Dongeng Punakawan

On 27/11/2013 at 03:27 punakawan said:

Nuwun

lingsir wêngi,
langité sumilak rêsik,
abyoring lintang-lintang
ngantu-ngantu pårå kadang énggal gumrégah tangi
nusung wartå sâkâ langit
yèn Gusti Hang Ora Naté Saré tansah maspadaké marang kawulaNé
kang tansah manêmbah lan nyênyuwun tanpâ kêndat marang PanjênêngaNé.

Sêmiliring bêbaratan, lamat-lamat kaprungu swaraning gênding têtêmbangan lan dongå pujå-puji pangaståwå dumatêng Gusti Hang Måhå Wêlas miwah Hang Måhå Asih.

Têmbang Agung Sabda Suci Hang Maha Suci, hang ngémutake pårå titah manungså.

Hong Wilahing Sêkaring Bhawånå Langgêng.

Pårå sanak kadang khususnya para penggemar pergelaran wayang kulit, pasti sering mendengar kata-kata di atas. Adalah suluk Ki Dalang yakni tembang saat jeda dikala menceritakan lakon yang tengah dia bawakan, selalu diselingi kata suci Hong atau Ong.

Kata Hong atau Ong ini diucapkan bekali-kali, mulai dari awal pertunjukan sampai selesai. Namun ironisnya, kata itu dianggap hanya sebagai pemanis belaka, dan tidak disadari maknanya baik oleh para penonton pergelaran wayang kulit bahkan oleh sang dalang jaman sekarang sendiri. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai ‘mantra-pemanggil-demit’.

Tatkala suluk ini ditembangkan disaat lingsir wêngi seperti sekarang ini, lewat tengah malam yang sangat tintrim. Udara malam yang atis, wingit tetapi nêngsêmaké, nampak éndah lan ngangêni.

Tercium wangi setanggi dupa, atau mungkin kemelun asap klêmbak mênyan (yang tidak harus ada), namun masih ada juga yang mengatakannya bahwa ngobong menyan adalah perbuatan syirik dan sesat. Kalau begitu, lalu apa bedanya ngobong menyan dengan ‘ritual’ aroma terapi yang marak di mana-mana kini, tetapi tidak difatwakan sesat.

Maka sadarilah semua itu tergantung pada niatnya!.

Dini hari ini ditingkah suara burung béo atau bêncé yang menimbulkan suasana magis, dibawa hembusan bayu pelahan dari lereng bukit. Alam tertidur, manusia pun lelap tidur namun:

GUSTI ORA SARÉ

Hong Wilahing Sêkaring Bhawånå Langgêng,
Hong dirghayur astu tathastu astu,
Hong awignam astu tathastu astu,
Hong, subham astu tathastu astu,
Hong, purnam bhawantu,
Hong, sukham bhawantu,
Hong, sréyo bhawantu,
Saptå wrêdi astu tathastu astu,
swåhå
.

Hong.
Oh Tuhan Wilahing Jagad Sang Penjaga Alam Semesta, Engkau adalah Bunga Sejati Semesta nan abadi,
Oh Tuhan, anugerahkanlah usia panjang, terjadilah!
Oh Tuhan, hilangkanlah semua penghalang, terjadilah!
Oh Tuhan, anugerahkanlah kebaikan, terjadilah!
Oh Tuhan, sempurnakan hamba,
Oh Tuhan, gembirakanlah hamba,
Oh Tuhan, berikan yang terbaik pada hamba,
Dan yang ketujuh hamba memohon, bahagiakanlah hamba. Terjadilah!
Swåhå!

Untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Tuhan dalam pandangan Wong Jåwå, dengan daya nalar yang dimilikinya di masa lalu, Wong Jåwå “membayangkan” Tuhan bagaikan wilah (=bilah), biasanya diikuti kata, misalnya wilahan keris (Indonesia sebilah keris), wilahan gamelan dan seterusnya.
Bagaikan “sêkaring bhawånå langgêng” “kusumå anjrah ing tawang” .

Wilah” dan Kusumå anjrah ing tawang, tidaklah dimaksud Tuhan adalah sebilah keris umpama, atau sekumtum bunga, meskipun kusumå atau sêkar berarti bunga.

Pahami bahwa Wong Jåwå penuh dengan pasêmon. Di ranah inilah kita harus hati-hati memahami pasêmon Wong Jåwå itu.

Makna kalimat itu adalah:

Dia (Tuhan) adalah kekuatan itu sendiri, Dia (Tuhan) tak tergantung apapun jua. Keberadaannya ada di mana-mana, tetapi bukan di mana-mana. Ruang tetapi bukan sebagai ruang. Ada sebagai kemandirian tiada ketergantungan. AdaNya berenergi. Hidup kekal abadi, yang memancar memberi kehidupan kepada seluruh makhluk ciptaanNya.

Sering kita lihat di layar televisi, kita baca berita di koran-koran, banyak orang mengalami kebuntuan akan berbagai persoalan. Kita menjadi tertegun dan bertanya-tanya, mengapa di tanahku, negeri yang digambarkan Ki Dalang sebagai:

Nâgari ingkang kaékå adi dåså purwå, Éko sawiji dåså sêpuluh, purwå wiwitan. Satus datan wontên sâdåså, sâdåså datan wontên tigå. Nâgari ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, tåtå têntrêm kartå raharjå, panjang pocapané, punjung luhur kawibawané. Ngrêmbåkå subur kang sarwå tinandur, murah kang sarwå tinuku. Kalis saking bêbåyå, mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. Nâgari kang ngungkuraké pagunungan, ngéringake bênawi, ngananaké pasabinan, mângku bandaran agêng. Énjang råjåkåyå, ingon-ingon bidal datêng patêgalan pados têtêdhan, mânawi sontên wangsul datêng kandangipun piyambak-piyambak. Pårå kawulané kacêkapan sandang pangan dalah papan………………

Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

Tetapi yang sering terjadi adalah bencana. Tidak ada mimpi negeri idaman, menjadi sebuah Nâgari ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, tåtå têntrêm kârtå raharjâ, panjang pocapané, punjung luhur kawibawané.”

Tetapi yang ada kemudian adalah yang juga disuluk-tembangkan oleh Ki Dalang sebagai Negari Kesripahan:

Kocap kacaritå: Kacaritå ing samangké, wontên satunggaling nâgari. Nâgari tan kaékå adi dåsa purwå, Nâgari ingkang tansah kêbak rubêdhå. tan hånå råså tåtå têntrêm, punåpå malih kârtå raharjå, Ingkang sarwå tinadur nora sagêd ngrêmbåkå subur, ingkang badhé tinuku mbotên wontên ingkang mirah.

Nâgari asring pikantuk målå lan bêbåyå. Kathah pawongan kang awatak ambêg sêsongaran. Rumaos wasis nglangkungi, Angandêlakên kagunannyå, Miwah jajaging pangêrti. Tan hånå kang madhani, Manèh lubèr båndhå-bandhu, Wuwuh éring pangwåså. Adigang adigung adigunå ing budi.

Tindak culikå lan durjånå lan pék-pinèk barange liyan, ugi tindak dêksurå sampun dados pakulinan ingkang limrah. Sânajan nâgari ngungkuraké pagunungan, ngéringake bênawi, ngananake pasabinan, mângku bandaran agêng, nanging sêdåyå wau nora sagêd ndamêl katêntrêman, karahayon miwah kabagyan dumatêng pårå kawulå dasih.

Råjåkåyå, ingon-ingon, peni-peni råjåpeni, mas picis råjåbrånå dados rayahan tiyang kathah, kalêbêt pårå pangreh pråjå ingkang handarbéni kuwåså. Pårå kawulané tan kacêkapan sandang pangan dalah papan……….

Baldatun Laknatun wa Robbun Ghodobun……!

Gizi buruk, anak-anak bayi dan anak-anak balita lumpuh layu, banjir, tanah longsor, gempa bumi, kecelakaan, kebakaran, perkelahian, perampokan, pembunuhan, perselingkuhan.

Di sisi lain pembabat hutan bisa menikmati hasil jarahannya dengan nyaman; Isi perut bumi dan laut dikuras sehabis-habisnya, dan hasilnya hanya dinikmati segelinitir orang dengan bebasnya, dengan meninggalkan kerusakan disana-sini.

Orang yang berkuasa tidak ingat lagi dengan amanahnya; Banyak orang yang melakukan korupsi namun tidak terjerat hukum; Penegak hukum justru melanggar hukum; Para penjahat hidup dengan bebasnya.

Para priyagung, para pejabat dan pemimin negeri tenggelam dan asyik dengan dirinya sendiri, tak merasa sedikit pun bersalah. Para pengkritik sibuk mencari celah untuk menyerang, dan juga merasa dirinya yang paling pinter dan yang paling benar.

Mereka asyik dalam kesibukannya sendiri, sibuk membuat “bencana” sendiri. Unjuk rasa dan tawuran pun tidak hanya terjadi di jalanan.

Di gedung-bangunan megah para petinggi negeri berkelahi, tawuran dan bertikai rêbut bênêr, sekan-akan merekalah yang paling pinter mengatur negeri, rêbutan kursi, tawuran rêbutan duwit, berlomba-lomba korupsi, dan tak sedikit pun merasa terganggu dengan umpatan dan hujatan, kata-kata kotor, caci-maki, seolah-olah sudah menjadi habitat mereka.

Para pemimpin negeri, yang seharusnya memberikan tulådå yang baik, berbalik mencontohkan keburukan. Rakyat tak lebih dari komoditas. Terus-menerus dibicarakan, jadi bahan perdebatan dan jadi objek pembenaran. Begitu banyak janji menghambur dari mulut para priyagung, tapi tetap saja janji tinggal janji.

Bencana yang terjadi pada dasarnya adalah akibat ulah manusia. Tuhan tak akan pernah menyusahkan hamba-hambaNya. Hujan bukan penyebab banjir, tapi bumi tempat air tumpah yang seharusnya ramah, telah diperkosa dan dipaksa manusia.

Dan jika bencana datang manusia tidak mampu menolaknya. Adakah orang yang mampu menolak banjir, gempabumi, tanah longsor, atau tsunami? Tentu saja manusia tidak berdaya untuk itu.

Berbagai bencana bisa datang setiap saat waktu, saat kita tidur atau terjaga. Hidup di suatu tempat dengan suasana yang sudah amburadul tentu bukan pilihan. Begitu pula hidup di negeri bencana.

Dan karena itu bukan pilihan, kita tidak bisa menolak ketika suatu waktu tiba-tiba hal itu datang. Lalu, jika begitu apa yang bisa dilakukan manusia?

Adalah penting kemampuan manusia untuk memahami alam ini dan gejala-gejala akan datangnya bencana. Sistem peringatan dini sangat diperlukan dalam hal ini. Ketika kita tidak mampu menolak bencana, prediksi akan datangnya bencana setidaknya akan membantu kita dalam mempersiapkan segala kondisi dalam menghadapinya dan mengurangi segala dampak mengerikan ketika bencana itu datang: korban jiwa, harta benda, dan sebagainya.

Persoalannya, selama ini kita baru sibuk setelah bencana datang. Kita sibuk rapat, sibuk membuat makalah tentang bencana, sibuk berteori, sibuk diskusi membahas bencana. Sibuk membentuk panitia. Sibuk mencari bantuan, sibuk “mengemis” mengumpulkan sumbangan di koran, di televisi, di jalan, bikin acara “malam dana”, kita sibuk dan ribut soal tim penanganan korban, sibuk berkoordinasi. Bahkan sibuk menghujat pihak lain, yang disebutnya sebagai penyebab bencana. Pihak lain yang dihujat pun sibuk juga menyalahkan penghujat, saling kritik, kita hanya disibukan perilaku saling salah menyalahkan.

Pokoknya sibuk sana sibuk sini. Dan itu terjadi setiap kalinya. Karena seringnya hal itu terjadi sehingga sepertinya menjadi normal saja. Tetapi apakah kita mau seperti keledai yang berkali-kali terperosok lubang yang sama? Tentu saja sudah cukup berbagai bencana yang sudah terjadi itu menjadi pelajaran.

Yang jelas penguasa, para manggala, pamong juga penduduk negeri tersebut durhaka kepada Tuhannya. Aturan dan hukum yang berlaku adalah tidak ada aturan dan hukum, dan itu mereka buat sendiri, dan mereka sendiri pula yang melanggarnya. Sementara aturan dan hukum yang telah dibuat Tuhan, karena Kasih SayangNya kepada mereka diabaikan, bahkan mereka tolak dan tentang habis-habisan.

Mereka menganggap bahwa hukum Tuhan hanya layak disimpan di museum, enak dilihat, dikaji, didiskusikan, diseminarkan, tapi tidak enak diberlakukan.

Bencana atau adzab. Longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung. Tindak durjånå, culikå, deksurå, adigang, adigung adigunå, Maling, main, madat, mabok, madon…………………….

Bila kita kemudian sadar akan peringatan ini, mungkin kita bisa berbuat sesuatu untuk mencegah bencana yang lebih dahsyat.

Dalam filosofi Wong Jåwå mengenal kata Jagad Alit lan Jagad Agêng yang berarti susunan yang teratur dari benda-benda.

Jagad Agêng. Alam semesta dan segala benda langit yang bergerak dengan teratur. Sistem alam yang kemudian terus ada itulah yang menjadi satu mekanisme tersendiri.

Pandangan terhadap semesta ini, di mana segalanya secara kausal terkait dengan lainnya dikarenakan penyebab material. Sebuah semesta yang dipengaruhi perubahan atau pergerakan abadi membutuhkan penyebab gerak pertama abadi yang tidak terelakkan.

Namun jagad yang teratur ini tampaknya sudah mengarah kekacauan. Saat musim kering justru datang musim banjir, saat musim hujan justru beberapa daerah mengalami kekeringan. Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengembalikan keseimbangan alam itu.

Negeri kita sudah digoncang dengan berbagai peringatan. Sekarang, peringatan akan tanda-tanda alam ini sudah ada, tergantung kita, manusia negeri ini untuk kemudian mengambil tindakan.

Bila secara alamiah manusia memiliki tujuan untuk memperoleh kebahagiaan, adakah alat yang bisa digunakan manusia untuk mencapai kebahagiaan?

Apakah kekayaan, kehormatan, atau kejayaan? Ketika manusia tak lagi memperhatikan lagi bagaimana cara ia memperoleh kebahagiaan, maka itu akan menjadi masalah bagi manusia itu sendiri.

Banyak orang yang mengeruk alam secara berlebihan dan kemudian mecinderai keseimbangan alam. Banyak penguasa dengan kekuasaan yang ada dan pengusaha dengan materi yang dia miliki bukan melestarikan alam tetapi bahkan merusaknya.

Banyak manusia menyalahi kodratnya sebagai manusia. Manusia tak lagi merasa sebagai bagian dari alam ini. Perlu diuji, sampai sejauh mana kesadaran manusia menjadi seorang manusia.

Mari kita mencoba menggunakan sedikit energi kita untuk meneliti atau melakukan riset apakah seseorang sadar sebagai seorang manusia merupakan bagian dari alam jagad raya ini, atau bukan.

Kalau kesadaran rohani manusia baru sampai pada tahap “aku manusia”, maka yang ada di luar dirinya tidak akan tampak oleh mata batinnya karena terlalu disibukkan oleh ego eksistensinya sebagai seorang manusia.

Tetapi andaikata seseorang merasa sebagai hamba apalagi sebagai bagian dari alam, ia akan bersikap andap asor, lêmbah manah, rendah hati, sadar, peka dan peduli pada lingkungan di sekitarnya, tehadap seekor hewan sekecil semutpun, gunung, hutan, pepohonan, sungai, lautan, sesama manuia, bahkan seluruh anggota alam, seluruh penghuni alam semesta. Sebagai karunia Yang Maha Agung.

Seorang yang memahami kodratnya sebagai manusia telah menterjemahkan keberadaan dirinya sebagai jagad alit (mikro kosmos) yang merupakan bagian dari jagad agêng (makro kosmos), alam semesta, jagad raya ini.

Dia tidak sekedar terbatas pada dunia kehidupan manusia dirinya semata, sedangkan bagian-bagian alam yang lain hanyalah instrumen-instrumen bagi kepentingan dirinya belaka.

Manusia tentu tak ingin terus menerus mengalami ketakutan dan ketidakamanan. Di sinilah eksistensi sebagai manusia diuji. Mana yang akan dilakukan oleh manusia: kebajikan atau kejahatan?

Manusia yang sadar akan memperbaiki diri dan memperoleh kebahagian lewat kebajikan, sementara manusia yang celaka akan terus mengulangi kesalahannya. Maka bukan kebahagiaan yang akan diperoleh, namun petaka.

Kita menjadi diam, bukannya kita tidak perduli akan kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan itu, tapi kita tidak mampu berbuat apa-apa. Kita takut berbuat, jangan-jangan kalau kita berbuat, kita yang salah.

Di langit dunia yang terbuka ini, kita hanya menjalani sebuah mekanisme yang sudah digerakkan oleh ‘tangan’ Yang Maha Kuasa. Ketika bencana menimpa bangsa ini, kita pun juga berujar. Gusti Ora Saré.

Namun di ujung keputusasaan itu kemudian muncul biarlah semua berperilaku seenaknya, ingat Tuhan itu ada. Biar Tuhan yang akan menghukum. Tuhan tidak tidur. Gusti Ora Saré.

Siapapun orangnya pasti punya keinginan hidup bahagia dan sejahtera. Sementara ukuran bahagia itu relatif, kesejahteraan bisa dilihat dari apa yang kasat mata; pekerjaan yang bergengsi, gaji besar, rumah bagus milik sendiri, kendaraan pribadi, diakui keberadaannya oleh lingkungan sekitarnya dan seterusnya.

Tetapi yang pasti setiap detik waktu dihabiskan manusia untuk mencari dan meraih kehidupan yang bahagia dan sejahtera.

Namun kadangkala apa yang kita dapat tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Lagi-lagi, materi menjadi ukuran yang paling mudah diamati; rumah masih mengontrak, kerja serabutan, penghasilan rendah di tengah biaya kebutuhan hidup yang semakin melonjak tinggi.

Kadangkala bukannya kebahagiaan, seringkali kemalangan atau musibah malah datang menimpa seperti kehilangan harta benda, ditinggalkan orang yang dicintai, atau dipecat dari tempat kerja. Jika sudah begini, orang mudah dihinggapi rasa frustasi atau kehilangan kendali.

Ada yang berbuat kriminal dan merugikan orang lain, ada yang masuk rumah sakit jiwa atau bahkan nekad mengakhiri hidupnya sendiri.

Fenomena kehilangan kendali itulah yang banyak terjadi sekarang ini. Tidak hanya di kota-kota besar di mana tuntutan dan persaingan hidup begitu keras, di kampung dan desa-desa pinggiran yang identik dengan ketentraman dan kebahagiaan, orang frustasi juga tidak sedikit.

Keinginan hidup bahagia sejahtera harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang semakin sulit, lapangan kerja yang semakin sempit, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, biaya pendidikan yang makin tak terjangkau dan sederet kenyataan pahit lainnya.

Ketika persoalan berat datang menghampiri, seringkali sebagian dari kita kehilangan keheningan hati dan kejernihan pikiran. Hati yang terombang-ambing dan pikiran yang keruh membuat kita lupa masih ada Kekuatan yang kekuasaannya jauh lebih tinggi di atas segalanya.

Gusti Ora Saré, Gusti tansah midangêtaké panjêlihé pårå kawulå kang nandhang påpå cintråkå.

Tuhan tidak tidur, Tuhan selalu mendengar dan mengetahui semua penderitaan, keluh kesah kita, dan permohonan kita. Betapapun berat persoalan yang menghimpit, Tuhan tidak pernah berpaling sedikitpun dari hambaNya.

Sayangnya seringkali petuah Gusti Ora Saré diidentikkan dengan kepasrahan dan sikap tunduk pada apa yang sudah digariskan Tuhan. Narimå.

Kebanyakan dari kita terjebak pada posisi berdiam diri sambil menebak apa hasil akhir dari persoalan tersebut. Kita menunggu Tuhan mengulurkan tangan, tetapi kita sendiri yang tidak mau mencari jalan keluar dari setiap kesukaran hidup dan berbuat untuk meraih apa yang diinginkan.

Itulah alasan mengapa kesukaran hidup tidak juga hilang, atau segala cita-cita tak kunjung tercapai. Kita percaya Tuhan tidak tidur, tetapi kita sendiri yang tertidur pulas dan tidak pernah berbuat apa-apa.

Betapapun ibadah kita lakukan siang malam, dan sekhidmat apapun doa yang kita panjatkan tanpa kenal lelah. tidak akan pernah mengubah keadaan sepanjang tidak diimbangi dengan tindakan nyata.

Sesungguhnya Gusti Ora Saré adalah lompatan energi yang luar biasa untuk memulai sebuah perlawanan atas segala kesukaran atau tantangan yang kita hadapi dalam hidup.

Hidup miskin bukanlah takdir, tetapi ia harus dilawan dengan bekerja, kebodohan bukanlah penyakit keturunan, tetapi bisa dihilangkan dengan adanya kemauan dan kesempatan untuk belajar, begitu seterusnya. Karena Tuhan tidak tidur, maka tidak ada kata sia-sia untuk segala ikhtiar dan usaha yang kita lakukan.

Gusti Ora Saré tidak berarti kita menjadi fatalistik atau sibuk menghabiskan waktu dengan berdoa, tetapi sebaliknya diikuti dengan kerja keras serta pelecut semangat untuk bangkit dari segala kesulitan dan kesukaran hidup.

Gusti Ora Saré adalah cuplikan sabda Gusti Allah dalam Kitab Suci Al Qur’an, “….. Allah. Panjênêngan Piyambak Kang Sugêng sartå Jumênêng Pribadi. Pajênêngan Gusti ora naté ngantuk, lan Pajênêngan Gusti Ora Saré……”

Gusti Ora Saré adalah ushali dan usahé katé Êngkong Haji Saleh, seorang Kyai dari Bêtawi yang saya kenal, sholat dan berusaha, bermakna berdoa dan bekerja, satu tarikan nafas yang sama dengan ora et labora, pepatah latin yang terkenal itu.

Doa yang khidmat pun harus diimbangi dengan ikhtiar atau kerja keras agar kehidupan ini berlimpah dengan kebaikan dan dijauhkan dari bencana.

Dan jangan lupa, doa bukan sekedar ritual untuk memohon atau meminta sesuatu kepada Sang Pencipta, tetapi juga saat menghitung ulang atas semua usaha dan kerja yang sudah kita lakukan. Target apa yang belum tercapai. Apa saja yang membuat target meleset, kekurangan apa yang harus diperbaiki.

Lalu, bagaimana jika doa sudah dipanjatkan dan kerja keras sudah dilakukan, tetapi kondisi hidup tak juga kunjung membaik? Berbaik sangka kepada Tuhan menjadi kata kunci terakhir karena bagaimanapun juga Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

Barangkali Tuhan tidak akan memberi jawaban atas doa kita detik itu juga, tetapi menunggu saat yang tepat. Atau mungkin kita yang tidak menyadari bahwa Tuhan sudah menjawab doa kita, karena tidak semua pemberianNya bisa dirasakan dengan indera fisik seperti makanan atau minuman yang cukup, tetapi juga melalui kesehatan, keluarga yang utuh, kebahagiaan dan rasa syukur dalam menjalani hidup ini.

Indahnya suasana malam ini, saat orang-orang terlelap tidur, aku masih terjaga, aku masih dapat dengan leluasa ‘curhat’ kepadaNya.

Sejenak menatap ke langit dibalik jendela dan langsung melihat suasana malam, kadang awan kelam menutupi, angin malam yang basah berdesir lembut, membawa rintik gerimis.

Satu-satu bintang masih nampak disela gugusan awan. Kerlap-kerlip lampu di jalan, dinginnya malam, sunyi senyapnya malam, alangkah nikmat saat aku masih dapat “berkencan” di setiap sepertiga atau dua pertiga malam denganMu.

Tuhanku. Alangkah sangat sayang sekali jika aku lewatkan saat-saat seperti sekarang ini, malam yang Allah sediakan untuk hambaNya.

(Para manungsa mau) adaté sabên wênginé sathithik anggoné turu. Sartå ing wayah umun-umun pådhå nyuwun pangapurå marang Gustiné

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka selalu memohon ampun kepadaNya.

[QS Adz Dzariyat (51) : 17-18).

Bukankah Dia turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia pun berfirman:” Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya

Dan waktu yang paling tepat mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bangun melaksanakan shalat pada sepertiga malam yang akhir.

Jadikanlah pertemuan ini waktu yang selalu dinanti-nantikan dan dirindukan oleh hamba yang dirinya sangat dhaif dan penuh kekurangan dan kelemahan seperti diriku ini.

Gusti Ora Saré. Dia Yang Maha Hidup Kekal Abadi, Yang Maha Perkasa,; Dia tidak pernah mengantuk dan Dia tidak tidur.

Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Penjaga, Berjaga karena Kasih SayangNya kepada hamba-hambaNya.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: