Dongeng Punakawan

On 30/10/2013 at 15:19 punakawan said:

Nuwun

punåkawan sowan:

ORI — OEANG REPOEBLIK INDONESIA

Celakalah orang yang diperbudak uang

Tahukah sanak kadang kalau hari ini 30 Oktober 2013 diperingati sebagai Hari Keuangan?

Tepatnya tanggal 30 Oktober 1946, enampuluhtujuh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya ORI (Oeang Repoeblik Indonesia), secara resmi diberlakukan, dan pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang, uang NICA dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi.

Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka, sebagai salah satu atribut Negara Republik Indonesia, yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat.

Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.

Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai.

Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

ORI resmi beredar pada tangal 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks undang-undang.

ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu AA Maramis. ORI pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.

Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Jogjakarta pada 1 Jan uari 1947, Seri ORI III di Jogjakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Jogjakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri RIS (Republik Indonesia Serikat) di Jakarta pada 1 Januari 1950.

Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Jogjakarta, Surakarta dan Malang.

Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatera yang beredar adalah mata uang Jepang. Pada 8 April 1947 Gubernur Provinsi Sumatera mengeluarkan rupiah ORIPS- Oeang Repoeblik Indonesia Provinsi Soematera.

Hari Keuangan Nasional bermula dari sejarah keuangan Indonesia pada 30 Oktober 1946 silam. Sejarah Hari Keuangan Nasional ini bermula dari instruksi Menteri Keuangan A.A Maramis saat mundur 24 Oktober 1945.

Maramis menginstruksikan tim serikat buruh G. Kolff selaku tim pencari data untuk menemukan tempat percetakan uang dengan teknologi yang relatif modern.

Hasilnya, percetakan G. Kolff Jakarta dan Nederlands Indische Mataaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) Malang dianggap memenuhi persyaratan. Menteri pun melakukan penetapan pembentukan Panitia Penyelenggaraan Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia yang diketuai oleh TBR Sabarudin.

Akhirnya, uang ORI pertama berhasil dicetak. Upaya percetakan ORI ini ditangani oleh RAS Winarno dan Joenet Ramli.

Pada 2 Oktober 1946, Menteri keuangan digantikan oleh Mr Sjafruddin Prawiranegara. Akhirnya, usaha penerbitan uang sendiri memperlihatkan hasilnya dengan diterbitkannya emisi pertama uang kertas ORI pada tanggal 30 Oktober 1946.

ORI pun diterima dengan perasaan bangga oleh seluruh rakyat Indonesia. Mata uang yang dicetak itu ditandatangani oleh Alexander Andries Maramis (15 mata uang periode 1945-1947).

30 Oktober disahkan sebagai Hari Keuangan Republik Indonesia oleh presiden berdasarkan lahirnya uang emisi pertama Republik Indonesia.

Sebagai penutup, bertepatan dengan saat shalat Ashar, punåkawan hendak “berkultum

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Celakalah orang yang diperbudak uang ……………., Jika dia diberi dia ridha, jika tidak diberi dia tidak ridha.

Harta, tentunya termasuk uang adalah ujian, padahal manusia sangat menyukainya. Oleh karena itu, banyak orang yang gagal dalam menghadapi ujian besar ini.

Sedikit sekali orang yang bisa bersyukur kepada Tuhan atas limpahan nikmatNya yang tidak terhitung banyak dan nilainya. Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh.

Banyak orang mengira, jika Allah memberikan harta yang banyak kepadanya, itu bertanda Allah mencintainya. Sebaliknya, jika Allah mengurangi rizqinya, itu pertanda Allah menghinakannya. Ini adalah anggapan keliru. Karena semua itu merupakan ujian dari Allah Azza wa Jalla.

Gustimu paring dhawuh:

Wondéné manuså iku, samångså Pangérané anyobå marang awaké, nuli amaringi kamulyan lan kamuktèn, banjur calathu: Pangéranku amulyakaké aku.
Nanging samångså dicobå (liyané) banjur rêjêkiné dicumpi, banjur calathu: Pangéranku anginakaké aku

[Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinaku.]

[QS. Al Fajar (89):15-16]

Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hambaNya.

Bahkan dalam ayat yang lain, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa itu merupakan ujian:

Åpå pådhå ngirå, manåwå déning pitulung-Ingsun marang dhèwèké kang arupå båndhå lan anak,
Iku Ingsun (banjur) angénggalaké barang bêcik marang dhèwèké. Ora, dhèwèké ora ngråså.

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar

[QS. Al Mukminûn (23):55-56]

Mulané åjå angédabaké sirå båndhå-båndhåné lan anak-anaké, iku Allah mung angarsakaké kaagêm lantaran nikså dhèwèké ånå ing kauripan donyå iki lan (supåyå) nyawané pådhå oncat sajroné dhèwèké isih pådhå wong sasar

[Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.]

[QS. At Taubah (9) : 55]

Nah sanak kadang,

Sudah banyak contoh di Republik ini, gara-gara uang orang bisa berkelahi, bisa carok, saling membunuh. Demikian juga seorang pejabat negara tergelincir jatuh dari jabatannya gara-gara uang (suap).

Suap di sini tentunya bukan menyuap makanan bagi anak balita yang dilakukan oleh ibunya ketika ndulang ma’êm.

Suap dimaksud adalah pemberian uang sogokan bagi seorang pejabat negara, agar Apa-apa yang diberikan agar ditunaikan kepentingannya atau apa-apa yang diberikan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar

Kata suap-menyuap pada hari-hari ini ini begitu akrab di telinga dikarenakan seringnya media massa menukilnya, sampai-sampai kata suap-menyuap lebih sering digunakan melebihi makna yang sebenarnya, suap makna sebenarnya adalah memasukkan makanan dengan tangan ke dalam mulut (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Maka pada hari-hari ini, apabila seseorang mendengar kata suap, bukanlah yang tergambar di benaknya sesuatu yang terkait tangan, mulut dan makanan tapi yang langsung terbayang adalah korupsi, sidang dan KPK.

Suap sendiri dalam makna yang kedua ini tidak ditemukan di dalam kamus bahasa Indonesia, yang ditemukan adalah yang sepadan dengannya yaitu sogok.

Suap atau sogok dikenal dengan riswah, dan dalam syariat islam, perkara suap-menyuap ini ini sangat ditentang dan diancam dengan ancaman yang mengerikan, Rasulullah SAW, beliau bersabda:

“Allah melaknat orang yang memberi suap, dan yang menerima suap” (HR. Ahmad)”

Nuwun

punåkawan

Sumber:
Departemen (Kementerian) Keuangan RI, “Hari Keuangan”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: