Dongeng Punakawan

On 16/09/2013 at 01:29 punakawan said:

Nuwun

Jakarta, ngancik wayah Titiyoni, Punåkawan sowan ngabyantårå, ngêndit rontal dongèng:

Lintang Kêmukus Dini Hari September 1965

September 1965. Empatpuluh delapan tahun silam, paro-tengah-akhir bulan September hingga akhir Oktober 1965 tahun itu. Pranåtåmångså-nya sudah masuk mångså karo, bantålå rêngkå, tanah-tanah yang retak dan mulai mengering, tanaman banyak yang puså, masuk akhir mångså katigå, sutå manut ing båpå, manggasri, saat lahan-lahan tidak memungkinkan untuk ditanami, karena sangat kering.

Kemarau yang menurut pranåtåmångså seharusnya sudah usai, tapi sepertinya tak akan pernah berakhir. Panas ngênthak-ngênthak.

Tak ada lagi genangan air. Kali-kali asat dan kêdung, sendang, belik dan beji telah lama mengering.

Sumber mata air tinggal lêndhut amparan lumpur. Lêmah-lêmah nêlå. Semua gundul ora biså tukul. Patêgalan, sawah, lêmah årå-årå åmbå, penuh alang-alang kering, garing mêkingking; gersang berwarna kelabu.

Segala jenis rumput, mati. Yang ada di sana-sini hanyalah krokot dan êri brodhot yang tumbuh hidup segan mati tak mau.

Ampak-ampak beterbangan dihembus angin yang juga kering. Udara begitu pengab dan gerah.

Sêmplah, mångså kapat (Sitrå). Waspå kumêmbêng jroning kalbu, [air mata menggenang dalam kalbu].

Dengan pertanda alam: sumber kathah ingkang mampêt, anginipun dipun sêbut påncåwarnå têgêsipun lampahipun molah-malih, kawontênan mêgå awon. .

Musim pancaroba. Banyak penyakit. Terjadi huru-hara.

G å r å – g å r å.

Kehidupan perekonomian yang semakin mencekik leher, harga-harga barang kebutuhan pokok sehari-hari semakin hari semakin melambung tinggi, rakyat sama sekali tak punya daya beli.

Banyak warga masyarakat makan bulgur, tapi lebih banyak lagi yang kelaparan dan bulgur menjadi pilihan yang tidak menyenangkan, daripada kelaparan.

Ketika itulah beredar kabar, bahwa di langit timur, saat dini hari menjelang terbitnya fajar-pagi ada lintang kêmukus.

Masyarakat Jawa, sangat yakin, kemunculan lintang kêmukus atau komet di tengah situasi ekonomi-sosial-politik yang demikian mencekam, sontak membuat banyak orang mengamini suatu konsepsi bahwa: lintang kêmukus adalah benda langit pertanda akan datangnya bencana.

Lintang kêmukus adalah pertanda dari langit, bahwa sebentar lagi akan ada gårå-gårå dan pagêblug yang mematikan.

Lintang kêmukus adalah Lintang gotong mayit. Orang-orang ketakutan.

Meski demikian, banyak orang bangun sekitar pukul 04.00 dini hari, lalu naik ke atas dataran atau atap rumah yang lebih tinggi, agar bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, benarkah ada lintang kêmukus di langit timur sana?

Kemunculan komet Ikeya-Seki — demikian nama yang diberikan, sebagai penghormatan dan mengenang jasa dua astronom amatir Jepang, Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki, yang telah ‘menemukan’ sebuah komet baru pada tanggal 18 September 1965, secara terpisah, dengan waktu penemuan hanya berselisih 15 menit, mereka berdua melakukan perhitungan bahwa benda langit itu melakukan muhibahnya mengelilingi alam jagad raya, yang setiap 600 hingga 700 tahun sekali akan mengunjungi bumi.–, dan “kunjungan” di penghujung atau menjelang akhir tahun 1965 hingga awal 1966 itu memiliki kesan tersendiri dalam sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia.

Orang-orang yang merasa memiliki pemikiran yang rasional dan logis, mengatakan bahwa terjadinya pemberontakan berdarah di akhir masa berkuasanya Orde Lama sebenarnya tak ada keterkaitan dengan kehadiran komet Ikeya-Seki itu, kesamaan waktu keduanya demikian mereka berkata hanyalah kebetulan semata, tetapi penduduk tidak mempercayainya.

Lha wong nyatané ånå ontran-ontran lan pagêblug. Akèh wong sing dibêlèh

[“Lha nyatanya ada huru-hara dan bencana, Banyak orang yang disembelih”]

Lintang kêmukus dini hari, dan Waspå kang kumêmbêng jroning kalbu, saat hati sêmplah. Air mata yang menggenang dalam kalbu, pada akhirnya jatuh dalam bentuk tangis kepedihan.

Tanggal 01 Oktober 1965 dini hari di Lubang Buaya Jakarta Timur, meletus peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan G 30 S / PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia).

Lubang Buaya adalah nama sebuah kelurahan yang terletak di Cipayung kawasan Pondok Gede Jakarta Timur.

Lubang Buaya menjadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer angkatan darat, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia.

Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya.

Setelah peristiwa Lubang Buaya, pasukan tentara tampak di mana-mana. Banyak warga masyarakat hilang atau dihilangkan. Istilah yang populer waktu itu adalah “diciduk” atau “diamankan”.

Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer.

Suasana yang mencekam itu masih dibaerengi dengan perekonomian negara yang semakin merosot tajam, terjun bebas, sanering rupiah pun dilakukan.

Tanggal 13 Desember 1965, Presiden RI menetapkan uang Rp. 1.000,00 (seribu rupiah — disebut uang lama –) dipotong nilainya sehingga hanya menjadi Rp. 1,00 (satu rupiah — uang baru –) saja.

Nilai tukar Rupiah – US dolar, di awal Januari 1965 sebesar Rp. 9.000,00 per US $ 1.00; merosot tajam menjadi sebesar Rp. 35.000,00 per US $ 1.00 di Desember 1965.

Kebijakan yang gagal memperbaiki keadaan perekonomian. Beban pemerintah, demikian juga beban rakyat semakin berat.

Perut yang semakin lapar, pikiran yang kalut, dan tidak hanya airmata yang tumpah, tetapi juga darah, dan hati yang semakin sêmplah.

“Perang Saudara”. Menyusul pembunuhan dan pembantaian masal terhadap para anggota PKI, dan simpatisannya (BTI, Lekra, Gerwani, CGMI, Pemuda Rakyat dll), dan ini tidak hanya dlakukan oleh tentara, tetapi massa yang marah, yang sekan-akan mendapatkan jalan untuk melampiaskan kemarahannya kepada kondisi yang carut-marut, dan darah tumpah di mana-mana.

Di sudut-sudut jalan bahkan di tengah alun-alun kota, di jalan-jalan raya ibukota kabupaten pun dengan mudah kita dapat temui jasad manusia yang sudah tidak utuh lagi.

Demikian juga sungai yang mengalir di tengah kota, dapat dilihat beberapa bagian dari jasad manusia timbul tenggelam dibawa arus air. Udara pengab bau anyir darah.

Pembantaian orang-orang “kiri”, orang-orang komunis, orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa pemberontakan 30 September. Di Akhir 1965 hingga menjelang akhir tahun 1966, suasana sangat mencekam.

Saat itulah, dinihari di penghujung September 1965 di langit Timur lintang kemukus Ikeya-Seki menampakkan dirinya.

Konon lintang kemukus yang sama pernah mengunjungi bumi di tahun 1279Ç atau tahun 1357M, 650 tahun yang lalu, ketika rakyat Majapahit dirundung kepedihan yang sama. Perekonomian negara yang nyaris hancur dan Perang Bubat.

Adakah ini suatu kebetulan belaka?
Sanak kadang percaya tentang hal ini?

Pararaton mengabarkan:

kadi sagara getih gunung wangke

(darah menggenang bagaikan lautan, bangkai-bangkai manusia menggunung).

Lintang kêmukus yang sama ini akan mengunjungi bumi kelak 600 – 700 tahun yang akan datang.

Dan Dongeng Pasunda Bubat belum berakhir.

Nuwun

punåkawan

Catatan yang tertinggal dari dongeng Lintang Kêmukus Dini Hari September 1965.

Bulgur adalah serealia dari berbagai spesies gandum. Namun yang paling banyak dari gandum durum (Triticum durum).

Kata bulgur berasal dari bahasa Turki, yang kemudian diadopsi oleh bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia.

Di Yunani, bulgur disebut pourgouri, di Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi burghul (bahasa Arab).

Bulgur itu “ampas” dari pengolahan biji gandum. Di Timur Tengah (Turki, Suriah, dan daerah sekitarnya) bulgur memang jadi menu utama sehari-hari. Masaknya persis cara kita ngliwêt nasi.

Bulgur masuk ke Indonesia sebagai bantuan AS (lewat USAid) untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia menjelang dan pasca dijatuhkannya Pemerintahan Bung Karno (1965, 1966).

Kenapa bulgur? Rupanya Marshall Green (Duta Besar AS untuk Indonesia, di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru); salah mengartikan dengan menyamakan nasi dengan bulgur.

Program ‘bulgurisasi’ ini gagal total karena lidah Indonesia menolaknya. Bentuk fisiknya yang menjijikkan kuning coklat kehitaman, mirip makanan kuda, dan di Amerika Serikat, bulgur dijadikan makanan kuda. dan memang sebagian rakyat Indonesia pada waktu itu lalu menggunakan bantuan itu untuk makanan ternak atau ditukar sama beras.

Rakyat rupanya lebih memilih nasi jagung daripada bulgur. “Makan Bulgur” kemudian menjadi ejekan buat kemiskinan yang keterlaluan sehingga untuk makan saja harus berebut sama ternak –

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: