Dongeng Punakawan

On 06/12/2013 at 07:27 punakawan said:

Nuwun.

Pagi hari ini Jum’at, tanggal 6 Desember 2013. Sholat Subuh baru saja usai, beberapa orang masih wiridan. Tiba-tiba di shaf ke tiga dari arah depan di sebelah kiri pengimaman terdengar orang berteriak dan beristighfar, terlihat oleh jamaah yang lain seseorang yang sudah sangat sepuh merangkul seseorang yang nampak usianya sangat muda yang duduk di sebelah kirinya. ”Dia pingsan” teriak bapak tua itu. Hampir serempak jamaah yang lain segera menuju ke arah kedua orang itu.

Salah satu jamaah yang dikenal oleh jamaah lain adalah seorang dokter, mendekat dan meraba detak nadi anak muda yang diduga pingsan itu. Dia menggelengkan kepalanya, seraya berbisik: ”Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.”. Benarkah ?

Spontan beberapa orang segera membopong ke mobil salah seorang jamaaah yang parkir di halaman mesjid dan bergegas ke Rumah Sakit yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari masjid.

Dari hasil pemeriksaan dokter jaga rumah sakit, ia dinyatakan meninggal dunia. ”Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.” Serempak kami menyebut kalimat itu.

Ya. Kematian telah menjemputnya. Dan Sang Izrail. Tidak perduli baginya, dan kali ini yang ia jemput masih muda usia.

Dan pagi hari ini matahari nampaknya enggan bersinar, dari arah timur hingga ke barat langit Jakarta mendung, ada sedikit cahaya mentari, sekedar melintas namun sesaat kemudian tertutup oleh awan yang mulai gelap. Awal pagi yang berduka.

Dongengku berlanjut:

NAMAKU IZRAIL, BERKAS DEBU DAN CAHAYA MANIFESTASI SABDA KUN FA YAAKUN

Sudahkan kita siap dijemput olehnya?”.
Siapa yang akan menjemputnya?:
Dia menjawab dengan penuh wibawa: Aku. Namaku Izrail, yang tiba-tiba datang tak diundang menjemputmu.

Pårå kadang sutrésnå padépokan,

Bersiaplah, Izrail Sang Malaikat Pencabut Nyawa setiap saat akan datang menemui Panjênêngan. Datang tak mengenal waktu, datang tak mengenal batas-batas dan sekat-sekat ruang, dan Izrail datang tak perlu minta izin kepadamu.

Malam, ketika hal itu terjadi, sudah sangat larut, bahkan sudah melampaui lingsir wêngi, seperti malam-malam yang kemarin.

Ada rasa takut. Meremang bulu kuduk, ketika aku melakukan ”wawancara” dengan Malaikat Izrail Sang Pencabut Nyawa itu. Mendengar namanya saja mungkin sudah pingsan. Takut yang amat sangat, menggigil dan keluar keringat dingin. Inikah akhir kehidupan bagiku?

Terasa sekali jiwa ketaqwaan yang masih sangat rapuh,
Sadar ternyata banyak sekali kesempatan yang dilewatkan tanpa pencerahan.
Sadar masih terlalu sedikit amalan kebajikan yang sempat ditunaikan.
Sadar bahwa selama ini belum banyak berbuat kemaslahatan
Sadar masih terlalu sering tidak bersyukur atas nikmat karuniaNya.

Maaf. Aku berada pada suatu pilihan tapi tak dapat memilih. Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat dengan santainya dan pasrah “mengalami” dan “menikmati” peristiwa itu.

Kepadaku seakan-akan diingatkan pada sesuatu peristiwa yang telah lama, lama sekali. Ketika ruh ditiupkan, tatkala usia kita baru empat bulan dalam kandungan ibu, tatakala kita telah menyatakan janji ketauhidan kita. Gusti Hang Måhå Sangkan Dumadi meminta kesaksian kita:

Lan èlingå, nalikå Pangéranirå ngêrsaaké marang anak-turun Adam sâkå sulbiné, lan Gustimu anêksèkaké kanthi ngêndikå: ”Åpå Ingsun iki Pangéranirå?” Pårå putrå-wayah turun Adam nuli munjuk matur: ”Nuwun. Inggih Padukå punikå yêktos Gusti Pangéran kawulå”. (Gusti Pangéranirå anêksèni, lan pårå malaikat banjur pådhå munjuk): ”Kawulå sâdåyå sami anêkséni sêsanggêman sartå pangakènipun pårå putrå-wayah turun Adam punikå, supados bénjang ing Dintên Piwalês, pårå anak-turun Adam sampun ngantos mbalélå lan mbotên ngakéni munjuk ing Panjênêngan Padukå Gusti (lan matur): ”Kawulå sami kêsupén mênawi gadhah sêsanggêman utawi pêngakénan ingkang mêkatên punikå” [QS. Papan ingkang Luhur (7) : 172]

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. [QS. Al A’raf — Tempat yang Luhur — (7) : 172].

Pada saat itulah, ketika Tuhan berfirman:

”Alastu birabbikum?” qaluu: ”balaa syahidnaa”

”Åpå Ingsun iki Pangéranirå?” Pårå putrå-wayah turun Adam nuli munjuk matur: ”Nuwun. Inggih Padukå punikå yêktos Gusti Pangéran kawulå.”

Maka Allah mengutus Ruh Suci malaikatNya untuk menuliskan amal perbuatan manusia selama hidupnya; menuliskan rejekinya; menuliskan nasibnya; menuliskan ajalnya kapan, dimana dan bagaimana ia mati.

Ketika ketentuan-ketentuan itu dicatat pada Kitab Yang Terpelihara, maka sejak saat itulah Aku. Izrail, Sang Malaikat Pencabut Nyawa sudah mengetahui kapan harus menjemput manusia untuk menemui ajalnya.

Namaku Izrail”.
Ya Allah“, ujarku setengah tak percaya. “Engkau…engkau… …..
Jadi ….. engkau ….. engkau Izrail malaikat maut itu?“, tanyaku gemeteran.

Ia mengangguk. Baru kusadari ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar.

Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang suci, yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah. Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu di kulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik.

Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama.

Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin.

Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku.

Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja dia tidak berada dalam jarak dekat. Aku yang hanya beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini.

Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan.

Kok ya, si Izrail ini pake parfum darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi.

Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan di sekujur tubuhku.

Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang di antara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.

Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri di hadapanku ini.

Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan.

Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.

Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemas di pembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah.

Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur’an.

Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma ”berdiri” disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri.

Tapi sebenarnya aku tidak tahu pasti, bagaimana aku harus menyebutkan posisi dia, apakah dia sedang duduk atau berdiri atau yang lain.

Aku menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

Sudah waktunyakah aku?“, tanyaku pelan. Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku.
Ya, sudah saatnya menghadap Dia“, katanya penuh wibawa yang tak dibuat-buat, dan sekali lagi, ia begitu hormat dan takzim ketika menyebut kata ”Dia”.

Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar.

Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku menjadi tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.

Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengajakku pulang……“, harapku.

Entah mengapa, tiba-tiba kata ”pulang” meluncur begitu saja dari mulutku.
Pulang? Ya pulang, dan tiba-tiba pula aku merasa bahwa tempat di mana kini aku berada bukanlah ’rumah kediamanku’.

Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tahu kalau aku akan sedikit rewel. Ia cuma mengangguk.

Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya. “Ceritakan tentang kamu…“.

Hening sejenak, kemudian:

Ketika Dia Yang Maha Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayangNya, maka aku ada seperti yang lainnya dari jenisku. Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad, berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan sabda Kun Fa Yakuun.

Aku adalah satu di antara yang tak terhitung, yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan sabda Kun Fa Yakuun. Aku adalah bagian dari Kehendak dan KemahakuasaanNya.

Ada milyaran proses yang menyertai KuasaNya. Sejumlah itulah kami ada. Baik yang kasat mata nyata maupun yang tidak kasat mata. Baik yang terasa maupun tidak terasa. Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik. Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya.

Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhanNya, maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu, kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu, seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.

Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendakNya. Atau makhluk semacam itulah; Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksianNya, ketika kalian bersaksi: “Ya, Kami bersaksi!“.

Aku sekedar menerima catatan dari Kitab Yang Nyata, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja dan kapan saja.

Aku terbuat dari serpihan-serpihan debu dan cahaya yang menjaga proses sabda Kun Fa yakuun. Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan; Dia ada karena Kekekalan diriNya, KemandirianNya, sehingga bagi selainNya, maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: