JBP-01

JBP-01

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 22/12/2012 at 10:28  Comments (33)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/jbp-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

33 KomentarTinggalkan komentar

  1. Memenuhi permintaan mbah_man untuk membuka gandok baru, segera Risang pergi ke toko bangunan untuk belanja bahan-bahan bagunan.
    Dan…., sim salabim…., abrakadabra……, gandok baru JBP-01 sudah terbetuk, he he he …

    dengan ini, gandok Badai di Bumi Jipang dihapus (sesuai permohonan mbah_man). Mohon maaf kepada sanak-kadang yang biasa “cangkrukan” dan meninggalkan jejak di gandok tersebut.

    nuwun

    Risang

    • Ini permohonan mbah_man yang dituliskan di gandok Badai di Bumi Jipang.

      On 22/12/2012 at 09:00 mbah_man said:

      YTH anakmas Risang,
      berhubung gandhok Badai di Bumi Jipang telah terkontaminasi dengan celotehan yang aneh aneh, dengan ini mbah man menyatakan tidak akan meneruskan lanjutan cerita tersebut. Mohon Gandhok ini dihapus saja.
      sebagai gantinya embah akan menulis cerita yang tidak ada hubungannya dengan SHM, cerita yang murni karangan Mbah Man, dengan begitu embah tidak harus mengikuti tradisi yang telah dibuat SHM.
      demikian harap maklum dan mohon maaf sekali lagi.

      Padepokan Sekar Keluwih

      Mbah Man

      • monggo mbah
        cantrik nunut lan manut
        nyengkuyung

  2. Selalu hadir mbah_……biarpun jarang masuk gandok….

  3. minta tolong di depan diberi sinopsis dong pak satpam

  4. Ikut daftar……………………….

  5. SINOPSIS JBP

    Raden Wratsangka dan Raden Riswanda adalah kakak beradik keponakan dari Ken Sora atau lebih dikenal dengan nama Lembu Sora atau Sora saja, pengawal setia Raden Wijaya ketika melarikan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang setelah kerajaan Singosari jatuh.

    Setelah “pemberontakan” Sora, karena fitnah dari Mahapati, keluarga Sora akan di tumpes kelor oleh pihak kerajaan yang di prakarsai oleh Mahapati. Berkat jasa Mahesa Pawagal dan Lurah Mandana, kedua remaja itu berhasil disembunyikan dan berguru di Padepokan Sekar Keluwih.

    Kedua remaja itu pun kemudian tumbuh menjadi pemuda pemuda yang tangguh tanggon dibawah bimbingan Ki Ajar Lejaring Penggalih, pemimpin Padepokan Sekar Keluwih.

    Sebagaimana dunia anak muda, ternyata kedua kakak beradik ini telah terpikat hatinya pada seorang gadis yang sama, putri Buyut Pring Asri, Niken Larasati. Persaingan cinta ini terasa bagaikan bara di dalam sekam, namun sebagai saudara yang sama sama senasib dan sepenanggungan dalam persembunyian dari kejaran prajurit kerajaan dengan tuduhan keluarga pemberontak, akhirnya kedua kakak beradik ini bahu membahu membantu Patih Harya Nambi dan pasukan Lumajang bersama Mahesa Pawagal, Lurah Mandana dan Ra Semi mempertahankan benteng Pajarakan dari serangan pasukan Majapahit.

    10 Januari 2013
    Padepokan Sekar Keluwih

    Mbah Man

  6. Lanjutan JBP jilid 01

    Kegelapan mulai melingkupi padepokan Sekar Keluwih. Beberapa oncor dari biji jarak telah dinyalakan di regol depan dan beberapa sudut padepokan yang memerlukan penerangan, sedangkan di pendapa, lampu dlupak yang digantung di tengah tengah pendapa tampak terayun ayun lemah tertiup angin malam.

    Ki Ajar ternyata telah wedar dari semedinya. Ketika pintu sanggar terbuka sejengkal, dengan tergesa gesa Putut Wratsangka yang sedari tadi telah menunggu di depan sanggar dengan gelisah segera menyongsong Ki Ajar yang sedang membuka pintu kemudian dengan langkah perlahan menuruni tangga sanggar pamujan.

    “Raden,” sapa Ki Ajar pelan, “Adakah sesuatu nyang sangat mendesak sehingga Raden memerlukan waktu untuk menjemputku?”

    “Ma’afkan aku Ki Ajar,” jawab Putut Wratsangka sambil membungkukkan badannya dalam dalam, “Ada peristiwa yang memerlukan perhatian Ki Ajar, Adi Riswanda telah terluka.”

    “Raden Riswanda terluka?” kerut merut di kening Ki Ajar semakin dalam, “Bagaimana ini bisa terjadi?”

    “Adi Riswanda belum menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, dia menunggu Ki Ajar untuk melaporkan apa yang sebenarnya telah terjadi.”

    “Mengapa harus menungguku?” bertanya Ki Ajar dengan heran, “Bukankah ada Putut Wardi yang dapat menggantikanku selama aku berhalangan?”

    Putut Wratsangka menjadi bingung, namun kemudian jawabnya, “Sesungguhnya kami tidak tahu maksud dari Adi Riswanda, mungkin dia ingin meyampaikan peristiwa ini terlebih dahulu kepada Ki Ajar.”

    Ki Ajar menarik nafas dalam dalam sambil mengayunkan langkahnya menuju ke bangunan induk Padepokan diikuti oleh Putut Wratsangka di belakangnya. Sesekali Ki Ajar menengadahkan wajahnya memandangi langit yang semakin gelap. Kerlap kerlip bintang satu satu mulai bermunculan, sedangkan bulan tua belum juga menampakkan wajahnya yang sayu di langit.

    “Raden,” Ki Ajar berdesah perlahan hampir tak terdengar, “Kemarin aku menerima pesan dari seseorang yang mengaku utusan dari Ki Lurah Mandana, bahwa Ki Lurah Mandana ingin menjenguk keberadaan Raden berdua dan sekaligus ingin membicarakan masa depan kalian. Pergolakan di istana Majapahit semakin tidak menentu. Para Pejabat istana saling berebut pengaruh di hadapan Sri Maharaja Kertarajasa. Tidak jarang mereka saling melempar fitnah dan saling menuduh telah menjadi bagian dari pemberontakan pemberontakan yang telah terjadi sebelumnya, sehingga saat ini sulit untuk mencari siapakah sebenarnya yang bersetia kepada Majapahit ataukah hanya mencari keuntungan pribadi dengan mengatas namakan Kerajaan Majapahit?”

    Putut Wratsangka hanya berdiam diri saja mendengar kata kata Gurunya. Ingatannya kembali ke masa lalu ketika peristiwa yang mengerikan itu terjadi. Sepasukan prajurit Majapahit dipimpin oleh Mahapati telah menyerbu rumah kedua orang tuannya yang masih kerabat dekat dengan Ken Sora. Kedua orang tuanya itu telah dituduh menjadi bagian dari pemberontakan Ken Sora dan harus ditumpas. Padahal Ken Sora datang ke halaman istana Majapahit pada waktu itu bermaksud ingin menyerahkan diri dan hanya ditemani oleh Juru Demung dan Gajah Biru. Namun karena kesalah pahaman yang memang sengaja diciptakan oleh Mahapati, mereka bertiga harus menjadi banten di halaman istana Majapahit.

    Para pengikut Ken Sora pada waktu itu termasuk ayahnya tidak diperkenankan memasuki halaman istana Majapahit. Mereka hanya diperkenankan menunggu di depan pintu gerbang istana. Para pengikut Ken Sora itu tidak bermaksud memberontak, mereka berduyun duyun mengawal Ken Sora menghadap ke istana hanya untuk memberikan dukungan dan simpati agar Sri Maharaja mengenang jasa jasa Ken Sora pada saat dia masih menjadi abdi yang setia dari Raden Wijaya yang kini telah duduk di singgasana Majapahit.

    Namun ternyata yang terjadi kemudian adalah sebuah bencana dan sejarah yang kelam dari kehidupan Ken Sora. Para Pujangga menulis rontal rontal kidung kisah ini dengan tinta darah atas riwayat yang terjadi pada diri Ken Sora, seorang abdi yang setia dari Sri Maharaja yang pada waktu itu masih bernama Raden Wijaya, bersama sama melarikan diri dari kejaran pasukan prajurit Kediri, menyeberangi rawa rawa, menuruni jurang yang curam dan kadang harus mendaki tebing tebing yang terjal hanya demi menghindari kejaran para prajurit kediri.

    Tak jarang Ken Sora merelakan dirinya tidur tengkurap di tanah berlumpur untuk menyediakan punggungnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya karena saat itu mereka sedang berada di tengah tengah tanah pesawahan dan tidak ada tempat yang bisa dijadikan untuk tempat duduk.

    Dengan gugurnya Ken Sora bersama sahabatnya Juru Demung dan Gajah Biru di halaman istana Majapahit, para pengikut Ken Sora yang menunggu di depan Gerbang istana ternyata telah mengalami perlakuan yang sama. Tanpa peringatan terlebih dahulu, mereka telah diserang oleh sepasukan parjurit yang kuat atas perintah Mahapati.

    Para pengikut Ken Sora yang memang tidak siap untuk berperang itu telah berusaha melawan dengan sekuat tenaga. Hampir seluruhnya binasa di tangan para prajurit Majapahit. Hanya sebagian kecil saja termasuk ayahnya yang berhasil melarikan diri, lolos dari peristiwa yang mengerikan itu.

    Ternyata Mahapati tidak berhenti sampai disitu, para pengikut Ken Sora yang berhasil lolos itu telah dikejar dan diserbu dimanapun mereka bersembunyi.

    Atas jasa Mahesa Pawagal dan Lurah Mandana, mereka berdua dapat diselamatkan dari penyerbuan pasukan kerajaan Majapahit pada waktu itu, dan kini dia bersama adiknya menjadi orang orang buronan yang bersembunyi dan memohon perlindungan kepada Ki Ajar Lejaring Penggalih di padepokan Sekar Keluwih.

    “Raden,” kembali Ki Ajar berkata lirih sambil menoleh ke arah Putut Wratsangka yang berjalan disisinya sambil menundukkan kepalanya, “Apakah Raden sudah mempunyai gambaran tentang masa depan Raden berdua? Padepokan ini terlalu sempit, kalau Raden berdua menghendaki, di luar sana terbentang alam yang tidak ada batasnya. Batasannya hanya ada pada tekat kita dan kemauan kita. Apabila tekat dan kemauan kita telah berhenti, saat itulah batasan itu terjadi, tidak ada lagi kemajuan kemajuan yang dapat kita capai. Dan akhirnya disisa hidup ini, kita akan menjadi orang orang yang merugi.”

    Putut Wratsangka tertegun. Hatinya belum siap untuk meninggalkan Padepokan Sekar keluwih. Bukan padepokan itu sebenarnya yang memberati hatinya untuk pergi mencari pengalaman dan mengamalkan ilmu yang telah tuntas diserap dari Gurunya Ki Ajar Lejaring Penggalih, namun gadis putri Ki Buyut Pring Asri yang luruh dan rendah hati, yang selalu bersikap sopan dan menunduk ketika dia mengajak berbicara, yang hanya tersenyum tipis ketika dia mengajak bercanda, seorang gadis yang sempurna dalam pandangan matanya, gadis pendiam yang tidak bisa ditebak isi hatinya, gadis yang selalu hadir dalam setiap mimpi mimpinya, Niken Larasati.

  7. Aku ndaftar jadi mentrik di padepokan Sekar Keluwih pimpinan Mbah Haji Man ach….
    Boleh ya mbah……

    • Boleh..boleh… mbak Nona..
      Silahkan mengisi bio data
      Nama:………
      Status:………
      No Hp:…………..
      Email:…………

      • Tulis kene wae Non,…ora pareng japri neng mBah Man

      • Mbah Man mboten adil………..? menawi kulo sing daftar dipun endhelaken kemawon, lajeng menawi Miss Nona ingkang daftar lansung dipun paringi form pendaftaran. ….Nggih pun kulo mojok mawon sinambi nenggo medahalipun lontar. Sepunteneipun lho Mbah, sampun dipun lebetaken manah, Just kidding

        • he he he …
          njenengan langsung ke Padepokan Sekar Keluwih kemawon Ki BP, rak celak to?

          • Mbah Man, alamatipun Padepokan Sekar Keluwih menika sayektosipun wonten pundi ? Mbokbilih wonten wekdal ingkang lodang insya4JJ1 kulo badhe sowan padhepokan, mesisan nyecep ilmu jembaring dalan akhirat.

          • cantrik dherek nyecep……mesisan,

      • Mbah… Mbah ee’k, mau ikutan jadi cantrik juga…

        Mau belajar ilmu ilmu sakti mbah…

        Ciat..ciat…haiii ciaaaat….

        Aduhhh….
        (kakinya kesandung..)

        Nama: Muhammad Efendi
        Status: Lajang
        No Hp: 0811654412
        Email: mhd.efendi@yahoo.co.id

  8. “Padepokan Sekar Keluwih”

    atas nama diri sendiri ki GundUL siap mengikuti pendadaran
    maupun seleksi ke-banDEL-an sebagai syarat awal masuk
    sebagai canTRIk baru di padepokan Mbah_Man.

    untuk selanjutnya cantrik siap ditempatkan digandok pojok
    padepokan SK, bersebelahan dengan gandok mentrik baru
    yang berinisial MN.

    • Eeeh, kelalen……saking semangat-E langsung
      tak kirim tanpo ono cap jempol-E cantrik !!??

      cap djempole nyusul kemawon njih Mbah_Man,

  9. Lanjutan JBP 01

    Tak terasa langkah mereka telah mencapai bangunan induk padepokan. Seorang cantrik dengan tergopoh gopoh membukakan pintu seketeng, namun ternyata Ki Ajar telah memberikan isyarat untuk melanjutkan langkah mereka langsung menuju gandhok kanan, tempat Putut Riswanda dirawat.

    Ketika kemudian Ki Ajar dan Putut Wratsangka telah memasuki bilik tempat Putut Riswanda dirawat, derit pintu bilik itu yang cukup keras saat pintu bilik itu didorong, telah menarik perhatian Putut Wardi yang sedang merawat Putut Riswanda.

    “Ki Ajar,” desis Putut Wardi sambil berdiri dan bergeser kesamping memberi tempat kepada Ki Ajar untuk memeriksa keadaan Putut Riswanda.

    Putut Riswanda yang menyadari kedatangan Ki Ajar telah berusaha bangkit dari pembaringan, namun dengan tangan kirinya Ki Ajar menyentuh dada Putut Riswanda dan menyuruhnya tetap berbaring.

    “Raden Riswanda,” perlahan Ki Ajar bertanya sambil meneliti bekas bekas luka di sekujur tubuh Putut Riswanda, “Siapakah yang telah melukai anakmas dan ada kepentingan apakah sehingga anakmas berselisih dengan orang itu?”

    “Ki Ajar,” jawab Putut Riswanda, “Sebagaimana telah Ki Ajar perintahkan kepadaku untuk menjemput tamu dari kota Majapahit. Memang ada dua orang yang mengaku sebagai bangsawan Majapahit dan menunggu aku di kediaman Buyut Pring Asri. Ternyata setelah aku bertemu dengan mereka, mereka berdua mengajakku ke hutan di sebelah timur Pring Asri. Mereka mengatakan bahwa seseorang yang ingin bertemu denganku sedang menunggu di hutan itu.”

    “Apakah benar demikian? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di hutan itu?” bertanya Ki Ajar kemudian.

    “Tidak Ki Ajar, bahkan mereka berdua berusaha membunuhku dengan cara mengeroyokku di tengah hutan sebelah timur Kabuyutan Pring Asri itu.”

    “Gila..!” tiba tiba tanpa sesadarnya Putut Wratsangka mengumpat, namun segera saja ditundukkan kepalanya dalam dalam ketika Ki Ajar berpaling kearahnya.

    Ki Ajar sejenak menarik nafas dalam dalam, sambil menarik sebuah dingklik kayu yang ada di bilik itu, kemudian duduk di dekat amben tempat Putut Riswanda dibaringkan. Sementara Putut Wardi dan Putut Wratsangka berdiri saja di sebelah menyebelah Ki Ajar.

    “Bagaimana engkau bisa lolos dari mereka?”

    • Matur nuwun Mbah_Man, ternyata harapan itu masih ada …..

    • Niki terusannya kemana ya mbah..?

  10. mulai ……….

  11. yok opo se mbah kok bingung bacanya

  12. nderek cap jempol disini jg ah…. mdh2n msh kebagian tempat….

  13. Ndaftar jadi cantrik mbah…. sugeng enjing. Murid dari banyumas menghadap. heheheee

  14. Pak de Satpam
    TOPAN Mendaftar jadi cantrik JBP ya
    Mbah_Man Pko’e mantappp

    maturnuhun

    Iya le….
    ha ha ha …
    ngapunten Ki Adji

  15. Niken Larasati seperti sebuah nama yang berkesan bagi ingkang minulyo mbah Man, sebab wonten ADBM juga muncul nama itu sebagai kekasih Ki Jayaraga.

  16. Mbah…, kulo daftar nyantrik ing Sekar Keluwih.
    Nuwun

  17. Kanthi nyebut asmaning Gusti Allah ingkang Murbeng Dumadi, kulo nggih tumut ndaftar dados cantrik SK nggih, Kyai Mbah Man. Maturnuwun

  18. “Bagai mana engkau bisa lolos dari mereka?”…..cerita yang bagus dan menarik……tapi adakah sambunganya…..dan kenapa bisa lolos….dari serial JBP ….matut nuwun Mbah Man ….👍🙏🙏

  19. Terus nunggu lanjutan cerita ini ,,,, suatu saat pasti dilanjutkan oleh Mbah Man ….. baru sedikit tapi sudah buat penasaran …..

  20. Semoga segera ada kelanjutannya, matur nuwun Mbah Man….

  21. pembaca gelap… mnunggu lanjutan ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: