Dongeng Punakawan

On 21/10/2013 at 06:28 punakawan said: |Sunting Ini

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat
Bagian Ketiga: Gagakrimang kudanirå Sang Haryå Jipang
© punakawan 2013

Siang itu, di ruang dalam kedaton Jipang Panolan, tengah berkumpul para pembesar. Khusus pada hari itu, Haryå Pênangsang tengah mengadakan acara syukuran atas terselesaikannya masa puasa yang telah dijalaninya selama tiga bulan.

Dengan berpakaian kebesaran, Adipati Haryå Pênangsang nampak duduk dengan gagahnya di kursi indah. Bunyi gamelan mengalun mengiringi perjamuan tersebut. Di bawah, di lantai pualam yang putih bersih, para bangsawan nampak duduk bersila, berjajar dengan mengenakan pakaian kebesaran masing-masing.

Mereka duduk berjajar, memanjang lurus. Ada dua kelompok barisan. Memanjang di sebelah kiri dan kanan. Di tengah-tengah kedua barisan ini, tertata rapi hidangan syukuran. Beberapa daging panggang, lauk pauk, nasi tumpeng dan buah-buahan beraneka macam, tersaji di sana.

Menjelang acara dimulai, suara gamelan berhenti. Patih Matahun yang duduk di sebelah Haryå Pênangsang nampak menghaturkan sembah sejenak kearah junjungannya. Kemudian beranjak berdiri dari tempat duduk.

Patih Matahun mewakili Haryå Pênangsang mengutarakan maksud diadakannya perjamuan di siang itu. Setelah Patih Matahun selesai mengutarakan maksud diadakannya acara syukuran tersebut, seorang ulama kraton memimpin doa.

Selesai doa dibacakan, gamelan mengalun kembali. Beberapa abdi dalem segera masuk dan membagi-bagi segala sesajian makanan yang sudah tersedia. Setiap bangsawan dilayani sebaik mungkin.

Perjamuan baru saja berjalan, mendadak seorang prajurit kawal khusus tergopoh-gopoh masuk keruangan memohon ijin memberikan laporan penting. Seluruh yang hadir, tak terkecuali Haryå Pênangsang sendiri dan Patih Matahun, terkejut oleh kehadiran prajurit kawal khusus ini. Segera, Haryå Pênangsang memberikan isyarat agar prajurit tersebut mendekat saat itu juga.

Gamelan mendadak berhenti. Suasana menjadi tegang seketika. Ruangan menjadi sunyi dan hening. Seluruh bangsawan terdiam, mengawasi lekat-lekat sang prajurit yang tengah bergerak jalan duduk, sembari menduga-duga ada apakah gerangan yang terjadi?

Haryå Pênangsang memberikan isyarat agar sang prajurit segera memberikan laporan yang dibawanya. Diperhatikan oleh berpuluh-puluh pasang mata, dan didengar oleh berpuluh-puluh telinga dari semua yang hadir di tempat itu, sang prajurit berkata:

Kasinggihan dhawuh, Kanjêng sinuwun. Saya memohon ijin membawa masuk seorang pêkatik kuda sinuwun. Keadaannya sungguh sangat tidak baik. Dia membawa gulungan rontal yang katanya buat padukå Kanjêng sinuwun.

Wajah Haryå Pênangsang tegang. “Bawa dia masuk.”

Sang prajurit menghaturkan sembah, dan lalu berjalan duduk mundur. Tak lama dia sudah keluar dari ruangan. Berselang beberapa saat, dia datang kembali sembari diiringi seseorang yang lain. Seseorang yang wajahnya berlumuran darah segar. Dengan sangat kesulitan, dia berjalan duduk mengikuti prajurit kawal khusus yang membawanya.

Melihat kehadiran sosok yang dibawa menghadap oleh prajurit kawal khusus itu, seluruh yang hadir gempar. Seseorang yang mukanya berlumuran darah yang tak lain adalah si pêkatik kuda Sang Adipati Jipang, terlihat menahan rasa sakitnya.

Belum jelas bagian mana dari kepala si pêkatik yang terluka karena darah segar yang terus mengalir, sedikit banyak menutupi tempat luka berasal. Namun, semakin diperhatikan, akan semakin jelas, bahwa cuping telinga kiri si pêkatik telah hilang. Seluruh yang hadir bisa menebak seketika, bahwa darah itu keluar dari luka di bagian daun telinganya yang telah tanggal.
Babad Tanah Jawi in proza Meinsma 1874 – 02 – 086 sd 168 angka 97
pakathikipun sang dipati agubras rah, kupingipun pinêrung sasisih sarta kakalung sêrat,

Mata Haryå Pênangsang dan Patih Matahun memperhatikan keadaan pêkatiknya tanpa berkedip. Begitu si pêkatik dan prajurit kawal khusus telah berada tepat di hadapan Haryå Pênangsang, segera Haryå Pênangsang berkata: “Ada apa? Ceritakan apa yang terjadi?. Dan nawålå apa yang kau bawa untukku?

Sembari mengerang, pêkatik itu menghaturkan sembah. Tangannya yang penuh darah gemetar saat menghaturkan sembahnya. Sang perumput, didengar oleh Haryå Pênangsang, Patih Matahun dan seluruh bangsawan yang hadir segera menceritakan apa yang menimpanya.

Gemuruh suara seluruh yang hadir setelah mendengar laporan sang pêkatik. Haryå Pênangsang memerah wajahnya, segera dia meminta gulungan rontal yang dibawanya. Pêkatik itu mengulurkan gulungan rontal yang juga berlumuran darah. Haryå Pênangsang menyuruh Patih Matahun menerimanya dan segera membaca isinya.

Patih Matahun menerima gulungan rontal dari tangan sang perumput. Sembari berdiri, dia buka gulungan itu dan dengan suara keras, dibaca isinya:

Hé, Pênangsang. Yèn sirå nyåtå lêlananging jagad, payo tandhing lawan ingsun. Dak anti sapinggiring bêngawan tapêl wates. Yèn ora wani nêkani, nyåtå sirå wandu kang mémbå rupå. Budhalå tanpå rowang. Ingsun wong Sélå wus tan bisa suwé nahan sêdyaning tyas kêpéngin nigas jånggå irå.

Menggeram marah Haryå Pênangsang mendengar bunyi surat yang baru dibacakan. Tangannya mengebrak meja di sebelahnya yang dipenuhi dengan berbagai macam makanan. Meja terguling dan makanan di atasnya berburai seketika, berserakan mengotori lantai pualam di sekelilingnya.

Haryå Pênangsang, dengan dada bergemuruh dan amarah yang sudah meninggi memerintahkan kepada prajurit kawal yang menghadap tadi: “Siapkan Kyai Gagak Rimang sekarang juga.

Selanjutnya Babab Tanah Jawi pada pupuh berikutnya, dalam têmbang Durmå juga, mengabarkan:

……… ki adipatyå | dukané tan sinipi ||

kêpêlirå sigrå binanting ing pandjang | rêmuk dados kêkalih | sigrå sang dipatyå | akèn kakåpå djaran | Si Gagakrimang dèn aglis | lah kambilånå | sun arså mangsah djurit ||

Prajurit yang diperintah menyembah dan tergopoh-gopoh jalan mundur. Seluruh yang hadir opanik dan cemas. Patih Matahun segera menyembah dan berkata: “Nakmas Pênangsang, mohon sabarkan hati sejenak. Biarkan saya memberikan perintah kepada Senopati Jipang agar menyiagakan seluruh prajurit.

Haryå Pênangsang tak bergeming. Matanya memerah penuh amarah. Sejurus kemudian, prajurit yang diutus menyiapkan kuda nampak tiba kembali di ruangan. Dia tengah memulai untuk berjalan duduk dengan maksud menghadap. Namun Haryå Pênangsang sudah tidak sabar lagi, dia segera keluar dari ruangan tanpa permisi.

Patih Matahun kalut. Segera dia berkata: “Nakmas Sênopati.

Yang ditunjuk dan tengah duduk di antara para bangsawan menyembah, “Segera siagakan seluruh prajurit Jipang Panolan sekarang juga.
Yang diperintahkan menyembah sekali lagi dan mohon undur.

Dan kepada semua priyayi yang hadir di sini.” lanjut Patih Matahun, keras suaranya, ”Segera siagakan diri untuk bertempur dengan orang Sélå.
Seluruh yang hadir riuh memberikan sembah. Dan bubar saat itu juga.

Haryå Pênangsang telah menaiki kuda kesayangannya. Beberapa kepala prajurit berusaha mencegahnya, namun Haryå Pênangsang tak bergeming. Tanpa banyak bicara lagi, digebraknya Kyai Gagak Rimang. Kuda berwarna hitam mulus itu meringkik nyaring sejenak, lalu melesat keluar dari kompleks istana Jipang Panolan.

Seluruh kepala prajurit dan bangsawan Jipang geger melihat kenekatan Haryå Pênangsang. Seketika itu juga, gong beri, gong kecil yang biasa dibunyikan agar seluruh prajurit menyiagakan diri, segera terdengar dipukul bertalu-talu. Susul menyusul. Dari satu sudut istana, disusul sudut yang lain. Riuh rendah suaranya memekakkan telinga.

Di sana-sini, teriakan-teriakan perintahpun terdengar, berselang-seling, membuat seisi istana Jipang gempar. Di tempat lain, Kyai Gagak Rimang telah melesat menuju perbatasan.

Kyai Gagak Rimang melaju kencang, melesat ke arah sungai yang menjadi tapal batas wilayah Jipang Panolan dengan daerah yang belum berhasil diduduki pasukan Jipang.
Menjelang matahari condong ke barat, tepat seusai waktu dzuhur, barulah Haryå Pênangsang memperlambat laju kudanya.

Wilayah yang dibentangi aliran sungai dangkal ini adalah tapal batas kekuasaan Jipang Panolan. Di seberang sana, terbentang wilayah luas yang sudah direncanakan hendak diduduki pasukan Jipang.

Kyai Gagak Rimang meringkik nyalang manakala tali kekang kuda yang melilit lehernya ditarik kencang. Serta merta, Kyai Gagak Rimang mengangkat kedua kaki depannya sejenak, kemudian kembali menjejak ke tanah dan berjalan pelan memutar.

Mata Haryå Pênangsang menyipit mengamati keadaan sekeliling. Aliran sungai yang tak seberapa dalam nampak terus mengalir dengan tenangnya. Pepohonan lebat yang tumbuh di seberang sana, tumbuh di area berbukit tepat di pinggir aliran sungai, nampak lengang pula. Tak tampak sesuatupun yang mencurigakan.

Bergegas Haryå Pênangsang menarik tali kekang kuda, menuruni tanah berbukit yang menuju ke bawah, menuju ke aliran sungai. Begitu sampai di bawah, tepat di pinggir sungai, ternyata situasi benar-benar senyap. Tak ada siapapun di sana. Hanya bunyi burung-burung hutan yang sesekali memamerkan suara ditambah gemericik air sungai, menyambut kehadiran Haryå Pênangsang.

Haryå Pênangsang mendengus. Dengan mata memandang ke seberang, dia berteriak keras: “Kêparat. Yèn nyåtå lanang mêtuwå. Åjå singidan.

Suara Haryå Pênangsang menggema, memantul dari lereng ke lereng lain. Mengoyak kesenyapan yang sedari tadi menyergap daerah itu.

Babad Tanah Jawi mengabarkan dalam tembang Durma:

Adipati Djipang asru angandikå | hèh såpå kang akardi | sung lajang maringwang | mårå sirå nabrangå | ngong kêmbulånå ngadjurit | dhêdhêmên ingwang | jèn kinêmbulan djurit ||

Tapi, begitu suara gema menghilang. Keadaan kembali sepi. Tak ada jawaban. Haryå Pênangsang gusar. Merasa dipermainkan. Ditariknya tali kekang Kyai Gagak Rimang, nekad dia menyeberangi sungai.

Di sinilah, pêngapêsan Haryå Pênangsang. Menurut kepercayaan, jika dua orang lawan sedang bertempur, dan di antara mereka terhalang sebuah sungai, bagi siapa saja yang berani menyeberangi, pasti akan kalah perangnya.

Dan tepat ketika kaki-kaki Kyai Gagak Rimang tengah tertatih-tatih menapaki dasar sungai yang cuma sebatas lutut dalamnya, mendadak, terdengar bunyi riuh desingan. Mata Haryå Pênangsang awas. Dilihatnya berratus-ratus anak panah meluncur deras mengarah kearahnya. Haryå Pênangsang mengumpat. Namun sungguh luar biasa, bukannya dia kebingungan menghindar, malahan dia buka dadanya lebar-lebar.

Beberapa batang anak panah yang tepat mengarah ke tubuhnya, terpental kesamping, tak bisa melukai kulitnya sama sekali dan langsung luruh masuk ke dalam aliran sungai. Bahkan beberapa ada juga yang patah menjadi dua.

Tak hanya itu, anak panah yang sempat menyasar ke tubuh Kyai Gagak Rimangpun mengalami hal yang serupa. Kyai Gagak Rimang hanya terlonjak-lonjak saja ketika beberapa anak panah meluncur mengenai tubuhnya. Tak ada luka sedikitpun di tubuh kuda hitam mulus itu. Bidikan anak panah mereda seketika.

Belum usai kegusaran Haryå Pênangsang, disusul dari arah seberang, keluar seekor kuda putih. Kuda itu dipacu menuruni lereng. Keluar dari balik pepohonan. Begitu jelas siapa yang hadir, mata Haryå Pênangsang melotot marah. Jelas terlihat, seorang anak kecil, tengah menunggang kuda dengan tombak terhunus di tangan kanannya. Terdengar suara kecilnya nyaring tanpa ada kegentaran sedikitpun: “Pênangsang. Aku lawan tandingmu.

Dada Haryå Pênangsang bagai dibakar api. Wajahnya bagai dicoreng dengan arang. Betapa tidak. Seorang anak kecil dengan lancangnya berani sendirian menghadapinya dan bahkan sesumbar menantangnya. Ditariknya tali kekang Kyai Gagak Rimang. Kuda meringkik, kesulitan berjalan menapaki dasar sungai. Berusaha terus melaju ke arah seberang mendekati sosok kecil yang dengan gagahnya menenteng tombak di sana.

Melihat Haryå Pênangsang mendekat, anak kecil tersebut memutar arah kudanya. Kyai Gagak Rimang telah berhasil melewati aliran sungai dan langsung berderap mengejar kuda putih di depannya. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, mendadak terjadi keanehan. Tingkah Kyai Gagak Rimang seketika berubah. Kepalanya mengangguk-angguk dan menjadi liar.

Haryå Pênangsang terkejut menyadari perubahan yang terjadi. Kuda tunggangannya tidak pernah bertingkah aneh seperti itu selama ini. Sejenak Haryå Pênangsang kesulitan menarik tali kekang kudanya yang menjadi tak terkendali. Di tengah usahanya membuat Kyai Gagak Rimang kembali patuh, mata Haryå Pênangsang melihat sekilas bagian belakang kuda putih yang tengah ditunggangi lawannya.

Haryå Pênangsang marah. Dia menyadari sekarang mengapa Kyai Gagak Rimang bertingkah laku aneh. Rupanya, ekor kuda putih di depannya sengaja diikat keatas, sehingga kemaluannya terlihat jelas. Dan Haryå Pênangsang semakin menyadari, kuda yang ditunggangi lawannya adalah kuda betina.

Haryå Pênangsang mengumpat-ngumpat. Kyai Gagak Rimang selama ini memang sengaja tidak diperkenalkan dengan kuda betina. Kyai Gagak Rimang adalah kuda tempur. Jika mengenal kuda betina dan sempat bersenggama, maka kemampuan tempurnya akan menurun. Dan kini, melihat kuda betina dengan kemaluan terbuka lebar seperti itu, Kyai Gagak Rimang tidak bisa menguasai birahinya.

Babad Tanah Jawi dalam jilid yang sama dengan tembang Durma juga, mengabarkan:

kudané ki arjå ran pun Gagakrimang | dupi wruh ing kudèstri | bêgar kudå ikå | mobat-mabit kéwålå | miwah rahadèn ngabèi | kudané bêgar | tan kênå dèn titihi ||

Arjå Djipang kudané ran Gagakrimang | dangu wruh kapal èstri | tan kênå marêmå | malah såjå angrêbdå | budiné såjå malahi | wruh kudanirå | radèn tinuntun wingking ||

ånå tjandaké
Nuwun
punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: