JJYT-02

kembali ke JJYT 01 | lanjut ke JJYT 03

 

Laman: 1 2

Telah Terbit on 26/09/2018 at 21:24  Comments (101)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/jjyt-02-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

101 KomentarTinggalkan komentar

  1. JJYT 02 02-02

    TIDAK ADA PILIHAN lain bagi Prabasemi selain meloncat mundur sambil mencabut senjatanya yang selama ini terselip di belakang punggungnya, sebilah keris luk sembilan.

    Alangkah terkejutnya orang-orang yang sedang mengeroyok Prabasemi itu begitu menyadari di tangan kanan lawan mereka telah tergenggam sebilah keris luk sembilan dengan dapur Panji Sekar. Keris itu tampak bersinar redup di tangan Prabasemi.

    Tanpa sadar kelima orang itu telah menghentikan langkah mereka. Dengan jantung yang berdebaran mereka mencoba sekali lagi mengenali dapur keris itu yang bagi mereka sudah tidak asing lagi.

    “Keris Kiai Panji Sekar,” desis orang yang dipanggil Lurahe itu tanpa sadar sambil menahan nafasnya.

    Sedangkan kawan-kawannya yang juga dapat mengenali keris di tangan Prabasemi itu tak kalah terkejutnya. Mereka seolah telah membeku di tempat masing-masing.

    “Kalian mengenal keris ini?” bertanya Prabasemi kemudian sambil mengangkat keris di tangan kanannya tinggi-tinggi.

    Sejenak kelima orang itu saling berpandangan. Orang yang dipanggil Lurahe itulah yang akhirnya menjawab, “Kami mengenal pusaka itu sebagaimana kami mengenal pemiliknya, Resi Panji Sekar.”

    Prabsemi tersenyum sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan disarungkan kembali keris Kiai Panji Sekar itu ke dalam wrangkanya. Katanya kemudian, “Nah, jika kalian telah mengenal keris ini dan juga pemiliknya, tentu kalian akan mengurungkan niat kalian untuk merampokku.”

    “Ki Sanak benar,” sahut Lurahe cepat sambil memberi isyarat ke arah kawan-kawannya untuk menyarungkan senjata mereka. Lanjutnya kemudian, “Resi panji Sekar bagi kami adalah pelindung padukuhan Cangkring walaupun beliau sangat tidak setuju dengan cara hidup yang kami tempuh. Namun Resi Panji Sekar selalu memberikan perlindungan jika terjadi sesuatu dengan padukuhan kami.”

    “Di manakah Resi Panji Sekar sekarang ini berada?” bertanya Prabasemi memotong pembicaraan Lurahe.

    Sejenak orang-orang yang berada di padang Kerep itu menjadi heran. Seingat mereka Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan pusakanya itu. Namun kini di hadapan mereka sedang berdiri seseorang yang membawa pusakanya dan justru menanyakan keberadaan Resi Panji Sekar.

    “Apakah ada yang aneh dengan pertanyaanku, Ki Sanak?” bertanya Prabasemi kemudian begitu melihat kelima orang itu hanya diam termangu-mangu.

    Lurahe yang merasa bertanggung jawab atas kelompoknya itu segera bergeser selangkah maju sambil menjawab, “Ki Sanak, sebelumnya kami minta maaf atas perlakuan kami kepada ki Sanak. Walaupun kami belum jelas duduk permasalahannya, namun kami yakin Ki Sanak mempunyai hubungan dengan Resi Panji Sekar,” Lurahe berhenti sejenak untuk membasahi kerongkonagnnya yang menjadi kering. Lanjutnya kemudian, “Sejauh pengetahuan kami, Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan keris pusakanya itu. Itulah sebabnya orang-orang memanggilnya dengan nama Resi Panji Sekar sehubungan dengan keris pusaka Kiai Panji Sekar yang dimilikinya.”

    Prabasemi termenung. Kenangannya segera melayang saat dia baru saja sinengkakake ing ngaluhur, diangkat menjadi seorang Tumenggung di Kasultanan Demak. Suatu hari kakak seperguruannya Sembada jagal Kedung Wuni telah mengunjunginya bersama salah seorang cantrik perguruannya.

    “Adi Tumenggung,” demikian kakak seperguruannya itu kemudian berkata setelah sebelumnya saling menanyakan keselamatan masing-masing, “Aku baru saja menerima berita dari perguruan kita bahwa Guru sedang menderita sakit keras. Guru mengharapkan kedatangan kita berdua.”

    Sejenak Tumenggung Prabasemi termenung. Memang sudah cukup lama dia tidak mengunjungi padepokannya. Dulu semasa dia masih berpangkat Prajurit Wira Tamtama, masih banyak waktu luang bagi dirinya untuk mengunjungi padepokannya itu. Namun setelah dia diangkat menjadi Lurah Prajurit dan sekarang telah menjadi seorang Tumenggung, dirinya belum sempat meluangkan waktunya untuk menengok keberadaan perguruannya itu.

    “Siapakah yang membawa berita itu, Kakang?” bertanya Tumenggung Prabasemi kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

    “Aku Kakang Tumenggung,” jawab Cantrik yang duduk di sebelah Sembada dengan serta-merta, “Keadaan Guru benar-benar mengkhawatirkan. Beliau berpesan agar Kakang berdua segera hadir di padepokan.”

    Kembali Tumenggung Prabasemi termenung. Ketika tanpa sadar pandangan matanya menatap wajah kakak seperguruannya itu, tampak kecemasan yang sangat membayang di wajah Sembada jagal Kedungwuni itu.

    “Ki Sanak,” tiba-tiba terdengar suara Lurahe padang Kerep itu membuyarkan lamunannya, “Apakah memang benar Ki Sanak mempunyai hubungan khusus dengan Resi Panji Sekar?”

    Kembali Prabasemi termenung. Dia benar-benar dibuat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Lurahe padang Kerep itu. Keris pusaka Kyai Panji Sekar itu memang diterima langsung dari gurunya sebelum meninggal dunia. Pesan gurunya pun saat itu sangat singkat dan jelas.

    “Prabasemi,” demikian pesan gurunya ketika mereka berdua sendirian saja di senthong tengah, “Rasa-rasanya perjalananku sudah sampai ke batas. Hanya engkau muridku yang dapat aku percaya untuk menerima titipan ini sekaligus tugas yang selama ini aku bebankan di pundakku sendiri.”

    Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya. Tanpa terasa jantungnya berpacu semakin cepat. Dia seolah-olah merasakan bahwa saat-saat kepergian gurunya telah dekat.

    “Pergilah ke padukuhan Cangkring dan bawalah keris pusaka ini,” berkata gurunya kemudian sambil mengambil sebilah keris yang tersimpan dalam sebuah wrangka berpendok emas dan bertretes berlian dari balik bajunya, “Katakan bahwa engkau ingin berjumpa dengan seseorang yang bernama Resi Panji Sekar dan serahkan keris ini kepadanya.”

    “Ki Sanak,” kali ini terdengar suara Lurahe padang Kerep agak keras, “Apakah Ki Sanak mendengarkan pertanyaanku?”

    Prabasemi tergagap. Sejenak diedarkan pandangan matanya ke seluruh wajah-wajah yang menatapnya dengan seribu satu pertanyaan. Maka bertanya Prabasemi kemudian, “Apakah selama ini Resi Panji Sekar telah menjadi pelindung kalian?”

    “Ya,” hampir bersamaan setiap mulut telah menjawab. Lurahe padang Kerep lah yang kemudian meneruskan, “Seperti yang telah aku utarakan sebelumnya. Sebenarnya Resi Panji Sekar tidak setuju dengan cara hidup kami. Kami telah dibekali dengan berbagai ketrampilan untuk bercocok tanam dan beternak selain tentu saja ilmu olah kanuragan serba sedikit,” Lurahe berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun karena desakan kebutuhan hidup yang tak tertahankan, sesekali kami masih melakukan pekerjaan lama kami sekedar untuk menyambung hidup.”

    Prabasemi tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam benaknya telah muncul berbagai dugaan tentang orang yang menyebut dirinya Resi Panji Sekar itu.

  2. Matur nuwun sanget Mbah Man ugi Ki P Satpam akhire JJYT tidak terlupakan…

    Persoalan renungan nasib antara Prabasemi dan Agung Sedayu…renungannya sama “senengkakake ing ngaluhur” itu memang lamunan khusus bagi yang akan diangkat jadi tumengggung beda dengan renungan kalau diangkat hanya jadi lurah…hihihi

    Dan ada lagi persamaan soal lindung melindungi,
    Resi Panji Sekar adalah pelindung pedukuhan cangkringan dan Mat Brewok adalah pelindung kawasan kuliner angkringan untuk mencegah orang makan tidak bayar…. Hehe semangat pagi!!

    • Mudah2an Ki Adi Suta berkenan membuat ilustrasi cover ala kadarnya hitam putih juga orapopo …hehehe…

  3. Matur nuwun Mbah Man dan Ki P.Satpam

  4. Waduh. . .sayangnya tdk jadi dilanjut , pdhal pengen banget baca lanjutan NSSI. . ..heeemm

    • sabar Nyi….
      akan muncul wedaran pada waktunya nanti….

  5. Satpam salin pesan mbah_man ke sini

    Monggo diberi komentar sebanyak-banyaknya.
    —————————————————————————

    JEJAK JEJAK YANG TERLUPAKAN JILID 2

    Assalamu alaikum

    salam sejahtera bagi kita semua

    @ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan

    1. Banyak yang menanyakan kelanjutan JJYT

    2. JJYT jilid 2 sedang diproses

    3. Apakah para CanMen berminat dengan lanjutan JJYT ini?

    4. silahkan tulis komen sebanyak banyaknya dan akan menjadi pertimbangan mbah man untuk melanjutkan kisah Mahesa Jenar dan Rara Wilis ini.

    5. Matur suwun atas perhatiannya.

    Wassalamu alaikum

    sekar keluwih

    2 September 2020

    mbah man

    • Di tunggu kelanjutan ya..

    • Siap menunggu kelanjutan JJYT, siapakah Resi Panji Sekar… ?

      • siapp menunggu jjyt nya ….

    • Mantap ki….ini yg fi tunggu tunggu, kelanjutan kisah mahesa jenar

    • Kami sangat mengharap ada kelanjutanya…..

    • Siap menunggu wedharan lanjutan NSSI.
      Makasih Mbah Man dan Ki P Satpam.

    • Koq lama gak terbit kelanjutannya niki njih?
      Masih kita2 tunggu2

  6. Siap menyimak dan mendukung Mbah Man.

  7. Tetap menunggu kelanjutannya sayang kalau terputus cerita yg sangat menarik karena ada unsur humornya dari kelakuan Tumenggung Prabasemi…..hiks !!!

    • Siap menyimak, ditunggu kelanjutan nya

  8. Bila berkenan melanjutkan, insya Allah tetap setia

  9. Alhamdulillah…akhirnya ada wacana untuk dilanjutkan , maturnuwun Mbah_Man & P.Satpam semoga selalu dalam keadaan sehat dan keberkahanNya….aamiin

  10. berminaaaaaaaaaaattttttttttttttttttttttttt….. hehehe, awalnya kok ndak ketemu saya…

  11. Kisah Kakang Panji muda yang jauh dikemudian hari dikalahkan oleh Kiai Gringsing. Tentu sangat menarik sekali cerita ini nanti, cerita yang menghubungkan NSSI dengan ADBM. Justru menjadi sangat penasaran bagaimana cara mengolah cerita agar tidak menjadi janggal aneh, khususnya dalam hal ilmu kagigdayan tokoh-tokoh utamanya. Sepanjang cerita NSSI banyak tokoh besar semua mempunyai puncak ilmu andalan, Sasra Birawa, Cundha Manik dll semua tidak ada ilmu kanuragan yang sifatnya dilontarkan. Bahkan ADBM episode awal juga masih sama, sampai Ki Pemanahan dalam suatu peristiwa diserang orang dijalan harus melontarkan keris Kiai Naga Kumala untuk menyelamatkan Untara yang terdesak lawan. Kira-kira bagaimana ya cara menuturkan tentang Kakang Panji muda ?? Bila ilmunya terlalu tinggi bukannya berarti tokoh-tokoh dijaman itu kemudian mjd tidak ada artinya, ada Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana dll. Heeeeemmm. . .tentu sangat menarik untuk disimak, menunggu wedharannya he he terima kasiiihhh

  12. Berminat saestu…
    Maturnuwun mugi kaberkahan sehat bingah mbah Man ugi p.satpam
    Aamiin

  13. Wah, wah, mulai ramee….
    Lanjutkan mbah man…pliiiis
    Hehehe.
    Maturnuwun atas perhatiannya

  14. “Aku mempunyai dugaan bahwa Resi Panji Sekar itu adalah guru sendiri, menilik kebiasaan guru yang sering bepergian meninggalkan padepokan untuk beberapa saat lamanya,” berkata Prabasemi dalam hati setelah menimbang-nimbang beberapa saat, “Aku yakin guru mempunyai tujuan tertentu di padukuhan Cangkring ini, dan agaknya guru telah memilih aku untuk meneruskan perjuangannya di padukuhan ini.”

    “Ketahuilah kalian semua,” berkata Prabasemi pada akhirnya, “Keris pusaka Kiai Panji Sekar ini aku terima langsung dari guruku, dan aku telah menerima wasiat sebelum beliau meninggal dunia untuk menemui seseorang yang disebut Resi Panji Sekar di padukuhan Cangkring.”

    Berdesir tajam dada setiap orang yang ada di padang Kerep itu. Bahkan orang yang terkena pukulan Prabasemi itu pun dengan jantung yang berdebaran telah ikut bangkit berdiri walaupun kedua lututnya masih terasa gemetaran.

    “Guruku memang tidak pernah menyebutkan dari mana beliau mendapatkan keris ini. Namun satu hal yang membuat aku berani menarik sebuah kesimpulan dari peristiwa ini, Resi panji Sekar itu adalah nama lain dari guruku,” berkata Prabasemi selanjutnya kemudian.

    Untuk beberapa saat Lurahe padang Kerep dan kawan-kawannya hanya dapat saling pandang. Mereka sama sekali tidak mendapat gambaran tentang guru Prabasemi itu sehingga tidak berani mengambil kesimpulan.

    “Ki Sanak,” berkata Lurahe padang Kerep itu setelah sejenak mereka terdiam, “Apakah Ki Sanak mempunyai alasan yang kuat sehingga telah mengganggap guru Ki Sanak adalah Resi Panji Sekar itu sendiri?”

    “Ya,” jawab Prabasemi dengan serta merta, “Sewaktu aku belum memasuki dunia keprajuritan, guru sering meninggalkan padepokan untuk waktu yang cukup lama. Bahkan ketika aku sudah menjadi seorang prajurit Wira Tamtama di Demak pun guru masih sering melakukan kesenangannya itu, menjelajahi hutan dan lembah serta gunung dan padukuhan-padukuhan terpencil. Setidaknya itu menurut cerita kakang Sembada, kakak seperguruanku yang sering mengunjungi padepokan.”

    Kembali orang-orang yang hadir di padang Kerep itu termenung. Namun sesuatu akhirnya terlintas dalam benak Lurahe padang Kerep. Maka katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak, jika memang Resi Panji Sekar itu adalah gurumu, tentu Ki sanak dapat menyebutkan ciri-ciri serta bentuk kewadagan yang mungkin dapat kami gunakan untuk membandingkan dengan bentuk kewadagan Resi Panji Sekar.”

    Prabasemi menarik nafas dalam-dalam mendengar permintaan Lurahe itu. Permintaan yang sangat sederhana, namun jika ternyata bentuk kewadagan gurunya sama sekali tidak mirip atau bahkan jauh dari gambaran seorang yang menyebut dirinya Resi Panji Sekar itu, teka-teki yang selama ini menyelimuti Resi Panji Sekar itu pun kembali gelap, segelap malam di bulan tua.

    Namun akhirnya Prabasemi tidak mendapatkan jalan lain kecuali memenuhi permintaan orang yang disebut Lurahe Padang Kerep itu. Maka Prabesemi pun kemudian menyebutkan ciri-ciri kewadagan yang dimiliki oleh gurunya.

    Untuk beberapa saat orang-orang yang mengerumuni Prabasemi di padang Kerep itu menahan nafas. Pikiran serta perasaan mereka benar-benar sedang terhayut oleh penjelasan Prabasemi yang terdengar sangat terang trawaca bagaikan melihat sasadara manjing kawuryan.

    Begitu Prabasemi selesai memberikan keterangan tentang ciri-ciri kewadagan gurunya, Lurahe Padang Kerep segera membungkuk dalam-dalam dan merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada. Bagaikan berjanji sebelumnya, kawan-kawan Lurahe padang Kerep itupun segera melakukan hal yang sama.

    Terkejut Prabasemi mendapat perlakuan seperti itu. Namun sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata untuk mencegah perbuatan lebih jauh dari orang-orang itu, Lurahe Padang Kerep telah duduk bersila yang diikuti oleh kawan-kawannya.

    Berkata Lurahe padang Kerep kemudian, “Ampun Anakmas. Kami benar-benar orang-orang bodoh yang tidak tahu dengan siapa berhadapan. Kiranya Anakmas adalah benar-benar murid Resi Panji Sekar. Mohon diampunkan kesalahan kami dan sudilah kiranya Anakmas berkunjung ke padukuhan kami dan membimbing kami sebagaimana dulu yang telah dilakukan oleh Resi Panji Sekar.”

    Untuk beberapa saat prabasemi justru telah membeku di tempatnya. Walaupun dia sudah menduga sebelumnya, namun pengakuan Luhare padang kerep mewakili kawan kawannya itu benra benar telah mengguncang jantungnya.

    “Mereka memerlukan bimbingan dan seorang pemimpin,” membatin Prabasemi dengan jantung yang masih berdebaran, “Aku harus dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam. Walaupun aku tidak mungkin merang kampuh jingga kepada Demak, namun keberadaanku bersama orang orang padukuhan Cangkring ini harus membuat Demak gelisah dan terganggu.”

    Berpikir sampai disitu Prabasemi segera berkata, “Aku memang mendapat wasiat dari mendiang guruku untuk mengunjungi padukuhan Cangkring. Namun setelah aku yakin bahwa Resi Panji Sekar itu adalah guruku sendiri, maka agaknya guru memang telah membebankan tugas itu kepadaku untuk membimbing kalian menggantikan guruku.”

    Segera saja tampak wajah wajah yang cerah dari Lurahe padang Kerep dan kawan kawannya. Sambil mengangguk angguk, Lurahe padang Kerep menyahut, “Terima kasih Anakmas. Mewakili seluruh kawula padukuhan Cangkring, kami mengucapkan ribuan terima kasih dan kami menunggu uluran tangan Anakmas untuk membimbing kami.”

    Terasa betapa dada Prabasemi bergetar mendengar permintaan Lurahe padang Kerep itu. Namun dengan cepat Prabasemi menjawab, “Sudahlah, mari kita ke padukuhan. Aku ingin melihat lihat keadaan padukuhan kalian sebelum memutuskan untuk tinggal atau tidak.”

    Kata kata Prabasemi yang terakhir itu telah membuat mereka saling pandang. Namun ketika Prabasemi kemudian memberi isyarat untuk berdiri, serentak merekapun kemudian berdiri dan mengikuti langkah Prabasemi.

    • Matur nuwun sanget Mbah Man👍🙏

      Prabasemi memang selalu beruntung kalau mau melampiaskan dendam selalu diberi jalan tapi kesialan nasibnya tidak akan berubah karena mas karebet lebih cerdik…..hehehe

      Semoga Ki Adi Suta jga ikutan memposting ilustrasinya …ting😊

      • Benar ki adiwaswa
        Semenjak ki adi suta jadi ilustrator, stsd jd makin yahud. Ilustrasinya jempolan, tidak ada pengaruh garis manga seperti ilustrasi jaman now.

        • Semoga Ki Adi Suta berkenan Ki Arif👍😊

    • Alhamdulillah…..

      sudah mulai ada wedaran….

      • Alhamdulilah….sehat sll @mbah man….p satpam…

    • Matur nuwun Mbah Man …

  15. Wah pasti gk akan ku lewatkan ini

  16. Pebruari 2017 s/d September 2020, baru ada “lori jjyt” yg lewat
    Wonten menopo nggih..?? 🤔🤔

    Sasaji 🙏

  17. Dalam pada itu malam semakin menghujam ke pusatnya. Tampak Kebo Kanigara sedang duduk termenung di teritisan gandhok kanan kediaman Ki Ageng Banyubiru. Kedua tangannya bersilang di dada sementara pandangan matanya tampak kosong menatap jauh ke kegelapan.

    Terdengar beberapa kali dia menarik nafas dalam dalam. Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya.

    “Widuri agaknya sudah mulai menyadari kedewasaannya,” membatin Kebo Kanigara kemudian sambil matanya menerawang ke atap teritisan, “Selama ini mungkin dia masih menganggap Arya Salaka sebagai teman bermain. Namun kejadian menggemparkan di hutan Prawata kemarin tentu telah mengubah cara pandangnya terhadap anak laki laki satu satunya penguasa Banyubiru itu.”

    Kembali Kebo Kanigara menarik nafas panjang. Dilemparkan pandangan matanya ke arah gardu. Tampak beberapa pengawal yang sedang berjaga mencoba mencegah kantuk dengan berbagai cara. Ada yang bermain mul mulan, ada yang berusaha menghilangkan kantuk dengan berjalan mondar mandir di depan regol. Sementara seorang pengawal yang bertubuh gemuk tampak sedang duduk terkantuk kantuk di pojok gardu.

    “Jika memang hubungan kedua anak itu telah direstui oleh orang orang tua, sebaiknya memang untuk sementara Widuri aku bawa pergi,” kembali Kebo Kanigara berangan angan, “Tapi pergi ke mana? Aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Aku telah menjadi orang yang kleyang kabur kanginan, turu bantalan bumi kemulan mega.”

    Terdengar desah perlahan dari mulut Kebo Kanigara. Betapapun sebagai seorang ayah, dia merasa telah menelantarkan anak perempuan satu satunya itu.

    Tiba tiba terbersit keinginan untuk ke Gunung Kidul. Setidaknya mereka berdua masih dapat menumpang tinggal di sana untuk beberapa bulan sebelum Mahesa Jenar dan Rara Wilis pindah ke kotaraja. Namun keinginan itu segera dihapus dari benaknya. Kebo Kanigara tidak ingin merepotkan keluarga Gunung Kidul.

    “Memang sebaiknya aku dan Widuri kembali saja ke padepokan Karang Tumaritis,” berkata Kebo Kanigara kemudian dalam hati sambil mengangguk angguk, “Alangkah tenangnya hidup di padepokan itu. Mungkin Panembahan Ismaya oleh Sultan Trenggana diminta untuk tinggal di istana, tetapi itu tidak menjadi soal bagiku. Aku akan memimpin para cantrik yang berada di padepokan Karang Tumaritis.”

    Kali in tampak sebuah senyum mengembang di bibir Kebo Kanigara. Namun dengan cepat senyum itu terhapus dari wajahnya begitu bayangan seorang gadis yang menginjak dewasa melintas dalam benaknya.

    “Apakah Widuri setuju dengan rencanaku ini?” sebuah pertanyaan pun menyelinap dalam benaknya.

    Kembali Kebo Kanigara terlihat gelisah. Endang Widuri sudah terlalu lama menderita. Semenjak istrinya meninggal, dia bagaikan orang linglung membawa anak perempuan satu satunya yang masih kanak kanak itu merantau menjelajahi bukit, lembah dan ngarai. Tak jarang mereka berdua mendapat belas kasihan dari orang orang padukuhan yang mereka lewati. Sesuap nasi dan bahkan tawaran untuk tinggal pun sering mereka dapatkan.

    Namun hati Kebo Kanigara tidak pernah merasa tenang sampai dia terdampar di padepokan Karang Tumaritis. Perbedaan kepercayaan dan pemahaman dalam melaksanakan ibadah kepada Yang Maha Agung ternyata telah menimbulkan korban melebihi sebuah perang sekali pun.

    Terbayang kembali dalam benak Kebo Kanigara. Pagi tadi sebelum sinar Matahari pagi yang pertama menyentuh bumi, barisan pasukan pengawal perdikan Banyubiru telah meninggalkan hutan Prawata. Mereka meninggalkan hutan Prawata dalam suasana yang sangat berbeda dengan saat mereka datang. Tidak ada wajah wajah yang tegang dan gelisah. Yang tampak hanyalah tawa riang serta canda sepanjang perjalanan mereka kembali ke Banyubiru.

    Di simpang jalan Mahesa Jenar dan Rara Wilis serta Ki Ageng Pandan Alas memisahkan diri. Mereka langsung kembali ke Gunung Kidul.

    “Percayalah, aku pasti datang ke perhelatan adi berdua. Bukankah waktunya masih bulan depan?” demikian janjinya waktu Mahesa Jenar mengajaknya ke Gunung Kidul.

    Sebenarnya bukan masalah waktu yang membuat Kebo Kanigara enggan mengikuti mereka. Namun keberadaan anak perempuan satu satunya yang menunggu di Banyubiru yang telah menggelisahkan hatinya.

    Kembali Kebo Kanigara berdesah perlahan. Yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan semua orang, termasuk dirinya. Semua orang di kediaman Ki Ageng Banyubiru telah mengenal watak Endang Widuri yang riang dan polos. Bahkan para pengawal pun banyak yang mengenalnya. Namun sambutan Endang Widuri atas kedatangan Arya Salaka dan pasukannya itu sangat jauh dari harapan, terutama harapan yang telah berkembang dalam dada Arya Salaka.

    Arya Salaka dan pasukan pengawal segelar sepapan itu memasuki perdikan Banyubiru menjelang senja. Ki Ageng Lembu Sora dan pasukannya memilih langsung pulang ke Pamingit. Beberapa kali Ki Ageng Gajah Sora berusaha untuk menahan agar bersedia mampir dan beristirahat di Banyubiru. Namun Ki Ageng Lembu Sora terlihat sudah tidak dapat dibujuk lagi.

    Demikianlah Arya Salaka yang berkuda di paling depan itu duduk dengan dada tengadah. Di tangan kanannya tergenggam tombak kebanggan perdikan Banyubiru, Kiai Bancak. Sementara di lambungnya terselip sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning keemasan, Kiai Suluh.

    Para kawula perdikan Banyubiru yang mendengar kedatangan pasukan itu telah berhamburan ke tepi jalan. Beberapa laki laki telah membawa obor sehingga pemandangan sepanjang jalan terlihat sangat terang benderang.

    Ketika pasukan itu kemudian memasuki alun alun dan berhenti di sana. Arya Salaka sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dengan segera dipacu kuda tunggangannya menuju rumah yang terletak di seberang alun alun, rumah Ki Ageng Banyubiru.

    Tedengar kembali Kebo Kanigara berdesah mengenang peristiwa yang terjadi di halaman rumah Ki Ageng Banyubiru sore tadi. Dirinya yang juga merasa khawatir dengan keadaan anak perempuan satu satunya juga telah berpacu menyusul Arya Salaka.

    Di halaman ternyata telah banyak orang orang yang berkumpul. Ki Sora Dipayana dan para kerabat serta para pembantu rumah Ki Ageng. Di antara orang orang yang berdiri berdesak desakan itulah terselip seorang gadis kecil yang mulai beranjak dewasa, Endang Widuri.

    Arya Salaka yang memacu kudanya tanpa turun ketika melewati regol itu terkejut. Ternyata telah banyak orang yang berkerumun di halaman menyambut kedatangannya.

    Dengan cepat ditariknya kendali kuda yang melaju dengan kencang itu sehingga telah membuat kudanya meringkik keras keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi tinggi. Namun dengan tangkasnya Arya Salaka segera meloncat turun dari kudanya. Sementara Kebo Kanigara yang berkuda di belakangnya telah memasuki halaman pula.

    Dengan tergopoh gopoh Arya Salaka segera mendapatkan kakeknya. Betapa wajah Ki Ageng Sora Dipayana itu menyiratkan perasaan yang tiada terkira. Sepasang mata yang telah berkeriput itu pun terlihat berkaca kaca.

    “Engkau selamat, ngger?” sapa Ki Ageng Sora Dipayana sambil memeluk erat Arya Salaka. Arya Salaka pun membalas pelukan kakeknya.

    “Atas restu dan doa kakek, kami seluruh pasukan Banyubiru dalam keadaan selamat,” jawab Arya Salaka sambil berusaha melepaskan pelukan kakeknya.

    Sejenak Arya Salaka mundur selangkah. Pandangan matanya nanar mencari cari seraut wajah yang sudah sangat dirindukannya. Ketika pandangan matanya kemudian membentur seraut wajah yang selama ini menghiasi mimpi mimpinya, Arya Salaka pun segera melangkah mendekat.

    Namun alangkah terkejutnya Arya Salaka ketika tangan Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik lengannya sambil berdesis perlahan, “Arya, engkau belum sungkem kepada ibumu.”

    Teguran itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Hati Arya Salaka pun tercekat. Di tengah kesibukannya untuk menemui pujaan hatinya, ternyata dia telah melupakan ibunya. Perempuan yang telah melahirkannya, perempuan yang tetap akan menyayanginya sepanjang hayat di kandung badan, bahkan sampai akhir jaman.

    • Wah, wedaran baru…
      Maturnuwun mbahman 🙏

    • Matur nuwun sanget Mbah Man atas luangan waktu merangkai kembali JJYT sangat terasa seperti kembali ke NSSI karena bertemu kembali pada tokoh2nya 👍👍🙏💪😊

    • Menunggu undangan Walimatul Urusy Mahesa Jenar dan Rara Wilis…..

    • Matur nuwun Mbah Man

    • Dimana kelanjutannya , maaf klak klik sana sini belum ketemu juga. Apakah mungkin tulisan tertanggal 11-09-2020 ini tulisan terakhir blm ada lanjutannya nggih ?

  18. Nyimak ah biar ramai..

    • Alhamdulillah, ternyata sdh ada gandhok utk melepas kerinduan atas Mahesa Jenar dkk. Para canmen sgt mengharapkan kesediaan Mbah Man dan para punggawa cersil utk melanjutkan sekuel NSSI hingga nyambung dg kisah Ki Mintardja lainnya yg berlatar Demak-Pajang-Mataram. Request dr sy terutama yg mengisahkan persahabatan mas Karebet, ki Pemanahan, ki Penjawi dan ki Juru martani sejak msh muda & sama2 berguru kepada ki Ageng Sela.

  19. Wayah semanten biasanipun “Lori jjyt” liwat (menawi mboten kesupen masinise he..he..he…)

    Sugeng siang sedanten
    Sasaji 🙏

  20. Nunggu gerbong koq durung liwat2 yo🙄

  21. Setia menunggu he he

  22. Untuk beberapa saat Arya Salaka berdiri membeku bagaikan sebuah patung batu di tempatnya. Tampak di belakang Ki Ageng Sora Dipayana seorang perempuan parobaya yang berdiri dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya, Nyi Ageng Gajah Sora.

    “Ibu,” bisik Arya Salaka perlahan seolah suaranya tersangkut di tenggorokan.

    Dengan bergegas dia segera mendapatkan Nyi Ageng Gajah Sora. Sambil berjongkok, dipeluknya kedua kaki ibunya itu dengan sangat eratnya.

    “Sudahlah, ngger,” desah Nyi Ageng Gajah Sora sambil mengusap linangan air mata di kedua pipinya, “Bangkitlah. Temui pujaan hatimu agar engkau menjadi tenang dalam menyongsong hari hari depanmu.”

    Suara ibunya itu bagaikan minyak yang menyirap api dalam dadanya yang hampir padam. Setelah bangkit dan kemudian mencium tangan ibunya, Arya Salaka pun segera melangkah menuju ke tempat Endang Widuri berdiri menunggu.

    Namun alangkah terkejutnya hati Arya Salaka. Impiannya untuk mendapatkan sambutan yang penuh cinta serta senyum yang menggoda punah sudah. Gadis kecil yang terlihat mulai beranjak dewasa itu hanya tampak tersenyum sekilas sambil mengangguk dalam dalam.

    “Selamat datang kakang,” berkata gadis itu kemudian dengan suara sedikit sendat. Lanjutnya kemudian dengan kepala tetap tertunduk dalam dalam, “Bukankah semuanya baik baik saja?”

    Berdesir dada Arya Salaka. Apa yang diimpikannya ternyata tidak menjadi kenyataan. Dia menginginkan gadis kecil itu berlari lari mendapatkannya. Kemudian sambil melonjak lonjak kegirangan dan mengguncang guncang lengannya dia berkata, “Ayo kakang! Ceritalah! Perjalanan ke hutan Prawata itu tentu sangat mengasyikkan.”

    Itulah harapannya ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di halaman rumah setelah hari hari yang mendebarkan berlalu. Namun ternyata gadis itu hanya mengucap sepatah dua patah kata dan selebihnya hanya tertunduk malu.

    “Aku dan seluruh pasukan tidak apa apa, Widuri,” terdengar agak canggung suara Arya Salaka. Lanjutnya, “Bukankah engkau baik baik saja?’

    Tampak kepala Endang Widuri terangguk kecil. Benar benar sebuah sambutan yang sangat di luar dugaan dan harapan Arya Salaka.

    Kebo Kanigoro yang telah sampai di tempat itu dan hanya berdiri beberapa langkah saja di belakang Arya Salaka ikut menarik nafas dalam dalam. Agaknya Endang Widuri sudah mulai menyadari akan kedewasaannya sehingga tidak sepantasnya dia merajuk dan bermanja manja di hadapan Arya Salaka.

    “Widuri, engkau tidak apa apa?’ tiba tiba suara Kebo Kanigara di belakang Arya Salaka telah mencairkan kebekuan di antara keduanya.

    Endang Widuri yang mendengar suara ayahnya itu segera terpekik kecil. Dengan pandangan nanar dicarinya arah suara itu. Ketika terlihat ayahnya berdiri hanya beberapa langkah saja di belakang Arya Salaka, gadis kecil yang mulai beranjak dewasa itu pun segera berlari menghambur.

    “Ayah!” terdengar seruan Endang Widuri diselingi sebuah isak tangis. Kebo Kanigara pun hanya dapat menarik nafas dalam dalam ketika anak perempuan satu satunya itu kemudian menangis sejadi jadinya di dalam pelukannya.

    Arya Salaka tertegun sejenak. Hatinya yang semula kecewa, sedikit terobati melihat pemandangan itu. Dia harus menyadari bahwa Endang Widuri belum mempunyai ikatan apa apa dengan dirinya. Tidak selayaknyalah jika kedatangannya disambut dengan tangisan dan pelukan.

    “Akulah yang bodoh!’ geram Arya Salaka dalam hati sambil melangkah menaiki tlundak pendapa, “Gadis itu masih milik ayahnya dan aku sudah berharap terlalu banyak. Benar benar bodoh!”

    Tak henti hentinya Arya Salaka menyesali angan angannya yang terlalu melambung. Ketika sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil, Arya Salaka pun kemudian berpaling. Tampak Nyi Ageng dengan bergegas sedang menyusulnya.

    “Tunggulah Arya!’ seru Nyi Ageng sambil menaiki tlundak pendapa, “Aku sudah memasakkan sayur dan lauk kesukaanmu, sayur nangka dan ikan gumareh bakar.”

    Arya Salaka tersenyum. Ibunya masih saja memperlakukannya seperti kanak kanak. Itu tidak mengherankan karena Arya Salaka pergi dari Banyubiru ketika usianya baru saja meninggalkan masa kanak kanaknya.

    • Terimakasih mbah man.. Lama nunggu ya baru ada wedarannya.. Sehat & sukses terus.. Amiin…

    • Alhamdulilah. . . .akhirnya ada lanjutan, terimakasiiiih Mbah Man.

      • Maturnuwun mBahMan PSatpam atas wedarannya sehat selalu Aamiin.

    • Alhamdulillah….

      Yang ditunggu datang juga.

      • Ternyata mBahMan sendiri yang wedaran disini,🙏.

        • Inggih…
          rontal masih digembol Panembahan.
          hi hi hi …..

          Satpam hanya menunggu gandok saja, buka-tutup pintu dan sekali-sekali nyapu

      • Alhamdulillaah.. mugi mbah man & p satpan sekeluarga senantiasa sehat..

    • Akhirnya setelah menanti2, ada gerbong yg lewat juga. Matur sembah nuwun mbah Man.

  23. Alhamdulillah, akhirnya ada kelanjutan kisah petualangan tokoh tokoh NSSI, matur suwun mbah Man, lan sedoyo punggowo cersilindonesia. Mugi tansah pinaringan sehat, lancar sedayanipun. Aamiin

  24. Sampai di sini lamunan Kebo Kanigara terhenti. Terdengar murid perguruan Pengging itu menarik nafas dalam dalam sambil melemparkan pandangan matanya ke titik titik di kegelapan malam.

    “Aku akan berbicara dengan Widuri besuk pagi,” berkata Kebo Kanigara kemudian dalam hati sambil bangkit berdiri, “Aku akan memberinya beberapa pandangan tentang masa depannya. Semoga dia dapat menyadari dan akhirnya menerimanya.”

    Dengan perlahan Kebo Kanigara pun kemudian melangkah ke biliknya untuk beristirahat.

    Dalam pada itu di pinggir hutan yang cukup lebat, di belakang sebuah gumuk kecil, tampak regol padepokan Sari Pati yang tertutup rapat. Regol padepokan itu memang tidak dijaga pada malam hari, hanya diselarak dari dalam dengan kuat. Sementara sebuah lampu dlupak tampak disangkutkan di salah satu tiang regol.

    Malam sudah melewati sirep uwong ketika tampak Ki Surapada sedang bercakap cakap dengan anak laki laki satu satunya di pringgitan.

    “Panji,” terdengar suara Ki Surapada yang rendah dan datar, “Sudah waktunya bagi kita untuk membuka tabir teka teki yang menyelimuti perguruan Sari Pati sepeninggal ayahanda Dipasura. Terus terang aku mencurigai Widarba. Hanya Widarba yang berada di sisi ayahanda pada saat ayahanda menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.”

    Panji tampak merenung sejenak. Raut wajahnya menunjukkan sebuah pertanyaan yang belum terjawab.

    “Apakah engkau mengerti maksudku, Panji?” bertanya Ki Surapada kemudian begitu melihat kerut merut di kening anaknya.

    Panji menarik nafas dalam dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. Jawabnya kemudian, “Ayahanda, aku tidak mengerti apa hubungan antara meninggalnya kakek Dipasura dengan paman Widarba. Paman Widarba hanyalah seorang cantrik biasa. Bahkan setelah sekian lama berguru, dia masih saja menjadi seorang cantrik. Kemampuannya belum dapat disejajarkan dengan kemampuan seorang putut.”

    “Aku tidak membicarakan kemampuan Widarba cantrik tua itu,” tukas ayahnya cepat, “Aku ingin engkau menyadari bahwa ayahanda Dipasura pasti meninggalkan sesuatu kepada perguruan Sari Pati namun yang sampai sekarang masih dirahasiakan oleh cantrik tua itu.”

    Kerut merut kembali tampak di wajah Panji. Bertanya Panji kemudian, “Jika memang kakek Dipasura mewariskan sesuatu untuk padepokan Sari Pati, mengapa sampai sekarang paman Widarba masih merahasiakannya?”

    “Itulah yang aku tidak tahu,” sahut ayahnya dengan serta merta sambil menarik nafas dalam dalam. Lanjutnya kemudian, “Seperti yang engkau ketahui kejadian tadi pagi. Murid murid perguruan Blarak Sineret dari lereng gunung Sindara yang merasa berhak memiliki keris Kanjeng Kiai Sarpa Sri telah datang kemari untuk mengambilnya. Sepanjang pengetahuanku, keris pusaka itu tidak pernah terpisah dengan ayahanda Dipasura.”

    “Jadi?” sela Panji dengan raut wajah menjadi tegang, “Ketika kakek meninggal, ayahanda tidak mengetahui keberadaan keris pusaka itu?”

    Ki Surapada menggeleng. Jawabnya kemudian, “Itulah yang telah membuatku curiga terhadap cantrik tua itu. Jika ayahanda Dipasura menitipkan keris pusaka itu kepada Widarba, seharusnya keris pusaka itu jauh jauh hari sudah diserahkan kepadaku,” Ki Surapada berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun jika saat ayahanda meninggal tidak sempat berwasiat kepadaku melalui cantrik tua itu, aku justru menduga keris pusaka itu telah disembunyikan oleh Widarba.”

    “Untuk apa ayahanda?”

    Ayahnya mengerutkan kening dalam dalam. Jawabnya kemudian dengan suara bagaikan geraman seekor harmau lapar, “Tentu saja untuk kepentingan pribadinya, apalagi!”

    Wajah Panji terlihat semakin tegang. Dengan suara berat dan dalam anak laki laki semata wayang Ki Surapada itu pun kemudian ikut menggeram, “Ayahanda, biarkan aku sendiri yang akan mencekik lehernya! Kalau perlu malam ini semuanya harus dituntaskan!”

    Sebuah senyum tampak tersungging di bibir Ki Surapada. Katanya kemudian sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Bagus, Panji! Tugas ini aku serahkan kepadamu! Malam ini ketika semua cantrik telah berangkat tidur, panggil Widarba untuk menghadap di sanggar! Terserah cara apa yang akan engkau pergunakan untuk membuatnya mengakui segala perbuatannya!”

    “Jangan khawatir ayahanda! Aku akan membuatnya berbicara sampai nafasnya terputus!”

    “Namun ada satu hal lagi yang sangat penting,” sela ayahnya kemudian, “Kitab perguruan Sari Pati peninggalan kakek buyut Pangeran Handayapati sampai sekarang aku belum pernah melihat ujudnya. Selama ini aku mendapat tuntunan olah kanuragan jaya kawijayan guna kasantikan langsung dari ayahanda Dipasura. Demikian juga engkau mendapat tuntunan langsung dariku. Kitab pusaka perguruan Sari Pati itu harus ditemukan. Entah di mana ayahanda Dipasura menyimpannya. Engkau dapat bertanya kepada Widarba. Mungkin dia juga mengetahuinya.”

    • Alhamdulillah…..
      matur suwun Panembahan.

      • Senajan wis rong wulan, tetep tak enteni. Nuwun mbah Man ugi ki P. Satpam mugi tansah pinaringan sehat.

      • salut upaya luar biasa keras mbah man mengolah bahan2 dari SHM dan “menyambungkan” NSSI dengan dengan ADBM… tetap semangat dan sehat2 ya mbah man… saya siap support selalu…

    • Matur nuwun Ki Haji Penambahan Mandaraka … tetap semangat !

    • Matur suwun sanget mbah Man,semakin seru nih tlisik warisa perguruan bikin heboh,merasa memiliki hak

    • Alhamdulillah.
      Matur nuwun Mbah Man, mugi Allah anugerahi kesehatan lan kesejahteraan dateng Mbah Man sakeluargi.

  25. Rupanya disini jg ada gerbong baru he he

  26. Alhamdulillah…..
    matur suwun Panembahan

    • Maturnuwun mBahMan atas wedarannya sehat selalu. Aamiin.

    • Ki Donoloyo. . .benarkah berasal dari Watusomo, Slogohimo, daerah Hulu Sungau Keduwang ?

  27. Seru cerita ipun… Di tenggo cerios lajengipun..

  28. Seru sih…tp kok yg komentar cm dikit….mbah man pak satpam yg semangat ya…teruskan karya2 mu..n

    • Maturnuwun mbah man & p satpam.. semoga mbah man, p satpam & keluarga senantiasa sehat.. komentar masih sedikit karena banyak yg belum tahu klo gerbong ini aktif lagi..

  29. Jam makan siang…yang nginguk gandhok ini 14 he he, mungkin yang di gandhok JJYT belum pada tahu disini juga ada gandhok asyik untuk berbincang

  30. alhamdulillah jjyt dilanjut lagi mantap mbah man makasih

  31. Ndherek nenggo lanjutan jjyt

  32. Sepure ban-e gemboss 😀
    Mbah Man sekeluarga Mugi Mugi diparingi karaharjan

  33. Mbah Man lan Pak Satpam, mugi tansah pinaringan sehat lan karaharjan, mugi tansah lancar mbabar lanjutan JJYT. Dipun tenggo kisah Salajengipun.

  34. 11-09-2020
    01-10-2020
    04-10-2020
    ???

    • 11-09-2020
      01-10-2020
      04-10-2020
      14-11-2020🙏

      • Semoga nanti malam ada wedharan. Msh menunggu kehadiran kembali dua sejoli Ki & Nyi Mahesa Jenar.

  35. JJYT libur panjang. . . .masih fokus ngejar tayang Agung Sedayu gelut vs Maharsi di STSD-27 xi xi

  36. Nenggo carios lajengipun

  37. Ngantuk stasiun nunggu gerbong lewat

  38. Mungkin stasiun ini kembali ditutup ki sanak. . .krn penumpang kurang banyak yg naik turun di sini.. Penumpang dipersilahkan kembali untuk naik turun di satu tempat, silahkan menunggu gerbong di stasiun STSD. Tapi itu cuma kira-kira lhooooo hi hi hi

  39. Tetep tak enteni nganti gerbang lewat

    • padahal menarik jg cerita kyai gringsing muda.
      semoga mBah Man masih berkenan sharing JJYT

  40. Kukuutt… Kukuuuttt…

  41. Tulisan terakhir tgl 4-10 dan skr tgl 21-10. . .sepertinya kecil kemungkinannya cerita ini dilanjtkan dg ajeg terbit sehari 2 halaman.

    • Oleh karena warungnya sepi Mbah Man jadi aras2en nulis, karena gak ada yg nyemangati ,hawanya sepi membuat orang ongap angop ngantuk

  42. 👀 ora liwat liwat tetep tak tunggu

  43. Ceritanya menarik..tetep semangat nunggu lanjutane. Salam sehat dan barokah kagem Mbah Man lan sedoyo bebahu padepokan..

  44. 31-10-2020, 22.58
    Nginguk gandhok, belum ada gérbong yg liwat

  45. Nginceng gardu jjyt
    Ora ono para pengawal e

  46. Kira-kira Widarba mau diapakan ya?

  47. Ngenteni tamba kangen kok durung njedhul2 yo?

  48. salut upaya luar biasa keras mbah man mengolah bahan2 dari SHM dan “menyambungkan” NSSI dengan dengan ADBM… tetap semangat dan sehat2 ya mbah man… saya siap support selalu… matur nuwun

    • Salut untuk mbah Man yang telah dengan cerdas mengolah cerita sedemikian rupa untuk mengkorelasikan antara NSSI dengan ADBM bahkan dimungkinkan STSD … salam hormat untuk mbah Man … semoga sehat selalu dan tetap semangat melanjutkan JJYT dan STSD … 🤲

      • Lanjutkan…..

  49. Lanjutkan…..

  50. asalamualaikum….. menunggu kelanjutan JJYT yang makin seru….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: