Dongeng Punakawan

On 04/12/2013 at 07:51 punakawan said:

Nuwun

Rontal yang diwedar hari ini:

ÅJÅ DUMÈH, ÅJÅ KAGÈTAN, ÅJÅ GUMUNAN, ÅJÅ GÊTUNAN, LAN ÅJÅ ALÊMAN

[dipetik dari perbendaharan pustaka pribadi Ki Bêgawan Bayuaji]

ÅJÅ DUMÈH. [Jangan mentang-mentang].

Falsafah hidup åjå dumèh mengajarkan kepada kita sikap rendah hati dan têpå slirå. Dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari beragam status sosial, kesenjangan seberapa kecilnya pasti ada. Ada yang miskin ada yang kaya. Ada yang pintêr ada yang nggak pintêr, ada juga yang cakep dan kurang cakep. Sikap åjå dumèh berperan dalam memelihara kerukunan dan tenggang rasa dalam interaksi sosial di kehidupan sehari-hari.

Sikap åjå dumèh ini bersumber dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipanNya, yang sewaktu-waktu dapat diambilNya jika kita tidak mampu menjaga amanahNya. Jadi apanya harus dibanggakan?

Dalam praktek keseharian, sifat “dumèh” ini dikarenakan kita merasa ‘lebih’ dibandingkan orang lain, dumèh sugih (mentang-mentang kaya), dumèh duwé pangkat (mentang-mentang berpangkat), dumèh kuwåså (mentang-mentang kuasa), dumèh pintêr (mentang-mentang pandai), dll.

Bukan berarti kita tidak bersyukur terhadap pemberian Tuhan atas kelebihan yang kita dapatkan, tetapi hendaknya kita menyikapi kelebihan tersebut sebagai sebuah ‘amanah’, yang dibalik semua itu kita memiliki kepercayaan Tuhan yang telah memilih kita, untuk menitipkan keberhasilan tersebut demi tujuan pengamalan terhadap sesama.

Pamer kekayaan; kekuasaan, pangkat dan jabatan; dan kepintaran, bukan sikap mensyukuri nikmat Tuhan.

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki semata adalah milik Tuhan dan karena itu kita dengan tegas harus bersikap åjå dumèh, karena dengan kelebihan tersebut kita tetap memiliki tugas di mata Tuhan.

Ajaran ini menghindarkan kita dari sifat sombong, takabur, mau menang sendiri, dan lebih berintrospeksi serta mawas diri lebih dalam lagi. Bukankah iblis diusir keluar dari surga karena watak dumèh ini, iblis merasa lebih unggul daripada manusia.

Beberapa sikap åjå dumèh yang berguna untuk menjaga kita agar selalu mawas diri dan rendah hati dalam berinteraksi, di antaranya:

Åjå dumèh ayu têrus kêmayu. Aja dumeh bagus têrus gêmagus (Jangan mentang-mentang cantik/tampan, terus merasa paling cantik/tampan).

Sikap kêmayu atau gêmagus adalah sebuah sikap yang berlebihan di mana menganggap dirinya paling cantik/tampan sedunia. Merasa bangga diri karena menjadi pusat perhatian, “lha wong paling ngganthêng jé”.

Sikap ini sangat dekat dengan kesombongan dan takabur. Yakinlah wong sing kêmayu/gêmagus iku ora bakal disênêngi liyan. Orang yang merasa paling guaanthêng or ayu moblong-moblong tidak akan disukai oleh orang lain.

Åjå dumèh sugih têrus sêmugih. (Jangan mentang-mentang kaya, terus bersikap sok kaya).

Penyakit sêmugih sering menjangkiti perilaku kita terutama pamèr dalam menggunakan harta. Belanja jor-joran tidak lagi berdasarkan kebutuhan, namun semata memuaskan nafsu keinginan belaka.

Merasa dengan membeli dan memamerkannya kepada orang lain, tetangga dan saudara akan menegaskan status sosialnya. Bukankah orang yang suka memamerkan harta bendanya termasuk yang tidak disukai Tuhan. Sikap ini condong kepada sifat loba, riya’ dan boros.

Åjå dumèh pintêr têrus kêminter. Sikap kêmintêr adalah kita merasa lebih tahu dan menguasai suatu masalah daripada orang lain.

Merasa lebih tahu segala persoalan. Sikap kêmintêr ini menutup pendengaran dan hati kita dari pendapat atau nasehat dari luar. Perilaku kêmintêr membuat kita meremehkan orang lain dan tidak bisa menerima jika ada yang lebih mumpuni daripada kita. Sikap ini sangat dekat dengan egois dan keangkuhan.

Åjå dumèh mênang têrus sâwênang-wênang. Ini tentunya berlaku untuk mereka yang memenangkan dan mendapat kepercayaan orang banyak (rakyat) untuk mengatur suatu organisasi (termasuk pengertian di sini adalah: Negara, Kota, Propinsi, bahkan dusun/desa, partai, dan sejenisnya).

Sebuah kemenangan menjadi seorang penguasa berarti terpilih oleh rakyat untuk mengemban amanat mereka. Itulah alasan mereka berkuasa. Seharusnya mereka berpikir dan bekerja dengan semboyan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat, bukan apa yang bisa saya ambil dari rakyat.

Bukannya kalau sudah berkuasa justru kemudian mengambil paksa hak rakyat. Sikap sewenang-wenang dekat dengan sikap zalim.

Ingatlah bahwa donyå iku mung kanggo mampir ngombé. Sebuah episode yang sangat singkat dari perjalanan panjang hidup kita. Hidup yang sejati adalah yang di akhirat nanti. Di dunia ini, segala sesuatunya bersifat fana, pasti berawal dan berakhir.

Manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah, meninggalkan harta, jabatan dan gengsi yang tidak akan menolongnya dari hisab hari akhir. Jadi mengapa harus membanggakan sesuatu yang fana?

ÅJÅ KAGÈTAN. [Jangan mudah terkejut/terperanjat]

Hal ini mengajarkan kepada kita agar menjadi manusia yang sarèh, sabar, teguh dan kuat. Apabila kita ‘kagètan‘ maka kita akan mudah ‘patah’ oleh hal-hal yang sêpélé. Misalnya kita akan mudah histeris apabila menerima kabar yang menyedihkan, menggembirakan, menjatuhkan.

Åja kagètan juga mengajari kita untuk bijaksana dalam kesabaran, agar dalam bermasyarakat kita bisa menyatu atau berbaur dengan semua lapisan, pandai membawa diri, dan tidak ‘over acting’.

Åja kagètan mengajarkan agar kita secara perlahan memiliki ketahanan mental, sehingga dalam situasi yang terburuk sekalipun kita memiliki kekuatan dan keteguhan hati.

Nasihat ini juga mengandaikan pengetahuan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari perilaku dan perbuatan kita sendiri. Keinsyafan bahwa hidup di dunia ini dikuasai oleh peradilan gaib yang abadi, menjadikan kita sabar dalam menghadapi gejolak kehidupan.

ÅJÅ GUMUNAN. [Jangan mudah heran]

Nasehat ini dimaksudkan agar kita sebagai manusia tidak mudah heran apabila melihat ‘kelebihan’ yang dimiliki orang lain. Manusia lemah adanya, segala sesuatu hanya titipan dari Yang Maha Kuasa, sehingga kita diajarkan untuk memiliki ketenangan hati dan batin dan tidak mudah heran oleh segala yang bersifat mengumbar nafsu.

Manusia yang mudah terheran-heran dengan sekitarnya membuat dia ingin mencapai apa yang digapai orang lain atau bahkan dapat pula timbul iri sehingga dia menjadi tidak bersyukur atas yang diterimanya.

Kebahagiaan dan nasib baik seseorang adalah anugerah Yang Maha Esa, sesuai dengan kesungguhan hati penerimanya. Seorang yang tidak mudah heran/takjub menyadari bahwa ia adalah makhluk ciptaanNya. Permohonan kepadaNya selalu disertai kesungguhan hati, kejujuran, dan usaha yang tak kenal menyerah. Keberhasilan dan keberuntungan disyukurinya sebagai anugerah Tuhan sehingga tak pernah menjadikannya iri terhadap sesamanya.

Apabila kita dapat menahan diri, tidak heran melihat kilau dunia, dan kita hanya fokus terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, minimal kita tidak akan merusak ibadah kita dan kesabaran kita menerima hidup.

Bukan berarti kita harus pasrah bongkokan menerima keadaan dan kekurangan dengan pasif, tetapi kita dapat secara positif berjuang dengan tenang dan kita dapat merasakan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita sendirian, melainkan selalu ada pendampingan dari Yang Maha Kuasa terhadap apapun yang kita hadapi.

ÅJÅ GÊTUNAN

Åjå Gêtunan, jangan mudah kecewa. Kecewa berarti menyesali diri, tidak menerima ‘jatah’ yang sudah digariskan olehNya. Mengingkari nasib adalah bentuk lain dari gêtun.

ÅJÅ ALÊMAN.

Åjå Alêman, jangan manja. Manja, apalagi kemudian diikuti tidak mau berusaha keras bukanlah sikap manusia mandiri. Manja ingin selalu minta perhatian, manja selalu tampil ‘mêmêlas’, merasa dirinya disakiti, merasa dirinya dizalimi. Manusia yang nglokro.

Seakan-akan dirinya peduli kepada orang lain, tetapi sebenarnya yang ada dalam dirinya adalah dia ‘minta’ agar orang lain mau memperhatikan dirinya. Kalau menggunakan bahasa populer sekarang, manja adalah lebay.

Manja membuat manusia menjadi peragu, lamban memutuskan sesuatu, dengan demikian juga lamban untuk bertindak. Manja menyebabkan manusia terlalu tergantung pada orang lain. Tetapi yang lebih buruk lagi, bila si lebay ini merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh orang lain.

Sikap demikian, bagi yang bersangkutan menjadikan dirinya manusia yang mudah patah semangat, padahal tantangan dunia semakin berat, jika manusia manja dan patah semangat, bagaimana menghadapi dunia?

Sedangkan bagi masyarakat sekelilingnya, jelas orang semacam ini akan sering mendapatkan cemohan, olok-olok bahkan kecaman.

Inti dari filsafat Jawa itu sangat luar biasa. Orang yang tidak dumèh, tidak kagètan, tidak gumunan, tidak gêtunan dan tidak alêman bukanlah orang yang suka berkeluh kesah. Dia akan selalu bersyukur, menikmati pemberian dan anugerah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap demikian, kita akan selalu berjuang dalam mengarungi kehidupan dengan semangat.

Nuwun, sugêng énjang

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: