Dongeng Punakawan

On 29/11/2013 at 05:26 punakawan said:

DÅSÅNÅMÅDJARWÅ, DÍRDJÅATMÅDJÅ
© punåkawan 2013

Wilujêng énjing pårå Cantrik lan Mêntrik,

Cantrik? Mêntrik?

Punåkawan sering baca di komen-komen para “komentator” di gandhok ini, sebutan-sebutan cantrik dan atau mêntrik, tetapi ada pula mentrikbelle (?!?)

Apa arti sebenarnya dari kata-kata cantrik dan mêntrik itu?

Demikian juga beberapa kata lain yang sering kita baca juga seperti: putut (contoh: Putut Risang), bêgawan dan rêsi.

Istilah-istilah tersebut mengacu pada dunia sanggar. Sanggar di sini bukan seperti yang lazim kita kenal sekarang, semisal sanggar tari, sanggar senam, dstnya, tetapi sanggar dimaksud adalah tempat atau wadah pendidikan (panggonan ngangsu kawruh) keagamaan (Budha atau Hindu), yang dalam Islam dikenal pondok pesantren. (Arab: funduk – yang arti gramatikalnya adalah hotel).

Demikian juga istilah-istilah dalam tata pemerintahan kerajaan Nusantara Lama (Mataram Lama, Kadiri, Singasari, dan Majapahit), berlanjut ke masa pemerintahan masa Demak, Pajang, dan Mataram Baru), seperti: mangkubumi, rånggå, adipati, kabuyutan, bayangkara.

Berikut ini beberapa istilah yang lazim dikenal dalam sanggar dan tata pemerintahan seperti yang telah saya sebut di atas, yang saya kutip dari naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesyan.

Sanghyang Siksakanda(ng) Karesian merupakan naskah didaktik berasal dari Galuh (Ibu kota Kerajaan Sunda, pada tahun 1440Ç), yang ditulis di atas daun gêbang (nipah) menggunakan mangsi hidêung, ditulis dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno,

Sanghyang Siksakanda ng Karesiyan merupakan “Buku berisi aturan, tuntunan serta ajaran agama dan moralitas, untuk menjadi orang bijaksana atau suci”.

Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri dari 30 lembar daun nipah. Bercandrasengkala: “nora catur sagara wulan” — nora (0), catur (4), segara (4), wulan (1) –, dibaca tahun 1440Ç atau tahun 1518M.

[Bila sanak kadang berkenan, dan tidak mengganggu, punåkawan akan mendongengkan isi naskah, warisan dari leluhur tersebut.]

Selain istilah-istilah yang dikenal dalam dunia sanggar, terdapat juga istilah-istilah yang digunakan Empu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama, Pararaton, Sastrå Jåwå, dan kitab-kitab lainnya.

Berikut yang sempat Punåkawan kumpulkan dan kini saya wedarkan untuk pårå sanak kadang:

A. Penggolongan profesi pekerjaan di sanggar:

1). Rèh pandhitå èstri. Pekerjaan cantrik perempuan dari yang terendah hingga yang tertinggi dalam sanggar:

1. Obatan = cantrik perempuan yang bertugas berjualan ataupun berbelanja di pasar.

2. Abêt-abêt = cantrik perempuan, orang yang jagi mangangsu (bertugas mencari air), ramban (memetik daun-daunan untuk sayur), bertugas di dapur sanggar.

3. Abon-abon = cantrik perempuan yang jagi panyapu, mêmasuh, sesuci (menjadi tukang sapu, tukang cuci);

4. Kaka-kaka = cantrik perempuan yang bertugas menyiapkan masakan, penanggung jawab dapur sanggar;

5. Énd[h]ang = cantrik perempuan yang mendapatkan tugas secara serabutan, sebagai pelayan begawan, tetapi juga menjabat sebagai kepala para cantrik perempuan;

6. Bid[h]ang = cantrik perempuan yang bertugas sebagai ibu susuan anak [h]ajar;

7. D[h]ayang = cantrik perempuan yang bertugas menjaga sanggar palanggatan (tempat samadi, altar pemujaan, tempat persembahyangan), membersihkan dan merawat, memberi wewangian semisal harum-haruman bunga di sanggar palanggatan.

8. Sontrang = cantrik perempuan yang bertugas sebagai juru pengobat, merawat penghuni sanggar yang sedang sakit (perawat); memelihara tanaman obat-obatan; juga sebagai pamomong, semacam ‘baby sister’ putra-putri petinggi sanggar.

9. Mêntrik = cantrik perempuan yang dipercaya untuk merawat pakaian dan makanan (tata busana dan tata boga);

10. Dungik = cantrik perempuan yang dipingit serta merupakan calon isteri [h]ajar; disebut juga Kôndhadongèng.

11. Ubwan, Ubon, Ébon = pendeta perempuan yang sering disebut juga sebagai ajar-ajar (mengajar, melatih) dan tugasnya membantu begawan, tempat tinggal pendeta perempuan dalam struktur kadewaguruan ini disebut Pangubwanan;

12. Kili = Wiku Histri atau pendeta perempuan, tingkatannya sudah tinggi dan sudah ditasbihkan menjadi pendeta.

13. Biksuni, bhikkuni, atau bikkhuni = Rohaniwan perempuan dalam agama Buddha.

2). Rèhing pandhitå. Pekerjaan cantrik laki-laki dari yang terendah hingga yang tertinggi dalam sanggar:

1. Cantrik = jagi kèngkènan, seseorang yang bertugas melayani segala hal;

2.. Amêng = cantrik pelayan sanggar, penghibur;

3. Masang = cantrik yang tugasnya serabutan, karenanya tugas utamanya tidak diketahui dengan jelas;

4. Cèkèl = juru tanêman, jagi rumêkså patêgilan, cantrik yang bertugas merawat tanaman di kebun;

5. Palikên = cantrik yang ahli dalam seni rupa (pelukis, pemahat, pematung);

6. Puthut atau Putut = abdi kepercayaan sang pendeta, selaku cantrik kepala yang dipercaya mengatur tugas-tugas para cantrik; bertugas merawat sanggar palanggatan, bertanggung-jawab mengatur, menata, merawat perlengkapan persembahyangan;

7. Manguyu = cantrik kepala, tangungjawabnya lebih besar daripada seorang Putut, yang mempunyai tugas khusus pengatur jadwal persembahyangan; salah satu tugas utamanya adalah anabuh gênthå kêkêlèng salêbêtipun pamujan (menabuh genta).

8. Têtêgå = cantrik setingkat di bawah manguyu; (tétégå = têtêg = kentongan, alat yang dipukul untuk memberitahu kegiatan persembahyangan);

9. Janggan = Juru Sêrat (juru tulis) sanggar, pencatat ajaran-ajaran yang diberikan di sanggar, anganggit-anggit (penulis atau pengarang kitab), setingkat di bawah [H]ajar.

Dari akar kata janggan, maka lahirlah kata bujanggan, pujangga (Mpu jangga = êmpu janggan).

Prapanca penulis Pujasastra Kakawin Nāgarakṛtâgama adalah seorang janggan, gelarnya kemudian adalah Pujangga Prapanca, atau sering disebut Empu Prapanca.

Di Tatar Sunda dikenal sebagai Uga,

10. Juru Basa Darmamurcaya, Juru Båså Darmåmurcåyå = cantrik ahli bahasa, penterjemah bahasa; terutama kitab-kitab tuntunan keagamaan;

11. Walkå = cantrik pertapa yang mengenakan pakaian-kulit-kayu; dalam beberapa pakem wayang, seorang ksatria sering menyamar sebagai walkå, yang diikuti oleh para Punåkawan;

12. [H]ajar, Ajar = Juru Mêmulang, pårå ulah arjå, cantrik pustakawan; ahli kitab-kitab (pada umumnya yang disebut kitab terbuat dari rontal) keagamaan;

13. Wasi = Juru pangadilan, angrampungi prakawis, cantrik kepala penanggung-jawab bidang penegakan hukum, dan perkara-perkara hukum, di tempat lain disebut sebagai pertapa;

14. Wiku = bhikku, bhikṣu, pandhitå;
Bhiksu (Sanskerta: Bhikṣu), atau kadangkala dieja sebagai biksu, atau kadangkala dieja sebagai biksu, bhikkhu dalam mazhab Theravada yang dieja dengan bahasa Pali, atau bikkhu (biksuni, bhikkuni, atau bikkhuni untuk wanita) merupakan kata terapan yang diberikan kepada seorang pria yang telah ditahbiskan dalam lingkungan biara Buddhis. Kata ini seringkali dirujukkan sebagai rohaniwan agama Buddha.

15. Pêdanda = pandhitå

16. Råmå = rêsi, bêgawan, pandhitå;

17. Rêsi = (makna sebenarnya adalah orang yang bijaksana); mahaguru, pandhitå, bêgawan;

18. Bêgawan = mahaguru, rêsi, pandhitå. Lazimnya adalah raja yang lèngsér dari kedudukannnya sebagai raja untuk kemudian menjadi pendeta; kita pernah mendengar istilah lèngsér kêprabon, madêg panditå (raja yang turun dari tahta, kemudian menyepi dan bertapa menjadi pandhitå / bêgawan / rêsi /råmå); dalam dunia pewayangan kita kenal Bêgawan Abiyåså, Rêsi Bismå, Råmå Parasu, dll.

19. Påråtåndå = secara umum berarti tokoh keagamaan;

20. Pand[h]itå, Panditå = déwåguru, guru agêng ingkang sarwa putus ilmu (guru besar keagamaan yang memiliki kemampuan ‘linuwih’), pemimpin sanggar, sering juga disebut Panêmbahan, atau Bêgawan. Tempat tinggalnya disebut Kadéwaguruan.

21. Brahmana, Brahmånå= tokoh agama, pemimpin agama, agamawan;

3). Berikut di bawah ini adalah tokoh-tokoh yang berada di lingkungan di sanggar, namun tidak tergolong sebagai anggota sanggar, mereka berperan sebagai pelayan.

1. Indhung-indhung = seseorang yang mengabdi dan mondok (suwitå di sanggar, penjaga kelestarian alam lingkungan sanggar dan sekitarnya; menata dan mengatur keserasian alam lingkungan sanggar dan sekitarnya, seperti: hutan, tegal, padang rumput, sawah, tanah perbukitan, pegunungan, sungai, dan lingkungan lain sekitar sanggar;

2. Gêluntung = bertugas membangun tempat kediaman (wismå, gandhok, gubug) bagi para penghuni sanggar dan pekerjaan pembangunan lainnya, mencari kayu di hutan dan mencari air, gêgriyå nyagak sakawan, angrêrêmbat, usung-usung, mêndhêt kajêng tuwin toyå;

3. Uluguntung = lurah kampung, penanggungjawab semua hal yang terjadi di lingkungan sanggar;

4. Punåkawan = Abdi, Pêndèrèk (pengikut) ksatria kemanapun Sang Ksatria pergi, termasuk ketika Sang Ksatria nyantrik di sanggar. Sering disebut Batur (pangêmbating catur), bermakna kawan berdiskusi, tumpuan persoalan yang timbul, sahabat tempat “curhat”.

Istilah punåkawan berasal dari kata pånå yang bermakna paham, dan kawan yang bermakna teman. Ada juga yang mengartikan kawan sebagai “sêkawan”, karena punåkawan itu terdiri dari empat tokoh yakni Sêmar, Garéng, Pêtruk dan Bagong.

Punåkawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun juga harus memahami apa yang sedang menjadi tugas dan tanggung jawab bêndårånya (ksatria yang diikutinya).

Bahkan seringkali Punåkawan bertindak sebagai penasihat para anggota sanggar, termasuk kepada pemimpin sanggar, meskipun nasehat yang disampaikan itu dengan cara guyonan, gojègan, sehingga sering kita kenal kata-kata guyon parikênå, bermakna bercanda sembari menyindir sesuatu (bisa tokoh atau persoalan hidup lainnya).

ånå toêtoêgé

Nuwun,

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: