Dongeng Punakawan

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat
Bagian Kedua: Tunggul Panantang Sang Haryå Jipang
© punakawan 2013

Adipati Hadiwijåyå kêdèp-têsmak kamitênggêngêng, memandang dengan pandangan kosong, seolah-olah kehilangan daya pikir selama beberapa saat, domblong, perasaan senang, suka, bingung, terperangah dan terpana. bercampur aduk, memandang sosok tubuh wanita telanjang yang duduk di depannya.

Kemudian, sebagaimana diberitakan:

Sang Adipatyå tumungkul rikuh, wanguné kadêrêng ing ati kasêlak ora bêtah sartå wêdi nyawang.

Dengan menundukkan wajah, Adipati Hadiwijåyå memberikan sembah. Dan sosok wanita cantik yang tengah bersila itupun membalas sembah Adipati Hadiwijåyå.

Setelah berbasa-basi menanyakan kabar keselamatan masing-masing, Adipati Hadiwijåyå, sembari tetap menundukkan wajah-pun berkata:

Kakangmbok Ratu Ayu, seyogyanya kakangmbok Ratu berkenan mengenakan kêmbên. Sangat segan hati saya jikalau harus berbincang-bincang dengan kakangmbok sedangkan kakangmbok dalam keadaan telanjang bulat sedemikian rupa.

Dari balik geraian rambut panjangnya, Ratu Kalinyamat tersenyum manis, “Maafkan aku dimas, aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaanmu. Biarlah, selain almarhum kangmas Sunan Kalinyamat, cukup kamu saja laki-laki yang melihat aku dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Sudah menjadi sumpahku, tidak sudi aku mengenakan busana lagi, jikalau Hyang Måhå Agung, belum memberikan keadilan kepada si Pênangsang, pembunuh kakangmas Prawåtå dan kangmas Sunan Kalinyamat.

Adipati Hadiwijåyå menghela nafas berat. “Kakangmbok Ratu Ayu, sangat prihatin saya melihat keadaan kakangmbok. Sampai kapan terus telanjang tanpa busana. Selain tabu didengar orang banyak, sekali lagi, saya juga sangat merasa segan dan rikuh jika harus kemari dan tetap melihat kakangmbok seperti ini.

Ratu Kalinyamat diam sejenak, mendesis lirih dan berkata: “Dimas, seharusnya aku yang mempertanyakan hal ini kepadamu. Tidakkah kamu kasihan, tidakkah kamu iba melihatku? Melihat penderitaanku? Melihat ketidak adilan yang menimpaku?

Adipati Hadiwijåyå terdiam. kemudian katanya: “Jangan salah sangka kakangmbok. Saya dan Nimas Sêkaring Kêdhaton senantiasa memikirkan keadaan kakangmbok Ratu Ayu disini. Saya juga terus menimbang-nimbang bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Haryå Pênangsang. Namun, keadaan di luar tidaklah memungkinkan bagi saya berhadapan langsung dengan Haryå Pênangsang secara terbuka. Båpå Sunan Kudus berada di belakang Haryå Pênangsang. Båpå Sunan Kudus sangat berpengaruh dalam Dewan Wali Sångå. Kakangmbok tahu sendiri itu. Sangat mudah bagi Båpå Sunan Kudus mempengaruhi keputusan Dewan Wali Sångå. Jika sampai Pajang berhadapan langsung dengan Jipang, bukan tidak mungkin, Båpå Sunan Kudus, melalui Dewan Wali Sångå akan memerintahkan Cirebon dan Banten bergabung dengan Jipang menghadapi Pajang.

Adipati Hadiwijåyå diam sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya: “Sungguh, secara pribadi, saya sendiri juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Haryå Pênangsang. Hampir saja saya berkelahi dengan dia. Saya tidak bisa menahan diri.

Dan Adipati Hadiwijåyå menceritakan pertemuannya dengan Haryå Pênangsang di pesantren Kudus. “Hyang Widdhi Wåså masih berkenan mencegah saya berhadapan langsung dengan Haryå Pênangsang.

Terdengar helaan nafas lembut dari bibir Ratu Kalinyamat, lalu dia berkata: “Dengar dimas. Jika kamu benar-benar dapat menyingkirkan Haryå Pênangsang, aku bersumpah, disaksikan Hyang Måhå Agung, oleh langit dan bumi, semoga aku akan menuai kutuk jika aku mengingkari sumpah ini. Dengarkan. Jika kamu sanggup menyingkirkan si Pênangsang maka tahta Dêmak Bintårå aku limpahkan kepadamu.”

Adipati Hadiwijåyå mengangkat wajahnya. Dilihatnya, dari balik geraian rambut panjangnya, sorot mata Ratu Kalinyamat berkilat-kilat, tengah menatap wajah Adipati Hadiwijåyå.

Bahkan, jikalau peraturan hukum sebelum jaman ini masih berlaku luas di masyarakat Jawa, dimana seorang laki-laki boleh memadu dua orang wanita kakak beradik sekaligus, maka sungguh akupun rela lahir batin kamu nikahi sebagai madu dari adikku Nimas Sêkaring Kêdhaton. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diterima kebanyakan masyarakat Jawa sekarang. Oleh karena itu, kamu boleh memilih selir-selir milik almarhum kangmas Sunan Kalinyamat dan almarhum kangmas Prawåtå yang engkau sukai untuk kamu nikahi.

Adipati Hadiwijåyå terdiam. Kesungguhan kata-kata Ratu Kalinyamat terpancar dari wajah ayunya. Sengaja, rambut panjangnya yang tergerai, disibak kesamping sedikit, sehingga payudara Sang Ratupun terlihat. Payudara yang padat berisi. Dada Adipati Hadiwijåyå berdesir melihatnya, cepat-cepat dia menundukkan wajah kembali.

Tapi ingat, dimas. Satu permintaanku, jika kamu berhasil mengalahkan Haryå Pênangsang, dan tahta Dêmak Bintårå telah kamu pegang, aku minta, janganlah kamu mendirikan Kerajaan Buda. Biarlah kamu tetap meneruskan sebuah pemerintahan berbentuk Kesultanan Islam. Biarlah gelarmu dikenal orang sebagai seorang Sultan, bukan seorang Prabu.

Keheningan menyergap seketika. Dan Adipati Hadiwijåyå semakin terperangah manakala melihat Ratu Kalinyamat berdiri tegak sembari menyibak seluruhnya geraian rambut panjang yang menutupi tubuh bagian depannya. Kini, tampak jelas didepan mata Adipati Hadiwijåyå, tubuh polos yang sempurna Sang Ratu tanpa ditutupi oleh sehelai benangpun. Mendadak dada Adipati Hadiwijåyå terasa sesak.

Inilah tanda kesungguhanku,” bisik Ratu Kalinyamat sembari tersenyum.

Dengan menarik nafas berat, Adipati Hadiwijåyå menyembah hormat dan berkata: “Baiklah kakangmbok Ratu Ayu. Saya berjanji akan mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan Haryå Pênangsang. Dan jika hal itu berhasil atas wårånugråhå Hyang Widdhi, saya berjanji, akan memakai gelar Sultan, bukan Prabu.

Dada Sang Adipati Hadiwijåyå semakin sesak, naluri kelakiannya memberontak, kalau dia tidak ingat siapa wanita telanjang yang berdiri di hadapannya, maka Sang Adipati Hadiwijåyå pun segera memohon diri untuk keluar ruangan. Ratu Kalinyamat pun tersenyum menghaturkan terima kasihnya.

***

Malam itu, Sang Adipati bermalam di Gunung Dånåråjå. Dengan didampingi Ki Agêng Pêmanahan, Adipati Hadiwijåyå membahas rencana yang tepat untuk memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Ki Agêng Pêmanahan mengusulkan, agar Sang Adipati mempercayakan hal ini kepada Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani adalah sosok yang cerdik dan bisa diandalkan dalam memberikan pemecahan dan cara yang terbaik disaat semua jalan dirasa buntu.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada Ratu Kalinyamat, Adipati Hadiwijåyå beserta Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang mengiringinya, meninggalkan Gunung Dånåråjå bertolak ke Pajang.

Setibanya di Pajang, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan disambut para pejabat dengan suka cita. Tak ada yang kurang dari jumlah rombongan, Semua dalam keadaan baik dan selamat.

Adipati Hadiwijåyå berkenan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Pada sore harinya, Adipati Hadiwijåyå memanggil Ki Mas Måncå, Ki Mas Wilå, Ki Mas Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan berikut Ki Juru Martani.

Di ruang khusus, dan tidak ada orang lain yang hadir selain keenam orang tersebut, Adipati Hadiwijåyå menyampaikan maksudnya. Sang Adipati berkenan meminta pemecahan mengenai masalah Haryå Pênangsang.

Haryå Pênangsang tidak bisa terus menerus didiamkan saja. Harus ada pihak yang berani bertindak. Dan tampaknya, hanya Pajang yang mampu menghadapi kekuatan Jipang. Yang menjadi masalah, posisi Pajang sangatlah terjepit.

Pajang yang dipimpin oleh seorang Adipati, dalam garis keturunan adalah menantu Adipati Trenggånå, sedangkan Jipang dipimpin oleh Haryå Pênangsang, kemenakan langsung Sultan Trenggånå.

Namun keputusan telah diambil. Haryå Pênangsang harus dibunuh.

***

Haryå Pênangsang Pralåyå

Pada saat Adipati Hadiwijåyå bertahta di Kerajaan Pajang, beliau merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa lantaran dendamnya terhadap Haryå Pênangsang. Oleh Adipati Hadiwijåyå, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang. Namun, Nyai Kalinyamat menolaknya. Ia baru bersedia kembali ke Pajang asalkan Haryå Pênangsang dibunuh. Adipati Hadiwijåyå menyanggupi permintaan tersebut.

Ketika telah berada di Pajang, segeralah Kanjêng Adipati Hadiwijåyå memikirkan cara yang akan ditempuh untuk mengalahkan dan membunuh Haryå Pênangsang. Pekerjaan itu tidak mudah, sebab Haryå Pênangsang terkenal sangat sakti dan mempunyai keris pusaka yang sangat ampuh bernama Kyai Brongot Sêtan Kobèr.

Tiap hari Kanjêng Adipati selalu memikirkannya, tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya, setelah sekian lama tidak juga menemukan caranya, lalu dipanggillah kedua patihnya, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi, untuk diajak berunding.

Setelah keduanya menghadap, Kanjêng Adipati mulai menceritakan persoalannya. Singkat cerita, di hadapan Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi, Kanjêng Adipati menjanjikan ganjaran berupa tanah di Pati dan tanah yang terletak di hutan Mentaok apabila mereka berhasil membunuh Haryå Pênangsang.

Setelah itu, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi berunding. Dalam perundingan itu, Ki Agêng Pêmanahan menyampaikan pendapatnya kepada Ki Pênjawi, bahwa tidak ada orang lain yang mampu membunuh Haryå Pênangsang selain Danang Sutåwijåyå. Ki Pênjawi pun sependapat dengan Ki Agêng Pêmanahan.

Kemudian, Ki Agêng Pêmanahan memanggil Danang Sutåwijåyå untuk diberi tugas membunuh Haryå Pênangsang. Danang Sutåwijåyå pun menyetujuinya. Dalam percakapan tersebut Ki Agêng Pêmanahan memberikan nasihat dan petunjuk agar Danang Sutåwijåyå dapat memenangkan pertarungan melawan Haryå Pênangsang, yaitu janganlah sekali-kali mendahului lawan mencebur Sungai Bengawan, apalagi menyeberanginya.

Apabila ia nekat mendahului mencebur Sungai Bengawan, maka ia pasti kalah. Konon, apabila terjadi peperangan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai akan kalah; jangan mudah terpancing oleh lawan. Bagaimanapun tingkah laku Haryå Pênangsang, Danang Sutåwijåyå harus tetap berada di pinggir Kali Bengawan. Disiasati Ki Agêng Pêmanahan, Danang Sutåwijåyå harus memakai kuda betina.

Sebagai kelengkapan untuk bertempur melawan Haryå Pênangsang, Danang Sutåwijåyå dibekali senjata pusaka berupa sebuah tombak yang bernama Kyai Plèrèd, karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Haryå Pênangsang bisa dilukai.

Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Hadiwijåyå dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati. Maka terpaksa, Ki Agêng Pêmanahan, atas saran Ki Juru Martani, meminta agar Danang Sutåwijåyå, putranya yang kini telah diambil anak angkat oleh Adipati Hadiwijåyå, diminta untuk ikut memperkuat barisan.

[Sejarah mencatat bahwa Danang Sutåwijåyå diangkat anak oleh Hadiwijåyå sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijåyå dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak.

Danang Sutåwijåyå sebenarnya adalah anak kandung Ki Agêng Pêmanahan, tetapi sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh Kanjêng Adipati Hadiwijåyå. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan.

Sutåwijåyå kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Radèn Ngabéhi Loring Pasar.]

Ki Agêng Pêmanahan, Ki Pênjawi dan Danang Sutåwijåyå kemudian berunding untuk mencari cara agar Haryå Pênangsang dapat ditaklukkan. Dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi akan pergi ke Jipang untuk memancing Haryå Pênangsang agar bersedia bertarung di Sungai Bengawan. Sementara Danang Sutåwijåyå disuruh untuk bersiap-siap menghadapi Haryå Pênangsang di tepi Sungai Bengawan.

Keesokan harinya, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi berangkat ke Jipang untuk memancing kemarahan Haryå Pênangsang. Sampai di sana mereka bertemu dengan beberapa orang yang sedang mencari rumput.

Ki Juru Martani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, orang-orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput, pêkatik Kadipaten Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Aryå Pênangsang, Kyai Gagak Rimang.

Cepat Ki Juru Martani memerintahkan agar Ki Agêng Pêmanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Martani memberikan petunjuk singkat.

Ki Agêng Pêmanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Martani memberikan petunjuk kepada kepala pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.

Tak berapa lama, nampak Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal di bawah. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, para perumput itu terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil-manggil mereka. Seketika para perumput ini menghentikan langkah kakinya.

Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing.
Kisanak, buat apakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Martani.

Salah seorang perumput menjawab: “Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjêng Haryå Jipang.

Ki Juru Martani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya. “Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?

Para perumput itu saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya: “Kalian orang mana?

Ki Agêng Pêmanahan menjawab: “Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sélå.

Ragulah orang-orang tersebut. “Siapakah yang mau aku titipi?,” sergah Ki Juru Martani.

Salah seorang dari perumput mendekat.“Baiklah, mana?” Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya.

Ki Juru Martani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.

Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan di pinggang sang perumput, cepat Ki Agêng Pêmanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut. Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga. Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur. Melihat kejadian itu, para perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri.

Babad Tanah Jawi dengan têmbang Pangkur (29) : 36, mengabarkan:

36. pakathik sigrå tjinandhak | kupingirå sasisih wus dinawir

Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya.

Sembari memegang keris, Ki Agêng Pêmanahan berkata: “Katakan kepada si Haryå Pênangsang. Aku, orang Sélå menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang.

Serat Babad Tanah Jawi tembang Durma (30) : 7, memberitakan:

7. ….. |kang tunggul panantang | pèngêt Ki Harya Jipang | yèn sira tuhu prajurit | yèn nyata lanang | maguta sun antèni ||

8. ing Bangawan Sore lah sira nabranga | katêmu [ka…] — 4 : 37 — […têmu] padha siji | lan Dipati Pajang | aja ngandhêlkên bala | sun tadhahi padha siji |

Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Agêng Pêmanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah.

Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula.

ånå tjandaké

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: