Dongeng Punakawan

On 12/08/2013 at 16:40 punakawan said:

Nuwun

Masih dalam suasana lebaran, apalagi kita masih menunggu ”satu lebaran” lagi, yakni lêbaran kupat, maka tulisan berikut di bawah ini menutup rangkaian tiga tulisan sebelumnya, yaitu:

SEMARAK RAMADHAN & IDUL FITRI dalam KEARIFAN BUDAYA LOKAL
© Punåkawan 2013

Nyadran, Takir, Ambêngan, Gandhulan, Jaburan, Kêtan, Kolak, Apêm, Gapurå såhå Kupat, Lêpêt, Lontong duduhé Santên.

– Bagian Keempat (tamat), dari empat bagian tulisan.

Dalam konteks sosial dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran kita akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai.

Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa.

Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Nusantara Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayêm, lan têntrêm.

Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi, wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Masyarakat, yang disibukkan dengan aktivitas kerja yang banyak menyedot tenaga sekaligus (terkadang) sampai mengabaikan religisitas, melalui nyadran, seakan tersentak kesadaran hati nuraninya untuk kembali bersentuhan dan bercengkrama dengan nilai-nilai agama: Tuhan.

Selain itu hal yang sepertinya menjadi paket dari bulan Ruwah adalah tradisi padusan. Puasa Ramadhan yang akan dilakukan selama sebulan penuh adalah wajib hukumnya bagi yang memiliki syarat Iman terhadap Islam.

Laku puasa tersebut oleh orang-orang-tua dahulu juga dimaknai sebagai lêlaku prihatin (baca tulisan ini pada Bagian Pertama dan Kedua).

Sementara syarat yang diberlakukan bagi orang-orang yang mau mengerjakan tindakan atau lêlaku prihatin pada waktu itu adalah melakukan laku adus banyu suci pêrwitåsari.

Laku adus banyu suci pêrwitåsari adalah satu tindakan mandi (Jawa: adus) menggunakan sari-sari air yang sudah disucikan dengan do’a.

Tujuan laku mandi tersebut tak lain adalah untuk membersihkan tubuh sebelum melakukan pembersihan batin dengan cara laku prihatin.

Karena puasa Ramadhan yang akan dilalui selama sebulan penuh itu juga dianggap sebagai laku prihatin maka persiapannya pun musti dilakukan dengan cara padusan juga.

Padusan ini biasanya dilakukan pada satu atau dua hari menjelang hari pertama bulan puasa, dan tempat yang digunakan sebagai sarana pemandian umum itu bisa di sêndang, di sungai, atau di bêlik (semacam sumur kecil yang memiliki sumber air jernih).

Di tempat yang bersifat umum inilah di lakukan semacam ikrar dengan dipimpin oleh orang yang dipercaya sebagai sesepuh pada suatu kampung, isi ikrar tersebut adalah memantapkan hati untuk mengucapkan niat menjalankan laku prihatin berujud puasa dengan menyertakan diri pada acara padusan sebagai sarana mandi sebagai maksud untuk membersihkan tubuh agar terbuang semua kotoran yang melekat di raga syukur-syukur di jiwa ini.

Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadhan ini bukan hanya terjadi di Tanah Jawa saja. Di Padang Sumatra Barat, menjelang Ramadhan dikenal tradisi Mandi Balimau,

Kekhasan Mandi Balimau adalah air rendaman wangi. Di dalam air itu. direndam bunga-bungaan wangi (termasuk mawar), daun landep, irisan daun pandan, dan perasan air dari sejenis jeruk purut besar.

Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai.

Masyarakat Bogor, Jawa Barat, menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan menggelar acara Cucurak, yaitu tradisi berkumpul dan menggelar makan bersama.

Masih di daerah Jawa Barat dikenal tradisi Munggahan. Munggahan sendiri berasal dari kata dasar “Unggah” dalam bahasa Sunda berarti naik atau memasuki. maksudnya memasuki bulan Ramadhan yang kedudukannya lebih tinggi dan mulia daripada bulan-bulan yang lain.

Munggahan sebenarnya sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Jawa Barat suku Sunda terutama di daerah Ciamis, Tasik dan Banten.

Bahkan bagi beberapa orang terutama di daerah, acara munggahan dilakukan dengan mandi di sungai secara bersamaan dengan maksud membersihkan diri dan badan dari dosa dan noda.

Namun kemudian sebelum Maghrib tiba mandi kembali untuk kemudian bersiap-siap menuju tajug sambil menunggu pengumuman dari takmir masjid tentang awal Ramadhan.

Di Dusun Jetak, Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. beberapa hari menjelang 1 Ramadhan, setelah shalat Asar, ratusan orang di daerah yang berdekatan dengan Gunung Kidul ini, baik pria maupun wanita, tua muda hingga anak kecil berbondong-bondong menuju satu tempat yang sama.

Hampir semua ibu-ibu yang datang membawa keranjang dan berbagai wadah yang berisi aneka macam makanan dan jajanan. Mereka hendak menggelar Kondangan. Tapi bukan kondangan mengunjungi tetangga yang sedang menggelar hajatan pernikahan atau khitanan.

Mereka menuju dan berkumpul di halaman pemakaman. Tradisi kondangan bisa dikatakan sebagai bentuk lain nyadran.

Masyarakat Kota Semarang menjelang Ramadhan juga mempunyai cara unik untuk menyambut datangnya bulan suci itu, yakni Dugdèran.

Acara yang selalu diadakan setiap tahun ini ditandai dengan pembukaan pasar rakyat di sekitar Masjid Kauman di Kawasan Pasar Johar, Semarang, dan akan diisi dengan berbagai kegiatan. Acara ini akan berakhir satu hari menjelang 1 Ramadhan.

Seperti tradisi yang sudah berlangsung turun temurun, pasar rakyat ini diramaikan oleh para pedagang yang menjual barang-barang khas Dugdèran, seperti celengan dari tanah liat berbentuk hewan seperti harimau, sapi, kerinci serta kijang, juga kirab warak ngêndok.

Dijajakan pula bermacam gerabah serta mainan anak-anak seperti mobil-mobilan dari kayu serta kapal-kapalan yang terbuat dari seng. Barang-barang khas Dugdèran ini biasanya akan diborong para orang-tua untuk anak-anaknya dalam suasana suka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Sangat disayangkan, ciri khas tradisi dugdèran di Kota Semarang dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan mulai “luntur”, baik itu menyangkut tempat berlangsungnya acara maupun ikon dugdèran berupa warak “êndog”-nya.

Di Surabaya dikenal tradisi mêgêngan, yakni suatu acara yang juga bermaksud menyongsong tibanya bulan mulia Ramadhan.

Warga menyantap kue bersama tetangga sekitar. Jenis kue khas warga Surabaya dalam menyambut Ramadhan ini adalah kue apem.

Penganan lainnya yang disajikan adalah pisang raja. Khususnya, kue apem sudah menjadi kebudayaan kental masyarakat Jawa Timur dalam setiap acara.

Ada makna di balik dua penganan itu. Kue apem dan pisang raja jika digabungkan akan membentuk payung, yang dimaknai sebagai perlindungan dari segala hambatan ketika menjalankan ibadah puasa.

Pelaksanaan megengan umumnya dilakukan mulai dari sepekan hingga sehari sebelum masuk bulan Ramadhan. Mengenai waktu pelaksanaan, bergantung kultur di setiap kampung.

Sebelum mêgêngan, pada sore hari sebagian warga Surabaya berziarah ke makam leluhur dan tokoh agama ternama, di antaranya makam Sunan Ampel dan Mbah Bungkul.

Di Kota Bandar Lampung, masyarakat juga melakukan tradisi serupa. Menjelang Ramadhan, masyarakat setempat menyerbu Sungai Akar, sungai yang sumber airnya berasal dari perbukitan Gunung Betung dan bermuara di Teluk Lampung. Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Utara, Kota Bandar Lampung.

Tradisi yang sudah berlangsung turun-menurun ini disebut Belangiran.

Belangiran sebagai wadah silaturahim menjelang bulan puasa dengan bercengkerama di Kali Akar, bahkan, ada juga yang meyakini tradisi belangiran sebagai penyucian jiwa. Artinya, setiap yang datang tidak bisa memastikan niatnya untuk apa.

Tradisi lain yang biasanya dilakukan menjelang Ramadhan, yaitu berziarah ke makam atau dikenal dengan nyêkar.
Nyêkar bertujuan menghormati keluarga yang sudah meninggal dengan merawat makamnya

Sanak adang padepokan apa ada yang punya reerensi lain tentang hal ini ?

Pada acara baik Nyadran, Nyêkar, Padusan, Mandi Balimau . Balimau Kasai. Cucurak, Kondangan, Mêgêngan, Dugdèran, Munggahan, atau Belangiran, dan lain-lain sejenisnya. Hal yang mampu dimaknai adalah terjadinya satu bentuk kebersamaan.

Tak peduli apa yang menjadi keyakinan yang dianut, namun saat-saat seperti itu semua bisa berbaur menjadi satu melakukan kerjasama serta tindakannya pun seirama tanpa ada satu pengkotakan yang hanya dibedakan menurut kulit luar manusia saja.

Tradisi yang sungguh sangat bisa memberi inspirasi kepada setiap umatNya. Disinilah tercipta satu kesejatian bahwa kita manusia ini tercipta sama sebagai mahluk didepan mata Tuhan, tak ada satu sisi pun dari kita ini bisa disombongkan didepan manusia lain.

Setelah selesai melakukan pembersihan makam ritual padusan dilanjutkan gêndurèn/kênduri yang dilakukan di pendopo Masjid. Ada juga masyarakat kampung menggelar kênduri berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga).

Istilah kênduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah yang dipungut dari bahasa Persia, yakni kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahrah, puteri Nabi Muhammad SAW.

Kênduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan irama dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kênduri itu.

Tiap keluarga biasanya akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Selain ubå-rampê yang diperlukan sebagai pelengkap pada tradisi nyadran tersebut.

Dalam acara kênduri menyongsong tibanya bulan suci Ramadhan ada penganan yang hukum (adat)nya bersifat mengikat dan mesti disediakan. Dan kebanyakan dari yang bersifat “harus ada” itu adalah makanan yang memiliki simbol-simbol tertentu.

Sebagaimana yang mesti ada pada tradisi nyadran adalah ubå-rampê makanan yang berujud kêtan, kolak, dan apêm.

Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri disunduki (ditusuki) biting (lidi), atau ancak yang terbuat dari batang daun pisang persegi empat, disunduki juga pakai bambu-bambu sebesar telunjuk, dan dialasi daun pisang.

Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/atêr-atêr (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubå-rampê kênduri.

Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Demikian juga disiapkan satu perangkat makanan yang dikenal dnegan ambêngan, yaitu nasi putih lengkap dengan lauk pauknya, hanya saja kauk pauk di sini disajikan harus serba kering, dilengkapi dengan sambal cabuk, yang dibuat dari wijen, sehingga seing pula disebut sambêl wijèn,

Setiap peserta acara kênduri dengan membawa takirnya atau ancaknya masing-masing akan masuk ke pendopo masjid melalui pintu gerbang masjid atau gapurå

Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, dan lain-lain termasuk waktunya.

Setelah itu, Mbah Kêtib atau Mbah Kaum (ulama atau tetua langgar setempat, atau orang yang dituakan di dusun setempat yang terpilih), maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa. sekaligus mendengarkan pengumuman Mbah Kêtib atau Mbah Kaum tentang awal puasa.

Doanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Suasana ceria anak-anak tergambar dengan semangat melafalkan amin sambil berteriak.

Selesai berdoa, semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.
Pada saat itu ada yang tukar-menukar kue, ada yang asyik ngobrol dengan kanan-kiri, maklum beberapa warga pulang dari perantauan hadir dalam kênduri.

Biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tak hadir atau si miskin diberi gandhulan, nasi, kue yang dikemas khusus kemudian diantar ke rumah yang sudah disepakati diberi gandhulan.

Mengapa harus ambêngan, mengapa harus takir dan mengapa disebut gandhulan.

Ambêngan sebagai perwujudan permemintaan agar tempat/tanah bagi sang jenazah yang ada di dalamnya menjadi luas, dalam bahasa Jawa sering disebut ngêsur agar jêmbar kuburé, dengan harapan agar arwah yang sudah wafat, dan sanak kadang serta keluarga yang masih hidup, kelak akan mendapatkan pambênganing Pangeran, selalu mendapatkan ampunan atas segala dosa-dosanya dan diterima di sisiNya.

Takir dan gandhulan adalah penjawaan dari dzikir. Dzikir kepada Allah, ingat kepada Allah SWT.

Kata tersebut mengandung makna agar kita senantiasa dzikir kepada Allah, kita juga menyampaikan salawat kepada Rasulullah SAW, agar kelak, Insya Allah kita mendapatkan syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang dalam kosa kata Jawa sering disebut gandhulan Kanjêng Nabi, yang bermakna bergantung kepada Kanjêng Nabi Muhammad SAW.

Dari ritual tersebut, jelas nyadran tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotong-royong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi.

Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda.

Sajian berupa ketiga jenis penganan ini, merujuk kepada Sunan Kalijågå pada setiap bulan Ruwah menjelang Ramadhan. Ketiga penganan berujud kêtan karena jika kita tilik namanya, kêtan itu bisa didefinisikan sebagai penyebutan lidah Jawa pada kata khotan (bahasa Arab) yang berarti kesalahan.

Dari arti kesalahan inilah dituntutnya kita supaya selalu mengingatnya yang ternyata perbuatan salah itu adalah berawal dari diri sendiri, dan dari sini selanjutnya diharapkan bisa selalu mengkoreksinya, tentu berawal dari diri pula, bukan dari orang lain.

Sementara kolak mengandung maksud pada kata kholaqo yang memiliki arti ‘mencipta’. Arti kholaqo tersebut tercipta sebuah kata Khaliq.

Ini artinya bersamaan dengan bulan Ruwah ini diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepadaNya yaitu untuk mendoakan para leluhur kita, dan juga doa itu menuntut untuk diteruskan pula pada bulan-bulan berikutnya, baik Puasa, Lebaran dan bulan-bulan setelahnya.

Tak boleh ketinggalan adalah makanan bernama apêm. Apêm adalah penjawaan dari afwam atau afuwwu yang berarti maaf, permintaan maaf. Dapat dijelaskan bahwa pada bulan ini hendaknya kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang sifatnya pemaaf dan bisa memaafkan orang lain.

Gapurå mengandung maksud bahwa dengan bertumpuknya kesalahan (khotan) pada kita, hendaknya kita segera mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta (Al Khaaliqu), kita mohon maaf (afwam)

Supaya kita mendapatkan ampunan (ghafur) dari Yang Maha Rahim, Dzat Yang Maha Pengampun.

Ajaran yang disimbolisasikan itu adalah:

Menjelang bulan suci Ramadhan kita diminta untuk memasukinya dalam keadaan bersih dan suci (adus), yang diawali dengan terus meneguhkan tali silaturahim (nyadran).

Kita harus senantiasa ingat kepada Allah (takir – dzikir), dan bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw (gandhulan).

Bukankah kita ini penuh dengan kotoran-kotoran, penuh dengan noda dan dosa, penuh dengan khotan, maka kita diminta untuk bersuci, berbuat mendekatkan diri kepadaNya, kepada Sang Maha Pencipta (Al Khaalaiqu).

Bila telah bersuci lahir dan batin maka mohon ampunlah (afwam) kepada Allah Yang Maha Pengampun (Al ‘Afuwwu) dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kita, dan baru boleh memasuki gapurå (ghafur) Masjid, bukankah Allah Maha Pemaaf (AL Ghaffaaru, Al Ghafuuru).

Karena lidah Jawa tidak bisa mengucapkan kata-kata khotan, khaliq, dan afwam, ghafur, maka Sunan Kalijågå dengan kesepakatan para Wali lainnya memberi simbol-simbol dengan kêtan, kolak, apêm dan gapurå.

Adapun tentang kêtupat, atau kupat, lêpêt, lontong, santên, kolak dan apêm, mempunyai makna lain:

Ketujuh penganan di atas identik sebagai hidangan spesial lebaran, tradisi ini, terutama kupat diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

Dalam sejarah, Sunan Kalijågå adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa.

Beliau membudayakan dua kali lebaran atau bakdå, yaitu Bakdå Lêbaran dan Bakdå Kupat.

Bakdå Kupat adalah hari ketujuh sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakdå Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.
Kupat atau ketupat sendiri oleh Sunan Kalijågå diberi beberapa arti, di antaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat.

Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua.

Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Kupat – “ngakuå lêpat. Mengakulah bahwa diri kita ini penuh dengan kesalahan; adalah sangat aib, kesalahan yang merupakan keburukan itu bila diumbar terus-menerus.

lêpêt – “ålå-alané disilêp sing rapêt’, tutupilah aibmu, dan aib saudaramu.

santên – “sakabèhing salahmu pådhå nyuwunåå pangapuntên”, mohonlah maaf

lontong – “ ålå-alané dadiå kotong”. Keburukanmu lenyap.

lêmpêr – “yèn dilêm atimu åjå mêpêr”. Bila engkau dipuji hendaknya engkau jangan menjadi takabur.

kolak – “isiné kolak: kacang, pohung, ubi, talês, bangsané pålå kêpêndhêm (tanam-tanaman yang “buah”nya berada di bawah permukaan tanah) – ingatlah pada dirimu, bahwa kelak jika engkau telah berpulang, maka engkau akan dipêndhêm (dikubur).

apêm – mohonlah ampun kepada Allah Dzat Yang Maha Pengampun (Al- ‘Afuwwu)

Sumånggå.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: