mmgk-24

mmgk-23>>| TT-06>>| mmgk-25>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 20/04/2011 at 19:21  Comments (94)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/mmgk-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

94 KomentarTinggalkan komentar

  1. siji meneh….

    • sakbare///

      • nomer telu
        lumayan

          • MerDEKA!

        • lho aneh

          di atas tertulis
          Telah Terbit on 20/04/2011 at 19:44

          tetapi ki mas tono dapat masuk duluan

          On 20/04/2011 at 19:42 mas tono said:

          bingung, jamnya siapa yang bingung”
          Ki Is kah? mas tono kah, satpam kah?

          embuh… ah

          He he he…..P.Satpam, nggawe bingung sanak kadang…..
          yang tahu hal ini kan hanya P.Satpam…hiks
          terbit awal tanggal 20 April jam 19.21…..penyimpanan terakhir jam 19.53.

          Jadi tidak ada yang aneh kiranya Mas Tono komen jam 19.42 wib…githu lho kata nak muda jaman sekarang.

          • test

        • Dgn ketelitian tingkat tinggi, dan sangat interest thd detail setiap object, cocok kiranya kalo Pak Lik Satpam kita daulat sbg Satpam padepokan ini

          Memang sudah dalam rencana saya Ki PA,….
          saya sendiri lumayan sibuk dengan hal cangkulan….
          Namun demikian harus dipersiapkan dulu scanner cover maupun rontalnya jadi P.Satpam tinggal mandegani. Hal ini yang belum sempat dilakukan….

          • hadu……

            mblayu ah…..

        • seTUJU ki Panembahan,

          seLAGI pak SATPAM masih muda,
          kuat teNAGA…jaga 3 Padepokan
          tentu masih BISA.

          kalo pak SATPAM gak MAU nanti
          biar ki PA mbantu ngrayu lewat
          MITA….!!??

    • Sekarang sudah nggak aneh lagi kan….terbit jam 19.21.

      • nggih ki
        namung gojeg kok

  2. hehehe..
    rontal 23 belum ente’, wis grasak grusuk ning gandhok 24…

    suwun ki..

  3. Amin ikut berdoa Ki Ismoyo, semoga harapan kita dengan semangat Kartini, muncul generasi baru sebagai pewaris Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya Dien dan Srikandi bangsa lainnya.

    • cantrik jadi pengen lihat….!!??

      kalo mentrik2 Padepokan GS dandan KARTINIan,

      • Estu Ki saya pengen lihat Mita, Miss Nona, Ni KP dan mentrik lainnya berkebaya.
        Kayanya cantik cantik, luwes, dan tentu smart ciri mentrik jaman modern.

        • ki PANDAN mesti tambah kePINCUT…dalam HATInya
          berbisik “padaMU KARTINI”

          • Pripu nek bapak2e sing ngagen kebaya…itung2 emanipadmi

  4. Badhe mlebet gandok 23 kok mboten saged njih.

    Ki Arga….
    gampil kok….nginggil cover rak wonten mmgk-23>>MEP-06>>mmgk-25…tinggal klik mawon

    • barusan cantrik BISA ki, coba diDUDUL lagi
      mungkin tadi pintu gandok masih terKUNCI.

      • Berkali-kali ngeklik di atas cover dan komennya Ki Gundul tetap gagal masuk ke 23.

  5. Tetep mboten saged Ki, ingkang medal gandok 24 malih.

    • coba lewat komentar kadang GS yang ada
      di sebelah kaNAN ki…

      • Sudah Ki, dari tadi ngeklik komentarnya Ki Gundul on mmgk 23 tetapi yang keluar tetap 24.

        • napa diPAKET langsung kemaWON,
          teng email ki ArGA…??

          • Namung penasaran kemawon kok Ki, penjenengan saged kok kulo mboten. Kulo cobi langkung kori ngajeng njih tetep mboten saged.

        • atas ijin ki Panembahan, bisa
          langsung diAMBEL disINI ki :

          http://gajahkencana.files.wordpress.com/2011/04/mmgk_23.doc

          • Matur nuwun sanget Ki Yudha….eh Ki Gundul, mmgk 23 nembe kemawon kulo undhuh. Meniko wau kepengin mlebet gandok 23 namung badhe maos komenipun poro kadang sedoyo.

          • Kerusakan ada pada pesawat TV anda…xi xi xi…gojeg Ki Arga.

          • Matur nuwun Ki Is, Ki Gundul cantolanipun mempermudah ( jawane pripun Ki )sedaya cantrik.

  6. Duka dirasakan dunia musik Tanah Air. Rabu (20/04/2011) sekitar pukul 15.15 WIB, musisi Franky Sahilatua dikabarkan telah dipanggil oleh yang kuasa.
    Sejumlah ucapan duka cita membanjiri dunia maya, Twitter atas meninggalnya musisi legendaris yang belakangan dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta.

    LAGU-LAGU KENANGAN FRANKY SAHILATUA

    Sebelumnya, Franky menderita Multipel Mailoma (kanker sumsum tulang belakang) dan harus dirawat di ICU Rumah Sakit Medika Permata Hijau dan sempat menjalani perawatan kemoterapi di RS Singapura selama 7 bulan, sebelum akhirnya memilih pengobatan herbal di Jakarta.

    Sayangnya, sebelum pulang, saraf tulang belakang terjepit sehingga menimbulkan tumor dan mengalami kelumpuhan kaki. Tumornya sebesar 1,8 mm dan ada tumor 0,4 mm yang terjepit syaraf jadi besarnya tumor 2,6 mm.
    Meski sakit parah, tapi semangat berkarya tetap ada di diri Franky. Terbukti saat sakit, Franky sempat menulis lagu berjudul Taman Sari Indonesia, Kemiskinan, Sirkus dan Pangan, Anak Tiri Republik.

    Selamat jalan bang Franky, Indonesia kembali berduka kehilangan salah satu musisi terbaiknya. Selamat jalan Sang Musisi!

    • Nuwun
      Sugêng énjang

      Wangsa Bayuaji ikut berduka cita atas wafatnya Bung Franky Sahilatua.

      Bung Franky,
      Di Ladang Bunga Taman Sari Indonesia ini, di Nusim Bunga yang begitu segar, Bunga-bunga Kehidupan semerbak mewangi bermekaran pada Bukit dan Pedesaan yang indah.

      Di Bawah Tiang Bendera Bangsaku kita tegak berdiri menyambut Pelangi di Musim Bunga. dan kita telah bertekad janganlah Perahu Negeriku, Perahu Bangsaku Retak kembali. Janganlah bangsaku seperti Mata Air Kehilangan Sungai dan Purnama Janganlah Berkeping.

      Bung Franky,
      Dan Orang-orang Pinggiran di Terminal, yang menanti Perjalanan panjang itu, masih menyanyikan tembang Kepada Angin dan Burung-burung, meski mereka seperti Balada si Wagiman Tua yang hidup dalam Kemiskinan bagaikan Anak Tiri Republik.

      Bung Franky,
      Selamat jalan Bung. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.

      Nuwun
      wangsa dan kerabat bayuaji.

      [Yang ditulis di atas adalah judul lagu-lagu ciptaan mendiang Bung Franky sendiri atau juga bersama Jane adiknya]

    • Selamat jalan Bang FRANKY,

      Jangan khawatir,
      bis kota ini tetap miring kekiri,
      ketika nambah gerbong kereta api,
      ah, seperti biasa, ada bau korupsi.

  7. Selamat hari Kartini…
    Untuk simbokku, untuk saudara-saudaraku perempuan, untuk Nyi/Ni mentrik, dan tentu saja untuk seluruh bangsa Indonesia…

    Dirgahayu wanita Indonesia…!!!

  8. Hari ini hari Kartini. Cucu-cucuku pada sibuk, salon-salon rame dari bakda subuh, bahkan ada yang nggak sempat subuh pada antri untuk dirias.
    Semoga semangat beriasnya menjadi pendorong untuk lebih berkarya.
    SELAMAT MERAYAKAN HARI KARTINI SAUDARI-SAUDARIKU.

  9. Nuwun
    Sugêng énjang

    MEMAKNAI HARI KARTINI

    Hari Kartini. Ada sebagai penghormatan atas wujud perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi perempuan. Kartini ada sebagai pahlawan, bukan dengan tindakan kekerasan, tapi tetap radikal, demi memperjuangkan kebenaran yang dipercayainya.

    Beberapa lama setelah beliau meninggal, pergerakan perempuan semakin terasa dan membawa dampak luar biasa. Saat ini, melihat kaum perempuan berada di posisi kepemimpinan bukanlah hal yang tabu lagi, meskipun adat ketimuran yang bangsa ini punya juga tidak sepenuhnya punah, terutama budaya patriarki.

    Hari Kartini, di berbagai daerah diperingati dengan cara menggunakan baju adat daerah-daerah yang ada di Indonesia, dan berkebaya.

    Merayakan hari Kartini bersama anak-anak biasanya identik dengan berpakaian daerah yang berwarna-warni, dan menyanyikan lagu-lagu daerah serta lagu Ibu Kita Kartini.

    Tidak hanya itu. Biasanya seperti tahun-tahun lalu, Hari Kartini adalah Hari Berkebaya. Salon sibuk sejak Subuh; “Kartini” masa kini, para wanita pekerja (istilah kerennya “karyawati wanita karier”, sibuk ke salon, bersanggul, berkebaya.

    Lihatlah sepagi ini di halte bus Trans Jakarta beberapa “wanita karier” dengan “wajah dan dandanan kartini” berangkat menuju tempat kerja.
    Semarak semua menggunakan “warna-warni Kartini”. Berkebaya !!!

    Entah kenapa juga, apakah ada relasi antara baju berkebaya dan perjuangan RA. Kartini itu sendiri ???.

    Kadang kita lupa akan makna dari hal-hal yang kita peringati. Padahal negara ini bisa lahir dan terus bertumbuh akibat momentum-momentum bersejarah.

    Kita pasti marah, setidaknya bersungut-sungut kalau ada yang mengatakan bahwa peringatan dan penghargaan kepada pahlawan ini, kita baru sampai pada ’kulitnya‘ saja.

    Jadi sebenarnya apa makna hari Kartini sebenarnya? Apakah sekedar hura-hura berkebaya?

    Setidaknya, momentum ini bisa membuat rasa nasionalisme kita ada dan bertumbuh, untuk menyegarkan semangat kita untuk membangun bangsa kita, dan, dan tidak menyerah dengan keadaan yang serba sulit seperti saat ini.

    Bagi saya, perayaan hari Kartini bukan semata-mata memperingati perjuangan Kartini, tapi sekaligus memperingati perjuangan para pahlawan perempuan lainnya. Bahkan mungkin juga memperingati perjuangan kaum pria yang membantu para pejuang perempuan kita.

    Kebhinnekaan adalah kekayaan utama kita, tetapi tanpa pendidikan dasar yang benar bisa berbalik menjadi sumber petaka berupa pertikaian. Apa yang diperjuangkan Kartini pada dasarnya adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi kaum perempuan.

    Hal ini sesuai dengan konteks keadaan di Jawa pada tahun 1900, satu abad yang lalu! Raden Ajeng Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879. Pada waktu itu kaum pria lebih berpeluang mendapatkan pendidikan daripada kaum perempuan.

    Seandainya Kartini ada pada saat ini, tentunya dia akan memperjuangkan hak setiap anak (entah pintar atau kurang pintar) untuk mendapatkan pendidikan.

    Bila kita membaca buku kumpulan surat-surat Kartini, akan terasa benar betapa maju jalan berpikirnya sebagai seorang anak gadis yang hanya bersekolah sampai tingkat sekolah rendah setingkat SD.

    Ada yang meragukan keaslian surat Kartini, tapi kalau membacanya secara lengkap rasanya terlalu sulit untuk mengatakan bahwa orang asing yang mengarang surat-surat itu karena isinya bisa menguraikan budaya Jawa secara demikian gamblang.

    Ironisnya, saat cukup banyak bangsa Indonesia yang meragukannya, malah orang asing lebih percaya dan berpikir bahwa surat-surat Kartini merupakan kritik pedas pada bangsa Belanda tapi diperhalus oleh Abendanon untuk tujuan politiknya.

    Surat-surat Raden Ajeng Kartini dibukukan oleh Abendanon sebagai “Door Duisternis Tot Licht” pada tahun 1911.

    Dalam biografi Kartini dijelaskan bahwa terjemahan sesungguhnya dari kalimat ini adalah: Dari Kegelapan Menuju Cahaya.

    Armijn Pane yang memang sastrawan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1978 dengan kalimat yang lebih puitis “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Armijn Pane hanya mengambil 87 surat dari kumpulan surat-surat Kartini agar bisa lebih berkesan sebagai sebuah roman.

    Louis Charles Damais hanya memilih 19 surat untuk diterjemahkan dengan sangat indah ke dalam bahasa Perancis berjudul “Lettres de Raden Adjeng Kartini, Java en 1900”.

    Surat-surat Kartini sendiri menurut pengantar dari buku ini selain diterjemahkan ke bahasa Belanda, bahasa Indonesia, juga pernah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Spanyol. Surat seorang gadis Jawa dari tahun 1900 yang mendunia!

    Membaca buku ini sendiri membawa kita pada proses pencerahan diri Kartini. Dari dalam kerinduannya akan pengetahuan dan pandangan awalnya yang mungkin memuja kemajuan dunia Barat. Lalu proses pendewasaan diri, dia mendapatkan pencerahan dan berhasil menemukan keindahan dalam budaya yang dimilikinya dan mencoba memajukan dengan mengedepankan pendidikan.
    Hal yang seharusnya masih bisa kita teruskan hingga saat ini.

    Kartini memulai bersahabat pena dengan Stella karena dia menginginkan seorang teman perempuan yang modern, seorang perempuan yang memiliki kepercayaan diri, bisa berdiri sendiri, yang bisa memilih sendiri jalan kehidupannya, penuh antusiasme dan mau bekerja bukan untuk kesenangan pribadi semata melainkan juga untuk lingkungannya.

    Kartini beruntung, Stella yang menjadi sahabat penanya adalah seorang gadis yang memiliki ide-ide feminis dan sosialis yang cukup maju pada saat itu. Banyak hal yang digali Kartini dari persahabatan melalui korespondensi dengan orang-orang yang memiliki budaya dan pendidikan yang berbeda darinya.

    Yang menarik untuk diperhatikan adalah pencerahan Kartini terhadap pemahaman agamanya sendiri. Pada awalnya ia mempertanyakan mengapa Al Qur’an harus dilafalkan tanpa ada kewajiban untuk memahami isinya.

    Dia mengerti benar bahwa agama seharusnya menjaga manusia dari berbuat dosa, tetapi sungguh banyak dosa yang diperbuat orang atas nama agama. Betapa pendalaman yang benar terhadap agama akan membawa manusia menjauhi kekelaman dosa.

    Kartini mengakui bahwa saling menolong dan membantu, serta saling mencintai itulah dasar dari segala agama. Walaupun dengan sangat kritis dia mengajukan berbagai pertanyaan dan kritik (seperti dalam hal poligami), tapi pada akhirnya dia yakin bahwa bagaimanapun ia akan tetap memeluk agamanya sendiri.

    Dari menggali keberadaan agama-agama lain (termasuk agama Budha yang juga sering disebut dalam suratnya), dia memperoleh pencerahan yang memperkuat pelayanan keimanannya.

    Ada yang mengatakan bahwa Kartini baru berpikir dalam konteks anak perempuan Jawa, tapi sebenarnya dia sudah berpikir melintasi batas regionalnya. Pada waktu mengembalikan beasiswa untuk studi di Batavia, ia mengusulkan seorang pemuda Sumatera untuk menggantikannya. Pemuda itu kemudian kita kenal sebagai Haji Agus Salim.

    Dari buku terjemahan Damais ini pada surat Kartini yang menyatakan pembicaraannya dengan Van Kol. Van Kol menerangkan betapa besar kesulitan Kartini setelah belajar di negeri Belanda untuk pulang kembali ke negerinya.

    Bagaimana beberapa perempuan Indonesia yang dikenalnya mengalami kesulitan karena menikah dengan orang Belanda, tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di negeri Belanda sementara suaminya tidak bisa mengikuti kehidupan di Indonesia.

    Keterkejutan Kartini dituliskan kepada sahabatnya Stella (17 Mei 1902), bagaimana dia menerangkan bahwa keinginannya ke Belanda semata-mata hanya untuk belajar agar dapat menjadi tenaga pengajar yang baik di Indonesia.

    Walaupun mungkin tidak dituliskannya secara mendetail, Kartini menerima lamaran Bupati Rembang banyak didasari pada pemikiran yang mendalam dan rasional. Meneruskan pengembangan dirinya pribadi bisa jadi Kartini tidak akan pernah berakhir pada pengajaran kaum perempuan.

    Ia menuruti perintah orang tuanya untuk menikah, karena tampaknya calon suami menjanjikan akan mendukung penuh kegiatan untuk mengajar bagi anak-anak perempuan di Jawa (surat kepada Nyonya Van Kol, 1 Agustus 1903).

    Apakah memperingati Hari Kartini berarti mengecilkan nilai kepahlawanan para pahlawan perempuan lainnya?

    Hal ini justru untuk mengingatkan kembali betapa banyak srikandi Indonesia yang pernah berjuang untuk negara.

    Aceh, yang termasuk sangat maju pada zamannya, merupakan asal dari srikandi-srikandi yang secara fisik ikut berjuang mengangkat senjata. Kebudayaan di Aceh, memang mendukung kemajuan emansipasi perempuan.

    Tahun 1599 Laksamana Malahayati telah memimpin barisan perjuangan Aceh di laut. Pada abad ke 17 ada Ratu Safiatuddin.

    Perjuangan Cut Nyak Dien (1850 – 1908) merupakan hasil didikan dari suami pertamanya Teuku Ibrahim Lamnga yang juga pejuang Aceh. Setelah suami pertamanya meninggal, Cut Nyak Dien sekali lagi mendapatkan pelajaran mengenai perjuangan dari suami keduanya Teuku Umar, yang kemudian Cut Nyak Dien sendiri meneruskan perjuangan Teuku Umar.

    Mengapa Kartini? Karena Kartini yang menorehkan pena memperkenalkan keberadaan perjuangan perempuan di Indonesia kepada dunia! Walaupun hanya menuliskan pandangan pribadi, mampu memperlihatkan visinya yang sungguh maju pada dunia.

    Dia sudah sepantasnya menjadi kebanggaan negeri ini. Mengenang Kartini bisa menjadi saat untuk mengenang perjuangan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Ny. Walandau Maramis, Christina Martha Tiahahu, dan semua pahlawan perempuan lainnya. Pahlawan tidak pernah berjuang untuk menorehkan nama emas, tapi untuk memperbaiki kehidupan orang banyak!

    Inilah makna yang lebih mendalam dari Hari Kartini, memperingati kebhinnekaan kita, mengingatkan kesatuan (Tunggal) kita dalam berjuang bersama-sama bahu membahu lelaki dan perempuan dalam memajukan bangsa Indonesia.

    Setiap daerah secara khusus memberi warna berbeda kepada kekayaan budaya dan perjuangan bangsa Indonesia.

    Hari Kartini sungguh unik karena berbeda makna dengan makna Hari Ibu. Walaupun terkait dengan Kongres Perempuan Indonesia, Hari Ibu pemaknaannya lebih banyak berawal dari budaya Mother’s day di luar negeri.

    Juga berbeda dengan makna hari Sumpah Pemuda, karena hari Sumpah Pemuda adalah titik mula pergerakan ke arah persatuan perjuangan bangsa sebagai satu kesatuan nasional, di mana bangsa kita bersepakat untuk menyatukan keragamannya ke dalam satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.
    Sedangkan Hari Kartini adalah hari kita memaknai perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia.

    Ada seorang teman merasa galau, dia mengungkapkan kegalauannya mengenai anggapan yang beredar mengenai emansipasi, dan pola pikir yang mencoba ditularkan para aktivisnya, yaitu:

    mengompori kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan porsi waktu yang lebih lama, sementara di rumah, cukup malam hari saja. Itu pun kalau tidak lembur. Membangunkan semangat pemberontakan bagi kaum Hawa, menanamkan pikiran bahwa selama ini mereka perempuan hak dan kewajiban yang sama, akan tetapi “dirampas” oleh kaum laki-laki.

    Atau dengan kata lain, bukan karena kodrat perempuan yang menjadikan ia dikuasai laki-laki, namun dipolitisir oleh kaum laki-laki itu sendiri. Mereka berpikir, kalau laki-laki tidak hamil, maka perempuan juga berhak untuk menolak ‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Jika laki-laki tidak menyusui anak, maka perempuan juga berhak menolak memberikan ASI. …

    Perempuan tidak hanya sebagai kåncå wingking, swargå nunut, neråkå katut, perempuan yang sejak lama dilekati atau ditundukkan dengan sifat nrimå, pasrah, lêmbah manah, sêtiå, lan alus.

    Banyak anggapan bahwa tradisi Jawa, perempuan tidak memiliki perspektif kesetaraan gender karena menempatkan perempuan sebagai kåncå wingking tadi, hanya mengurusi keperluan di dalam rumah, sebagai kaum yang dikekang, dibatasi, gampang menyerah, dan ‘feminin’.

    Mengapa begitu? Soalnya, wanita itu ibarat awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék (siang menjadi terompah/bakiak/babu, malamnya naik pangkat menjadi alas untuk ditindih).

    Akan lebih jelas lagi betapa rendah status wanita di kalangan kelompok masyarakat tertentu di Jawa. Di kalangan itu, wanita cuma tempat menumpahkan benih. Selebihnya babu atau budak.

    Adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi “3 ah”, sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology yakni ‘néng omah, olah-olah, mlumah ngablah-ablah’, (di rumah, memasak, {maaf} menelentang seseksi mungkin); dan “2 ak, yaitu ‘macak lan manak’, berdandan secantik mungkin dan melahirkan anak.
    Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati.

    Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak lan klangênan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).

    Di dunia wayang, tiap wanita muncul disambut dengan suluk ki dalang: Wanodyå ayu tåmå ngambar arum. Ngambar aruming kusumå, (wanita cantik memancarkan harum bunga). Bunga apa, tidak penting. Lalu dicåndrå oleh Ki dalang……….

    Pipiné ndurén sajuring = pipinya bak pauh dilayang.
    Jangguté nyangkal putung = dagunya bak lebah bergantung.
    Bangkèkané nawon kêmit = pinggangnya indah bak gitar gitar,
    Idêpé tumêngging tawang = alisnya bak semut beriring.
    Untuné miji timun = giginya bak biji ketimun.
    Drijiné mucuk êri = jari jemarinya lentik.
    Nétrané ndamar kanginan = matanya bersinar-sinar.
    Èsêmé pahit madu = senyumnya semanis madu.
    Rambuté ngêmbang bakung = rambutnya megar mengembang.

    Dalam peribahasa Melayu pun sering kita dengar:
    •Pipinya bak pauh [mangga] dilayang. (pauh adalah buah kuini, dilayang= dipotong memanjang dengan rapi);
    •Bibirnya bak delima merekah;
    •Dagunya bak lebah bergantung;
    •Alisnya bak semut beriring;
    •Rambutnya bak mayang [bunga kelapa] terurai;
    •Giginya bak biji mentimun;
    •Kulitnya halus bak pualam;
    •Tutur katanya semanis madu;
    •Suaranya merdu bak buluh perinduh;
    •Matanya bak bintang timur;
    •Kukunya bak kiliran taji,
    •Hidungnya bak dasun tunggal (dasun tunggal= bawang putih tunggal),

    Semua dilukiskan dari segi lahiriah semata, dan melihat seorang wanodyå (perempuan) cuma dari sudut pandang kecantikan lahiriahnya saja, sungguh bisa bikin merah muka dan bertanya-tanya, wanita hanya ditempatkan sebagai hiasan, wanita dipajang di etalase, hanya dihargai sebatas “barang dagangan”.

    Dalam ketoprak dan wayang pun, juga memberikan gambaran bahwa wanita yang mencoba mendekati pria karena jatuh cinta disebut ngunggah-unggahi atau suwitå, artinya mengabdi.
    Dan, kelak, bila sang pria tak lagi berkenan, wanita rela ditundhung diusir jauh-jauh.

    Gagasan Wanitå, wanitå atêgês wani ditåtå, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwitå dan ejekan awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.

    Itulah dunia perempuan, yang berada di dunia yang dikuasai sang sinuwun suami/lelaki.

    Kegalauan di atas tegasnya emansipasi, mungkin itu anggapan yang kebablasan mengenai emansipasi. Emansipasi berasal dari emancipate (bhs inggris) yang artinya memerdekakan/membebaskan. pengertian dari emansipasi itu sendiri adalah:

    perjuangan dalam meraih bebasan bagi kaum perempuan untuk menjadi apapun yg dia inginkan, kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, apapun itu (asalkan kebebasannya tsb tidak menggangu hak kebebasan orang lain-klo dia seorang ibu tentung yg dimaksud kebebasan anaknya untuk memperoleh ASI)

    Seorang perempuan bebas memilih menjadi ibu rumah tangga, perempuan karir, perempuan pelajar, perempuan pekerja yang juga ibu rumah tangga, perempuan yang menerima poligami, perempuan yang menentang poligami,perempuan yang mengikuti program KB, ataupun bila terpaksa perempuan yang menjadi kepala keluarga.

    Tidak ada prasangka yang membebani, tidak ada yang berhak menghakimi mana yang lebih sulit, mana yang lebih baik dan mana yang lebih mulia. Karena sama seperti semua pilihan-pilihanlainnya dalam hidup, semuanya itu memiliki keuntungan dan kelemahan.
    Semuanya itu memiliki permasalahan masing-masing.

    Tapi sering kali prejudice itu dilakukan oleh sesama kaum perempuan, umumnya secara tak sadar digembar-gemborkan oleh sinetron, novel, artikel dan media massa lainnya adalah:

    •Perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga, sering digambarkan sibuk arisan, bergosip, mati-matian mencoba berbagai macam kosmetik/diet/olah raga dengan motivasi “agar suaminya tidak melirik perempuan lain

    •Perempuan yang memilih untuk terus meneruskan pendidikannya, ada dua tipe yang sering digambarkan,
    o bila dia lajang, keinginan belajar itu dikarenakan kompensansi dari patah hati, anti perkawinan, atau trauma masa lalu sehingga dia menjadi pribadi yang anti romantisme.

    o sedangkan bila dia telah menikah, perempuan-perempuan ini dianggap egois karna lebih mementingkan menambah ilmu untuk diri, dibandingkan mendampingi anak-anaknya dalam menimba ilmu

    • Sedangkan perempuan yang memilih sebagai perempuan karir sering digambarkan, ambisius, manipulative, tidak bisa masak, apalagi membersihkan rumah /mencuci dll, dengan ucapan-ucapan yang sering kali menginjak-injak harga diri suaminya (yang digamparkan sebagai tipe suami yang lembek dan plin-plan).

    Masih banyak, prasangka-prasangka lain yang ditularkan lewat berbagai media massa, meskipun kadang hal itu mungkin memang benar terjadi, tapi itu bukan hal yang selalu terjadi. Dan yang menyedihkannya, prasangka-prasangka itu tumbuh subur karena perempuan juga.

    Seorang perempuan juga bebas berdandan sesuai dengan kenyamanan dirinya (tentu saja, asalkan tidak menggangu kenyamanan orang lain dan tidak pada tempatnya), menjadi perempuan yang modis, unik, tomboy, super manis, anggun, bebas saja, asal dia nyaman dan tetap dapat menjaga harga dirinya, tidak menjadikan dirinya menjadi objek pria/dunia bisnis.

    Itu semua bukan hanya demi dirinya, tapi demi anak-anaknya juga, karena generasi macam apa yang bisa tumbuh dari ibu yang tidak menghargai kata EMPUsebagai penghormatan pada kaum PEREMPUAN

    SELAMAT HARI KARTINI PEREMPUAN NUSANTARA

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nuwun Ki Bayuaji
      atas pencerahannya……..

  10. MAKNA KARTINI?

    KA-sih
    RonTal
    Ipun
    ki Is ……..

    Matur Suwun

  11. Test …
    Wis nulis kangelan …. kok hilang …

    • arep nulis maneh kelalen…untungE cuma
      tulisan ki, lha kalo duWEKe ki WIDURA.

      apa gak kangeLAN wektu diTEMPELkan…!!!

      • apalagi kalo duWEKe ki WIDURA cilik,
        tambah susah diTEMPELkan….katanya

        • Di lem wae wis iso kelet …
          Duweke Ki YuPram ki gawe bandul kalung ..
          Duweke Ki Pandan ditaruh di Sewaan …

    • halah…,
      alasan…
      tulisan kok isa ilang
      sapa sing nyolong…
      he he he …, mblayu….

      • ning Padepokan sebelah “SELUSIN” komen
        cantrik tadi malem menDELEP tanpa PAMIT,

        hayo sapa sing nYEDOT….!!??

  12. Hari ini berarti ada bonus bagi para Kartin i dan Kartono …… leres ki ….

    • njih ki,

      KARTINI bonus hari INI….KARTONO nunggu ki Tmg
      KARTOJUDO,

  13. pagi yang cerah di kotaraja….!!
    semoga membawa semangat untuk semua dalam gerak kehidupan….

  14. pagi yang cerah di kotaraja….!!

  15. koq gini…
    test…!!!

    • kenapa ki….ada yang GANJIL,

      kalo ki KARTOJUDO pagi ini pake KEBAYA ki TONO
      ra sah binggung,
      iTOE tanda ki Menggung KARTO memang PEREMPUAN,

  16. “padaMU KARTINI-KARTINI MUDA BANGSAku…!!”

    • semanGAT-mu HARI INI, BESUK dan MASA DATANG
      selalu cantrik nanti…diSINI, digandUK sini

      berGOJEG dan berGUYON bersama KAMI-KAMI…!!

  17. Meski ia meninggal dalam usia 25 tahun, namun Kartini mampu menanamkan nilai-nilai luhur bagi kaum wanita. Kartini mendobrak kesan bahwa wanita hanya berkutat di seputaran :
    ——sumUR…..dapUR…..kasUR——

    • Wanita masakan dipadakne
      – sumUR … iso diinceng … dijeguri …
      – dapUR … ana ambu masakan … juga trasi …
      – kasUR … yen lemu kaya PADMI …. cocok tenan … apalagi Mita! Cilik lan cimpluk

      • PADMI lemu
        MITA cilimpluk

        ????

  18. Hadir nongol di hari KARTINI

    • monggo ki Adji

  19. 55

    • 56

    • SEKEPEL, ….. seket pitu lewih

      • sweet seventy

        • Sweet sewidak punjul, jare konco nang masjid: wis mambu lemah.

          • sewidak loro, jarene konco
            nang goweS…tuambah rossO

          • kulo sewidak kirang sepaleh ki

          • =61 tahun 6 wulan

  20. 18…
    (umure)..

  21. dik satpam nakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal
    masak bilang mita pengen spt di foto itu? pake baju kaya gitu? …. iiih dik satpam saruuuuuuuuuuuuuuuuuu
    tak balang sandaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal
    nganti mlenthuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung
    beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen

    • Mengko nek adimu nakal ben disunat aja!
      Mit, …… mbok minta kewelasan Ki Ismoyo untuk dapat hadiah Kartinian MMGK-24, sukur sama 25-nya. Kalo yang minta cewe’ Ki Is gak mentoloan.😛😛😛

      • Jebul Ki Truno lagi fakauw…
        (sami, Ki..
        Belum bisa wedar karena Kitab e dibawa lari sama gerombolan wukir polaman lewat lobang rahasia..)..

        rung ketemu…

      • Leres Ki, ….. ternyata di Jaman Mojopait sudah ada multy partai :
        1. Partai Gajah Kencana, Ketua Umum Kakek Wungkuk, Sek Jend Brahmana Anuraga.
        2. Partai Wukir Polaman, Ketua Umum Orang Berselubung, Sek Jend. Kebo Janur.
        3. Partai Aluyuda, Ketua Umum Aluyuda,
        4. Partai Dharmaputera, Ketum Ra Kuti, Sekjend Ra Tanca.
        5. Partai Jayanegara adalah partai yang berkuasa, Ketum Jayanegara, Sekjend Adityawarman.

  22. Abseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen ……..?

    JOKO MLARAT

    Wiwit biyen mulo
    Aku rak wis kondo
    Aku wong nesto
    Tanpo bondo donyo

    Aku mlarat wong tuamu pangkat
    Aku rekoso uripmu wis mulyo
    Iki wis wancine kowe didaopke
    Karo priyo bagus sing podo sugihe

    Ora nyono lsn ora nglegiwo
    Yen sliramu tego polo kromo

    Srengenge ngulon parane
    Yen bengi rembulan parane
    Koyo ngene rasane wong ra duwe
    Tresno tensn kok anggep sepele

    Isuk tempe sorene dele
    Tresnamu mung abang abang lambe

  23. Terima kasih dik Mita..bonusnya tak tunggu di baturono nyegat bis Anekajaya jurusan Pacitan.

    • Terima kasih dik Mita…ki SURO tembangnya
      cantrik tunggu di PENDOPO padepokan GSeta.

      matur nuwun ki PANEMBAHAN,

  24. mentrikE pada LIBURAN ki Panembahan,

    • mentrikE pada diPINGIT ki PA….Panembahan,

  25. sugeng DALU kadang GSeta…selamat berLIBUR

    • iNGGIH, SUGENG DALU UGI KI MENGGUNG.

      • pENTUNGnya KI GEMBLEH,…sELAMAT
        bERTUGAS nJAGA gANDOK.

  26. mmgk 24 sampun kulo undhuh sonten wau. Libur tigang dinten mesthi rampung maos 24 jilid.

    Matur nuwun, sugeng dalu.

    • Alon-alon kemawon Ki Arga….ndak keselek…he he he.

    • Keselek basa Indonesianya tersedak. Boso Inggrise nopo nggih? Wah Ki Menggung Anatram mesti ngerti neh!

      • Bahasa inggrisnya “keloloden” Ki….he he he

  27. sowan, langsung ngunduh, matur nuwun

  28. Wah leres Ki Ismoyo, jebul laptop kulo ingkang bermasalah. Namung anehipun ingkang mboten saged dipun bikak ngantos sepriki namung jilid 23 thok, menawi ngeklik sanesipun njih lancar kemawon. Sakmeniko sareng ngangge Computer CORE 2 Duo, gandhok 23 saged dipun lebeti kanthi cepet.

    Waaaah, mantep niku…..Ki Arga…he he he.

  29. Kesuwun Ki Ismoyo, …..

  30. Matur nuwun Ki, titipanipun ingkang pun beto Neng Mita sampun katampi.
    Sugeng enjang

  31. Subuhan – jamasan – jum’atam

    • Bung PA pernah berkata, “Hai bangsaku, berilah kepadaku sepuluh pemudI, maka akan kugoncangkan dunia

      • 😀
        matur nuwun Ki Ismoyo

        • Matur nuwun Ki Ismoyo, Nanda Mita terima kasih titipannya wis tak ambil.

  32. Maturnuhun maturnuhun kitab nya Ki Is.
    maturnuhun jga buat mbak mita salam kenal ben tambah kenal heheheheheheheh
    ada tambahan kitab buat liburan

  33. weleh weleh …..
    liburan mankin sepiii yo …
    Ki PA opo muleh ke kerajaan rengat yo.
    titip dondong yo ki hahahahaahah
    maksud e dodol dondong e

  34. ketinggalan banyak episode…
    mumpung sempat tak unduhe..
    matur nuwun

  35. ki link ipun koq mboten wonteh njih ?!? Nyuwun tulung sanget


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: