PdTL-01

lanjut ke PdTL-02

Satu cerita “carangan” ADBM-STSD yang ditulis oleh Ki MD Prastiyo. Semoga semakin menambah khasanah karya sastra anak negeri dalam “nguri-uri” budaya bangsa, menimbulkan rasa cinta negeri dan menunjukkan bahwa “pertengkaran” tidak ada manfaatnya.

Sementara, kecepatan wedaran dua hari sekali. Jika naskah sudah lancar, bisa dipercepat sebagaimana Ki Arid Usman.

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 16/05/2022 at 22:32  Comments (808)  

808 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Sebenarnya tadi aku juga akan mengajakmu serta, karena masih ada yang ingin aku bicarakan”

    Kira-kira apa yang akan mereka bicarakan ya ?.🤔
    RAS, atau pewarisan kepemimpinan Kademangan & Perdikan ?

  2. PdTL-01 halaman 77-79

    “Meskipun ini bukan perjalanan yang panjang, tapi sebaiknya kita bagi dalam dua kelompok saja, agar mengurangi perhatian orang yang kita jumpai di perjalanan” Nyi Pandan Wangi menjelaskan.

    Orang-orang yang mendengarnya menyetujui saja usul Nyi Pandan Wangi, lalu mereka menyesuaikan diri bersama-sama dengan kelompoknya.

    Kelompok dibagi seperti saat berangkat dari Tanah Perdikan menoreh, hanya saja kelompok pertama ditambah Nyi Sekar Mirah yang ikut serta.

    Sebelum berangkat tidak lupa Nyi Sekar Mirah memanggil pengawal Kademangan Sangkal Putung yang sedang bertugas untuk memberikan pesan-pesan.

    “Jika ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak, kirim saja penghubung ke Padepokan Orang Bercambuk, jika aku belum kembali”.

    “Sendika dawuh Nyi” berkata pengawal itu sambil menghaturkan sembah.

    “Baiklah, aku berangkat sekarang”.

    * * *

    Sementara di tempat lain, di sebuah daerah yang jauh dari keramaian kotaraja, ada seseorang yang sedang berkuda dengan tergesa-gesa. Wajahnya tersiratkan kegelisahan yang sangat dalam.

    Ketika kuda itu mulai memasuki kaki Gunung Telamaya yang jauh dari padukuhan sekitarnya, jalan semakin sempit dan rumpil, dengan sangat terpaksa orang itu menuntun kudanya.

    Dengan susah payah akhirnya ia pun sampai juga pada tempat yang dituju, yaitu sebuah padepokan kecil.

    Didepan pintu regol Padepokan dia disambut oleh seorang cantrik yang bertugas.

    “Ki Sanak, apakah Ki Waja Kencana ada?” bertanya orang yang baru datang.

    “Maaf Ki Sanak, aku berhadapan dengan siapa?” cantrik balik bertanya.

    “Aku Wirajaya, adiknya Ki Panji Surajaya, murid Ki Waja Kencana, ingin menyampaikan berita rajapati”.

    “Maaf Ki Sanak aku tidak tahu, silahkan tunggu di pendapa aku akan melaporkan kepada Ki Waja Kencana”.

    Cantrik itu segera masuk ke ruang dalam, dan tidak beberapa lama keluar lagi bersama orang yang sudah nampak sepuh dengan kumis dan jenggot tipis yang sudah beruban, dengan badan agak kurus.

    Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, baru kemudian Ki Wirajaya.menyampaikan keperluannya.

    “Maaf Ki Waja Kencana, jika kedatanganku ini mengejutkan. Aku hanya ingin menyampaikan berita rajapati” berkata Ki Wirajaya yang tiba-tiba merasa tenggorokannya tersumbat.

    “Rajapati? siapa yang mati?” bertanya Ki Waja Kencana tidak sabar.

    “Kakang Panji Surajaya”.

    “Panji Surajaya kau bilang?”

    “Benar Kyai, kakang Panji Surajaya dibunuh pemimpin Padepokan Orang Bercambuk”.

    “Panji Surajaya dibunuh murid Orang Bercambuk?” bertanya Ki Waja Kencana setengah berteriak. Lanjutnya, “kapan kejadiannya?”.

    “Dua hari yang lalu, Kyai”.

    “Jika yang kau maksudkan Orang Bercambuk atau murid utamanya yang dulu menjadi agul-agulnya Mataram, aku sangat mengenalnya meskipun aku hanya mendengar dari mulut ke mulut, tapi tidak pernah mengenal secara pribadi. Orang yang pernah menggemparkan dimasa Demak, Pajang, hingga Mataram”.

    “Berdasarkan berita yang aku dengar, Padepokan Orang Bercambuk sekarang ini dipimpin oleh cantrik tertuanya Kyai, bukan salah satu murid utamanya”.

    “Jadi maksudmu, muridku itu dibunuh oleh seorang cantrik?” bertanya Ki Waja Kencana terkejut.

    “Benar sekali Kyai”.

    “Gila… ini benar-benar gila. Ini adalah sebuah penghinaan bagiku” berkata Ki Waja Kencana marah. Lanjutnya, “murid yang aku siapkan untuk mewarisi senjata pusaka Padepokan Waja Kencana, dibunuh oleh seorang cantrik”.

    “Sekarang apa rencana Kyai?”.

    “Hari ini aku akan memulihkan kesehatanku dulu, setelah menjalani laku terakhir pada peningkatan ilmuku yang baru saja selesai tadi pagi menjelang matahari terbit”.

    “Apakah itu akan memakan waktu yang lama Kyai?”.

    “Satu hari ini saja sudah cukup bagiku, setelah itu aku akan membuat Padepokan Orang Bercambuk menjadi karang abang” berkata Ki Waja Kencana dengan sorot mata penuh amarah.

    – – – oo0oo – – –

    Bersambung ke Djilid 2

    • Selesai sudah wedaran PdTL-01.

      Selanjutnya, menunggu wedaran PdTL-02.

      Sabar nggih….

      • Pertempuran segera dimulai

    • Matursuwun Ki PS 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    • Kyai WajaKencana akan menghadapi Glagah Putih, Rara Wulan, Sekar Mirah, Pandan Wangi, Jayaraga dan Untara beserta para cantrk di Perguruan Orang Bercambuk nih
      …Bakal seru….
      .

    • Ki Satpam mulai kapan PdTL jilid 2 di wedar …. mboten lami nggih

    • wuih.. wuiih
      bakal ada pertempuran yang penuh dengan gengsi..
      gengsi apa ya..
      monggo diteruskan , maturnuwun ki SP dan ki MDP.

  3. Balas dendam mulai ada lagi. Nanti yang menghadapi Glagaah Putih, krn Glagah Putih juga merupakan murid utama orang bercambuk Kyai Gringsing, Matur Nuwun Mas Satpam dan Ki MDP

  4. Wah rame ini. Moga RAS dah kembali ya pas Ki Waja dateng
    Paling nggak ada GP sebenarnya, sama Ki Jayaraga

  5. Alhamdulillah, matur nuwun Ki dan kayaknya pertikaian dg PB akan tambah seru nich. Cantriknya aja begitu hebat apalagi Gurunya hihihigi…mantul Ki

  6. Alhamdulillah matur nuwun Ki….dan POB akan tambah rame nanti satu perguruan tapi watak masing2 dan kayaknya keturunan dari SG yg agak nya perlu di waspadai . ….biasa wohe lugur org adoh soko wite hehehe

    • Semoga keturunan SG jadi baik, sifat dan watak dari ibunya baik. SG juga sebenarnya baik tapi sombong. SG jiwanya ksatria, terhadap AS langsung hormat dan tunduk setelah kalah dalam perang tanding, tanpa ada rasa sakit hati, mengakui kesalahannya selama ini terhadap AS. Terhadap Panembahan Senopati juga begitu, setelah kalah dalam perang tanding, langsung tunduk dan mengakui kehebatan Sutawijaya.

      • Ne ki waja kencana kalah sama ki gp, mending perguruannya ganti jadi PO (perusahaan otobus) jadi keren, PO Waja Kencana saingannya PO Sumber Kencana

        • Mungkin Giginya memang bersalut emas, jadi ya wajar kalau dipanggil Ki Waja Kencana

  7. Sepur Argo Menoreh lagi mogok jadi ya para cantrik padepokan harus sabar menunggunya

    • Sepur durung teko kabeh ke 3 nya 😁😁😁😁

  8. Sepur Argo Menoreh lagi mogok jadi ya para cantrik padepokan harus sabar menunggunya

  9. WORO-WORO

    Jalanan macet, sampai saat waktu wedarnya, paket yang akan diangkut Argo Sangkal Putung belum sampai di stasiun.

    Dengan sangat menyesal, lanjutan PdTL belum bisa ditayangkan malam ini.

    Gandok PdTL-02 sedang disiapkan, semoga bisa segera dibuka untuk gegojegan.

    Nuwun

    • Ok Ki PS matursuwun infonya🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

  10. saya atas nama pribadi ( sebagai penulis ) minta maaf yang sebesar-besarnya kepada panjenengan semua atas keterlambatan naskah cerita PdTL.

    untuk selanjutnya, mari kita sama-sama menunggu woro-woro dari Ki Satpam.

    terima kasih.

    • Matur nuwun ki MDP dalah ki Satpam….
      Tetep asyik lan ngangeni nunggu argo POB….

      salam sehat walafiat nggih

    • Mangga Ki MDP sareng Ki Satpam. Kita sadaya sami sabar nengga PdTL

    • Terima kasih Ki MDP, Ki Satpam dan Ki Adisuta

  11. Selalu sabar menunggu….

  12. Oh…nggeh siap lan matur nuwun Ki Sp…

  13. Tuuuiiiitttt…. Tuiiitttttt….. 🚋🚃🚃🚃🚃🚃

  14. Salam perkenalan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: