Dongeng Punakawan

On 11/10/2013 at 09:57 punakawan said: |Sunting Ini

Sampurasun
sampurna ati ingsun

Wilujeng papanggih deui Ki Djodjosm, abdi nyuhungkeun dihapunten.

Kuring ngaharepkeun muga Ki Djodjosm sakulawarga sok cageur wal afiat, Alloh mikeun rahmat sarta hidayah anu teu kungsi pegat. Aamin.

Mohon dimaafkan. Baru sempat membaca komentar Ki Djodjosm yang Adimas Putut Risang, katakan: kadit itreng.

Berikut saya tuturkan kembali butiran-butiran mutiara wejangan Kanjêng Sunan Gunung Jati yang disimbolkan sebagai tradisi Adzan Pitu.

Semoga bermanfaat.

KESULTANAN CIREBON, MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA & ADZAN PITU

Kesultanan Cirebon yang didirikan pada abad ke-15, merupakan jembatan dua budaya yang khas Jawa dan Sunda, yang dalam perkembangannya melahirkan budaya Cirebon yang di dalamnya berpadu unsur Budaya Jawa dan Budaya Sunda.

Letak geografis di pesisir pantai utara Jawa, yang masyarakatnya cenderung egaliter, sangat memungkinkan terjadinya asimilasi kedua budaya, demikian juga karena letaknya berhadapan langsung dengan laut bebas, memungkinkan berbaurnya budaya-budaya “asing” yang masuk, sebut saja Arab, Cina, India, Melayu dan sebagainya.

Itulah sebabnya mengapa kota yang tadinya merupakan dusun kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, berangsur-angsur berkembang menjadi dusun dan pelabuhan besar yang ramai dan bersinggungan langsung dengan Laut Jawa itu, dinamakan Cerbon (dalam bahasa Sunda, artinya berbaur, bercampur, campuran).

Legenda lain menyebutkan bahwa pada awalnya masyarakat dusun yang dibangun Ki Gedeng Tapa adalah masyarakat nelayan, dan lazimnya nelayan, mata-pencaharian mereka adalah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) banyak ditemukan di sepanjang pantai yang mereka olah menjadi trasi dan petis.

Air bekas pembuatan trasi yang mereka sebut belendrang, yakni yang berasal dari udang rebon inilah, kemudian berkembang sebutan cai-rebon (dalam Bahasa Sunda, artinya air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.

***

Tokoh Ki Gedeng Tapa, yang dikenal juga dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati, tidak diketahui dengan pasti, apakah seorang tokoh fiktif atau tokoh sejarah, mengingat cerita tentang tokoh ini dituturkan secara tutur-lisan (tutur-tinular), dari generasi ke generasi, namun masyarakat Cirebon meyakini bahwa tokoh ini pernah hadir dalam sejarah kacirebonan, dan mendirikan dusun yang diberi nama Muara Jati, mengingat banyaknya pohon jati yang tumbuh di muara tepi pantai Laut Jawa itu.

Dikisahkan bahwa Ki Gedeng Tapa mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug pada tanggal 1 Syura 1358 J bertepatan dengan tahun 1445 M.

Sejak saat itu, mulailah para pendatang menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.

Tajug adalah tempat ibadah.

Beliau adalah seorang Syahbandar yang mendapatkan tugas dari Kerajaan Sunda Galuh, untuk mengawasi wilayah tersebut.

Sebagai Syahbandar sekaligus administrator yang ulung yang dipercaya oleh Prabu Siliwangi, Ki Gedeng Tapa mampu menjadikan Pelabuhan Muara Jati semakin besar dan ramai.

Banyak disinggahi kapal-kapal dagang dari luar negeri, terutama saudagar-saudagar dari Cina dan Timur Tengah. Hingga akhirnya Muara Jati menjadi pelabuhan utama Kerajaan Galuh.

Berbagai komoditi pun diperdagangkan, mulai dari beras, rempah-rempah, emas, tekstil, alat-alat rumah tangga dan barang-barang pecah-belah, hingga garam dan trasi turut meramaikan perdagangan.

Tak salah waktu itu, cikal-bakal Cirebon telah menjadi pusat perdagangan dunia, setidaknya Asia Tenggara.

Kesuksesan Ki Gedeng Tapa telah mengantarkan pada posisi elit dan terhormat di Kerajaan Galuh.

Sementara, Prabu Siliwangi terus berupaya membesarkan Kerajaan Galuh dan kemudian membentuk kerajaan besar, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang di beri nama Kerajaan Pajajaran, pada sekitar tahun 1425 Masehi. Pusat pemerintahan pun dipindahkan, dari Kawali di Ciamis (Rajagaluh) ke Bogor.

Dongeng tentang Prabu Siliwangi selanjutnya, bila diizinkan (artinya tidak diprotes :) ). Insya Allah akan dibabar, karena ada kelanjutan dengan Dongeng Perang Bubat, yang sedang diwedar.

***

Ketika Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang cucunya (ibu Walangsungsang adalah Nyi Mas Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa, dan ayahnya adalah Prabu Siliwangi) tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon.

Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana.

Berita sejarah lain, yang ditemukan di Klenteng Talang Cirebon (klenteng tua yang terletak di Jalan Talang Cirebon), menyebutkan. bahwa yang mendirikan Kesultanan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Kanjêng Sunan Gunung Jati, yang memerintah Kesultanan Cirebon pada tahun 1479 sd 1568. Tokoh ini pula yang dipercaya mendirikan Kesultanan Banten.

Disebutkan dalam kronik Talang Cirebon, bahwa Kanjêng Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon pertama yang memerintah, tertulis sebagai anak Sultan Dêmak Bintårå Trenggånå dari seorang isteri Cina, anak perempuan Swan Liong.

Dari kedua sumber sejarah yang ada tersebut, belum dapat dipastikan sumber sejarah mana yang valid.

Adalah tugas para sejarahwan untuk meneliti kebenarannya.

***

Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon yang dimulai oleh Syarif Hidayatullah atau Kanjêng Sunan Gunung Jati ini kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, yang juga menyebarkan agama Islam di di Majalengka, Kuningan, Galuh (Kawali, Ciamis), Sunda Kalapa (Jakarta sekarang) dan Banten.

(Catatan:
Dinasti sultan-sultan Cirebon dan Banten tersebut di atas, tidak ada kaitannya dengan “dinasti Ratu Atut van Banten” sekarang, yang dicegah ke luar negeri oleh KPK. :) Lha kok mlenceng ke The Dynasty Corupt from Banten).

***

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Pada masa pemerintahan Kanjêng Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang mempunyai keunikan ‘ritual’ Adzan Pitu, didirikan. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon, terletak di dalam kompleks kraton Kasepuhan Cirebon.

Masjid ini diduga adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 M. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan.

Menurut dongeng tutur-lisan, pembangunannya melibatkan ratusan orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak dan Cirebon sendiri. Arsiteknya adalah Kanjêng Sunan Kalijågå, yang dibantu oleh seorang ahli bangunan yang terkenal sejak jaman Majapahit yakni Radèn Sêpat.

Keunikan masjid ini adalah tidak adanya puncak atap seperti lazim dimiliki oleh masjid-masjd di pulau Jawa.

Menurut legenda, dahulunya masjid ini memiliki puncak atap. Namun, saat adzan pitu, pada saat sholat Subuh digelar, kubah tersebut terlempar dengan kekuatan gaib pindah ke Masjid Agung Banten, yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah.

***

Adzan Pitu

Lazim di masjid manapun, adzan dilakukan oleh satu orang. Namun, yang ada di mesjid Sang Cipta Rasa ini sangat berbeda.

Di masjid ini, adzan dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus secara bersamaan. Adzan dikumandangkan serentak oleh tujuh orang muadzin.

Satu hal yang tidak akan kita pernah temui di belahan dunia manapun.

Tradisi ini telah berlangsung sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu sholat, namun kini hanya dilakukan pada saat sholat Jumat saja, pada adzan pertama.

Serat Babad Cirebon, menginformasikan bahwa adzan tujuh atau dikenal dengan sebutan adzan pitu berawal sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon.

Konon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dahulu diserang oleh kekuatan yang tidak kasat mata yang menyebabkan tewasnya tiga orang muadzin berturut-turut secara misterius.

Ketika masjid ini didirikan, masyarakat sekitar tempat yang akan didirikan masjid, sebagian besar belum memeluk agama Islam.

Mereka menolak pembangunan masjid ini. Penolakan itu diwujudkan melalui kekuatan misterius yang menyebabkan musibah kematian tiga muadzin masjid.

Konon saat itu, sihir itu melalui perwujudan makhluk siluman bernama Menjangan Wulung yang bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat.

Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya.
Kondisi ini membuat resah umat Islam.

Akhirnya para wali meminta petunjuk Allah atas masalah yang terjadi. Para wali menganggap ada satu kekuatan misterius yang menolak Islam berkembang di daerah Cirebon.

Setelah Kanjêng Sunan Gunungjati bermusyawarah dengan para tetua dan memohon petunjuk dari Allah.

Kanjêng Sunan Kalijågå mendapat petunjuk untuk segera mengumandangkan adzan yang diserukan oleh tujuh orang muadzin sekaligus sebelum sholat, lalu dititahkan oleh Kanjêng Sunan Gunungjati, kemudian disebut tradisi adzan pitu.

Tujuh orang yang melantunkan adzan ini merupakan pengurus masjid yang telah dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin adzan pitu sebelumnya.

Mereka mengaku, mendapat ketenangan dan lebih khusuk beribadah sejak menjadi muadzin adzan pitu.

Pada saat akan melaksanakan sholat Subuh, itulah pertama kali adzan pitu dikumandangkan.

Bersamaan dengan itu, dentuman besar terdengar dari kubah masjid. Kubah masjid mendadak terbang ke Masjid Banten.

Bersamaan dengan itu seketika binasalah kekuatan gaib yang disebarkan oleh makhluk halus bernama Menjangan Wulung.\
Ternyata selama ini Menjangan Wulung bertengger di atas kubah tersebut.

Itulah sebabnya mengapa hingga saat ini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak mempunyai kubah sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah.

Sampai sekarang tradisi adzan pitu masih dilaksanakan. Kalau dahulu adzan pitu itu dikumandangkan ketika sholat Subuh, saat ini adzan pitu dikumandangkan pada saat sholat Jumat, oleh tujuh orang dengan berpakaian serba putih.

***

Legenda adalah cerita dongeng rakyat, yang kebenaran sejarahnya masih harus diuji. Namun terlepas dari hal-hal tersebut, ada pesan moral dari Kanjêng Sunan Gunung Jati yang disampaikan kepada kita, sebagai generasi Islam penerusnya.

Bahwa masa lampau yang telah dirintis dan dibangun dengan penuh perjuangan bahkan tertumpahnya darah dan air mata, selalu penting bagi masa kini maupun masa depan.

Apa yang terjadi sekarang karena telah terjadi sesuatu pada masa-masa lampau. Karena itu kita manusia masa kini tidak akan dapat meninggalkan generasi dari masa lampau.

Alangkah kerdilnya jiwa ini apabila kita memperkecil arti generasi-generasi sebelumnya. Meskipun bukan berarti bahwa kita di masa kini akan selalu menggantungkan diri padanya.

Namun pengalaman-pengalaman adalah mahaguru yang sangat baik. Hasil-hasil yang pernah dicapai serta cara-cara untuk mencapainya. Juga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan adalah suatu cermin untuk mengenal cacat wajah sendiri.

***

Ada Tujuh Butir Ajaran Kanjêng Sunan Gunung Jati yang dijabarkan dalam bentuk petatah petitih sebagai sabda beliau, yang dipahami juga sebagai nasihat-nasihat semacam kata-kata mutiara, yang ditulis dengan bahasa Jawa gaya Cirebonan.

Tujuh Butir Ajaran Kanjêng Sunan Gunung Jati adalah:

1. Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin (Aku titip tajug dan fakir miskin).

2. Yèn sêmbahyang kungsi pucuké panah (jika sholat harus khusuk dan tawadhu seperti anak panah yang menancap kuat).

3. Yên puasa dèn kungsi têtaling gundéwa (jika puasa harus kuat seperti tali panah).

4. Ibadah kang têtêp (ibadah harus terus menerus).

5. Wêdia ing Allah (takutlah kepada Allah).

6. Manah dèn syukur ing Allah (hati harus bersyukur kepada Allah).

7. Kudu ngahékakên pêrtobat (banyak-banyaklah bertobat).

Petatah-petitih Kanjêng Sunan Gunung Jati itu begitu populer di tengah masyarakat sampai sekarang.

Dari ketujuh petatah-petitih Kanjêng Suan Gung Jati tersimpulkan pada kalimat yang sangat sederhana, pada petatah-petitih yang pertama tetapi mempunyai makna yang luhur adalah Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin.

[Tajugistilah ini dikenal di wilayah Jawa bagian Barat– selain fungsi utamanya sebagai tempat sholat berjamaah, rukun warga, juga sekaligus berfungsi lembaga pendidikan non formal keagamaan.

Tajug berukuran lebih kecil daripada masjid dan bersifat terbuka yakni siapapun boleh menggunakannya sebagai tempat beribadah.

Kepemilikan Tajug sering dinisbahkan pada guru, pengajar, pendidik, atau ustadz pengasuh yang biasanya menjadi pendiri tajug tersebut.

Namun demikian, dalam perjalanan umat Islam Indonesia, bangunan semacam tajug itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren.

Berawal dari tajug yang ustadznya menekuni pengajian khusus ajaran Islam yang pada perkembangan selanjutnya menjadi kerukunan pondok, masjid, madrasah dan komplek pesantren.]

Mengapa petatah-petitih Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin yang paling membumi?

Sabda tersebut dianggap merepresentasikan relasi antara pemikiran keagamaan dan permasalahan di ranah sosial.

Teks Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin menafsirkan pula maksud pentingnya menjaga keserasian dan keselarasan kesalehan spiritual (habluminallah) dan kesalehan sosial(habluminannas).

Bukankah tajug, tempat kita beribadah sholat merupakan simbol keimanan kita kepada yang Maha Kuasa, sedangkan fakir-miskin mengingatkan kita, agar kita menyayangi saudara-saudara kita yang tak punya, dan bukankah bila kita menyayangi mereka yang tak punya itu, maka Penghuni Langit akan menyayangi kita.

Petatah-petitih Kanjêng Sunan Gunung Jati memadukan unsur etik dan moralitas yang menjadi bagian penting dari sumber gagasan dalam memberi wårå-wårå atau peringatan terhadap sesuatu, dengan memberikan nasihat lewat bahasa simbolik.

Khusus tentang petatah-petitih Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin, lebih dalam bermakna adalah Iman dan Amal.

Sampurasun,
Rampès
.

punåkawan

Rujukan:

1. Al Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Sångå Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung 1999.

2. Amman N. Wahju, Waosan Babad Galuh: Dari Prabu Ciungwanara hingga Prabu Siliwangi (Naskah Kraton Kasepuhan Cirebon), Penerbit Pustaka. Jakarta 2009.

3. Atja, Purwaka Tjaruban Nagari –Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon, Ikatan Karyawan Museum, Jakarta 1972.

4. Ayatrohaedi, DR., Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” dari Cirebon. Pustaka Jaya. Jakarta 2005.

5. Kong Yuanzhi. Prof. Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: Prof. HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Jakarta Oktober 2000.

6. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage. 1903 (Terjemahan).

7. Poesponegoro Marwati Djoened, Nugroho Notosusanto Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta 2008.

8. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, 1830 (Terjemahan).

9. Rahimsyah. MB. Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Sångå. Amanah. Surabaya tanpa tahun.

10. Salam, Solichin, Sekitar Wali Sångå. Penerbit “Menara Kudus”, Kudus. 1960.

11. Slamet Muljana Prof.Dr. Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS, Yogyakarta 2008.

12. Sulendraningrat, P.S.Babad Tanah Sunda Babad CirebonPenerbit:?, 1984

13. Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa, Warisan Abadi Budaya Luhur Harasi, Yogyakarta 2005.

14. Winny Gunarti Putri Ong Tien Gramedia Pustaka Utama, Jakarta September 2010.

15. dan sumber rujukan lainnya, seperti tutur lisan masyarakat sekitar situs Gunung Sembung, Gunung Jati, Istana Kraton Kasepuhan, Istana Kraton Kanoman, Istana Kraton Kacireboan dan Istana Kraton Kaprabonan.

******

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: