Dongeng Punakawan

On 18/10/2013 at 03:46 punakawan said: |Sunting Ini

Nuwun

Sugêng pêpanggihan pårå sanak kadang hing Tlatah Nusantårå, ugi sanak kadang saidêning jagad.

Sesuai janji saya, maka berikut ini saya dongengkan dua perempuan yang pernah mengukir sejarah bangsanya.
Dongeng bersambung: Perempuan Jepara: Ratu Kalinyamat dan Kartini, berselang-seling dengan Dongeng Mataram yang baru sampai episode Menggugat Perang Bubat.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
Perempuan dari Jepara: Ratu Kalinyamat
Bagian Pertama: Tåpå Wudå Asinjang Rikmå
© punakawan 2013

LEGENDA KALINYAMAT

Ratu Kalinyamat seorang tokoh wanita legendaris, makam Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadiri nyaris tak pernah sepi pengunjung. Mereka yang datang dari berbagai daerah semata-mata datang hanya untuk ‘ngalap bêrkah’ berharap yang menjadi keinginannya terkabulkan.

Apa yang mereka harapkan dari aura keramat makam wanita legendaris yang pernah tåpå wudå asinjang rikmå (bertapa telanjang hanya tertutupkan gerai rambutnya) itu?

Tokoh Ratu Kalinyamat bagi masyarakat Jepara dan Pati, Jawa Tengah khususnya, tidak hanya dikenal sebagai seorang putri yag molek, tetapi juga cerdas dan berani.

Tak heran, jika akhirnya wanita tersebut memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara, yang kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora.

Tatkala Ratu Kalinyamat (yang nama aslinya sebelum bersuami adalah Rêtnå Kêncånå), mencari suami, terpaksa ia menggelar seyembara.

Dengan seyembara itu, ia berhadap akan mendapatkan pendamping hidup yang tidak saja tampan, tetapi juga cerdas serta memiliki kemampuan setara bahkan lebih daripada dirinya.

Namun sayang, harapan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Hingga, secara tak sengaja ia bertemu Pangeran Toyib, lelaki berdarah Persia yang sangat tampan dan arif bijaksana.

Tak heran bila Retna Kencana langsung kasmaran padanya. Pangeran Toyib yang akhirnya menjadi penampingnya, dan mendapat sebutan Pangeran Kalinyamat, yang bergelar Pangeran Hadiri.

Asal-usul Pangeran Kalinyamat.

Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang pedagang dari Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Kanjêng Sunan Kudus.

Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah, dari Kesultanan Aceh (1514-1528).

Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Ia dianugerahi nama baru Tjie Bun Thang. Adapun nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Pangeran Toyib itu.

Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.

Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri Sultan Trenggana, dari Kesultanan Demak, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.

Sayangnya, ibarat masa bulan madu Nyimas Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadiri belum tuntas, sang suami gugur dibunuh orang-orang suruhan Adipati Jipang Haryå Pênangsang. Hati sang Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kenyataan pahit itu.

Pembantaian itu sendiri terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Raden Mukmin alias Sunan Prawåtå. Sang kakak, juga tewas di tangan Haryå Pênangsang yang berambisi merebut tahta Kesultanan Demak.

Yang lebih membuatnya kecewa, ketika ia mengadukan kelakuan Haryå Pênangsang kepada Kanjêng Sunan Kudus, Kanjêng Sunan Kudus ternyata malah memihak Haryå Pênangsang.

Bahkan, Kanjêng Sunan Kudus mengatakan, bahwa semua itulah buah dari tindakan Sunan Prawåtå yang membunuh Raden Kikin, ayah Haryå Pênangsang, yang sejak saat itu Raden Kikin terkenal dengan sebutan Pangéran Sêkar Sédå hing Lépén, “bunga yang gugur di sungai”.

Setelah peristiwa pembantaian kakak kandung serta suaminya. Nyi Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus rasa malunya dan meraih kembali kehormatannya.

Keinginan tersebut membuatnya bertekad tapa telanjang. Ia baru akan puas setelah berhasil memakai kapala Haryå Pênangsang sebagai kèsèt.

Menurut dongeng rakyat setempat. Ratu Kalinyamat membawa jenazah suaminya, sampai pada sebuah sungai dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai berwarna ungu, dan kemudian dikenal daerah tersebut dengan nama Kaliwungu.

Semakin ke barat, dan dalam kondisi lelah, kemudian melewati Pringtulis. Dan karena kelelahan dengan berjalan moyang-moyong (sempoyongan), maka di tempat itu sekarang dikenal dengan nama Mayong.

Sesampainya di Purwogondo, disebut demikian karena di tempat inilah awal keluarnya bau dari jenazah yang dibawa Ratu Kalinyamat, dan kemudia melewati Pecangaan dan sampai di Mantingan.

Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Ia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja, dengan sumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang.

Babad Tanah Jawi dalam tembang Dhandhanggula (27) : 64 sd 65 memberitakan:

64. ……. Kalinyamat Sang Ratu | sasédané inggih kang laki | myang sédané kang råkå | Pangran Prawatèku | kalangkung prihatinirå | agring kapit malah atilar nagari | tapardi Dånåråjå ||

65. gènnyå atåpå wudå kang warti | êmbok jêngandikå Lèpènnyamat | tan arså asinjang mangké | bénjing arså apinjung | yèn pun Jipang wontên matèni | punikå tur kawulå | yèn andikå rêmbug | rakandikå tinilikan | bilih kêni pinituturan kang yakti | yå tå Dipati [Dipa…] — 4 : 23 — […ti] Pajang ||

Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Djaka Tingkir, adipati Pajang, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang itu.

Lebih dari dua windu Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjangnya. Mula-mula, dilakukan di Gelang Mantingan, kemudian pindah ke Desa Dånåråså, lalu terakhir di tempat Dånåråjå Tulakan Keling Jepara.

Konflik Pajang vs Jipang

Perkembangan yang memanas antara Haryå Pênangsang dan Adipati Hadiwijåyå sangat menggelisahan hati Kanjêng Sunan Kalijågå. Disatu sisi Kanjêng Sunan Kalijågå adalah salah satu guru Djåkå Tingkir, disisi lain Kanjêng Sunan Kudus yang berpihak pada Haryå Pênangsang adalah merupakan kerabatnya sebagai ulama utama di tanah Jawa.

Kanjêng Sunan Kalijågå tidak ingin terjadi keributan perebutan kuasa, dan berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah di antara keturunan dinasti Dêmak Bintårå. Untuk itu Kanjêng Sunan Kalijågå datang mengunjungi Kanjêng Sunan Kudus.

Dalam silaturahim antara Kanjêng Sunan Kudus dan Kanjêng Sunan Kalijågå dibincangkan soal ketegangan antara Pajang dan Jipang.

Pandangan Kanjêng Sunan Kalijågå tentang keberpihakan Kanjêng Sunan Kudus terhadap Haryå Pênangsang diakui kebenaranya oleh Kanjêng Sunan Kudus.

Akan tetapi, menurut Kanjêng Sunan Kalijågå, Dêmak Bintårå sudah runtuh. Para ulama sebagai wali memiliki andil yang menyebabkan Dêmak Bintårå runtuh.

Pada awalnya para Wali bersepakat untuk membangun Dêmak Bintårå sedikitnya bisa menyamai kejayaan Majapahit atau berumur lebih panjang daripada Majapahit. Dengan cara itulah para wali ikut berkiprah dalam urusan tata negara.

Kadipaten Pajang berdiri karena hibah dari ratu Kalinyamat kepada Hadiwijåyå. Dan Adipati Hadiwijåyå bukan darah sêntånå Dêmak Bintårå.

Jadi jika Haryå Pênangsang menuntut tahta Pajang, hal itu sudah diluar adat dan ketentuan hukum, yaitu mengambil “harta” yang sudah dihibahkan kepada orang lain.

Kanjêng Sunan Kalijågå memohon kepada Kanjêng Sunan Kudus agar para ulama sepuh sebagi wali dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anak.

Biarkanlah Haryå Pênangsang dan Hadiwijåyå menyelesaikan persoalanya sendiri. Dan yang sepuh tinggal nonton saja. Garis ketentuan Sang Perangcang Lelakon akan berlaku bagi mereka berdua. Sing bêcik kêtitik sing ålå kêtårå.

Sebagai ulama lebih baik mensyi’arkan Islam tanpa menggunakan kekuasaan. Biarkanlah urusan tata negara dilakukan oleh ahlinya masing-masing.

Para ulama adalah ahli da’wah bukan ahli tata negara. Jangan sampai ulama terpecah belah karena berpihak kepada salah satu di antara mereka.

Pawongan rakyat jelata, tentu akan mencemooh para ulama wali, yang seharusnya sebagai panutan, jika melihat para ulama kok ikut-ikutan berebut kamuktèn kekuasaan duniawi sendiri.

Kanjêng Sunan Kudus berniat kembali kepada khitahnya sebagai ulama. Tidak lagi ingin mencampuri urusan dunia kekuasaan. Dan berniat untuk bersikap netral. Oleh karena itu Kanjêng Sunan Kudus memanggil Haryå Pênangsang untuk menjelaskan maksudnya.

Kanjêng Sunan Kudus menjelaskan wacananya kepada Haryå Pênangsang, bahwa memang Haryå Pênangsang punya hak sebagai pewaris Kesultanan Dêmak Bintårå, akan tetapi Dêmak Bintårå sudah runtuh.

Jadi hak waris Haryå Pênangsang atas Dêmak Bintårå sudah tidak ada lagi, karena semua yang ada di Dêmak Bintårå sudah dihibahkan kepada Pajang. Dan Adipati Pajang bukan keturunan Dêmak Bintårå, meskipun memiliki tètès gêtih trah Majapahit, sehingga menurut adat maupun hukum tuntutan untuk mengambil tahta Pajang sudah berada di luar adat hukum.

Mendengar penjelasan Kanjêng Sunan Kudus, Haryå Pênangsang merasa ditinggal oleh gurunya yang juga pêpundènnya itu.

Dia katakan bahwa tanpa Kanjêng Sunan Kudus berpihak pada Haryå Pênangsang, Jipang Panolan sanggup menghancurkan Pajang asal Kanjêng Kyai Bêtok, keris pusaka Kanjêng Sunan Kudus menjadi sipat kandêl Haryå Pênangsang berdampingan dengan keris pusaka Kyai Brongot Sétan Kobèr miliknya.

Kanjêng Sunan Kudus sudah tidak bisa lagi menghalangi nafsu Haryå Pênangsang untuk merebut tahta Pajang dari tangan Hadiwijåyå.

Sebagai pernyataan bahwa sama sekali Kanjêng Sunan Kudus tidak meninggalkan Haryå Pênangsang maka keris Kyai Bêtok diserahkan kepada Haryå Pênangsang.

Kanjêng Sunan Kudus cuma ingin menyampaikan bahwa Kanjêng Sunan Kudus tidak lagi ikut campur tangan dalam urusan tata negara.

Haryå Pênangsang kecewa merasa ditinggalkan oleh gurunya itu. Namun sedikit terhibur, karena keris sakti Kyai Bêtok milik Kanjêng Sunan Kudus sudah berada di tangannya sebagai sipat kandêl Adipati Jipang.

Dengan memiliki dua pusaka yaitu keris Kyai Brongot Sétan Kobèr dan Kyai Bêtok, meski tanpa dukungan langsung dari Kanjêng Sunan Kudus Haryå Pênangsang merasa kuat untuk menghadapi Pajang.

Karena Haryå Pênangsang juga yakin bahwa tidak satupun para wali yang ikut campur dalam perseteruan antara Jipang dan Pajang.

Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Haryå Pênangsang bahwa disamping Adipati Hadiwijåyå ada tiga tokoh utama murid-murid Kanjêng Sunan Kalijågå, Pêmanahan, Juru Mârtani (kelak adalah Patih Måndåråkå) dan Panjawi. Sedangkan di sisi Haryå Pênangsang cuma ada satu yakni Sumangkar. Ibaratnya Adipati Hadiwijåyå punya tiga jenderal, tetapi Haryå Pênangsang cuma punya satu jenderal.

Usaha melakukan pembunuhan terhadap Adipati Hadiwijåyå oleh Haryå Pênangsang dilakukan dengan aneka cara di antaranya setelah perundingan diplomatis, secara diam-diam oleh Haryå Pênangsang.

Ketika perundingan tersebut mengalami jalan buntu akibat tidak terimanya usul Adipati Hadiwijåyå memberikan Dêmak Bintårå kepada Haryå Pênangsang dan status Dêmak Bintårå sebagai kadipaten dibawah Kadipaten Pajang.

Sangat beruntung bagi Adipati Hadiwijåyå, karena seusai perundingan, menyimpang dulu ke wilayah gunung Dånåråjå Jêpårå untuk bertemu dengan Ratu Kalinyamat yang sedang bertåpå wudå.

Tujuan Adipati Hadiwijåyå berkunjung ke Dånåråjå adalah memenuhi permintaan Kanjêng Sunan Kalijågå untuk menghentikan tåpå wudå Ratu Kalinyamat.

Diharapkan Adipati Hadiwijåyå dapat menghentikan tåpå wudå Ratu Kalinyamat, dan membawa sang Ratu kembali ke Jêpårå untuk memimpin kabupaten Jêpårå yang lama kosong ditinggal bertapa.

Himbauan Adipati Hadiwijåyå kepada Ratu Kalinyamat, bahwa jika Jêpårå dibiarkan kosong, maka dengan mudah Haryå Pênangsang dapat merebut Jêpårå, serta membiarkan Jipang menjadi lebih kuat.

Permintaan Ratu Kalinyamat.

Rombongan Pajang yang pulang lebih awal dari jadwal semula nampak keluar dari kota Kudus. Di sepanjang jalan, seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, senantiasa mempertajam kewaspadaan mereka. Kejadian yang pernah menimpa rombongan Ratu Kalinyamat dulu, membuat mereka lebih siaga dan waspada.

Di sepanjang perjalanan, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Acara peringatan Tahun Baru Islam di Kudus belum juga dilaksanakan, namun rombongan dari Pajang nampak malah pulang lebih awal. Ada apa gerangan?

Ketika belum terlampau jauh dari kota Kudus, mendadak Adipati Hadiwijåyå memerintahkan rombongan berhenti. Perintah yang mendadak ini sedikit mengejutkan seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, tak terkecuali Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Namun, setelah menyadari jika Sang Adipati hanya sekedar ingin beristirahat, keteganganpun mencair.

Nampak Adipati Hadiwijåyå turun dari atas punggung gajah tunggangannya. Beberapa prajurit yang bertugas mengiringi disamping binatang tunggangan bertubuh besar tersebut tanggap dan segera membantu. Melihat Sang Adipati turun, serentak seluruh rombongan-pun ikut turun dari punggung kuda masing-masing.

Daerah tempat mereka berhenti memang sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. Di samping tempatnya yang landai, rimbunnya pepohonan raksasa yang tumbuh di sepanjang jalan, membuat tempat tersebut terasa sejuk menyegarkan.

Bergegas Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan beberapa prajurit mendirikan tenda darurat sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi Sang Adipati. Enam orang prajurit bekerja cekatan, sebentar saja telah berdiri tenda sederhana namun megah. Permadanipun segera dihamparkan di dalam tenda.

Adipati Hadiwijåyå berkenan duduk diatas permadani tersebut. Suasana yang segar. Para prajurit memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejanak. Masing-masing memilih tempat yang rindang. Berpencar walau tetap tidak jauh dari tenda Sang Adipati.

Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani menghadap. Keduanya duduk bersila di depan Adipati Hadiwijåyå. Nampak dari kejauhan, ketiga priyayi Pajang ini tengah berbincang-bincang serius.

Sejurus kemudian, terlihat Ki Agêng Pêmanahan memanggil seorang prajurit. Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan sesuatu. Prajurit yang dipanggil bergegas menghampiri beberapa temannya yang lain, dia nampak memilih-milih, ada sekitar sepuluh orang yang dia pilih. Kemudian mereka menghilang sejenak dibalik gerombol pepohonan dan kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti. Mereka semua melepas pakaian keprajuritan, dan kini telah berganti dengan pakaian rakyat biasa.

Di tempat lain, Adipati Hadiwijåyå diam-diam juga telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Ki Agêng Pêmanahan. Namun anehnya, pakaian kebesaran Sang Adipati, kini malah dikenakan oleh Ki Juru Martani.

Banyak prajurit yang bertanya-tanya. Namun dari bisik-bisik satu teman ke teman yang lain, mereka jadi tahu jika Adipati Hadiwijåyå diikuti oleh Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang terpilih, hendak menuju ke Gunung Dånåråjå untuk menemui Ratu Kalinyamat yang sedang tåpå wudå.

Mereka semua sengaja menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari mata-mata Jipang Panolan yang mungkin tengah memperhatikan rombongan mereka.

Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan kesepuluh prajurit yang kini telah berganti busana, terlihat berangkat meninggalkan rombongan. Kedua belas orang yang telah menyamar ini memacu kuda memisahkan diri dari dari rombongan dan memilih jalan yang menuju ke Jepara.

Agak lama berselang, Ki Juru Martani segera memerintahkan seluruh rombongan siap-siap berangkat. Ki Juru Martani dibantu dua orang prajurit, segera menaiki punggung gajah milik Sang Adipati.
Rombongan Pajang yang kini dipimpin oleh Ki Juru Martani, berangkat kembali ke arah Pajang.

Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan berikut sepuluh orang prajurit yang kini telah menyamar sebagai rakyat biasa terlihat memacu kuda dengan kecepatan sedang. Mereka tengah menyamar sebagai para pedagang keliling.

Akhirnya, sampailah juga kedua belas orang ini ke kota Jepara. Adipati Hadiwijåyå segera mencari letak Gunung Dånåråjå. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh prajurit Pajang yang sempat pulang ke Pajang untuk mengambil perbekalan makanan dan berbagai keperluan bagi Ratu Kalinyamat beserta seluruh yang mengawal dan melayaninya.

Adipati Hadiwijåyå-pun akhirnya berhasil menemukan lokasi goa tempat dimana Ratu Kalinyamat tengah menjalani tåpå wudånya.

Kedatangan kedua belas orang berkuda ini menimbulkan kecurigaan dari beberapa prajurit Pajang yang bertugas menjaga mulut goa. Mereka yang tengah bersembunyi di tempat-tempat tertentu dibeberapa sudut tersembunyi mulut goa, segera mempersiapkan diri.

Sang pemimpin pasukan memberikan isyarat agar memasang anak panah pada busurnya. Anak panah telah terpasang, busur telah diangkat dan direntangkan, siap menunggu isyarat untuk dibidikkan.

Namun sang pemimpin prajurit memekik tertahan manakala tanpa sengaja mengenali dua orang penunggang kuda yang tengah memacu kuda dibarisan depan. Seketika itu juga, dia memberikan isyarat agar menurunkan busur panah. Dia segera keluar dari tempat persembunyian diiringi empat prajurit yang lain.

Menyadari kedatangannya telah disambut sedemikian rupa, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan terus memacu kuda lebih kencang kearah atas. Ketika jarak antara prajurit berkuda dan kelima orang yang telah menyambut sedemikian dekat, Adipati Hadiwijåyå segera menghentikan laju kudanya.

Kelima orang prajurit Pajang yang menyambut rombongan menghaturkan sembah hormat. Adipati Hadiwijåyå segera memerintahkan agar secepatnya seluruh prajurit mencari tempat yang tersembunyi untuk menaruh kuda masing-masing.

Diiringi Ki Agêng Pêmanahan dan diantar pemimpin prajurit penjaga, Adipati Hadiwijåyå segera memasuki goa. Sang pemimpin prajurit memanggil seorang pelayan wanita. Sang pelayan memekik gembira melihat kehadiran Sang Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan. Beberapa pelayan yang lain segera menyadari akan hal itu, mereka semua segera mendekat dan menghaturkan sembah.

Adipati Hadiwijåyå memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menghadap Ratu Kalinyamat, mengabarkan kedatangannya.

67. …. | sang dipati wus atur wêling | lah tå asirå maturå | mring ki êmbok ratu | yèn ingsun iki kang praptå | …..

Seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh memasuki salah satu relung goa. Sejenak kemudian keluar dan menghadap kembali kepada Adipati Hadiwijåyå.

Sembari menyembah dia berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng. Kanjêng Ratu Ayu Kalinyamat meminta Kanjêng Adipati masuk ke dalam. Hanya Kanjêng Adipati seorang, tidak boleh ditemani oleh siapapun.”

Adipati Hadiwijåyå mengangguk. Kemudian berjalan kearah relung goa seorang diri. Di dalam, beberapa pelita terpasang di dinding-dinding goa. Ruang itu cukup luas juga.

Di sana, merapat ke dinding goa, terlihat agak samar, sesosok wanita cantik dengan tubuh sempurna dan rambut hitam panjang terurai, tengah duduk bersila.

Dan yang membuat Adipati Hadiwijåyå segera menundukkan muka, karena menyadari, sosok wanita cantik itu benar-benar telanjang tanpa busana, tanpa sehelai benangpun.

Untung, ruangan dalam goa cukup gelap dan hanya diterangi beberapa pelita, sedikit menyamarkan perwujudan telanjang tersebut.

Namun walau bagaimanapun juga, jika mau melihat secara seksama, Adipati Hadiwijåyå bisa melihat tubuh itu secara utuh.

Tubuh yang sintal, kulit kuning-langsat memutih halus mulus bak pualam, buah dada yang ranum padat membusung kencang, pinggang nan ramping dan paha yang mulus menantang. Rambut panjangnya yang hitam terurai pun tidak mampu menutupi tubuhnya yang telanjang itu.

Lelaki mana yang tidak tergiur melihat pemandangan yang begitu indah dari sosok tubuh perempuan muda, yang cantik jelita telanjang di depan mata.

ånå toêtoêgé

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: