mmgk-40

balik ke mmgk-39>>|lanjut ke mmgk-41>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 21/05/2011 at 21:04  Comments (85)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/mmgk-40/trackback/

RSS feed for comments on this post.

85 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu.

    • sugeng dalu

      • Sugeng Kongres … dan buabaran P881

  2. sugeng riyadi….

    • Sugeng dalu Ki Arga, Ki Bancak, Ki Mas Tono.

  3. Nuwun

    Sugêng énjang
    Sampun ngancik ing madyaning ratri, malah sampun tumapak ing wanci énjang

    MMGK yang diwedar hingga detik ini sudah sampai jilid ke-39, baru sampai pada “lakon” Sri Baginda Jayanegara, raja ke-2 Majapahit yang memerintah dari tahun 1309 sd 1328.

    Dengan kepiawaiannya Ki Dalang S. Djatilaksana Liong menampilkan tokoh-tokoh historis dan unhistoris dalam suatu rangkaian dongeng sang Dipa si Gajah Mada, tokoh utama MMGK.

    Namun, dari beberapa jilid MMGK yang sudah diwedar, ternyata terdapat beberapa hal yang terlupakan oleh Ki Dhalang SD. Liong, seperti yang pernah saya paparkan pada jilid-jilid sebelumnya, demikian pula halnya pada MMGK jilid ke-39 ini akan ditemui uraian Ki Dhalang SD Liong yang tidak sesuai dengan fakta sejarah.

    Dengan suatu cacatan, bahwa yang dimaksud dengan fakta sejarah adalah data atau informasi kesejarahan berupa kitab rontal, kidung, inskripsi, epik, tamra prasasti, dan yang sejenisnya, yang diyakini keasliannya dan sudah teruji keabsahannya, dengan hipotesa bahwa suatu peristiwa atau keadaan yang diceritakan pada suatu masa, menunjukkan data tersebut saling kait-mengkait memberikan informasi yang sama atau sangat patut diduga sama.

    Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian mengenai kebenaran fakta sejarah, karena bagaimanapun juga suatu novel, khususnya yang berlatar belakang fakta sejarah meskipun fiktif, tetapi harus tetap menggambarkan keadaan yang “sebenarnya” waktu terjadinya peristiwa yang ditulis dalam novel tersebut, baik tokoh (yang untuk memperkaya alur cerita boleh saja “dihadirkan” tokoh fiktif), tempat, maupun situasi, selayaknya sesuai dengan fakta sejarah.

    Sekali lagi, mohon difahami oleh sanak kadang, bahwa tulisan ini tidak bermaksud “menelanjangi” karya Ki Dalang SD. Liong. Sebab bagaimanapun sesuatu “dongeng” yang menyimpang dari fakta yang diyakini, akan menimbulkan perdebatan yang bisa menimbulkan pertentangan.

    Sekedar contoh: Pada tahun 2002, salah satu penyelenggara televisi swasta nasional di negara kita, pernah menayangkan kisah Prabu Angling Dharma. Dalam salah satu episode, sang sutradara menyisipkan suatu adegan yang keluar dari cerita Prabu Angling Dharma sebenarnya.

    Akibatnya, para pemuka agama dan para penganut agama yang sangat menghormati epik Prabu Angling Dharma tersebut melayangkan protes keras kepada pengelola televisi yang bersangkutan agar tayangan kisah Prabu Angling Dharma dihentikan, atau jika diteruskan harus direvisi terlebih dahulu dan disesuaikan dengan pakem baku yang bersumber dari kitab Angling Dharma yang sangat beliau-beliau hormati itu.

    Tayangan sempat dihentikan, tetapi pada bulan Maret 2011 yang baru lalu, pengelola televisi swasta nasional tersebut menayangkan kembali kisah Prabu Angling Dharm tanpa melakukan revisi, akibatnya protes dilayangkan kembali, dengan tembusan surat juga ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah.

    Beliau para pemuka agama yang mengajukan protes tersebut sangat menyesalkan dan menyayangkan sikap penyelengara siaran yang tidak mau tahu dan tidak dapat bertêpå slirå (bertenggang rasa), serta tidak menghormati keyakinan agama orang lain. Suatu contoh yang sangat buruk dalam menyikapi suatu perbedaan keyakinan.

    Alhamdulillah, apa yang ditulis Ki Dhalang SD Liong tidaklah separah itu, tetapi dari sudut pandang sejarah tetap harus dikembalikan kepada “jalan sejarah yang benar”.

    Pårå sanak kadang.

    Sebagai gambaran umum, MMGK jilid ke-39 menceritakan keadaan Kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Prabu Jayanegara, dengan susunan pemerintahan:

    1. Sang Prabu, Sri Kålå Gêmêt Jayanegara yang bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 sd 1328)

    2. Salah satu Sang Panca Wilwatika, yaitu Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit atau Mahamantri Mukya, semula adalah Dyah Halayudha (Mahapati), yang karena pengkhianatannya kepada kerajaan maka ia dihukum mati dengan cara cineleng-celeng, dicincang seperti babi hutan.

    Tokoh Mahapati ditemukan dalam naskah Pararaton dan Kidung Sorandaka, nama Mahapati bukanlah nama asli, melainkan nama julukan. Nama Mahapati tidak dijumpai dalam prasasti apa pun. Pararaton mengisahkan Mahapati menjadi patih setelah kematian Nambi tahun 1316. Beberapa sejarahwan menduga Mahapati identik dengan Dyah Halayudha, yaitu nama patih Majapahit yang tertulis dalam Prasasti Sidateka tahun 1323.

    Pejabat Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit selanjutnya adalah Arya Tadah, yang menjabat sejak 1323 sampai dengan tahun 1344. Pada prasasti Berumbung bertarikh 1329 nama Arya Tadah teridentifikasi dengan nama Mpu Krewes, sebagai rakryan mapatih namawasita. Adapun Sang Panca Wilwatikta lainnya adalah Rakyan Demung : Pu Samaya, Rakyan Kanuruhan : Pu Anekakan, Rakyan Rangga : Pu Jalu, Rakyan Tumenggung : jabatan ini sengaja dikosongkan.

    3. Gajah Mada (di MMGK bernama Dipa); Menurut Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha yang kemudian menjadi patih dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala, di bawah pemerintahan Sang Rani Tribhuwana Tunggadewi, sebelum beliau menjadi Ratu Majapahit menggantikan Jayanegara.

    Setelah Sri Jayanegara wafat (1328) kemudian digantikan oleh Sang Rani Tribhuwana Tunggadewi menduduki tahta Majapahit, maka Mahapatih Amangkubhumi Arya Tadah (pada tahun 1344, berarti setelah kematian Prabu Jayanegara) yang sakit-sakitan meminta kepada Sang Rani agar Gajah Mada menggantikan dirinya sebagai Mahapoatih Sang Amangkubhumi.

    Selanjutnya MMGK menjelaskan:

    1. Adityawarman

    a. MMGK-39. Hal 22: “Adityawarman putra dari Putri Dara Jingga, saudara dari Dara Pethak yang kini bernama Indreswari, ibunda baginda Jayanegara

    b. MMGK 39 Hal 26: “Dara Jingga pulang dan menikah dengan seorang raja Melayu dan berputra pangeran Adityawarman.

    Berdasarkan analisis sumber primer seperti Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama dan Pararaton, dan prasasti-prasasti di Jawa Timur maupun di Sumatra Barat, Tokoh Adityawarman diragukan sebagai putra langsung Dara Jingga.

    Dalam Désawarnana hanya dikatakan bahwa Dara Jingga melahirkan anak yang di kemudian hari menjadi raja di Malayu. Mengingat bahwa Dara Jingga tiba di Jawa pada tahun 1292 dan bahwa prasasti Adityawarman pertama bertarikh 1347 maka kemungkinan kecil bahwa Adityawarman adalah anak Dara Jingga.

    Dengan demikian putra Dara Jingga bukan Adityawarman melainkan pendahulunya, yaitu Akarendrawarman, yakni pengganti Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa pada tahun 1316, berdasarkan Prasasti Suruaso atau dikenal juga dengan nama Prasasti Batu Bapahek, ia telah memulai pembangunan saluran irigasi untuk mengairi lahan pertanian di Surawasa (sekarang Suruaso, sebuah nagari, yang terletak di dekat Batusangkar, ibu kota kabupaten Tanah Datar Sum,atra Barat). Kemudian pekerjaan ini diteruskan oleh raja penerusnya yaitu keponakannya sendiri, Adityawarman.

    2. Sriwijaya

    a. MMGK-39. Hal 25 dan 26: “Beberapa raja-raja Malayu sudah tunduk di bawah pasukan Pamalayu. Hanya Sriwijaya yang belum diserang

    b. MMGK-39, pada beberapa halaman yang bercerita tentang orang-orang dari Kerajaan Sriwijaya; antara lain tentang suasana kerajaan Majapahit yang mulai memanas karena: aku (Demikian Prabu Jayanegara berkata) dari keturunan dari seorang putri Sriwijaya (Hal 47) dan kerajaan telah dikuasai dan dipengaruhi oleh sanak keluarga ibunda ratu dari Sriwijaya (Hal 47). Kemudian tentang pendaratan pasukan dari Kerajaan Sriwijaya di Pelabuhan Canggu,tak kurang dari sepuluh ribu prajurit Sriwijaya, telah berlabuh di Canggu (Hal 50).

    Analisis data sejarah:

    Kerajaan Sriwijaya telah ada sejak 671M sesuai dengan catatan I Tsing, dan dari Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.

    Kawasan Melayu yang sebelumnya di bawah kekuasaan Sriwijaya sebagaimana tersebut pada Prasasti Kedukan Bukit yang beraksara tahun 682, dan kemudian munculnya Dharmasraya mengantikan peran Sriwijaya sebagai penguasa pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya setelah serangan pasukan Rajendra Chola dari Koromandel, India sekitar tahun 1025. Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa serangan tersebut berhasil menaklukan dan menawan raja dari Sriwijaya.

    Kerajaan Sriwijaya merupakan kebanggaan masa silam Indonesia. Kekuasaannya melampaui batas geografis tanah air kita, berabad-abad mendominasi pelayaran dan perdagangan antarbangsa, satu-satunya negara Asia Tenggara abad pertengahan yang banyak diberitakan kronik Arab dan Cina.

    Sangat disayangkan bahwa penyusunan sejarahnya belum tuntas. Sriwijaya baru dikenal dalam historiografi modern pada tahun 1918, berkat tulisan George Coedes, Le Royaume de Crivijaya.

    Kronik Cina abad ke-7 dan ke-8 memberitakan negeri atau kerajaan di “laut selatan” bernama Shih-li-fo-shih. Kronik abad ke-9 sampai ke-14 memberitakan negeri San-fo-tsi.

    Berdasarkan beberapa prasasti yang menyebut nama “Sriwijaya”, Coedes mengidentifikasi Sriwijaya sebagai nama negeri dan kerajaan yang ditransliterasikan menjadi Shih-li-fo-shih atau San-fo-tsi Dan lahirlah teori: Kerajaan Sriwijaya berdiri sejak abad ke-7 sampai ke-14.

    Lokasi negeri Sriwijaya (Shih-li-fo-shih atau San-fo-tsi) di Palembang dan negeri Malayu (Mo-lo-yu) di Jambi. Pelokasian Malayu ditunjang oleh prasasti Amoghapasa di Jambi yang menyebutkan negeri Malayu.

    Penelitian geomorfologi Dinas Purbakala, 1954, yang membuktikan Jambi abad ke-7 terletak di pantai dan ideal bagi persinggahan kapal, ternyata cocok dengan uraian pendeta I Tsing (634-713) tentang pelabuhan Malayu.

    Pelokasian Sriwijaya di Palembang memiliki bukti-bukti tak terbantah. Uraian I Tsing bahwa Sriwijaya di tenggara Malayu dan di muara sungai besar. Penelitian geomorfologi bahwa Palembang abad ke-7 berlokasi di pantai.

    Sebagian besar prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang. Dan yang terpenting, Prasasti Telaga Batu di Palembang merinci nama jabatan yang hanya mungkin ada di pusat pemerintahan: putra mahkota, selir raja, senapati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana.

    Perluasan wilayah Sriwijaya berdasarkan prasasti-prasasti dan uraian I Tsing. Akhir abad ke-7, raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menaklukkan Bangka, Lampung, Malayu (Jambi), Sumatra Timur, Semenanjung Malaka, Muangthai Selatan.

    Prasasti Kota Kapur (Bangka) menyebutkan pada 686 tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Jawa, yang ditaklukkan adalah Jawa Barat, terbukti dari adanya prasasti berbahasa Melayu di Bogor.

    Prasasti Sriwijaya memang berbahasa Melayu, dan tak mungkin raja Jawa atau Sunda mengeluarkan prasasti dengan bahasa itu. Tapi mengapakah pengarang ragu menyimpulkan bahwa Jawa Tengah pun pernah dikuasai Sriwijaya?

    Di Jawa Tengah banyak prasasti berbahasa Melayu: Sojomerto, Gandasuli, Dieng, Bukateja, dan Candi Sewu. Prasasti Sojomerto yang ditemukan tahun 1963 menyebutkan bahwa Dapunta Selendra, pendiri Wangsa Sailendra. Gelar ini sama dengan gelar raja Sriwijaya, Dapunta Hyang.

    Prasasti Gandasuli menyebut pembesar Sailendra bergelar Sida, gelar yang tak dimiliki pembesar Jawa. Yang jelas, itu adalah gelar pembesar Sriwijaya seperti tercantum pada Prasasti Palembang.

    Dapunta Selendra berasal dari Sumatra Selatan, seharusnya lebih tegas adalah dari Sriwijaya. Tumbuhnya Wangsa Sailendra di Jawa Tengah abad ke-8 berkat penaklukan daerah ini oleh Sriwijaya. Tidak mustahil, Dapunta Sailendra adalah salah seorang keturunan Dapunta Hyang yang diberi daerah kekuasaan di Jawa Tengah.

    Prasasti Nalanda (860) menyebutkan bahwa Balaputradewa raja Suwarnadwipa adalah keturunan Sailendra dari Jawa. Dari Prasasti Siwagreha (856) diketahui bahwa Balaputra mengungsi dari Jawa lantaran kalah perang melawan Wangsa Sanjaya.

    Sangat mustahil seorang pengungsi dari Jawa diterima orang Sriwijaya menjadi raja jika tak ada hubungan famili! Para ahli sejarah seperti George Coedes, F.D.K. Bosch, Muhammad Yamin, Oliver W. Wolters, menduga ibu Balaputra adalah putri Sriwijaya.

    Tapi tak ada sumber sejarah mengatakan demikian. Kiranya alasan yang tepat adalah bahwa Wangsa Sailendra berasal dari Sriwijaya. Jadi Balaputradewa kembali ke daerah nenek moyangnya. Wajar jika ia memiliki hak atas takhta Sriwijaya.

    Kapan Kerajaan Sriwijaya runtuh? Kerajaan Sriwijaya runtuh pada abad ke-8 karena ditaklukkan Wangsa Sailendra. Lalu Balaputradewa mendirikan kerajaan baru pada abad ke-9 di Jambi bernama Swarnadwipa. Nama ini bersinonim dengan Swarnabhumi yang ditransliterasikan San-fo-tsi dalam kronik Cina.

    Teori ini bertentangan dengan sumber sejarah yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya masih ada pada abad ke-11. Prasasti di India yang dikenal dengan Piagam Leiden menyebutkan raja Sriwijaya tahun 1006 bernama Sri Marawijayatunggawarman, putra raja Sri Cudamaniwarman keluarga Sailendra. Sudah tentu raja ini keturunan Balaputradewa.

    Konsekuensinya, Swarnadwipa pada Prasasti Nalanda adalah Kerajaan Sriwijaya. Kedua nama raja Sriwijaya dalam Piagam Leiden cocok dengan nama-nama raja San-fo-tsi, Se-li-chu-la-wu-ni dan Se-li-ma-la-pi, dalam Kronik Sung-shih (Sejarah Dinasti Sung). Tahunnya pun cocok. Jadi San-fo-tsi yang diberitakan kronik Sung-shih adalah Kerajaan Sriwijaya.

    Piagam Leiden ternyata bertentangan dengan Berita Al-Mas`udi bahwa Sriwijaya merupakan negeri bawahan. Tetapi yang jelas, Abu Hasan Al-Mas`udi dalam catatannya Murujuz-Zahab wa Ma’adinul-Jawhar (943) tak pernah mengatakan demikian.

    Justru dari keterangan Al-Mas`udi dan musafir-musafir Arab lainnya kita mengetahui bahwa negeri paling utama di Asia Tenggara abad ke-10 adalah Sriwijaya.

    Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po (Tanah Jawa), dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya.

    Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Negeri-negeri Seberang Laut Selatan. Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi atau Catatan Negeri-negeri Asing pada tahun 1225.

    Dalam tulisannya Chau Ju Kua, menyebutkan bahwa San-fo-tsi bukanlah Kerajaan Sriwijaya-Palembang, melainkan Kerajaan Malayu-Jambi.

    Chu Fan Chi mengatakan Palembang sebagai negeri bawahan San-fo-tsi. Uraian Chu Fan Chi tentang pelabuhan San-fo-tsi sama dengan uraian I Tsing tentang Malayu dan cocok dengan penelitian geomorfologi tentang Jambi.

    Jadi ada dua kerajaan (Sriwijaya dan Malayu) yang disebut San-fo-tsi. Patut diingat, kronik Cina sering menyebut suatu negeri atau kerajaan dengan nama pulaunya. Sebelum abad ke-15 Pulau Sumatra bernama Swarnadwipa atau Swarnabhumi, artinya “Pulau Emas”.

    Kiranya identifikasi nama San-fo-tsi dengan Swarnabhumi adalah benar. Wajar jika berita tentang San-fo-tsi ada yang cocok untuk Sriwijaya-Palembang dan ada yang cocok untuk Malayu-Jambi.

    Kedua kerajaan ini sama-sama disebut San-fo-tsi karena memang terletak di Sumatra. Seperti halnya kerajaan-kerajaan di Jawa disebut She-po (transliterasi dari nama Jawa).

    Ada pun runtuhnya Sriwijaya bisa dilacak sebagai berikut. Setelah kerajaan itu lumpuh akibat serangan Cola pada 1025 menurut Prasasti Tanjore, negeri Malayu yang sejak abad ke-7 menjadi bawahannya bangkit kembali.

    Kronik Ling Wai Taita mencatat utusan Jambi ke Cina pada 1079, 1082, 1088. Sepanjang abad ke-12 kiranya Malayu merebut banyak daerah dari tangan Sriwijaya yang kian lemah.

    Pada 1183 kekuasaan Malayu telah sampai ke Semenanjung Malaka (Prasasti Grahi). Menurut Sung Shih, utusan terakhir Sriwijaya ke Cina datang pada 1178.

    Kronik Chu Fan Chi tahun 1225 mencatat Palembang sebagai bawahan Malayu. Boleh dipastikan, Kerajaan Sriwijaya runtuh akhir abad ke-12 atau sekitar tahun 1200 (antara 1178 dan 1225) karena ditaklukkan oleh Kerajaan Malayu.

    Ini merupakan antitesis terhadap teori yang menganggap Sriwijaya runtuh abad ke-8. Sekaligus antitesis terhadap pendapat umum ahli sejarah yang menganggap Sriwijaya runtuh abad ke-14.

    Jadi yang disebut San-fo-tsi abad ke-13 dan ke-14 adalah Kerajaan Malayu. Kitab Nāgarakṛtāgama pupuh XIII menyebutkan seluruh daerah di Sumatra sebagai “Bhumi Malayu”.

    Selama ini ahli sejarah menganggap San-fo-tsi sinonim dariShih-li-fo-shih (Sriwijaya). Akibatnya kebesaran Kerajaan Malayu tidak mendapat tempat dalam buku sejarah. Malayu yang jaya abad ke-13 disangka Sriwijaya.

    Kerajaan Sriwijaya sudah runtuh pada tahun 1200an (antara 1178 dan 1225) sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1216 Ç atau 1293 M.

    Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, seharusnya kerajaan manakah yang disebut berulang-kali sebagai Kerajaan Sriwijaya pada MMGK 39?

    Månggå Ki/Nyi Sanak, pårå sanak kadang sutrésnå padépokan GS, tentunya sudah dapat menyimpulkan sendiri.

    Uraian selanjutnya adalah tentang: Ekspedisi Pamalayu dan Penyerbuan ke Bedulu, yang juga harus dikembalikan kepada “jalan sejarah yang benar”.

    Mohon maaf. Bagaimanapun juga apa yang saya paparkan di atas dan yang akan menyusul kemudian, masih terbuka untuk diperdebatkan.

    Sejarah masih dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terjadi, dan memerlukan penelitian secara aksiologis, dengan lintas disiplin ilmu yang komprehensif untuk menguak kebenarannya. Sebagaimana telah berulang kali saya sampaikan bahwa kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Hadir ehhh

    • Terimakasih atas paparan telaah cerita mmgk dengan dokumen ke-sejarahan.

    • kalau bisa, rontal rujukannya dibagi-bagi Ki, dalam bentuk djvu juga boleh🙂

    • Sejarah singkat Adityawarman

      Adityawarman merupakan salah seorang putra Majapahit keturunan Melayu yaitu putra dari Raden Wijaya dan Dara Jingga (asli Melayu). Sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjadi menteri di Majapahit. Setelah menjadi raja Melayu, dia berhasil mengembangkan kekuasaannya dengan menguasai daerah Pagaruyung (Minangkabau). Adityawarman merupakan penganut agama Budha Tantrayana dan menganggap dirinya sebagai jelmaan dari Lokeswara. Pemerintahan Adityawarman berakhir pada tahun 1375 M, dan setelah meninggal dunia diwujudkan dalam patung Bhairawa.

  4. Absen ….

  5. Bengak-bengok maning……..?

    CINTA MERAH JAMBU

    Cintaku hanya kamu
    Cinta merah merah jambu
    Rinduku hanya kamu
    Rindu hangat hangat kuku
    Lihat pohon pisang
    Bila berbuah hanya sekali
    Itulah cintaku
    Yang takkan mungkin terbagi bagi
    Cukup kamu saja
    Kamu saja yang dihati
    Aku cukup setia
    Tetap setia sampai mati
    Cintaku hanya kamu
    Cinta merah merah jambu
    Rinduku hanya kamu
    Rindu hangat hangat kuku
    ……………………………………..
    Aku berdandan hanya untuk kamu
    Aku bersolek hanya untuk kamu
    Untuk kamu………
    Dari rambutku sampai ujung kaki
    Semua itu hanyalah milikmu
    Oh milikmu.
    Kulit dan jantung milikmu
    Lahir dan batin cintaku
    Padamu…
    Cintaku hanya kamu
    Cinta merah merah jambu
    Rinduku hanya kamu
    Rindu hangat hangat kuku
    Lihat pohon pisang
    Bila berbuah hanya sekali
    Itulah cintaku
    Yang takkan mungkin terbagi bagi
    Cukup kamu saja
    Kamu saja yang dihati
    Aku cukup setia
    Tetap setia sampai mati
    Cintaku hanya kamu
    Cinta merah merah jambu
    Rinduku hanya kamu
    Rindu hangat hangat kuku

  6. Wah Ki Suro lagi puber. Yang keberapa Ki.

  7. Selamat Pagi semua ,
    Selamat pagi INDONESIAKU

  8. Matur nuwun Ki Bayuaji, pencerahannya.
    Tapinya makin cerah atau malah makin bingung ya, karena pengarang cerita kadang-kadang memang hanya imajinasi tidak berdasarkan fakta sejarah.
    Sementara ngendikane Ki Bayu kebenaran sejarah bersifat hipotetik. Repotnya peninggalan sejarah kita memang sangat terbatas.
    Rak ngaten to Ki Bayu.

    • Mengkritik itu mudah, karena melihat kesalahan orang lain itu gampang. Namun kritik yang didasari oleh mencari-cari kesalahan orang lain tak mungkin dapat mempermudah keadaan. Seseorang tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga kita untuk menilai apakah orang lain telah berbuat salah atau benar. Karena itu sangat mudah !

      Yang sulit adalah melihat kesalahan dan kemampuan yang ada pada diri kita sendiri. Mampukah kita berbuat atau bisakah kita mencipta, mengarang, menghasilkan karya sebagaimana seseorang yang kita kritik?. Waspadailah bila kita begitu pandai mengkritik. Jangan-jangan kita tak mampu lagi melihat kebenaran. Coba kita lihat, perhatikan dan teliti lebih lanjut dalam kita membaca, melihat buah karya seseorang, berapa persen kebenaran dan berapa persen kesalahan hasil cipta karya seseorang sehingga kita sangat menggebu-gebu dalam memberikan kritik terhadap hasil karya orang yang kita kritik.

      Pernahkah kita berfikir, pernahkah mencoba melihat pada diri sendiri, bahwa bisakah, dapatkah berbuat, mencipta, menghasilkan karya sebagaimana buah karya yang dikritik, minimal menyamai atau lebih hebat melebihi….hhmmm, kesalahan orang sekecil debupun mudah kita cari tetapi tidak kemampuan diri sendiri sebesar gajah tidak pernah terlihat…ternampak….kritik memang mudah. Dan sebuta-butanya orang ialah mereka yang tak bisa menangkap cahaya kebenaran walau kebenaran itu hanya sebutir debu.

      Sekali kita gembira bisa menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, kita tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil. Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar kita telah menciptakan gunung kesalahan orang. Orang tak pernah suka berkaca pada cermin yang memantulkan kekurangan wajahnya. Maka dari itu janganlah kita menjadi bayangan atas kesalahan orang lain. Bantulah mereka menemukan sisi positif diri mereka. Di saat itu pula orang lain akan memantulkan sisi baik kita sendiri.

      Apapun karya S.Djatilaksana yang ditayangkan pada blog gagakseta, harus kita apresiasi sebagai karya langka dan diucapkan terima kasih telah menghasilkan cipta karya cerita tersebut…yang saat ini sulit dicari keberadaannya di toko-toko buku di nusantara. Dan kita selaku pembaca harus berterima kasih kepada pengelola blog gagakseta yang telah menayangkan cerita tersebut. Yang diyakini pasti sulit memperoleh buku tersebut, apalagi dengan segala sarana dan prasarananya dan membutuhkan materi, waktu, kemauan, hingga cerita tersebut bias sampai pada sidang pembaca di blog gagakseta ini.

      Harapan kami pencinta cerita silat Indonesia, kiranya pengelola blog gagakseta tetap terus bersedia menayangkan cerita-cerita hasil karya cipta anak bangsa, siapapun pengarangnya…Jangan mogok ya Ki Is….

      Apabila tulisan saya tidak berkenan pada Ki Sanak, saya sudah siap dengan caci maki sekalipun, saya menyadari sebagai pendatang baru yang cetek kawruhnya mungkin kurang berkenan bagi ki sanak semua, lain halnya dengan senior yang kawruhnya sudah mumpuni sehingga komentarnya selalu di amini.

      Saya adalah penggembira yang selalu ngunduh tapi tidak pernah komentar, nuwun sewu, nyuwun ngapunten Ki Sanak. Nuwun…..

  9. Nggak terasa wedaran hampir nyampe buku ke 40.
    Wah makin ketinggalan saja ni bacanya.

  10. sugeng enjing poro kadang sedoyo

  11. Sikucil sehabis liburan ditempat kakek bercerita dengan orang tuanya pamer tentang kehebatan kakek & neneknya…..!
    dengan tanda tanya pengin tahu ortunya tanya
    Ortu ” coba ceritakan apa sih hebatnya kakekmu?
    Kucil “mereka hebat lho YAH bisa ..ngemut lampu mgisap sarung ”
    ortu ” aku ngak percaya cil..mana bisa?
    Kucil ” betul yah!.. sewaktu liburan aku tidur sama mereka dan malamnya aku dengar kakek bilang..Nek matikan lampu aku emut…ngak lama kemudian nenek ngomong ..kek buka sarungnya aku isap.
    Ortu”????????

  12. Katur Ki Honggopati.
    [On 22/05/2011 at 07:59 Honggopati said:]

    Matur nuwun Ki, bahwa pengarang mempunyai kebebasan berimajinasi untuk ‘menciptakan’ lakon-lakonnya adalah benar, karena merupakan hak seorang pengarang, tetapi kebebasan yang dia miliki tidaklah berarti kemudian dia dengan bebas pula menyimpang dari fakta sejarah yang telah diyakini kebenarannya, meskipun kebenaran tersebut bersifat hipotetik.

    Seperti apa yang telah saya paparkan, bahwa telah diyakini Kerajaan Sriwijaya sudah runtuh pada tahun 1200an (antara 1178 dan 1225) sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1216 Ç atau 1293 M. (seperti yang telah saya tulis di atas), maka dengan demikian, pada masa pemerintahan Jayanegara (1309 sd 1328); kerajaan Sriwijaya yang diceritakan di MMGK 39 seharusnya sudah tidak ada. Dengan perkataan lain kerajaan yang dimaksud pasti bukan kerajaan Sriwijaya.

    Demikianlah Ki.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • hadu…..
      aku gak reti…
      belum baca sama sekali rontal mmgk-nya
      tidak bisa mengikuti diskusi dan wejangan Ki Bayu
      he he he ….

      • Apa maneh aku nakmas satpam..
        Ngunduh lg nganti rontal ke-10, diwaca sak baris ae durung. Maca komen yo jarang2..
        Sing penting dinikmati bae ..hehehehehe

    • Pada abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran yang luar biasa. Kerajaan besar di sebelah utara, seperti Siam. Kerajaan Siam yang juga memiliki kepentingan dalam perdagangan memperluas wilayah kekuasaannya ke wilayah selatan. Kerajaan Siam berhasil menguasai daerah semanjung Malaka, termasuk Tanah Genting Kra. Akibat dari perluasan Kerajaan Siam tersebut, kegiatan pelayaran perdagangan Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, pada abad ke-13 Kerajaan Sriwijaya di hancurkan oleh Kerajaan Majapahit.
      Pertanyaannya :
      Kerajaan Sriwijaya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Siapakah ?

      Kerajaan Sriwijaya mengalami puncak kejayaan pada tahun 850 M. Masa kejayaan berlangsung selama pemerintahan Raja Balaputradewa, di mana rakyat hidup tenteram dan makmur. Namun, Kejayaan Sriwijaya mulai surut pada abad ke-11 karena faktor-faktor berikut ini :

      a. Setelah Balaputradewa wafat, tidak ada lagi raja yang cakap memerintah.
      b. Letak Palembang yang jauh dari laut membuat kapal-kapal tidak mau singgah dan mencari tempat lain untuk berlabuh.
      c. Banyak wilayah bawahan yang melepaskan diri, misalnya Jawa Tengah dan Melayu.
      d. Serangan dari kerajaan lain, seperti dari Kerajaan Colamandala, India Selatan (1017 M); ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singasari (1275 M), dan serangan Majapahit (1377 M).
      Nah, setelah berdirinya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 1377 M tenggelam dan tidak berkuasa lagi. Hal ini berarti berakhir pula riwayat kerajaan bercorak Buddha tertua di Indonesia ini.

      • sumber ; Sejarah Indonesia – Blog Mahasiswa Universitas Brawijaya

    • Ki Bayuaji! bukan banuaji ya ki!??
      Saya pernah membaca kisah cerita!

      Konon diceritakan P.Jayanegara dibunuh oleh sahabat Patih Gajah mada, gara2 P.jayanegara nglanggar pagar ayu terhadap istri/garwa patih Gajahmada.Namun Sahabat itu akhirnya di bunuh sendiri oleh Patih Gajahmada, yang gak terima Rajanya dibunuh.

      Kesimpulannya, (gak tau benar atau tidak)apakah mungkin pada masa pemrintahan Prabu Jayanegara,Gajahmada sudah menjabat menjadi Mahapatih di Majapahit!

      Cuma penasaran ki…!

      • Katur Ki SAS.

        Kulå punåkawannya Ki Bayuaji, sedang Ki Bayuaji, beliau semalam berangkat ke Tanah Suci melaksanakan ibadah umroh.

        Adapun dengan Ki Banuaji sama Ki, kami sama-sama saudara; saudara seumat manusia.

        Salam kenal dari kami Ki.

        Tentang kisah pembunuhan Jayanegara, akan saya dongengkan. Mungkin bersama-sama dengan Dongeng Arkeologi & Antropologi Runtuhnya Sriwijaya, dan Ekspedisi Pamalayu. Insya Allah Ki.

        Nuwun

        punåkawan

  13. Sugeng dalu Ki Sanak,

    kula cantrik enggal….mendaftarkan diri

    • sugeng DALU Ki/Nyi/Ni….Ningtyas,

      sugeng rawuh ning Padepokan GSeta, monggo2
      pinarak…lha pak SATPAM ning endhi iki !!??

  14. Jangan Takut Kritik!

    “Pohon yang paling tinggi, akan mendapat tiupan angin yang paling kencang..”

    Andai saja Wright bersaudara memperdulikan komentar orang lain saat mereka bermimpi untuk membuat burung besi yang bisa terbang: “Bah.. macam mana kalian ini rait? Mana bisa besi dibuat terbang? Macam2 saja kalian ini..”. Atau coba bayangkan kalau saja Mahatma Gandhi mendengarkan pendapat beberapa temannya saat berjuang secara damai melawan Inggris: “Wes toh ndiii.. ora ngimpi seng aneh2.. wong londo iku mesti dilawan karo senjata..”

    Mungkin, (karena ini spekulasi sejarah yang tidak jelas juntrungannya) kita semua masih harus naik kapal berbulan2 saat kita ingin naik haji. Dan mungkin, India belum merdeka sampai sekarang, atau perjuangan kemerdekaan mereka akan mengorbankan banyak pejuang2 terbaik mereka..

    Kita hidup di masyarakat, yang semuanya (berdasarkan UUD 45 dan Piagam PBB dan blog dunia maya) memiliki kebebasan mengemukakan pendapat.. Sayangnya, lebih sering kritik2 yang masuk ke telinga kita, masuk ke hati kita.. Semua yang kita gunakan, semua hal yang kita lakukan, akan membuat orang lain gatal untuk berkomentar.. “HPmu koq gak ganti2?”, “Masa orang sukses naik motor?”, “Alaaah, ga usah sok rajin!”, “Wah sok sibuk banget ya!”, “Gak usah aneh2, ngapain bisnis yang begituan..”, dan seterusnya, dan seterusnya.. Teman saya mengutarakan dengan bahasa yang lebih lugas: “Mau cari para pakar? Mudah.. Utarakan aja ide2 kamu, maka di sekeliling kamu mendadak muncul selusin pakar yang akan mengatakan bahwa ide itu tidak mungkin, tidak masuk akal, belum saatnya, ga ada dalilnya, atau kasih komen yang mengangkat sekaligus menjatuhkan: yah, idemu bagus juga..tapi apa loe mampu?”

    Kita jadi hidup berdasarkan standar2 yang ditentukan oleh sekeliling kita, walau itu mungkin bertentangan hati nurani kita.. Kita jadi minder menggunakan baju yang sama ke pesta yang berbeda (seolah2 ada tim juri bersembunyi di meja tamu, yang menghitung sudah berapa kali baju itu kita gunakan), kita malu kalo HP kita kalah keren ama teman kita, kita tidak akan cerita kalau kita sudah memulai bisnis kecil2an, kita (demi Tuhan) tidak akan berani menceritakan cita2 kita, impian kita.. Kenapa? Kita takut. Kita takut orang akan menertawakannya, orang akan menganggap kita gila, dan oalaaaah, apa kata dunia kalau ternyata kita gagal mewujudkannya?

    Saya dulu sering terombang ambing oleh komentar2 seperti itu.. Saya takut ditertawakan, dianggap aneh, atau dicibir, karena melakukan sesuatu yang nyaman untuk saya, yang menurut saya benar.. Hasilnya? Tepat sekali. Saya jadi tidak berani melakukan apa2, atau lebih buruk lagi, saya melakukan apa yang menurut orang lain benar, bukan apa yang menurut hati nurani saya benar..Saya sungguh takut menghadapi kritik..

    Saya punya teman (atau guru), yang sungguh luar biasa.. Hidupnya sangat mapan, bahagia.. Tapi satu hal yang paling saya kagumi: dia tidak pernah memperdulikan komentar orang lain, selama ia tahu apa yang ia lakukan benar.. Saat dia memulai bisnisnya, banyak sekali orang yang mencemooh dan menghinanya habis2an: “bisnis kayak gitu, ga mungkin berhasillll..”. Dan hinaan2 itu justru muncul dari orang2 terdekatnya.. Tetapi ia membuktikan, ia berhasil.. Sekarang, di saat ia mapan, dia tetap sederhana.. Dia dengan santai naik motor ke mana2, walau sudah sangat sanggup membeli 1 mobil, cash, per bulan.. Beliau tidak sungkan2 makan di angkringan, walau sanggup makan di hotel mewah setiap hari.. Beliau tidak pernah menghiraukan kata2 orang: “koq orang kaya hidupnya begitu2 aja ya?” Ia menikmati hidupnya, dengan standar yang sesuai dengan kata hatinya..

    Dan dialah yang menyadarkan saya, membuka mata saya. “Mas, jika menerima masukan, lihat siapa yang berbicara.. Kalau kita meminta nasihat kepada orang yang salah, maka sungguh malang nasib kamu.. Kamu tidak akan mendapat masukan yang baik dari orang yang gagal melakukan hal itu.. Kalau bertanya, bertanyalah pada orang yang berhasil..”

    Contohnya? Mudah.. Pada saat kita hidup dalam kategori kekurangan (pra sejahtera menurut BPS, fakir miskin menurut agama, kere menurut bahasa pasaran) dan belum punya rumah, coba deh kita minta advis dengan semangat 45 kepada teman kita yang seumur hidup jadi kontraktor (ngontrak rumah melulu), “Bro.. aku pengen punya rumah sendiri, yang ada kolam renangnya..Ya sekalian garasi dan isinya lah..Gimana caranya ya?” Dijamin, jawaban yang muncul membuat semangat kita langsung rontok seperti ketombe kena garuk: “Edan kamu ya! Lha rumah aja masih ngontrak, sok mau beli rumah yang ada kolam renangnya.. eling to leeeeee..nyebuuutttt.. nyebutttttt….”

    Tapi coba, pertanyaannya yang sama diajukan ke orang yang memang punya rumah lengkap dengan kolam renang, dengan garasi dan isinya, yang dulunya sama kekurangannya seperti kita.. Jawaban yang muncul kemungkinan besar akan berbeda.. Dia akan menatap mata kita dalam2, mengukur keseriusan kata2 kita, menilai tekad kita, dan akan berkata: “Bisa mas.. Saya juga dulu juga sama seperti jenengan.. Nah, begini caranya..” Tapi kalau kelihatan kita cuma main2, dijamin dia akan mengcopy paste jawaban sang kontraktor di atas..

    Kadang2 kita, sebagai manusia biasa, memang suka menghambat orang lain, agar tidak berhasil melakukan, apa yang juga tidak berhasil kita lakukan.. Mungkin karena kita sayang kepada orang itu: kita takut orang itu akan kecewa jika gagal, atau mungkin, kita yang kadang2 menyimpan rasa iri di dalam hati kita: kalau aku ga berhasil, masa si brengsek itu bisa?

    Jadi? Kita ingin menjadi apa? Menjadi karyawan yang sukses di karir? Mintalah masukan dari karyawan yang memang sukses di karir.. Jika kita meminta masukan dari karyawan yang bertahun2 karirnya di situ2 aja, kita lah yang mencari penyakit sendiri.. Ingin sukses berbisnis? Cari masukan dari orang yang juga sukses berbisnis.. Jika kita bertanya pada orang yang gagal berbisnis, atau karyawan yang tidak pernah berbisnis, maka itu seperti kita bertanya cara mempunyai anak kepada seorang kasim..

    Yah, mungkin kita lebih baik berhenti mencemaskan komentar orang lain, karena, hal apapun yang kita lakukan, sebaik apapun, pasti mengundang kritik entah dari siapa.. Dan lebih baik lagi, kita sebaiknya juga berhenti berusaha menghambat orang lain mengejar cita2nya, hanya karena kita tidak berani mengejarnya..

    “Satu2nya cara menghindari kritik: jangan lakukan apa2, jangan katakan apa2, jangan menjadi siapa2..” (dianjatikusuma)

    • memang paling mudah menjadi orang lain, paling susah jika menjadi diri sendiri.

  15. Sejarah singkat Adityawarman

    Adityawarman merupakan salah seorang putra Majapahit keturunan Melayu yaitu putra dari Raden Wijaya dan Dara Jingga (asli Melayu). Sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjadi menteri di Majapahit. Setelah menjadi raja Melayu, dia berhasil mengembangkan kekuasaannya dengan menguasai daerah Pagaruyung (Minangkabau). Adityawarman merupakan penganut agama Budha Tantrayana dan menganggap dirinya sebagai jelmaan dari Lokeswara. Pemerintahan Adityawarman berakhir pada tahun 1375 M, dan setelah meninggal dunia diwujudkan dalam patung Bhairawa.

  16. Sugeng dalu,
    Alhamdulillah bisa sambang lagi setelah kecapen satu hari dolan sama cucu.
    Dan ternyata gandok makin rame.
    Kagem Ki Bayuaji, nuwun sewu Ki la wong kulo njih dereng maos mmgk 39, nomer 10 kemawon dereng kok Ki.

    Matur nuwun pencerahanipun. Kaleresan Ki, Pengarang cerita sejarah kedahipun mboten nilaraken fakta sejarah. Jalaran kulo kuwatos mangke menawi buku kolo wau dipun waos lare sakpuniko, ingkang rata-rata Sejarahipun lemah.

    Sami kaliyan ADBM, Agng sedayu pun critakaken langkung timur tinimbang Sutawijaya, Nanging ngantos Sultan Agung putunipun Sutawijaya, AS taksih pun critakaken enem. Untungipun mboten wonten tokoh Sejarah ingkang nami Agung Sedayu nggih Ki.Sepindah malih nuwun sewu Ki Matur nuwun.
    Sugeng Dalu.

    • Nuwun
      Sugêng dalu

      Katur Ki Honggopati ingkang dahat kinurmatan,

      Matur sangêt kêsuwun Ki,
      Pamanggih kulå, nyuwun sèwu mênawi lêpat, bilih tukar kawruh punikå sagêd nglanggêngakên sêsrawungan såhå tali-sih silaturahmi ingkang langkung rakêt; sinaoså namung ing madyaning “alam dunia maya“.

      Mugi kasarasan, karahayon, rahmat, bêrkah dalah ridhå Gusti Allah SWT tansah lumintu mbanyu-mili dumatêng Ki Honggopati sakulåwargå dalah sâdåyå putrå-putri dalah kêng wayah.
      (Kêng wayah/putu sampun sagêd punåpå Ki?).

      Alhamdulillah taksih dipun paringi wêkdal déning Panjênêngan Gusti Allah Ingkang Måhå Kuwaos sagêd momong putu.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

      • sugeng DALU, donggeng2 keng ki BAYUAJI
        tetep cantrik tunggu TUTUGane.

  17. Selamat malam Cantrik/Mentrik Ningtyas.
    Yen nitik asmane koyo Mnetrik.
    Sugeng kenalan.
    Matur nuwun sudah mau mengisi daftar hadir, dan meramaikan gandok.

  18. Sugeng dalu,

    He he he…lama nian baru bukak gandhok.
    Mohon maaf, kemungkinan mengecewakan Ki Sanak semua…nantinya wedaran rontal 41 dan seterusnya terlambat, dikarenakan masih berada di daerah terpencil wilayah kabupaten tanjung balai karimun. Artinya belum sempat kirim rontal ke P.Satpam, karena belum pulang ke gubuk untuk scane cover dan rontal, mohon dimaklumi. nuwun.

    • Kidung Rumekso ing wengi

      Ana kidung rumekso ing wengi
      Teguh hayu luputa ing lara
      luputa bilahi kabeh
      jim setan datan purun
      paneluhan tan ana wani
      niwah panggawe ala
      gunaning wong luput
      geni atemahan tirta
      maling adoh tan ana ngarah ing mami
      guna duduk pan sirno

      Sakehing lara pan samya bali
      Sakeh ngama pan sami mirunda
      Welas asih pandulune
      Sakehing braja luput
      Kadi kapuk tibaning wesi
      Sakehing wisa tawa
      Sato galak tutut
      Kayu aeng lemah sangar
      Songing landhak guwaning
      Wong lemah miring
      Myang pakiponing merak

      Pagupakaning warak sakalir
      Nadyan arca myang segara asat
      Temahan rahayu kabeh
      Apan sarira ayu
      Ingideran kang widadari
      Rineksa malaekat
      Lan sagung pra rasul
      Pinayungan ing Hyang Suksma
      Ati Adam utekku baginda Esis
      Pangucapku ya Musa

      Napasku nabi Ngisa linuwih
      Nabi Yakup pamiryarsaningwang
      Dawud suwaraku mangke
      Nabi brahim nyawaku
      Nabi Sleman kasekten mami
      Nabi Yusuf rupeng wang
      Edris ing rambutku
      Baginda Ngali kuliting wang
      Abubakar getih daging Ngumar singgih
      Balung baginda ngusman

      Sumsumingsun Patimah linuwih
      Siti aminah bayuning angga
      Ayup ing ususku mangke
      Nabi Nuh ing jejantung
      Nabi Yunus ing otot mami
      Netraku ya Muhamad
      Pamuluku Rasul
      Pinayungan Adam Kawa
      Sampun pepak sakathahe para nabi
      Dadya sarira tunggal

      • sugeng dalu ki ISMOYO,

        kadang telat wedaran seTITIK malah bikin suasana padepokan tambah rame kok ki…!!

        paling2 sing mrenGUT ki Ra Widu kaliyan
        ki Menggung Anatram….he-he3x, lha piye
        rontal teko langsung sruput (bablas-blas)

        monggo2…..ki ISMOYO selesaikan rumiyin tugas2 CANGKUlan, kami tetep SABAR nunggu ki ISMOYO kembali ning padepokan.

        semoga lancar, SUKses ki…amin-amin-amin

      • niki dandang gulone pandan alas njih….pas rerencangan kaliyan Sunan Kalijogo

  19. hadu tiwas kesel nulis komen, lha waktu tak
    penyet kok yo ra gelem mlebu…mendal-mbalik

    • selamat MALAM kadang GSeta,

      dino iki pak SATPAM mesam-mesem…soto ning
      hal.2 laku puooolll-laris, sampe lali malam
      ini wektu wedar rontal keng Panembahan…🙂

      monggo pak SATPAM, cantrik wes SIAP sawatan
      rontal mmgk-40.

  20. 33. Rame banget, Ki Panembahan Bayu kelihatannya punya mentrik baru…….selamat Ki. Ki PA mboten pareng meri lho…

    • 34….HADIR ning mburine ki BP,

  21. Nuwun
    Sugêng dalu

    Aywå pêgat ngudiå ronging budyayu,
    margané sukå basuki,
    dimén luwar kang kinayun,
    kalis ing panggawé sisip,
    ingkang tabéri prihatin
    .

    [Åjå lèrén-lèrén anggoné golèk laku kang budiayu (bêcik),
    dalané sênêng lan slamêt,
    supåyå biså kêlakon sing digayuh.
    Kalis såkå tindak sing ora bênêr.
    Sing srêgêp prihatin]

    Alhamdulillah, malam hari ini, Insya Allah Ki Bayuaji beserta kêng garwå Sang Ardhanareswari, mengawal sepuluh santri berprestasi, umroh ke Tanah Suci, selama kurang lebih 15 hari, sekali gus studi banding (éthok-éthoké ikutan seperti anggota dewan yang terhormat) ke Al Azhar Kairo (pake duwit sendiri dijamin halal dan toyib).

    Ki Bayuaji mohon doa restu sanak kadang, sejak berangkat, selama di Tanah Suci dan Kairo, dan kembali ke Tanah Air, senantiasa dalam naungan ridha Allah SWT. Aamin.

    Beberapa dongeng arkeologi & antropologi sedang disiapkan. Insya Allah siap wêdar.

    Ki Bayuaji memberikan ular-ular singkat tentang membaca, tapi yang diular-ularkan itu tentang “Cara Keledai Membaca”.

    Begini ular-ularnya:

    CARA KELEDAI MEMBACA
    Anekdot Sufi, Nasrudin Hoja.

    Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati.

    Tetapi Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

    Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

    Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin.

    Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

    Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?”

    Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan segumpal rerumputan di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan rerumputan itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

    Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah dia hanya membalik-balik halaman buku, dan dia tidak mengerti apa yang ada dalam buku itu. Bukankah keledai itu masih tetap dungu ?”

    Nasrudin menjawab,”Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita sedungu keledai, bukan?

    Nuwun. Sugêng dalu pårå sanak kadang:

    punåkawan

    • he he he ….
      berarti di sini tidak ada yang membaca gaya keledai ya.
      komen berbalas komen, berarti sudah dipahami isinya.

      natur suwun Ki Bayu & Ki Puna

      Selamat jalan Ki, semoga perjalanannya lancar sesuai dengan yang diharapkan Ki Bayu dan rombongan.
      Mudah-mudahan, diantara doa beliau, disisipkan doa bagi sanak kadang Gagakseta khususnya, dan grup ADBM (ADBM dan PdLS)pada umumnya.
      Tidak lupa…., oleh-olehnya. he he he …

      • Katur Ki Panji.

        Alhamdulillah Ki Panji, semua harapan dari sanak kadang GS, ADBM dan PdLS, punåkawan sampaikan kepada Ki Bayuaji.

        Insya Allah beliau doakan, tidak hanya bagi sanak kadang sutrésnaning padépokan GS, ADBM dan PdLS saja, melainkan juga untuk siapa saja, pårå kawulå Nuswantårå, yang senantiasa merindukan suatu negara yang baldatun thoyibatun warafun ghofur

        Nâgari ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, tåtå têntrêm kârtå raharjå, tansah pikanthuk kanugrahan Pangéran Gusti Kang Ingkang Måhå Mângku Lêlakon.

        Nuwun

        punåkawan bayuaji

        • ki PUNA kleru belom ganti
          seragam….mangke keCEGAT
          pak SATPAM ki,

          sugeng dalu

          • Hiks….
            Pak Satpamnya (Ki Panji) baik hati kok.

            Sugêng dalu Ki

          • Wach selamat menunaikan ibadah umrah dan ahlan wa sahlan fi ard el kinana misr…

      • Sssst, ning kene mBACAnya pake gaya
        si BEo pak SATPAM…Ra percoyo coba

        takok-KE ki Ra Widu,

        cantrik ber-DOA, semoga perjalanan
        ki BAYUAJI, Nyi BAYU beserta SANTRI
        lancar selama di Tanah Suci & Kairo

        amin…amin…amin

  22. suwe ora nymabang..namung ngunduh tok…!
    jajal ronda sopo reti oleh wangsit…!

    • lho….,
      suwe ora nyambang?
      berarti pernah ke gagakseta dunk
      kok pak satpam belum kenal ya
      he he he ….., monggo

      sek..sek..sek..
      sepertinya di ADBM SAS = Sabung Ayam Sari
      lha ini kok avatarna cewe?

      embuhlah……

      • ki SAS nek tengah wengi avatare cewe (Sri Ayu Sukmowati)
        nek komen awan avatare cowo (Sabung Ayam Sabung)

        • mateg aji panglimunan ki…!iseh konangan ae…!
          ki satpam ..niku avatare nyai kulo…nyai Raras!
          mesti koyo ngono uayune…bayanganku!

          • YM-e opo ki ?

          • Ki PA, kula injih kangen, sampun dangu mboten YM-an. Sibuk Ki?

      • Salam kenal mawon ki Satpam!
        Lapor pak Satpam!di Adbm kerjaane namung nyabung ayam (wedhi digruduk Satpam…Mgumpettt)

        Nuwun sewu sering langsung ngunduh rontal ora kulonuwun dhisek…!pareng!

        • sami ki ..
          kulo nggih namung kulonuwun mboten ngundhuh
          ning yen ngunduh mboten kulonuwun

        • kI sAs kok tambah ayu,lan merak ati wae ….

          • xi..xi….!penggemar berat nyi raras ki…eh LYF ding!

  23. Nuwun
    Sugêng siyang

    Katur Ki SAS.
    [On 23/05/2011 at 09:57 ki SAS said:]

    Kulå punåkawannya Ki Bayuaji, sedang Ki Bayuaji, beliau semalam berangkat ke Tanah Suci melaksanakan ibadah umroh.

    Adapun dengan Ki Banuaji sama Ki, kami sama-sama saudara; saudara seumat manusia.
    Salam kenal dari kami Ki.

    Tentang kisah pembunuhan Jayanegara, akan saya dongengkan.

    Mungkin bersama-sama dengan Dongeng Arkeologi & Antropologi: Runtuhnya Sriwijaya, Ekspedisi Pamalayu, dan Penyerbuan ke Bedulu Bali. Insya Allah Ki.

    Nuwun

    punåkawan

  24. Katur Ki alGhors:
    [On 23/05/2011 at 02:28 alGhors said:]

    Katur Ki Yudha Pramana:
    [On 22/05/2011 at 22:35 yudha pramana said:]

    dalah Sanak kadang GS, PdLS dan AdBM,

    Salam dari Ki Bayuaji, beliau baru saja mendarat di Jeddah, setelah penerbangan kurang lebih 10 jam: Syukron jazakumullah khairan kathira, atas segala perhatian dan doanya.

    Nuwun

    punåkawan

    • SUGENG UMROH KI

      • Ndhereaken Sugeng Umroh…!
        Mugi amalipun dipun ridloi marang Gusti!

        Tak lupa menunggu ulasan dongen ulasan pembunuhan Prabu Jayanegara…!he..he

  25. SUGENG UMROH KI

    • Matur nuwun Ki Bancak. Sugêng siyang

  26. Siji,loro,telu,papat mlaku papat papat
    Diulang ulung-ake karep-e enggal rampung-e
    Holopis kuntul baris
    Holopis kuntul baris

  27. Segeng Sonten Para Sanak kadang…
    Nderek absen…..

    Kagem Ki Bayu Aji..
    Sugeng nindakaken umroh, mugi kasil engkang dipun gayuh kaliyan kalis ing sambikala…Amin..

  28. Assalamu’alaikum wrwb.
    Sugeng sonten poro kadang Gagakseto ingkang kulo tresnani.
    Matur nuwun Ki Ismoyo MMGK-40 sampun kulo bungkus, lan sugeng ngayahi jejibahan, mugi rahayu ingkang tansah pinanggih.
    Sugeng tindak umroh Ki Bayuaji, mugi tansah pikantuk nugrahaning Gusti Allah Ingkang Murbeng Gesang.
    Sugeng rawuh Nyi Ningtyas, mugio rawuhipun panjenengan ndadosaken regeng pasederekan wonten ing Padhepokan Gagakseto mriki.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  29. sugeng dalu poro kadang

    • poro dalu kadang sugeng

      • sekedar nunggu BUKA-an gandok…bukan
        berNIAT ogrok-ogrok wedaran,

        malam pak SATPAM GS, selamat berTUGAS

  30. Sugeng dalu Ki Satpam.

  31. Sugeng dalu Ki Satpam.

  32. Selamat malam para kadang padepokan, dan selamat jalan saudaraku Ki Bayuaji. Mudah-mudahan perjalanan haji kecil ini mendapat kemudahan dan barokah yang berlimpah dari Allah SWT. Amin

  33. sunyi….
    sepi….
    sendiri….

    ronda dewekan rek…..
    bobo ah….

  34. Nuwun

    Awignam astu namas sidam
    [Mugi linupútnå ing rêridhu]

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI:

    KERAJAAN SRIWIJAYA, EKSPEDISI PAMALAYU, dan PENYERBUAN KE BEDAHULU BALI [Bagian I]

    Pårå wasi, pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, pårå jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå dhayang, pårå mentrik, pårå kadang cantrik, pårå kaki bêbahu padépokan.

    Pårå sanak kadang sutrêsnå padépokan “GS” ingkang dahat kinurmatan, såhå pårå murid kang nêmbé ngangsu kawruh kautaman gêsang dumateng pårå mursyid.
    Mugi Panjênêngan sâdåyå tansah pinaringan agênging sih karahayon, rahmat såhå bêrkah ridhå Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Asih, Gusti Ingkang Kagungan Sih Katrêsnan Tanpå Wilangan. Gusti Ingkang Måhå Kagungan Kaagungan såhå Ingkang Måhå Kagungan Kamulyan.

    Seringkali Ki Bayuaji (beliau lebih suka menamakan dirinya sebagai cantrik), menyampaikan hampir pada setiap makalahnya di gandhok GS ini atau di gandhok PdLS, atau di tempat-tempat lain, bahwa kebenaran fakta sejarah tidak dapat dikatakan mutlak benar, sepanjang kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terus terjadi, dan memerlukan penelitian secara aksiologis, dengan lintas disiplin ilmu yang komprehensif untuk menguak kebenarannya. Dan beulang kali beliau berujar bahwa kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

    Dengan perkataan lain, bahwa selama belum ditemukannya teman-temuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang lebih mutakhr, dan sebelum diteliti atau jika temuan tersebut dilakukan penelitian atau kajian yang komprehensif, dan mengarah pada suatu kesimpulan bahwa data sejarah yang baru justru menunjang temuan-temuan arkeologis yang sudah ada, maka sampai di situ sejarah benar.

    Sepanjang pengetahuan Punakawan, tidak pernah Ki Bayuaji menyatakan bahwa pendapatnya adalah 100 % benar, dan harus selalu diamini.

    Pembacaan terhadap buku novel sejarah (dalam contoh ini adalah MMGK), atau apapun namanya, bila ternyata ditemukan adanya tulisan/ucapan yang tidak sesuai dengan fakta sejarah, adalah wajib hukumnya bagi seorang sejarahwan atau arkeolog melakukan koreksi dan kritik, dan tentunya koreksi atau kritikan yang dilakukan didukung dengan fakta atau bukti sjarah yang akurasinya dapat dipertanggungjawabkan, sebagaimana selama ini sudah dan sering dilakukan oleh para sejarahwan.

    Jadi bukan bermaksud hendak mencari-cari kesalahan orang lain, seperti yang dituduhkan, yang jelas tidak ada untungnya bagi perkembangan sejarah itu sendiri. Koreksi yang dilakukan pun ora waton muni (tidak hanya sekedar bicara).

    Sejarahwan pantang mencari-cari kesalahan, tetapi bila ada informasi yang melenceng dari fakta sejarah yang gtelah diakui kebenarannya sebagai suatu hipotesa, maka sekali lagi saya katakan hal itu wajib hukumnya untuk dikoreksi. Siapapun dia, dan punåkawan yakin bahwa tidak ada satupun kata yang tidak memberikan apresiasi atas karya Ki Dalang SD Liong. tetapi bagaimanapun kebenaran harus disampaikan.

    Sekedar contoh:

    ”Prabu Angling Dharma”

    Saya ulangi lagi paparan ki Bayuaji pada tulisan sebelumnya, bahwa: Pada tahun 2002, salah satu penyelenggara televisi swasta nasional di negara kita, pernah menayangkan kisah Prabu Angling Dharma. Dalam salah satu episode, sang sutradara menyisipkan suatu adegan yang keluar dari cerita Prabu Angling Dharma sebenarnya.

    Kisah Prabu Angling Dharma bagi salah satu penganut agama dan etnis suku tertentu di Tanah Air sangat dihormati bahkan sangat disakralkan, tetapi oleh penyelenggara televisi nasional tersebut kisah Prabu Angling Dharma dibuat semacam sinetron dan dalam salah satu episodenya ceritanya melenceng dari pakem aslinya.

    Akibatnya, para pemuka agama dan para penganut agama yang sangat menghormati epik Prabu Angling Dharma tersebut melayangkan protes keras kepada pengelola televisi yang bersangkutan agar tayangan kisah Prabu Angling Dharma dihentikan, atau jika diteruskan harus direvisi terlebih dahulu dan disesuaikan dengan pakem baku yang bersumber dari kitab Angling Dharma yang sangat beliau-beliau hormati itu.

    Tayangan sempat dihentikan, tetapi pada bulan Maret 2011 yang baru lalu, pengelola televisi swasta nasional tersebut menayangkan kembali kisah Prabu Angling Dharm tanpa melakukan revisi, akibatnya protes dilayangkan kembali, dengan tembusan surat juga ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah.

    Beliau para pemuka agama yang mengajukan protes tersebut sangat menyesalkan dan menyayangkan sikap penyelengara siaran yang tidak mau tahu dan tidak dapat bertêpå slirå (bertenggang rasa), serta tidak menghormati keyakinan agama orang lain. Ini satu contoh yang sangat buruk dalam menyikapi suatu perbedaan keyakinan.

    Contoh lain lagi:

    ”Raden Wijaya”

    Radèn Wijaya adalah nama yang lazim dipakai para sejarahwan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang-kadang Pararaton menulisnya secara lengkap, yaitu Radèn Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar Radèn belum populer.

    Nāgarakṛtāgama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Radèn. Istilah Radèn sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan, menjadi Rahadyan dan akhirnya Radèn.

    Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam Prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1204. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Radèn Wijaya adalah putra Mahisa Campaka Narasingha Murti, Ratu Anggabaya Kerajaan Singasari semasa Singasari diperintah oleh Ranggawuni Wisnu Wardhana.

    Menurut Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Radèn Wijaya atau Sanggramawijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma (putra Prabu Buru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh); dan Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti (Dyah Lembu Tal disebutnya sebagai seorang perempuan putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari).

    Menurut Nāgarakṛtāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti, sedangkan Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

    Perlu diketahui bahwa catatan dari tanah Sunda tentang kaitan antara Radèn Wijaya dan Rakeyan Jayadarma ini hanya pendapat minoritas sejarawan. Kelemahan utamanya adalah nama Dyah Lembu Tal adalah nama perempuan, sedangkan yang umum diterima adalah sebagai ayah dari Radèn Wijaya.

    Antara Pararaton dan Nāgarakṛtāgama ada celah satu generasi, yaitu: ada dan tidak ada Dyah Lembu Tal. Pararaton menyebut Wijaya putra Mahisa Campaka alias Narasinghamurti, sedangkan Nāgarakṛtāgama menyebut Wijaya adalah cucu Narasinghamurti.

    Berita Nāgarakṛtāgama sejalan dengan Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dalam hal Dyah Lembu Tal sebagai orang tua Wijaya, namun tidak dalam hal jenis kelaminnya.

    Nāgarakṛtāgama menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya.

    Berdasarkan catatan sejarah dari sumber lain (Kerajaan Galuh) yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya bahwa Radèn Wijaya atau Radèn Jaka Tanduran atau Radèn Sesuruh atau Prabu Brawana merupakan putra ke-7 pasangan Prabu Sundha Hanyakrawati/Prabu Harjakusuma atau Prabu Pamekas di Pajajaran dari Permaisuri Dewi Ambarsari yang merupakan putri dari Prabu Dewamantala di Kerajaan Galuh.

    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Jadi putra siapakah sebenarnya Raden Wijaya? Månggå Ki Sanak silakan mengkaji sendiri.

    Satu contoh lagi:

    ”Manimpiki”

    Rontal MMGK wedaran ke-32 versi djvu halaman 14, terjadi dialog antara Dipa dan beberapa prajurit di halaman kediaman senapati Nala:

    ……..
    — Apa pekerjaanmu? —
    Manimpiki
    — Manimpiki? — prajurit itu membelalak. Wajahnya mulai memancar kemarahan. Manimpiki adalah tukang atau pandai permata manik. Seketika ia menghardik.
    ……..

    Analisis sejarah:

    Sejauh ini belum ada bukti sejarah berupa prasasti, atau sejenisnya yang menyebutkan bahwa manimpiki adalah tukang atau pandai permata manik, entah kalau di antara sanak kadang ada yang mengetahuinya. Sedangkan manimpiki dalam arti bukan sebagai tukang atau pandai permata manik terdapat pada Prasasti Poh Pitu 905M dan Prasasti Kasugihan 907M (Zaman Mataram Lama) sebagai berikut:

    Sang Pamgat Kiniwang adalah pejabat negara manglilala drwaya haji yang membawahi juru ring kanayakan. Sedangkan pangurang sang rakring dan pangurang manimpiki merupakan bawahan dari juru ring kanayakan. Adapun pejabat pemerintahan di desa-desa (watak) disebut wilang thani dan wilang wanua. Pangurang disebut juga Pitungtung ni parujar.

    Manglilala drwaya haji adalah pejabat pemerintah yang bertugas mengelola kekayaan raja (negara), kalau zaman sekarang dapat disamakan dengan Menteri Keuangan; tetapi untuk jabatan manglilala drwaya haji ternyata lebih fokus ke dalam tugas pemungutan penerimaan negara/pajak; sehingga dia adalah seorang “Direktur Jenderal Pajak”.
    Juru ring kanayakan, boleh jadi sekarang adalah Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak.

    Pangurang sang rakring dan Pangurang manimpiki juga merupakan bagian dari manglilala drwaya haji, tugasnya sama dengan juru ring kanayakan, namun dalam wilayah yang lebih kecil (watak). Watak adalah daerah setingkat kabupaten.

    Dengan demikian pangurang sang rakring dan pangurang manimpiki kalau zaman sekarang boleh jadi adalah bawhan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak atau sama dengan Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

    Dengan demikian Manimpiki, menurut kedua prasasti di atas bukan “tukang atau pandai permata manik, melainkan pegawai kantor pajak.

    Satu contoh yang lainnya lagi:

    Tempat Kelahiran Bung Karno”

    Sejarah modern Indonesia, bahwa selama masa pemerintahan Orde Baru, oleh sebab diterbitkannya Buku Sejarah tentang Bung Karno terbitan Departemen Pendidikan tahun 80-an, disebutkan bahwa Bung Karno lahir di kota Blitar .

    Sebagian besar rakyat Indonesia, terutama murid-murid SD, SMP dan SMA pada waktu itu meyakini hal tersebut. Kita tidak tahu dengan maksud apa pemerintah pada waktu itu membuat buku tentang Bung Karno dan menyatakan bahwa Bung Karno lahir di kota Blitar.

    Sejenak kita kilas balik sejarah kelahiran Bung Karno, dari “geger” pernikahan beda suku, beda agama antara Raden Soekeni Sosrodihardjo yang priyaji bangsawan Jawa, seorang Islam Theosof dan berasal dari Jawa, dengan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben yang Hindu dan berasal dari Gianyar, Bali. Untuk menikahi Idayu secara Islam, maka Idayu terlebih dulu harus masuk Islam. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah kawin lari.

    Seperti penuturan Bung Karno dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, bahwa untuk kawin lari menurut kebiasaan di Bali, harus mengikuti tata-car tertentu. Kedua “merpati” itu bermalam di malam perkawinannya di rumah salah seorang kawan. Sementara itu dikirimkan utusan ke rumah orangtua si gadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah menjalankan perkawinannya.

    Soekeni dan Idayu mencari perlindungan di rumah Kepala Polisi yang menjadi kawan Soekeni. Keluarga Idayu kemudian datang hendak menjemput mempelai wanita, tetapi Kepala Polisi tidak mau melepaskan. “Tidak, dia berada dalam perlindungan saya,” katanya.

    Saat tiba mereka harus dihadapkan ke pengadilan, Idayu pun sempat ditanya oleh hakim, “Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri” Dan Idayu menjawab, “Tidak, tidak. Saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri.” Maka, tiada pilihan bagi mereka untuk mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian, pengadilan mendenda Idayu 25 ringgit, yang nilai sama dengan 25 dolar ketika itu. Idayu mewarisi beberapa perhiasan emas, dan untuk membayar denda itu, ia menjualnya.

    Tak lama setelah pernikahan mereka, sekitar tahun 1900, Soekeni mengajukan permohonan pindah tugas ke wilayah Jawa. Pemerintah mengabulkan, dan memindahkan Soekeni ke Surabaya. Keluarga muda ini tinggal di Gang Pandean IV Nomor 40, Peneleh, Surabaya. Di sanalah Kusno yang kemudian kita kenal sebagai Soekarno dengan sebutan Bung Karno dilahirkan.

    Bayi Sukarno lahir menjelang matahari merekah. Karenanya, dia disebut pula sebagai Putra Sang Fajar. Orang Jawa memiliki kepercayaan, seseorang yang dilahirkan saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Bung Karno dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901.

    Pertanyaannya:

    Apakah suatu uraian sejarah yang jelas salah, akan kita diamkan saja, tanpa dilakukan perbaikan?

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    untuk dan atas nama Ki Bayuaji

    punåkawan bayuaji

  35. Nuwun

    Awignam astu namas sidam
    [Mugi linupútnå ing rêridhu]

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI:

    KERAJAAN SRIWIJAYA, EKSPEDISI PAMALAYU, dan PENYERBUAN KE BEDAHULU BALI [Bagian II – TAMAT-]

    [Bagoan I -MMGK 40 –On 24/05/2011 at 00:41 punakawan bayuaji said:]

    Sansåyå dalu araras abyor kang lintang kumedhap. Titi sonyå têngah wêngi lumarang gandaning puspitå ‘rum, kasiliring samirånå mrik, Ong……….. sêkar gadhung, kongas gandanyå o…. mawèh raras rênaning driyå, o…. o…. o….

    Mugi pårå sanak kadang tansah pinayungan kawilujêngan, kasarasan, såhå karahayon, pikantuk sihing Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Måhå Asih, kasêmbadan punåpå ingkang dipun gayuh, mugi Gusti Pangran Ingkang Måhå Wêlas lan Asih tansah hangayomi karahayon dumatêng Panjênêngan sâdåyå.

    Tansah waskitå. Tumêmên dêmên tinêmu tansah manêmbah Gusti Ingkang Måhå Agung, tumungkul ngandêling Suksmå tan lirwå trésnå sêsami. Hing siang pantaran ratri. Ingih Padukå Panjênêngan Gusti Pangéran Ingkang Tansah Hangayomi pårå titah. Gusti Ingkang mBotên Naté Saré.

    Sekarang kita memasuki pokok bahasan yaitu:

    I. KERAJAAN SRIWIJAYA

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Kerajaan Sriwijaya ini, sesuai “rontal” yang ditinggal oleh Ki Bayuaji hanya mengenai dongeng runtuhnya Kerajaan Sriwijaya saja.

    Wedaran kali ini masih mengenai MMGK 39, yang menceritakan keadaan Kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Prabu Jayanegara, yakni berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya, Ekspedisi Pamalayu dan Penyerbuan ke Bedahulu Bali, yang juga harus dikembalikan kepada “jalan sejarah yang benar”.

    MMGK-39. Hal 25 dan 26: “Beberapa raja-raja Malayu sudah tunduk di bawah pasukan Pamalayu. Hanya Sriwijaya yang belum diserang

    Adanya pernyataan bahwa Kejayaan Sriwijaya mulai surut pada abad ke-11, nampaknya TIDAK BERTENTANGAN dengan makalah Ki Bayuaji: Kronik Chu Fan Chi tahun 1225 mencatat Palembang sebagai bawahan Malayu.

    Boleh dipastikan, Kerajaan Sriwijaya runtuh akhir abad ke-12 atau sekitar tahun 1200 (antara 1178 dan 1225) karena ditaklukkan oleh Kerajaan Malayu.

    Analisis sejarah:

    Kapan Kerajaan Sriwijaya runtuh?

    A. Balaputradewa wafat

    Balaputradewa disebut di dalam Prasasti Nalanda sebagai salah seorang raja di Swarnadwipa yaitu nama kuno untuk Pulau Sumatra. Karena pada zaman itu Pulau Sumatra diidentikan dengan Kerajaan Sriwijaya, maka sementara ini para sejarahwan sepakat bahwa Balaputradewa adalah raja Sriwijaya.

    Balaputradewa merupakan keturunan dari wangsa Sailendra dilihat dari silsilah bahwa Balaputra merupakan anak bungsu dari Samaragrawira (Rakai Warak) dan sekaligus cucu dari Dhanarandra (Rakai Panunggalan) atau yang lebih dikenal dengan gelar Wirawairimathana (pembasmi para perwira). Oleh karena itu, jelas bahwa Balaputra adalah adik dari Samaratungga (Rakai Warak).

    Pendapat yang paling populer menyebutkan Balaputradewa mewarisi takhta Kerajaan Sriwijaya dari kakeknya (pihak ibu), yaitu Sri Dharmasetu. Namun, ternyata nama Sri Dharmasetu terdapat dalam Prasasti Kelurak sebagai bawahan Dharanindra yang ditugasi menjaga bangunan Candi Kelurak.

    Jadi, Dharanindra berbesan dengan Sri Dharmasetu melalui perkawinan antara Samaragrawira dan Dewi Tara. Prasasati Kelurak menyebutkan bahwa Dharmasetu adalah orang Jawa. Jadi, teori populer bahwa ia adalah raja Kerajaan Sriwijaya adalah keliru.

    Balaputradewa berhasil menjadi raja Kerajaan Sriwijaya bukan karena mewarisi takhta Sri Dharmasetu, tetapi karena pada saat itu Pulau Sumatra telah menjadi daerah kekuasaan Wangsa Sailendra, sama halnya dengan Pulau Jawa. Sri Maharaja Balaputradewa adalah anggota Wangsa Sailendra yang menjadi raja Kerajaan Sriwijaya.

    Berdasarkan analisis Prasasti Ligor, Kerajaan Sriwijaya dikuasai Wangsa Sailendra sejak zaman Maharaja Wisnu (775 sd 782). Sebagai anggota Wangsa Syailendra, Balaputradewa berhasil menjadi raja di Sumatra, sedangkan kakaknya, yaitu Samaratungga menjadi raja di Jawa. Teori ini sejalan dengan ditemukannya Prasasti Balaputra-Jatiningrat, angka tahun 778Ç atau 856M.

    Balaputradewa kehilangan haknya untuk memerintah di Bhumi Jawa dikarenakan putera tertua kerajaan adalah Pangeran Samaratungga sehingga Pangeran Samaratungga yang berhak memimpin kerajaan di Bhumi Jawa. Samaratungga mempunyai seorang putri bernama Pramodhawardhani yang kemudian menikah dengan Jatiningrat.

    Adapun penyebab Balaputradewa berada di Swarnadwipa adalah akibat dari lepasnya Kamboja dari kekuasaan Samaragrawira. Oleh karena itu, Samaragrawira memutuskan untuk membagi dua kekuasaan yaitu: Samaratungga berkuasa di Jawa dan Balaputradewa berkuasa di Sriwijaya.

    Bila teori ini benar, berarti Sriwijaya sejak Maharaja Wisnu (775 sd 782) sudah dikuasi oleh raja-raja dari Jawa, maka sebutan Swarnadwipa pada waktu itu tidak mesti Sriwijaya, dengan perkataan lain sejak tahun ini (sekali lagi bila teori ini benar) Sriwijaya sudah runtuh.

    B. Serangan dari Kerajaan Colamandala, India Selatan (1017 M)

    Tahun 1017 dan 1025, Rajendra Cola I, raja dari Dinasti Chola di Coromandel, India selatan, mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya, berdasarkan Prasasti Tanjore bertarikh 1030, kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya, sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu Sangrama Vijayottunggawarman. Selama beberapa dekade berikutnya seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti Chola.

    Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya berita utusan San-fo-ts’i ke Cina tahun 1028 Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola,

    Setelah invasi tersebut akhir mengakibatkan melemah hegemoni Sriwijaya dan kemudian beberapa daerah bawahan membentuk kerajaan sendiri dan kemudian muncul Kerajaan Dharmasraya sebagai kekuatan baru dan kemudian mencaplok kawasan semenanjung malaya dan sumatera termasuk Sriwijaya itu sendiri.

    C. Serbuan Kerajaan Singasari (1275 M).

    Istilah San-fo-tsi sejak tahun 1178 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan telah identik dengan Dhamasraya, dari negeri negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya, walaupun sumber Tiongkok tetap menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan Laut Cina Selatan.

    Hal ini karena dalam Pararaton telah menyebutkan Malayu, disebutkan Prabu Kertanegara dari Singasari mengirim sebuah ekspedis yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu, dan kemudian menghadiahkan Arca Amoghapasa kepada raja Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmandewa di Dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada Prasasti Padang Roco.

    Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat pada Prasasti Grahi. Begitu juga dalam Nagarakretagama, yang menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya.

    D. Serangan Majapahit (1377 M).

    Pada tahun 1293 muncul Majapahit sebagai pengganti Singasari dan setelah Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi naik tahta memberikan tanggung jawab kepada Adityawarman seorang peranakan Melayu dan Jawa untuk kembali menaklukkan Swarnnabhumi pada tahun 1339.

    Dan dimasa itu nama Sriwijaya sudah tidak disebut lagi tapi telah diganti dengan nama Palembang hal ini sesuai dengan Nagarakretagama yang menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit, dan Palembang tidak identik dengan Sriwijaya.

    II. EKSPEDISI PAMALAYU

    MMGK-39. Hal 26: “Kemudian Singasari mengirim pula sebuah pasukan dipimpin oleh Raden Wijaya dan beberapa menteri ke Sriwijaya dengan maksud:
    a. memberi Arca Amogasiddhi
    b. meminang kedua putri Mauliawarman dari Sriwijaya akni putri Dara Pethak dan Dara Jingga.

    Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera. Istilah Pamalayu bermakna “perang melawan Malayu.”

    Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi.

    Berbeda dengan raja-raja Singasari sebelumnya, Prabu Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

    Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Gagasan pengiriman tentara ke Swarnabhumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah, pengganti Raganata. Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke Melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 M, dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Anabrang atau Mahesa Arema, untuk menaklukan bhumi malayu.

    Dalam Record, tulisan pendeta Buddha I-tsing dari Kanton, yakni tulisan yang menerangkan lokasi-lokasi persinggahan I-tsing dari Cina – Asia Tenggara – India. Tertulis bahwa pelabuhan Melayu alias Jambi dalam abad ke-7 adalah pelabuhan penting untuk lalu lintas kapa-kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

    Boleh dipastikan bahwa pelabuhan itu dalam abad ke-13 masih mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk lalu lintas kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

    Diuraikan dalam Kidung Panji Wijayakrama, bahwa ada pengerahan tentara ke negeri Melayu, melalui pelabuhan Tuban. mereka diantar oleh patih Mahisa Anengah dan Panji Angragani, dan tidaklah benar uraian Kidung Harsa Wijaya, bahwa pamalayu itu digerakkan oleh keinginan merebut putri Melayu yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya.

    Nagarakretagama mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi ternyata melakukan perlawanan. Meskipun demikian, pasukan Singasari tetap berhasil memperoleh kemenangan.

    Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah. Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.

    Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut. Namun ada juga pendapat lain mengatakan bahwa tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan di bawah Singasari.

    Demikianlah pada tahun 1286, berdasarkan prasasti Amoghapasa, raja Kertanagara mengirim arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada raja Melayu Warrmadewa. Kedatangan arca itu diantar oleh pelbagai pembesar pemerintahan dari kerajaan Singasari.

    Pemberian arca itu dapat ditafsirkan sebagai pemberian çakti kepada raja Melayu. Pemberian çakti itu mengandung arti memperkokoh persahabatan untuk mengahadapi kemungkinan serangan tentara Kubilai Khan dari Tiongkok tersebut.

    Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan Cakrawala Mandala raja Kertanagara sebagai ‘bumper’ atas hegeomoni Kubilai Khan di Asia Tenggara. Dengan demikian raja Kertanagara telah berupaya untuk membendung pengaruh Kubilai Khan, agar jangan sampai menjalar ke wilayah Nusantara.

    Untuk tujuan yang sama, raja Kertanagara menjalin persahabatan dengan raja Campa. Campa dengan ibukotanya Panduranga merupakan benteng terdepan dan pertama untuk membendung pengaruh kekuasaan Kubilai Khan.

    Babad Tanah Jawi menerangkan:
    Barêng Tanah Jåwå gêdhé panguwåsané, Prabu Kârtånagårå (1268 – 1292) kâlakon biså ngrusak kuthå Paséi, lan ngâjâgi Jambi, Palémbang, Riouw sartå kuthå kutha akèh ing Bornéo åpådéné pulo-pulo ing Moloko. Ing saantaraning taun 1275 lan 1293 wong Jåwå nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yåiku tanah kang bésuké aran Mênangkabau. Lurugan iku diarani Pamalayu.

    Prasasti Padangroco, tempat dipahatkannya Arca Amoghapasa menyebutkan bahwa arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva.

    Raja Kerajaan Melayu yang berkedudukan di Dharmasraya. (sekarang adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatra Barat dengan ibukotanya Pulau Punjung). Jika ditinjau dari gelar yang dipakai, terlihat adanya pengaruh kekuasaan Singasari, sehingga dapat dikatakan bahwa Singasari telah menjadi atasan Dharmasraya.

    Babad Tanah Jawi mengabarkan pengiriman Arca Amoghapasa ini:
    Ing taun 1268 Prabu Kârtånagårå angganjar rêcå marang ratu ing Dharmmåçråyå (Darmåsråyå) ugå dumunung ing tanah Jambi, ing saikiné ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing bésuké kâlêbu jajahan Majapait, rajané darah Warman jêjuluk Tribuwånå (Mauliwarman) kagungan garwå bångså Mêlayu, kang putriné (putrané putri) ayaké dadi garwané Radén Wijåyå biyèn.

    Prasasti Padangroco juga menyebutkan bahwa arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatera dengan diiringgi beberapa pejabat penting Singasari di antaranya ialah Rakryān Mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, Rakryān Śirīkan Dyah Sugatabrahma, Samagat Payānan Hyańg Dīpankaradāsa, Rakryān Demung Mpu Wīra.

    Menurut sumber dari Batak, pasukan Pamalayu dipimpin oleh Indrawarman, bukan Kebo Anabrang. Tokoh Indrawarman ini tidak pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap di Sumatra dan menolak kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singasari. Mungkin, Indrawarman bukan pemimpin tertinggi ekspedisi Pamalayu, melainkan wakilnya.

    Jadi, ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Nama Indrawarman inilah yang tercatat dalam ingatan masyarakat Batak.

    Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara. Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu-Kampar yang direbut oleh Kesultanan Aru-Barumun pada tahun 1299.

    Indrawarman takut apabila kerajaan Majapahit datang untuk meminta pertanggungjawabannya. Ia pun meninggalkan daerah Asahan untuk membangun kerajaan bernama Silo di daerah Simalungun. Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini.

    III. PENYERBUAN KE BEDULU BALI atau EKSPEDISI BEDAHULU BALI

    MMGK-39 Hal 60: (Prabu Sri Jayanegara bersabda): “….kutitahkan engkau membawa duaribu prajurit untuk meminta penegasan dari Raja Bedulu itu…..
    Bawalah Raja Pasung Rigih ke Pura Majapahit….

    MMGK-39 Hal 79. Sejak zaman Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari, memang Bali tunduk dan mengakui kekuasaan Singasari

    MMGK-39 Hal 77. Arya Damar mengepalai pasukan dari Sriwijaya

    Analisis sejarah:

    Tahun 1343 Mahapatih Gajah Mada melakukan pembuktian sumpahnya, dibantu oleh Senapati Sarwajala Mpu Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri. Kerajaan itu antara lain: Bedahulu (Bali), Lombok (1343),

    Bali sendiri bukanlah wilayah yang belum pernah diekspansi kerajaan Jawa sebelumnya. Kira-kira tahun 1284 M, Raja Kertanegara dari Singasari pernah melakukannya. Ekspedisi Gajah Mada ke Bali ini juga dikenal sebagai Ekspedisi Bedahulu.

    Saat itu di Bali berkuasa raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, sekurangnya sejak 1337 M. Raja Bali ini punya panglima perang perkasa bernama Amangkubumi Paranggrigis.

    Dalam melakukan kegiatannya, Panglima Paranggrigis punya seorang pembantu sakti bernama Kebo Iwa, asal desa Belahbatuh. Kebo Iwa inilah yang dinilai Majapahit perlu disingkirkan terlebih dulu guna melemahkan Bali.

    Sebelum mengekspansi Bali secara militer, Gajah Mada melakukan diplomasi terlebih dulu. Ratu Tribhuwanattungadewi menulis surat yang dibawa Gajah Mada, bahwa Majapahit hendak bersahabat dengan Bali. Tidak diceritakan apa yang kemudian terjadi, paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis kemudian menggantikan posisi Kebo Iwa selaku orang kuat Bali.

    Paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis ‘terpaksa’ turun tangan sendiri untuk memimpin posisi Bali atas Majapahit. Amangkubumi Paranggrigis mengumpulkan tokoh-tokoh untuk membahas sikap Bali atas Majapahit.

    Suara bulat dicapai, bahwa Bali tidak akan tunduk pada Majapahit. Tahun 1334 M, barulah Gajah Mada membawa ekspedisi militer ke Bali. Dalam ekspedisi tersebut, ikut serta Arya Damar yang saat itu memangku selaku panglima perang. Bali setelah serangan Majapahit, mengalami kekosongan kepemimpinan.

    Orang berpengaruh di Bali yang masih hidup saat itu adalah Patih Ulung. Namun, patih ini tidak mampu menguasai keadaan dan sebab itu ia bersama dua orang keluarganya yaitu Arya Pemacekan dan Arya Pemasekan datang menghadap Ratu Tribhuwanattungadewi untuk mengangkat wakil otoritas Majapahit di Bali.

    Tribhuwanattungadewi dan setelah rêmbugan dengan Gajah Mada mengangkat Sri Kresna Kepakisan (turunan Bali Aga) selaku wakil Sri Baginda Ratu Majapahit di Bali. Bali Aga adalah turunan Bali pegunungan, yang kerap dipisahkan dengan Bali Mula (orang Bali asli). Trik politik yang tetap berupaya memecah atau menyeimbangkan orang “dalam” dan orang “luar” Bali agar tetap tunduk pada Majapahit.

    Sri Kresna Kepakisan adalah Raja I di Bali berkedudukan di Samprangan/Samplangan yang diangkat oleh Raja Majapahit ketika itu: Tribhuwana Tunggadewi bersama patih agung Gajahmada. Beliau adalah keturunan Mpu Bharaddah.

    Simpulan:

    I. Kerajaan Sriwijaya:

    Empat teori menceritakan tentang runtuhnya Kerajaan Sriwijaya; dari keempat teori tersebut, telah diyakini oleh para arkeolog dan sejarahwan bahwa Sriwijaya runtuh sebelum Kerajaan Singasari berdiri.

    II. Ekspedisi Pamalayu. Pamalayu berati perang melawan Melayu:

    a. Ekspedisi Pamalayu bukan penyerbuan pasukan Singosari ke Sriwijaya (Swarnnabhumi, atau San-fo-tsi yang tidak lagi identik dengan Sriwijaya, tetapi udentik dengan Dhamasraya).

    b. Ekspedisi Pamalayu adalah penyerbuan ke Kerajaan Melayu yang berkedudukan di Dharmasraya. (sekarang adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatra Barat dengan ibukotanya Pulau Punjung).

    c. Ekspedisi Pamalayu bukan bermaksud meminang kedua putri Mauliawarman yakni putri Dara Pethak dan Dara Jingga, melainkan:

    i. menundukkan Swarnnabhumi, atau San-fo-tsi (Dhamasraya);

    ii. menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

    iii. manifestasi gagasan cakrawala mandala nusantara Prabu Kertanagara sebagai ‘bumper’ atas hegeomoni Kubilai Khan di Asia Tenggara.

    iv. untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan di bawah Singasari.

    d. Ekspedisi Pamalayu tidak dipimpin oleh Raden Wijaya, melainkan oleh Kebo Anabrang atau Mahesa Arema.

    e. Arca yang diserahkan sebagai hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva adalah Arca Amoghapasa, bukan Amogasiddhi.

    Amoghapasa adalah salah satu boddhisatwa perwujudan Lokeswara atau Avalokitesvara dalam kepercayaan Buddha Mahayana yang melambangkan sifat welas asih, sedangkan Amoghasiddhi adalah satu dari lima Buddha Kebijaksanaan dalam mazhab Buddhisme Vajrayana.

    Arca Amoghapasdan Prasasati Padang Roco ini, bagian alas dan bagian arca ditemukan secara terpisah, akan tetapi aslinya kedua bagian ini merupakan satu kesatuan yang dikirim dari Jawa oleh Kertanegara.

    Bagian arca ditemukan sekitar tahun 1880-an di Situs Rambahan yang terletak dekat sungai Langsat, sekitar 10 kilometer arah ke hulu sungai Batanghari.

    Sedangkan bagian alas yang disebut Prasasati Padang Roco ditemukan kemudian pada tahun 1911 di kompleks percandian Padang Roco. Kini kedua bagian itu bersatu kembali, arca Amoghapasa dan alasnya disimpan diMjuseum Gajah Jakarta dengan nomor inventaris D.198-6468 (bagian alas) dan D.198-6469 (bagian arca).

    III. Penyerbuan ke Bedulu Bali atau Ekspedisi Bedahulu Bali

    a. Penyerbuan ke Bedulu Bali dilakukan berulang-ilang sejak Prabu Kertanegara.

    b. Ekspedisi Bedahulu besar-besaran dilakukan atas perintah Rani Majpahit Tribhuwanattungadewi, bukan oleh Prabu Jayanegara sebagaimana tertulis dalam MMGK 39.

    c. Ekspedisi Bedahulu Bali merupakan salah satu pembuktian Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahapatih Gajah Mada.

    d. Raja Bedahulu pada waktu terjadinya Ekspedisi Bedulu Bali ini bukan Raja Pasung Rigih melainkan Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, nama yang hampir mirip adalah panglima perang Bedahulu yaitu Amangkubumi Paranggrigis.

    e. Dalam ekspedisi Bedahulu Bali, Arya Damar bertindak sebagai salah satu pemimpin pasukan, dan bukan dari kerajaan Sriwijaya, karena seperti telah disebutkan di atas, Kerajaan Sriwijaya pada masa penerbuan ke Bedahulu sudah tidak ada lagi.

    f. Sebagai Panglima Perang Ekspedisi Bedahulu Bali dipercayakan kepada Senapati Sarwajala Mpu Nala.

    Demikan Ki Sanak, sêdulur-sêdulur, pårå kadang sutrésnaning padépokan GS, dongeng arkeologi & antropologi.

    Mohon maaf atas segala kekurangan, dan segala sesuatu yang bersifat menyempurnakan wacana ini sehingga menjadikan semakin luasnya wawasan dan pengembaraan fikir dan rohani kita dengan segala senang hati, dan ridha ditunggu.
    Semoga bermanfaat.

    Rujukan:

    1.________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007.

    2. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002.

    3. Boedenani, H., Sejarah Sriwijaya. Tarate. Bandung 1976.

    4. d’Ohsson, Constantin Mouradgea , Chapitre 3 Kublai Khan, Tome III, Histoire des Mongols, depuis Tchinguiz-Khan jusqu’à Timour Bey ou Tamerlan, Adamant Medi Boston. 2002.

    5. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007.

    6. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka. Jakarta 2006.

    7. R.Pitono Hardjowardojo, Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, Bhratara, Djakarta 1966.

    8. Robson, Stuart O. Désawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. KITLV Press. Leiden 1995.

    9. Slamet Muljana, Prof Dr. Sriwijaya, LKIS. Yogyakarta 2006

    10. Slamet Muljana, Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya. LkiS. Yogyakarta 2006.

    11. Slamet Muljana, Prof. Dr. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Yayasan Idayu. Jakarta 1981.

    12. Prasasti-prasasti yang berkenaan, terutama Prasasti Padang Roco, dan arca Amoghapasa di Museum Nasional Jakarta.

    Nuwun
    untuk dan atas nama Ki Bayuaji

    punåkawan bayuaji

  36. Matur nuwun Ki Bayuaji melalui Ki Punokawan.
    Mugi tindakipun Ki Bayuaji dalah Sang prameswari sarto jamaah tansah pinaringan kesehatan dan kemudahan.
    Amin

  37. Sugeng Enjang.
    Ternyata ada hikmahnya tindake Ki Ismoyo, wedaran dadi rodo telat, tapi gandok makin rame.
    Sing biasane ora nate absen dadi absen.
    Alhamdulillah soyo tambah sedulur.

  38. selamat pagi sadulur….!!!
    hehhe…..
    sepertinya akan banyak yang akan belajar arkeologi….
    suwun ki punakawan atas penambahan ilmunya…

  39. Assalamu’alaikum wrwb.

    Katur Ki Truno Podang, Ki Lare Dusun, Ki Honggopati, dalah sanak kadang padépokan GS., PdLS, AdBM.

    Aamin ya Rabbal alamin. Syukron jazakumullah khairan kathira, atas segala perhatian dan doanya. Matur sangêt kêsuwun.

    Informasi terakhir, beliau beserta rombongan sedang berihram menuju Baitullah.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

    punåkawan bayuaji

  40. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    Wedaran dongeng pembunuhan Jayanegara (Katur Ki SAS.
    [On 23/05/2011 at 09:57 ki SAS said:])………….

    Lho jêbulnya m.e.n.u.n.g.g.u. di Gandhok 41.

    M.e.n.u.n.g.g.u . . . . . . paling tidak sampai tanggal 28 Mei 2011. Bukan begitu Ki Panji??

  41. Mohon penerangan, dmana erangan rontal 40

    • On 22/05/2011 at 21:09 ismoyo said:

      Sugeng dalu,

      He he he………… dst


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: