Dongeng Punakawan

On 07/03/2014 at 01:37 punakawan said:

Nuwun

NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (I)
© Punakawan Sang Botjah Angon

Om awignam astu namas sidam, Mugi linupútnå ing rêridhu
Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nityasa

Tuhan, Pencipta, Penjaga, Pelindung, Pemelihara dan Pengakhir Alam, semoga tak ada halangan, sudjudku sesempurna sempurnanya.

Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah duli Paduka Sang Maha Penguasa Alam Semesta.

Dia yang kita harapkan. Dia yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, pelayan para kawula, pelindung orang miskin, pengatur segala isi negeri. Sang Penguasa dari raja penguasa, yang mengejahwantah, nampak di muka bumi, yang lebih diagungkan daripada segala mahluk. Merata, serta mengayomi semua hamba-hambaNya, Nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, Smaradewa di dalam cinta. Sang Maha Pati di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damainya mahluk dan dunianya.

Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah pujasastra sejarah raja, mengawali tutur sabdanya.

Dari zaman ke zaman sering kali kita mendapatkan pelajaran sejarah tentang hancurnya suatu kaum atau bangsa. Baik kehancuran akibat ketamakan bangsa itu sendiri atau karena serbuan dari pihak asing. Jika menggali sejarah Nusantara kita sendiri, maka kita mendapatkan hikmah dari hancurnya kerajaan Singosari, Kadiri, Sriwijaya, dan Majapahit atau kerajaan lainnya yang pernah ada di Nusantara. Ternyata faktor yang paling banyak menghancurkan suatu negeri atau bangsa adalah akibat perebutan kekuasan antara keluarga penguasa negara, kelompok, atau keturunan.

Adalah kisruh yang berujung pada tumbang dan naiknya penguasa pada suatu negeri, raja yang tumbang, raja yang bangkit, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, culas, dendam, pembunuhan dan kematian; penuh intrik, saling iri dan dengki antar saudara, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta, korupsi, maka kemudian lahirlah generasi penguasa yang megalomania, yang selalu haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antar saudara, tetapi meski ada kisah jalinan asmara, namun ada juga perselingkuhan, penistaan, penindasan, dan pembodohan.

Ada kemenangan dan kekalahan, juga kepasrahan hidup, pengabdian tulus, ada pula ketakberdayaan, dan kesadaran diri. Tragedi.

Sâprånå sâpréné, di negeri yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari dongeng-dongeng masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal, kitab-kitab kidung, kakawin, dan pujasastra. Permusuhan, pertengkaran, perkelahian, keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung sendiri.

Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

Kisah tentang kebesaran Mahaprabu Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Airlangga adalah satu di antaranya.

Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh negaranya, Kraton Medhang, Kerajaan Mataram , yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Prabu Dharmawangsa.

Di mana tepatnya kerajaan Kraton Medhang, yang disebut juga seaai Kerajaan Mataram Kuno???

Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram)

Dibekali dengan sakit dan lapar. Lårå låpå. Dengan mêsu rågå di sepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Êmpu Kanwa Sinuwun Prabu Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya.

Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Jânggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayåbåyå terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jåyåsåbå.

Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kêrtåjåyå, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

Kèn Angrok bocah berandalan, anak penjudi dan penyamun, perampok, pembunuh, perebut istri orang,

Angrok yang putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi melakukan pemberontakan merebut tahta singgasana Tumapel,

Sang Akuwu Tunggul Ametung harus disingkirkan, dimusnahkan, atas nama kawula yang tertindas, namun lebih tepat adalah atas nama diri dan kepentingan pribadi, nafsu merebut permaisuri sang nata stri nariçwari nDédés Putri Ayu Kèn. merebut Kembang Panawijen Lereng Gunung Kawi.

nDédés. Prajñaparamita. Perawan Panawijen karma amamadhangi pemilik cahaya ilmu penerang hidup yang sangat teramat cantik itu, yang dari guwå-garbånya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

……

nDèdès putri ayu Kèn
© punåkawan

“Om awignam astu namas sidam ” —- Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, semoga tak ada halangan, sudjudku sesempurna sempurnanya.

swuh rêp dåtå pitånå
remang-remang blencong memudar cahaya
berayun pelahan dihembus sepoi bayu basah
menyusuri jejak beribu langkah sang kala,
di atas bara anglo tembikar yang retak, terhidu semerbak wangi setanggi dupa
terpedih kemelun asap kemenyan, membubung membuka tabir purba
tembangkan kidung agung rontal pustaka para raja,

sétrå pånåwijèn.
nDèdès di masa mekar kuncup kegadisannya kadusthå bakal karudhåpêkså
sinahaså pinalayokên
direnggut paksa sang penguasa
lelaki setengah tua yang tak dicinta.

Sang Pandhitå Budhå Måhåyånå menjatuhkan sêpåtå:
samåyå tan rahayu;
Lah kang amalayokên anakingsun moghå tan tutugå pamuktiné matiå binahud angêris,
moghå tan mêtuå bañune bèjiné iki, dosané norå awarah iringsun yèn anakingsun dèn-walating wong

Panawijen mengering sumber air.
Petaka berkelanjutan di Tanah Tumapel,

katuhon pagêwêning widhi kèngkis wêntis irå, kéngkab tèkèng rahasyånirå tèhèrkaton murub dèn irå Kèn Angrok

nDèdès Sang Ardanariswari di Taman Boboji,
hati yang kalut
Angrok putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha,
tan wruh ring tingkah irå
ke Dang Hyang Loh Gawe, Bango Samparan
lalu ke Lulumbang dia pergi.
Angrok anungklang duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning
pamor biru di atas baja pilih tanding
Kang amatên i ring sirå têmbé kris iku, ….. oleh ratu pipitu têmbé kris iku amatên i.”

kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa
menebar petaka
menggulung Tumapel
melahirkan dendam dan berbalas dendam.

Tunggul Ametung harus disingkirkan, dimusnahkan
Atas nama kawulå yang tertindas
Atas nama diri dan kepentingan pribadi
Gandring Sang Gusali,
Kebo Idjo si prajurit pengawal puri
jadi tumbal nafsu angkara dan ambisi.

Pakuwon Tumapel anyir becek darah yang tumpah,
sumpah sepata dua empu nan sakti
dionarkan kobaran amarah
relung-relung hati tertutup geram dan benci.

nDèdès bernasib tidak begitu indah,
hanya sekejap merasakan nikmatnya sênthong téngén menjadi permaisuri sang nata,
sang akuwu dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan mata, tapi tak bisa apa-apa.
Di masa hamil tua menjelang persalinan Anusapati,
nDèdès harus rela dinikahi Angrok sang amurwabhumi di tahta Singosari.

nDèdès,
Perawan Panawijen ‘karma amamadhangi’ pemilik cahaya ilmu penerang hidup
kawârtå yèn hayu, tan hånå amadani rupanirå
yang sangat teramat cantik itu,
dari guwa garbanya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

Prajñaparamita.
Tak sekalipun lepas mata memandang wajah dan tubuh nDèdès yang sekarang tepat berada di depan saya.
Sang Ayu Paramesywari Agung dua raja,
Ibu Suri dua dinasti
cantik jelita bak bidadari.

Semua kesempurnaan seolah ada pada perempuan itu:
bibir tipis,
hidung mbangir,
buah dada padat,
leher jenjang,
lengan halus,
dan kulit kuning langsat semerbak mewangi.

Duduk bersila berpadmasana diatas kelopak kuntum teratai merah
dan kedua tangannya berdharmacakramudra.

Tersadar.
Saya tengah berada di Museum Nasional Jakarta
memandangi patung nDèdès putri ayu tapi terlihat sedih.

Hari itu,
hujan seolah tak jemu
juga di sekitar ruangan museum yang sepi ini
berserakan reruntuhan batu-batu candi
diam membisu perempuan jelita dari Singosari itu menyendiri.

Kasêrat ing Jakarta, suryåsangkålå Bayu Aji Ambrasthå Drêsthi.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: