Dongeng Punakawan

On 05/08/2013 at 20:50 punakawan said:

SEMARAK RAMADHAN & IDUL FITRI dalam KEARIFAN BUDAYA LOKAL

© Punåkawan 2013

Nyadran, Takir, Gandhulan, Jaburan, Kêtan, Kolak, Apêm, Gapurå såhå Kupat, Lêpêt, Lontong duduhé Santên.

– Bagian Kedua, dari empat bagian tulisan.

Tentang Danang Sutåwijåyå, kelak adalah Panêmbahan Sénåpati, Sêrat Wédhåtåmå dalam têmbang Sinom Pupuh 02 (16):

Samangsané pasamuwan,
Mamangun martå martani,
Sinambi ing sabên mångså,
Kålå kalaning asêpi,
Lêlånå tèki-tèki,
Nggayuh géyonganing kayun,
Kayungyun éninging tyas,
Sanityaså pinrihatin,
Puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå
.

Terjemahan:

Dalam setiap pertemuan,
menciptakan kebahagiaan lahir batin dengan sikap tenang dan
sabar, penuh kerendahan hati
Sementara itu pada setiap kesempatan,
di kala sepi atau di waktu luang,
bertindak laku mengembara,
Menggapai cita-cita sepenuh kalbu,
yang didambakan bagi ketentraman batinnya.
Hati yang senantiasa prihatin,
dengan niat dan tekad yang kuat membatasi makan dan tidur.

Dalam setiap kesempatan, didalam bergaul dengan siapa saja, ngêmbyah ing madyaning bêbrayan agung kita dituntut untuk membangun suatu sikap têpå-slirå, tahu diri terhadap lawan bicara kita (Samangsané pasamuan, mamangun martå martani).

Untuk mewujudkan sikap tahu diri yang tepat dan bisa diterapkan kepada khalayak ramai maka kita harus selalu melakukan: refleksi (reflection), meditasi (meditation), berfikir (thinking), pertimbangan (consideration) dan perenungan (contemplation), mau dan mampu membaca tanda-tanda alam, di setiap kesempatan dan waktu, (sinambi ing sabên mångså, kålå kalaning asêpi).

Kita dituntut untuk senantiasa berpikir akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas. KekuasanNya yang meliputi seluruh alam semesta, dan betapa kecilnya kita ini, kita tidak lebih hanya sepersekian titik debu di alam jagat raya ini.

Dalam merenung, kita melihat kedalam diri kita, menembus ke dalam batin kita, mengingat dan menyebut Kebesaran NamaNya, dan yang demikian itu tidak cukup hanya dengan menyebut dan mengingat saja, dengan hitungan sekian kali sekian kali, tapi dengan niat didalam hati, meresapi makna dari namaNya, sesungguhnya Cahaya dari Nama-NamaNya itu ada dibalik ciptaanNya.

Didalam olah-laku itu, leluhur kita dahulu pergi ke alam terbuka untuk bisa lebih meresapi laku pikir dan perenungannya (Lêlånå tèki-tèki), ini yang disebut laku-tåpå yang dikenal dengan berbagai nama sebutan seperti yang telah diuaraikan pada Bagian Pertama. Di gua, di gunung, di tepian pantai atau di tempat-tempat sepi yang jarang dijamah manusia.

Zaman sudah berubah. Dalam olah-laku-tåpå masa kini, mungkin cukup kita lakukan di dalam rumah kita sendiri. Di dalam ruang ‘pesemadian’ (tergantung penganut agama dan keyakinan yang bersangkutan, seperti di: mushola, sanggar pamujan, sanggah pêmêrajan, atau tempat yang disediakan secara khusus untuk melakukan komunikasi dengan Yang Maha Agung; atau masih seperti sesepuh kita, pergi ke ‘ruang’ alam terbuka, di puncak gunung atau di tepi pantai, sambil mensyukuri keindahan pemandangan alam yang terbentang, ciptaan Sang Maha Sempurna.

Didalam olah-laku itu, berbagai macam keinginan dapat kita panjatkan ke hadirat Tuhan, keinginan apa saja, cita-cita apa saja yanghendak digapai, boleh kita pohonkan (nggayuh gêyonganing kayun), namun semua itu harus kita labuhkan kepada Dia Yang Maha Berkehendak, karena hanya Dialah Yang Maha Tahu, dan hanya Dia Sang Maha Pemilik Alam Semesta ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, olah-laku hendaknya dibarengi dengan senantiasa menjaga hati untuk prihatin menahan hawa nafsu (Sanityaså pinrihatin).

Semua laku didalam menahan dan mengendalikan hawa nafsu itu harus dengan niat dan tekad yang kuat membatasi makan dan tidur (Puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå).

Membatasi makan itu bukan dengan menyiksa diri berpuasa sepanjang masa, dan bukan pula dengan makan sekenyang-kenyangnya, mumpung masih bisa makan? Bukankah segala sesuatu bila dilakukan secara berlebihan justru menimbulkan berbagai macam penyakit di dalam tubuh kita? Dengan kata lain hendaklah makan secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

Membatasi tidur, tidaklah bermaksud berjaga sepanjang malam tanpa tujuan yang bermanfaat. Bangun di tengah malam, berniat laku-tåpå, kembali kita lakukan meditasi, refleksi diri, berfikir, dan merenung betapa Sang Maha Pemberi Anugrah, telah banyak memberikan kenikmatan kepada kita. Bertanyalah kepada diri kita, apa yang telah kita berikan kepadaNya.

Mengurangi makan dan tidur, agar dapat dijadikan kebiasaan sehari-hari disamping mencegah hura-hura dan dengan kesenangan ragawi semata.

Terbukti kesenangan duniawi kini terbuka luas dan kesempatan untuk itu sangatlah leluasa.. Akibatnya, manusia tak lagi peduli dengan pesan moral untuk mempertajam kewaspadaan batin, dengan mengurangi tidur dan makan.

Boleh jadi, Sinuhun Pakubuwånå Kaping-IV sudah memprediksikan jika pada suatu saat nanti, kesenangan memang akan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Jiaka itu terpaksa terjadi, lakukanlah secukupnya (anganggowå sawêtawis).

Bagaimanapun juga, orang yang hanya mengedepankan hura-hura, termasuk kategori orang yang berwatak buruk. Kesenangan yang berlebihan akan mengurangi kewaspadaan.

Bisa kita buktikan bahwa sebagian besar tindak kejahatan terjadi ketika orang tengah hanyut dalam hura-hura dan tanpa kewaspadaan.

Bagi orang Jawa laku tåpå mengurangi makan minum dan tidur bukanlah suatu tujuan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk keseimbangan batin dan untuk keselarasan sosial. Selain nafsu yang berbahaya adalah egoisme (pamrih).

Bertindak hanya semata-mata karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan sendiri secara individual saja dengan tidak menghiraukan kepentingan orang lain. Secara sosial mengejar pamrih memutlakkan keakuannya sendiri sehingga kehilangan keselarasan dalam masyarakat.

Nafsu yang meliputi pada pamrih: selalu ingin menang sendiri, selalu ingin menjadi orang yang pertama (nêpsu njaluk mênangé déwé), menganggap diri selalu betul (nêpsu nggolèk bênêré déwé) dan hanya mementingkan kebutuhannya sendiri (nêpsu ngopèni butuhé déwé).

Ajaran pengendalian hawa nafsu paling efektif adalah dengan cara puasa atau påså, laku påså atau puasa sebagai bentuk pengekangan diri, tidak tergoda oleh tipu daya dunia, tidak silau akan kemewahan.

Pasa mengajari hati manusia untuk mengekang hawa nafsunya, sebab jika tidak yang terjadi adalah sebaliknya. Manusia akhirnya akan terbelenggu oleh nafsunya.

Memberi pelajaran kepada hati. Untuk apa pembelajaran hati? Hati biar menjadi cerdas, lembut dan peka, karena hanya hati yang lembut mampu menangkap isyarat dari langit. Isyarat dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

Cacatan:

1). Sêrat Wédhåtåmå, yåså dalêm Kanjêng Gusti Pangéran Adipati Aryå (KGPAA) Mangkunêgårå IV (1811-1881), diduga bahwa penulisnya bukanlah satu orang.

Sêrat Wédhåtåmå ditulis bertujuan mengajak umat manusia pada kemuliaan budi, dan larangan memperturutkan budi jahat.

Wédhåtåmå berasal dari suku kata Wédhå dan Utåmå artinya air jernih yang sejuk dan utama atau kautaman dalam kehidupan manusia (Jawa).

Wédhåtåmå bukanlah dogma agama, namun ia adalah menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun.

Wédhåtåmå merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah jiwa bagi kalangan raja-raja Mataram, namun ajaran ini tidaklah terbatas untuk lingkungan keraton Mataram (kini Ngayogyakartå Hadiningrat dan Suråkartå Hadiningrat), tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya.

Ajaran Wédhåtåmå tidak ada iming-iming jaminan surga dan ancaman neraka, Wédhåtåmå melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi.

Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wédhåtåmå adalah menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri-sendiri, manunggaling kawulå Gusti, dan mendapat anugerah Gusti Kang Måhå Agung, untuk “melihat dan menghayati” alam semesta.

Sêrat Wédhåtåmå yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia ini, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”.

Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.

2). Sêrat Wulangrèh. yåså dalêm: Ngarså Dalêm Ingkang Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwånå IV (1768 – 1820).

Secara sederhana, Wulangrèh berasal dari dua kata dasar, yaitu Wulang dan Rèh. Wulang berarti ajaran (petunjuk, pedoman, teori) sedangkan Rèh berasal dari akar kata Ngerèh atau Memerintah. Jadi Wulangrèh, adalah ajaran untuk, ngereh, memimpin memerintah. Mudahnya, Wulangrèh adalah teori kepemimpinan.

Dalam berbagai referensi, Serat Wulangrèh dapat diterjemahkan sebagai ajaran untuk memahami kehidupan pribadi kaitannya dengan berbangsa dan bernegara. Itu adalah arti yang lebih luas karena itulah tugas seorang pemimpin, memimpin adalah memimpin dalam arti luas. Bukan saja memimpin suatu organisasi tetapi juga memimpin diri sendiri dan keluarganya.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: