Dongeng Punakawan

On 14/08/2013 at 13:07 punakawan said:

Nuwun

Hari ini Rabu, 14 Agustus 2013, jalan-jalan di nJakarta Ibukota Republik Indonesia mulai menunjukkan “wajah aslinya”, meski belum sepenuhnya, cuma ‘pamer sus*’ – padat merayap susul-menyusul, ‘ramcar’ – ramai lancar; kecepatan kendaraan di jalan tol rata-rata 20 sd 30 km perjam. Lumayan pelan.

Pagi-pagi sekitar pukul 08.00 dari arah mBogor Buitenzorg, melalui GT Cimanggis Utama, masih ramcar; selepas itu masuk area SS Cawang 00+000 km Jalan Tol Dalam Kota, sudah ‘pamer sus*’ hingga depan Gedung DPR/MPR, berlanjut ke Slipi Kemanggisan. mBogor — Slipi hampir dua jam. Lumayan. Biasanya kalau sudah “normal” bisa-bisa 2 jam bahkan lebih.

Ya, Jakarta sudah mulai kembali normal, setelah ditinggalkan sebagian penduduknya, pulang mudik ke kampung-halamannya masing-masing sewaktu lebaran yang baru saja berlalu.

Mudik ? Pulang kampung ? Ritual tahunan yang merupakan tradisi yang ikut mewarnai kemeriahan lebaran.
Negara, setidaknya Menteri PU, Menteri Perhubungan, Kapolri dan jajarannya ikut terlibat dalam hiruk-pikuk acara mudik ini. Beberapa pihak mungkin juga memperoleh untung dari penjualan tiket kereta-api, pesawat dan kapal laut, buat kepentingan orang-orang yang bergembira ini.

Apa makna dari mudik, apa hanya sekedar pulang ke udik?
Udik = kampung, desa, dusun, tempat yang disebut sebagai adoh ratu cêdak watu (jauh dari kekuasaan dekat dengan keterbelakangan).

Sumånggå

MUDIK. PULANG KAMPUNG PERJALANAN KEMBALI MENUJU KE SANGKAN PARANING DUMADI
© punåkawan 2013

Tatkala umat Islam merayakan hari kemenangan Idul Fitri, ketika itu lazim bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan acara mudik.

Pulang kampung bertemu, berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak kadang, pårå kåncå, sêdulur-sêdulur, pårå pinisêpuh, menjumpai tanah lêluwur, karang padêsan, kangên-kangênan.

Sewaktu mudik jalanan diwarnai mobil-mobil pribadi berbgai merk mengangkut koper dan kardus-kardus. olèh-olèh sêngkå kuthå, di atapnya.

Terminal-terminal bis, stasiun kereta api penuh sesak dipadati para penumpang, begitu juga pelabuhan air dan udara. Para perantau mudik. Pulang kampung.

Apa sampéyan mudik juga, Ki Sanak?

Hari-hari ini ribuan warga mulai kembali lagi, balik ke Ibu Kota tempat mereka hidup dan mencari nafkah sehari-hari, setelah beberapa hari Jakarta ditinggal pergi.

Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi, demikian kata Koes Plus dalam album lagu Koe Plus Vol 1.

Apa sebenarnya makna mudik itu? Sekadar pulang kampung? Atau sebuah ritual tahunan para perantau?

Pulang” mengandung dua arti. Orang itu balik ke rumah yang ia diami di Jakarta, atau ia nyêpur (numpak sêpur (naik kereta api), atau ngêbis (numpak bis), dan kembali ke udik, seperti yang dilakukan ratusan ribu manusia saat lebaran seperti sekarang ini.
Soalnya, sebagai orang yang punya ikatan emosi begitu kuat dengan tanah leluhur di desa, Di Jakarta, kita merasa sebagai orang rantau, orang asing, tanpa induk semang.

Jakarta dan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Semarang, dan Bandung, juga ‘kota’ Jakarta Coret — kata sindiran terhadap suatu wilayah yang bersinggungan dengan perbatasan Ibu Kota Jakarta, serta “kota-kota pinggiran”: Bogor, Depok, Tangerang, Tambun, Bekasi, Cikarang, Serpong dan Cibinong, tempat para “urbanis” menggantungkan banyak hal, target para pencari kerja dari daerah, tapi adakah sesuatu yang membuat Jakarta dan kota-kota lainnya itu unik, berharga untuk dipertahankan, diteruskan?

Kita mungkin memang jenis orang yang menyimpan kepusingan yang gagal menambatkan hati ke tempatnya yang baru. Bagaimana mungkin kita bisa merasa sayang akan taman-taman kota, pepohonannya, kaki limanya, bangunan-bangunan, bahkan sudut-sudut jalannya?

Jakarta seperti kehilangan suatu simpul, juga lambang bersama yang hidup — simpul bagi orang yang di Menteng, Kebayoran Baru, Pantai Indah Kapuk, Apartemen-apartemen megah yang mulai menjamur, yang menjulang tinggi menggapai langit Jakarta, ataupun di Pondok Indah, Tanjung Priok, Tanah Abang, Kampung Melayu, atau di kampung-kampung kumuh.
Jakarta hanya menadahi kita, tidak membentuk, kita cuma mengakomodasikan tuntutan-tuntutannya, tapi tidak mengasimilasikan diri.

Ada seorang ahli yang mengatakan, di kota seperti ini kita tak hanya menyaksikan proses urbanisasi. Kita juga menghadapi proses “ruralisasi.” — Suatu arus manusia dan cara hidup yang masuk ke dalam kota, tapi malah membuat kota itu seperti udik — Setiap kota, juga penghuninya, selalu punya kisah masing-masing.

Sebuah kota memang bisa bercerita banyak hal. Hasrat kita mungkin hasrat yang lain, ketakutan kita mungkin ketakutan lain, sehingga kita tak merasa ikut menjadikan Jakarta, tidak merasa ikut memiliki Jakarta. Dan, karena itu kita mudik setiap tahun.

Mudik adalah perjalanan kembali ke Sangkan Paraning Dumadi

Apa sebenarnya filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu. Peristiwa mudik merupakan suatu “kebahagiaan paling pasti karena dapat berkumpul dengan keluarga.”

Ternyata orang Jawa itu benar, mangan ora mangan (sing penting) ngumpul. Jadi filosofi mudik itu ada benarnya.

Mudik itulah yang menjadikan pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Sangkan Paraning Dumadi adalah salah satu bagian dari ilmu sejati tentang asal usul dan tujuan kehidupan manusia. Bukankah Wong Jåwå kepada sesembahannya menyebutNya dengan: Sang Hyang Sangkan Paran. Tuhan Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir.

Kita simak têmbang dhandanggulå warisan para leluhur yang mungkin sudah jarang kita dengar:

//Kawruhånå sêjatining urip/
urip ånå jroning alam donyå
/
bêbasané mampir ngombé
/
umpåmå manuk mabur
/
lungå såkå kurungan nèki
/
pundi péncokan bènjang
/
åjå kongsi klêru
/
umpåmå lungå sêsånjå
/
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih
/
mulih mulå mulanyå
//

Terjemahan bebas:

ketahuilah sejatinya hidup
hidup di dalam alam dunia
diibaratkan singgah (hanya untuk) minum
ibarat burung terbang
pergi dari sangkarnya
dimana (dia) akan hinggap kelak
jangan sampai keliru
bagaikan orang pergi bertandang
saling kunjung-mengunjungi, yang pasti bakal kembali pulang
pulang ke asal muasal mula kejadiannya.

Ånå ing ngêndi paranku, sarampungé aku mampir ngombé ing donyå iki?
Êndi péncokanku, sawisé aku mabur såkå kurunganku ing donyå iki?
Mênyang ngêndi aku bakal mulih, sawisé aku njan-sinanjan ing donyå
iki?

Kemanakah kita bakal ‘mulih’? (pulang)
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombé‘ (berkelana) di dunia ini?
Dimana tempat hinggap, setelah kita melesat terbang dari ‘kurungan‘ (badan wadag, badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah kita hendak pulang setelah kita pergi ‘sånjå’ (bertandang) ke dunia ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgêng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja.

Kembali kita simak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Radèn Panji Natårå dan digubah lagi oleh Bråtåkêsåwå yang bunyinya seperti ini:

Pådhå kuwalik kabèh panêmumu, angirå donyå iki ngalamé wong urip, akérat kuwi ngalamé wong mati; mulané kowé pådhå kanthil-kumanthil marang kahanan ing donyå, sartå suthik aninggal donyå.

[“Pendapatmu terbalik semuanya, kau menduga dunia ini alamnya orang hidup dan akherat itu alamnya orang mati? Makanya kalian sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia ini”]

Selanjutnya beliau menambahkan:

Sanyatané, donyå iku ngalamé wong mati, iyå ing donyå kéné iki anané bungah lan susah. Sawisé kowé ninggal donyå iki, kowé bakal bali urip langgêng,….

“[Kenyataannya, dunia ini adalah alamnya orang mati, di dunia inilah adanya senang dan susah. Setelah kalian meninggalkan alam dunia ini, kalian akan hidup langgeng]”,

Dari tembang di atas kita mendapatkan pembelajaran, bahwa hidup di dunia ini serba berubah kadang mendapat kesenangan, kadang memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:

Urip sing sêjati yåiku urip sing tan kênå ing pati“.

“[Hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak terkena kematian].

Kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana ini?

Tangèh lamun sirå biså mangêrti sampurnaning pati, yèn sirå ora mengêrti sampurnaning urip.

“[Mustahil engkau dapat memahami kematian yang sempurna, jika engkau tidak mengerti hidup yang sempurna]”

Mudik, pulang kampung, dan pulang kampung tentunya tidak sekedar pulang, karena harus membawa bekal yang cukup, cukup untuk diri sendiri dan keluarga, cukup di perjalanan, cukup untuk yang ditinggalkan, cukup untuk sanak kadang, kaum kerabat, tetangga dan handai taulan di kampung.

Tetapi adakah terpikirkan, sudahkah kita siapkan bekal yang cukup yang akan kita bawa ”pulang” kelak.

Pulang, sebenar-benarnya pulang. Pulang ke kampung akhirat.

Lamun mbénjang yèn wus palastrå
Wong mati ngêndi parané
Umpamaknå pêksi mabur mêngsah saking kurungan nèki
Jiwå ninggalké rågå
Bali marang Hyang Agung

Dan saat yang paling tepat “mengumpulkan bekal untuk dibawa pulang kampung” adalah di bulan Ramadhan yang baru lalu.

Allah dan RasulNya menjanjikan hal itu. Dan Allah tidak pernah menyalahi janjiNya

………………

Ketika ramadhan di ujung pandangan.
kudekati lalu kusapa dia, hendak kemana?
dengan lembut ia berkata: Aku harus pergi, jauh sekali dan sangat lama………….
Sampaikan pesanku untuk para mukmin, Syawal tiba,
ajaklah sabar dan syukur temani hari-harimu,
peluklah istiqomah saat kelelahan perjalananmu menggapai taqwa,
bersandarlah pada tawadhu saat kesombongan menyerang,
mintalah nasihat pada Al Qur’an dan Al Hadits di setiap masalah yang engkau dihadapi.
Sampaikan juga salam dan terimakasihku kepada siapa saja telah menyambutku dengan suka cita.
Katakan padanya, kelak aku akan menyambutnya di surga melalui pintu Ar Rayyan.
Aku tak tahu, apakah aku masih dapat menjumpaimu di tahun depan.
Selamat tinggal, mohonlah pada Rabbmu, agar Dia pertemukan dirimu denganku di tahun depan.

…………

Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu ‘annaa.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, oleh karena itu maafkanlah kami

Ya Allah. Saya bersujud dan menangis di hadapanMu.
Ya Allah, Jadikanlah Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terbaik untuk kami.
Ya Allah. Jika Ramadhan sebagai waktu yang paling mulia untuk berdoa,
maka, aku mohon jadikanlah seluruh waktu adalah ramadhan bagiku,
ijinkanlah aku, di setiap waktu kapanpun itu, di saat itulah doaku Engkau kabulkan.
Dan jika ibadah shaum sebagai bagian kesempurnaan seluruh ibadahku,
maka ijinkanlah aku mendapatkan kesempurnaan ibadah shaum di waktu kapanpun aku melaksanakannya.
Ya Allah. Izinkanhlah kami menjumpai RamadhanMu di tahun depan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Selamat berpuasa sunnah enam hari Syawal.
Selamat merayakan Bakdho Kupat.

Nuwun

punåkawan
dnuåʞɐʍɐu

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: