”Buah kedondong Rasanya kecut””

            Mau dooong Siapa takut”

            wkwkwk dgn catatan tidak ada demo Sutil …wajan ..sablukan….ember melayang layang…dari mbok uwek..hi..hi..hi

  18. STSD sangat mengesankan….smg pengarangnya ttp sehat dan bisa melanjutkan cersil ini dg lebih gayeng….lebi bisa intruspeksi diri….menuju lebih baik

  19. STSD-30 halaman 58059

    “Ki Gede Matesih sudah menyampaikan maksud kedatangannya di Menoreh ini,” berkata Ki Gede selanjutnya demi melihat anak perempuannya hanya menunduk saja. Pandan Wangi pun mengangkat kepalanya. Ki Gede meneruskan, “Mereka berencana untuk kembali besuk pagi-pagi ke Matesih, namun Ratri akan tinggal di sini untuk belajar olah kanuragan kepadamu, Wangi.”

    Tampak Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk angguk. Tanyanya kemudian, “Terus, apa jawaban ayah?”

    “Aku masih belum berani berjanji,” jawab Ki Gede cepat, “Seperti yang telah aku sampaikan kepadamu kemarin sore, aku masih harus berbicara dengan pamanmu Argajaya walaupun sebenarnya purba wasesa perguruan Menoreh sekarang berada di tanganku. Pamanmu Argajaya itu tidak sampai tuntas menimba ilmu kepada kakekmu.”

    Tampak kerut merut di kening Pandan Wangi. Tanyanya kemudian, “Mengapa, ayah?”

    Ki Gede tampak tersenyum sekilas. Jawabnya kemudian, “Pamanmu itu lebih senang ikut sahabat-sahabatnya menimba ilmu kepada orang lain.”

    Tampak kepala Pandan Wangi terangguk angguk. Katanya kemudian yang membuat Ki Gede sedikit terperanjat, “Ayah, jadi masalahnya apa sekarang? Paman Argajaya tidak mewarisi ilmu perguruan Menoreh seutuhnya. Jadi paman Argajaya tidak mempunyai kewenangan untuk memberikan pendapatnya sehubungan dengan masa depan perguruan Menoreh. Ilmu paman Argajaya sudah bercampur baur dengan ilmu di luar perguruan Menoreh.”

    Ki Gede tidak segera memberi tanggapan. Sebuah tarikan nafas yang panjang dan dalam terdengar sebelum akhirnya Ki Gede menanggapi. Jawabnya kemudian, “Wangi, setidaknya aku masih menghormati pamanmu yang pernah mereguk ilmu dari sumber yang sama. Apa yang akan aku lakukan sebenarnya hanya sebatas menghormati sesama murid perguruan Menoreh, itu saja.”

    Sekarang Pandan Wangi yang tampak menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk angguk. Diam-diam Pandan Wangi memuji sikap ayahnya yang selalu mencoba menyambung tali persaudaraan walaupun di masa lalu pamannya itu pernah membuat kesalahan yang besar, memberontak kepada kakak kandungnya sendiri.

    “Nah, kembalilah ke bilikmu,” berkata Ki Gede kemudian sambil berdiri dan melangkah ke sudut bilik. Ki Gede pun kemudian membuka pintu geledek dari kayu jati berukir yang terletak di sudut itu. Agaknya Ki Gede akan berganti pakaian sebelum menyusul Bayu Swandana.

    Pandan Wangi tanggap. Sebelum meninggalkan bilik ayahnya, disempatkan untuk mencium dengan gemas pipi Bayu Swandana yang terlihat gembil dan lucu itu.

    “Selamat malam, ayah,” berkata Pandan Wangi kemudian sebelum hilang di balik pintu bilik. Ki Gede hanya berpaling sekilas sambil mengangguk dan tersenyum.

    Sepeninggal Pandan Wangi, Ki Gede yang telah berganti pakaian itu segera merebahkan dirinya dengan perlahan di samping cucu laki-laki satu satunya itu.

    Dalam pada itu Sekar Mirah yang sedang berada di dalam biliknya terlihat sedikit gelisah. Berkali kali dia mencoba mengangkat kepalanya dari pembaringannya untuk melihat Rara Wulan dan Damarpati. Kedua perempuan itu beberapa saat tadi terlihat masih belum tidur.

    “Aku sudah berjanji bertemu di longkangan dengan mbokayu Pandan Wangi,” membatin Sekar Mirah sambil kembali melongokkan kepalanya untuk melihat kedua perempuan itu, Rara Wulan di amben sebelah dan Damarpati yang tidur di lantai beralaskan tikar dekat ranjangnya.

    “Mereka sudah tidur,” berkata Sekar Mirah dalam hati sambil dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyerap bunyi bangkit dari pembaringan dan duduk di bibir ranjang. Sejenak

    • Pertama x

    • alhamdulillah ada kiriman gerbong menoreh suwun ki.ps n mb.man .

      prob diguyur hujan beberapa desa banjir…

      • semoga banjir segera surut dan bisa beraktivitas normal… matur nuwun mbah Man dalah ki Satpam, semoga sehat selalu…aamiinnn…

        Pak Breng, njenengan ga pengen ngarang spoiler tah ? kira-kira apa yang akan diobrolin SM sama PW… apakah sasrahan sombolik PW jadi “maru” nya SM ? qiqiqiqi
        Njuk terus… kapan wektune Rara Anjani, melu bergabung se-gubuk 3 cinta…qeqeqe….monggo dilanjut pa Breng…

        (bicara banjir, tepat sabtu kemaren rumahku juga kemasukan aer, pdhal kehitung lebih tinggi dari tonggo teparo…hihiks…tamu tak dinyana…)

        • Waaaaah waaah wajah Ki.subas ini nggugahi macan turu..hi hi hi..
          RakiRa lobki.subas…

          Ini SM sama PW kan sdh baekan…sdh sehati katanya…
          tapi SM dan PW kan juga punya hatibakan nasib RA…
          dalam pada itu udara diluaran dingin sekali yg dapat menggelitik dua perempuan baya itu…namun SM dengan malu malu kuciang menyampaikan BB ke SM..mbokayu..alangkah senangnya kita berdua ini dengan dengan hawa dingin merindu duduk bersanding dengan kakang agung Sedayu…sehingga kakang AS dapat menemani shg kita berdua tdk kedinginan yaaaa…arep2 dot com…iyaaa jawab PW dengan syahdu…qi..qi..qi…

          namun ditengah tengah lamunan para perempuan baya yg masih semlohaiii…Ojo ngiler Lo Ki.sisol..iki roKIro loooo yooo..
          SM berucap nimas SM ..kita juga kasihan akan nasib RA…dan sebenarnya RA tidak salah klau masih mengharapkan hati dari kakang AS…kakang juga tidak salah juga karena klau dipahami apa yg disampaikan kakang AS itu dapat diterima dgn nalar seorang perempuan..

          Mendengar apa yg disampaikan oleh PW…maka SM Langsung membisu dengan seribu bahasa. bahasa sepanyolan..bahasa Madura..bahasa enggress..bahasa koreaaa…

          Dengan suasana yg sendu SM memberikan gagasan dengan suara parau… ..begini mbokayu gimana klau RARA ANJANI (RA) itu kita minta untuk hidup bersama sama…tapi TDK sekamar 4 orang..
          Tapi masing masing punya kamar..
          Kamboja room ..SM
          Kenanga room….PW
          Melati room……..RA..
          Jadwal rolling mbokayu….gimana kata SM kepada PW…langsung PW berpantun..
          “”Buah kedondong buah salak””
          “”Mau doooong nggak nolak””‘

          Kata PW tapi kakang harus minum jamu resepnya Ki.Araha
          3 butir telor bebek dan sprite…oooh iya iya aku hampir lupa untung mbokayu mengingatkan kata SM…dgn senyum senyum kerinduan wkwkwk….langsung caeeer akik e ki.ras…
          AJOOOOR JOOOOM

          ayam sorry kiiiiii

          • huuuaseemmm spoiler e bikin merinding… kok kayak hotel kelas melati yaak… ono Semboja Room, Kanthil Room… untung tidak ada Maesan Room…. waakakakak…

    • Kedua x

    • tengkyu ki.ps n mb.man
      sehat selalu

    • Maturnuwun p Satpam ugi mbah Man. Ngrampungke wedharan sinambi numpak sepur setrum mbatavia-mbogor.

  20. Assalamu’alaikum Warahmatullah…, Terima kasih Mbah Man soho Ki Satpam, semoga sehat wal afiat serta senantiasa dalam lindungan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.., Aamiin…..

  21. Kapan bundel selanjutnya terbit nggih ? Pun penasaran sanger Niki.

    • Ditunggu saja, saya juga dah nggak sabar nunggu. Paling nggak statusnya di antah berantah sana kan dah berganti, dari “Dalam proses” menjadi “Segera terbit”. Tinggal nunggu kata “Segera” jadi “Telah”😉

  22. 5 hari lagi harusnya seru banget ini, super seru

  23. STSD-30 halaman 60-61

    “Mereka sudah tidur,” berkata Sekar Mirah dalam hati sambil dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyerap bunyi bangkit dari pembaringan dan duduk di bibir ranjang. Sejenak diamat amatinya Damarpati yang tidur meringkuk berselimutkan kain panjang.

    Ketika pandangan matanya beralih ke arah Rara Wulan, istri Glagah Putih yang sedang mengandung muda itu terlihat tidur miring sambil menghadap dinding.

    “Sokorlah, keduanya benar-benar sudah tidur,” membatin Sekar Mirah begitu mendengar desah nafas yang teratur kedua perempuan itu. Sambil berjingkat bangkit dari tempat duduknya, Sekar Mirah pun kemudian melangkah mendekati pintu.

    Ketika Sekar Mirah sudah sampai di pintu, sekali lagi dia berpaling untuk meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kegiatannya menjelang tengah malam itu.

    Dengan mengerahkan kemampuannya untuk menyerap segala bunyi yang dapat ditimbulkan oleh pergesekan dirinya dengan sekitarnya, Sekar Mirah pun kemudian mengangkat selarak pintu dan membuka pintu bilik selebar tubuhnya saja. Setelah sekali lagi meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun di dalam bilik itu yang terbangun, Sekar Mirah pun kemudian segera menyelinap keluar.

    “Sebenarnya jika mereka terbangun, aku dapat saja beralasan pergi ke pakiwan,” membatin Sekar Mirah kemudian sambil dengan sangat hati-hati menutup kembali pintu bilik, “Namun jika mereka merasa aku terlalu lama belum kembali ke bilik, tentu salah satu akan mencariku dan jika mereka mengetahui aku sedang berdua saja dengan mbokayu Pandan Wangi di longkangan, tentu akan banyak pertanyaan yang harus dijawab.”

    Untuk menghindari segala macam pertanyaan yang mungkin dapat membingungkannya itulah dengan sengaja Sekar Mirah meninggalkan bilik tanpa sepengetahuan kedua perempuan itu.

    “Damarpati kemampuannya mungkin masih belum tinggi,” membatin Sekar Mirah selanjutnya sambil berjalan menyusuri teritisan, “Namun kemampuan Rara Wulan akhir-akhir ini semakin meningkat pesat. Walaupun dia berguru kepadaku, namun kemampuan ilmunya telah meningkat dengan sangat pesatnya.”

    Langkah Sekar Mirah telah mendekati longkangan. Ketika dia kemudian sampai di ujung gandhok yang berbatasan dengan rumah induk, Sekar Mirah segera mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang duduk di lincak di longkangan.

    “Mbokayu?” sapa Sekar Mirah kemudian perlahan begitu dia menginjakkan kakinya di longkangan.

    Pandan Wangi yang sedang duduk di lincak dalam kegelapan itu pun tersenyum.

    “Marilah, Mirah,” katanya kemudian sambil menggeser duduknya setapak, “Aku juga baru datang. Aku masih harus menidurkan Bayu Swandana yang sedikit rewel menunggu kakeknya.”

    Sekar Mirah tersenyum sambil mengambil duduk di sebelah Pandan Wangi. Katanya kemudian, “Aku justru agak kesulitan meninggalkan bilik sebelum Rara Wulan dan Damarpati tidur. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyusahkan.”

    “Bukankah engkau dapat berpamitan ke pakiwan atau ke dapur barangkali?”

    “Itu justru akan mengundang pertanyaan,” sahut Sekar Mirah dengan serta merta, “Jika dalam waktu yang cukup lama mereka belum melihat aku kembali ke bilik, salah satu pasti akan mencariku, dan itu yang tidak aku kehendaki.”

    “Ah,” desah Pandan Wangi sambil tersenyum masam, “Engkau ini memang ada-ada saja, Mirah. Seolah olah yang akan kita bicarakan ini adalah masalah rahasia besar yang menyangkut kehidupan orang banyak. Sebenarnya kita dapat bertemu kapan saja dan di mana saja untuk membicarakan permasalahan yang mungkin timbul di antara kita. Namun rasa rasanya permasalahan itu tidak ada.”

    “Ah, mbokayu ini,” sela Sekar Mirah cepat sambil merangkul lengan Pandan Wangi, “Memang tidak ada masalah di antara kita.”

    • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin.

    • Kedua x

    • tidak ada masalah diantara dua perempuan parobaya yg seger karena apa ki.sisol…SM dan PW sudah baekkan…jadi losss nggak rewel…

      tapi selanjutnya yg dibahas seperti yg aku tulis ki.sisol hiks…hiks…hiks

  24. matur nuwun mbah Man, dalah Ki Satpam…dungo sehat kaunjuk kagem panjenengan…

  25. “Aku masih harus menidurkan Bayu Swandana yang sedikit rewel menunggu kakeknya”

    Beda 180 derajat sama Pak breng hari ini. Tidur awal kayaknya, malem minggu😉😜

    • otw jakarta ngantar anak wedok sing no.4..diterima kerja di jkt…ki.sisol

      sorry baru baca….

      suwun ki.ps n mb.man

      • Berarti Pak breng dah tua. Nggak semuda gambarnya Ki Rangga waktu itu😉📝

        • waaah jangan bilang tua.
          ki.sisol kayak orang kurang semangat…he he he..
          lebih afdolnya ..kalau begicu pak breng sudah senior hiks…hiks…hiks.

          jas kiding ki.sisol ojo dilebukno ati..lebokno nang susur ae.

          tengkyu ki.ps n mb.man
          tahes selalu.

          • Ok senior 😉😜

        • Kata Ki Arema, SENIOR = SEnang biNI ORang

          Wah….ha ha ha …. Pak Breng …..

          • ha ha ha…ki.ps..ini.tauuuuuuu ajjah…

            semoga tahes ulales..Aamiin

  26. Tmbah seru critane… Joz

    • Ditinggal ngobrol PW SM, Anake ilang?..,.

      • Misal nggak ngobrol, apa sanggup melawan Maharsi ?.. meski Maharsi bggah boat membunuh, bisa saja dia melumpuhkan

        • Nggak niat membunuh
          Kena autocorrect

          • sakjane SM sdh terasa makanya SM langsung mengerahkan tenaganya untuk menyadap kedatangan seseorang namun maharsi sangat piawai untuk mengelabuhi lawan shg maharsi lolos sensor dari penerawangan SM…dan dengan mudah membawa BS…

  27. STSD-30 halaman 62-63

    “Jadi untuk apa sebenarnya kita berdua malam-malam begini duduk-duduk di longkangan yang sepi dan gelap?” sela Pandan Wangi kemudian dengan kerut merut di kening, “Jika seseorang memergoki kita dalam keadaan seperti ini, akan timbul dugaan yang bermacam macam tentang diri kita.”

    “Ah, mbokayu ini terlalu berperasaan,” jawab Sekar Mirah sambil mengeratkan pelukannya di lengan Pandan Wangi, “Jika memang ada orang yang memergoki kita berdua di sini, apa salahnya. Kita tidak sedang berbuat kejahatan atau melanggar paugeran. Aku hanya ingin suasana yang tenang dan tidak terganggu oleh lalu lalang orang sehingga aku telah memilih waktu dan tempat ini.”

    Pandan Wangi tersenyum sekilas. Dibiarkan saja tangan Sekar Mirah bergayut di lengannya. Sementara berbagai dugaan silih berganti memenuhi benaknya.

    “Mbokayu,” berkata Sekar Mirah kemudian sambil melepaskan tangannya dari lengan Pandan Wangi dan kemudian merapikan kainnya yang tertiup angin malam, “Sudah cukup lama mbokayu hidup sendiri sepeninggal kakang Swandaru. Apakah tidak pernah terbesit sebuah keinginan mbokayu untuk membina sebuah rumah tangga lagi.”

    Terperanjat bukan buatan Pandan Wangi mendengar pertanyaan yang tak terduga dari Sekar Mirah itu sehingga dia telah beringsut setapak menjauh. Sambil berpaling dan menatap tajam ke arah adik iparnya itu, Pandan Wangi pun kemudian bertanya dengan nada sedikit heran, “Mirah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Sepeninggal kakang Swandaru tidak pernah terlintas sedikit pun apa yang engkau pikirkan itu. Aku sudah merasa tenang dan tentram dalam keadaanku seperti ini.”

    Sekar Mirah tercekat. Beberapa kali dia harus menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat kering. Untuk beberapa saat anak perempuan Ki Demang Sangkal Putung itu menjadi kehilangan kata-kata.

    “Mengapa lidahku menjadi kelu?” geram Sekar Mirah dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba pepat bagaikan tertindih berbongkah-bongkah batu padas.

    Kalimat-kalimat yang telah disusun dan akan disampaikan kepada mbokayunya itu menjadi pecah berserakan seperti awan tipis yang tertiup angin kencang. Kini Sekar Mirah harus sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata untuk mbokayunya itu.

    “Mbokayu,” desis Sekar Mirah kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Maafkan keterlanjuranku yang telah mencampuri urusan pribadi mbokayu. Namun sebenarnyalah aku bermaksud baik. Kita berdua memang tidak tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama. Kita tumbuh dalam pribadi masing-masing di lingkungan yang berbeda. Namun ada kesamaan dalam diri kita yang tidak dapat kita pungkiri. Kita pernah berselisih karena kesalah-pahaman, tetapi aku sedikit mengerti apa yang sebenarnya tersirat dalam sinar mata mbokayu saat itu, sebagaimana yang tersirat di mataku ketika untuk pertama kalinya aku mengenal kakang Agung Sedayu.”

    Sejenak Pandan Wangi termenung. Tanpa sesadarnya dia telah melihat semua peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, berurutan seperti gambar-gambar yang tersusun rapi. Sejak dia masih kanak-kanak, kanak-kanak yang manja, dengan seorang kakaknya yang tekun.

    Kemudian tibalah saat perpisahan yang menyakitkan itu. Kakak laki-laki satu satunya harus pergi mengikuti gurunya entah sampai kapan. Di dalam kesendiriannya itulah ayahnya, Ki Gede Menoreh telah mencurahkan segenap perhatiannya untuk menggembleng dirinya menjadi seorang gadis yang disegani dengan sepasang pedang di lambung.

    “Masa-masa yang sulit bagiku saat itu,” membatin Pandan Wangi sambil tetap menundukkan wajahnya, “Aku merasa usaha ayah sia-sia belaka untuk mengajariku olah kanuragan, karena belum melihat kepentingan dan kegunaannya.”

    • naaah itu ki.sisol…SM sudah memberikan lampu hijau kepada PW…dengan umpan pancingan…mbokayu kan sudah lama hidup sendiri apakah tidak berkeinginan untukbn8kah lagi….ini tujuannya ke kpd ki.RAS….
      sekeras keras hati perempuan akhirnya lyluh juga…

      suwun ki.ps n mb.man

      • ki.RAS sido bojo telu ki.araha n ki.subas…ojo lali resep jamune ala ki.araha…3butir telor hebek dan sprite…jooooos ngak trwel.tuuuuuiiiiiitttt

        • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin.

        • Wuiiihh… Mantab…

        • tambah siji meneh Pak Breng… deplok-an beling… cik landep… wakakaka..
          Matur nuwun Mbah Man… Ki Satpam..sehat terus nggih…

      • Kalau Pak Breng pingin, boleh niru😉

        • Iyooo seneng pola Yen koncone diuncali Sutil..ember..sablukan…ISO 2 digeprek karo uleg uleg..Hi. Hi. Hi…

          sepuntene kiiiiiii…

          sambil nunggu gerbong saat Maharsi menina bubukkan dua perempuan paro baya tapi cantik dan bening….

          tik de tik BS…dibawa kabur Maharsi…

          mana mana mana…suara nya ki.subas….hiks

          • lagi nyiapin telur bebek + sprite he he he….

  28. Maturnuwun Mbah_Man & P.Satpam , semoga selalu diberikan kesehatan & keberkahan..Aamiin

  29. STSD-30 halaman 64-5

    Tampak Pandan Wangi menarik nafas panjang. Sementara Sekar Mirah yang duduk di sebelahnya tetap membiarkan puteri Menoreh itu terbuai lamunannya.

    “Ternyata ayah telah menyembunyikan masa lalunya dengan sangat rapi,” Pandan Wangi meneruskan angan angannya, “Bagaimana aku bisa terlahir padahal ibuku saat itu sudah ternoda, namun dengan kebesaran dan kelapangan hatinya, ayah masih bersedia menerima ibu apa adanya sehingga kemudian terlahirlah aku.”

    Kepala Pandan Wangi terlihat semakin tunduk. Betapa kebahagiaan itu terenggut justru ketika kakak yang dirindukannya itu kemudian kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa segenggam bara untuk membakar seluruh tanah perdikan Menoreh.

    Kemudian di tengah kemelut yang melanda tanah kelahirannya, datanglah seorang gembala muda yang mengaku bernama Gupita. Sampai saat ini pun Pandan Wangi masih juga merasakan gejolak yang kadang-kadang hampir menyesakkan dadanya, jika teringat akan peristiwa di masa lalu itu. Masih terkenang olehnya, gembala muda itu begitu pandainya bermain dengan serulingnya, kemudian lari bersama-sama menghindari anak buah Ki Peda Sura. Anak muda yang ternyata bernama Agung Sedayu itu seolah-olah menyeretnya begitu saja di sepanjang pematang sawah yang tidak digarap.

    Namun suasana hati yang berbunga dan penuh harapan itu pun akhirnya kandas saat Sekar Mirah dan gurunya Ki Sumangkar hadir di Menoreh.

    “Itulah kenyataan yang harus aku hadapi saat itu,” desis Pandan Wangi di dalam hati sambil tetap menundukkan wajahnya. Dan kini dia kembali dalam kesendiriannya namun telah mempunyai Bayu Swandana sebagai curahan kasih dan sayangnya.

    “Mbokayu,” berkata Sekar Mirah kemudian setelah membiarkan Pandan Wangi merenung untuk beberapa lama, “Setiap orang tentu ingin meraih kebahagiaan dengan cara masing-masing. Aku tahu mb0kayu mungkin sudah merasa bahagia dalam keadaan mbokayu seperti sekarang ini, aku pun juga demikian. Aku sudah merasa bahagia mendampingi kakang Agung Sedayu selama ini, apalagi setelah kehadiran Bagus Sadewa. Kebahagian kami pun rasanya semakin lengkap,” Sekar Mirah berhenti sejenak sambil mencoba meraba kesan yang tersirat di wajah Pandan Wangi. Lanjutnya kemudian, “Tetapi apakah aku salah jika aku ingin membagi kebahagian ini bersama mbokayu?”

    Terasa sebuah desir lembut telah menyentuh jantung Pandan Wangi yang masih menundukkan wajahnya. Ada sedikit kegalauan dalam hatinya menghadapi pertanyaan Sekar Mirah. Walaupun kedua perempuan itu semasa masih muda pernah berselisih paham justru pada saat mereka berdua berjumpa untuk pertama kalinya, namun hubungan keduanya sekarang bagaikan saudara sekandung.

    “Bagaimana mbokayu?” tiba-tiba pertanyaan Sekar Mirah yang duduk di sampingnya kembali mengguncang jantung.

    Untuk sesaat Pandan Wangi menegakkan tubuhnya. Dihirupnya udara malam yang sejuk untuk sekedar melonggarkan dadanya yang tiba-tiba saja menjadi pepat. Di satu sisi, hatinya tidak mampu mengingkari cinta pertamanya dengan pemuda gembala yang luruh dan rendah hati itu. Namun disisi lain, dia harus menjaga perasaan Sekar Mirah yang sudah bertahun-tahun mendampingi Ki Rangga Agung Sedayu.

    “Dan sekarang telah datang Rara Anjani,” tiba-tiba terselip sebuah pertanyaan yang mengetuk dinding jantungnya, “Bagaimanakah perasaan kakang Agung Sedayu yang sebenarnya terhadap Rara Anjani? Aku tidak berani hanya sekedar untuk meraba dan menduganya. Namun apapun yang terjadi, Rara Anjani sepertinya tidak mampu melupakan pahlawan hatinya yang telah menyelamatkan dirinya dari kekejaman kedua gurunya.”

    “Mbokayu,” kembali terdengar suara lirih Sekar Mirah dekat di telinga membuyarkan lamunannya, “Aku menyadari perasaan mbokayu yang terpendam berpuluh tahun terhadap kakang Agung Sedayu. Menurutku mbokayu tidak bersalah. Bagi mbokayu, kakang Agung Sedayu adalah cinta pertama, namun yang harus kandas justru pada saat layar mulai terkembang dan biduk cinta mbokayu mengangkat sauh siap untuk berlayar,” Sekar Mirah berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Lanjutnya kemudian, “Maafkanlah mbokayu atas keterlanjuranku pada saat pertemuan kita yang pertama dulu. Aku mengira mbokayu telah cukup berbahagia mendampingi kakang Swandaru. Namun pada kenyataannya kakang Swandaru telah berkali-kali melukai hati mbokayu.”

    • Alhamdulillah

    • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin.

    • Mak..plong, sdh kawedhar.

    • naaah sdh baekan kan SM dan PW ki.sisol…lalu PW juga tidak menyalahkan ki RAS bila RA masih mengharapkan cintanya KI
      RAS….
      Gimana wajah ki.RAS bila ketiganya sdh akur ..tinggal nunggu tik de tik kesanggupan ki.RAS…

      waaaaaah tambah seruuuu niiih…

      tengkyu ki.ps n mb.

      • Ki Rangga beda 180 derajat sama Pak Breng lah😜

        Peragu untuk semua hal yg menyangkut orang lain

    • Waduh duh sudah ikhlas ya Mirah dimadu he hehe,matur suwun Mbah Man dan P.Satpam

    • terima kasih, telah melanjutkan cerita AdBM. selama ini dalam mode silent reader saja. akhirnya menulis komentar juga 🙂

  30. Apa sulitnya PW berkata jujur, ketika ada kesempatan. Umpama dia menjawab, “terima kasih adi SM, engkau telah memberi kesempatan. Aku terima tawaranmu, bahkan aku akan berusaha menundukkan tongkat RAS yg keras itu, yg seperti wesi gligen. Sbb SM katanya jg sering kewalahan dgn tongkat RAS, sehingga ingin bersama PW mengalahkannya, kalau perlu bertiga dengan RA.

    • wkwkwkwk.aku nggak melok melok wes…opo jare ki.sisol lan ki.subas

    • Kalau synopsinya kan PW tetep di Menoreh, RAS kembali ke Padepokan. Implisit saya anggap nggak jadi serumah. Meski punya Aji Pangrupak Jagad, tapi jaman dulu biasanya kalau berumah tangga mestinya nggak akan akan jauh lah TKP nya😉

      • Ini kejadian khusus. Berdasarkan sinopsis juga Sangkal Putung akan dijadikan Perdikan. Artinya ada dua tanah Perdikan terpisah jarak yg kelak harus dipimpin. Berarti perlu 2 orang. PW sudah bertekat ngrungkepi Menoreh. Berarti dia harus di Menoreh. Sangkal putung akan kosong, harus diasuh SM selaku pewaris pengganti. Supaya adil RAS tidak boleh menetap di salah satu perdikan. Sampai Bayu Swandana dan Bagus Sadewa dewasa.

        • Kesimpulan nya dobel nih ?. Atau triple sama Anjani ?😉

          Saya pikir sebentar lagi Ki Rangga bakal jadi Tumenggung, seperti kanji mas rangsang. Plus putri triman, ini yg bikin Pak breng ngiri berat 😜

          • heerrrm..

            ki.sisol…ki.ras percums yen bojo telu….tapi seperti diSAPEH….disapeh ini biasane buat bayi yg distop mimik cucu ibune…..

            ada peluang
            ada peluang
            ki.sisol..ki.subas..ki.raos.
            ki.widiaxa..ki.pras…sebagai stutmen peran pengganti he he he..ajoor…ajoooor…ajiiiiiooooot

        • Pripun nggih lanjutane.. srikandi kalih punika

  31. PW terdiam mendengar perkataan SM, setelah beberapa kejap mereka saling diam akhirnya SM membuaka suara, “mbok ayu, malam ini saya meminang mbok ayu untuk bersama sama mendampingi kakang RAS”. Mak jegreg hati PW, apa yang diharapkan dulu bakal menjadi kenyataan.
    Dilangsungkanlah acara pernikahan RAS dan PW dengan meriah, dengan mengundang para cantrik dan mentrik padepokan Sekar Keluwih.
    Lanjut terus mbah Man dan pak Satpam, moga tetap sehat selalu.

  32. dingkik-mendingkik nya gimana nih…

  33. Alhamdulillah, barusan bisa kirim tali asih sedikit ke rek. Mbah Putri. Mudah2an berkenan. 🙏. Semoga mbahman sekeluarga sehat selalu. Terima kasih utk ceritanya yg kian memikat.

    Ayo, sanak kadang. Mari berdonasi demi kelangsungan cerita ini. 😇

    • Alhamdulillah matur suwun
      Semoga mendapat balasan yg lebih banyak dan barokah Aamiin
      Salam
      Mbah Man

      • saya juga sama mbah, barusan jam 13:18 matur nuwun… seraya berharap semoga JJYT dilanjutken juga… salam sehat ya mbah… aamiin…

        • Alhamdulillah matur suwun
          Semoga mendapat balasan yg lebih banyak dan barokah Aamiin
          insyaAlloh JJYT tetap akan berlanjut, hanya masih kesulitan mengatur waktu.
          Matur suwun sarannya
          Mbah Man

          • Selalu siap support mbah… ditunggu lanjut sampe gugurnya Arya Penangsang… Matur nuwun

  34. Inguk2 gandok

  35. STSD-30 halaman 66-67

    Pandan Wangi mengerutkan keningnya mendengar kata-kata terakhir Sekar Mirah. Tanpa sadar dia berpaling sambil berdesis perlahan, “Sudahlah Mirah, jangan engkau ungkit-ungkit kembali kisah hidup kakang Swandaru. Aku sudah memaafkannya jauh sebelum kakang Swandaru meminta maaf kepadaku.”

    Sekar Mirah menelan ludah berkali-kali sebelum menanggapi kata-kata Pandan Wangi. Setelah tenggorokannya terasa longgar, barulah dia berkata, “Maafkan aku mbokayu. Bukan maksudku untuk mengungkit luka lama, namun ada keinginan tulus dalam hatiku untuk ikut membahagiakan mbokayu di sisa hari-hari tua kita.”

    Terasa sesuatu menyentuh sudut hati anak perempuan satu-satunya Ki Gede Menoreh itu. Dengan sekuat tenaga ditahannya agar air mata yang sudah berada di sudut kedua matanya itu tidak sampai mengalir jatuh.

    Sambil mendongakkan wajahnya, Pandan Wangi pun menjawab lirih, “Sekarang ini aku sudah merasa bahagia, Mirah. Apa yang aku cita-citakan adalah membesarkan Bayu Swandana dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin Tanah Perdikan Menoreh di masa mendatang.”

    Terkejut Sekar Mirah mendengar kata-kata terakhir mbokayunya itu. Tanpa sadar dia menggeser duduknya setapak menjauh. Tanyanya kemudian dengan nada suara sedikit ragu-ragu, “Mbokayu, bukankah Bayu Swandana yang nantinya akan mewarisi Sangkal Putung sepeninggal ayahnya?”

    Pandan Wangi tersenyum tipis sambil berpaling sekilas. Jawabnya kemudian sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak Mirah, aku tidak akan mengajarkan sifat keserakahan kepada anakku. Ayah Argapati sudah sangat sepuh dan Tanah Perdikan Menoreh yang luas menunggu seorang pemimpin yang akan membawa kembali Menoreh mencapai kejayaannya. Biarlah Sangkal Putung nanti diwariskan kepada anakmu atau siapapun yang ditunjuk untuk meneruskan pemerintahan Kademangan Sangkal Putung.”

    Untuk beberapa saat Sekar Mirah justru telah tertegun. Berbagai tanggapan memenuhi benaknya. Ada rasa kekaguman akan keluhuran budi putri Menoreh itu. Betapa Pandan Wangi tidak terlalu memanjakan diri untuk mendapatkan hak yang mungkin dapat diraihnya, jika dia menginginkannya. Namun puteri Menoreh itu lebih senang menerima hak waris atas Menoreh yang memang benar-benar menjadi haknya.

    “Tetapi bukankah Bayu Swandana juga berhak atas Kademangan Sangkal Putung dari jalur ayahnya?” pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Sekar Mirah. Berbagai dugaan pun muncul dalam benaknya.

    “Mbokayu,” berkata Sekar Mirah akhirnya setelah sejenak keduanya terdiam, “Permasalahan hak waris itu nanti dapat dibicarakan dengan para tetua Kademangan Sangkal Putung. Namun yang ingin aku ketahui adalah jawaban mbokayu atas tawaranku tadi. Alangkah bahagianya jika keluarga kita dapat disatukan. Disatukan dalam arti yang sesungguhnya. Dalam satu atap rumah tangga yang saling mencintai, menghargai dan memperhatikan.”

    Terlihat sedikit perubahan pada raut wajah perempuan parobaya yang masih terlihat cantik itu. Namun kesan itu hanya sekejab dan wajah itu pun telah kembali seperti biasa, tenang tapi terlihat sedikit murung dan sendu. Seakan-akan kata-kata Sekar Mirah itu tidak membawa kesan sedikitpun terhadap dirinya.
    ***

    Dalam pada itu di bukit Muria, Ki Rangga terlihat sedang khusuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Kanjeng Sunan. Dipusatkan segenap nalar dan budinya hanya untuk menyebut dan mengagungkan Asma Penguasa Tunggal jagad raya ini.

    • Kereta Argo Menoreh malam telah tiba. Para penjemput rontal supaya segera merapat ke stasiun Wates. Kereta segera langsir untuk menuju ke Muria.

    • Yok opo iki rek,
      PW di Menoreh, SM di Sangkalputung, Tumenggung AS di Kotaraja sama Anjani. Padahal masing2 berhak dapet jatah 2x per minggu. Terpaksa ilmu/doa melipat bumi (nunut angin) bakal sering dipakai. Sak jam udah nyampe.

      • Salam kenal Ki Pras. Maaf nggih, disini dipanggilnya KI dan Nyi. Di dunia nyata Satpam bisa panggil Pak atau Om. Hi hi hi …..

        Monggo, dipun sekecakaken..

        • Matur suwun, bisa ndaftar jadi cantrik di sini, salam kenal sama dulur² yg sudah nimba ilmu dan gojekan di sini.

      • yaa ngak pa pa ki.pras…
        ki.ras kan punya aji telung rupa…
        dengan waktu bersamaan ok ok saja buat ki.ras….
        rupa 1..buat SM di sk.putung
        rupa 2..buat PW di menoreh
        rupa 3..buar RA di mataram.

        amaan wes…

        • Pak Breng lak mulai ngarang bebas….qeqeqe… Pak Breng… bareng aku njekutut moco lan nunggu jawabane PW… ealaaahhh mendadak… “sementara itu….” mak dieeeggg atiku… pindahhh maneh, alur critane…ahahaha… salut kagem Mbah Man… matur nuwun kagem Ki Satepam… mugi-mugi terus kaparingan sehat tan kurang apapun… aamiinnn

  36. Piye iki PW😉

    • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin.
      Klo PW setuju,ceritanya jadi kurang seru, klo rebutan kekuasaan Sejengkal Tanah.

  37. Ya wajar, kalau PW begitu, malah kelihatan matangnya. Kalau langsung ya adi SM. Sajaknya kaya wanita…. Ning kalau memang betul netul malu, akupun siap meminangnya. Akan saya katakan, yayi PW, sebetulnya akupun punya rasa, pada saat engkau berkenalan dengan gupita dan berlari lari di sawah. Aku juga sedang menunggu burung di sawah itu. Karena aku gak punya ilmu seperti gupita pada saat itu, aku hanya melirik saja.sebetulnya akupun punya cambuk, tp hanya cambuk utk main kekehan, aku jg punya tongkat sakti, tongkat yg bundeg pemberian pendekar….

  38. Kereta sudah boleh diluncrutkan apa belum ya?

    Stasiun masih sepi, Pak Sep juga tidak ada.

    Hi hi hi …. jam normal saja wis.

    • eeeatoreh ki.ps…gerbong bisa diluncrutken kebetulan pak breng udah nyampek prob..tapi masih nyo NGRO nyo kiiiii

  39. eeeatoreh ki.ps…gerbong bisa diluncrutken kebetulan pak breng udah nyampek prob..tapi masih nyo NGRO nyo kiiiii

    • Kenapa nggak pakai Aji Pangrupak Jagat. Probolinggo – Jakarta bisa cepet itu😜

      • P. Breng pada saat belajar pangrupak jagat, tidur. Jadi gak bisa mempraktikkan

        • Kok sama yo, saya pas mbolos malah😜

      • O…. yo rugi to.

        Gak bisa rik lirikan dengan ni/nyi yang ada di sepanjang jalan.

        hi hi hi …..

      • lettoooy ki.sisol
        hiks…hiks…hiks

  40. STSD-30 halaman 68-69

    Perlahan lahan Ki Rangga merasakan udara di sekitarnya yang semula dingin menjadi semakin dingin mencekam. Bahkan hawa dingin itu terasa menyergap sekujur tubuh Ki Rangga sehingga membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

    Namun sejak muda tubuh Ki Rangga telah ditempa oleh gurunya untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin saja menghadang. Rasa lapar, rasa haus dan rasa mengantuk serta rasa bosan yang kadang muncul dalam diri manusia. Kini Ki Rangga dihadapkan pada rasa dingin yang luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya membeku. Ki Rangga pun segera teringat akan salah satu kemampuan ilmunya yang dapat memancarkan hawa panas dari dalam tubuhnya.

    Segera saja Ki Rangga mengetrapkan ilmu kebalnya. Perlahan lahan selapis demi selapis Ki Rangga meningkatkan ilmu kebalnya sehingga hawa dingin yang menyelimuti dirinya itu mulai berkurang sejalan dengan hawa panas yang memancar dari dalam tubuhnya. Ki Rangga pun mulai tenang kembali untuk memusatkan seluruh nalar dan budinya.

    Untuk beberapa saat Ki Rangga kembali tenggelam dalam wiridnya. Hatinya benar-benar pasrah. Segala persoalan yang selama ini membelit hidupnya untuk sementara telah dilupakan dan hanya satu tujuannya menggapai ridho Yang Maha Agung.

    Untuk beberapa saat hati Ki Rangga menjadi tenang kembali. Hawa dingin yang menyergap tubuhnya sudah hilang dan Ki Rangga pun merasa tidak perlu lagi mengetrapkan ilmu kebalnya. Perlahan lahan Ki Rangga pun telah melepaskan ilmunya.

    Namun tiba-tiba udara yang semula terasa nyaman itu mulai berubah menghangat. Dengan sangat cepatnya udara di dalam bilik itu terasa bagaikan terbakar. Pemusatan nalar dan budi Ki Rangga pun menjadi terganggu kembali.

    “Aneh!” gumam Ki Rangga dalam hati sambil mengusap peluh yang mulai membasahi kening dan pelipisnya, “Mengapa udara di dalam bilik ini tiba-tiba berubah menjadi sangat panas? Bahkan panasnya terasa terus meningkat!”

    Semakin lama udara di dalam bilik itu pun menjadi semakin panas tak tertahankan. Seolah olah Ki Rangga sedang duduk di dalam lingkaran bertumpuk tumpuk tempurung kelapa yang sedang dibakar.

    Menyadari panas itu akan dapat melukai tubuhnya Ki Rangga segera mengetrapkan sebuah ilmu yang menjadi salah satu ilmu ciri perguruan Windujati. Sejenak kemudian udara di dalam bilik itu pun di penuhi oleh kabut tipis yang semakin lama semakin tebal bergumpal gumpal. Kabut itu mengandung butiran-butiran air yang menyerap panas sehingga udara panas di dalam bilik itu pun telah menurun dengan cepat.

    Ketika Ki Rangga sudah merasakan udara yang kembali nyaman, Ki Rangga pun segera melepaskan ilmu kabutnya. Sejenak kemudian ruang di dalam bilik itu pun lambat laun menjadi jernih kembali. Ki Rangga pun meneruskan tafakurnya.

    Tiba-tiba terasa sesuatu mengusik kalbu Ki Rangga. Pada awalnya Ki Rangga sama sekali tidak menaruh perhatian. Diabaikannya isyarat lembut yang terasa mengetuk ketuk dinding hatinya. Namun isyarat itu semakin lama terasa semakin kuat dan Ki Rangga pun benar-benar tergoda untuk mencoba mengurai isyarat itu.

    “Aku tidak boleh terpancing untuk mengetahui apa makna isyarat ini,” membatin Ki Rangga sambil tetap memusatkan nalar dan budinya hanya semata pasrah keharibaan Yang Maha Agung.

    Namun ternyata Ki Rangga hanyalah manusia biasa yang banyak mempunyai keterbatasan. Ketika isyarat itu semakin kuat memukul mukul dinding hatinya, Ki Rangga pun mencoba menanggapi untuk mengurai arti isyarat itu.

    Alangkah terkejutnya Ki Rangga. Sekelebatan dalam alam bawah sadarnya, tampak ujud seseorang yang selama ini menghantui hari-harinya, Maharsi yang sudah dua kali bersilang jalan dengan dirinya namun belum ada titik temu untuk penyelesaiannya.

    • Apa itu berarti besok Ki Rangga bakal kebal mutlak terhadap panas dan dingin ya ?🤔

      • Apa penyempurnaan ilmunya dah dianggep tuntas jika dia pergi karena tergoda isyarat itu ?

        • itu mungkin wujud test terakhir dari kanjeng sunan sebelum lulus menyandang gelar cumloud…maybe lo yoo ki.sisol maybe.

          jadi ki.ras telah diuji oleh kanjeng sunan dengan kehadiran maharsi.
          ruaaaar biasah kanjeng sunan ini….

          • Ki Rangga nggak lulus kalau semua tes harus bisa

          • kalo semua test lulus saya sarankan ki Rangga jadi Nabi ae wes… menyisan yoo pak Breng,,,, hehehe…. matur nuwun Mbah Man dalah Ki Satpam,,,

          • Bisa2 isyarat itu nyata, RAS bisa melihat bahaya yang mengancam BS disaat bersamaan, padawaktu SM dan PW lagi ngobrol diluar kamar, sehingga sesuai gambar sampul Maharsi masuk kekamar BS,
            Smoga kedua istri RAS (?) bisa menangani walaupun menahan waktu hehehehheeee

        • Justru pertanyaannya, sampul SDST 30 ilustrasi wujud Maharsi berdiri antara tempat tidur balita dan perempuan itu asli atau hanya bayangan ujian RAS ? Soalnya agak aneh seorang pertapa masuk kekamar tidur wanita bersuami meskipun dalam wujud semu.

          • Dia nggak lagi mengamati wanita, tapi bayinya itu

  41. Ilmu “nggreges – mriang” … Lha iku, mari adem trus panas

    • bener ki.anggi ilmu geregesi meriang dilanjut nyoNGROnyo …iku tanda tandane ngilmu flu….

      duuuuuuhkah ki.anggi ini ada ada sajah…

      tengkyu ki.ps n mb.man
      tahes selalu

      • heh..heh..hehh…, Geng enjang pak breng

  42. Hadir…

  43. Kapan dilanjutkannya mbah

    • ?&^%$#@?+*&

      bingung menjawabna.

      hi hi hi …..

      • Klo bingung 😕 jongkok PSatpam…trus luncrutkan kreta…

      • Nginguk peron….

  44. Hadir

  45. STSD-30 halaman 70-72

    Dengan segera Ki Rangga menukik ke kedalaman pemusatan nalar dan budinya untuk menggapai isyarat itu agar lebih jelas lagi. Sekarang dalam alam bawah sadar Ki Rangga yang hanya sekilas, tampak Maharsi itu sedang berjalan pergi meninggalkan sebuah pembaringan yang kosong.

    Ki Rangga pun terlonjak kaget bukan alang kepalang.

    “Bagus Sadewa?!” seru Ki Rangga sambil meloncat berdiri.

    Namun begitu kesadaran penuh telah memenuhi benaknya, Ki Rangga pun segera kembali duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Dengan kepala tunduk dan mata terpejam, tidak ada pilihan lain bagi Ki Rangga selain mengetrapkan aji pengangen angen.

    Sejenak kemudian seberkas sinar tampak muncul dari ubun-ubun Ki Rangga dan kemudian melesat meninggalkan raganya. Namun alangkah terkejutnya Ki Rangga yang sedang dalam pengetrapan puncak aji pengangen angen itu. Bayangan semu yang melesat keluar dari wadag Ki Rangga itu terasa membentur sebuah tabir yang tidak kasat mata di luar bilik di atas bukit itu. Berkali kali bayangan semu yang merupakan puncak ilmu aji pengangen angen itu mencoba menembus tabir yang membentengi di seputar bilik, namun hasilnya sama saja. Bayangan semu itu selalu saja membentur tabir tidak kasat mata dan terpental kembali. Ki Rangga pun tidak mempunyai pilihan lain selain melepaskan aji pengangen angen.

    Untuk beberapa saat Ki Rangga masih duduk termangu mangu di tempatnya. Berbagai tanggapan pun hilir mudik di dalam benaknya.

    “Agaknya Kanjeng Sunan telah menjaga di sekeliling bilik ini dengan tabir yang tidak kasat mata untuk mencegah aku meninggalkan bukit Muria,” gumam Ki Rangga perlahan sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengurai kedua tangannya, “Aku benar-benar tidak diijinkan untuk meninggalkan bukit Muria pada malam terakhir ini, namun bagaimana dengan keselamatan Bagus Sadewa? Di mana Sekar Mirah? Mengapa Bagus Sadewa dibiarkan sendiri saja di pembaringan?”

    Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat kepala Ki Rangga terasa pening. Sambil sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, Ki Rangga pun kemudian bangkit berdiri. Dengan perlahan diayunkan kakinya menuju ke pintu bilik. Setelah mengangkat selaraknya, Ki Rangga pun kemudian membuka pintu.

    Segera saja angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Di luar terlihat sangat gelap. Sebenarnya dengan aji sapta pandulu Ki Rangga mampu untuk melihat dalam gelap sepekat apapun, namun itu tidak dilakukannya. Justru terlihat Ki Rangga menengadahkan tangannya sambil memanjatkan doa. Sejenak kemudian Ki Rangga pun telah melangkah dengan pasti menembus kegelapan.
    ***

    Dalam pada itu malam merambat semakin mendekati ke puncaknya. Gardu-gardu perondan di tanah perdikan Menoreh telah mulai sepi. Anak-anak muda yang biasanya mengawani para peronda ada yang sudah pulang karena esok hari masih harus bekerja di sawah atau pategalan membantu orang tua mereka. Sedangkan sebagian terlihat masih tetap tinggal di gardu namun satu persatu mulai tidur meringkuk berselimutkan kain panjang mereka di pojok gardu. Hawa dingin menjelang tengah malam memang benar-benar terasa menusuk dan menembus kulit serta meremas tulang.

    Dalam keremangan malam, tampak sesosok tubuh kurus kering yang terbungkus pakaian kumal berjalan mendekati dinding belakang rumah Ki Gede Menoreh, Maharsi dari goa Langse.

    Sejenak Maharsi mengawasi keadaan di sekelilingnya yang sunyi sepi. Yang terdengar hanya desau angin malam menerobos dedaunan pohon-pohon yang banyak tumbuh di pategalan belakang rumah Ki Gede. Demikian juga suara jeritan binatang malam terdengar bersahut sahutan dalam irama yang ajeg. Sesekali terdengar keluhan burung kedasih yang ngelangut mendirikan bulu roma orang-orang yang mendengarnya..

    Setibanya dia di tepi kolam dekat pohon jambu air yang sedang berbuah lebat, panggraitanya yang sangat tajam telah menangkap sesuatu….

    • Tengkyu Ki.ps n MB.man
      Semoga sehat selalu

    • Oooooh Ki RAS ternyata TDK dapat menembus pagar goib yg dipasang oleh Kanjeng sunan supaya Ki RAS di hari terakhir TDK meninggalkan Muria…

      Jadi intinya wedaran Mbah man malam ini…bahwa seseorang yg sdh memiliki ilmu yg tinggi tidak boleh sombong..adigang adigung adiguno….”diatas langit masih ada langit”

      RUAAAAR biaaasah Mbah man dalam memberikan selempitan pitutur yg harus ditiru..

      Lanjutkan kiiiiiii…

      Sakalangkong

    • Sejenak kemudian Ki Rangga pun telah melangkah dengan pasti menembus kegelapan.Karena aji pengangen angen tidak bisa menembus tabir, maka RAS menggunakan fisiknya untuk ke Menoreh…dan ketemu Maharsi di tepi kolam dekat jambu air

      • Melanggar wewaler njeng sunan. Piye iki ?🤔😉

    • Menurut panggraitaku yg sama sekali tdk tajam, bayangan hitam di bawah pohon itu adl njeng Sunan.

      • Ra nggak masuk. Njeng sunan pakai surban dll. Beda sama ikat kepala

    • Yg masih ada di rumah ki Gede : Sabda Dadi, Gde Matesih n Gde Menoreh. (hal 55-57).
      Kemungkinan yg berdiri di bawah pohon itu ya Sabda dadi, yg paling sekti. Sementara itu RAS terkunci di Muria.
      Yo embuhlah, sabar aja nunggu luncuran berikutnya. Wagon nya masih parkir di depo.

    • Waaghh Bagus Sadewo sdah dibopong Maharesi, smoga bisa diselamatkan
      Menurutku bayang2 dibawah pohon pastilah RAS, setelah RAS berdo’a akhirnya bisa dapat Ridhlo Allah dan diijinkan kanjeng Sunan untuk meluncur dengan wadagnya ke Menoreh
      Maturnuwun mbah Man, luarbiasa hasil karyanya bisa mmbolak balik perasaan pembaca, juga maturnuwun ki Satpam, selalu menemani para canmen,
      Smoga sehat selalu, umur panjang dan lancar segalanya, Aamiin

  46. Argo Muria belum ada tanda2 nya mau datang …. Sabar menunggu

    • Oh ternyata…

    • Lho…. sudah lewat….

      hi hi hi….

  47. Haadir

  48. Melihat siluet perawakan dan pakaian kemungkinan yg dibawah pohon jambu itu RAS. Celananya setengah betis, ada ekor blangkon atau ikat kepala dikanan kiri. Dilarang meninggalkan G.Muria dg aji pengangen2 rupanya RAS memilih menggunakan doa aji gangrupak jagad melipat bumi. Kanjeng Sunan rupanya sengaja memberi jalan demikian agar RAS benar2 utuh hadir di Menoreh unt menyelesaikan masalah dg Tumenggung Wirapati.

    • Adakah info sandi a.k.a info intelejen lanjutan terkait itu ?😉😜

  49. Ki RAS yen di dahwuhi Njeng Sunan kudu manut ben ora karepe dhewe, masalah maharsi, wis diberesi njeng sunan.

    • Yg jelas mberesi ya mbah mandrake

  50. Warbyasah, berhari-hari nyimak nyimik nyimik, cempulek bareng dijinggleng lembarane dawa pisan, rerentengan.

    Ki suta banyak kirim ilustrasi, yg terakhir sepertinya terjadi penculikan bayi

    Tx.u full mbah mandrake, ki suta, ki ps dalah para dalang yg telah melancarkan wedaran.

    P. Breng RL mana? Lg jet lag mungkun, mondar mandir betawi

    • iya ki.Edi..
      ini sdh nyampek rmh prob naik bus gunung harta..yaa kemaren nganter anak wedok sing no.4 ke sawah baru Ciputat TangSel alhamdulillah diyerima kerja di tangsel bag.IT…

      sorry ki.Edi ngak bisa mampir2…

      suwun suwun..
      sambil menunggu gerbong muria dilanjut gerbong menoreh…

      eatoreh ki.ps….lanjutannya

      • Lha gubuk ku neng pamulang tangsel, brarti kapan² iso jagongan, ngopi, adu jangkrik, mul mulan neng nggonku.

        • Mudah2an belum kelewat lagi Argo Muria nya seperti semalam… ditunggu2.. eh malah sdh lewat…jadi harus ngejar deh…

        • Siap ki.pras…

          Pan ka Pan bisa piNGOpi yooo..
          Karo OKERAN…

          • Inguk²,sepi….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: