Dongeng Punakawan

On 04/11/2013 at 17:42 punakawan said:

Nuwun

Punåkawan sowan sinambi ngêndit rontal:

”SELAMAT TAHUN BARU”
Anggårå Palgunå (Sêlåså Pon), 1 Muharram 1435H ~ 1 Surå 1947 Alip Sêngårå Langkir

sebuah renungan:

Pårå kadang padépokan ingkang sinu darsånå ing budi,

Beralihnya tahun lama ke tahun yang baru, lazim pada malam tahun baru 1 Januari, disambut dengan kegembiraan.

Malam Tahun Baru Masehi itu disambut dengan hiruk-pikuk luar biasa. petasan, trompet, hura-hura, dan jalanan macet.

Malam pergantian tahun dimeriahkan dengan pesta-pesta di hotel-hotel berbintang, di kapal-kapal pesiar, pesta mewah para selebritis, para sosialita pemuja dunia, para pemuja sarwa bendawi, para kelompok arisan kemewahan, para perumpi, dan para elit pada profesi menterengnya, elit apapun namanya.

Sementara Tahun Baru Hijriyah yang sering disebut Tahun Baru Islam, dulunya tidak demikian. Tidak ada trèk-trèkkan sepeda motor di jalanan. Tidak ada trompet. Tidak ada panggung-panggung hiburan di alun-alun, tidak ada pesta-pesta.

Tetapi ternyata pada akhir-akhir ini, dan sudah sering terjadi di Ibukota Negara RI, Jakarta, di Malam Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram sudah tak berbeda dengan Malam Tahun Baru 1 Januari.

Baru saja ketika hendak ke masjid untuk shalat Maghrib dan bersambung shalat Isya, yang dilanjutkan tadarusan, di ujung jalan beberapa anak muda dan yang orang tua juga ada, siap-siap membakar petasan dan mercon.

Ada di antara mereka juga membawa trompet kertas. Mereka bilang juga siap-siap trèk-trèkkan, hura-hura, demi menyemarakkan malam Tahun Baru Islam, katanya.

Malam Tahun Baru Islam, sepertinya sudah mempunyai ‘ritual pergantian tahun’. Anehnya sambil begadang yang dilakukan hingga di tengah malam pada detik 00.00.

Lucu, menggelikan dan menggenaskan!!!!

Nampak sekali, bahwa mereka tidak tahu atau tidak mau tahu tentang perbedaan antara Kalender Masehi dan Kalender Islam/Jawa.

Bagaimana tidak.

Perhitungan Kalender Masehi didasarkan dari musim dan revolusi Bumi mengitari Matahari (disebut solar system, kalendernya lazim disebut Kalender Syamsiah), jelas berbeda dengan Kalender Islam dan Kalender Jawa yang berpedoman pada revolusi Bulan terhadap Bumi. Setiap hari dalam penanggalan ini menandakan satu lokasi Bulan dalam berevolusi terhadap Bumi. (disebut lunar system, kalendernya disebut Kalender Qomariyah).

Jika pergantian tanggal, bulan dan tahun yang didasarkan pada Kalender Masehi dihitung pada detik 00.00 tengah malam, tetapi tidak demikian dengan Kalender Islam dan Kalender Jawa, maka perhitungan awal tanggal, bulan dan tahun baru ditentukan pada penampakan bulan sabit baru di langit barat. Untuk memudahkannya dimulai pada pukul 18.00 waktu setempat.

Menggenaskan?

Ya, bukan hanya karena ketidak-mengertian tentang perbedaannya, tetapi lebih-lebih menyangkut pada kegiatan meramaikan Malam Tahun Baru Islam yang diserupakan dan meniru kegiatan meramaikan Malam Tahun Baru Masehi.

Bukankah penyerupaan dan peniruan “ritual” pergantian tahun, adalah suatu perbuatan yang sia-sia dan tidak ada gunanya, dan bukankah perbuatan itu serupa dan sebangun dengan penyerupaan dan peniruan suatu kaum sebagaimana disabdakan oleh Nabi Agung, Kanjêng Rasul Muhammad SAW:
Siapa pun yang meniru atau menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu

Dan bukankah itu merupakan larangan keras terhadap penyerupaan/peniruan dalam ucapan, perbuatan, pakaian, dan perayaan.

Pårå sanak kadang ingkang dahat kinurmatan,

Tahun baru berarti bertambahnya umur, tetapi apakah bukan malah sebaliknya, dengan bertambahnya tahun, maka umur kita semakin berkurang, dan semakin dekat ke hari kematian?
Waktu dan umur yang semakin berkurang pada kehdupan kita.

Apakah usia di waktu-waktu yang telah lalu hinga akhir tahun ini dan selama itu telah kita gunakan dengan baik dan efisien?

Kita tahu umur digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu melakukan muhasabah atau evaluasi. Minimal setahun sekali.

Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk daripada yang sudah.

Padahal ada dawuh Kanjêng Nabi:

Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau orang yang hari esok sama dengan hari ini, orang itu akan merugi. Orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin orang itu sungguh celaka, tetapi apabila hari ini lebih baik daripada kemarin, atau hari esok lebih baik daripada hari ini, maka orang itu akan beruntung.”

Pårå sutrésnå padépokan ingkang luhur ing budi,

Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin –yang merupakan penduduk mayoritas ini– selama ini menggembirakan atau menyedihkan.
Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.

Kita sering disebut sebagai bangsa yang religius. Yang konon menjunjung tinggi norma-norma agama. Agama apapun itu.

Kitab suci Al Qur’an tidak hanya dibaca di mesjid, di musholla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ.

Bahkan pada bulan Ramadhan diteriakan oleh pengeras suara-pengeras suara tanpa pandang waktu, sejak waktu sahur hingga ke waktu sahur berikutnya, nyaris tak berhenti.

Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga maksi.

Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai.

Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus saja membangun dan membangun mesjid-mesjid atau musholla di antara gedung-gedung kota, hingga di tengah-tengah sawah. Bahkan ada yang membangun mesjid berkubah emas.

Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba kecil Tuhan yang miskin di sekitar rumah-rumah Tuhan itu, yang ingin sowan kepadaNya.

Tapi bila kita bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar Allah membangunkan istana di surga kelak”

Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak,

Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang shalat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyuap Tuhan, agar kelakuan mereka tidak dihisab.

Tambahan pula bagaimana jika masjid yang dibangun dengan menggunakan uang hasil korupsi.

Tidak ada musholla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap keempat penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan.

Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan biaya jutaan rupiah hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara.

Adzan pun yang semula dimaksud untuk memberitahukan datangnya waktu shalat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syi’ar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.

Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota, termasuk juga kelompok-kelompok pengajian elit, bahkan ada yang mengadakan acara pengajian berbayar jutaan rupiah.

Televisi pun tak mau kalah, terutama — lagi-lagi — di bulan Ramadhan, acara tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’.

Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz, lalu menjelmalah “mendadak ustadz” dan dengan gagah beraninya memberikan ‘siraman ruhani’, namun lebih banyak porsi hiburan tontonannya yang justru memprihatinkan, alih-alih norak, dan sangat jauh dari tuntunannya.

Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Kementerian Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan, dan setiap hari orang pun berumroh menyaingi mereka yang berwisata ke negara-negara lain.

Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan.

Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan musholla-musholla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan.

Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.

Pemerintah Republik Indonesia juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan haji, penentuan awal Ramadhan dan ‘Ied.

Perut dan hati kaum muslimin diselamatkan dan terjaga dari masuknya barang haram, karena MUI mengeluarkan label halal, bagi produk-produk yang dikonsumsinya.

Tetapi apakah tidak perlu dibuatkan label haram bagi makanan, minuman dan barang-barang atau jasa yang dibeli dari hasil merampok uang rakyat, supaya kaum muslimin lebih terjaga dan terselamatkan lagi?

Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan kalau perlu menindak — atas nama amar ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar — mereka yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan.

Tidak cukup dengan fatwa-fatwa MUI, mereka yang bergerak di bidang usaha, membuat usaha-usaha yang bermerk syari’ah, demikian juga daerah-daerah terutama yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda-perda syari’ah.

Takbir menggema di mana-mana, siang dan malam, suara-suara lantunan ayat-ayat suci Al Quran di gema-suarakan siang malam juga tiada henti, suara yang dimunculkan bukan dari suara manusia asli tetapi dari alat pemutar kaset, cd dan sejenisnya.

Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin.

Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai bangsa religius.

Pårå sanak kadang ingkang minulyå

Tidak ada yang keliru semua itu, asal ditempatkan pada waktu dan tempat yang tepat, dan saya tidak sedang menggugat.

Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius itu. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak dikenal.

Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur menjadi terpinggirkan, kesepian dan rendah diri.

Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin dan panutan agung Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

Disiplin yang dididik agama seperti adzan pada waktunya, shalat pada watunya, haji pada waktunya, dan sebagainya, tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

Plakat-plakat bertuliskan dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

Kesungguhan yang diajarkan Al Qur’an dan dicontohkan Kanjêng Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.

Di jajaran penyelenggara negara, korupsi merajalela. Sementara di kalangan rakyat, nyolong dan jambret merebak di mana-mana.

Jumlah orang miskin dan pengangguran seakan-akan berlomba dan bertambah signifikan dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini.

Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.

Sebutan Yang Mulia sudah tak pantas disandangkan kepada mereka.

Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang patut dan yang tidak patut. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya.

Hampir di setiap daerah, saat pemilihan kepala daerah selalu diwarnai dengan pertengkaran, permusuhan antar kubu.

Kubu yang kalah tidak mau menerima kekalahannya, dan kubu yang menang, dalam suasana euforia yang berlebihan, merasa kubunyalah yang paling berhak dan yang paling benar, paling dipercaya untuk mengatur segalanya di daerah.

Sering pula kita baca dan lihat bahwa ada golongan/partai/kelompok tertentu atau orang-perorang menyatakan bahwa dirinya, golongannya/partainya/kelompoknya adalah pihak yang paling benar, pihak yang dipilih oleh Tuhan, pihak yang paling berhak mengatur negeri ini — yang lainnya dianggapnya numpang ? –, dan setiap perbedaan pendapat selalu diselesaikan dengan pertengkaran, perkelahian, perusakan fasilitas-fasilitas umum, bahkan pembunuhan.

Tingkah laku para pejabat negara, mereka yang mendapat sebutan Para Anggota Yang Terhormat pun, tak kurang “mengerikan” tapi juga “menggelikan”.

Kosa kata, yang tidak pantas sering kita dengar dari mulut mereka, kata “b*ngs*t”, atau kata-kata lain yang tak senonoh, begitu mudahnya diucapkan oleh mulut seseorang yang mendapat sebutan para anggota yang terhormat.
Sebutan yang seharusnya juga sudah tidak pantas dimiliki mereka.

Bukankah kita juga pernah nonton tayangan “olahraga tinju kelas bebas ala thai boxing”, dari pejabat-pejabat negara di sela-sela sidang itu.

Acara debat di layar kaca pun sering berebut kebenaran, hilang sudah unggah-ungguh, trapsilå subå sitå, sopan santun.

Dan daftar ini masih dapat ditambah dan diperpanjang …………….

Belum lagi “sinetron”, yang setiap hari menyajikan tayangan: pertengkaran, caci-maki, penipuan, penggelapan, perampokan, penjarahan, perkosaan, pembunuhan, mutilasi, pergaulan bebas, pengguguran janin, penyalahgunaan narkoba, penggusuran, perkelahian, bentrok dan tawuran antar warga/gang/kampung/suku/golongan/agama, saling bunuh, laku dan tindak anarkis. bahkan pertikaian sesama agama yang sama dan sesama partai yang sama pun pernah kita saksikan, juga penganiayaan dan pemaksaan kehendak.

Sekelompok orang merasa paling berhak memakai lambang partai X. Kelompok yang lain seolah tidak mau kalah, mereka membuat partai X tandingan.

Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi juga bertikai, berebut kebenaran.

Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.

Mereka yang merebut kekuasaan merasa itulah kebenaran dari Tuhan, merasa begitu dekat dengan Tuhan, merasa berhak mewakili Tuhan. Bahkan merasa diri mereka adalah Tuhan, mereka bukan saja ikut menentukan ibadah, tetapi juga menetapkan siapa yang berhak ke sorga dan siapa yang harus dicampakkan ke neraka.

Kekerasan dan kebencian, bahkan kebiadaban dan keganasan, seolah-olah menantang misi Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.

Alampun ikut “menangis”. Tanah longsor, gempa bumi, tsunami, badai topan, ‘udan salah mångså’.

Cuaca buruk tak mau ketinggalan membuat para nelayan tidak dapat melaut, petani kehilangan tanah garapannya.

Sungai-sungai yang selama ini ramah, meluap, banjir bandang menenggelamkan ratusan hektar sawah sehingga banyak petani merugi. Juga perkampungan dan kota, digenangi “banjir kiriman”. Puting beliung merobohkan apa saja.

Tetapi di sisi lain, ketika musim kemarau tiba, wajah bumi pun berubah putih kelabu, kering kerontang, tanah telah lama gersang, kering kerontang tak pernah disentuh hujan, tanaman puso, padi-padi gabug. Bumi tak lagi ramah memberikan hasilnya pada manusia.

Belum lagi bencana kecelakaan di darat, di laut, di udara, bahkan di sekitar kita bermukim, kebakaran; juga aksi bersenjata, teror yang meraja, tabung gas mlêdug seolah tak mau kalah dengan njêblugnya gunung berapi, Bencana susul-menyusul tak ada hentinya.

nJêblugnya gunung telah merusak segalanya, rumah, sekolah, lahan, pategalan, sawah, dan tanaman, sumber penghasilan warga musnah dikubur abu dan awan panasnya. Banyak juga sanak kadang saudara-saudara kita meninggal karenanya.

Fenomena alam yang telah merenggut beribu-ribu korban meninggal dan juga menderita terjadi sungguh tak dapat diterka dan seringkali di luar logika kita.

Tidak ada seorang pun yang berharap bencana-bencana dahsyat seperti ini akan terulang.

Dan tayangan-tayangan “telenovela” ini tak pernah absen dari layar kaca kita.

Jangan-jangan selama ini — meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”– Tapi. Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh. Pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan telah lama runtuh.

Daging saja yang kita manjakan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Ritual agama terbatas pada olah lahiriah belaka.

Lalu, bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik untuk melakukan perubahan?

Justru di tengah-tengah keadaan yang seperti ini. Umat muslim, sesuai dan menurut ajaran agama yang diyakininya, maka di tahun baru 1 Muharram 1435H atau 1 Surå 1947 Alip Sêngårå Langkir, yang diawali di hari Anggårå Palguna (Sêlåså Pon) ini, menjadikan hari bagi umat manusia dan muslim pada khususnya, mendapatkan prinsip ajaran agamanya yang bernilai sebagai cahaya yang menerangi umat manusia demi melihat kebenaran dari alam kehidupan, demi memberikan rahmat, manfaat dan kemaslahatan yang sebenarnya dan sebesar-besarnya bagi alam semesta.

Dan sebagai bangsa, tahun baru atau peringatan hari apapun, hendaknya membuat kita semakin mempererat persatuan. Kita adalah bangsa yang satu. Bangsa Indonesia.

Sebagai seorang muslim yang berharap dapat gondhélan agêmané Kanjêng Rasul Muhammad SAW, yang masih terus belajar mengikuti dan menteladani Kanjêng Rasulullah SAW.

Bukannya saya sombong atau riya’, saya tidak sampai hati untuk mengunjungi Rumah Allah, kembali di Tanah Suci, jika hampir setiap saat saya masih dibayang-bayangi mbok penjual jamu dan sekarang sudah tidak jual jamu karena badannya sering meriang, dan anaknya yang bisu, mbok sayur dan Mak Pik janda sepuh penjual lontong sayur yang beranak tiga yang tidak bisa membayar uang sekolah anak-anaknya dan rumahnya yang hampir rubuh,

Bang Gulthom yang kini tinggal di bantaran sungai, karena rumah kontrakannya digusur paksa. Lik Ginem buruh cuci yang suaminya Mas Dikin matanya buta sebelah karena tersiram cairan amoniak terkena PHK. Mang Ujang dan Kang Seco tukang ojeg yang bingung menghitung-hitung kredit motornya, Mang Asep kuli sindang yang sering melamun, dan saudara-saudara kita lainnya yang melarat.

Saya bersujud dan menangis di hadapanMu ya Allah:

“Ya Allah, jika hanya Tanah Suci sebagai tempat yang paling mulia untuk berdoa, maka, ijinkanlah aku, di manapun aku berada disitulah doaku Engkau kabulkan.

Ya Allah, jika hanya Ramadhan sebagai waktu yang paling mulia untuk berdoa, maka, ijinkanlah aku, disetiap waktu kapanpun disitulah doaku Engkau kabulkan.

Dan, jika Ibadah Haji sebagai kesempurnaan seluruh ibadah, maka ijinkanlah aku mendapatkan kesempurnaan ibadah di manapun aku melaksanakan ibadah. Dan jika itu tidak cukup, maka ampunilah aku, dan berilah aku keajaiban untuk bisa mendatangi Ka’bahMu, tanpa mengorbankan Mbok Jamu, Mbok Sayur, Mak Pik, Lik Ginem, Mas Dikin, Mang Ujang, Kang Seco, Mang Asep dan saudara-saudaraku yang sengsara. Aamin.

“Laa ilaaha illa anta subhaanaka innie kuntu minadh dhaalimien”

Kanti lêgåwå Punåkawan ngaturakên:

Sugêng warså énggal Anggårå Palgunå (Sêlåså Pon), 1 Muharram 1435H ~ 1 Surå 1947 Alip Sêngårå Langkir. Mugihå Gusti Hang Måhå Ngrangcang Lêlakon tansah paring Sih Katrésnan Hang Tanpå Wilangan. Pinanggih karahayon kalis saking rubêda påpå cintråkå.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: