Dongeng Punakawan

On 09/03/2014 at 19:34 punakawan said:

Nuwun

NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (II)
© Punakawan Sang Botjah Angon

Pakuwon Tumapel, yang di lereng Gunung Kawi itu kemudian berkembang menjadi kerajaan besar Singasari, setelah Tunggul Ametung dikudeta dengan cara yang licik oleh Ken Arok.

Singasari semakin jaya di bawah kepemimpinan Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Kraton Kadiri dan Baginda Sri Kertajayapun ditundukkan dalam perang Ganter.

Singasari yang semakin moncèr. Ken Arok pun selain gelarnya yang panjang itu, disebut juga sebagai swapitãmahã stawanã binaśrantalokapãlaka, orang yang mententramkan dan mempersatukan dunia.

Tetapi kekuatan yang dibina Sang Bhatara inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran demi pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå sanak-kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Golongan Sinelir dan Golongan Rajasa.

Keturunan Akuwu Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang, wil Sri Baginda Rajasa Sang Amurwabhumi.

Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.
[wil = wanita idaman lain]

Sepata dua orang sakti, Sang Brahmana Mpu Purwa dan Mpu Gandring Sang Gusali telah menyebabkan banjir darah di Tumapel yang kemuidan bernama Kutaraja Singasari itu; berturut-turut Tunggul Ametung, Kebo Idjo, Ken Arok, Pengalasan Batil dan kemudian Anusapati tewas ditikam Keris Gandring duhung anyar bergagang cangkring.

Kang amatên i ring sirå têmbé kris iku, ….. oleh ratu pipitu têmbé kris iku amatên i.”

Ratu pipitu, dan baru tiga ratu penguasa tewas tertikam keris itu. Tunggul Ametung; Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, dan Bhatara Anusapati.

Jika kutuk sepata keduanya masih ‘mandi’ maka masih ada empat orang penguasa lagi di negeri ini yang “harus” mati tertikam keris Gandring.

Benarkah?
Jika ya.
Siapa mereka dan siapa menyusul?

Namun ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, maka dua tokoh tampil di panggung politik kekuasaan Keraton Singasari.

Mereka adalah Ranggawuni dan Mahesa Campaka, yang dalam catatan sejarah disebut sebagai Någhå Roro Salèng,

Kehadiran keduanya bagaikan matahari yang bersinar cerah di langit Singosari, dan Sepasang Ular Naga di Satu Sarang itu dapat membuat Singasari semakin bercahaya, tidak ada lagi kesulitan yang bakal mengabut di seluruh daerah Singasari, musuh telah ditaklukkan, dan alampun telah dijinakkan, semenjak Ranggawuni Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Semining Rat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana dan Mahisa Campaka Sang Medawa Ratu Anggabhaya Narasinghamurti menduduki tahta Singasari.

Pararaton, Nagarakretagama, Prasasti Mula Malurung, dan beberapa prasasti lainnya memberitakan, bahwa upaya Sang Prabu Wisnuwardhana memakmurkan dan mensejahterakan kawula Singasari merayap naik untuk menuju puncak kejayaannya,

Dan Någhå Roro Salèng itu semakin kuat dan di dalam pemerintahan Singasari, meskipun masih dibayang-bayangi oleh Kadiri yang tidak dapat melupakan kejayaan masa lalunya. Di sana masih ada Jayakatwang yang bertahta di Gelang-gelang daerah Wurawan wilayah Kadiri.

Maka kemudian tibalah saat-saat cerah, Singasari semakin semarak di bumi yang semakin gemah ripah. Pada saatnya para sesepuh lengser, maka tampillah orang-orang muda menggantikannya. Pemerintahan Någhå Roro Salèng berlanjut hingga tiba wisuda sang pemimpin baru di Singosari.

Siapa?

Adalah Kertanegara. keturunan dari dua dinasti itu. Kertanegara. sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, raja agung Singasari ini berjasa besar menghalau kekuatan asing yang ingin bercokol di bumi Nusantara.

Bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah. Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan yang wwang Tartar dari Dinasti Yuan itu, sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.

Untuk itu, Kertanagara mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, sekaligus untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan, kerajaan Singasari.

Sangat disayangkan bahwa ada seorang yang mengaku sebagai penulis sejarah Nusantara masa Singasari — Majapahit, yang menyebutkan bahwa Ekspedisi Pamalayu hanyalah ekspedisi silaturahmi antara Singasari dan Suwarnabhumi serta Champa, sekedar kunjungan kekerabatan, kekeluargaan dan makan-makan, antara Kerajaan Singasari di Tanah Jawa dan Kerajaan Dharmasraya di Tanah Melayu.

Pendapat ini jelas sangat meremehkan dan mengecilkan arti semangat nasionalisme Sang Prabu Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaya Namottunggadewa yang bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa, atau Prabu Kertanagara.

Serbuan ke Tanah Melayu yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, sebagai sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera, bukan sekedar kunjungan silaturahmi.

Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan cakrawalamandala nusantara Sang Prabu Kertanagara sebagai bumper atas hegeomoni Kubilai Khan di Asia Tenggara, maka berkibarlah duaja kerajaan Singasari Sang Surya-Chandra, Sang Gêtih-Gêtah yang dibawa pasukan tentara Kertanegara ke bumi Melayu.

Sang Prabu Kertanagara berhasil membendung pengaruh Kubilai Khan, agar jangan sampai menjalar ke wilayah Nusantara.

Namun sangat disayangkan, di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang merongrong kekuatan Singasari dari dalam. Ia yang membantu kekuatan dari luar, Jayakatwang dari Kadiri, yang leluhurnya dulu disingkirkan oleh Maharaja Singasari Sang Amurmawbhumi, datang menyerbu Kotaraja, untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Dari Gamping Rawa Alas Trik, di tempat itulah Nararya Sanggramawijaya, putra Mahisa Campaka mendirikan kraton baru bernama Wilwatikta Majapahit.

Balatentara Mongol yang nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia, berhasil diusir dari Pulau Jawa oleh pasukan tentara Madura Jawa di Pelabuhan Ujunggaluh dengan kemenangan pasukan Kertarajasa Jayawardhana.

Pada pertempuran ini bendera kerajaan, Sang Saka Gula Kelapa, Sang Saka Gêtih-Gêtah, Sang Saka Merah Putih, sembilan garis merah-putih tersusun berselang-seling. dan umbul-umbul kerajaan Abang Putih yang dikibarkan bersama panji-panji kerajaan lainnya, di atas kepala para prajurit Wilwatikta Majapahit, yang juga disebut Prajurit Gêtih-Gêtah.

Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Majapahit, Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

Seperti yang kita ketahui bahwa Getih itu berwarna Merah dan Getah berwarna Putih. Adapun makna dari bendera Merah-Putih ada dua yaitu Merah berati Berani dan Putih berarti Suci, belakangan ini ada juga yang menyebutkan bahwa merah-putih itu melambangkan darah merah dan tulang putih yang menyatu dalam jiwa raga kita.

Bangunan istana tempat prabu Hayam Wuruk bertahta disebut sebagai Keraton Merah-Putih, karena tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya berwarna putih.

Empu Prapanca penulis pujasastra Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah-putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah-putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem.

Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXIII: 1.

An mangka kottaman sri-narapati siniwing tiktawilwaikanatha
Saksat candreng sarat kastawan ira n-agawe tusta ning sarwwaloka
Lwir padma ng durjjana lwir kumuda sahana sang sajjanasih teke twas
Bhrtya mwang kosa len wahana gaja turagadanya himper samudra.

[Begitulah keluhuran Sri Baginda Ekananta di Wilwatikta,
Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang,
Berani laksana tunjung merah, suci bagaikan teratai putih,
Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera]

Bagaimana bentuk atau susunan warnanya. Merah di atas, Putih di bawah, atau terbalik. Bagaimana pula bentuknya, apakah seperti yang sekarang, empat persegi panjang atau segi tiga?

Tidak pernah disebutkan apalagi ditemukan bagaimana bentuk susunan secarik bendera Majapahit itu, sehingga jika ada yang menggambarkan bendera Majapahit berbentuk segitiga dengan lambang Surya Majapahit belum dapat diterima sebagai fakta.

Namun lazim disebut bahwa bahwa bendera Majapahit adalah Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa susunan warnanya adalah Merah di atas, dan Putih di bawah.

Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Akhirnya peristiwa itu dikenang hingga sekarang sebagai hari jadi Kota Surabaya.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: