Dongeng Punakawan

On 30/10/2013 at 03:26 punakawan said: |Sunting Ini

Nuwun

Dini hari Rabu, 30 Oktober 2013, punåkawan sowan ngêndit rontal:

SOEMPAH PEMOEDA

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal tersebut bangsa Indonesia dilahirkan, terserah orang menyebutnya dengan nama apapun, Sumpah Pemuda; Soempah Pemoeda atau Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia, satu hal yang pasti bahwa disana ada persatuan tekad dan kesatuan hati yang sangat dijunjung tinggi oleh seluruh pemuda Indonesia, karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Pada tahun 1908, nama Indonesia untuk pertama kalinya di gunakan oleh Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan Indonesia adalah organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di negeri Belanda. Organisasi ini awalnya bernama Indische Vereeniging.

Namun, pada tahun 1922 nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging, tetapi pada tahun yang sama namanya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.

Para pahlawan kita, seperti Ki Hajar Dewantara, Budi Utomo, dan DR. Mohammad Hatta, turut memopulerkan istilah Indonesia untuk mengimbangi istilah ‘Hindia Belanda’ yang dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II di Jakarta menggunakan nama Indonesia untuk mempersatukan pulau-pulau di Nusantara.

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas di bawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli.

Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Soenario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.

Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Teks Sumpah Pemuda yang kita kenal selama ini:

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Begitulah ikrar dari para pemuda Indonesia yang dikumandangkan 84 tahun yang lalu. Sumpah Setia itu bagai magnet baru untuk menaikkan rasa patriotisme para pemuda dari berbagai belahan daerah.

Sejarah Lahirnya Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda sendiri merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia.

Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia.

Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Dalam sambutannya, ketua PPPI Soegondo Djojopoespito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Weltevreden, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.

Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Soegondo kepada Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres.

Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Putusan Kongres Pemuda.

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pagojoeban Pasoendan, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi Sekar Rukun, PPPI. dll.

Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka.

Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Para Pengikrar Sumpah Pemuda adalah Sugondo Djojopuspito, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, Moehammad Yamin, Sunario, dan Johanna Masdani Tumbuan

Peristiwa 28 Oktober 1928 salah satu medium identifikasi peran pemuda. Bahkan medium mengonsolidasikan mitos peran pemuda. Perlu diketahui bahwa semula perayaan peringatan 28 Oktober 1928 sebagai Perayaan Nasional bukanlah peringatan yang kini dikenal sebagai “Sumpah Pemuda”.

Tanggal 28 Oktober hingga tahun 1954 dikenal sebagai peringatan “Hari Lahirnya Lagu Indonesia Raya”. Sukarno, Presiden Pertama Republik Indoenesia pada waktu itu yang memulai dan memimpin upacaranya di Istana Presiden Yogyakarta pada 28 Oktober 1949. Katanya perlu dirayakan karena pada 28 Oktober 1928 itu saat pertama kali diperdengarkannya hymne nasional, Indonesia Raya, karya Wage Rudolf Soepratman di depan publik.
Jadi tidak ada kaitannya dengan memuliakan apalagi memitoskan pemuda.

Meskipun istilah Sumpah Pemuda untuk menyebut peristiwa bersejarah 28 Oktober itu sudah diperkenalkan sejak 1930-an melalui surat kabar, tetapi baru diambil dan menjadi sebutan yang tetapk bagi hari nasional pada 1954.

Pada perayaan Hari Sumpah Pemuda 1957 memang ada arak-arakan pemuda, tetapi visinya lebih diarahkan untuk meyakini peristiwa ditemukannya identitas nasional.

Sukarno mengangap hal ini penting, dia ingin menggunakannya sebagai senjata ideologi menegur para dalang gerakan separatis yang marak mengancam keutuhan Negara Republik Indonesia pada pertengahan 1950-an.

Mereka dianggap sebagai “orang-orang yang menyimpang dari sumpah 1928”. Mohammad Yamin bahkan menambahkannya dengan mengaitkan peristiwa 28 Oktober 1928 itu dengan visi Indonesia yang jauh lebih tua dan lebih besar. Kata “sumpah” pada Sumpah Pemuda disejajarkan secara historis dengan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada.

Dengan demikian, Muhammad Yamin bukan saja ingin bicara tentang ruh Indonesia yang sudah ada jauh sebelum abad ke-20, tetapi juga mereka yang melakukan gerakan separatis telah melanggar tuahnya nenek moyang sebagai leluhur.

Museum Sumpah Pemuda

Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, Weltevreden, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soehato pada 20 Mei 1974.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Masa Kini

Kini setelah 84 tahun, banyak fihak mulai mempertanyakan ‘kebenaran’ Sumpah Pemuda tahun 1928 itu.

Beberapa sejarahwan berpendapat bahwa teks Sumpah Pemuda yang kita kenal sekarang ini adalah paslu. Naskah Sumpah Pemuda saat ini sudah dipalsukan.

Sumpah Pemuda merupakan bentuk kepalsuan yang dibuat oleh Presiden Sukarno. Tujuannya untuk menangkal upaya-upaya yang memecah belah bangsa, sebagaimana telah disebutkan di atas.

Teks yang sekarang itu merupakan produk masa 1950-an yang idenya berasal dari Presiden Soekarno. Tambahan kata ‘satu’ yang ada di tiap butir Sumpah Pemuda itulah yang dikatakan oleh segelintir sejarahwan sebagai palsu.

Menurut mereka, para sejarahwan itu teks asli Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut:

Poetoesan Congres Pemoeda

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tambahan kata “satoe”, menurut mereka adalah produk tahun 1950-an dari Bung Karno.

Kalimat-kalimat pada tekas bukanlah sumpah, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa teks itu adalah kalimat sumpah, namun hanya merupakan deklarasi sebuah kongres pemuda, maka disebut Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia dan agar terlihat sakral, Bung Karno menggantinya menjadi “Sumpah Pemuda” di tahun 1954.

Selain kepalsuan, hal lain yang diragukan oleh kelompok tertentu, mereka melakukan klaim bahwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 penuh dengan inflitrasi kaum freemason.

Dikatakannya bahwa sebenarnya ormas pemuda kala itu telah melakukan boikot kongres tahun 1926 karena dianggap ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda.

Hal ini dipicu karena lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peran Theosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926).

Rumusan Sumpah Pemuda sendiri ditulis Mohammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Mohammad Yamin adalah seorang anggota senior dari Jong Sumatranen Bond atau Ikatan Pemuda Sumatera. Pendirian Jong Sumateranen Bond sendiri difasilitasi oleh Theosofi. Bahkan rapat tahunan pertama organisasi ini diwarnai pengaruh paham Yahudi dan Freemasonry, yang pada gilirannya Mohammad Yamin juga berjasa besar untuk menelurkan gagasan Pancasila yang dekat dengan ide dan gagasan kefreemasonan.

Maka itu tidak aneh, pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya memupuk rasa nasionalisme dan demokrasi. Dua ideologi yang memang telah menjadi agenda Yahudi.

Selain Jong Sumateranan, afiliasi pemuda yang ikut menyemarakkan Sumpah Pemuda 1928 adalah Jong Java. Agama Katolik dan Theosofi banyak mendapat tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java.

Sebelumnya pada 1926- dua tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda- para aktivis muda yang berasal dari Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) dan Jong Vrijmetselaarij (Pemuda Freemason) sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kepemudaan.

Pada tahun yang sama, mereka berusaha mengadakan kongres pemuda di Batavia yang ditolak oleh JIB, karena kongres ini didanai oleh organisasi Freemason dan diadakan di Loge Broderketen, Batavia

Alasan penolakan JIB, dikhawatirkan kongres ini disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam. Apalagi, Tabrani, penggagas kongres ini adalah anggota Freemason dan pernah mendapat beasiswa dari Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah lembaga beasiswa yang dikelola aktivis Theosofi-Freemason.

Namun yang penting dipertanyakan adalah, dengan maksud apa segelintir orang yang dijuru-bicarai oleh sejarahwan “mengusik” Hari Sumpah Pemuda. Alasan “meluruskan” sejarahkah?

Jelas tersirat dari pernyataan mereka adanya kebersinggungan dengan golongan tertentu, yang mendiskreditkan golongan tertentu yang satu, dan ingin mengkedepankan golongan tertentu yang lainnya.

Jika ingin menampilkan tokoh-tokoh yang selama ini “diabaikan” dalam sejarah, bukanlah suatu masalah yang besar, tetapi yang lebih dikuatirkan adalah dapat menimbulkan persepsi yang salah yang dapat menjadi pemicu perpecahan di antara anak bangsa, agama, ras, golongan, daerah, yang rasa-rasanya semakin hari perekatnya semakin rapuh.

Bukankah mereka telah meragukan Pancasila — yang kini adalah dasar negara- yang disebut-sebut sebagai produk yang dekat, sefaham dengan ide dan gagasan kefreemasonan.

Tetapi bukankah para Bapak Bangsa Pendiri Republik Indonesia sepakat, bahwa negara yang dibentuk tidak berlandaskan pada agama dan kepercayaan, ras, daerah, suku bangsa tertentu. Negara Republik Indonesia yang berBhinneka Tunggal Ika, yang berPancasila

Negara yang “Beraneka Satu Itu“, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Satu persatuan dan kesatuan bangsa dan negara yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah niat ingin bersatu senasib sepenanggungan. Pemuda yang menjadi motor penggerak pembangunan dan ingin terbebas dari belenggu dan ketertindasan. Sumpah penuh semangat dengan niat yang tulus menjadi bangsa yang bebas merdeka dari penjajah.

Sanak kadang sejenak saya ajak membaca kembali bagaimna upaya-upaya penjajah Belanda melakukan politik devide et impera terhadap bangsa Indonesia.

Salah satunya, disebutkan bahwa Prof Dr. CC Berg yang mengatasnamakan dirinya sebagai ahli sejarah atau sejarawan Belanda, yang juga seorang filolog, telah menyusun desertasi, yang kemudian dia terbitkan dalam bentuk buku: Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen BKI 83: 1 – 161, diterbitkan oleh: De Bliksem (The Lightning), Soerakarta 1927; dan Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana), yang diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 1928, yang dia sebutkan sebagai menyadur dari naskah asli yang sudah ada sebelumnya.

Namun berdasarkan hasil investigasi secara cemat oleh para sejarahwan, lintas disiplin ilmu sejarah yang melibatkan para filolog, yang tentu juga ahli dalam paleografi, para arkeolog, dan antropolog ternyata desertasinya itu bukan hanya tidak asli, tetapi juga palsu, karena ia menyadur dari sumber yang tidak pernah ada, tetapi seolah-olah ada, oleh karenanya kita katakan bahwa Kidung Sunda dan Kidung Sundayana, kedua-duanya diragukan keabsahannya sebagai sumber sejarah, yang akhirnya meyakinkan kita dengan pasti, bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi.

Apa motif C.C Berg “mengcopy-paste”, bersusah payah menerbitkan desertasinya yang seolah-olah mendukung isi naskah yang dia sebut ada.

Pengkisah (sang profesor), Perang Bubat ini bertujuan untuk memberikan dasar sejarah bagi publik bahwa telah terjadi persetruan antara dua kerajaan besar yaitu kerajaan Majapahit yang mewakili masyarakat suku Jawa, dan kerajaan Sunda Galuh, yang mewakili masyarakat suku Sunda, dengan cerita yang diberikan sisi emosional dan sentimentil untuk membentuk dan menimbulkan efek karakter balas dendam, rasa benci, dan permusuhan antar suku dengan tujuan memberikan opini publik bahwa telah terjadi kecurangan dari salah satu pihak.

Kitab Kidung Sunda dan kitab Kidung Sundayana seolah-olah dibuat untuk menguatkan peristiwa atau kisah perang Bubat yang diciptakan seolah-olah pernah terjadi.

Pertanyaannya adalah apakah kitab-kitab itu dokumen asli atau terjemahan atau sesuatu yang dibikin baru untuk menguatkan desertasinya? Kalau kitab itu terjemahan harus ada bukti kitab aslinya.

Apa motif C.C Berg menerjemahkan dan menerbitkan kitab-kitab itu yang seolah-olah mendukung ‘temuannya’ dengan lebih detail atau khusus menceritakan kisah perang Bubat?

Ada korelasi antara terbitnya buku CC Berg, dan upaya-upaya menggagalkan kongres pemuda Indonesia pada waktu itu.

Pada saat itu untuk pertama kalinya istilah Indonesia dipergunakan dalam hubungan dengan persatuan bangsa, maka ketika Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut menghasilkan teks Sumpah Pemuda, di dalamnya tercantum nama Indonesia, yang pada waktu itu mereka masih menggunakan nama-nama organisasi yang bersifat kedaerahan, seperti: Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pagojoeban Pasoendan, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi, Sekar Rukun, PPPI. dll.

Bagaimana upaya penjajah Belanda melalui berbagai cara untuk membendung upaya para pemuda Indonesia, agar pemuda-pemuda itu terpecah belah dan tidak bersatu. Salah satunya adalah melaui buku yang ditulis oleh sang profesor CC Berg ini.

Peristiwa yang melatar belakanginya tiada lain yaitu runtutan sejarah yang mengarah kepada peristiwa “Sumpah Pemuda 1928”, para pelaku sejarah sumpah pemuda tentunya merencanakannya jauh-jauh hari, bukan sekonyong-konyong timbul pada tahun 1928, tetapi sudah direncanakan sebelumnya.

Tentunya para inteljen dari penguasa penjajah Belanda pada waktu itu, sudah mengetahui dan mengidentifikasi rencana-rencana dari para pelaku Sumpah Pemuda 1928, makanya dibuatlah propaganda untuk menggagalkan rencana besar Sumpah Pemuda tersebut.

Sumpah Pemuda adalah bentuk ancaman terbesar bagi para penjajah Belanda, dalam melangsungkan terus masa kekuasaannya atas wilayah-wilayah jajahannya. Salah satu caranya yaitu dengan membuat alat media publikasi dengan menerbitkan kitab Kidung Sunda dan kitab Kidung Sundayana, targetnya untuk memecah belahan suku Sunda dan Suku Jawa, yang telah teridentifikasi sebelumnya.

Perhitungan penjajah bahwa kekuatan persatuan utama persatuan Nusantara terletak pada kedua suku tersebut, sebagai suku yang terbesar dalam jumlah. Jika kedua suku ini bergabung dalam satu ikatan maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan kekuasaan penjajah. Motifnya sangat jelas, yaitu menggagalkan rencana Sumpah Pemuda 1928, yang sudah digagas jauh-jauh hari.

Jadi, yang kita waspadai sekarang adalah adanya upaya-upaya hendak menghilangkan makna Sumpah Pemuda yang pernah dikobarkan oleh para pemuda kita di tahun 1928.

Cara-cara licik kaum penjajah dengan politik devide et imperanya, adu domba dua suku bangsa melalui upaya pemalsuan sejarah, dan upaya kelompok lain yang menggunakan sentimen agama. dihadapkan dengan ideologi negara Pancasila. Kedua-duanya bermaksud sama, sama-sama tidak menghendaki Indonesia bersatu.

Yang satu ingin tetap becokol sebagai penjajah, yang lainnya dalam jangka panjang bermaksud memaksakan ideologinya untuk menggantikan Pancasila.

Waspada !!!, bahwa di masa-masa kini, di antara kita nampak bahwa sumpah itu hampir-hampir tak membekas atau bahkan ada pula yang menyebutnya sebagi tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Kita lihat di kenyataan sehari-hari sebagian pemuda telah bersumpah tidak mengakui dan telah membuktikan bahwa meraka tak ingin menjadi bagian dari tanah air Indonesia. Sumpah putra dan putri Indonesia sekarang tidak sama lagi dengan sumpah putra dan putri zaman dulu.

Papua dan Ambon ingin merdeka, Aceh ingin bebas, dan masih banyak lagi daerah dengan rencana terselubung ingin lepas dari sumpah yang berkedok NKRI. Sejak mereka membuka mata dan hidup di negara yang namanya Indonesia, tak pernah dirasakan bahwa mereka memiliki tanah air.

Semua sumber-sumber penghidupan hampir tak dinikmati. Sumber daya alam habis terkuras tanpa menyisakan sedikitpun untuk anak cucu mereka. Sebaliknya hasil-hasil sumberdaya alamnya dinikmati sepuas-puasnya untuk kepentingan sekelompok orang, golongan-golongan dan bahkan . Yang tersisa adalah bencana longsor, banjir, berbagai macam penyakit, gizi buruk, dan penderitaan.

Di daerah lain generasi muda mengenyam pendidikan yang layak dengan fasilitas pendidikan yang berlebihan. Sementara di daerah lain pun, sekolah tidak layak pakai, bahkan roboh menimpa anak-anak yang hanya bermodalkan semangat tinggi ingin belajar dengan segala keterbatasan. Ketimpangan inilah yang menjadi penyebab mereka enggan bersumpah atas nama pemuda dan atas nama tanah air indonesia, bangsa indonesia dan bahasa Indonesia.

Dan pemuda-pemuda sekarang tidak pernah bersumpah. Mereka hanya membaca naskah sumpah pemuda dan memperingati hari lahir sumpah pemuda pada setiap tanggal 28 Oktober, dari tata-lahirnya mereka bersumpah namun batinnya tidak mau menerimanya, sekan-akan sumpah itu merupakan paksaan buat mereka, maka seharusnya sumpah itu tak bisa dipaksakan. Sumpah itu harus benar-benar lahir dari hati nurani. Jika pun dipaksakan, itu namanya bukan sumpah pemuda, tapi seolah-olah bersumpah atau pura-pura bersumpah.

Akibat seolah-olah bersumpah atau pura-pura bersumpah., yang terjadi kemudian adalah perpecahan, perkelahian, pemaksaan kehendak antar agama, etnis, ras, suku bangsa.

Sebut saja salah satu contoh: Pilkada di suatu darah yang dimenangkan oleh salah satu calon mengakibatkan calon lainnya tidak puas dan melawan putusan kekalahannya dengan unjuk-rasa, dengan melakukan tindakan-tindakan anarkis, membakar, bahkan tindakan-tindakan yang digolongkan sebagai tindakan kriminal.

Agama yang konon dilindungi oleh pemerintah dengan tanpa membedakan-bedakan tata cara ibadahnya, yang dalam kenyataannya telah diskriminasi.

Jika pemuda-pemuda dan kita semua sadar, dan benar-benar dengan ikhlas hati bersumpah, kita tak melihat tawuran antar pelajar, tawuran antar mahasiswa, pemaksaan kehendak golongan yang satu terhadap golongan yang lain, gontok-gontokan di DPR karena memperebutkan pengaruh, kuasa dan ujung-ujungnya uang, KKN, teroris, dan berbagai praktek yang menghancurkann kesatuan dan persatuan bangsa.

Sumpah Pemuda yang merupakan penghargaan dan lahir dari pluralisme, momen dalam menolak sentimen kolonialisme yang bersuku-suku, berpuak-puak, ras, dan berstrata sosial, sudah merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini yang bermuara pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Bangsa yang mendiami kawasan yang kita sebut Indonesia ini bersepakat untuk merdeka, mendirikan Negara Republik Indonesia, yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dan tidak berdasarkan azas lainnya.

Waspada !

Nuwun

punåkawan

Sumber rujukan:

Museum Sumpah Pemuda Kramat Raya no 106 Jakarta

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: