Dongeng Punakawan

Nuwun

NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (III)
© Punakawan Sang Botjah Angon

Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Pethak yang dibawa oleh tentara Pamalayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga = merah, dan pethak = putih).

Kisah kemegahan dan kejayaan Majapahit mencapai puncaknya, tatkala kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada, melalui sumpahnya yang terkenal itu Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sebagai program politik Gajah Mada pada hakekatnya adalah kelanjutan gagasan Nusantara pada zaman pemerintahan Prabu Kertanagara sehingga lebih tepat disebut gagasan Cakrawala Mandala Nusantara II yaitu usaha untuk menyatukan kembali negara-negara di seberang lautan yang lepas kembali pada masa pemerintahan prabu Kertarajasa dan Jayanagara ditambah dengan Negara-negara Nusantara lainnya.

Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin (merasakan) hidup mukti bersenang-senang (terlebih dahulu). Beliau Gajah Mada (berikrar): “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) menikmati hidup muktiku. Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) menikmati hidup muktiku”

Ketika sumpah itu diujarkan, Sang Maha Patih mengangkat sebilah keris miliknya, Kyai Panuluh tinggi-tinggi melampaui ubun-ubunnya, yang wrangkanya berselendangkan secarik kain berwarna merah-putih.

Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain, dan di wilayah-wilayah itu Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan.

Ada seorang penulis sejarah yang menyatakan bahwa peristiwa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahamantri Mukya ini tidak pernah terjadi, si penulis menyatakan bahwa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu hanya didasarkan pada dua bukti sejarah yakni Serat Pararaton dan Kidung Sundayana saja, dan mereka menolak kebenaran ini, tetapi tidak disertai ulasan ataupun penjelasan rinci.

Sedangkan penulis lainnya meyakini bahwa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa adalah peristiwa sejarah yang nyata pernah terjadi, namun dalam pelaksanaannya belum semua wilayah yang disebut disebut dalam sumpah itu pernah diwujudkan oleh Gajah Mada dan pasukan-pasukannya.

Menyikapi kedua pendapat tersebut, saya hanya ingin menyatakan bahwa, tidak ada larangan bagi siapapun untuk menulis sejarah, dan siapapun dapat menulis (kembali) sejarah yang dia anggap bahwa penulisan sejarah yang selama ini ada dan beredar adalah “salah” tergantung dari sudut pandang mana yang besangkutan melihatnya, dan untuk kepentingan apa dan siapa.

Sering saya katakan bahwa sejarah ditulis oleh pemesan, dan ini jelas mempunyai maksud agar si pemesan yang juga pemennag, adalah penguasa yang sedang eksis, ingin meninggalkan kesan bahwa dialah sang penguasa itu yang telah membuat sejarah (maksudnya dia adalah pahlawan dalam sejarah itu), dialah sang pemenang dan dialah yang paling benar pada suatu peristiwa sejarah yang dipesannya, sedang lawannya yang kalah adalah pengkhianat; atau ada maksud lain yang ingin mengecilkan arti ketokohan seseorang yang selama ini telah kita kenal dengan baik, seperti yang dilakukan seorang penulis terhadap peran Prabu Kertanegara dengan Ekspedisi Pamalayunya, atau penulis lain yang mengkerdilkan peran Wali Sanga, yang dianggapnya para Sang Wali adalah tokoh unhistory (hal ini akan diwedar kemudian).

Sering pula saya katakan, bahwa kebenaran sejarah adalah kebenaran hipotesa, dengan syarat tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan apapun, murni menceritakan apa adanya, berdasarkan bukti dan fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya semata-mata dari sudut keilmuan sejarah.

Sejarah (penulisannya), dapat saja berubah bahkan bertolak belakang dengan penulisan sejarah yang kita kenal selama ini, sepanjang ditemukan bukti-bukti dan fakta-fakta sejarah yang baru (tentunya bukti-bukti dan fakta-fakta yang baru ini setelah dilakukan penelitian, pengujian dan kegiatan lain yang lazim dilakukan dalam dunia keilmuan sejarah), dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya dan kebenarnnya.

Pengangkatan ke permukaan bukti-bukti baru sejarah, yang akan melahirkan penulisan sejarah yang baru, tidaklah dengan menggunakan cara-cara yang tidak ilmiah; misalnya dengan menyalah-nyalahkan sejarahwan sebelumnya, karena bagaimanapun juga, penulis sejarah sebelumnya telah berjuang sekuat tenaga mencari, menelisik, mengkaji, melakukan pengujian-pengujian berdasarkan data sejarah yang ada dan yang dapat ia temukan pada waktu itu.

Adalah perbuatan yang amat sangat tidak terhormat, apabila si penulis sejarah (baru), menyampaikan data atau bukti sejarah yang dia anggap benar, disertai cacian dan makian, yang ditujukan kepada penulis sejarah sebelumnya, atau bahkan ditujukan kepada para pelaku sejarah yang boleh jadi sudah meninggal dunia, dengan kata-kata yang tidak patut diucapkan oleh seorang yang mengaku sebagai ilmuan sejarah. Hal ini jelas, bahwa yang bersangkutan bukanlah seorang intelek, bukan seorang ilmuan sejarah yang sejati dan yang mumpuni.

Yang lebih penting lagi adalah penulisan sejarah jangan dikendalikan oleh oknum-oknum yang membawa aspirasi tertentu sesuai dengan keinginannya, yang menyimpang jauh dengan melakukan pembenaran (bukan kebenaran) atas suatu peristiwa, padahal tujuannya ingin memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa, dia tidak menyukai bahkan anti Bhinneka Tunggal Ika.

***

Majapahit mencapai puncak kejayaannya semasa pemerintahan Sang Maha Prabu Jiwana Hayam Wuruk pura Maharani Tribuwana Tungga Dewi.

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang.

Empat belas tahun setelah ia memerintah, Mahapatih Gajah Mada wafat. Jabatan patih Hamangkubhumi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu.

Sepeninggal Gajah Mada, duapuluhlima tahun kemudian Raja Hayam Wuruk wafat. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu.

Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhumi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapel ikut campur membantu pihak Suhita.

Bhre Wirabhomi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhumi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.

Tak lama kemudian Suhita wafat, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Sri Rajasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan.

Masa setelah itu, tiga tahun lamanya kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Suryawikrama Giridrawardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecamuk.

Sebab setelah itu kerajaan besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

Majapahit pun kemudian menjadi surut. Hancurnya Majapahit ternyata bukanlah oleh serangan yang berarti, justru hancurnya negeri itu akibat perseteruan tidak habis-habisnya antara generasi keturunan di Majapahit, dan di sisi lain ternyata alam ikut mempercepat keruntuhan Majapahit, pabanyu pindah, banjir lumpur, dan pagunung anyar, gempa bumi, dan Majapahit pun benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit. Akhirnya Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah dusun kecil.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: