Dongeng Punakawan

On 16/12/2013 at 22:14 punakawan said:

Nuwun

punåkawan sowan:

NAMAKU IZRAIL, SANG KEMATIAN YANG MENGINTIPMU DI SETIAP WAKTU.

Namaku Izrail, yang tiba-tiba datang tak diundang menjemputmu.

Aku tidak pernah akan berbelas kasihan menurut ukuranmu, dan aku tidak akan menafsirkan kegendak Tuhan sesuai seleraku.

Ketika kutanyakan, apakah engkau wahai Sang Penyabut Nyawa, pernah memberitahukan tentangnya ajalnya seseorang.

”Ya,”

Lalu dikisahkan olehnya, bahwa ia Izrail, Sang Malaikat Penyabut Nyawa bersahabat dengan seorang Nabi Utusan Allah.

Ketika itu Sang Nabi berkata kepada Malaikat Maut: “Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita”.

“Apakah itu?,” tanya Malaikat Maut.

“Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku.”

Sang Malaikat Panyabut Nyawa berkata, “Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku.”

Setelah mereka bersepakat, mereka pun kemudian berpisah.

Selang beberapa lama, Sang Malaikat Maut kembali menemui Sang Nabi. Kemudian, Nabi bertanya, “Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

“Aku datang untuk mencabut nyawamu.” Jawab Sang Malaikat Maut.

“Lalu, mana ketiga utusanmu?” tanya Nabi kemudian.

“Sudah kukirim”. Jawabnya.

Sang Nabi tertegun sejenak, hanya sejenak dan kemudian ia tersenyum, dia sudah tahu dan pernah menemui ketiga utusan yang dimaksud oleh Sang Malaikat Maut itu.

“Bukankah telah berubahnya badan jasmanimu, putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya.

Wahai Nabi, semua itu adalah utusanku pada anak-anak Adam sebelum ajal menjemputnya?”

Kisah tersebut di atas mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan.

Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya.

Karena itu, kita hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut, dan karena kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah difirmankan.

Sakabèhing jiwå bakal angrasakaké pati

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

[QS Ali Imran (3): 185].

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepadaNya. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

É, pårå kang pådhå angèstu! pådhåå bêkti ing Allah kalawan satuhuning bekti kang mungguh marang Panjênêngané, sartå åjå pisan sirå pådhå mati, kajåbå manåwå sirå pådhå wong Islam.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(QS Ali Imran [3]: 102).

Kemudian dikisahkan oleh Izrail Sang Malaikat Maut yang hendak mencabut nyawa manusia yang telah di tentukan waktu ajalnya.

Dulu ketika di masa nabi Sulaiman as. Pada suatu hari, aku, demikian Sang Malaikat Maut bertutur, aku bertandang ke rumah nabi Sulaiman dengan wujudku sebagai seorang manusia biasa, ketika itu Sang Nabi sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya.

Di saat percakapan tengah berlangsung, aku menatap lama dan tajam kepada salah seorang sahabat Sang Nabi, kemudian aku pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Pada saat yang bersamaan, sahabat yang satu itu bertanya dengan nada yang ketakutan kepada nabi Sulaiman: ”Wahai nabiyullah, siapakah lelaki itu?”

Nabi Sulaiman menjawab,”sesungguhnya dia adalah Izrail Sang Malaikat Maut”, dan sahabat itu pun berkata lagi,”wahai nabiyullah, aku melihat dia memandang lama kepadaku dan aku takut dia hendak mencabut nyawaku, selamatkanlah aku dari tangannya,”

Nabi Sulaiman berkata,”Bagaimana caranya aku menyelamatkan kamu darinya?” Sahabatnya itu memaksa seraya berkata lagi,”Saya mohon tuan memerintahkan angin agar membawaku ke negeri jauh, mudah-mudahan dia kehilangan jejak dan tidak menemukanku,” maka nabi Sulaiman pun memerintahkan angin supaya membawa sahabatnya pada saat itu juga ke negeri jauh di Tanah India, lalu angin pun membawanya ke negeri India pada saat itu juga.

Dibawalah oleh angin sahabat tadi sampai di Tanah India, dan di Tanah India itu aku sudah menunggu dirinya, maka segeralah aku mencabut nyawa sahabat nabi tadi, kemudian aku kembali ke tempat nabi Sulaiman yang masih duduk berbincang-bincang dengan sahabat-sahabat lainnya yang masih tinggal.

Nabi Sulaiman pun bertanya kepada Izrail,”Apa sebab engkau memandang begitu lama kepada sahabatku tadi?”

”Aku merasa heran karena sesungguhnya aku diperintahkan untuk mencabut ruhnya di Tanah India, sedangkan dia sangat jauh dari India untuk sampai di tempat pada waktunya (untuk dicabut nyawanya), tetapi ternyata dia dibawa oleh angin hingga dapat sampai di sana tepat dengan waktu yang telah dijanjikan, sebagaimana yang telah tertulis dalam Kitab Yang Nyata, dan karenanya maka aku pun mencabut ruhnya di sana.”

Sang Nabi merenung sesaat. Sang Maut selanjutnya berkata, “tidak ada seseorang pun yang luput dari maut, meskipun dia telah berusaha menghindar dari tempatnya semula, berpindah ke tempat lain, dan bagi sahabatmu itu, dia memang tidak akan menemui ajalnya di tempatmu ini, tetapi seperti yang telah digariskan dia akan menemui ajalnya di tempat yang baru, dan dia tidak mampu untuk menolaknya dan menghidarinya.

Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu.

Kemudian ia melanjutkan. “Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak.

Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan “kun!“.

”Seperti saya ceritakan tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak.

Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.”

”Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik.

Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding dengan kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab.

Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.”

”Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes kepadaNya sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia.

Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.”

”Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan.

Kami pun sebenarnya tahu kalau manusia akan selalu berbuat sekendak hatinya di alam semesta yang Dia ciptakan dengan Rahmat dan Kasih SayangNya yang tak terbalaskan.

Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu itu. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tahu nantinya akan bermasalah.”

Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.

Nalikå Pangéranirå ngandikå marang pårå malaikat: Sayêkti Ingsun lagi anitahaké manuså såkå lêbu:

Lah barêng iku wus Ingsun gawé sampurnå sartå ing jêroné wus Ingsun tiyup kalawan Ruh-Ingsun, tumuli pådhå tumundhukå marang dhèwèké, sumujud.

Tumuli sakèhing malaikat pådhå sujud kabèh.

Nanging iblis ora; dhèwèké gumêdhé sartå kalêbu panunggalané pårå sasar.

[QS. Shaad (38) : 71 sd 74]

Sumånggå kulå aturi mèngêti sasambêtanipun kaliyan ayat ingkang sampun. Ing ayat ingkang sampun wau, ingkang dipun pangandikakakên bab anggènipun pårå pangagêng ingkang linuhung sami diyå-diniyå bab prakawis rawuhipun Kanjêng Nabi Suci; ayat candhakipun, inggih punikå ayat punikå, kénging winastan nêrangakên bab prakawis punikå.

Tumitahipun Adam tuwin sumujudipun pårå malaikat, punikå minångkå citraning jumênêngipun satunggaling nabi tuwin têlukipun pårå titiyang saé tuwin titiyang tulus dhatêng nabi wau.

Manuså ingkang katitahakên saking lêbu punikå Kanjêng Nabi Muhammad SAW., déné pårå malaikat ingkang sami sujud punikå pårå sahabatipun Sinuci Kanjêng Nabi. Wondéné ruh awon (sétan) ingkang nuntun tiyang kathah dhatêng sasar, punikå pårå panuntun ingkang sami andågå, ingkang sami sumpah sumêdyå milawani ing Kanjêng Nabi tuwin nasarakên tiyang kathah.

Déné dintêning tinangèkakên, punikå dintên nalikå tiyang byuk-byukan lumêbêt Islam, ing sasampunipun mêngsah lêbur babar pisan.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya,

kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

[QS. Shaad (38) : 71 sd 74]

Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak sudi sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingimu dalam proses Kun fa Yakuun. Maka, iapun terkutuk.

Allah berfirman :

Panjênêngané ngandikå: “Mulané mêtuå såkå ing kono amargå sayêkti sirå iku tinundhung.

Lan sayêkti wêwêlak-Ingsun anibani sirå tumêkå ing Dinå Pancasan.”

Maka keluarlah kamu darinya; sesungguhnya engkau adalah yang terkutuk.

Dan sesungguhnya laknat atasmu sampai Hari Pembalasan.

[QS. Shaad (38) : 77 sd 78]

Begitulah, Iblis pun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya.

Iblis adalah nama diri untuk sesosok makhluk ciptaan Yang Maha Pencipta, yang merupakan musuh umat manusia, nama “iblis” merupakan julukan yang diberikan kepada nenek moyang jin, nama aslinya Azazil.

Nama Iblis berasal dari kata balasa yang artinya menyesal. Maka nama Iblis diartikan “Yang akan terus menyesal di dunia dan di akhirat”.

Iblis dahulunya beribadah kepada Allah, berwajah tampan dan berpenampilan baik. Namun setelah Allah menciptakan Adam sebagai khalifah, maka iblis mengingkarinya. sejak saat itu Iblis menjadi musuh utama yang sebenar-benarnya bagi anak cucu Adam (semua umat manusia).

Wajahnya menjadi buruk rupa dan menjadi mahluk yang pertama kali berbohong di alam semesta ini.

Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugas. Tadi aku sudah bilang bahwa kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punakawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: