Dongeng Punakawan

On 23/11/2013 at 22:10 punakawan said: |Sunting Ini

Nuwun,

Pujå-puji pangaståwå konjuk dumatêng Ngarså Dalêm Gusti Hang Måhå Purbå Waséså, Gusti Tan Kênå Kinåyå Ngåpå. Gusti Hang Ora Naté Saré.

Mugi linupútnå ing rêridhu.

Punåkawan sowan ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat
© punakawan 2013

Berturut-turut telah diwedar dongeng Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat.

1. Bagian Pertama: Tåpå Wudå Asinjang Rikmå.
2. Bagian Kedua: Tunggul Panantang Sang Haryå Jipang
3. Bagian Ketiga: Gagakrimang kudanirå Sang Haryå Jipang.
4. Bagian Keempat: Sang Ratu Kêramas Gêtihé Haryå

Kempatnya dapat dibaca di:
https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng%20punakawan/
demikian juga Dongeng-dongeng Punåkawan lainnya yang telah diwedar di gandhok ini.

Dongeng terakhir Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat, saya lanjutkan pada:

Bagian Kelima (penutup): Rainha de Japara, Senhora poderosa e Rica, de Kranige Dame

Jepara dalam Sejarah

Kota Jepara dikenal sebagai Kota Ukir, Kota Kartini, Kota Maritim. Dari berbagai macam dongeng tutur tinular yang diceritakan secara lisan, yang kebenaran sejarahnya belum teruji, Jepara atau Japara berasal dari kata Ujung Pårå. Suatu tempat yang terletak diujung sebuah daratan tempat nelayan pårå, mårå, mêmårå (membagi atau bagi dalam bahasa Jawa adalah pårå, mårå, mêmårå) tangkapan hasil lautnya. Ujung daratan tersebut menjadi tempat para pedagang dan nelayan mårå (datang dalam bahasa Jawa adalah mårå) dari berbagai daerah.

Dari kata ini muncul perkataan Ujung Mårå, Jumpårå, kemudian menjadi Jung Pårå, Jêpårå (Japårå), dan beberapa orang Jawa yang menggunakan bahasa Jåwå Kråmå Inggil sering menyebut Jepara menjadi Jêpantên. Sedangkan nama Jepara di dalam sebutan bahasa Belanda adalah Yapara, Japare.

Tome Pires, penulis buku Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ”Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina” yang berasal dari Portugis, menerangkan bahwa Japara baru dikenal pada abad ke-15 (1470 M) sebagai bandar kecil yang baru dihuni 90-100 orang yang dikuasai Arya Timur dan berada di bawah pemerintahan Demak.

Tome Pires adalah penulis dan bendahara Kerajaan Portugal yang pernah berkunjung ke Nusantara pada tahun-tahun 1512-1515. Naskah Suma Oriental ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Portugal: Emanuel, tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis.

Namun, jauh sebelum Pires datang berkunjung ke Nusantara, dan jauh sebelum masa kerajaan Jawa, diduga berada di ujung sebelah utara Pulau Jawa (yang kemudian dikenal dengan nama Japara) ada sekelompok penduduk yang diyakini berasal dari Yunan Selatan, yang pada waktu itu masih terpisah oleh Pulau Jawa, yang disebut selat Juwana. Tempat itu pada waktu itu hanya dihuni kurang lebih 100 orang yang menjadi bandar perdagangan atas jasa Arya Timur. Sebelum Dêmak Bintårå lahir, Jepara sudah ada mobilitas penghuninya.

Dalam catatan penjelajah Ie Tsing, dari Dinasti Tang (618-906 M), musafir ini mendarat di suatu tempat yang dikenal sebagai Holing pada tahun 674 M. (Holing adalah translaterisasi ke bahasa Cina dari Keling, Kaling atau Kalingga) disebut Ie Tsing sebagai negara yang dipimpin Ratu Hsi-mo (Ratu Shima) yang tersohor dengan ketegasannya.

Kerajaan Ho-ling yang diperkirakan terletak di utara Jawa bagian Tengah. Keterangan tentang kerajaan pada tahun 752, Sriwijaya menaklukkan Kerajaan Ho-ling dan menjadi wilayah taklukannya, yang selanjutnya Holing menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber kronik Cina, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian, yakni pada abad ke-16, menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Dua temuan berupa candi di desa Tempur, kecamatan Keling, Jepara yang dikenal sebagai Candi Angin dan Candi Bubrah menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan. Di kawasan inilah diduga ibukota kerajaan Kalingga berada.

Dua temuan lainnya adalah Prasasti Tukmas yang ditemukan di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabak, Magelang.

Prasasti ini bertuliskan huruf Palllawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih, darinya mengalir sungai yang disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti kendi, trisula, kapak, kelasangka, cakar, dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

Di desa Sojomerto, Reban, Kabupaten Batang ditemukan Prasasti Sojomerto. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Tokoh Dapunta Syaelendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsasailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Lama.

Berdasarkan dongeng rakyat, hingga tahun 1500an Japara dikuasai oleh Arya Timur — tidak diketahui dengan jelas keberadaan tokoh ini –. Kemudian sampai tahun 1507 Jepara dikuasai oleh Adipati Unus atau Pati Unus (1507-1521 M). Di tangan Pati Unus inilah, Japara menjadi kota bandar; pelabuhan niaga dan militer.

Pati Unus, Sang Pangeran Sabrang Lor atau dalam ejaan Cina disebut Yat Sun, dikenal dengan perlawanannya terhadap Portugis di Malaka, dan menjadi mata rantai perjuangan Faletehan (Fatahillah), iparnya, yang berkuasa (1521-1536 M).

Pati Unus yang mendengar bahwa Malaka telah jatuh ke tangan bangsa Portugis, maka disusunnyalah satu angkatan laut yang besar, terdiri dari berpuluh-puluh kapal layar, dan dibangunlah armada angkatan laut, yang tidak kurang dari dua laksa orang, setahun setelah Malaka jatuh, yaitu pada tahun 1512.

Sayang sekali pertempuran yang beliau lakukan dapat dipatahkan oleh musuh, sebab kedudukan Portugis sudah kuat di Malaka. Dua kali beliau mencoba, tetapi kedua kalinya gagal.

Namun begitu pengharapan akan pertolongan dari Jawa tetaplah tinggal dalam jiwa anak-anak Melayu, di Trengganu sehingga tinggallah dalam bibir mereka sebuah Pantun Melayu:

Jika roboh kota Malaka,
papan di Jawa kita tegakkan.
Jika sungguh bagai dikata,
badan dan nyawa saya serahkan

Pantun ini, sejak para kesatria Jawa yang tergabung dalam Armada Angkatan Laut Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Adipati Unus berusaha membebaskan Tanah Melayu dari cengkeraman kolonial Portugis, telah beratus tahun menjadi hiasan dan buah-bibir orang-orang Malaka di Tanah Melayu, walaupun di Nusantara waktu itu dikuasai Belanda dan di beberapa tempat di dataran Bumi Melayu dikuasai Portugis, Belanda dan kemudian Inggris.

Tampak sangat bersahaja untaian bait-bait pantun tersebut, namun pantun ini ingin menunjukkan bahwa ada kerinduan puak Melayu akan kehadiran dan pertolongan saudara-sahdara mereka dari Tanah Jawa, yang seia-sekata bahu-membahu mengobarkan semangat anti penjajah.

Ini telah ditunjukkan oleh para kesatria Jawa (yang diwakili oleh Pati Unus dan pasukan tentara Jawa dari Japara Demak), yang datang untuk membantu saudaranya yang dijajah oleh bangsa Portugis di Tanah Melayu (sekarang Malaysia).

Mereka tidak menghendaki adanya kekuasaan asing bercokol di Tanah Melaka.
Ini adalah fakta sejarah.
Bagaimana Tanah Melayu (Malaysia) kini ?

Namun selanjutnya, nasib Demak tidaklah begitu baik setelah mangkatnya Pangeran Sabrang Lor. Saudara ayahnya, Pangeran Terenggano (demikian puak Melayu menyebutnya, yang tidak lain adalah Sultan Trênggånå), ditahbiskan menjadi Sultan Dêmak Bintårå setelah Patih Unus mangkat. Sebab Patih Unus sendiri tidak mempunyai putera.

Salah seorang menantu Sultan Trênggånå, Djoko Tingkir merebut kekuasaan dari mertuanya dan memindahkan kebesaran Demak ke Pajang.

Dan kelak keturunan Ki Gede Pamanahan yang bergelar Ki Ageng Mataram, Danang Sutåwijåyå merebut lambang-lambang kebesaran Kesultanan Pajang dan memindahkannya pula ke Mataram.

Setelah Pati Unus meninggal, dan sejak Fatahillah meninggal, kekuasan berada di tangan putranya, Sultan Trênggånå pada tahun 1536 M. Mulai saat itu, Japara diserahkan pada Sultan Hadirin (menantunya) dan Ratu Rêtnå Kêncånå.

Kemelut yang menyeret Istana Jepara terjadi ketika Sultan Trênggånå tewas dalam ekspedisi militer di Panarukan (kronika sejarah lain menyebutnya di Pasuruan), Jawa Timur, pada tahun 1546 M; timbullah geger perebutan tahta Kesultanan Demak. para pangeran (anak-anak Sultan Trênggånå) saling berebut kekuasaan Demak dan memakan korban dengan tewasnya Pangeran Prawåtå dan Pangeran Hadirin oleh Aryå Pênangsang pada tahun 1549 M.

Setelah berakhirnya kemelut ini tampillah Ratu Kalinyamat penguasa di Jepara dan Pangeran Hadiwijåyå di Pajang pada tahun 1549. Adapun identitas kedua tokoh ini yaitu Ratu Kalinyamat adalah puteri kandung dari Sultan Trênggånå sedangkan Pangeran Hadiwijåyå adalah putera menantu Sultan Trênggånå.

Ketika Sultan Trênggånå memberikan kuasa Sultan Hadirin dan Ratu Rêtnå Kêncånå untuk memerintah kerajaan di Kriyan, Japara berkembang menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa; sebuah pelabuhan ekspor dan impor.

Kalinyamat adalah ibu kota Japara waktu itu. Letaknya ada di desa Kriyan. Di desa inilah Istana Kerajaan Japara berdiri. Ratna Kencana yang muncul sebagai penguasa tunggal Japara akhirnya dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.

Di desa ini, Kalinyamat, Ratu Ratna Kencana membudayakan seni ukir hasil perpaduan ukiran Majapahit dengan seni Patih Badar Duwung yang berasal dari China.

Kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten.

Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya juga karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan.

Sebagai maharani yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa.

Hanya tiga tahun di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, kekuatan armada Jepara telah pulih kembali. Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara.

Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang Portugis maupun suku Hative di Maluku.

Pemerintahan Ratu Kalinyamat lebih mengutamakan strategi pengembangan Jepara untuk memperkuat sektor perdagangan dan angkatan laut.

Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik kalau dilaksanakan melalui kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

Ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan mancanegara agar kedudukan Jepara sebagai pusat kekuasaan politik dan pusat perdagangan bisa kokoh.

Sri Ratu Kalinyamat melawan penjajah Portugis

Meski dipaksa menjanda sejak suaminya dibunuh Aryå Pênangsang, dengan tangannya sendiri Ratu Rêtnå Kêncånå membuat Japara menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang dirintis sejak masa Kerajaan Demak.

Sang Ratu Rêtnå Kêncånå Kalinyamat yang Penguasa Japara, sebagaimana leluhurnya, dikenal dengan semangat anti-kolonialisme, dan terbukti dengan ekspedisi militer yang dipimpinnya menggempur Portugis pada tahun 1551 M dan 1574 M di Perairan Laut Jawa dan di Malaka.

Adalah cincin berwarna Merah-Putih yang Sang Rêtnå Kêncånå terima secara turun-temurun. Cincin peninggalan Maharani Majapahit Tribuwana Tungga Dewi, ibunda Sang Maha Prabu Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara.

Cincin itu telah berpindah-pindah tangan, Ratu Kalinyamat adalah salah satu penerima cincin itu, yang ia turun-temurunkan kepada generasi berikutnya. Ini mungkin sebagai isyarat, ketika cincin itu berada di tangan Kanjêng Sinuwun Sultan Agung Adi Prabu Hanyåkråkusumå.

Cincin permata berwarna merah putih itulah yang menjadi saksi, perlambang dan penghubung antara Majapahit dan Mataram sebagai kelanjutan.

Penegak tetap berkibarnya Sang Såkå Gulå Kêlåpå, Sang Saka Gula Kêlapa disebut juga Sang Såkå Gêtih-Gêtah, dan kini lebih dikenal dengan sebutan Sang Saka Merah Putih.

Kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat melakukan penyerbuan melawan orang-orang kulit putih bangsa Portugis di perairan Laut Jawa, dengan armada lautnya yang sangat tangguh, yang pada puncak tertinggi tiang kapal-kapal perang Nyi Ratu Kalinyamat, berkibar dengan megahnya bendera Sang Såkå Gulå Kêlåpå, Sang Saka Merah Putih.

Bendera dengan warna yang sama digunakan oleh pula oleh kapal-kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Singasari, dalam ekspedisi Pamalayu di bawah pimpinan Mahesa Anabrang atau Kebo Anabrang, yang dalam cacatan dan ingatan orang Jawa dikenal sebagai Mahesa Arema, guna membendung pengaruh dan kekuatan Negara Tiongkok dengan pemimpinnya Kubilai Khan, yang hendak menguasai Nusantara.

Penyerbuan ini sebagai salah satu upaya Sang Prabu Kertanegara dalam mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Singasari dalam mewujudkan cita-cita Cakrawala Mandala Nusantara pada abad ke-13.

Bendera dengan warna yang sama pula yang dikibarkan di puncak tiang kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit oleh Senapati Sarwayala (Laksamana Laut) Nala, salah satu perwira Angkatan Laut Kerajaan Majapahit dalam mewujudkan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada, guna mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit.

Bukti tersohornya Ratu Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16 antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis dari Malaka.

Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu Kalinyamat mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis yang saat itu sedang lengah dan menderita berbagai macam kekurangan.

Ratu Kalinyamat memenuhi ajakan itu. Pada tahun 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara. Armada itu membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang bergelar Sang AdIpati.

Sri Bupati Jêpårå Ratu Rêtnå Kêncånå, Sri Ratu Kalinyamat, yang juga Laksamana Laut Panglima Gabungan Angkatan Laut Tiga Kesultanan: Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, bahu-membahu dengan pasukan Persekutuan Tanah Melayu, berperang melawan armada Portugis di Semenanjung Melaka. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka.

Serangan Sang Ratu Kalinyamat yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.

Serangan Portugis ternyata begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri. Sementara itu, pasukan Jepara tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah seorang panglimanya gugur.

Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan di laut, 2000 prajurit Jepara gugur. Hampir seluruh perbekalan dan persenjataan berupa arteleri dan mesiu jatuh ke tangan musuh.

Walau pun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksan kembali ke Jawa. Nasib malang tampaknya menimpa armada Jepara, karena tiba-tiba badai datang, 20 kapal penuh muatan terdampar di pantai dan menjadi jarahan orang Portugis.
Dari seluruh armada Jepara, hanya kurang dari separo yang bernasib baik dan selamat kembali ke Jepara.

Walau pun pernah mengalami kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh wanita ini.

Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menyerang Malaka.

Ketika armada Aceh telah mulai menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis.

Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan.

Semangat patriotisme sang ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad ke-16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di dunia.

Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, Sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar ke Malaka.

Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 kapal diantaranya 80 kapal jung besar berawak 1500 orang prajurit pilihan. yang dilengkapi dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

Pengiriman armada militer kedua ini dipimpin oleh panglima tertinggi dalam kerajaan Sang Ratu Kalinyamat, yaitu Kyai Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama Quilidamao. Nama itu pada jaman sekarang setingkat Laksamana Laut.

Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari penjajahan Portugis di abad 16 itu.

Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka kompleks kuburan yang disebut sebagai Makam Tentara Jawa.

Maka tak heran jika Portugis sendiri menyebutnya Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica, de Kranige Dame, “Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

Selain daripada itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan seni ukir yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari negeri Cina.

Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur, maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan candra sengkala “trus karya tataning bumi” terus bekerja membangun daerah.

Menurut catatan sejarah, Sri Ratu Kalinyamat Rêtnå Kêncånå, meninggal tahun 1579 M., setelah menguasai Japara 30 tahun lamanya. Pusaranya di desa Mantingan, berdampingan dengan makam suaminya, Sultan Hadirin.

Rujukan:

1. ________, Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1989.

2. ________. Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925). Reprint.

3. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007.

4. _________. Sejarah dan Hari Jadi Jepara. Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara Pemda Kabupaten Tingkat II Jepara. 1988.

5. Agus Sunyoto, Atlas Walisongo. IIMaN, Trans Pustaka, LTN PBNU Jakarta, 2012.

6. Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, Volume 1-2, translated from Portuguese, The Hakluyt Society. London, 1944. Reprint.

7. Armando Cortesao. Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco Rodriguez. Asian Publishing House. New Delhi. 2005.

8. Armando Cortesao. The Suma Oriental of Tome Pires. Nendeln/Lichtenstein: Kraus Reprint-Limited, 1967.

9. Atja, Drs, Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang. Bandung. 1968.

10. Bandung Mawardi, Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.

11. Boedenani H., Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976.

12. Budya Pradipta Nagara, KRT. Dr., Sumpah Palapa Cikal Bakal Gagasan NKRI Makalah pada “Seminar Naskah Kuno Nusantara dengan tema Naskah Kuno sebagai perekat NKRI”, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta Pusat 2004.

13. de Graaf, H.J. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan: Soemarsaid Moertono. Grafitipers dan KITLV. Jakarta 1985.

14. de Graaf, H.J. dan Pigeaud, T.H. De eerste Moslimse Vorstendommen op Java “Islamic states in Java 1500-1700″ The Hague: Martinus Nijhoff. Leiden 1981.

15. de Graaf, H.J. dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Tinjauan Sejarah Abad XV dan XVI. (Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 1985.

16. de Graaf, H.J. dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 2001.

17. de Graaf. H.J. Awal Kebangkitan Mataram, Pustaka Grafiti Pers, Jakarta 1987.

18. de Graaf. H.J. Puncak Kekuasaan Mataram, Pustaka Grafiti Pers, Jakarta 1990.

19. Gina dan Babariyanto. Babad Demak II. Transliterasi Terjemahan Bebas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1981.

20. Groeneveldt, W.P., Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, reprint, Bhratara. Djakarta 1960.

21. Hamka, Prof. Dr. Perbendaharaan Lama, Pustaka Panji Mas. Jakarta 1982.

22. Hamka. Prof. Dr. Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional Pte Ltd,. Singapore 2005.

23. Hayati dkk. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI; Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta 2000.

24. Hoesein Djajadiningrat. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Terjemahan KITLV dan LIPI. Djambatan. Jakarta 1983.

25. Ma Huan Ying-Yai Sheng-Lan (1433): The Overall Survey of the Ocean’s Shores. (Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan). Diterjemahkan dari teks China, diedit oleh Feng Chéng-Chun dengan catatan dan introduksi oleh J.V.G Mills. Publikasi Cambridge University Press. Cambridge 1970.

26. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books. London 2007.

27. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta 2008.

28. Marwati, dkk. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Jakarta 1993.

29. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage 1903. Reprint.

30. Muhammad Yamin. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Siguntang. Jakarta 1954.

31. Muhammad Yamin. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Balai Pustaka. Jakarta 1977.

32. Pigeud, Theodore Gautier Thomas. Java in the 14th Century A Study in Cultural History I Javanese Texts in Transcription, The Hague. M. Nijhoff 1960.

33. Purwadi. Sejarah Raja-Raja Jawa Media Ilmu. Yogyakarta 2007.

34. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, 1830 (Terjemahan). Reprint. tanpa tahun.

35. Slamet Muljana, Prof. Dr. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. LkiS Yogyakarta 2008.

36. Slamet Muljana, Prof. Dr., Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LkiS. Yogyakarta 2005.

37. Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP Semarang. 1995.

38. Tandhanagara, K.R.T, Darmogandhul, Caritå Adêgé Nagårå Islam Ing Dêmak Bêdhahé Nagårå Måjåpahit. Sadu Budi Sala. Surakarta 1959.

tancêp kayon

Menyusul Dongeng Arkeologi dan Antropologi lainnya, dongeng runtuh dan berakhirnya kerajaan besar Nusantara Majapahit, bangkit dan runtuhnya Kesultanan Demak, kemudian menyusul Kesultanan Pajang, awal kebangkitan Mataram Danang Sutåwijåyå, yang belum rampung diwedar, dongeng sejarah yang menjadi latar belakang anggitan Ki Dalang SH Mintardja dalam AdBMnya.

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: