Dongeng Punakawan

On 08/10/2013 at 11:36 punakawan said:

Nuwun,

Mugi pårå sanak kadang tansah pinayungan kawilujêngan, kasarasan, såhå karahayon, pikantuk sihing Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Måhå Asih, kasêmbadan punåpå ingkang dipun gayuh, mugi Gusti Pangéran Ingkang Måhå Wêlas lan Asih tansah hangayomi karahayon dumatêng Panjênêngan sâdåyå.

Tansah waskitå. Tumêmên dêmên tinêmu tansah manêmbah Gusti Ingkang Måhå Agung, tumungkul ngandêling Suksmå tan lirwå trésnå sêsami. Hing siang pantaran ratri. Ingih Padukå

Panjênêngan Gusti Pangéran Ingkang Tansah Hangayomi pårå titah. Gusti Ingkang mBotên Naté Saré.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit
Episode: Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-3).

Dongeng sebelumnya:
Episode: Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-2).

Pada episode sebelumnya, disebutkan bahwa Prof Dr. CC Berg yang mengatasnamakan dirinya sebagai ahli sejarah atau sejarawan Belanda, yang juga seorang filolog, telah menyusun desertasi, yang kemudian dia terbitkan dalam bentuk buku: Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen BKI 83: 1 – 161, diterbitkan oleh: De Bliksem (The Lightning), Soerakarta 1927; dan Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana), yang diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 1928, yang dia sebutkan sebagai menyadur dari naskah asli yang sudah ada sebelumnya.

Namun berdasarkan hasil investigasi secara cemat oleh para sejarahwan, lintas disiplin ilmu sejarah yang melibatkan para filolog, yang tentu juga ahli dalam paleografi para arkeolog, dan antropolog ternyata desertasinya itu “bukan hanya tidak asli, tetapi juga palsu”, karena ia menyadur dari sumber yang tidak pernah ada, tetapi seolah-olah ada, oleh karenanya kita katakan bahwa Kidung Sunda dan Kidung Sundayana, kedua-duanya diragukan keabsahannya sebagai sumber sejarah, yang akhirnya meyakinkan kita dengan pasti, bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi.

Tetapi bagaimana dengan isi kidung-kidung tersebut.
Saya mengajak sanak kadang untuk mencermati hal-hal berikut ini:

Pertama: secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat.

Bila disebutkan bahwa CC Berg yang profesor itu menyadur, maka tentunya ada naskah yang disadur, namun sejauh ini kita tidak pernah mendapatkan informasi keberadaan naskah yang disebut asli, dan yang telah disadur oleh profesor CC Berg itu, boleh jadi sang profesorlah yang menulis Kidung Sunda/Kidung Sundayana itu, yang diakuinya sebagai temuannya dan disebutnya sebagai naskah asli, yang kemudian digunakan sebagai sumber penulisan desertasinya.

Tindakan yang dilakukan CC Berg, bila demikian adanya, maka patut dikatakan bahwa sang profesor CC Berg telah memalsukan bukti sejarah.

Kedua: di dalam teks kidung-kidung disebut-sebut tentang penggunaan senjata api, suatu hal yang sangat janggal, sebab orang-orang Nusantara baru mengenal senjata api dan mesiu, kurang lebih dua abad setelah era Hayam Wuruk, yakni sekitar abad ke-16.

Ketiga: dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana ternyata tidak disebutkan dengan jelas nama raja Sunda, nama ratu/permaisuri, dan nama putri raja. Kidung Sunda hanya menyebutkan bahwa tokoh-tokoh dari Kerajaan Sunda Galuh adalah: Raja Sunda, Permaisuri dan Putri Raja, tanpa menyebutkan nama jelas dan lengkap.

Berbeda dengan tokoh-tokoh dari fihak Kerajaan Majapahit, nama dan jabatannya disebutnya dengan lengkap, seperti Hayam Wuruk adalah Raja Majapahit, Gajah Mada Mahapatih Majapahit, demikian seterusnya.

Pencantuman nama raja Sunda, nama ratu/permaisuri, dan nama putri raja, sengaja diambil dari sumber sejarah lain, yang bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut.

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), naskah ini kini masih disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University London Inggris sejak tahun 1627; dan Naskah Wangsakerta (yang kontroversial; naskah yang oleh beberapa sejarahwan diragukan keasliannya serta diragukan sebagai sumber sejarah), sedikit menceritakan pesekutuan Sunda dan Galuh dan raja-raja yang memerintah, maka disebutlah pada tahun 1350 sd 1357 bertahta di Kerajaan Sunda Galuh Sang Prabu Maharaja Linggabuanawisésa, yang mempunyai putri berparas cantik bernama Sang Dyah Ratna Ayu Pitaloka Citra Rashmi.

Keempat: Jumlah kapal laut yang digunakan raja Sunda Galuh ketika ke Majapahit.

Kidung Sunda Pupuh I Sinom, mengabarkan:

Teu lila ti harita rombongan karajaan Sunda angkat diiring ku rombongan nu loba pisan: dua réwu kapal kaasup kapal laleutik.

(Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah duaribu kapal, berikut kapal-kapal kecil).

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan Kidung Sunda di atas, salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari kerajaan Sunda Galuh.

Rombongan itu memakai armada kapal dengan jumlah keseluruhan armada itu sekitar 2.000 buah kapal, terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar dan kapal dalam ukuran kecil.

Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan kapal, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang mengalami masa perdamainya hingga ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan kapal dan pencapaian tehnologinya, akan sangat dimungkinkan.

Kapal-kapal itu bisa jadi hasil usaha dengan cara membeli dari negara lain, seperti yang diungkapkan bahwa kapal-kapal besar yang digunakan mirip dengan kapal-kapal yang dipakai oleh tentara Mongol pada waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang. Kerajaan Kediri sendiri asalnya kerajaan Singosari tapi direbut kekuasannya oleh Jayakatwang dari sepupu, ipar atau besannya sendiri yaitu Sri Kertanegara.

Kerajaan Sunda Galuh sebelumnya sudah mempunyai hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan dari Sumatera yaitu Sriwijaya, yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, selain itu ditambah lagi dengan pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal-kapal sejumlah itu, karena kerajaan Sunda Galuh adalah kerajaan yang kaya dan makmur.

Kapal nu dianggo ku kulawarga raja Sunda nyaéta “kapal-jung Tatar nu ilahar dipaké satutasna perang Wijaya” Ngan nalika naraék kapal, aranjeunna ningal kila-kila nu teu pihadéeun. (Bait 1. 43a).

[Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “kapal-jung Tatar seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk]. (Bait 1. 43a).

Catatan:

Yang dimaksud dengan Tatar adalah Tartar, Daratan Mongol atau Cina; sedangkan kapal jung Tatar adalah sejenis kapal yang dipakai oleh pasukan Kubilai Khan pada tahun 1293M ketika menyerbu Jawa.

Sama dan sejenis dengan kapal-kapal yang dipakai oleh Laksamana Cheng Ho ketika menjelalah dunia.

Kapal ini mempunyai panjang sekitar 400 feet atau kurang-lebih 120 meter dan lebar 160 feet atau sekitar 50 meter. Kapal tersebut memiliki sembilan buah layar.

Bandingkan dengan kapal “Santa Maria” yang dipakai Columbus ketika berlayar mencari benua baru Amerika.

Kapal Santa Maria itu diyakini sebagai caravel bertiang tiga yang dengan panjang 95 kaki (30 meter). Beratnya 100 ton dengan jarak permukaan air laut (draft) 6 kaki (18 meter) dan mengangkut 40 orang awak kapal. Kapal tersebut memiliki lima buah layar.

Dapat dibayangkan bahwa kapal rombongan Raja Sunda empat kali lebih besar daripada kapal Columbus. (120m berbanding dengan 30 m).

Kapal sebanyak 2.000 itu adalah suatu jumlah yang luar biasa banyaknya untuk ukuran di masa itu.

Berapa jumlah orang dalam masing-masing kapal? Berapakah jumlah orang-orang dari Kerajaan Sunda Galuh yang melakukan muhibah ke Majapahit.

Kita tidak tahu pasti, kita bandingkan saja bahwa jika kapal Santa Maria mengangkut empatpuluh orang awak kapal, maka kita asumsikan saja, setiap kapal rombongan Raja Sunda Galuh memuat empat kali lebih banyak daripada awak kapal Santa Maria, yaitu berisi 160 orang berarti sekitar 320.000 orang pasukan bersenjata yang mengiringi rombongan pengantin Sunda itu bila dihitung secara kasar dari jumlah kapal mereka.

Ini tentunya suatu jumlah yang sangat besar pada waktu itu, hanya untuk sebuah acara pernikahan, meskipun suatu acara pernikahan agung.

Bila kemudian dikatakan bahwa pasukan Majapahit jauh lebih banyak daripada rombongan Raja Linggabuana, berapakah jumlah tentara Majapahit?

Asumsi lain, perang yang terjadi adalah perang antar pasukan bersenjata. Perang ini bukan antara prajurit Majapahit dengan rombongan sipil Sunda tanpa senjata, mengingat begitu banyaknya pasukan yang dibawa dari Kerajaan Sunda Galuh.

Kidung Sunda menyebutkan bahwa ketika rombongan Sang Prabu Linggabhuana dari Sunda Galuh menuju ke Majapahit, kapal-kapal dari Kewrajaan Sunda berlabuh di kota bandar, kota dimaksud adalah Canggu.

Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas tanah lapang yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan. Tanah lapang itulah Lapangan Bubat.

Kidung Sunda tidak menyebutkan secara spesifik letak kota Canggu tempat berlabuhnya kapal-kapal rombongan Raja Sunda.

***

Dongeng Menggugat Perang Bubat, saya hentikan sejenak, untuk mendongengkan terlebih dahulu letak geografis kota Canggu yang diduga tempat bersandarnya kapal-kapal Raja Sunda Galuh (jika benar-benar pernah terjadi).

Informasi kota Canggu dapat kita peroleh dari Serat Pararaton, yakni ketika Ranggawuni, anak Anusapati membangun sebuah kota:

Serat Pararaton Bagian IV : 18 mengabarkan:

Bhatâra Wisnuwardhana angadegaken kuta ring Canggu Lor, i çaka 1193.

[Batara Wisnuwardana mendirikan kota di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç].

Selanjutnya digambarkan bahwa Kota Bandar Canggu terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

Batara Wisnuwardhana adalah gelar abhiseka Ranggawuni, anak Anusapati yang ketika bertahta menjadi raja di Kerajaan Singasari dari tahun 1248 sd tahun 1268, dengan gelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana, seperti yang diberitakan oleh prasasti Maribong (prasasti Trowulan II), yang diterbitkan olehnya pada tahun 1264M.

Sebuah prasasti lain tahun 1264M, yang terbuat dari tembaga yang kini tersimpan di musium Frankfurt am Main Jerman, menerangkan bahwa Bhattãra Jaya Srí Wisnuwarddhana bersama Bhatãra ring Singhanãgara memerintah Singosari, pada bagian yang sama Serat Pararaton mengabarkan:

Tumuli sira Ranggawuni angadeg ratu. Kadi naga roro saleng lawan sira Mahisa Campaka.

[Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti Sepasang Ular Naga di dalam Satu Sarang (SUNdSS)].

Ki Dalang SH Mintardja telah dengan apik mendongeng kedua tokoh ini pada serial Pelangi di Langit Singosari dalam episode SUNdSS.

Seperti yang dicatat dalam sejarah Singosari, bahwa hanya dua raja Singosari yang menerbitkan prasasti, yaitu Seminingrat dan Kertanegara, yang menunjukkan bukti kesejarahan mereka.

Ada maksud apa Ranggawuni (menurut Pararaton), atau Wisnuwardhana (menurut Pujasastra Nāgarakṛtāgama dan Prasasti Maribong/Trowulan II ), atau Seminingrat (menurut prasasti Mula Manurung) membangun kota bandar baru, menjauhi perairan bebas Laut Jawa, yang justru di pedalaman mengikuti daerah aliran sungai (DAS) Brantas.

Tetapi bukankah Singasari sudah memiliki pelabuhan yang dibangun sejak jaman Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa atau Mpu Sindok sebagai raja pertama Kerajaan Medang (Mataram Lama atau lebih dikenal dengan sebutan Mataram Hindu) periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929 sd 947, pelabuhan itu adalah Pelabuhan Jedung.

Pelabuhan Jedung diyakini sebagai pelabuhan yang digunakan dan dikembangkan semasa Prabu Jayabhaya yang bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa yang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan Prabu Jåyåbåyå bertahta di Kadiri, yakni pada saat beliau mempersatukan dua kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala dalam kekuasaannya pada tahun 1135M. Peninggalan sejarahnya berupa Prasasti Hantang (1135), Prasasti Talan (1136), dan Prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayudha (1157).

Banyak hal yang dikerjakan oleh Sepasang Ular Naga di Satu Sarang. Penulis Pararaton mewartakan tentang pembangunan pelabuhan di Canggu yang terletak di utara kotaraja, di tepian Bengawan Brantas, mengingat pelabuhan lama kerajaan Tumapel Yortan perlu dicarikan penggantinya.

Mengapa ????

Canggu dibangun untuk membuka keterpencilan ibukota Kuthåråjå, memperluas wilayah politis dan perdagangan. Sebagai kota pelabuhan, sekaligus benteng pertahanan terhadap musuh.

Tetapi ada alasan yang lebih dapat diterima, dan ini dicacat dalam sejarah, bahwa Canggu dbangun karena kota pelabuhan lama rusak akibat bencana alam: ‘trasi muncrat’ ala Dongèng Timun Êmas, atau ala ‘lêndhut bêntèr trasi’nya Jêng LuSi (Lumpur Sidoarjo) Lapindo yang muncrat di masa kini.

[Lha trus kelingan Ki Gembleh “part 1” yang di laladan Lêndhut Bêntèr; sebab yang Ki Gembleh “part 2” sudah hijrah ke nDepok].
:)

Sejarah nampaknya berulang.

Peristiwa ‘lêndhut bêntèr trasinya Jeng Lusi Lapindo’ yang muncrat di jaman modern sekarang ini, ternyata pernah dan sering terjadi di abad-abad silam.

Sebut saja, berita yang ditulis di Prasasti Kelagyan. Kelagyan adalah nama desa Kelagen (sekarang di utara Kali Porong). Menurut Prasasti Kelagyan (atau Prasasti Kamalagyan) yang dibuat semasa Prabu Airlangga, dengan candrasengkala 959Ç atau 1037M.

Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk.

Prabu Airlangga segera memerintahkan membuat bendungan untuk mengatur kembali daerah aliran sungai Brantas, untuk pengairan sawah-sawah dan mengurangi bahaya banjir.

Sang Prabu Airlangga membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa aliran sungai Brantas kembali mengalir ke utara.

Berpindahnya daerah aliran sungai (DAS) Brantas inilah yang disebut sebagai bencana “pabanyu pindah” dalam Serat Pararaton.

Demikian juga Serat Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar”, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal.

Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan ‘lêndhut bêntèr trasi’nya Jeng LuSi (Lumpur Sidoarjo) Lapindo yang muncrat itu, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

Secara struktural aktivitas deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng Timur-Selat Madura masih sedang menurun.

Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption. Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.

Peristiwa tersebut kembali terjadi di jaman Singasari semasa Prabu Wusnuwardhana bertahta di kerajaan tersebut, itulah sebabnya Sang Prabu membangun kota bandar baru di Canggu; kemudian ketika Hayam Wuruk lahir, dan ketika Majapahit menjelang keruntuhannya, dan sekarang di jaman modern ini, di tempat yang sama atau paling tidak berdekatan, sebagaimana telah diuraikan di atas karena kondisi alamnya yang labil; dan demikianlah nampaknya peristiwa itu akan terulang kembali.

Cuma ada bedanya antara ‘lêndhut bêntèr trasi’nya Jeng LuSi (Lumpur Sidoarjo) Lapindo masa kini dengan ‘lêndhut bêntèr trasi’ masa lalu?

Åpå hayooooo?????

***

Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po, dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya. Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Tanah Jawa semasa Kerajaan Kadiri (Panjalu).

Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris: Records of Foreign Peoples, atau Gazetteer of Foreigners (Catatan Negeri-negeri Asing) pada tahun 1225. Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tu-ma-pan.

Kronik Cina tersebut mengabarkan, bahwa kerajaan di Tanah Jawa yang terkenal adalah Pui Chi Lung. Disebutkan bahwa perdagangan antara Cina dan Pui Chi Lung telah berkembang pesat. Pui Chi Lung banyak mengekspor hasil bumi dan hasil hutan ke Cina.

Tentang perdagangan ini selanjutnya Chou Ku Fei menulis: “Di antara negara-negara asing yang kaya, yang di tepi pelabuhannya mempunyai gudang-gudang berisi berbagai macam barang-barang yang sangat berharga adalah Pui Chi Lung.
Kekayaannya hanya bisa ditandingi oleh negara Ta Shi; adapun San Fo Tsi belum bisa menyamai keduanya; kemudian baru yang lainnya
.”

Keterangan transliterasi Cina:

She Po, adalah Tanah Jawa atau Pulau Jawa;
Tu-ma-pan, adalah Kerajaan Tumapel;
Pui Chi Lung, nama tempat di Jawa: Panjalu.

Pada waktu itu Panjalu dan Janggala telah bersatu kembali berkat kemenangan Prabu Jayabhaya pada tahun 1135. Pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasi oleh Panjalu.

Ta-shi, negara di Timur Tengah, diyakini Ta-shi adalah Arab; mengingat dalam tulisan selanjutnya disebut “raja Ta-shi” yang bernama Han-mi-mo-mi-ni mengirimkan utusan ke istana Cina. Boleh dipastikan bahwa nama ini adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin , gelar resmi para khalifah Islam.

Sedangkan San Fo Tsi atau sering juga disebut Shih-li-fo-shih adalah Suwarna Bhumi atau Sumatra, yaitu Sriwijaya.

Yang unik dalam pemberitaan Chou Ku Fei adalah perilaku para pedagang dan penjabat kerajaan baik Cina maupun Panjalu.

Chou Ku Fei menulis, bahwa telah ada suatu ketentuan dari penguasa kerajaan Cina, bahwa para pedagang Cina dilarang berdagang dengan Panjalu, dengan sebab yang tidak jelas; tetapi karena para pedagangnya dan para pejabatnya sudah berkolusi dan korup, maka perdagangan dari dan ke Panjalu didiamkan.

Laporan yang dibuat oleh para pedagang Cina kepada pemerintahnya menyebutkan bahwa mereka berlayar ke wilayah selatan kerajaan sampai ke negara Sukitan, tanpa menyebut nama Panjalu.

Chou Ku Fei tahu bahwa Sukitan dan Pui Chi Lung atau Panjalu adalah negara yang sama dengan nama berbeda.

Sehingga para pedagang itu telah menipu pemerintah kekaisaran Cina, dan sudah barang tentu laporan itu telah dimanipulasi oleh para pedagang dengan sepengetahuan para pejabat kerajaan yang korup.

Yang ingin punåkawan dongengkan di sini sebenarnya adalah tentang keberadaan dan letak geografi Pelabuhan Jedung, sedangkan dongeng tentang kolusi, korupsi, suap dan mungkin nepotisme atau KKN di atas sekedar mengingatkan, bahwa “makhluk” KKN itu sudah pernah “hidup” di abad ke-12 sampai sekarang.

Korupsi, dan suap?. Persis seperti yang dilakukan oleh tersangka penerima suap si Akil Achmad yang Ketua Mahkamah Konstitusi, bersama “kroninya” The Dynasty van Banten, yang ramai akhir-akhir ini.

(“Kagak adé matinyé” katé Bang Somad’s, — nulisnya harus pakai ‘s –, Bang Somad’s yang dagang karedok, es campur, goreng-gorengan dan bajigur, di halaman samping masjid pondokku, dekat rumah).

Chou Ku Fei selanjutnya mengabarkan bahwa pelabuhan tempat bersandarnya jung, perahu dan kapal-kapal para pedagang adalah Pelabuhan Yau Toung atau sering disebut juga Pelabuhan Yortan, tidak lain adalah Pelabuhan Jedung.

Dibelakang pelabuhan ada gunung yang menjulang tinggi disebut dengan nama Gunung Pau Lau An dengan satu puncak utamanya yang dikeleilingi oleh empat puncak lainnya dan selalu tertutup kabut. Gunung Pau Lau An ini digunakan sebagai kompas atau pedoman untuk perahu-perahu yang akan masuk pelabuhan. Gunung Pau Lau An adalah Gunung Penanggungan.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan (tinggi 1659 meter dpl. terletak di utara Gunung Arjuno-Welirang), adalah sebuah gunung yang penting.

Kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat-nadikan Sungai Brantas, kerajaan-kerajaan itu ibaratnya bersandar mengelilingi Gunung Penanggungan, Kahuripan, Jenggala, Daha, Tumapel/Singosari dan Majapahit.

Gunung Penanggungan sering dijadikan ajang strategi perang, setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan-kerajaan itu. Airlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru.

Gunung Penanggungan dijadikan tempat untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Airlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Airlangga di Jalatunda.

Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam-makam yang dikeramatkan ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus-ratus tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya indah-permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan-kerajaan ini nampaknya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Pada penutup wedaran kali ini, Punåkawan sertakan lukisan Peta Pusat Kerajaan Majapahit — dugaan letak Kota Bandar Canggu dan Pelabuhan Lama Jedung dan sekitarnya — sebagai ilustrasi.

Uraian di atas menyisakan pertanyaan: Jika dikabarkan bahwa seluruh rombongan Sunda Galuh tewas dalam pertempuran Bubat, bagaimana nasib 2000 kapal-kapalnya. Apakah dibakar kemudian ditenggelamkan? Di mana?.

Bagaimana sebenarnya?

Nah, sanak kadang, pada episode selanjutnya, saya mengajak sanak kadangku semuanya untuk menuju ke TKP Lapangan Bubat dan Bandar Canggu.

Pusat Kerajaan Majapahit

Mohon menunggu episode berikutnya.

ana toêtoêgé

Dongeng selanjutnya:
Episode: Pasunda Bubat — Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-4)

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: