Dongeng Punakawan

On 25/09/2013 at 13:42 punakawan said:

Nuwun

@ miss nona
Tarimo kasih “uni” miss nona yang urang awak. Ba a kaba?

(maaf hanya sedikit kosa kata Bahasa Minang yang saya kuasai).

Sejarah Minangkabau,

Berdasakan temuan-temuan arkeologis, Zaman Batu Tengah (Mesolithic) antara tahun 5000 sd 1000 SM, masuk penduduk dan kebudayaan dari daratan Asia ke pantai-pantai Sumatra.

Sejarahwan Prancis Madelani Colani mengemukakan bahwa pusat Mesolithic berada di pegununugan Bascon di wilayah Tonkin (ras Papua Melanosoid), percampuran ras ini dengan ras Austronesia, ras Austronesia membawa kebudayaan Neolithic.

Pada Zaman Mesolithic itu masuk ke pantai Sumatera ras Weda dan ras Negrito, kedua ras ini telah ada sebelun ras Melayu datang.

Inilah sisa-sisa yang tidak mau bercampur, mereka menjadi orang Kubu, Talang Mamak dan berkelana di hutan, yang dalam bahasa Minang disebut urang nan bajawikan raso, baatokan sikai, badindiang bamo kayu.

Prof. Drs Sukarno, seorang sejarahwan yang ahli purbakala, menyebutkan bahwa ras orang Minangkabau datang dari India Belakang pada saat kedatangan rombongan kedua dan orang Minangkabau tergolong ras Dentra Melayu (ras Melayu Muda).

Prof. Dr. Husain Naimar, guru besar antropologi Universitas Madras menerangkan bahwa kata Melayu berasal dari bahasa Tamil. Malai berarti gunung, Malaiur adalah suatu suku bangsa pegunungan dan sebutan malaiur fonetis menjadi Melayu.

Penduduk sebelah pesisir selatan pegunungan Dekkan adalah orang Malabar, orang Minangkabau menyebutnya Malabari.

Malayalam adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku bangsa Dravida yang mendiami pegunungan.

Di Minangkabau banyak terdapat kata-kata Tamil dan Sanskerta hal ini membuktikan adanya hubungan sejarah antara Minangkabau dan Malabar.

Di Malabar pun sistem masyarakatnya juga menurut garis keibuan dan pusako tinggi turun dari mamak ke kemanakan.

Penelitian para arkeolog ke Minangkabau, mendapatkan adanya hubungan antara Minangkabau dan Burma, Muangthai, Kamboja dan Vietnam.

Bukti adanya hubungan terlihat dari kata pagaruyung “paga” (suku matriakat seperti juga dijumpai pada suku Khazi, Malabar dan lainnya); “ru” artinya pusat; “yung” (danyun) artinya kerapatan, jadi Pagaruyung dapat diartikan pusat kerapatan suku yang menganut sistem keibuan.

Asal-usul Nama Minangkabau :

Di dalam hikayat raja-raja Pasai Minangkabau diartikan menang adu kerbau; hal ini mendapat bantahan dari Prof. Dr. Purbatjaraka, karena hanya bersifat legenda. Beliau mengatakan bahwa Minagkabau berasal dari minangtamwan artinya pertemuan dua muara sungai. Prof Van de Tuuk menerangkan bahwa Minangkabau nerasal dari kata-kata pinang dan khabu yang artinya tanah asal, sedangkan Prof Dr Husein Naimar menyatakan bahwa Minangkabau adalah perubahan fonetik dari menonkhabu bahasa Tamil yang artinya tanah pangkal.

***

Masih banyak lagi “Uni” Nona dongeng tentang Minangkabau, antara lain: Tuanku Imam Bonjol, Perang Padri, Tuanku Rao (Sang Panglima Perang dan tokoh Paderi), Perkembangan Islam di Minangkabau; atau pada zaman yang lebih lama lagi, yakni ketika urang awak memberikan bantuannya secara total kepada tentara Jawa pimpinan Senapati Singasari Rakryan Patih Kebo Arema (ingat Ki Arema dari Ngalam — Apa kabar Ki — ); yang lebih dikenal dengan sebutan Kebo Anabrang, pada Ekspedisi Pamalayu (1197 Ç / 1275 M).

Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera, untuk membendung hegemoni Kubilai Khan atas Asia umumnya dan Asia Tenggara khususnya dari Bhumi Malayu, dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Singasari yang dikenal dengan Cakrawala Mandala Nusantara oleh Sinuwun Prabu Kertanegara pada abad ke-13.
Istilah Pamalayu bermakna “perang melawan Malayu.”

Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi. Berbeda dengan raja-raja Singasari sebelumnya, Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa. Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke Melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 M, dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Anabrang alias Rakryan Patih Kebo Arema untuk menaklukan bhumi malayu.

Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama, pupuh 42 (2):

Samangkana tikang digantara padangabhaya marek i jong nareswara
Ikang sakahawat pahang sakahawat malayu pada manungkul adara

[Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda,
Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau]

Babad Tanah Jawi menerangkan:

Ing saantaraning taun 1275 lan 1293 wong Jåwå nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yåiku tanah kang bésuké aran Mênangkabau. Lurugan iku diarani Pamalayu.

***

Kok jadi teringat pada seseorang yang berasal dari suku Minangkabau, beliau adalah seorang guru bahkan seorang Mahaguru. Beliau adalah gurubesar, guru spiritual, yang dulu sewaktu beliau masih hidup, sering sekali belai memberikan petuah, nasehat dan mengingatkan pada saya tentang bagaimana cara hidup bermasyarakat dengan baik. Beliau adalah orang baik.

Ada beberapa buku tulisan beliau yang dihadiahkan kepada saya sebagai kenang-kenangan, salah satunya adalah Buku Perbendaharaan Lama.

Sebelum beliau memberikan buku itu kepada saya, beliau baca satu rangkaian kalimat yang dicetak dalam buku tersebut:

Dalam sejarah kita melihat betapa mereka itu, nenek moyang kita, telah menanamkan dasar-dasar bagi berdirinya pusaka suci yang kita perjuangkan sekarang.

Meninjau sejarah hendaklah dengan rasa cinta. Meninjau sejarah hendaklah kita seakan-akan merasai bahwa kita turut hidup dengan mereka. Sebab rasa hati kita sekarang, suka duka kita sekarang, adalah rasa hati dan suka duka yang mereka telah tinggalkan buat kita.

Saya mengharap moga-moga kisah perjuangan zaman lampau akan bertumbuh dalam jiwa saudara, seakan-akan mereka hidup di tengah-tengah saudara, atau saudara hidup di tengah-tengah mereka. Itulah modal kita menghadapi zaman kini dan zaman depan.

Beliau adalah Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka.

Saya, Punåkawan berdoa untuk beliau:

Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya. Masukkanlah ia ke dalam surgaMu dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka. Aamin

***

miss nona,

Insya Allah, dan jika diizinkan oleh yang sang penguasa tunggal padepokan ini yaitu Ki Panji Satriå Pamêdar alias P. Satpam alias Adimas Putut Risang, dan juga (ini mungkin yang lebih penting) tidak ada yang protes, punåkawan bersedia mendongengkannya untuk semua sanak kadang.

Wong nggak bayar dan nggak dibayar ini !!!

Sumånggå. Nuwun
(eh bahasa Minangnya apa ya????)

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: