Dongeng Punakawan

On 20/08/2013 at 05:25 punakawan said:

Nuwun

Lho wus ésuk………..
Sêmburat sunar srêngéngé sumamburat abang branang

Bang-bang wus rainå
Srêngéngéné muncul muncul
muncul sunar sumamburat

Cit cit cuit cuit
cit cit cuit cuit
cit ciut ramé sorå cèh ocèhan

Krêngkèt gêrat gêrèt
Krêngkèt gêrat gêrèt
Nimbå anèng sumur
sumur sumur
adus gêbyar gêbyur
sêgêré kêpati
sêgêré kêpati
kêpati
kêwarasan

(Lingsir wêngi
tan kêndhat
bêbåyå mêmålå
tan kinåyå ngåpå
Bêbêndhu pêpêteng
bêbêndhu pêpêteng
tan kênå kinirå

Bang-bang wétan
Bang-bang wétan semburatnå
Bang-bang wétan semburatnå)

[têmbang dolanan laré]

………………………………..

M E R D E K A

Punåkawan sowan membawa bingkisan Hari Kemerdekaan buat sanak kadang:

SANG SAKA GULA KELAPA, SANG SAKA MERAH PUTIH
© Punåkawan 2013

(Bagian Kedua, dari empat tulisan)

Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan yang terbuat dari kulit hewan, kulit kayu yang dikêmplong halus atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh.

Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman Dinasti Zhou Chao (antara 1066 SM sd 221 SM).

Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah.

Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah simbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera itulah yang terbawa hingga sekarang ini.

Pada abad XIX tentara Napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara.

Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.

Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk raja bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera gunfano yang dipakai bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama fonfano.

Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa negara di dunia.

Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah.

Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII.

Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur, dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu relief pada dindingnya terdapat “pataka di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar”.

Adanya ukiran pada dinding Candi Borobudur (dibangun pada awal abad ke- 9) menjadi salah-satu bukti awal, di mana pada ukiran tersebut menggambarkan tiga orang hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, diduga melambangkan warna Merah dan Putih.

Keterangan untuk ukiran itu menyebutnya sebagai Pataka atau Bendera. Catatan-catatan lain sekitar Borobudur juga sering menyebut bungaTunjung Mabang dan Tunjung Maputeh, (mabang = merah, maputeh = putih). Ukiran yang sama juga tampak di Candi Mendut, tidak jauh Candi Borobudur, yang kurang lebih bertarikh sama.

Dari bukti ukiran Candi Borobudur ini, Prof. H. Muhammad Yamin dengan rajin mengumpulkan banyak bukti sejarah lain yang dapat di kaitkan dengan pemujaan terhadap lambang, warna Merah dan Putih di setiap celah budaya Nusantara. Di bekas kerajaan Sriwijaya tampak pula berbagai peninggalan dengan unsur-unsur warna Merah dan Putih.

Antonio Pigafetta, seorang pencatat dalam pelayaran Marcopolo di abad 16, dalam kamus kecilnya yang berisi 426 kata-kata Indonesia, memasukan entri Cain Mera dan Cain Pute, yang diterjemahkan sebagai Al Panno Rosso et Al Panno Bianco. Bila tidak sering melihat kombinasi Merah-Putih sebagai satu kesatuan, mungkinkah Pigafetta memasukkannya sebagai sebuah entri?

Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.

Prabu Airlangga (lahir: Bali, 990 – pralaya: Belahan, 1049), kelak sebagai raja di Kerajaan Kahuripan bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, yang pada arca perwujudannya sebagai Batara Wisnu yang sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang digambarkan bertubuh emas, berwajah putih dan bersayap merah, dikenal sebagai Sveta-rakta-khagaá adalah Burung Merah Putih, yang mempunyai makna yang membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan atau penjajahan, baik penjajahan jasmani maupun belenggu duniawi yang menyesatkan. Universitas Arlangga Surabaya mengambil arca perwujudan Prabu Airlangga ini sebagai lambang universitasnya.

Demikian juga pada tahun 898 sampai 911 Raja Balitung (yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (Mataram Kuno) yang bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu yang berarti Yang kebajikannya selalu meningkat dan yang maha pemurah, semakin meluaskan kekuasaannya sehingga kemudian bergelar Sri Iswarakesawotsawatungga atau Sri Iswarakesawasamarattungga yang artinya yang terkemuka dalam peperangan yaitu Çiwa dan Wisnu.
Pada akhir kekuasaannya dia bergelar Garuda Muka seperti yang disebutkan dalam prasasti Tulanan (tahun 832 Çaka), maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda semakin mendapat tempat di hati Rakyat Jawa (baca: Nusantara).

Kertanagara (1268M – 1292M), yang bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa dari Kerajaan Singasari, yang datang kemudian adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Singasari.

Dari Negarakretagama kita ketahui bahwa perubahan nama Kutaraja menjadi Singasari terjadi dalam pemerintahan raja Wisnuwardhana di sekitar tahun 1176Ç atau 1254M.

Nāgarakṛtāgama Pupuh XLI: 2 & 3

2.
Bhatara wisnuwarddhana kateka putra nira sang gumanti siniwi
…………

3.
I çaka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin
Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha
Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita
Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i singhasarinagara
.

2.
Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, ……..

3.
Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176) Batara Wisnu menobatkan puteranya,
Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia,
Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya,
Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.

Sumber sejarah lainnya tidak menyebut nama dusun Kutaraja yang kemudian berganti nama Singasari yang awalnya adalah Tunapel. Namun disebutkan bahwa nama Tumapel itu masih dipakai ketika Kertanegara naik tahta.

Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, penguasa Jawa pertama yang dalam kebhinekaan bertekad menyatukan wilayah Nusantara, raja agung Singasari ini berjasa besar menghalau kekuatan asing yang ingin bercokol di bumi Nusantara.

Bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah. Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan yang wwang Tartar dari Dinasti Yuan itu, sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.

Untuk itu, Kertanagara mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, sekaligus untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan, kerajaan Singasari.

Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan Cakrawala Mandala Nusantara Sang Prabu Kertanagara sebagai bumper atas hegemoni Kubilai Khan di Asia Tenggara, maka berkibarlah duaja kerajaan Singasari Sang Surya-Chandra, Sang Gêtih-Gêtah yang dibawa pasukan tentara Kertanegara ke bumi Melayu. Sang Prabu Kertanagara berhasil membendung pengaruh Kubilai Khan, agar jangan sampai menjalar ke wilayah Nusantara lainnya.

Serat Pararaton menerangkan:

Sanpañjeneng çri Kertanagara angilangaken kalana aran Bhaya. Huwusing kalana mati, angutus ing kawulanira, andona maring Malayu.

[Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu].

Pada saat tentara Singasari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu dalam Ekspedisi Cakrawala Mandala Nusantara atau Ekpedisi Pamalayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi.

Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan Wijaya. Kelak pendiri Majapahit.

Serat Pararaton menerangkan:

[19]
…….. Samangka siraji Jaya Katong mangkat amerep ing Tumapel. Sañjata kang saka loring Tumapel wong Daha kang alaala, tunggul kalawan tatabuhan penuh, ……

[…… Sekarang raja Jaya Kathong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang Daha yang tidak baik, berbendera dan bunyi bunyian penuh ………]

Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singasari, padahal pasukan Singasari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan.

Kejadian tersebut ditulis dalam suatu prasasti yang lebih dikenal dengan sebutan Piagam Butak atau Prasasti Butak atau Piagam Merah Putih, sebuah prasasti yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya saat pelantikan menjadi Raja Pertama Majapahit dengan dengan gelar Prabu Kertarajasa Jayawardana, atau Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.
Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto.

Pasukan Singasari dipimpin oleh Raden Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara), mengibarkan duaja, tunggul dan umbul-umbul berwarna Merah-Putih. Raden Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik. Kelak menjadi pusat pemerintahan Majapahit.

Berkibarnya warna merah dan putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan Piagam Merah-Putih.

Kemudian ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul Abang Putih).

Ternyata Majapahit mempunyai bendera kerajaan yaitu bendera Merah-Putih, sembilan garis berwarna merah dan putih tersusun berselang-seling. Prajurit Majapahit pun dinamakan Prajurit Gulå Kêlåpå. Gula Kelapa itu berwarna Merah dan terbuat dari sari buah Kelapa yang berwarna Putih.

Ada juga yang menyebutkan bahwa prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Gêtih-Gêtah seperti yang kita ketahui bahwa Getih itu berwarna Merah dan Getah berwarna Putih. Adapun makna dari bendera Merah-Putih ada dua yaitu Merah berati Berani dan Putih berarti Suci, belakangan ini ada juga yang menyebutkan bahwa merah-putih itu melambangkan darah merah dan tulang putih yang menyatu dalam jiwa raga kita.

Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Pethak yang dibawa oleh tentara Pamalayu juga mengandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan pethak=putih).

Bangunan istana empat prabu Hayam Wuruk bertahta disebut sebagai Keraton Merah-Putih, karena tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya berwarna putih.

Empu Prapanca penulis pujasastra Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah-putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah-putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem.

Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXIII: 1.

An mangka kottaman sri-narapati siniwing tiktawilwaikanatha
Saksat candreng sarat kastawan ira n-agawe tusta ning sarwwaloka
Lwir padma ng durjjana lwir kumuda sahana sang sajjanasih teke twas
Bhrtya mwang kosa len wahana gaja turagadanya himper samudra.

[Begitulah keluhuran Sri Baginda ekananta di Wilwatika,
Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang,
Berani laksana Tunjung Merah, Suci bagaikan Teratai Putih,
Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.]

Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah-putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan.

Kisah kemegahan dan kejayaan Majapahit mencapai puncaknya, tatkala kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada, melalui sumpahnya yang terkenal itu Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sebagai program politik Gajah Mada pada hakekatnya adalah kelanjutan gagasan Nusantara pada zaman pemerintahan Prabu Kertanagara sehingga lebih tepat disebut gagasan Cakrawala Mandala Nusantara II yaitu usaha untuk menyatukan kembali negara-negara di seberang lautan yang lepas kembali pada masa pemerintahan prabu Kertarajasa dan Jayanagara ditambah dengan Negara-negara Nusantara lainnya.

Teks naskah Pararaton Bagian IX 27 dan 28:

Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

[Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin (merasakan) hidup mukti bersenang-senang (terlebih dahulu). Beliau Gajah Mada (berikrar): “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) menikmati hidup muktiku. Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) menikmati hidup muktiku”]

Sumpah itu diujarkan di tengah Paseban Agung saat pelantikan Gajah Mada sebagai Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit, di hadapan Sang Maharani Tribhuwana Wijayatunggadewi yang bergelar abhiseka: Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani).

Ketika sumpah diikrarkan, Sang Mahapatih mengangkat sebilah keris pusaka miliknya tinggi-tinggi melampaui ubun-ubunnya, keris yang ia terima sebagai hadiah dari Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya.

Keris Kyai Surya Panuluh, yang wrangkanya berselendangkan kain berwarna merah-putih.

Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain, dan di wilayah-wilayah itu Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan.

Majapahit mencapai puncak kejayaannya semasa pemerintahan Sang Maha Prabu Jiwana Hayam Wuruk putra Maharani Tribuwana Tungga Dewi. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan.

Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit. Akhirnya Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota kecil.

Dalam pada itu, bangkit dan berkembanglah kemudian Kesultanan Dêmak Bintårå. Pada masa itu, kekuasaan asing mulai merambah kembali ke Nusantara, kali ini bangsa Portugis yang mencoba menjejakkan kakinya di bumi Melaka.

Pangeran Sabrang Lor, Sultan Dêmak kedua, yang juga bergelar Adipati Unus atau lebih dikenal dengan sebutan Pati Unus, Beliau adalah menantu Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, selain seorang sultan beliau adalah seorang Senapati Sarwajala, seorang Laksamana Laut. Panglima Gabungan Armada Islam yang membawahi armada Kesultanan Banten, Kesultanan Dêmak Bintårå dan Kesultanan Cirebon.

Beliau memimpin langsung kapal-kapal perang Gabungan Armada Islam ke Semenanjung Melayu untuk mengusir penjajah Portugis itu. Kembali Bendera Sang Såkå Gulå Kêlåpå berkibar di atas tiang kapal-kapal perang ketiga Kesultanan, yang dipimpin oleh Sang Adipati. Namun dalam pertempuran itu beliau gugur.

Percobaan beliau gagal, sebab kedudukan Portugis sudah kuat di Malaka. Dua kali beliau mencoba, tetapi kedua kalinya gagal. Namun begitu pengharapan akan pertolongan dari Jawa tetaplah tinggal dalam jiwa anak Melayu, atas Tanah Melaka (Malaysia sekarang), di Trengganu, sehingga tinggallah dalam bibir mereka sebuah Pantun Melayu:

Jika roboh kota Malaka,
papan di Jawa kita tegakkan.
Jika sungguh bagai dikata,
badan dan nyawa saya serahkan
.”

Pantun ini telah beratus tahun jadi buah mulut orang Melayu, walaupun di sini dikuasai Belanda dan di sana dikuasai Portugis, Belanda dan Inggris.

Nasib Demak tidaklah begitu baik setelah mangkatnya Pangeran Sabrang Lor. Saudara ayahnya, Pangéran Trênggånå menjadi Sultan Demak setelah Pati Unus mangkat.

Ratu Kalinyamat yang datang kemudian, putri Sultan Trênggånå pada Kesultanan Dêmak Bintårå ini kembali menjadi bupati Jepara, setelah kematian Aryå Penangsang, di wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijåyå.

Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya Adipati Unus, bersikap anti terhadap Portugis. Beliau mengirim pasukan tentara laut dan darat Kadipaten Japara memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu dalam formasi gabungan armada perang.

Kembali kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat melakukan penyerbuan melawan orang-orang kulit putih bangsa Portugis di perairan Laut Jawa, dengan armada lautnya yang sangat tangguh pada tiang-tiang utama kapal perangnya berkibar bendera Sang Såkå Gulå Kêlåpå .

Sri Bupati Jêpårå Rêtnå Kêncånå Ratu Kalinyamat, Sang Laksamana Laut Panglima Gabungan Angkatan Laut Tiga Kesultanan bahu-membahu dengan pasukan Persekutuan Melayu, berperang melawan armada Portugis di Semenanjung Melaka.

Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.

Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang ratusan prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.

Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Beliau memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

Demikian juga Sultan Ali Riayat Syah, dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Sayang terjadi kesalahfahaman antara utusan Kesultanan Aceh dan Demak. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerang Malaka meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.

Kemudian Sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan ratusan kapal berisi ribuan prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu terlambat tiba di Malaka, dan pasukan Aceh dipukul mundur oleh Portugis.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak puluhan kapal Jepara terbakar.

Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, beberapa kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.

Meskipun dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya Sang Ratu yang tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian gagah berani, dia adalah rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang wanita cantik yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

Dêmak yang bercita-cita sebagaimana kerajaan Nusantara pendahulunya, untuk mempersatukan Nusantara, kebesarannyapun terganggu. Sejarah kembali berulang. Upaya mempersatukan Nusantara, terganggu oleh konflik intern kesultanan Demak. Perebutan tahta Dêmak Bintårå antara Aryå Pênangsang dan Djåkå Tingkir Hadiwijåyå.

Episode ini sangat menarik perhatian para sejarahwan, mengingat kedua kubu yang bertikai melibatkan para tokoh Wali-Sångå.

Tokoh-tokoh agama itu ikut campur tangan, bukan sebagai juru penengah, tetapi para tokoh agama yang seharusnya ngêmong jiwa-jiwa para ksatria (bangsawan kraton dan para penguasa) untuk diajak mendekatkan diri kepada Gusti Hang Måhå Waséså, ternyata ikut terjun menjadi “pemain”, bahkan sebagai provokator.

[Bila ada kesempatan yang baik, ontran-ontran Dêmak Bintårå akan diwêdar].

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: