Dongeng Punakawan

On 28/09/2013 at 08:13 punakawan said:

Nuwun,

Sugêng énjang, pårå sanak kadang hing Tlatah Nusantårå. Sunaré Sang Bagaskårå sampun wontên sagéntèr inggilipun. Sunaré damêl råså angêt. sunaré srêngéngé ésuk hang dianti-anti.
Sampun Wayah Gumatêl, dungkap Wayah Pêcat Sawêt.

Mugihå Gusti Hang Purwå Madyå Wasånå ing Dumadi tansah paring kanugrahan dumatêng sanak kadang sadåyå, wilujêng saking godå pangrêncananing pårå drupikså, kalis ing sambékålå, sagêdå ambirat påpå nisthå sêngkalaning gêsang.

Duh Gusti Hang Måhå Ngrangcang Lêlakon. Nyuwun sih kawêlasan Padukå.

***

Dongeng buat temen dan sangu di malem Minggu:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit
Episode: Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat -(Parwa ka-2)

Dongeng sebelumnya:
Episode: Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-1).

Langkanya catatan historis dari peristiwa Bubat menimbulkan banyak tanda tanya yang berujung pada munculnya berbagai spekulasi yang melahirkan berbagai macam cerita bersifat historiografi ataupun menimbulkan cerita-cerita legenda yang asal-usulnya tidak jelas, seperti cerita tutur bahwa Gajah Mada berasal dari Sunda Galuh, kemudian cinta yang terpendam Gajah Mada terhadap Dyah Pitaloka, dan bahkan kisah saling cinta-mencintai antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Tragedi kisah cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka yang menimbulkan Perang Bubat.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa duka dan luka.

Adalah seorang putri sekar kedaton Kerajaan Pasundan Galuh Dyah Ayu Pitaloka Ratna Çitraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok Nusantara, ia adalah gadis dewasa yang manja, elok rupawan dan cantik jelita.

(Mengapa putri raja selalu digambarkan cantik dan manja?).
Untuk sanak kadang para mentrik:
@ Nyi/Ni Miss Nona, Cika, Pandanwangi, Larasati, kira-kira bisakah memberikan jawaban atas pertanyaan di atas ?

***

Dyah Ayu Pitaloka Ratna Çitraresmi menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara Sunda Galuh dan Majapahit.

Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya.

Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Sanisçara, Sang Juru Sungging Prabangakara.

Sanisçara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun, melalui lukisan.

Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena kedudukan serta kasta yang berbeda.

Tetapi bagaimanapun juga Prabu Hayam Wuruk adalah raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinyalah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan.

Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama?

Berdasarkan ini, wajar jika putri Sunda yang cantik itu mengambil patrem dan menikam dadanya sendiri.

Aranjeunna kalintang ngarasa sedih,
lajeng nelasan manéh,
sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang
lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina.

[Mereka bersedih hati
dan kemudian bunuh diri.
Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang
dan melakukan bunuh diri bersama di atas jenazah-jenazah suami mereka.]

(Kidung Sunda pupuh II Durma)

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama.

Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak.

Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancah politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan Islam Dêmak Bintårå.

Perang Bubat adalah peristiwa sejarah yang menjadi kontroversi di antara budaya Sunda dan Jawa, dan melahirkan berbagai prasangka di antara keduanya.

Mengapa rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Bubat, Majapahit, untuk mengantar Putri Dyah Pitaloka menjadi istri Prabu Hayam Wuruk, diserang pasukan Majapahit yang bersenjata lengkap?

Peran Mahapatih Gajah Mada dalam tragedi itu juga menjadi bahan perdebatan.

Apakah insiden itu disebabkan ambisinya untuk menyempurnakan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dengan menaklukkan Sunda?

Ataukah ia sebenarnya hanya dikambinghitamkan oleh orang-orang yang dengki atas ketenarannya?

Ataukah di antara Dyah Pitaloka dan Gajah Mada pernah terjalin hubungan asmara?

Mengabaikan pembenaran legenda semacam itu, dalam aspek kesejarahan langkanya catatan-catatan historis tentang peristiwa tragis di Bubat, telah menimbulkan sejumlah pertanyaan yang tidak mudah dijawab seperti berapakah sesungguhnya jumlah rombongan dari Kerajaan Sunda yang gugur dalam peristiwa tersebut?

Adakah para menak bangsawan Sunda atau prajurit Sunda yang mengiringi Raja Sunda masih hidup setelah peristiwa tersebut?

Didharmakan di manakah jenazah Raja Sunda beserta permaisuri dan putri serta para pengiringnya?

Benarkah Prabu Hayam Wuruk menderita sakit yang akhirnya pralaya beberapa hari setelah peristiwa Bubat.

Itulah sedikit dari sekian banyak misteri Perang Bubat.

Pada episode sebelumnya, telah saya uraikan bahwa Kidung Sunda dan Kidung Sundayana diduga ditulis pada abad ke-16. tetapi muncul fakta baru yang sangat mengejutkan, bahwa Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang konon diberitakan ditulis pada abad ke-16 itu, ternyata “baru” ditulis pada tahun 1927 !!!); lebih tepatnya disadur dari ‘naskah asli’ oleh seorang penulis Belanda: Prof Dr. CC Berg.

Prof Dr. CC Berg yang mengatasnamakan dirinya sebagai ahli sejarah atau sejarawan Belanda, yang mengangkat topik perang Bubat sebagai bahan disertasinya di tahun 1927-1928, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku: Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen BKI 83: 1 – 161. [Kidung Sunda. Pendahuluan, teks, terjemahan dan dibuat catatan kantor BKI 83: 1 sampai 161.] yang diterbitkan oleh De Bliksem (The Lightning), Soerakarta pada tahun 1927; dan Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). [Pengantar Studi Jawa Kuno (Kidung Sundāyana)], dan yang diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 1928. serta Penulisan Sejarah Jawa, berupa terjemahannya yang baru diterbitkan oleh Bhratara Jakarta pada tahun 1985.

Disebutkan dalam desertasinya itu, bahwa dia menyadur dari sumber sejarah sebelumnya yang ia sebut sebagai naskah asli, namun sampai halaman terakhir desertasinya itu, dia tidak pernah menyebutkan keberadaan naskah asli yang ia maksud, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak pernah meng”copy-paste”, karena naskah yang disebut asli itu dipastikan tidak pernah ada, tetapi ada rekayasa yang dilakukan olehnya yang menjadikan seolah-olah naskah itu ada.

Apa motif C.C Berg mengcopy-paste, bersusah payah menerbitkan desertasinya yang seolah-olah mendukung isi naskah yang dia sebut ada.

Pengkisah (boleh jadi sang profesar) perang Bubat ini bertujuan untuk memberikan dasar sejarah bagi publik bahwa telah terjadi persetruan antara dua kerajaan besar yaitu kerajaan Majapahit yang mewakili masyarakat suku Jawa, dan kerajaan Sunda Galuh, yang mewakili masyarakat suku Sunda, dengan cerita yang diberikan sisi emosional dan sentimentil untuk membentuk dan menimbulkan efek karakter balas dendam, rasa benci, dan permusuhan antar suku dengan tujuan memberikan opini publik bahwa telah terjadi kecurangan dari salah satu pihak.

Kitab Kidung Sunda dan kitab Kidung Sundayana seolah-olah dibuat untuk menguatkan peristiwa atau kisah perang Bubat yang diciptakan seolah-olah pernah terjadi.

Pertanyaannya adalah apakah kitab-kitab itu dokumen asli atau terjemahan atau sesuatu yang dibikin baru untuk menguatkan desertasinya?

Kalau kitab itu terjemahan harus ada bukti kitab aslinya. Apa motif C.C Berg menerjemahkan dan menerbitkan kitab-kitab itu yang seolah-olah mendukung ‘temuannya’ dengan lebih detail atau khusus menceritakan kisah perang Bubat?

Sanak kadang tentu masih ingat sejarah lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang diikrarkan oleh para pemuda Indonesia di Weltevreden.

Pada saat itu untuk pertama kalinya istilah Indonesia dipergunakan dalam hubungan dengan persatuan bangsa, maka ketika Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut menghasilkan teks Sumpah Pemuda, di dalamnya tercantum nama Indonesia, yang pada waktu itu mereka masih menggunakan nama-nama organisasi yang bersifat kedaerahan, seperti: Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pagojoeban Pasoendan, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi.,

Bagaimana upaya penjajah Belanda melalui berbagai cara untuk membendung upaya para pemuda Indonesia, agar pemuda-pemuda itu terpecah belah dan tidak bersatu.

Salah satunya adalah melaui buku yang ditulis oleh sang profesor CC Berg ini.

Peristiwa yang melatar belakanginya tiada lain yaitu runtutan sejarah yang mengarah kepada peristiwa “Sumpah Pemuda 1928”, para pelaku sejarah sumpah pemuda tentunya merencanakannya jauh-jauh hari, bukan sekonyong-konyong timbul pada tahun 1928, tetapi sudah direncanakan sebelumnya.

Tentunya para inteljen dari penguasa penjajah Belanda pada waktu itu, sudah mengetahui dan mengidentifikasi rencana-rencana dari para pelaku Sumpah Pemuda 1928, makanya dibuatlah propaganda untuk menggagalkan rencana besar Sumpah Pemuda tersebut.

Sumpah Pemuda adalah bentuk ancaman terbesar bagi para penjajah Belanda, dalam melangsungkan terus masa kekuasaannya atas wilayah-wilayah jajahannya.

Salah satu caranya yaitu dengan membuat alat media publikasi dengan menerbitkan kitab Kidung Sunda dan kitab Kidung Sundayana, targetnya untuk memecah belahan suku Sunda dan Suku Jawa, yang telah teridentifikasi sebelumnya.

Perhitungan penjajah bahwa kekuatan persatuan utama persatuan Nusantara terletak pada kedua suku tersebut, sebagai suku yang terbesar dalam jumlah.

Jika kedua suku ini bergabung dalam satu ikatan maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan kekuasaan penjajah.

Motifnya sangat jelas, yaitu menggagalkan rencana Sumpah Pemuda 1928, yang sudah digagas jauh-jauh hari.

Kedua sumber sejarah tersebut, berdasarkan hasil investigasi secara cemat oleh para sejarahwan, lintas disiplin ilmu sejarah yang melibatkan para filolog, arkeolog, dan antropolog ternyata keduanya diragukan keabsahannya sebagai sumber sejarah.

Karena menyadur dari sumber yang tidak pernah ada, tetapi seolah-olah ada maka isi desertasinya itu “bukan hanya tidak asli, tetapi juga palsu, hal inilah yang akhirnya meyakinkan kita dengan pasti bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi.

Tetapi apakah dengan demikain C.C. Breg yang notabene mengatasnamakan ahli sejarah atau sejarawan Belanda dengan begitu mudahnya mengangkat topik perang Bubat hanya berdasarkan cerita dari ‘naskah asli’ yang tidak pernah ada sebagai bahan disertasinya tahun 1927-1928, layakkah disebut ahli sejarahwan yang independen dan bisa dipercaya.

***

Ada satu hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata buku yang saya sebut sebagai ‘copy-paste’ Kidung Sunda dan Kidung Sundayana itu tidak hanya satu, paling tidak ada dua versi, yang satu menggunakan bahasa Sunda Jawa Pertengahan yang tata bahasanya tak terstruktur dengan baik, sedangkan yang satu berbahasa baku, struktur bahasanya bagus, lebih rinci dan lebih lengkap.

Keduanya dianggap sebagai dokumen negara, keduanya adalah naskah sejarah baik bagi Majapahit dan Sunda Galuh, tetapi mungkinkah ada dua naskah yang serupa tapi tak sama?

Sekedar pembanding:

Sanak kadang saya ajak sejenak menyelusuri dokumen fakta sejarah lahirnya Orde Baru 1966, yakni Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang biasa disebut dengan Supersemar.

Supersemar yang kita kenal dari buku-buku sejarah adalah berupa foto-copy dari dokumen yang aslinya (bagi kita sebagai orang awam) tidak pernah tahu.

Dokumen “asli” Supersemar kini disimpan di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), ternyata Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu ada tiga versi:

Versi Pertama, yakni dokumen yang berasal dari Sekretariat Negara. Dokumen berupa surat itu terdiri dari satu lembar, berkop Burung Garuda Pancasila di sisi kiri atas surat, tepat di tengah atas surat Lambang Kepresidenan berupa Bintang Segi Lima dilingkari Padi Kapas tercetak di bawahnya kalimat: Presiden Republik Indonesia, dan diketik rapi.

Pada Buitr Ke III isi surat diketik:
Untuk: Atas Nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi
1. dstnya
2. dstnya

Pada penutup surat tertera tanda tangan beserta nama: Sukarno (Ejaan Soewandi).

Versi Kedua, berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda Pancasila di sisi kiri atas surat, tepat di tengah atas surat Lambang Kepresidenan berupa Bintang Segi Lima dilingkari Padi Kapas tercetak di bawahnya kalimat: Presiden Republik Indonesia.
Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran.

Pada isi surat tidak ada kalimat seperti tersebut pada versi I diatas. Penandatangan surat, jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno (ejaan Van Ophuijsen).

Versi Ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan.

Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.

Versi lainnya adalah kesaksian yang pernah disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Andersen, oleh seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor.

Tentara tersebut mengemukakan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas Besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan.

Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan.

Kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tidak hanya seputar keberadaan (fisik) surat itu, namun juga soal isinya.

Tiga versi Supersemar yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara isi memang sama, yakni perintah untuk mengamankan negara. Namun, bagaimana tafsir atas isi surat tersebut?

Hal ini tentunya bukan pada tempatnya untuk didongengkan di sini.

Jadi. Jangankan naskah atau dokumen sejarah yang ditulis pada abad ke-16 (kalau asli), atau sudah berumur hampir satu abad (1927 – 2013), sedangkan yang belum setengah abad saja (1966 – 2013), sudah menimbulkan kontroversial.

ana toêtoêgé

Sampurasun, sampurna ati ingsun.

Dongeng selanjutnya:
Episode: Pasunda Bubat — Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-3)

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: