mmgk-41

balik ke mmgk-40>>|lanjut ke mmgk-42>>

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 23/05/2011 at 21:22  Comments (169)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/mmgk-41/trackback/

RSS feed for comments on this post.

169 KomentarTinggalkan komentar

  1. ta’ ente’ni…!!!

    • em e me en u nu eng u gu : me-nung-gu

      • tak kan-ca-ni….

        • nunut nunggu…sugen siang Ki Menggung, Ki Pandan, ki Tono..

          • Tak donga’no supaya Ki Is cepat kondur dan santai dengan Nyi Is dan putra putrine! ….

            Hiks …. soal mmgk_41 bisa diundur seminggu lagi!😉

            Bbedal mode! Sipat kuping!

  2. Taksih sepi to …..

    • sih sepi tak to….

  3. Alhamdulillah.. bisa menunggu..
    (sesuai dengan teks di foto atas, harus tetap bersyukur..)

  4. sugeng enjang
    melu jagongan

  5. Menunggu sambil baca rontal, dalam hati bersyukur seperti pesan Ki Anatram

    • Sambil menunggu baca rontal, dalam hati Ki Anatram bersyukur seperti pesan

      • Sambil menunggu baca rontal, mana akun ym nya ya, pesan dalam hati Ki Pandanalas sambil bersyukur.

        • Sambil menunggu baca rontal, mana ayam nya ya, pesan dalam hati Ki Anatram sambil bersyukur.

    • Podo ra jelas barblas iki….
      HA HA HA HA

  6. nggih… selalu sabar menunggu

    • Nderek Absen enjing…
      Nderek Ki Segoro Mas sabar menunggu…

  7. semprul….!!!!
    hehehehe….
    suwun ki is..
    abis nggak ada yang ngedumel…

  8. nggak pa’pa koq ki is…
    ini masih nggak seberapa,
    dibandingkan dulu waktu nunggu adbm terbit tiap bulan satu jilid…

  9. Sabar dan syukur, keduanya adalah kata dari Bahasa Arab.
    Dua kata yang sebenarnya tidak bisa dipertentangkan, karena keduanya adalah pencerminan dari “iman” kita.
    Sabar kalau sedang mendapat cobaan
    Syukur bila mendapatkan nikmat.
    Biarlah kita bersabar sambil menunggu rawuhe Ki Ismoyo.
    Dan sambil menunggu marilah kita bersyukur selalu mendapat kiriman buku. Dan yang lebih utama kita mendapatkan forum persaudaraan yang demikian eratnya, walau hanya melalui dunia maya.
    Sugeng sonten.

  10. apa ya mmgk termasuk yg sebulan sekali, seperti nssi, adbm, tetapi berapa lamanyapun tetap(i) ditunggu juga, monggo nunggu sambil apa saja

    • Nunggu Sambil Nyruput teh tarik…
      Sabar nunggu BARCA – MU aj…
      Sabar nunggu kelanjutan PSSI yg lg eker-ekeran…

  11. Sugeng ndalu wayah reang bocah jonjang jamuran, …. nderek reriyungan sa’derengipun shalat isya’.

    • Nuwun
      Månggå Ki Truno nêmbang jamuran sinambi dolanan:

      Jamuran yå gégé thok
      Jamur åpå yå gégé thok
      Jamur gajih mbêjijih sak årå-årå
      Sirå mbadhé jamur åpå…?

      Jamuran yå gégé thok
      Jamur åpå yå gégé thok
      Jamur payung, ngrêmbuyung kåyå lêmbayung,
      Sirå mbadhé jamur åpå…?

      Sugeng dalu
      Nuwun

      punåkawan bayuaji

      • versi lentunipun :

        jamuran jamuran jamure jamur teji
        jamuran jamuran jamure jamur teji
        sing nduwe ndoro behi
        sing ngiring poro mentrik
        jrek jrek nong jrek jrek nong
        jrek jrek jrek nong jrek nong

  12. Nuwun
    Wilujêng wêngi

    On 23/05/2011 at 09:57 ki SAS said:

    1. Konon diceritakan P.Jayanegara dibunuh oleh sahabat Patih Gajah mada, gara2 P.jayanegara nglanggar pagar ayu terhadap istri/garwa patih Gajahmada. Namun Sahabat itu akhirnya di bunuh sendiri oleh Patih Gajahmada, yang gak terima Rajanya dibunuh

    2. Kesimpulannya, (gak tau benar atau tidak) apakah mungkin pada masa pemrintahan Prabu Jayanegara, Gajahmada sudah menjabat menjadi Mahapatih di Majapahit!

    Dongengnya berikut ini Ki. Sumånggå:

    KÅLÅGĚMĚT JAYANEGARA

    Nagarakretagama menyebutkan Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara atau Jayanegara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295.

    Nama Jayanegara muncul dalam Prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota. Mengingat Raden Wijaya (pendiri dan raja pertama Majapahit) menikahi Dara Pethak pada tahun 1293, maka Jayanegara dapat dipastikan masih sangat kecil ketika diangkat sebagai raja muda, kurang lebih baru berusia satu tahun.

    Tentu saja pemerintahan sehari-hari diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan dalam prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha, sedangkan kekuasaan atas kerajaan ada pada ibu angkatnya Sang Permaisuri Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

    Babad Tanah Jawi mengabarkan: Ing taun 1295 Radèn Kålå Gêmêt, lagi yuswå sâtaun wis diangkat dadi pangéran pati lan dadi ratu ing Kadhiri, ibuné kang ngêmbani nyêkêl pråjå Kadhiri.

    Dari Prasasti Penanggungan tersebut dapat diketahui pula bahwa Jayanegara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kålågěmět yang diperkenalkan Pararaton jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna “jahat” dan “lemah“.

    Jayanegara naik takhta menjadi raja Majapahit menggantikan ayahnya yang menurut Nagarakretagama meninggal dunia tahun 1309.

    Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanegara diwarnai banyak pemberontakan oleh para pengikut ayahnya. Inilah penyebab utama kegagalan pemerintahan Jayanegara.

    Mengapa sering terjadi pemberontakan?

    Para sejarahwan menduga bahwa semasa pemerintahan Jayanegara banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan, dikarenakan Jayanegara adalah raja berdarah campuran Jawa (ayah: Raden Wijaya) dan Sumatra/Kerajaan Dharmasraya Jambi (Ibu: Dara Pethak), meskipun ia diangkat sebagai putra mahkota oleh permaisuri Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

    Berkaitan dengan itu pula, ternyata Raden Wijaya telah menjadikan Dara Pethak sebagai stri tinuheng pura, atau “istri yang diutamakan di istana”.

    Dengan demikian Jayanegara atau Kålågěmět bukan keturunan Prabu Kertanegara murni. Keadaan ini dipicu pula dengan kehadiran Dyah Halayudha (Mahapati) si penghasut.

    Menurut prasasti Kertarajasa (1305), Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanegara. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanegara adalah anak kandung Dara Pethak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari sang permaisuri utama.

    Hal ini menyebabkan Jayanegara mendapat hak atas takhta sehingga kemudian menjadi raja kedua Majapahit tahun 1309-1328.

    Selain Tribhuwaneswari atau Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari sebagai permaisuri Raden Wijaya, maka Raden Wijaya menikahi ketiga putri Prabu Kertanegara (Raja Terakhir Singosari) yang lain yaitu:
    1. Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā.
    2. Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā.
    3. Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri.

    Menurut Prasasti Sukamerta dan Prasasti Balawi, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari bernama Jayanegara. Sedangkan menurut Pararaton Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Pethak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Jayanegara atau Kålågěmět, dan menurut Nāgarakṛtāgama adalah putra Indreswari. Indreswari adalah nama lain dari Data Pethak.

    Pemberontakan-pemberontakan:

    1. Ranggalawe, terjadi ketika Jayanegara naik takhta, yaitu pada tahun 1295

    2. Lembu Sora pada tahun 1300.
    Dalam hal ini pengarang Pararaton kurang teliti karena Jayanegara baru menjadi raja pada tahun 1309. Mungkin yang benar ialah, pemberontakan Ranggalawe terjadi ketika Jayanegara diangkat sebagai raja muda atau putra mahkota.

    3. Juru Demung tahun 1313,

    4. Gajah Biru tahun 1314,

    5. Mandana dan Pawagal tahun 1316,

    6. Ra Semi tahun 1318.

    Akan tetapi, menurut Kidung Sorandaka, Juru Demung dan Gajah Biru mati bersama Lembu Sora tahun 1300, sedangkan Mandana, Pawagal, dan Ra Semi mati bersama Nambi tahun 1316.

    Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton juga disebutkan dalam Nāgarakṛtāgama, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

    Menurut Nāgarakṛtāgama, pemberontakan Nambi tersebut dipadamkan langsung oleh Jayanegara sendiri.
    Kematian Nambi terjadi tahun 1316 yang disinggung dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh XLVIII (48) : 2

    ring sakakala mukti-guna-paksa-rupa madhumesa ta pwa caritan
    sri Jayanegara n’umangkat anghilangaken musuh ri lamajang
    bhrasta pu nambi sak sakulagotra ri pajarakan kutanya kapugut
    wrinwrin ares tikang jagat i kaprawiran ira sang narendra siniwi.

    (Tersebut pada tahun mukti-guna-paksa-rupa (1238Ç) bulan Madu,
    Baginda Jayanegara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh,
    Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan
    Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.)

    7. Di antara pemberontakan-pemberontakan yang diberitakan Pararaton, yang paling berbahaya adalah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.

    Ibu kota Majapahit bahkan berhasil direbut kaum pemberontak, sedangkan Jayanegara sekeluarga terpaksa mengungsi ke desa Badander dikawal para prajurit bhayangkari.

    Pemimpin prajurit bhayangkari yang bernama Gajah Mada kembali ke ibu kota menyusun kekuatan. Berkat kerja sama antara para pejabat dan rakyat ibu kota, Kelompok Ra Kuti dapat dihancurkan.

    Bedander adalah salah satu wilayah atau nama lain dari Blitar. Pada tahun-tahun 1316 dan 1319 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan kawan-kawannya dari Kesatuan Khusus Dharmaputra, dan Kesatuan Pasukan Angkatan Laut Jala Rananggana.

    Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkâri (Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja) dibawah pimpinan Bêkêl Gajah Mada.

    Bêkêl adalah pangkat prajurit militer akttif (setara dengan komandan kompi; di atas pangkat Lurah Prajurit (setara dengan Komandan Peleton).

    Berkat siasat Bêkêl Gajah Mada, Prabu Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan kawan-kawannya berhasil diringkus dan kemudian dihukum mati.

    Oleh karena sambutan hangat dan perlindungan ketat yang diberikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara pun memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut.

    Tidak diragukan lagi bahwa pemberian prasasti ini merupakan peristiwa penting karena menjadikan Bedander yang disebut juga Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit.

    Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun 1246 Ç atau 5 Agustus 1324 M, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti.

    Tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Blitar setiap tahunnya. (Berbeda dengan Hari Jadi Kotamadya Blitar yang tanggal 1 April 1906).

    Kesimpulannya Bedander identik dengan Blitar, atau paling tidak salah satu wilayah yang terletak di daerah Kabupaten Blitar sekarang.

    Pemicu pemberontakan juga akibat ketidak senangan rakyat dan para pejabat negara atas perilaku Jayanegara, seperti diberitakan Pararaton berikut ini:

    a. Pararaton mengisahkan bahwa Jayanegara dilanda rasa takut kehilangan takhtanya. Ia pun melarang kedua adiknya dari lain ibu, yaitu Dyah Tribhuwana Tunggadewi dan Mahadewi/Dyah Wijat putri dari Gayatri untuk menikah.

    Konon Jayanegara sendiri berniat mengawini kedua adiknya itu. Ra Tanca meminta agar Gajah Mada, yang saat itu menjadi abdi kesayangan Jayanegara supaya mengambil tindakan pencegahan. Namun Gajah Mada tampak tidak peduli pada laporan Ra Tanca sehingga Ra Tanca merasa tersinggung dibuatnya.

    b. Disamping itu ternyata istri Ra Tanca (salah seorang Dharmaputra, yaitu pengalasan wineh suka pegawai istimewa yang disayangi raja), sering diganggu oleh Jayanegara.

    Ra Tanca adalah tabib istana. Suatu hari ia dipanggil untuk mengobati sakit bisul Jayanegara. Dalam kesempatan itu Tanca berhasil membunuh Jayanegara di atas tempat tidur.

    Babad Tanah Jawi mengabarkan: Ing taun 1328 Sang Prabu sédå, dicidrå ing dukun kang didhawuhi ambêdhèl salirané.

    Gajah Mada yang menunggui jalannya pengobatan segera menghukum mati Tanca di tempat itu juga, tanpa proses pengadilan.

    Perbuatan Gajah Mada membunuh Tanca tanpa pengadilan menimbulkan kecurigaan. Para ahli sejarah menyimpulkan kalau dalang pembunuhan Jayanegara sesungguhnya adalah Gajah Mada sendiri.

    Menurut Pararaton saat itu Gajah Mada menjabat sebagai patih Daha, di mana rajanya adalah Dyah Wijat. Meskipun ia dekat dengan Jayanegara, ia pastinya lebih dekat dengan Dyah Wijat.

    Ia sengaja memancing amarah Ra Tanca dengan pura-pura tidak peduli supaya Ra Tanca sendiri yang mengambil tindakan. Siasat Gajah Mada ini berhasil. Tanca membunuh raja, dan ia sendiri kemudian dibunuh Gajah Mada.

    Dengan demikian, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Dyah Wijat dari nafsu buruk Jayanegara tanpa harus mengotori tangannya dengan darah sang raja.

    Penulis sejarah berdasarkan analisis data menyatakan bahwa meninggalnya Jayanegara berlatar belakang loyalitas Gajah Mada pada Jayanegara, Gajah Mada dalang pembunuhan atas Jayanegara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana.

    Tanca dipaksa membunuh Jayanegara akibat suruhan Gajah Mada yang kecewa, dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. kekecewaan Gajah Mada ini akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi (rencana pembunuhan).

    Setelah raja meninggal, Gajah Mada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri.

    Peristiwa 1328M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras lingkaran kekuasaan (‘palace circle”). Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara.

    Pada peristiwa pembunuhan Raja Jayanegara ini 1328M, kedudukan Gajah Mada adalah sebagai Patih Kahuripan dan selanjutnya adalah Patih Daha, dua negara vasal di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit, dengan raja/ratunya adalah Rani Sri Tribhuwanotunggadewi, sebelum nantinya menduduki tahta Majapahit sepeninggal Jayanegara.

    Menurut Pararaton Jayanegara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nāgarakṛtāgama ia dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama.

    Jayanegara juga dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amogasidhi.

    Jayanegara meninggal dunia tanpa memiliki keturunan. Oleh karena itu takhta Majapahit kemudian jatuh kepada adiknya, yaitu Dyah Gitarja yang bergelar Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

    Demikian Ki SAS dan pårå sanak kadang padepokan GS. Untuk lebih rinci, månggå silakan berkunjung ke:

    http://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/

    Wedaran ketiga belas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1)

    Wedaran keempat belas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2).

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  13. Hem….alangkah rumit dan kisruhnya kehidupan/ lingkungan pemerintahan kerajaan.Bukan saja kerajaan2 negeri Tiongkok.
    Ternyata kerajaan2 kita dahulu pun penuh dengan intrik, muslihat saling menjatuhkan..sikut sana sikut sini.

    Oya…baru inget kembali setelah membaca ulasan ki p.bayuaji…memang ra Tanca yang membunuh P.Jayanegara.

    Suwun atas pencerahannya Ki…
    Sambil bersoja…!
    dan tetap m e n u n g g u Rontal yang belum jelas.

  14. 25.
    Betul kata Ki Pak Satpam bahwa “menunggu adalah sebuah kata pasif, padahal sejatinya tatkala menunggu sudah banyak yang kita buat”, misalnya untuk menhafal ayat-ayat Al Qur’an dll, minimal dapat satu ayat, terlebih kalau dapat satu surat, apalagi surat Al Baqorah.

  15. Selamat malam Ki Sanak,
    mohon maaf lambatnya wedaran rontal. Rencana pulang ke Tpinang hari kamis lusa, mudah2an bisa medar mmgk-41, nuwun.

    • Senin —
      Selasa —
      Rabu —
      Kamis —
      Jum’at —
      Sabtu —
      Minggu —
      itu nama-nama hari….

      (nyanyian bocah-bocah Taman Kanak-kanak).

      Dan sekarang baru hari Selasa….
      suwi têmên rèk.
      Sabar… sabar….wong sabar…subur….(dawuhé simbah).

      • Sugeng reboan…

        • rebo sugengan..

  16. Ki Puna, Ki Bayu, Ki Arema, Ki Truno dan para cantrik sedaya serta Ki Ismoyo yang saya hormati.
    Membaca kitab sejarah yang disampaikan oleh Ki Bayu dan Ki Puna, ingatan saya melayang jauh ke masa-masa saya masih di SR ( sekolah rakyat ). Pada waktu itu pelajaran sejarah adalah mirip ( walaupun tidak terinci )seperti apa yang sudah disampaikan oleh Ki Bayu/ Ki Puna. Gaya penyampaiannya juga sambil bercerita saja karena memang seingat saya belum ada buku referensi untuk anak SR. Engga tahu kalau untuk guru. Seperti telah di kupas dalam terbitan lontar yang lalu kita masih menggunakan asbak. Mungkin kelas 6 baru mulai menggunakan buku tulis. Waktu kelas 1 atau kelas 2 memang sudah menggunakan buku namun hanya untuk pelajaran menulis halus menggunakan pena dan tinta yang diletakkan dibangku kayu jati yang berlobang dibagian depan.Gurunyapun itu itu saja yang mengajar rangkap Setelah menginjak jenjang SMP/SMA baru ada buku pelajaran sejarah yang biasanya hanya dimiliki oleh bapak/ ibu guru yang kadang mendiktekan untuk murid-muridnya. Atau menuliskan di black board. Saya ingat ibu guru di SMA kelas satu menerangkan bahwa pada jaman Majapahit telah ada hubungan antar negara yang bersifat sederajat kalau ga salah disebut mitreka satata ( nuwun sewu Ki Puna kalau salah mohon diluruskan ). Ibu guru ini berwajah cantik dan kebetulan berstatus janda (maaf). Hampir setiap pelajaran sejarah beliau datang mengajar dan menawarkan barangkali ada siswa yang suka rela menyalin dari buku tulisan tangannya ke papan tulis. Dan saya sebagai wakil KM selalu angkat tangan pertama kali untuk menyalin ke papan tulis. Dan yang saya lakukan adalah setiap menyalin lima/enam kalimat, datang ke bangku guru menanyakan dalam bahasa sunda “ibu punten ieu naon seratanna kirang jelas” – ibu maaf ini apa tulisannya kurang jelas-. Sambil melirik wajahnya dari dekat. Lama kelamaan ibu guru ini paham juga tingkah muridnya yang dikenal anak kolong (anak polosi/tentara yang tinggal di asrama polisi/tentara) ini biasanya lumayan bandel. Namun beliau cuma senyum-senyum saja memaklumi tingkah laku muridnya yang menginjak usia remaja.
    Mangga kalau ada pinisepuh yang akan mengoreksi atau menambah nostalgia SR – SMA.
    Matur nuwun

    • pripun caranare nulis teng ASBAK ki….

      nek sing kulo reteni niku teng SABUK je…

      —————deleted
      Seperti telah di kupas dalam terbitan lontar yang lalu kita masih menggunakan asbak.
      —————deleted

      • (dek jamane ki Arema isih aktif nguri2 padepokan, angger ono sing mbenerke …mesthi diparingi bebonusan)

  17. Nuwun
    Sugêng énjang

    Katur Ki Djojosm
    [On 24/05/2011 at 22:32 djojosm said:]

    Mugi karaharjan, rahmat, berkah såhå ridhå Gusti Ingkang Hangrêkså Gumêlaring Jagad, tansah lumintu mbanyu mili dumatêng Panjênêngan sakulåwargå. Aamin.

    Menarik sekali pengalaman masa kecil Ki Djodjosm, khususnya pengalaman beliau terhadap mata pelajaran Sejarah.

    Bagi Punåkawan ketika masih Sekolah Dasar (yang di masa Ki Djodjosm masih disebut Sekolah Rakyat, seolah-olah terkesan “sekolah rendah”, maksudnya sekolahnya rakyat kecil), hingga SMP saya menyukai pelajaran sejarah ini.

    Namun begitu di tingkat SMA, mulai tidak suka, nyaris membenci. Mengapa?

    Murid-murid selalu ‘dicekoki’ dengan hafalan tahun kejadian. Tahun Kejadian (hafalan tentang tahun kejadian ini sering muncul di ulangan-ulangan harian atau ulangan umum.
    Ini salah satu alasan mengapa saya tidak suka pelajaran sejarah).

    Ketika sudah sampai pada keharusan menghafal Nama Tokoh (terutama kalau pelajaran Sejarah Nasional), Pengajar secara tegas memberikan garis batas yang sangat nampak jelas hitam-putihnya si tokoh.

    Disebutnya bahwa tokoh tertentu adalah tokoh pahlawan, berjasa pada Negara, penyelamat Bangsa dari keterpurukan politik, ekonomi. sosial, tidak pernah berkhianat, jujur, dstnya…dstnya.

    Sedangkan tokoh-tokoh yang lain disebutnya sebagai pemberontak/pengkhianat, culas, menghambur-hamburkan uang rakyat, menyengsarakan rakyat, dst…. dstnya.

    Bahkan kamipun pada waktu itu sempat bertanya-tanya, mengapa Bung Karno Sang Proklamator Bangsa Indonesia, Bapak Bangsa, dikelompokkan sebagai ‘Golongan Hitam’. Tapi, jawaban yang ditunggu tak pernah ada. Takut? Nggak tahu.

    Tapi dari semua pengalaman di atas, alasan mengapa saya tidak suka pada pelajaran sejarah (pada waktu masih di SMA); hal itu disebabkan karena Sang Ibu Guru pengajar mata pelajaran Sejarah membenci saya, karena putrinya saya pacari. He he he he.

    Nuwun

    punåkawan

    • walah…, tibane Ki Puna dulu nakal, he he he …

    • Walah, kalau yang terakhir itu karena gurunya tau
      kalau Ki Puna ndak suka pelajarannya…
      makanya ndak dibolehin pacaran ma putrinya…
      opo kewalik yo….???

      • arep ym an, aku add miss_nona@yahoo.com kok ora nyambung…?

        • yo ndak isoh no, akun njenengan dulu mana?

          • lha akun ku terang terwoco…….moc.oohay@anatrammidak….ora misterius…

          • walah sampe huruf k nya kepepet…

          • huruf k-nya kepidak
            he he he ..

          • sampe pesek..

          • sampe sesek..

          • dadi mblesek

          • diblesek-e neng endi ?..🙂

      • Wilujeng kapanggih deui Jeng Miss Nona,

        Lha pengalaman Jeng Miss Nona bagaimana?

        • Wah ndak pernah pacaran ma anak bu/pak guru tuch hehehe

          • …cuma ma ponakannya

          • cucunya…

          • sekalian aja ma cicitnya..

          • cicit yahoo com..

    • wikikiki🙂 … tny ki puna nuakaaaal juga ya … eh gmn kabar putri bu guru sekarang? …. apa yg jd nyi puna?

  18. Matur nuwun Ki Puna atas doanya, dan semoga pula Allah Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan rahmat dan baraqah kepada Ki Puna , Ki Bayuaji dan segenap keluarga beliau serta seluruh bebahu dan cantrik padepokan dan keluarga semua.

    Betul ki Puna waktu di SMP/ SMA kita senantiasa menghapal tahun-tahun yang berkaitan dengan kejadian/perang.

    Namun sejak masa orde kayanya banyak fakta sejarah nasional (terutama masa kemerdekaan ) yang kelihatannya agak ditutupi atau di selewengkan untuk kepentingan golongan tertentu.
    Namun saya haqul yaqin bahwa Allah senatiasa melihat dan kelak akan membuka mata kita semua mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan ayat Al Quran

    Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.( Al-Israa : 81 ).

  19. dicuwil sangking seratane ki Djoko padepokan sebelah

    Dalam Serat Centhini IV (Pupuh Balabak) dijelaskan dengan gamblang beberapa posisi sebagaimana ajaran Jawa.

    “kadya galak sawer” (patukannya laksana ular galak)
    “lir ngaras gandane sekar” (seperti meraba baunya bunga)
    “lir bremana ngisep sekar” (laksana kumbang mengisap madu)
    “lir lumaksana pinggire jurang” (ibarat berada di tepi jurang)
    “baita layar anjog rumambaka” (seperti kapal layar turun ke tengah laut)

    nyuwun pitedah poro pinisepuh engkang sampun paripurno anggenipun nganggit pasugatan meniko kolowau

    • Oh kuwi posisi kewan-kewan,nggih?

  20. Assalamu’alaikum, selamat pagi…
    Ngantor tapi pikirannya ke rumah…
    dah hampir 36 jam mami kog tiduran aja yach..???
    bangun tidur…tidur lagi…
    kayak lagunya mbah surip…hikss

    • Wa’alaikumsalam,

      Ssst, aja rame2….mami Ni NONA lagi istirahat
      biar nanti petang wektu siputeri pulang kantor
      terlihat lebih seGAR.

  21. selamat PAGI, ki Karto, ki Anatram, ki BAYU
    miss NONA.

    padepokan mulai terlihat regeng, para tukang
    goJEG wes podo ngumpul.

    • selamat PAGI, ki Menggung, ki Anatram, ki BAYU,miss NONA.

      padepokan mulai terlihat regeng, para tukang oJEG wes podo ngumpul.

      • Selamat siang Ki Menggung .. poro tukang sampun ngojeg sampai padepokan..jadi regeng…

        • selamat Siang,
          poro tukang nggojek….wis dho ngumpul..

          • selamat Siang,
            poro tukang ngobjek….wis dho ngumpul..

  22. Nuwun
    Sugêng énjang andungkap siyang

    SÊRAT CÊNTHINI atau SULUK TÊMBANGRARAS

    Katur Ki Pandanalas
    [On 25/05/2011 at 08:13 pandanalas said:]

    Hiks…………………….,
    Saya awali dengan hiks, karena pemahaman tentang “kadyå galak sawêr” “lir ngaras gandané sêkar” “lir brêmånå ngisêp sêkar” “lir lumaksånå pinggiré jurang” “baitå layar anjog rumambåkå”, saya yakin Ki Pandanalas sudah mahfum dan mumpuni.

    Ki Sanak Padepokan GS ingkang minulyå.

    Tak ada yang bisa memungkiri, urusan seks selalu saja menarik. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu se-RT.

    Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

    Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar.

    Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

    Beberapa manual kuno yang pernah ada, bisa kita sebut misalnya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM – 17 M); atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 – 6 M).

    Keduanya, bukan melihat seks sebagai subjek penelitian medis dan ilmiah, melainkan sebagai sex manual.

    Di akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20, neurolog dan pakar psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud (1856 – 1939), mengembangkan sebuah teori tentang seksualitas yang didasarkan pada studinya terhadap para kliennya.

    Di Tanah Jawa pada awal abad ke-19 muncul pula sebuah karya sastra yang terkenal hingga kini, yaitu Sêrat Cênthini, nama resminya Suluk Têmbangraras.

    Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Suråkartå, yaitu Yåsådipurå XI, Rånggåsutrasnå, dan R. Ng. Sastrådipurå (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amêngkunagårå II atau Sinuhun Paku Buwånå V.

    Sêrat Cênthini yang terdiri atas 722 tembang lagu Jawa itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas.
    Justru karena itulah serat ini menjadi termasyhur, bahkan di kalangan para pakar dunia.

    Seorang kontributor sebuah surat kabar Prancis, Elizabeth D. Inandiak, misalnya, telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan judul Les Chants de l’ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002). Lagi-lagi orang asing yang pedulu terhadap karya sastra kita.

    Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, sebagimana bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan.

    Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari. Dalam Sêrat Cênthini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling.
    Ini sangat berlawanan dengan etika sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks.

    Masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus. Misalnya, menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, pratingkahing cumbånå, dan lain-lain.

    Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme (sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan).

    Dalam Cênthini II (Pupuh Asmarådåna) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks.

    Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

    Lalu dalam Cênthini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbånå serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

    Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima.

    Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrimå kepada lelaki.

    Hal itu tampak dalam Cênthini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari perkawinan antara Syekh Amongrågå dan Têmbangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol.

    Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan. He he he…………………

    Tulisan ini kalau diteruskan dapat mengundang perdebatan, bahkan ada yeng menganggap sebagai menyebarkan pornografi, tetapi sebenarnya bagi mereka yang memahami keluhuran sastra Jawa, perdebatan itu tak perlu harus terjadi.

    Namun kita harus juga memahami bahwa masih ada di antara anggota masyarakat kita menilainya sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan.

    Disamping itu Punåkawan belum punya waktu luang untuk mengkaji Sêrat Cênthini secara lengkap. Nyuwun pangapuntên.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • mudeng siTIK setelah ki PUNA turun tangga,
      menjlentrehkan perihal tabu-tabu di atas.

      tabu…rasane legi, tabu…di ladang sendiri
      sari tabu aja dipake MANDI,

      embuh-lah…!!!

  23. Sugeng siang.
    miss nona said:

    Assalamu’alaikum, selamat pagi…
    Ngantor tapi pikirannya ke rumah…
    dah hampir 36 jam mami kog tiduran aja yach..???
    bangun tidur…tidur lagi…..

    Mami sudah yuswo berapa ?
    Pesan saya dirumah harus ada orang lain yang ngawasi beliau.
    Saya pernah ngalami hal seperti itu, Ibu sare terus kelihatannya pules, ternyata akhirnya dipundut Allah.
    Jadi kalau Mami sering sare terus harus sering dibangunkan dan ada yang nungguin.

    • Wis sepuh Ki, sekitar 75an tahun…
      dah dipesenin ma yg dirumah untuk jaga
      dan ngingetin untuk selalu nyebut asma ALLAH SWT..
      Thanks infonya…

  24. Sekarang hari Rabu, besok hari kamis
    he he he ….

    • ha ha ha..ternyata sekarang hari rabu, besok kamis..

      (sak jan jane, Ki Is sampun kondur.. lagi bercengkerama dengan keluarga tersayang…)

      • bar kemis minggu..bar nangis ngguyu

      • He he he….Ki Anatram,

        Bener belum kok, Ki….
        ini pake hp…ngirim komennya.
        Besok pagi baru pulang ke tgpinang, sekitar jam 16.00 wib baru nyampe di gubuk.

        • Kalau sudah pulang … istirahat rumiyim Ki Is,
          nYecan-ipun minggu ngajeng kemawon …

          Kulo nDelik rumiyen, nJih …
          mBedal mode on!

          • he he he …
            Pak De, saya Sabtu – Minggu ke Madiun, nitip sambel pecel napa mboten?

          • Pilih salah satu, pecel opo rontal..

  25. Sepiiiiii….
    mulih ach….

  26. Tak enteni sak metune ……

  27. Sugêng dalu

    • Sugêng sampun tilem ki
      he he he …, sugeng dalu

  28. Ronda dewekan rek….
    pada nang endi ta iki

    • kadir… eh… hadir, ki pak satpam…

      sugeng dalu, para sanak kadang sedaya…

      • selamat datang kembali ki banu.. kabarnya sedang nganglang ke padusunan dan perkotaan…

        • pagi ki BANUAJI,

          dherek berBAHAGIA…bulan depan
          bebahu ADBM, sesepuh pinisepuh
          ada gawe njih ki,

          silatuhrahmi, sarasehan punggawa
          ADBM teng wilayah mBANDUNG…!!??
          sukses, lancar gawe kadang2 ADBM
          mangke cantrik2 teng mriki diCRI
          tani ki…🙂

        • @ki anatram; iya, ki… melihat-lihat keadaan pakuwonan2 dan kademangan2 sambil berbagi pengalaman agar dapat bersama membangun bangsa🙂

          @ki yupram; lha iya, ki tumenggung yupram sing dadi bebahu malah gak isa teka, lha kepriwe, lha…

  29. Sugêng énjang

    • Oh tralala..
      dag dig dug hatiku….
      Kamis tlah…
      sbentar lagi…
      dia kan datang….
      Mengisi hariku….

      (ini nyanyian Nyi Is, lho..)..

      Sugeng enjang sedulur loro (sedulur-sedulur maksude)

      • Dasar nggak pernah bikin puisi..

        arep nulis Kamis tlah tiba, kok cuma Kamis tlah… payah tenan..!

  30. Sekarang sudah Kamis, 1 jam maning “malem Jum’at”.
    Hari yang slalu kutunggu, dan kutunggu.lagi ….
    Sugeng enjang.

  31. Tambah ilmu maneh “serat Centini”
    Matur nuwun Ki Punokawan Bayuaji.
    Tapi artinya”centhini” sendiri apa sih Ki.
    Dan kalau boleh tahu naskah asli sekarang ada dimana?

    Matur nuwun,
    Sugeng enjang.

    • centhini : chentilane mbak tini

  32. Hadir sekalian menunggu sesepuh padepokan (KI Is) pulang ke rumah sekalian nyebarin ilmunya lewat rontal rontal MMGK heheheh

  33. Nderek absen ach…
    Sugeng enjing Kyai/Nyai lan Ni2 sendoyo sanak kadang Ggst2😀

  34. numpang tanya,
    blum lama ini laptop mita yg sblmna pake xp sekarang diganti 7, …. skrg klo buka file lama kok jadi ‘read only’ .. jd ga bisa diedit, harus copy nama laen … yg akhirna menuh2in harddisk. …. bisa ga ya biar ga jadi read only ? diatur dimananya ?

    • Sugeng enjing para Sanak kadang,
      Nderek absen enjing…

      Mbak Mita…
      Coba mbak klik kanan nama file,pilih properties dilihat klo di opsi read only ada tanda centang maka hilangkan saja tanda itu…

      • Geng enjing Ki LD, mbak Mita

        • Geng enjing Ki LD, mbak Mita
          eyang Djojosm….

          • Geng enjing ki Menggung Yupram kados pundi kabaripun?

          • Sgenk Siank KI Joyosm,Ki YPram lan para sanak kadang..Kabuyutan Batam sementara mendung…udh bbrp lama blm turun hujan ..

          • Alhamdulillah sehat ki,

            semanten ugi keluarga
            padepokan mBEKASI mugi
            tansah pinaringan sehat

          • Assalamu’alaikum, selamat siang
            pha kabar Ki Djojo, Ki YuPram, Ki LarDus,De’Mita and sanak kadang semuanya….

          • Waalaikumsalam miss Nona keluarga di tlatah Mbekasi sami sehat, kados pundi mamih miss Nona

          • Mami secara klinis dah sehat tapi sekarang butuh perhatian yang lebih karena sudah kembali seperti balita Ki…
            Mohon do’a-nya ya Ki Djojo…

          • Saya ikut berdoa agar Miss Nona diberi kesabaran dalam menjalankan kewajiban mulia ini…
            Bs jadi bahan tafakur saya smoga besok saya mampu juga menjalankan kewajiban tersebut sebagaimana Miss Nona…Amin..

          • Matur nuwun Ki LarDus…

      • maturnuwun sanget ki ld, …tp itu harus tiap file digituin atu2 kan? … klo biar bisa langsung semuanya gmn ya?

        • Ya Nggak too…
          ada 2 cara :
          1. Blok semua file baru klik kanan pilih properties lalu hilangkan tanda contreng di opsi read only, atau..
          2.Pilih folder yang berisi data read only trus klik kanan pilih properties lalu hilangkan tanda contreng di opsi read only nanti ada 2 opsi pilih aja change folder,subfolder and file.
          Trus klik aja OK.

          Monggo dicoba dulu..

          • waduuuh ki ld ternyata pakar komputer jg rupanya … nuwun sanget njih🙂

            kok mboten damel betekan malih ta?

          • Betekan nembe kangge pager je..

          • wikikiki🙂

          • nek pengin luwih cepet, laptope dicelup neng banyu 7 sumur…..dijamin read only langsung ilang

          • lebih cepat lagi pak lik, kalau setelah dicelup terus dijemur di pinggir jalan.
            aya-awa wae pak lik iki

  35. Sugeng siang
    masih harus menunggu lagi
    he he he ….

    • Menunggu terus….

      • ngancani nunggu..

        • ki anatram kok ga melet maneh yo?🙂

          • Wis mblesek lidahnya mit…

          • ben dijak chating.. sampe sekarang belum..

          • Ach tape dech…
            dah di add ternyata ngapusi
            xixixi

        • Nderek Ngrencangi Menunggu…………
          Sabar….Sabar….Sabar….

      • Mudah-mudahan Mamih dan Miss Nona sekeluarga senantiasa diberi kesehatan dan kesabaran karena masa tua dan pikun akan datang sesuai dengan ayat Al Quran surat Yasin (36:68)
        68. dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya)[1271]. Maka Apakah mereka tidak memikirkan?
        [1271] Maksudnya: kembali menjadi lemah dan kurang akal.
        Dan juga dalam surat AN Nahl ayat 70 (16:70)
        70. Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.
        Mohon dibaca juga ayat serupa pada surat Al Hajj ayat 5 ( 22:5).

        Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam akan mengalami masa tua (pikun), kecuali yang dua; kerakusan terhadap harta benda, dan kerakusan terhadap (panjang) umur.” (HR. Bukhari Muslim). Dan dalam hadist lain ” semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”.

        Dengan menthadaburi keadaan ini marilah kita jangan pernah berlaku sombong karena kita gagah/cantik, pintar dan kaya akhirnya akan menjadi tua pikun dan mati.
        Dilain pihak kita harus ingat bahwa kita dilahirkan oleh sang bunda dan dipelihara dengan penuh kasih sayang, disekolahkan oleh kedua orang tua kita sampai kita menjadi dokter atau insinyur atau pedagang atau pegawai yang sukses. Inilah saatnya kita membalas segala budi beliau dengan memelihara dan menyayangi beliau yang dalam keadaan sakit dan lemah.
        Demikian dan mohon maaf bila ada kekeliruan/ kekhilapan cantrik.
        Matur nuwun.

        • Makasih banyak ya Ki Djojo atas pencerahannya…

  36. waalaikumsalam mba nona, … yg sabar ya, … inget ngurusin ortu tu merupakan ladang pahala yg luar biasa loh …. jauh lebih besar dari ladang minyak di timteng

  37. sugeng siyang ugi eyang joyo, pripun kabaripun keng mantu? … sampun bati?

    • Alhamdulllah Mita nanda mantu sampun “isi” mohon doa rekan cantrik sedaya mugi kehamilan dan janin nanda Bunga berjalan baik, sehat dan insyaallah melahirkan cucunda dengan lancar sehat lahir bathin bagi bayi dan ibunya. Amin

      • aamiiin

        • cespleng njih🙂🙂

          • apa tu cespleng?

          • joss.. mak nyus…

      • Amin..
        Saya ikut mendoakan jg Ki Joyosm..
        Saya jg mohon doa krn istri saya juga sedang mengandung calon anak kami yg ke-2 smoga sehat dan lancar saat melahirkan nanti…Amin.

        • Insyaallah Ki mudah-mudahan dikabulkan Allah SWT. Amin

          • Ikut berdoa untuk putra/mantu Ki Djojo dan istri Ki LD.. semoga sukses.. eh.. maksude lancar lir ing sambikolo..amin..

          • Amin…..
            Matur Nuwun Ki Ra Anatm

          • Amin.
            Matur nuwun Ki Antram.
            Sugeng ndalu.

        • aamiiiin

  38. waalaikumsalam ki yupram, … walaah klo mba nona muncul trus ki yupram langsung ikut muncul🙂🙂

    • iku jenenge cespleng Mit,…eeh kleru ding
      kebetulan mampir gandok bareng,

      kakek Karto bilang “dhusel” kesempatan…🙂

  39. eh dik satpam, kapan tuh mita liat di kick andy ada iwan setyawan, arek mbatu, anak sopir angkot, tp bisa kul di mbogor trus jadi direktur di sebuah perusahaan di new york, sekarang dah mbalik ke malang lagi …. what an inspiring guy ! …. dik satpam kenal ga?

    • yang itu lom kenal

      • nGGer Satpam,
        Apakah ada tour khusus ke Bromo? Pingin liat Bromo diwaktu pagi dan makan pecel setelah matahari terbit …
        Baru cari info!

        • kalau tur sih banyak pak de.

          kalau rombongan banyak kok travel yang tujuan khusus ke situ

          Kalau sekeluarga, lebih enak sewa mobil sendiri.
          Tinggal atur sendiri, pokoknya pada saat matahari terbit sudah ada di Penanjakan (kalau lewat Pasuruan-Tosari) baru turun ke kaldera Bromo.
          Sementara ini belum boleh naik ke kepundan, karena aktivitas masih tinggi. Maksimal sampai di Pura (bisa dilihat di Google Earth).
          Turun Ke Kaldera hanya boleh menggunakan 4WD.

          Bisa juga lewat Probolinggo-Ngadisari-Cemoro Lawang. Hanya saja saat ini pemandangan matahari terbitnya tidak seindah yang di Penanjakaan.

          Tetapi, kalau cari pecel di Bromo ya gak ada Ki. Paling ya mie instan yang ada,
          Pecelnya cari ke Sleko saja. he he he …

          • Mohon infonya sewa kendaran yang 4WD pinten Ki Satpam dan kalau berombongan berapa ongkos per orangnya?
            matur nuwun

          • Hadu…
            yang kemarin lupa tidak nanya
            soalnya kemarin dengan bus, berhenti di Sukpura, terus ganti Bison ke Cemara Lawang lewat Ngadisari, terus turunnya ikutan jalan kaki sama para cantrik Ki Arema.
            Coba nanti saya cari info lagi.

          • Dulu pernah ikut naik sampai bibir kawah tengger.. nglewati lautan pasir.. terus sampai kampung yg ada danau nya di atas (oh ya danau ranau (?)..

            asyikknya.. masih ada konco di taman nasional gn bromo semeru..

          • saran; jangan makan mie instan sebelum mendaki, tapi lebih baik bekel gula jawa…

            selamat berwisata, ki sanak…

        • Ki Wid kalo dari Bromo mestinya jangan cari pecel..mending makan laron..eh..rawon..

  40. Hadu…
    laper…..
    cari maem dulu ah, terus pulang

    • cari maem ?
      liyane cari jodo lho

      • ah liyane ya cuma ki pandan doang..

        • ho oh xixixixi
          Mo ikutan Ki Paklik Satpam…
          tapine ndak nyari maem…
          bar angsung pulang..
          see u all…

          • mak klepat…mulih..

      • Klo jodo sudah…
        Yg maem blm Ki PA….
        Yg dicari Ki SatPam adalah MAEM(Mama ato Emake anak2)…
        Mboten Pareng Duko lho…..

        • nggoleki centhini mau lho..

          • KLadosipun mekaten Ki Ra Anatm…..
            Mbok Menawi Ki SatPam ajrih bilih Ki PA mengke nderek trus ditilar alasan pados Maem…

    • terima kasih cemilannya, ki pak satpam…

      terima kasih juga saya sampaikan kepada ki ismoyo, ki ajar arema, ki tumenggung yudha pramana, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung anatram, dan para bebahu padepokan.

      selamat malam, para sanak kadang cantrik dan mentrik semuanya, selamat mempelajari rontal dari para bebahu yang telah disediakan bersama dengan hidangan yang menghangatkan badan…

      salam…

  41. Sugeng dalu…
    Masih diruang kelas metpen..
    Dosenx gaul..heheheheh

    • he he he …
      kok ya masih sempat nulis komen

      • …pelayanan, P.Satpam…he he he.

  42. hadu…., dingin…., ronda lagi
    jadi laper lagi nih
    cari maem lagi
    he he he ….
    suwun Ki Is

    • P’ Satpam
      dimanaaaaa to rontale
      di biyak biyak ora ktemu
      di selemi jga ra ktemu
      hmmmmmm
      hehehehehe

      • On 26/05/2011 at 15:12 P. Satpam said:

        Hadu…
        laper…..
        cari maem dulu ah, terus pulang

        di situ Ki Adji

        • he he he …
          Ki Is gak tegaan
          sugeng dalu Ki
          mboten sayah to Ki, monggo istirahat rumiyin,
          kulo taksih ronda sawetawis.

        • wahhh maturnuhun KI Is,
          apa sekarang udah pulang
          atau masih dinas luar yo.
          smoga selalu sehat wal afiat amiiin

          • Sudah pulang tadi sore Ki Adji,
            sampai gubuk nyecane langsung wedar….he he he.

            Kuesel juga P.Satpam….nggih pun pamit tilem rumiyin.

  43. hadu…
    ternyata nguantuke puoollll, pr belum rampung lagi.
    bobo dulu ah, diteruskan bakda subuh.

  44. matur nuwun ki Is…

  45. matur suwun ki is, ngger satpam

  46. Matur nuwun sangune Ki Is, Paklik Satpam🙂

  47. Matur maemipun Ki Is, Ki Satpam.

  48. Matur nuwun, Ki Ismoyo,
    kiriman saking P. Satpam sampun katampi.
    Sugeng enjang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: