Dongeng Punakawan

On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

Nuwun

NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
© Punakawan Sang Botjah Angon

Dalam pada itu, bangkit dan berkembanglah kemudian Kesultanan Dêmak Bintårå. Pada masa itu, kekuasaan asing mulai merambah kembali ke Nusantara, kali ini bangsa Portugis yang mencoba menjejakkan kakinya di bumi Melaka.

Pangeran Sabrang Lor, Sultan Dêmak kedua, yang juga bergelar Adipati Unus atau lebih dikenal dengan sebutan Pati Unus, Beliau adalah menantu Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, selain seorang sultan beliau adalah seorang Senapati Sarwajala, seorang Laksamana Laut.

Panglima Gabungan Armada Islam yang membawahi armada Kesultanan Banten, Kesultanan Dêmak Bintårå dan Kesultanan Cirebon. Beliau memimpin langsung kapal-kapal perang Gabungan Armada Islam ke Semenanjung Melayu untuk mengusir penjajah Portugis itu. Kembali Bendera Sang Såkå Gulå Kêlåpå berkibar di atas tiang kapal-kapal perang ketiga Kesultanan, yang dipimpin oleh Sang Adipati. Namun dalam pertempuran itu beliau gugur.

Kenangan beliau atas Tanah Melaka (Malaysia sekarang), di Trengganu ada Pantun Melayu berbunyi:

Kalau Runtuh Negeri Malaka
Papan di Jawa ditegakan
Kalau Runtuh balai kota
Badan dan Nyawa diserahkan
.

…………………………….

Ratu Kalinyamat datang kemudian, putri Sultan Trenggana pada Kesultanan Dêmak Bintårå ini kembali menjadi bupati Jepara, setelah kematian Arya Penangsang, di wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya.

Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya Adipati Unus, bersikap anti terhadap Portugis. Beliau mengirim ribuan pasukan tentara laut dan darat Kadipaten Japara memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu dalam formasi gabungan armada perang.

Kembali dengan armada lautnya yang sangat tangguh, dengan bendera Sang Såkå Gulå Kêlåpå yang berkibar di atas tiang armada kapal-kapal perangnya.

Sri Bupati Jêpårå Rêtnå Kêncånå Ratu Kalinyamat, sebagai Panglima Gabungan Angkatan Laut Tiga Kesultanan bahu-membahu dengan pasukan Persekutuan Melayu, berperang melawan armada Portugis di Semenanjung Melaka.

Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.

Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang ratusan prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.

Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Beliau memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

Demikian juga Sultan Ali Riayat Syah, dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Sayang terjadi kesalhafahaman antara utusan Kesultanan Aceh dan Demak. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerang Malaka meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.

Kemudian Sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan ratusan kapal berisi ribuan prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu terlambat tiba di Malaka, dan pasukan Aceh dipukul mundur oleh Portugis.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak puluhan kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis.

Sementara itu, beberapa kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.

Meskipun dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya Sang Ratu yang tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian gagah berani, dia adalah rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang wanita cantik yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

Dêmak yang bercita-cita sebagaimana kerajaan Nusantara pendahulunya, untuk mempersatukan Nusantara, kebesarannyapun terganggu. Sejarah kembali berulang. Upaya mempersatukan Nusantara, terganggu oleh konflik intern kesultanan Demak.

Sejak lama, setelah wafatnya Sultan Trenggana, dua garis keturunan petinggi negeri saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trênggånå dan garis keturunan Sêkar Sédå Lèpèn.

Dêmak semakin kisruh, dan semakin keruh, dan lebih “ramai” lagi, ketika di dalam pertikaian itu, tokoh-tokoh agama ikut campur tangan, bukan sebagai juru penengah, tetapi para tokoh agama yang seharusnya ngêmong jiwa-jiwa para ksatria bangsawan kraton dan para penguasa, yang semestinya selalu mengajak untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Tuhan Hang Måhå Waséså, ternyata ikut terjun menjadi “pemain”, bahkan sebagai provokator.

Pada awalnya, Kesultanan Dêmak Bintårå berusaha membangun legitimasi pemerintahannya terutama untuk mengantisipasi tumbuhnya kekuatan-kekuatan di pedalaman dan wilayah-wilayah tetangga yang tidak secara tulus mengakui kekuasaan Dêmak Bintårå.

Oleh karena itu, Kesultanan Dêmak Bintårå beriringan dengan “Dewan Wali” Walisångå dalam hubungan yang saling mendukung. Kesultanan Dêmak Bintårå mendapatkan legitimasi sebagai kesultanan yang sah yang merupakan penerus Majapahit. Sementara Walisångå mendapatkan dukungan dari penguasa Kesultanan Dêmak Bintårå dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Di era Negara Kesatuan Republik Indonesia kinipun tidak luput dengan warna-warni demikian. Tidak sedikit para penguasa, bahkan sebelum menjadi penguasa, akan sowan ke para tokoh agama, ke para pemimpin pondok pesantren, mohon restu, dan tentunya juga minta dukungan politik. Sang walipun memanfaatkan kesempatan itu.

Sejarah mencatat. Untuk menyingkirkan Calon Arang Rangda ring Girah, penguasa Kerajaan Kadiri memanfaatkan pengaruh “imam” negara. Empu Baradalah yang berhasil membunuihnya.

Ken Angrok Batara Sang Amuwabhumi mengajak para tokoh agama, para pendeta kerajaan Kadiri untuk menaklukkan Prabu Kertajaya. Kanjêng Sunan Kudus atas nama Negara Kêsultanan Dêmak Bintårå, menghukum mati Ki Agêng Pêngging ayah Karebet, dan Syeh Siti Jenar.

Sejarah akhirnya mencatat pula bahwa dalam persoalan politik, Wali Sångå yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang ‘menyatu’ dalam berda’wah itu, ternyata terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; di Giri Kêdaton, Grêsik yaitu Syèh Maulana A’inul Yakin atau Radèn Paku, yang disebut Sunan Giri; kemudian di Kadilangu, Dêmak yaitu Radèn Mas Said yang disebut Sunan Kalijågå; dan terakhir di Pêsantrèn Kudus, Kudus yakni Syêh Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus.

Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Ringkasnya adalah, bahwa perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trênggånå wafat. Giri Kêdaton dengan Kanjêng Sunan Giri yang beraliran Islam Mutihan atau Santri Putihan yang merasa lebih mengutamakan tauhid mendukung Sunan Prawåtå dengan pertimbangan kealimannya.

Sementara Kanjêng Sunan Kudus mendukung Aryå Pênangsang, Kanjêng Sunan Kudus berpendapat bahwa Aryå Pênangsang sebagai putra tertua adalah pewaris sah dari Pangeran Sêkar Séda Lèpèn yang kakak Trênggånå, yang dinunuh dibunuh oleh Prawåtå, yang anak Trênggånå.

Sedangkan Kanjêng Sunan Kalijågå yang wong Islam nJawani, yang dijuluki oleh kelompok Islam Putihan sebagai Santri Abangan atau Islam Abangan, berusaha sebagai penengah, tetapi pada akhirnya terseret juga mendukung Djåkå Tingkir atau Adipati Hadiwijåyå, dengan pertimbangan, bahwa Mas Karèbèt akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan Nusantara yang akomodatif terhadap budaya, seni, kepercayaan, adat-istiadat Nusantara, Jawa khususnya.

Haryå Pênangsang, Adipati Jlpang Panolan, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Dêmak, telah membunuh Sultan Prawåtå dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat.

Namun Haryå Pênangsang sendiri pun kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutåwijåyå, anak Sultan Hadiwijåyå dari Pajang, setelah ibukota pemerintahan dipindah ke pedalaman.

Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijåyå, yaitu Danang Sutåwijåyå atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram, tetapi benarkah Danang Sutåwijåyå hanya anak angkat Hadiwijåyå, apa bukan anak kandungnya sendiri?

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: