Dongeng Punakawan

On 21/09/2013 at 16:54 punakawan said:

Nuwun,

Matur agunging panuwun dumatêng sanak kadang ingkang sinu darsånå ing budi, ingkang rênå ing pênggalih tumut nguri-nguri sacuil alit sejarah lêlampahan Nusantara ing gandhok puniki.

Sanak kadang,

Ada berita yang sangat memprihatinkan, bahkan sangat memilukan terutama bagi kalangan sejarahwan dan para arkeolog di tanah air, juga bagi kita semua.

Berita itu adalah:

Empat buah artefak koleksi Museum Nasional Jakarta hilang dicuri

Untuk diketahui oleh sanak kadang, keempat artefak tersebut hilang dari tempat penyimpanannya, yaitu:

1. Lempeng Naga Mendekam Berinskipsi, berbentuk naga bermahkota dalam posisi melingkar, dibuat berbahan emas, merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-X Masehi. Ditemukan di Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur.

2. Lempeng Bulan Sabit Beraksara, bentuknya seperti bulan sabit dan deretan segitiga seperti cakar, berbahan emas, ditemukan di Patirthan Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-X Masehi.

3. Cepuk (Wadah Bertutup), benda ini berbentuk seperti dandang tertutup tanpa pegangan dan tutupnya berbentuk bundar, berbahan emas, benda yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada akhir abad ke-X masehi. Ditemukan di Patirthan Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur.

4. Lempeng Harihara, artefak ini berbentuk lembaran melukiskan arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda. Lembaran mengandung mantra-mantra dewa dan hanya terdapat di Indonesia dan India, berbahan emas dan perak. Sampai saat ini belum diketahui dari peninggalan siapa benda tersebut. Ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur.

Keempat artefak tersebut terletak di dalam satu buah lemari kaca yang berada di Ruang Khasanah (ruang tempat menyimpan artefak yang terbuat dari emas dan perak, termasuk uang emas, dinar dan sejenisnya), di lantai dua gedung lama museum.

Foto-foto dan deskripsi benda-benda tersebut telah disebar ketempat-tempat umum seperti bandara dan pelabuhan, kita berharap dapat segera ditemukan. 38 orang saksi telah dimintai keterangan oleh petugas kepolisian.

Ada dugaan kuat orang-orang museum ikut berperan aktif dalam pencurian ini, mengingat adanya kejanggalan-kejanggalan, yaitu: CCTV beberapa bulan terakhir ini tidak berfungsi dengan baik, dan kunci etalase tempat artefak-artefak itu disimpan, dalam keadaaan tidak dirusak, karena bila sebuah barang diambil dengan paksa dari sebuah lemari, dapat dipastikan akan merusak kunci lemari tersebut.

Nampaknya kejadian semacam ini sudah pernah terjadi, dan penyelidikannya menguap begitu saja, dan tak ada kelanjutannya.

Sahabat-sahabat saya: para tukang gali tanah (olok-olok yang diberikan kepada para arkeolog, karena kegiatan arkeologi identik dengan kegiatan penggalian tanah), dan pegiat sejarah hanya dapat berpesan kepada Pak M. Nuh (Mendiknas RI), agar segera membenahi manajemen museum secara menyeluruh, terutama sekali teknis pengamanan benda-benda bersejarah; rotasi dan pemberian kesejahteraan yang memadai secara merata bagi para penjaga museum dan petugas satuan keamanan (satpam), karena merekalah ujung-tombak yang langsung memegang kunci pengaman lemari-lemari tempat artefak-artefak itu disimpan.

Tetapi ini bukan berarti sebagai tuduhan bahwa pelakunya adalah mereka.

Atau, ini sudah merupakan hal lumrah terjadi ????

Seperti yang sering kita baca di media tulis, atau juga yang sering kita lihat dan kita dengar dari televisi, nyaris (atau sudah semua) di jajaran pemerintahan, parlemen/DPR dan peradilan Indonesia sudah menjadi sarang maling, dan museum nasional adalah bagian kecil dari unsur pemerintahan (dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional), juga sudah ada malingnya.
Sungguh memilukan dan memalukan.

Artefak merupakan salah satu catatan perjalanan sejarah bangsa, jika artefak-artefak itu hilang atau dicuri, maka lambat laun akan hilang pula peta sejarah masa lalu bangsa ini, dan tidak ada lagi warisan sejarah untuk anak cucu kita di masa depan.

Kebesaran sejarah dan peninggalannya antara lain berupa artefak, juga peninggalan yang lain, merupakan aset yang tak ternilai harganya bagi suatu bangsa dan bila bukti-buktinya yang terekam di benda-benda bersejarah tersebut sampai hilang atau terhapus maka terhapus jugalah bagian sejarah bangsa dan hal itu dapat menghilangkan jati diri suatu bangsa.

Punåkawan yang tidak mempunyai kewenangan apapun akan hal ini, hanya bisa berdoa semoga artefak yang hilang dapat ditemukan dan dikembalikan ke tempatnya semula.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: