Dongeng Punakawan

On 25/10/2013 at 00:40 punakawan said:

Nuwun,

Tansåyå dalu araras…..
abyor lintang kang kumêdar…
titi sonyå madyå ratri..
kongas gandhaning sêkar gadung mangambar…

Malam semakin larut, kerlap-kerlip bintang di langit lazuardi
Saat sonya telah lewat tengah malam
Semerbak kembang arum dalu mewangi

Di saat telah lewat tengah malam ini, saya mengajak sanak kadang untuk sejenak merenung tentang diri kita. Tentang perilaku kita. Seberapa jauh kita telah mensyukuri semua nikmat yang Tuhan berikan kepada kita.

Dari neraca perjalanan hidup kita, manakah yang lebi berat timbangannya. Rasa syukur kita kepada Tuhan atau kita justru sering melalaikannya.

Sumånggå kasimak kanti wêninging galih

Dongeng Ayam Goreng

Tinggallah pasangan suami istri sederhana yang dikaruniai satu orang anak perempuan yang kurang-lebih baru berusia lima tahun.

Keluarga ini adalah keluarga yang taat kepada Tuhan, di setiap hari mereka selalu berusaha untuk mewarnai hidup meteka dengan ibadah.

Nilai-nilai kebenaranpun selalu ditanamkan dalam diri si anak sedari kecil.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Sang Suami diberhentikan dari pekerjaan di suatu perusahaan swasta karena alasan pengurangan pegawai.

Pada awalnya ia kuat, namun setelah sekian lama ia mulai kecewa dan nyaris putus asa, bahkan ia mulai meragukan kebaikan dan keperdulian Tuhan kepada dirinya dan keluarganya.

Iapun mulai enggan berdoa. sering meninggalkan sholat, dan jarang hadir di masjid. Dia nyaris melupakan Tuhan.

Dengan penuh kesabaran Sang Istri terus menghibur dan menguatkan Sang Suami dengan kalimat-kalimat toyibah.

Si Istripun rajin berdoa, bahkan sering berpuasa, dia selalu memohon pertolongan dan kekuatan pada Tuhan agar ia, suaminya dan anaknya dapat mengatasi ujian hidup ini.

Keuangan yang semakin menipis memaksa mereka untuk lebih berhemat, termasuk dalam makanan sehari-hari.

Suatu malam tatkala mereka berkumpul untuk makan malam. Di hadapan mereka tersedia hidangan makanan yang amat sangat sederhana.

Tiba-tiba Si Anak memanggil Sang Bapak. “Ayah, Fatimah pengen makan ayam goreng”

Mendengar keinginan si anak, Sang Bapak trenyuh, hatinya serasa hancur, air matanya hampir menetes.

Namun dengan kelembutan hati seorang Ibu, Sang Emakpun menjawab: “Fatimah, apapun yang Tuhan beri kita harus bersyukur. Lagipula lauk kita malam ini tidak kalah enaknya koq dengan ayam goreng, apalagi kalau sebelum makan kita berdoa terlebih dahulu.”

Ia juga menyentuh tangan suaminya, tanda agar suaminya tidak menangis di depan Sang Anak.

Dengan wajah gembira Sang Anak menatap ayahnya. “Oh iya, Fatimah hampir lupa, ayah pernah bilang sama Fatimah bahwa bila Tuhan berkehendak sesuatu, semuanya bisa terjadi. Itu artinya Tuhan bisa menjadikan lauk ini serasa ayam goreng. Bukankah begitu Ayah?”

Terbata-bata Sang Ayah menjawab pendek “…ya.”

“Mak, Fatimah aja yang berdoa ya!”. Sang Emakpun tersenyum, sembari menganggukkan kepalanya.

Setelah selesai berdoa, dengan kepolosannya Sang Anakpun makan dengan lahapnya sambil sedikit menjerit. “Wah, Tuhan Maha Hebat. Rasa lauk ini benar-benar seperti rasa ayam goreng. Ayah cobain dekh”! Sang anak memasukkan ke dalam mulut Sang Ayah.

Sang Ayahpun menangis. Ia bukan lagi menangis karena tidak bisa memberikan ayam goreng kepada anaknya. Ia menangis, lantaran anaknya yang berumur lima tahun lebih beriman dibanding dirinya yang telah mengenal dan menerima banyak kenikmatan dari Tuhan selama berpuluh-puluh tahun, yang kini hampir-hampir dia lupakan.

Jujur saja, kita pun sering seperti itu: mengenal Tuhan bertahun-tahun bahkan merasakan anugerah kenikmatan dari Tuhan yang tak pernah putus dalam hidup kita.

Namun saat ujian datang, dengan mudah kita melupakanNya.
Mengapa saat ujian datang kita lebih memandang beratnya ujian tersebut?

Mengapa bukan nikmat karunia yang selama ini telah kita rasakan yang kita pandang?

Dan Tuhanpun menyindir kita dengan kalimat sabda suciNya:

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban

[Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?]

Ya Allah Ya Rahmaanu Ya Rahiimu,
Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang,

Ya Alah, ya Tuhan kami. Ampunilah kami.
Ampunillah segala dosa dan kesalahan kami.

Ya Allah. Banyak sudah kenikmatan yang Engkau limpah-curahkan kepada kami, namun kami terlalu sangat sering mengingkari nikmat karuniaMu.

Kami sering lupa atas kemaha-kasihMu dan kemaha-sayangMu kepada kami.
Kami ternyata sering lalai dan tak puas atas nikmat karuniaMu itu.

Ya Allah, ya Tuhan kami. Ampunilah kami,
Berkatilah kami. Izinkanlah kami untuk senantiasa mengingatMu,

Ajarilah kami ya Allah untuk selalu mensyukuri nikmat karuniaMu. Jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang mengingkari nikmat karuniaMu.

Ya Allah. Perbaikilah amal ibadah kami kepadaMu sebagai wujud syukur atas keberadaan kami, semata-mata karena perintahMu, agar kami menjadi orang-orang yang berserah diri kepadMu.

Aamin.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: