Dongeng Punakawan

On 10/11/2013 at 08:21 punakawan said: 

Nuwun

punåkawan sowan ngêndit rontal:

SOERABAIA 10 NOVEMBER 1945. MERDEKA atoe MATI
– mengenang Hari Pahlawan 10 November 1945 –

[Secara khusus kami mengenang sesepuh dan pahlawan bagi keluarga kami: Romo Kyai Ageng Rampak Kesambi — nama sandi –, yang gugur pada pertempuran di Buduran Sidoarjo. sepuluh hari setelah pecahnya perang 10 November 1945]

Merdeka !!! selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi MERAH POETIH, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djoega.
Saoedara-saoedara rakjat Soerabaia, lebih baik kita hantjoer leboer daripada tidak merdeka. Seroean kita tetap: Merdeka ataoe Mati !!

[Bung Tomo, Surabaya dini hari 10 November 1945]

Surabaya, di awal September 1945, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan Sekutu mendarat hampir di seluruh kota besar di Indonesia, juga di Surabaya.

Kedatangan Sekutu di awal-awalnya belum banyak menimbulkan masalah, sebagain besar para pemimpin negeri yang baru lahir ini percaya, bahwa mereka datang hanya untuk menangani tawanan-tawanan perang Belanda yang ditahan tentara Jepang, serta bermasud melucuti senjata para tentara Jepang yang kalah perang itu.

Sayangnya, sebagian tahanan Belanda yang baru dilepaskan terlalu larut dalam nostalgianya sebagai penjajah. Ditambah pemahaman bahwa Belanda adalah anggota Sekutu dan karenanya tercatat pula sebagai pemenang Perang Dunia II dan sebagai pemenang, Belanda merasa sebagai “yang berhak berkuasa”.

Rakyat Surabaya sudah mencurigai kedatangan tentara Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kasus Kolonel P.J.G. Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu.

Kolonel P.J.G. Huijer yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara, ternyata membawa misi rahasia pula dari pimpinan Tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Huijer yang bersikap dan bertindak terang-terangan menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok oleh aparat keamanan Indonesia.

Hal lain yang lebih membuat Arèk-arèk Suroboyo marah adalah pengibaran bendera Belanda Triwarna di Hotel Yamato (Belanda mengenalnya sebagai Hotel Oranje), salah satu landmark Surabaya saat itu. Pengibarnya adalah Pratu Landsdorp dan J.L. Boer, dua tentara Belanda anak buah Pluegman.

Pengibaran bendera Belanda dilakukan anggota Mastiff Carbolic bersama orang Belanda yang tergabung dalam Komite Kontak Sosial. Bendera itu dikibarkan di tiang kanan gapura hotel sebagai lambang tegaknya kembali kolonialisme Belanda di Surabaya.

Mastiff Carbolic Party merupakan salah satu dari sejumlah kelompok yang diorganisasi oleh Anglo Dutch County Section (ADCS) angkatan 136. ADCS selama Perang Dunia II adalah organisasi spionase yang dikirim ke Sumatera, Semenanjung Malaka, dan Jawa secara rahasia.

Melihat bendera bekas penjajah dikibarkan kembali, tentu saja Arèk-arèk Suroboyo marah. “Londo kurang adjar, kok onok gêndérå merah putih biru?!. Antjéné Londo ndjaluk dipatèni, diudhèt-udhèt wêtêngé” demikian ungkapan kemarahan mereka pada waktu itu.

Pada hari Selasa Pon, tanggal 18 September 1945, siang hingga sore beberapa anak muda Belanda Indo mengibarkan bendera Belanda “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato. Mereka itu berada di bawah perlindungan opsir-opsir tentara Sekutu dan Belanda dari kesatuan Allied Command. Tentara ini datang ke Surabaya bersama rombongan Intercross atau Palang Merah Internasional.

Beberapa hari sebelumnya terdengar kabar, bahwa anak-anak muda Belanda Indo itu membentuk organisasi bernama “Kipas Hitam”. Tujuannya untuk melawan gerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945, sebulan sebelumnya.

Selain berlindung di belakang opsir Sekutu dari Alleid Command, ternyata para opsir itu adalah NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang ingin mencengkeramkan kembali kukunya di Bumi Nusantara.

Melihat tingkah Londo-londo di hotel yang terlihat jelas dari kantor berita Antara, membuat darah para wartawan mendidih. Ulah tingkah anak-anak muda Belanda itu segera disebarkan kepada kelompok pergerakan.

Situasi semakin menghangat dan hiruk pikuk, tatkala melihat bendera Belanda tiga warna berkibar di atas hotel Yamato.

Tepat Hari Rabu Wage, 19 September 1945, di hari kejadian, sebelum peritiwa perobekan bendera, massa datang secara berkelompok dari beragam perkampungan di Surabaya. Kedatangan massa, karena adanya seruan Bung Tomo yang meminta Arèk-arèk Suroboyo berkumpul di area Hotel Yamato. Pengibaran bendera Belanda di hotel itu dianggap tidak menghargai kemerdekaan RI.

Suasana bertambah panas, di hari Rabu pagi itu, anak-anak muda Belanda Indo berkumpul di depan hotel. Beberapa orang yang melihat bendera Belanda berwarna “merah-putih-biru” berkibar di puncak hotel Yamato, tidak hanya sekedar menggerutu, tetapi beberapa di antaranya berteriak-teriak histeris.

Mereka minta agar bendera itu diturunkan. Namun anak-anak muda Belanda Indo itu menolak dan dengan congkaknya seolah-olah menantang.

Arèk-arèk Suroboyo yang datang berbondong-bondong di sekitar Hotel Yamato, tidak datang dengan tangan kosong. Di tangan-tangan mereka tergenggam klewang, clurit, badik, golok, bahkan bambu runcing, dan senjata-senjata itu selalu ditentengnya ke mana pun mereka pergi kala itu.

Penggeloraan semangat juga dilakukan beberapa pemuda dari etnis dan suku apapun yang bermukim di Surabaya, mereka menggunakan sepeda berteriak-teriak sepanjang jalan. Mereka berkeliling Jalan Embong Malang, Blauran, Praban, dan kembali Tunjungan, mendorong agar rakyat beramai-ramai menurunkan bendera Belanda di atas Hotel Yamato. Hasilnya: semakin banyak saja warga yang ”mengepung“ Hotel Yamato.

Sadar bahwa ulah anak-anak Belanda itu sudah keterlaluan. Suasana di kalangan anak muda Surabaya semakin tidak menentu. Mau bertindak sendiri-sendiri, masih ada keragu-raguan.

Belum ada satupun yang mengambil inisiatif, termasuk para wartawan dan pemuda pergerakan yang berada di kantor berita Antara.

Namun, beberapa wartawan mendatangi kantor Komite Nasional dan Kantor Keresidenan Surabaya, menanyakan tentang sikap pemerintah dengan adanya bendera Belanda di atas hotel Yamato. Pejabat di dua kantor itu mengaku belum tahu.

Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Roes (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, Wiwiek Hidayat dan Sutomo (Bung Tomo), segera mendatangi hotel Yamato.

Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.

Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu.

Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu

Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Melihat gelagat kekerasan demikian, seorang pemuda yang berada di dekat tempat itu bergerak cepat, menendang revolver pistol yang diacungkan pria kulit putih itu.

Meski demikian, tak ada baku tembak saat itu. Yang ada hanya perkelahian antara para pemuda dengan beberapa orang Belanda di hotel tersebut yang berkeras mempertahankan benderanya. Tentara Jepang yang dalam posisi akan dilucuti senjatanya, diam tak tahu harus berbuat apa.

Dari insiden ini empat pemuda menjadi korban luka berat. Mereka, adalah Sidik, Hariono, S. Mulyadi dan Mulyono. Mereka dilarikan ke rumah sakit Simpang (sekarang sudah tidak ada, di tempat itu kini berdiri gedung Medan Merdeka, Bursa Efek Surabaya (BES), Bank Mandiri dan Plaza Surabaya. Sedangkan korban di pihak Belanda, adalah Ploegman. Ia tewas akibat tusukan senjata tajam.

Aksi perobekan itu sendiri berlangsung cepat. Arèk-arèk Suroboyo yang ora srantan segera naik ke atas hotel. Ada 3 atau 4 orang, mereka naik ke tangga lalu menyobek bendera. Perbuatan itu sangat berani sekali.

Ada ondo dibawa warga dari kampung Ketandan dan kampung Kebangsren. Para penyobek bendera panggul-memanggul di antara mereka untuk bisa melakukan aksinya.

Dengan ondo itu, anak-anak muda berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, dan perobekan itu diawali dengan menggigit bendera tersebut, sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah, lalu yang tinggal adalah dwiwarna yang meskipun tidak simetris, kemudian dikibarkan menjulang di angkasa, maka berkibarlah Sang Saka Merah-Putih.

Begitu bendera dirobek dan dinaikkan kembali, para pejuang langsung membubarkan diri dan tidak terlacak jejaknya. Bahkan siapa yang melakukan perobekan bendera tidak diketahui identitasnya hingga sekarang.

Tidak lama setelah insiden perobekan itu, truk-truk yang mengangkut tentara Jepang datang. Namun mereka terlambat karena para pejuang sudah membubarkan diri.

Selain memastikan tak ada bendera asing yang berkibar menggantikan merah putih, peristiwa ini juga menyisakan satu berkah lain: kesadaran akan perlunya senjata.

Peristiwa itu membuka pikiran Arèk-arèk Suroboyo bahwa mereka harus punya bedhil. Masak merdeka nggak punya senjata. Akhirnya ada gerakan merampas senjata-senjata Jepang karena merekalah yang masih punya senjata saat itu.

Senjata Jepang itu sebenarnya harus diserahkan kepada Sekutu. Namun, pemuda Surabaya mendahuluinya. Kita sudah merdeka tapi tidak punya senjata. Daripada dirampas Sekutu, lebih baik kita rampas dulu.

Siapa pemuda-pemuda yang merobek bendera itu?

Hingga akhir tahun 1990an, banyak fihak baik secara perorangan ataupun secara organisasi masa mengaku mengetahui sosok pemuda-pemuda yang ‘berbondo-nekad’ memanjat tiang bendera pada peristiwa penyobekan merah putih biru di hotel Oranye itu. Bahkan tidak sedikit yang mengaku-aku sebagai penyobek bendera tersebut.

Menurut saksi sejarah Wiwiek Hidayat (alm) mantan Kepala Kantor Berita “Antara” di Surabaya, saat masih hidup di tahun 1990an dalam wawancara dengan bebrapa wartawan, pernah mengungkap berbagai peristiwa di tahun 1945.

Banyak hal tentang perjuangan Arek Suroboyo dan para wartawan di kala itu yang diceritakannya.

Dari penelurusan senjarah didukung beberapa saksi mata, yang dikonfirmasikan ke beberapa saksi lainya, maka diketahui bahwa nama orang penyobek bendera Belanda itu adalah Kusno Wibowo yang dibantu Onny Manuhutu dan ada dua orang lagi yang tidak dikenal, demikian cerita Pak Wiwiek.

“Memang, ada yang lain, tetapi mereka membantu membawa tangga dan hanya naik ke atap gedung bagian tengah, serta beramai-ramai berteriak penuh semangat.

Jadi yang berada di puncak tempat tiang bendera itu, hanya ada empat orang. Foto dokumentasinya masih tersimpan di kantor berita “Antara”, ujar Pak Wiwiek waktu itu.

“Anehnya, kemudian banyak orang lain yang mengaku-ngaku sebagai pelaku perobekan. Sehingga, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa pelakunya adalah Arek Suroboyo (tanpa nama).”

Suasana hiruk-pikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem.

Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT. KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel.

Waktu itu, memang di depan hotel ada serdadu Kempetai (tentara Jepang) yang menjaga dengan senapan dan sangkur terhunus.
Namun melihat suasana massa, serdadu Jepang itu hanya diam berbaris, tidak berani melepaskan tembakan.

Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby

Kisah terbunuhnya Brigjen A.W.S. Mallaby dalam Pertempuran Surabaya, 30 Oktober 1945, sering kita baca setiap menyambut Hari Pahlawan 10 November. Namun, bagaimana kisah tewasnya Mallaby.

Pada tanggal 25 Oktober 1945 pasukan Inggris Brigade 49 dari Divisi India ke-23 mendarat di Surabaya. Brigade yang dipimpin Brigjen Mallaby mengemban tugas tentara Sekutu untuk mengurus orang Sekutu yang ditawan Jepang dan melucuti serta mengembalikan tentara Jepang ke negerinya.

Mallaby memimpin pasukannya memasuki kota Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang sesuai dengan isi Perjanjian Yalta.

Tujuan ini mendapat perlawanan dari pasukan Indonesia karena AFNEI menuntut mereka menyerahkan senjata-senjata yang telah dirampas pihak Indonesia terlebih dahulu dari Jepang.

Timbullah beberapa konflik bersenjata antara kedua pasukan, yang salah satunya terjadi pada 30 Oktober 1945 di dekat Jembatan Merah.

Ketika pasukan itu tiba, rakyat Surabaya sedang bergelora semangat kebangsaannya serta sedang dimabuk kemenangan atas keberhasilan mereka melucuti senjata tentara Jepang.

Ribuan pucuk senjata mereka rampas: senjata ringan, senjata berat sampai mobil panser dan tank.

Sejak itu di luar kesatuan resmi Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang nantinya menjelma menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), terbentuklah pula secara spontan dan sporadis berbagai kesatuan pemuda bersenjata, seperti Pemuda Republik Indonesia (PRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), Hisbullah, BKR Pelajar dan sebagainya.

Pemerintah pusat RI di Jakarta yang sedang menempuh garis politik luar negeri mencari simpati dan pengakuan dunia internasional, berpesan pada pemerintah daerah di Surabaya, agar membuka tangan menerima kedatangan pasukan Sekutu tersebut.

Namun, rakyat Surabaya yang melihat adanya unsur NICA (embrio pemerintah kolonial Belanda) dalam kesatuan Inggris itu, mencurigai pasukan Inggris sebagai pembantu Belanda mengembalikan penjajahan baru di Indonesia.

Suasana Surabaya menjadi eksplosif, ketika pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Dakota Inggris dari Jakarta menyebarkan surat selebaran di atas Kota Surabaya, berisi perintah dan ancaman, agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata mereka kepada Inggris.

Esoknya pecah pertempuran yang dahsyat. Dalam pertempuran ini nyaris Brigade Mallaby hancur, bila tak tertolong oleh gencatan senjata.

Atas desakan pucuk pimpinan tentara Sekutu di Indonesia, pada tanggal 29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin, terbang ke Surabaya.

Malamnya, melalui radio, Presiden Soekarno berseru kepada rakyat Surabaya agar mereka menghentikan pertempuran. Esoknya, 30 Oktober, sebuah persetujuan berhasil dirumuskan oleh Presiden Soekarno bersama Jenderal Hawthorn dari tentara Inggris.

Isi terpenting persetujuan antara lain, pihak Inggris mengakui TKR dan membatalkan isi surat selebaran mereka. Di samping itu tentara Inggris akan ditarik dari sejumlah posisi dan dipusatkan di kamp tawanan Jl. Darmo dan Tanjung Perak.

Sewaktu mobil yang ditumpangi Mallaby melintasi jembatan, mobil itu dicegat oleh pasukan dari pihak Indonesia dan mengakibatkan terjadi baku tembak yang berakhir dengan tewasnya Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil Mallaby akibat ledakan sebuah granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.

Bagi pihak Indonesia, keberhasilan menewaskan seorang jenderal yang memiliki jam terbang tinggi pengalaman memimpin pasukan berperang adalah sesuatu hal membanggakan.

Kematian Mallaby menyebabkan Major Jendral E.C. Mansergh, pengganti Mallaby mengeluarkan pamflet berisi ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat.

Pamflet itu berisi seruan kepada semua pihak termasuk kepada para warga Kota Surabaya agar melucuti senjata mereka atau mereka menghadapi dilumpuhkan dengan senjata.

Bagi para pejuang, isi pamflet tersebut jelas menunjukkan niat Inggris untuk mendudukkan Belanda kembali sebagai penguasa di Indonesia.

Seketika itu juga, sejumlah tokoh Surabaya pun mengadakan pertemuan. Mereka membahas berbagai pertimbangan dan memperhitungkan beberapa kemungkinan.

Apabila mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan lumpuh, karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan senjata, ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/Sekutu.

Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan pasukan serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas, bahwa kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang.

Selain itu mereka baru dua hari mendarat pada 25 Oktober 1945 dan dipastikan tak mengerti liku-liku Kota Surabaya.

Pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.

Tanggal 10 November 1945

Pada pukul 06.00 Inggris memulai serangannya, sementara itu Bung Tomo memanggil seluruh rakyat melawan penyerbu-penyerbu itu. Pemboman besar-besaran dari laut dan udara membinasakan sebagian besar Surabaya. Menjelang senja, Inggris telah menguasai sepertiga kota.

Surat kabar Times di London mengabarkan bahwa kekuatan Inggris terdiri dari 25 ponders, 37 howitser, HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito, 15.000 personel dari divisi 5 dan 6000 personel dari brigade 49 The Fighting Cock.

Digambarkan berlangungnya pertempuran:

“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan-selokan.

Gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong.

Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu.

Para pejuang Indonesia yang masih hidup mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur.

Sedikitnya ada 6000 rakyat Indonesia yang gugur. Meski pihak republik kehilangan banyak tentara dan pemuda, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut telah menciptakan lambang dan pekik persatuan demi revolusi.

Ini menjadi titik balik perjuangan Arèk-arèk Suroboyo dan bangsa Indonesia untuk lepas dari penjajahan.

Merdeka ataoe mati

Sebagai penutup, punåkawan sajikan parikan ludruk Suroboyo:

Ali-ali tumumpang kasur
Ngélingånå larang rêgané
Åjå lali karo pahlawan sing gugur
Ngélingånå akèh jasané

Rujukan:

1. ______. The Battle of Surabaya, Indonesia Heritage

2. Batara R. Hutagalung, 10 November 1945. Mengapa Inggris membom Surabaya. Millenium, Jakarta Oktober 2001.

3. Frederick, William H, In Memoriam: Sutomo. Indonesia (Cornell University outheast Asia Program). Tanpa Tahun.

4. Nasution, Dr. A.H.Diplomasi atau Bertempur. Disjarah Angkatan Darat dan Angkasa Bandung 1977.

5. Nugroho Notosusanto (penjab). 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949. PT Tira Pustaka Jakarta, 1980.

6. Sutomo (Bung Tomo), Pertempuran 10 November 1945 Kesaksian dan Pengalaman Seorang Aktor Sejarah, Visi Media Jakarta 2008.

***
Wårå-wårå

Sehubungan adanya gawé mantu, pernikahan anak kami dalam minggu ini, yang acara penyelenggaraannya dilaksanakan di Jakarta, maka untuk sementara waktu, saya punåkawan mohon pamit. Insya Allah dongeng-dongeng yang telah dan sedang diwedar akan dilanjutkan setelah acara perhelatan kami selesai. Mohon doa restu sanak kadang. Semoga acara yang telah, sedang dan akan diselenggarakan dapat berlangsung dengan baik dan lancar tanpa hambatan. Semoga Allah meridhainya. Aamin.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: