Dongeng Punakawan

On 21/10/2013 at 06:24 punakawan said: |Sunting Ini

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat
Bagian Keempat:
Sang Ratu Kêramas Gêtihé Haryå Pênangsang & Analisis Sejarahnya
© punakawan 2013

Di tengah kesibukan Haryå Pênangsang mengendalikan keliaran Kyai Gagak Rimang, mendadak anak kecil yang menunggang kuda di depannya, memutar haluan kudanya. Berderap suaranya mendekat. Mata Haryå Pênangsang awas. Namun keliaran Kyai Gagak Rimang semakin menjadi-jadi. Haryå Pênangsang panik. Dan benar.

Tombak di tangan kanan sang anak mengarah telak kearah lambungnya. Dan. Haryå Pênangsang yang sibuk mengendalikan Gagak Rimang yang tengah melonjak-lonjak, tidak mampu menghindari tikaman tersebut.

Tombak Kyai Plèrèd yang tajam langsung menembus lambungnya seketika itu juga. Darah menyemburat. Haryå Pênangsang menjerit kesakitan. Dan yang mengerikan, begitu mata tombak ditarik, sebagian ususnya ikut terburai keluar.

Kuda putih berlalu dengan derapan kemenangan. Haryå Pênangsang meringis kesakitan. Diraihnya sebagian ususnya yang keluar dan langsung dikalungkan ke warångkå keris Kyai Brongot Sêtan Kobèr yang terselip di pinggang kirinya.

Begitu ususnya tidak menjuntai dan terikat di warångkå keris, Haryå Pênangsang segera memutar tali kekang Kyai Gagak Rimang.

Kuda hitam itu mendengus-dengus dan berderap semangat mengejar kuda betina. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, Haryå Pênangsang meraih tubuh kecil sang penunggang kuda putih dan membantingnya ketanah. Jerit kesakitan terdengar.

Haryå Pênangsang segera turun dari punggung kuda. Sosok kecil yang tengah terjatuh di atas tanah berusaha bangkit dan hendak melarikan diri, namun terlambat.

Leher kecilnya terpegang dan kembali terbanting ketanah. Begitu tubuh kecil itu telentang tak berdaya, kaki kekar Haryå Pênangsang langsung menginjak dadanya. Suara kesakitan nyaring terdengar. Haryå Pênangsang beringas. Diraihnya gagang keris Kyai Brongot Sêtan Kobèr.

Tunggu…..

Mendadak terdengar bunyi nyaring. Mata Haryå Pênangsang mencari asal suara. Terlihat empat orang berkuda keluar dari balik gerombol pepohonan mendekat kearahnya. Dua di antara empat orang yang datang adalah Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan.

Belum selesai kemunculan empat orang tersebut, disusul suara riuh rendah derap kuda dari seberang sungai terdengar. Mata Ki Juru Martani awas. Pasukan Jipang Panolan ternyata sudah tiba. Cepat dia memberikan isyarat. Dua orang yang ikut dengannya segera mengeluarkan bendera merah. Begitu melihat bendera merah terkibar. Bunyi gemuruh pasukan Pajang membahana. Serempak keluar dari persembunyian masing-masing. Perang besar akan segera terjadi.

Mata Haryå Pênangsang memerah. Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan menatapnya lekat-lekat. Dan mata Ki Juru Martani serta Ki Agêng Pêmanahan juga melirik usus Haryå Pênangsang yang terburai dan tersampir di warångkå keris.

Pênangsang.” teriak Ki Juru Martani, ”Anak kecil itu putra Adipati Pajang. Bunuh saja jika kamu berani.

Haryå Pênangsang kalap. Dia melihat anak kecil yang masih diinjak dengan kaki kanannya. Anak kecil yang tak lain adalah Danang Sutåwijåyå. Dengan diiringi geraman kemarahan yang tak tertahankan, dicabutnya Kyai Brongot Sêtan Kobèr dengan kasar, Kemarahan membuat Haryå Pênangsang lupa, sebagian ususnya yang keluar tersampir di sana.

Begitu keris Kyai Brongot Sêtan Kobèr tercabut, Haryå Pênangsang seketika menjerit keras. Ususnya ikut tercerabut seketika itu juga. Dengan tangan kanan yang terangkat keatas, gerakan Haryå Pênangsang terhenti. Tubuhnya tergetar hebat. Hanya sesaat. Sejurus kemudian, tubuhnya tumbang ke tanah dan tewas seketika itu juga. Tubuh Adipati Jipang Panolan itu dicabik-cabik dan serpihan tubuhnya dikubur terpencar-pencar di berbagai pelosok.

Cepat Ki Agêng Pêmanahan menarik tubuh Danang Sutåwijåyå yang ngeri ketakutan. Dan langsung membawanya menjauhi arena.

Di lain tempat, peperangan telah terjadi. Pekik kemarahan berselang sering dengan jerit kesakitan. Tubuh-tubuh dari kedua prajurit bertumbangan ketanah. Darah tertumpah. Membuat aliran sungai menjadi berubah warna menjadi merah. Senjata tajam berkelabatan tertimpa sinar matahari sore. Berdenting mengincar nyawa lawan. Nampak Patih Matahun mengamuk di barisan depan.

Ki Juru Martani segera memerintahkan seorang kepala prajurit Pajang berteriak mengabarkan kematian Haryå Pênangsang. Yang diutus segera menjalankan tugas. Sebentar saja, teriakan serupa disambut teriakan yang lain dari kepala pasukan Pajang.

Berita kematian Haryå Pênangsang membuat nyali pasukan Jipang menciut. Di tengah-tengah pertempuran dahsyat tersebut, dari sudut kesudut, terdengar suara bersahut-sahutan dari pasukan Pajang: “Haryå Pênangsang wis matiiiiiiiiiii..

Dampaknya luar biasa, sebentar saja, pasukan Jipang terdesak hebat. Satu persatu, tubuh pasukan Jipang jatuh ketanah dengan luka menganga mengeluarkan darah segar. Pasukan Pajang terus merangsak maju. “Majuuuuuuuuuuu……. Åjå mundur

Terdengar teriakan Patih Matahun, disusul oleh kepala pasukan Jipang yang lain. Namun percuma. Nyali pasukan Jipang sudah kehilangan semangat. Bahkan, di beberapa tempat pertempuran, pasukan Jipang sudah kocar-kacir. Jika diteruskan, seluruh pasukan Jipang akan terbabat habis tak tersisa. Pasukan Pajang mengamuk bagai banteng ketaton.

Namun, Patih Matahun tak berniat mundur. Ki Agêng Pêmanahan segera memacu kuda mendekati kedudukan Patih Matahun. Melihat kehadiran Ki Agêng Pêmanahan, Patih Matahun langsung menyerang. Pertempuran kedua priyayi dari Pajang dan Jipang ini terjadi. Namun bagaimanapun juga, semangat Patih tua ini juga sudah banyak luruh. Sebentar saja, dia sudah terlihat terdesak hebat. Dan pada akhirnya, sebuah tusukan telak mengarah dadanya. Patih Matahun meringis kesakitan dan tumbang ketanah.

Babad Tanah Jawi melantunkan tembang Durma (30) : 54 bertutur:

tan antårå
Tumênggung Mataun praptå | sêdyå bélå ing gusti | angamuk paprangan | tinadhahan ngakathah | tumênggung wus angêmasi | murdå tinigas | satêngahing ngadjurit ||

Melihat Patih Matahunpun telah tewas, beberapa kepala pasukan Jipang panik. Pasukan Pajang terus membabat habis lawannya tanpa ampun lagi. Mayat-mayat bergelimpangan semakin banyak. Aliran sungai telah berwarna merah dan berbau anyir.

Dan menjelang malam tiba, pasukan Jipang kocar-kacir. Pasukan Pajang terus bergerak menuju ibukota. Penduduk ibukota Jipang panik. Pasukan Pajang merangsak masuk istana Jipang. Jerit ketakutan terdengar di sana-sini. Bangunan istana segera menjadi sasaran perusakan pasukan Pajang tanpa ampun. Beberapa sudut istana dibakar. Perlawanan dari sisa-sisa pasukan Jipang tidak berarti sama sekali. Sebentar saja, menjelang dini hari, istana Jipang Panolan telah dikuasai pasukan Pajang.

Gamelan ditabuh menandakan kemenangan pasukan Pajang. Keesokan harinya, kabar kemenangan itu diteruskan ke Pajang. Beberapa prajurit diutus memberikan laporan kepada Adipati Hadiwijåyå. Seluruh bangsawan Pajang menyambut kemenangan itu dengan suka cita.

Tak menunda waktu lama, diutuslah beberapa prajurit ke Jepara untuk mengabarkan hal serupa kepada Ratu Kalinyamat. Ritual tåpå wudå Ratu Kalinyamat tersebut berakhir setelah Sultan Pajang menghadap Nyi Ratu Kalinyamat sambil membawa penggalan kepala Haryå Pênangsang dan semangkok darahnya.

Kepala Haryå Pênangsang itu benar-benar digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas. Setelah puas, kepala Haryå Pênangsang dibuang ke sebuah kolam yang terdapat di Desa Mantingan.

Ratu Kalinyamat bergembira dan bersedia menyudahi tåpå wudånya. Kemudian dia ikut rombongan pasukan Pajang menuju ibukota Pajang. Kemenangan orang Sélå tersiar kemana-mana. Tewasnya Haryå Pênangsang membuat gempar seluruh bangsawan Jawa. Tak terkecuali Sunan Kudus.

yèn Haryå Pênangsang sampun pêjah, amargi pêrang kalihan piyambakipun sartå Panjawi. Ratu Kalinyamat sarêng mirêng sakalangkung bingah manahipun, énggal angagêm sinjang, demikian Sêrat Babad Tanah Jawi in proza Meinsma (106) mengabarkan.

Kisah kematian Haryå Pênangsang melahirkan tradisi baru dalam seni pakaian Jawa, khususnya busana pengantin pria. Pangkal keris yang dipakai pengantin pria seringkali dihiasi untaian bunga mawar dan melati. Ini merupakan lambang pengingat supaya pengantin pria tidak berwatak pemarah dan ingin menang sendiri sebagaimana watak Haryå Pênangsang.

Kini, tidak ada lagi penguasa Jawa yang kuat selain Adipati Hadiwijåyå di Pajang. Beberapa minggu kemudian, upacara besar dilaksanakan. Disaksikan oleh para pembesar Dêmak Bintårå, Ratu Kalinyamat menyerahkan tahta Dêmak Bintårå kepada adik iparnya, Adipati Hadiwijåyå. Keputusan ini banyak didukung oleh berbagai pihak. Namun sesuai janji semula, Pajang harus berbentuk Kesultanan, bukan Kerajaan. Oleh karenanya, Adipati Hadiwijåyå dikukuhkan sebagai seorang Sultan.

Putra Ki Agêng Pêngging, kini telah resmi memegang tampuk pemerintahan Jawa. Ramalan Sunan Kalijågå, terbukti sudah. Kini, Mas Karèbèt, bocah angon dari Tingkir, si Djåkå Tingkir telah menjadi seorang penguasa, penguasa Tanah Jawa yang berpusat di Pajang, dengan gelar Kanjêng Sultan Hadiwijåyå. Kejadian ini bertepatan dengan tahun 1546 Masehi.

Sêrat Babad Tanah Jawi versi prosa (Gubahanipun L. van Rijkevorsel Directeur Normaalschool Muntilan menulis pada:
“Bagian” 09 Pérangan Kang Kaping Pindho — Bab 1 — Karajan Dêmak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582 Wiwitané ing Tanah Jåwå ånå agåmå Islam ing antarané tahun 1400 – 1425, sebagai berikut:

Haryå Pênangsang barêng dipapagaké pêrang, kalah nêmahi pati. Hadiwijåyå banjur nguwasani Tanah Jåwå: amboyong pusåkå kraton Dêmak Bintårå mênyang Pajang lan nuli dijumênêngaké Sultan déning Sunan Giri. Nalikå Hadiwijåyå jumênêng ratu ånå ing Pajang, Blambangan lan Panarukan kabawah ratu agåmå Syiwah ing Blambangan, kang ugå mbawahaké Bali lan Sumbawa (tahun 1575). Jajahan jajahan ing Pajang kapréntah ing pangéran adipati yaiku: Suråbåyå, Tuban, Pati, Dêmak, Pêmalang (Têgal), Purbåyå (Madiyun), Blitar (Kadhiri), Sêlarong (Banyumas), Krapyak (Kêdhu sisih kidul kulon, sakuloné Bêngawan Sålå).

***

Analisis sejarah:

Ratu Kalinyamat Tåpå Wudå Asinjang Rikmå

Hingga kini, makam Ratu Kalinyamat nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan “ngalap berkah” berharap mendapat karomah.

Banyak di antara peziarah yang memohon karomah agar parasnya menjadi cantik dan menawan juga sensual (bagi kaum hawa), atau gagah ganteng berkharisma bagi peziarah kaum adam di makam Pangeran Hadiri.

Benarkah Sang Ratu yang cantik jelita itu melakukan tåpå wudå asinjang rikmå?

Generasi masa kini tentu tidak tahu dengan pasti kejadian yang sebenarnya, namun berbekal pada sumber-sumber sejarah yang ada, bisa saja telah terjadi penyelewengan sejarah.

Belum lagi bila berhadapan dengan sumber sejarah yang dalam perbendaharaan sejarah dikenal dengan istilah historiografi tradisi, yaitu historiografi ketika fakta sejarah bercampur dengan mitos-mitos, tetapi hal ini tidak serta merta membuat historiografi tradisi diragukan kebenarannya, dan kewajiban seorang sejarahwan hanya menyajikannya.

Ratu Kalinyamat merupakan figur perempuan yang melegenda di derah Jepara. Melegenda karena disamping dikenal sebagai sosok perempuan yang berparas cantik dan menawan juga memiliki semangat patriotisme yang tinggi dalam memimpin kekuasaan di Jepara.

Dalam sejarahnya, Ratu Kalinyamat pernah melakukan bertapa dengan melepas busana (tåpå wudå asinjang rikmå ).

Perilaku Ratu Kalinyamat ini selanjutnya berimbas pada pemaknaan masyarakat Jepara.

Pertama, Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai sosok yang memberikan kesan dan dampak negatif yang oleh masyarakat Jepara sekedar ditempatkan sebagai simbol kecantikan, seksualitas dan birahi, sehingga bentuk-bentuk tindakan eksploitasi kecantikan dan seksual di Jepara selalu “melibatkan” dan disandarkan pada Ratu Kalinyamat.

Pemahaman yang keliru tentang dongeng mitos bertapanya Ratu Kalinyamat tersebut telah menimbulkan perbuatan yang menyimpang yang dilakukan oleh para wanita-wanita tertentu, untuk “ngalap bêrkah” di petilasan Sang Ratu Kalinyamat,

Mereka, para wanita tersebut meyakini, bila mandi di tempat petilasan Sang Ratu itu dan setelah keluar dari tempat itu, akan menjadikan dirinya semakin cantik, seorang istri kembali menjadi ‘perawan’ yang lebih disayang suami, bahkan ada yang berpendapat bahwa jika seorang wanita (yang umumnya berprofesi sebagai pekerja seks), sekeluarnya dari tempat itu maka dia akan laris manis dan banyak mendapatkan pelanggan.

***

Kedua, pemaknaan positif. Pada pemaknaan ini, masyarakat Jepara tetap menganggap Ratu Kalinyamat sebagai sosok pahlawan yang dihormati.

Bertapa telanjang, oleh kelompok ini diartikan sebagai usaha melepaskan nafsu dari dalam jiwa.

Banyak ungkapan-ungkapan dalam Bahasa Jawa yang mungkin sudah tidak dimengerti lagi bahkan oleh wong Jåwå sekalipun, yang menggambarkan sesuatu hal.

Salah satu contoh, ada ungkapan: “aji godhong aking” (Aji: berharga; godhong: daun; aking: garing, kering). Daun kering diposisikan sebagai benda yang tidak bermanfaat, hanya membuat kotor, atau terbuang, tidak ada yang memperhatikan.

Ungkapan ini menggambarkan manusia yang samasekali tidak berguna, yang masih lebih bermanfaat daun yang kering, masih kalah berharga dibanding daun jati kering. Daun jati kering masih dicari orang. Minimal bisa jadi bungkus tempe atau sayuran di pasar-pasar tradisional.
Masih banyak contoh-contoh lainnya.

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan keadaan seseorang yang amat sangat kaya, apalagi sangat berkuasa, yang menempatkan dirinya atau berperilaku “menyamar” sebagai wong mlarat, berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat kebendaan atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik yang bersifat spiritual dan kebahagiaan hakiki, maka orang tersebut dikatakan sedang lêlaku tåpå wudå, sedangkan yang melekat pada tubuhnya bagaikan asinjang rikmå saja.

Kalau dalam bahasa asing (Bahasa Arab), yang kemudian diadopsi menjadi bahasa Indonesia, perilaku yang demikian itu disebut perilaku zuhud.

Entah mengapa, kita sebagai wong Jawa sering lupa terhadap ungkapan-ungkapan dalam bahasa aseli dan milik sendiri, jarang bahkan tidak pernah mempergunakan lagi dalam pembicaraan sehari-hari, nampaknya lebih gagah, merasa senang dan bangga bila dapat menggunakan istilah asing dan berbahasa asing.

Hal ini sebenarnya sah-sah saja, namun agak janggal, bila kita yang memiliki perbendaharaan kata-kata yang sangat kaya, kemudian melupakan begitu saja.

***

Ketiga, pemaknaan spiritual. Pemaknaan spiritual ini dianut oleh para penganut aliran thoriqat, khususnya kalangan tertentu di Jepara.

Thariqat yang berkembang di Jepara merupakan gabungan antara aliran thariqat Qadariyah-Nasyaqbandiyah dan kearifan lokal Jepara.

Bagi Thoriqat di Jepara, Kalinyamat itu sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yaitu kalimat, yang bisa jadi berarti kalimat syahadat. Penafsiran sufistik yang hampir mirip adalah Kalinyamat berasal dari bahasa Jawa yaitu “kali” dan “selamat”, yang berarti aliran atau jalan keselamatan.

Kalinyamat digambarkan sebagai guru spiritual, mufti dan “kekasih” yang mampu menghantarkan para penganut thariqat menuju Allah SWT.

Masalah dalam penelitian ini adalah: Siapa sebenarnya sosok Ratu Kalinyamat yang disakralkan masayarakat Jepara, khususnya para Penganut tarekat Qadiriyah Nasyaqbandiyah?

Bagaimana penganut tasawuf (tarekat Qadiriyah Nasyaqbandiyah) di Jepara memaknai mitos Ratu Kalinyamat dan bagaimana sosok Kalinyamat memberikan kekuatan dalam mengkonstruksikan ajaran-ajaran spirtitual mereka?

Penelitian yang menggunakan pendekatan antropologi dan semiotik, berdasarkan data yang dikumpulkan, diolah dan dianalisis atas dasar model-model antropologis dan semiotis.

Berdasarkan hal tersebut, maka ditemukan bahwa, secara geneologis, Ratu Kalinyamat adalah keturunan Raden Patah, Raja Demak Pertama. Semasa menjadi Ratu di Jepara, Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara menuju puncak kejayaan.

Berdasarkan pemaknaan spiritual didapati bahwa Ratu Kalinyamat yang dalam prespektif thariqat di Jepara sebagai “mufti”, guru spiritual dan “kekasih bayangan” ini memang sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan oleh para sufi.

Dalam perspektif sufi, wanita memang sering dijadikan sebagai “alat” untuk mendongkrak spiritualitas para wali laki-laki menuju Tuhan.

Contoh misalnya, Ibn Arabi menjadikan wanita cantik yang ia lihat di Ka’bah sebagai alat mendorong spiritrualitasnya menemuai Tuhan. Ia juga terinspirasi wanita cantik tersebut sehingga mampu mengarang kitab Tarjuman al-Asywaq.

Bisa jadi Kalinyamat di hadapan ahli thariqot itu seperti yang terjadi pada Ibn Arabi. Hal ini karena para pemeluk Thariqat itu laki-laki, maka secara naluriah jasmaniah membutuhkan sosok perempuan untuk mengangkat spiritualitasnya.

Sosok perempuan yang dalam hal ini diwakili oleh Kalinyamat sebenarnya hanyalah sebagai “perwujudan” Tuhan yang paling mudah di muka bumi ini.

ånå tjandaké

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: