Dongeng Punakawan

On 24/10/2013 at 01:34 punakawan said:

Nuwun

Ngudåråså si punåkawan, setelah membaca komen Ki Dewa. (On 23/10/2013 at 17:19 dewa)

Kasinggihan Ki

Haryå Pênangsang yang dicurangi, dan Kesultanan Pajang yang hanya sesaat, Mataram si Danang Sutåwijåyå yang ‘memberontak’, adalah sedikit peristiwa yang pernah terjadi, yang mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini.

Tetapi tidak hanya pada peristiwa perebutan tahta Demak, Pajang vs Jipang, yang berujung pada awal kebangkitan Mataramnya Sutåwijåyå saja.

Jika kita membuka sejarah Nusantara Purba (yang kini bernama Indonesia). Kita simak dari dongeng-dongeng masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca pada rontal-rontal, kitab-kitab kidung, kakawin, dan pujasastra.

Permusuhan, pertengkaran, perkelahian, keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, dan pertempuran demi pertempuran di antara sanak kadang sendiri, telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung sendiri.

Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu. yang terjadi di kalangan sendiri.

Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh negaranya, Kraton Medhang Mataram yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Prabu Dharmawangsa.

Sang Baginda Prabu Airlangga dengan sangat terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Janggala dan Kadiri.

Namun para pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah.

Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayåbåyå terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jåyåsåbå. Peperangan yang menyengsarakan para kawulå alit.

Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kêrtåjåyå, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

Kèn Angrok sang bocah berandalan, anak penjudi dan penyamun, perampok, pembunuh, perebut istri orang, Angrok melakukan pemberontakan merebut tahta singgasana Tumapel, Sang Akuwu Tunggul Ametung harus disingkirkan, dimusnahkan, nafsu merebut permaisuri sang nata stri nariçwari nDédés Putri Ayu Kèn. merebut Kembang Panawijen Lereng Gunung Kawi itu.

Pakuwon Tumapel yang kemudian berkembang menjadi kerajaan besar Singasari, setelah Tunggul Ametung dikudeta dengan cara yang licik oleh Ken Arok, Singasari semakin jaya di bawah kepeminpinan Sri Rajasa Batara Sang Amubhumi.

Kadiri Sri Kertajayapun ditundukkan dalam perang Ganter. Singasari yang semakin moncèr.

Tetapi kekuatan yang dibina Sang Bhatara inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran demi pertengkaran, dendam kesumat di antara para sanak-kadang.

Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Golongan Sinelir dan Golongan Rajasa.

Keturunan Akuwu Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua, si wanita idaman lain Sang Amurwabhumi.

Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran. Lagi-lagi rakyat jelata menjadi korban ketamakan dan nafsu para pemimpinnya.

Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, Kertanegara. keturunan dari dua dinasti itu memerintah Singasari, dan membawa kerajaan itu ke puncak ketenarannya, tetapi datang kemudian Jayakatwang membalas dendam kesumat leluhurnya yang dibunuh leluhur Kertanegera, maka Singasari yang besar, dihancurkan. Intrik dan dendam masih terus berlanjut. Untuk kesekian kalinya rakyat kecil jadi korban.

Hadir dipanggung sejarah, kerajaan besar yang lahir di Tanah Gamping Rawa Alas Trik, di tempat Nararya Sanggramawijaya, putra Mahisa Campaka mendirikan kraton baru bernama Wilwatikta Majapahit, yang berkembang pesat menuju puncak kemegahan Nusantara.

Kisah kemegahan dan kejayaan Majapahit mencapai puncaknya, tatkala kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada, melalui sumpahnya yang terkenal itu Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

Namun kerajaan besar itu tidak luput juga dari tindakan curang-mencurangi di antara sanak kadang para bangsawan keraton. Perang Paregreg menunjukkan hal itu.

Majapahit pun kemudian menjadi surut. Hancurnya Majapahit ternyata bukan oleh serangan yang berarti, justru hancurnya negeri itu akibat perseteruan tidak habis-habisnya antara generasi keturunan dan sanak kadang para bangsawan keraton Majapahit sendiri.

Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri, dan rakyat jelata ikut menanggung akibat perang itu. Susul menyusul bencana alam yang semakin memporak-perandakan tlatah Majapahit.

Dalam pada itu, bangkit dan berkembanglah kemudian Kesultanan Dêmak Bintårå. Pada masa itu, kekuasaan asing mulai merambah kembali ke Nusantara, kali ini bangsa Portugis yang mencoba menjejakkan kakinya di bumi Melaka.

Dêmak yang bercita-cita sebagaimana kerajaan Nusantara pendahulunya, untuk mempersatukan Nusantara, kebesarannyapun terganggu.

Sejarah kembali berulang. Upaya mempersatukan Nusantara, terganggu oleh konflik intern kesultanan Demak.

Sejak lama, setelah wafatnya Sultan Trênggånå, dua garis keturunan petinggi negeri itu saling berebut kekuasaan.

Garis keturunan Sultan Trenggånå dan garis keturunan Sêkar Sédå Lèpèn. Di sini Haryå Pênangsang yang merasa berhak atas tahta berhadapan dengan Djåkå Tingkir yang menantu Sultan Trênggånå.

Dêmak semakin kisruh, dan semakin keruh, dan lebih “ramai” lagi, ketika di dalam pertikaian itu, tokoh-tokoh agama ikut campur tangan, bukan sebagai juru penengah, tetapi para tokoh agama yang seharusnya ngêmong jiwa-jiwa para ksatria bangsawan kraton dan para penguasa, yang semestinya selalu mengajak untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Tuhan Hang Måhå Waséså, ternyata ikut terjun menjadi “pemain”, bahkan sebagai provokator.

Haryå Pênangsang, Adipati Jipang Panolan, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Dêmak, telah membunuh Sultan Prawåtå dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Namun Haryå Pênangsang sendiri pun kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutåwijåyå, anak angkat Sultan Hadiwijåyå dari Pajang, setelah ibukota pemerintahan dipindah ke pedalaman.

Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijåyå, yaitu Danang Sutåwijåyå atau Panêmbahan Sénåpati, yang mendirikan Kesultanan Mataram. Lagi-lagi di era Hadiwijåyå ini Gunung Merapi njêblug.

Mataram selanjutnya mengukir sejarah Nusantara di bawah pemerintahan Danang Sutåwijåyå. Ia pertama kali muncul di panggung politik Kesultanan Pajang tatkala dia ditugaskan menumpas Haryå Pênangsang. Sudah takdir, bahwa kelak Danang Sutåwijåyå adalah penguasa tunggal di Tanah Jawa.

Apakah konflik curang-mencurangi sudah berakhir ??????
Ternyata tidak!

Sejarah perjalanan bangsa di era Negara Kesatuan Republik Indonesia kinipun tidak luput dengan warna-warni itu. Simak saja, tumbuh dan tumbangnya “Raja-raja” Indonesia di jaman modern ini.

Dongeng sejarah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, terutama bagi para petinggi negeri, baik yang kini sedang berkuasa atau siapapun yang berkehendak untuk memimpin negeri ini.

Haruskah kawula alit si rakyat jelata untuk kesekian kalinya selalu menjadi korban nafsu ketamakan dan keangkara-murkaan para pemimpinnya? Seharusnya tidak !!!

Janganlah rakyat jelata selalu menjadi tumbal nafsu angkara, adigang, adigung adiguna dan ketamakan para petinggi negeri.

Haruskah rakyat hanya menjadi kèsèt, sedangkan para petingi negeri, siapapaun dia, dengan nafsu keangkara-murkaanya, ketamakannya, berbuat ing ngarså ngumbar angkårå, ing madyå nglumpuké artå, tut wuri mèlu nadahi.

Lalu kapan negeri ini menjadi: nâgari ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, tåtå têntrêm kârtå raharjâ, panjang pocapané, punjung luhur kawibawané.

Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

Manusia para pemimpin yang sombong dan serakah, mênangé déwé. Susul-menyusul bencana atau adzab. longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung. Jadilah negeri itu Baldatun Laknatun wa Robbun Ghodobun……! .

Naudzubillah summa naudzubillahi minzalik.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: