Dongeng Punakawan

On 08/12/2013 at 16:57 punakawan said:

Nuwun,

sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé.

[sandyakala saat rembang petang,
matahari menjelang terbenam,
ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.]

Punåkawan sowan, nyunggi rontal:

WANITA TIGA AH

Wanita adalah sosok yang kerap kali menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Sesuatu yang menyangkut wanita akan terus mendapat perhatian untuk dibicarakan.

Bagi sebagian orang, wanita adalah masyarakat kelas dua. Ia tidak berhak untuk berpendapat bahkan untuk mengurus dirinya sendiri. Semuanya diatur oleh laki-laki.

Di satu sisi ada yang begitu memuja wanita. Hidup seakan mati tanpanya, segala yang dilakukannya adalah untuk wanita.

Disisi lain banyak para filosofis menganggap wanita sebagai biang keladi terjadinya berbagai bentuk bencana dan tindak kriminalitas di dunia.

Negara hancur karena wanita. Seorang pangeran bahkan ada yang rela menanggalkan mahkota kerajaannya demi wanita.

Pertikaian muncul akibat perebutan wanita. Bahkan muncul permasalahan bahwa wanitalah yang menyebabkan Nabi Adam turun ke bumi. Wanita dianggap penyebab terjadinya dosa.

Tetapi perlu juga untuk kita ingat, bahwa dalam kasanah sejarah Nusantara tidak sedikit sosok wanita tampil mengukir sejarah harum, kita baca bagaimana peran seorang wanita yang bertahta di Kerajaan Kalingga, Sri Ratu Shima.

Di Majapahit ada Maharani Tribuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani.

Ada sosok perempuan dari Jepara, Ratu Kalinyamat yang berani melawan penjajah Portugal, dengan mengerahkan armada kapal-kapal perangnya di perairan Jawa, Ambon dan Melaka.

Makalah yang bercerita tentang Matah Ati, yang mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita dusun, Rubiyah yang lebih dikenal si Matah Ati yang akhirnya menjadi garwå sang pangeran, membentuk pasukan tentara khusus yang diberi nama Prajurit Èstri (“Komando Wanita Angkatan Darat” Purå Mangkunêgaran).

Matah Ati ikut bersama-sama sang suami yaitu KGPAA Mangkunegara I, Sang Pangéran Sambêr Nyåwå, bahu-membahu bertempur melawan keuasaan asing Kompeni Belanda.

Di Aceh ada Malahayati, ia seorang Laksamana Laut Kerajaan Aceh, yang oleh sejarahwan Barat disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilonia dan Katherina II, Kaisar Rusia.

Malahayati dengan pasukan tentara lautnya yang diberi nama Inong Bale (pasukan “Komando Wanita Angkatan Laut” Kerajaan Aceh), pasukan wanita laut yang kesemuanya janda.

Malahayatilah yang menewaskan Cornelis de Houtman, salah seorang panglima perang Belanda pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599. Dan beliaulah Laksamana Perempuan Pertama Di Dunia.

Dan daftar wanita-wanita perkasa Nusantara ini dapat kita perpanjang.

Bertolak belakang dengan “kisah” berikut ini, tentang nasib wanita Indonesia pada umumnya yang saya angkat dari kasanah susastra Jawa Sêrat Panitisastrå.

Sêrat Panitisastrå merupakan gubahan Yasadipura I dan Yasadipura II yang mengacu ke sastra Jawa Kunå berjudul Nitisastrå.

Sêrat Panitisastrå merupakan tanda proses perubahan literer di Solo pada pergantian abad XVIII ke abad XIX. (Poerbåtjåråkå, Kepustakaan Jawa, 1952: 160-161).

Gubahan Sêrat Panitisastrå muncul dalam pelbagai versi dengan pelbagai resepsi dan efek untuk transformasi sosial dan kebudayaan Jawa. Varian Sêrat Panitisastrå yaitu Panitisastrå gubahan Paku Buwånå V, Panitisastrå gubahan Sastrå Nagårå, Panitisastrå gubahan Sastråwigunå, Panitisastrå Sêkar Agêng, Panitisastrå Jarwå, Panitisastrå Jarwå dan Panitisastrå Kawi Kajarwan.

Mounier, seorang penerjemah Injil di Surakarta pada pertengahan abad XIX menerjemahkan seluruh Kitab Panitisastrå ke dalam bahasa Belanda yang dimuat dalam majalah Tijdschrift voor Neerlands Indië tahun 1843.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa Sêrat Panitisastrå mempunyai kedudukan yang cukup penting. Bahkan penguasa asing pun sangat berkenan untuk mengkaji Sêrat Panitisastrå.

Sêrat Panitisastrå khas untuk kaum elite (bangsawan) dalam keraton. Ajaran-ajaran dalam Sêrat Panitisastrå pun riuh dengan pamrih kekuasaan dan legitimasi kebudayaan atas nama keraton.

Ada petikan dari Sêrat Panitisastrå mengenai wanita yang membuat gemas atau geram:

……… lamun muktaying wanodyå, tan iyan gêmuhing kang payudårå kalih, ingèné nèng paprêman……

mungguh ing èstri ingkang pinilih déning wong priyå wanodyå ingkang agêmuh payudarané dadi sukaning kakung

Petikan syair tembang itu mungkin bisa jadi alasan untuk perdebatan panjang dalam wacana gender dengan mengacu ke kepustakaan Jawa Lama.

Apa arti dari petikan bait syair di atas?

– Wanita akan berarti jika memiliki payudara yang montok dan sintal yang bisa ditimang-timang di tempat tidur. –

Dengan ‘tafsir resmi’:

– Wanita yang menjadi pilihan pria ialah wanita dengan payudara montok yang merupakan kegemaran para lelaki. –

Sebegitu sederhanakah?
Ataukah ini sebuah pelecehan seksual?

Ironisnya di era kinipun wanita masih sering menjadi objek pelecehan seksual itu, sehingga penampakan aurat wanita di tempat umum justru sering dianggap sebagai suguhan seni.

Namun tidak kurang juga wanita yang senang dengan hal yang demikian itu.

Belum lagi yang terjadi di “belakang layar” yang jelas-jelas menampar harkat martabat kaum wanita, yakni ketika ia dihargai sekedar lahiriahnya belaka, dan “hanya” sebatas nilai erotis atau goy*ngannya dalam memuaskan nafsu syahwat lawan jenisnya.

***

Wanita dalam teks sastra sejak era susastrå Jåwå Kunå memang memiliki sejarah pinggiran yang terkadang melahirkan kutukan.

Kehadiran perkara wanita dalam kepustakaan Jawa kerap dalam dilema jika disangkutkan dengan wacana-wacana mutakhir.

Nasib wanita seperti ditundukkan atau menurut pada otoritas lelaki, kosmologi-maskulin, atau jejaring kekuasaan.

Wanita dalam Sêrat Panitisastrå dan masa sastra Jawa Madya selanjutnya menjadi objek fungsional yang dibayangi konvensi rasial dan religi yang paternalistik.

Pemahaman itu menjadi efek atau mekanisme dari kekuasaan yang mengacu ke keraton.

Sastra Jawa memang dominan lahir dari pujangga keraton yang susah melepaskan diri dari pamrih kekuasaan yang paternalistik: keraton dan kolonial.

Definisi bahwa wanita yang diinginkan kaum lelaki adalah berpayudara montok rentan dengan produksi wacana yang diskriminatif.

Payudara sebagai representasi tubuh wanita diajukan sebagai pemberi legitimasi untuk identitas dan “harga” di hadapan lelaki.

Perkara itu hendak menciptakan idealitas dan realitas dengan sumber nilai dari kaum elite untuk menuruti hasrat dan kegenitan kekuasaan.

Nilai wanita yang diletakkan dalam kemontokan payudara memang mengandung unsur pelecehan dan pembakuan seksualitas yang tak mengenakkan.

Petikan lain dalam Sêrat Panitisastrå pun menguatkan cara pandang atas wanita yang diskriminatif:

kadyå wisaning kang pêrawan, yèn wus tuwå sarirånèki, dènyå kang samyå miyat, éwå ing tyasipun, tan sênêng tan rêsêp mulat, pun kang aran janmadikå iwirirèki, yå kang ngrêsêpi manah.

Racun bagi wanita apabila sudah tertaburi uban, itu racun untuk diri sebab lelaki tak ada yang tertarik untuk memperistri atau sekadar memandang. Meski ia masih perawan, karena uban bisa membuat ia seperti lenyap kegadisannya.”

Uban dalam petikan itu jadi alasan untuk mencederai wanita dalam wacana kecantikan.

Nasib apes wanita muncul kembali dalam petikan ini.

Jangan menurutkan pikiran wanita sebab engkau akan dipermalukan oleh sesama. Dan jangan menuruti kehendak hati wanita sebab engkau akan mendapat sengsara yang bisa sampai ajal. Meskipun patut dalam penalaran, sabarkanlah dahulu.”

Petikan itu kentara mengonstruksi wanita sebagai momok dan makhluk pembuat celaka dan sengsara bagi lelaki.

Wanita seperti tak mendapat hak menentukan perubahan dan arus peradaban yang patriarki.

Ditundukkan kisah wanita dalam Sêrat Panitisastrå berbeda dari kisah dalam Babad Tutur.

Wanita sejak lama dilekati atau ditundukkan dengan sifat nrimå, pasrah, lêmbah manah, sêtiå, lan alus.

Banyak anggapan bahwa tradisi Jawa, wanita tidak memiliki perspektif kesetaraan gender karena menempatkan wanita sebagai kåncå wingking, hanya mengurusi keperluan di dalam rumah, sebagai kaum yang dikekang, dibatasi, gampang menyerah, dan ‘feminin’.

Kredo bahasa Jawa mengenai nasib wanita swargå nunut nêraka katut rupanya sangat kental mewarnai pandangan bangsa Indonesia atas wanita.

Kredo tradisional ini ternyata merupakan ungkapan verbal dari suatu pola pikir (mindset) yang tidak ramah gender, yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang bisa dijadikan korban, bahkan sampai hari ini.

Wanita pun diibaratkan awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék (siang menjadi terompah/bakiak/babu, malamnya naik pangkat menjadi alas untuk ditindih).

Gagasan wanitå atêgês wani ditåtå, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwitå dan ejekan awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék di atas, jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.

Akan lebih jelas lagi betapa rendah status wanita di kalangan kelompok masyarakat tertentu di Jawa. Di kalangan itu, wanita cuma tempat menumpahkan benih. Selebihnya babu atau budak.

Adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi “3 ah”, sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology yakni ‘néng omah, olah-olah, mlumah ngablah-ngablah’, (di rumah, memasak, {maaf} tidur terlentang seseksi mungkin); dan “3 ak”, yaitu ‘macak, masak lan manak’, berdandan secantik mungkin, pandai memasak dan melahirkan anak.

Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati. Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak lan klangênan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).

Di dunia wayang, tiap wanita muncul disambut dengan suluk ki dalang: Wanodyå ayu tåmå ngambar arum. Ngambar aruming kusumå, (wanita cantik memancarkan harum bunga). Bunga apa, tidak penting.

Lalu dicåndrå oleh Ki Dalang……….

Pipiné ndurén sajuring = pipinya bak pauh dilayang.

Jangguté nyangkal putung = dagunya bak lebah bergantung.

Bangkèkané nawon kêmit = pinggangnya indah bak gitar,

Idêpé tumêngging tawang = alisnya bak semut beriring.

Untuné miji timun = giginya bak biji ketimun.

Drijiné mucuk êri = jari jemarinya lentik.

Nétrané ndamar kanginan = matanya bersinar-sinar.

Èsêmé pahit madu = senyumnya semanis madu.

Rambuté ngêmbang bakung = rambutnya mekar mengembang.

Dalam peribahasa Melayu pun sering kita dengar:

Pipinya bak pauh dilayang. (Pauh adalah buah kuini [mangga], dilayang = dipotong memanjang dengan rapi);

Bibirnya bak delima merekah;

Dagunya bak lebah bergantung;

Alisnya bak semut beriring;

Rambutnya bak mayang [bunga kelapa] terurai;

Giginya bak biji mentimun;

Kulitnya halus bak pualam;

Tutur katanya semanis madu;

Suaranya merdu bak buluh perinduh;

Matanya bak bintang timur;

Kukunya bak kiliran taji;

Hidungnya bak dasun tunggal (dasun tunggal= bawang putih tunggal);

Semua dilukiskan dari segi lahiriah semata, dan melihat seorang wanodyå (wanita) cuma dari sudut pandang kecantikan lahiriahnya saja, sungguh bisa bikin merah muka dan bertanya-tanya, wanita hanya ditempatkan sebagai hiasan, wanita dipajang di etalase, hanya dihargai sebatas “barang dagangan”.

Dalam ketoprak dan wayang pun, juga memberikan gambaran bahwa wanita yang mencoba mendekati pria karena jatuh cinta disebut ngunggah-unggahi atau suwitå, artinya mengabdi.

Dan, kelak, bila sang pria tak lagi berkenan, wanita rela ditundhung diusir jauh-jauh.

Bahkan sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan. Benar, wanita “dimahkotai” aneka sebutan: tiang masyarakat, atau dilambangkan sebagai bunga, dan ‘diluhurkan’ sebagai ratu.

Gadis paling cantik di desa disebut kembang desa. Dan di kota-kota gadis cantik di kampus disebut kembang kampus.

Media pertelevisian memberikan wadah, ada gadis cantik, gadis luwes, gadis tangkas, diberi gelar dengan sebutan aneka julukan: putri pariwisata, miss universe, miss world, ratu kecantikan sejagad, dan sebagainya.

Tetapi juga, apa mau dikata, tidak sedikit juga dari kaum Hawa ini yang senang mendapatkan predikat yang demikian itu, bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Tapi secara sosial maupun kultural pengakuan kita atas peran wanita masih kurang.

Persepsi kultural kita masih tetap menjadikan wanita “korban”. Misalnya, betapapun jelasnya kontribusi ekonomi kaum wanita bagi keluarga, diakui umum bahwa pekerjaan wanita -seperti disebut dalam penelitian Celia E. Mather mengenai wanita pekerja di Tangerang- dianggap cuma “daripada menganggur”.

Kecuali itu, ada anggapan (tentu saja di kalangan pria) yang bersifat gender specific bahwa jenis pekerjaan tertentu tak layak dikerjakan pria, karena ia “cuma” pekerjaan wanita.

Diskriminasi atas wanita terjadi di rumah tangga atau di pabrik. Di rumah, seperti dilaporkan Diane Wolf dari penelitiannya tentang wanita pekerja di Jawa Tengah, kontribusi ekonomi wanita dianggap sekunder, cuma melengkapi hasil pria.

Di pabrik, kata Mather, mereka dibayar cuma tiga perempat jumlah gaji pria, biarpun sering mereka harus bekerja lebih keras dari lawan jenisnya itu.

Pendek kata, sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan.

Kalau dipikir-pikir, perlakuan istimewa bagi anak wanita dalam keluarga — misalnya anak wanita harus dijaga baik-baik — ternyata diam-diam mengandung “muatan” kepentingan seks buat laki-laki. Artinya, kalau ke mana saja anak dijaga, diharapkan tetap “murni prawan” dan itu nantinya biar menyenangkan laki-laki (suaminya).

Pembakuan itu cenderung ideologis karena muncul dalam konstruksi sosial yang kerap memarginalkan wanita. Inferioritas kerap jadi momok bagi wanita karena dioperasionalkan melalui mekanisme sosial, kultural, dan kekuasaan. Sambungan keapesan wanita terus mendapati fragmen-fragmen tragis.

Babad Tanah Jawi pun eksplisit melanggengkan nasib apes wanita. Salah satu fragmen dari Babad Tanah Jawi: 08 Perangan Kang Kapisan Bab 8:

Wong yèn mati jisimé diobong, yèn sing mati iku bångså luhur utåwå wong sugih bojo bojone (råndhå-randhané) pådhå mèlu diobong.

Bila seorang suami meninggal dunia, maka sang istri (tepatnya jandanya) pun harus ikut pati obong.

***

Satu hal yang perlu direnungi bersama adalah sadar atau tidak, banyak pihak melakukan tindakan eksploitasi terhadap keberadaan wanita, dan anehnya juga seringkali wanita tidak menyadari bahwa dirinya dieksploitasi.

Oleh karena itulah setiap dari kita, laki-laki terutama wajib mengetahui bagaimana kita memperlakukan wanita. Berdasarkan lembaran sejarah, kita mengetahui bagaimana wanita dapat memiliki dirinya sendiri dan menyadari keberadaannya tidak hanya sebagai saudara dari laki-laki namun yang terpenting adalah wanita adalah setara dalam penghambaan kepada Yang Maha Esa.

Wanita bukanlah musuh atau lawan kaum laki-laki. Sebaliknya wanita adalah bagian dari laki-laki demikian pula laki-laki adalah bagian dari wanita, keduanya bersifat saling melengkapi.

Wanita adalah setengah dari masyarakat yang tidak boleh disepelekan, ditelantarkan, atau dirampas haknya. bahkan boleh jadi pengaruh wanita lebih besar dari sekedar jumlah yang setengah itu.

Jangan pernah membayangkan adanya pengurangan hak wanita atau penzhaliman wanita demi kepentingan laki-laki.

***

Sebagai penutup saya cuplikan tulisan kecil:

KETIKA TUHAN MENCIPTAKAN WANITA.
[Sabda KUN, maka terjadilah yang harus terjadi]

Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Tapi dia begitu rapuh? Tidak. Seluruh tubuhnya Kupenuhi dengan kelembutan dan padanya Kubalut keuletan agar dia dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa yang tidak bisa dikerjakan oleh seorang lelakipun.

Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kubentuk kedua tangannya, yang darinya mempunyai pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu dilakukannya cukup dengan dua tangan saja.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Ya mesti…..! Wanita akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.

Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Mampu berdiri melawan ketidakadilan. Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat. Cintanya tanpa syarat. Dia menangis saat melihat yang dicintainya adalah pemenang.

Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kesuksesan. Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan semua orang. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang sejajar, saling melengkapi, saling mengasihi, saling menyayangi dan saling mencintai.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan.

***

Bahan tulisan:

1. _____________ Babad Tanah Djawi, versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana. 1925;

2. Abdul Halim Abu Syuqqah (Penerjemah: Drs. As’ad Yasin, dan Kata Pengantar dari Dr. Yusuf Qardawi, Kebebasan Wanita. Gema Insani Press. Jakarta Juni 1998;

3. Endang Tri Winarni … [et al.] Sêrat Panitisastrå Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Jakarta. 1990;

4. Muhammad Sobary, Kang Sejo Melihat Tuhan, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1993;

5. Poerbåtjaråkå, R. M. Ng. Prof. Dr. Kapustakan Djawi, Djambatan. Djakarta Amsterdam 1952;

6. Purwadi, Sejarah Raja-Raja Jawa. Media Ilmu Yogyakarta. 2007;

7. Yusuf Qardawi, Dr. (penterjemah : Dobar Ali, Editor: Maman Abdul Djaliel) Perempuan dalam Pandangan Islam Pustaka Setia. Jakara 2007.

Nuwun
punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: