Dongeng Punakawan

On 07/08/2013 at 03:12 punakawan said:

Nuwun

lingsir wêngi kang atis,
sêpi mamring
amung swaraning tumètèsing êbun såkå sapucuking gêgodongan
kairing sêmribiting bayu anggåndhå wangining kêmbang arum dalu
miyak pêtênging ratri
mêmuji.

SEMARAK RAMADHAN & IDUL FITRI dalam KEARIFAN BUDAYA LOKAL

© Punåkawan 2013

Nyadran, Takir, Gandhulan, Jaburan, Kêtan, Kolak, Apêm, Gapurå såhå Kupat, Lêpêt, Lontong duduhé Santên.

– Bagian Ketiga, dari empat bagian tulisan.

Nyadran

Sejenak kita kilas balik ke bulan Ruwah, sebulan sebelum menjalankan ibadah Ramadhan. Ada beberapa ‘ritus’ yang sampai sekarang dilakukan oleh saudara-saudara kita di kampung-kampung terutama yang berdekatan dengan masjid atau langgar, sebagai wujud kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Ini merupakan warisan budaya yang dikembangkan oleh para wali penyebar Islam di Tanah Jawa pada waktu itu.

Bulan Sya’ban atau Ruwah (arwah, ruh), yaitu bulan yang lazim dan tepat sekali digunakan sebagai waktu untuk mengirim do’a atau sekedar menyambangi para arwah leluhur yang telah pergi mendahului kita.

Jika mengingat bulan Ruwah ini maka yang pertama menjadi kesan adalah mengenai kegiatan nyêkar (tabur bunga) dan juga nyadran.

Nyadran atau Ritual Nyadran berasal dari Bahasa Jawa Kuno Sadra. Para ahli sejarah menemukan banyak bukti bahwa Ritual Nyadran bukan ritus keagamaan, baik agama Hindu maupun Islam.

Ritual Nyadran setiap bulan Ruwah yang hingga saat masih hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan adat-istiadat peninggalan kuno yang bersumber pada faham Kêjawén, ‘agama’ aseli penduduk pribumi, jauh sebelum agama-agama ‘impor’ masuk ke Nusantara, yakni suatu keyakinan yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap alam langit atau alam adikodrati.

Ajaran Kêjawén inilah, yang sering dicurigai dan dikambinghitamkan sebagai ajaran yang musyrik dan syirik.

Ajaran Kêjawén, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi (“agama impor”) dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS).

Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa (Nusantara) itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya.

Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun citra buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Nusantara) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kêjawén, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa.

Hal itu sama saja dengan mencitrakan Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh, bahwa pelaku sadis terorisme adalah Islam, pejabat yang korupsi di Republik Indonesia ini paling banyak yang beragama Islam, terdakwa koruptor yang diadili yang tampil di layar televisi menunjukkan ciri-ciri Islam (tampilan lahiriahnya), pejabat berjilbab yang berselingkuh, kiai yang menghamili santrinya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Nusantara dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Nusantara) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut.

Pada intinya ajaran Kejawen berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Yang Maha Tunggal.

Pada zaman purba sebelum ajaran-ajaran agama yang kita kenal sekarang ini, yaitu Hindu, Budha, Nasrani, Khong Hu Cu dan Islam masuk di Nusantara, khususnya di Tanah Jawa sudah sejak lama berkembang suatu ajaran yang murni berasal dari Tanah Jawa sendiri, ajaran yang mengajarkan arti kehidupan, hakekat hidup, dan keselarasan dan kesimbangan alam, disebut “ajaran budi”. Ajaran budi ini menjunjung tinggi tåtå-kråmå, kasusilan, jujur, sabar, andap-asor, lan budi pakêrti luhur, yang dikenal dengan sebutan “Agami Budhi”.

“Agama Budhi” atau “Agami Budhi” ini oleh para sejarahwan peneliti ajaran-ajaran agama “modern” disebut sebagai suatu kepercayaan animisme/dinamisme, para penyembah berhala.

Suatu kesimpulan yang sangat naif. Bagaimana mungkin mereka menyebutnya sebagai penganut ajaran animisme? Para penyembah berhala?

Sebelum kehadiran agama-agama pendatang, Wong Jåwå (baca: penduduk Nusantara) telah mengenal Tuhannya sebagai sesembahannya dengan pelbagai sebutan yang agung.

Tuhan menurut pemahaman Wong Jåwå adalah “Sangkan Paraning Dumadi”, maka Tuhan adalah Sang Sangkan Dumadi sekaligus Sang Paran Dumadi, karena itu juga disebut “Sang Hyang Sangkan Paran”.

Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan “Pângéran iku mung sajugå, tan kinêmbari” (Tuhan itu Esa, tidak ada satupun yang menyamaiNya).

Wong Jåwå biasa menyebut “Pângèran” yang berarti penguasa. Masyarakat tradisional Jawa sering mengartikan “Pângèran” dengan kiråtå båså.

Pângèran berasal dari kata “pangèngèran”, mempunyai makna “tempat bernaung, berteduh dan berlindung”.

Sedang wujudNya tak tergambarkan, karena akal pikiran manusia tak mampu mencapaiNya dan kata-kata tak dapat menerangkanNya.

Mendefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk akal pikiran manusia sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNya.

Karena itu Wong Jåwå menyebutnya “tan kênå kinåyå ngåpå” (Dia tak dapat disepertikan).

Terhadap Tuhan, manusia (Jawa) hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranNya. Karena itu kepadaNya diberikan banyak sebutan misalnya:

Gusti Kang Akaryå Jagad (Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta),
Gusti Kang Agawé Urip (Tuhan Sang Maha Pembuat Kehidupan),
Gusti Kang Murbèng Dumadi (Tuhan Yang Maha Penentu Kejadian),
Gusti Kang Måhå Wikan (Tuhan Yang Maha Mengetahui),
Gusti Kang Måhå Agung (Tuhan Yang Maha Agung), dan lain-lain.

Ajaran yang beginikah disebut sebagai penyembah berhala?????

Menurut kepercayaan purba masyarakat Jawa, alam adikodrati atau alam roh dihuni arwah lêluhur, sing mbau rêkså, danyang lan lêlêmbut.

Penghuni alam roh ini masih bisa berinteraksi dengan manusia. Hubungan bisa berakibat gangguan, tetapi juga bisa berupa pertolongan. Karena itu manusia melakukan upacara selamatan, upacara pemujaan terhadap arwah (ritual magis) demi keselamatan dan terkabulnya keinginan.

“Pemujaan” lebih tepatnya adalah penghormatan terhadap arwah para leluhur, nenek moyang, yang telah meninggal biasanya dilakukan di punden berundak, candi, menhir, dan lainnya.

Tradisi ini, kalau sekarang dapat diperrsamakan sebagai tradisi ziarah kubur

Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh, maka ajaran kejawen dianggap sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini.

Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

Tatkala Prabu Hayam Wuruk menghelat Ritual Srada, yang wujud aslinya adalah murni lahir dan tumbuh di Jawadwipa, maka seluruh masyarakat di Majapahit yang beragama Hindu mengikuti jejak rajanya.

Ritual Srada, akhirnya menjadi ritual penghormatan arwah para leluhur di seluruh negeri Majapahit karena tidak hanya untuk mengenang wafatnya Sri Rajapatni, namun juga untuk menghormati arwah para leluhur masing-masing.

Ritual Srada yang didokumentasikan oleh Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama, ruhnya juga terus hidup di kalangan masyarakat kendati telah memeluk agama Islam. Hanya nama dan kemasannya saja yang berubah. Namanya menjadi nyadran, sedangkan ritusnya dikemas secara Islami, terutama doa-doanya, pakaian dan rangkaian acaranya. Sedangkan ubarampe media pemajatan doa masih berupa sêkul tumpeng, iwak ingkung dan lauk-pauk seperti lazimnya dalam kênduri.

Nagarakretagama Pupuh LXIII: 2

Ajna sri-natha sang tribhuwana-wijayottunggadewi
Sraddha sri-rajapatni wekasana gawayen sri narendreng kadatwan
Siddha ning karyya ring çaka siwasa masirah warnna ring bhadramasa
Sakweh sri-natha rakwawwata tadah iringen de para wrddha mantri
.

[Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi,
Supaya Srada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda,
Di istana pada tahun Çaka siwasa masirah warnna (1284) bulan Badrapada,
Semua pembesar dan Wreda Menteri diharap memberi sumbangan].

Hingga saat ini nyadran masih tetap berlangsung disetiap bulan Ruwah. Penyelenggaraannya juga masih dipusatkan di kuburan, diikuti seluruh ahli waris penghuni kuburan dari berbagai agama.

Kendati begitu ritual upacara tradisi nyadran mayoritas masih dalam kemasan Islami, bahkan sudah banyak yang menyelipkan acara pengajian dalam nyadran sehingga bagi yang tidak tahu sejarahnya ritual nyadran dianggap sebagai ritus keagamaan (Islam).

Inti dari uraian di depan hanya untuk menjelaskan bahwa nyadran bukan ritual keagamaan, baik Hindu apalagi Islam. Nyadran adalah tradisi, adat-istiadat akibat kuatnya faham Kêjawén.

Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.

Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan agama asli penduduk pribumi yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Sångå.

Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kênduri), membuat kue apêm, kolak, dan kêtan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.

Nyadran merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakat di mana rasa gotong- royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini.

Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tata hubungan vertikal-horizontal yang lebih intim. Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: