Dongeng Punakawan

On 24/09/2013 at 20:08 punakawan said:

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit

Episode: Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat – (Parwa ka-1)

Dongeng sebelumnya:
Episode: Pasunda Bubat — Pasca Perang Bubat — On 20/09/2013 at 17:01

Sebelum dongeng Pasunda Bubat – Menggugat Perang Bubat, Punåkawan wanti-wanti kepada sanak kadang semuanya, bahwa Perang Bubat adalah masalah yang sangat sensitif, terutama bila menyangkut semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Menggugat Perang Bubat. Mengapa harus digugat, ada sangkut-paut apa dengan Kesultanan Mataram (d/h Kepanembahanan Mataram era Sénåpati Ing Ngalågå).

***

Bubat merupakan nama tempat di Majapahit, yang selalu menimbulkan luka emosional.

Banyak teori tentang Peristiwa Bubat ini. Para sejarahwan mempunyai argumen sendiri-sendiri tentang temuannya yang mendukung teorinya, yang sudah pasti teori-teori itu dapat berbeda antara yang satu dan yang lain.

Perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling berseberangan bahkan dapat menimbulkan pertentangan.

Atas perbedaan yang terjadi inilah diperlukan sikap yang dewasa, harus berusaha untuk tetap memegang teguh semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang tinggi, menjauhkan rasa emosional yang dapat menimbulkan kembali luka lama.

Tidak seperti di blog lain yang sempat punåkawan baca.

Silakan ketik pada mesin pencari Google: “Perang Bubat”, sanak kadang akan menemukan berbagai macam tulisan Perang Bubat, namun bila disimak isi tulisannya, terutama tulisan para komentator, sungguh membuat saya terperangah.

Para penulis pada blog-blog tertentu itu, dengan keegoannya menulis dengan gaya bahasa yang vulgar, mencaci, mencela pada etnis tertentu yang disebutnya sebagai penyebab terjadinya Perang Bubat, demikian juga halnya dengan beberapa komentator yang menuliskan komentarnya dengan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak pantas ditulis, caci-maki, kebencian pada tokoh tertentu dengan kemarahan yang amat sangat, suatu sikap yang menunjukkan pada suatu pandangan yang sangat dangkal dan sempit, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kepada sanak kadang padepokan, hendaknya bertindak lebih dewasa, lebih mengkedepankan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, yang rasa-rasanya di akhir-akhir ini perjalanan bangsa ini semakin hari semakin rapuh. Tetapi semoga tidak demikian halnya.

Mugia sadaya aya dina ginanjar kawilujêngan.
Jåyå-jåyå wijayanti rahayu nir sambékålå.

Rampès .

Sumånggå

***

Pada wedaran ini, saya melakukan kajian, menelisik dengan melakukan investigasi melalui dan berdasarkan data, bukti-bukti sejarah dan cerita-cerita rakyat yang beredar di masyarakat, serta dari berbagai pendapat para sejarahwan, terutama dengan para ahli di bidangnya masing-masing, seperti filolog, arkeolog, dan antropolog.

[Sekedar pengetahuan, bahwa dalam ilmu sejarah dapat dikelompokkan berbagai disiplin ilmu.

Ilmu sejarah, adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia. Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.

Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, seperti kitab babad atau klidung yang ditulis di permukaan rontal, daun nipah atau daluwang, mempelajari juga gaya bahasa, gaya dan bentuk tulisan.

Sedangkan Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa:

a. artefak (budaya bendawi, seperti prasasti, lempeng logam: emas, perak, tembaga, perunggu berinskipsi, atau berakasara; cepuk, topeng, patung, celengan, kapak batu dan bangunan candi);

b. ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil);

c. fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (eksskavasi) arkeologis.

Adapun Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.]

Yang saya paparkan berikut ini adalah pendapat dan teori para sejarahwan, dan tentunya mereka mempunyai argumen sendiri-sendiri untuk mendukung pendapatnya, yang sudah pasti teori-teori itu dapat berbeda antara arkeolog yang satu dan arkeolog lainnya.

Perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling berseberangan bahkan dapat pula menimbulkan pertentangan.

Cara pandang terhadap peristiwa Bubat yang berbeda dari para ahlinya itu tidak perlu dirisaukan, karena bagaimanapun juga sejarah masa lalu tidak mungkin dapat diubah, apalagi kemudian bermimpi berwahana ‘time-tunnel’ (lorong atau mesin waktu) menembus ke masa lalu.

Yang penting di sini, bahwa setiap perbedaan pendapat yang terjadi, dan kemungkinan besar pasti terjadi, diperlukan sikap yang dewasa.

Tulisan saya berikut ini, semata-mata merupakan kajian dari sudut pandang iilmiah kesejarahan belaka. Sifat kedaerahan yang sempit harus dikesampingkan, menimimalkan sifat etnosentrisme infleksibel, yakni harus mampu untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau harus bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki orang lain dan mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budaya kedaerahan orang lain. Satu dan lain hal untuk menghindari subyektivitas yang berlebihan.

Teori arkeolog yang satu dapat saja digugurkan oleh teori arkeolog yang lain, dan dalam dunia arkeologis hal ini wajar saja, dan arkeolog yang teorinya “dikalahkan”, tidaklah harus merasa berkecil hati, dan rendah diri, juga bagi yang “dimenangkan”, juga tidaklah boleh merasa yang paling benar, bahwa datanya yang paling valid.

Dalam hal tertentu, data yang “menang” di masa kini, dapat digugurkan oleh teori lain dimasa datang, sepanjang temuan arkeologis baru nantinya mementahkan teori yang menang itu.

Dalam perdebatan di forum diskusi kesejarahan (beberapa arkeolog menyebutnya forum “Perang Bubat”, –entah darimana asal-muasal istilah itu –) sering terjadi saling serang-menyerang, adu argumen, sampai-sampai bersitegang, namun sepanjang suatu data atau temuan arkelogis, berupa tamra prasasti, epik, rontal dan sejenisnya, telah disepakati keakuratannya, maka data temuan tersebut diterima dan dijadikan acuan selanjutnya, setelah itu mereka para arkeolog itu saling jabat tangan, senyum simpul, makan bareng, bahkan ada yang berbesanan segala, atau malah dapat menantu. Lucu juga tingkah polah para arkeolog ini.

Sudah menjadi “pakem” bahwa peristiwa Bubat adalah peristiwa yang mengundang emosi. Jangankan mengenai pertanyaan: Apakah Perang Bubat benar-benar pernah terjadi dalam sejarah Majapahit — Sunda Galuh, atau sekedar rekayasa dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu, sedangkan merujuk pada peristiwanya saja, setiap individu berbeda pendapat dalam penyebutan, tergantung dari sudut padang mana dia membacanya.

Sekelompok orang menyebutnya sebagai Tragedi Bubat, mereka menganggap bahwa dalam tragedi itu ada pihak lawan, dan ada pihak kawan. Ada perasaan bagi pihak tertentu, seolah-olah sebagai pihak yang “dicurangi”, dan menjadi korban, di sisi lain ada pihak yang diposisikan sebagai “penjahat”.

Beberapa reaksi mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit yang Jawa, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini.

Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, Jawa Barat sekaligus sebagai pusat budaya Sunda, tidak akan ditemukan jalan bernama Gajah Mada atau Majapahit.

Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan masyarakat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

Kelompok lain menyebutnya sebagai Perang Bubat, sebagai bentuk pertikaian yang wajar terjadi karena perbedaan kepentingan yang berlanjut dengan peperangan, adapun bila ada korban yang jatuh bahkan tewas, hal itu adalah sesuatu yang wajar, yang pasti terjadi pada setiap pertempuran.

Demikian juga penulisannya, banyak versi yang berkembang. Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang peristiwanya, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak ikhlas tokohnya ditempatkan sebagai tokoh ‘jahat’, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan bukti atau sumber kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.

Belum lagi sumber sejarahnya sudah bercampur aduk antara fakta dan khayalan pengarang. Tetapi demikianlah yang telah terjadi berabad-abad hingga kini.

Dari sekian banyak pendapat para sejarahwan tentang Peristiwa Bubat, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:

Perang Bubat memang pernah terjadi, dan merupakan perang yang berlangsung secara tidak wajar, dan tidak adil. Ada pihak yang dicurangi, dan ada pihak yang berlaku kejam; namun ada juga yang berpendapat, Perang Bubat merupakan perang yang berlangsung secara wajar, jujur dan adil. Ada pihak yang kalah dan ada pihak yang menang.
Ini sudah diulas secara lengkap pada wedaran sebelumnya:
a. Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-1) On 14/09/2013 at 00:31
b. Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-2) On 18/09/2013 at 01:32
c. Pasunda Bubat — Pasca Perang Bubat — On 20/09/2013 at 17:01

Dua pendapat lain:

1. Perang Bubat tidak pernah terjadi, tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat di Bali pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram sibuk oleh penentangan Sunda sehingga pada waktu itu akan terjadi perang Mataram-Bali agar pihak Bali bisa menang;

2. Perang Bubat tidak pernah terjadi, tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat oleh VOC Belanda pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram disibukkan oleh penentangan Sunda atau mencegah bersatunya kekuatan besar Sunda dan Jawa dalam menentang Belanda.

Kita tidak perlu menyalahkan nenek moyang kita atas apa yang pernah terjadi dimasa lalu, itupun kalau Perang Bubat benar-benar pernah terjadi, dan tidak perlu kita pertentangkan. Yang paling bijak adalah mengambil hikmahnya; ada atau tidak adanya peristiwa itu, tetapi telah dikisahkan seakan-akan ada.

Seandainya benar-benar pernah terjadi, kitapun tidak perlu menafsirkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sikap yang ditunjukkan oleh Sri Baduga Maharaja Raja Pajajaran, cucu buyut Prabu Linggabuana sendiri, bolehlah kita jadikan contoh. (yang didongengkan pada wedaran berikutnya).

Perang Bubat merupakan sindrom masyarakat sampai sekarang. Peristiwa ini terekam dalam Kidung Sunda, Kidung Sundayana (Lalampahan [urang] Sunda), Kitab Pararaton, dan Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara (Naskah Wangsakerta) yang kontroverisal itu, yang ditulis dengan penuh simpati kepada Raja Sunda dan rombongannya di Lapangan Bubat.

Gajah Mada adalah tokoh yang bertangungjawab terhadap terjadinya Perang Bubat, yang menyebabkan terbunuhnya seluruh rombongan Sunda Galuh.

Bahasan:

(i). bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat di Bali pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram sibuk oleh penentangan Sunda sehingga pada waktu itu terjadi perang Mataram-Bali agar pihak Bali bisa menang;

Perang Bubat di dalam Kidung Sunda dan juga Kitab Pararaton adalah kisah fiksi yang sengaja ditulis oleh para pujangga di Bali (tidak dijelaskan siapa penulisnya) pada abad XVII dengan tujuan untuk membendung pengaruh Mataram yang sedang meluaskan wilayah kekuasaannya.

Dengan ditulisnya kisah tersebut diharapkan saat itu muncul penentang kuat dari pihak Sunda untuk melawan Mataram.

Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di tahun 1357 M.

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi, yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Sumber sejarah yang meragukan

Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda.

Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an “menemukan” beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya, ia mengcopy naskah yang disebutnya asli, kemudian disadur olehnya menjadi nasklah yang baru (pada saatnya hal ini akan didongengkan).

Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat.

Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tersebut ditulis di Jawa atau di Bali.

Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang Nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

Dua hal kesalahan yang fatal pada karya sastra ini:

1. Kidung Sunda dan Kidung Sundayana ditulis tidak sejaman dengan masa pemerintahan Hayam Wuruk, rontal-rontal ini ditulis sekitar abad ke-16, dua abad setelah Majapahit runtuh.

Mungkinkah seseorang masih hidup pada dua abad setelah kejadian, dan apabila dia masih hidup, apakah dia ingat dengan pasti peristiwa yang terjadi dua abad sebelumnya, kemudian ditulisnya pertitiwa itu pada rontal-rontal, yang disebut dengan Kidung Sunda atau Kidung Sundayana?

2. pada Kidung Sunda disebut-sebut adanya penggunaan senjata api dalam pertempuran, suatu hal yang tidak mungkin, sebab senjata api belum dikenal oleh masyarakat Nusantara, Jawa dan Sunda khususnya pada masa Hayam Wuruk itu.

Dalam perkembangan persenjata-apian di Nusantara, senjata api dalam bentuk meriam baru dikenal pada abad ke-16 saat bangsa Portugis menduduki Tanah Melayu.

Adalah Ratu Kalinyamat, yang anti Portugis mengirim pasukan tentara laut dan darat Kadipaten Japara bersama-sama Kesultanan Cirenon dan Banten, memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pada masa itulah bangsa Nusantara baru mengenal senjata api yang dikenal dengan sebutan lela dan rentaka.

Jadi suatu hal yang mustahil bila pasukan Majapahit pimpinan Gajah Mada dan tentara Sunda Galuh telah menggunakan senjata api.

Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, nama ratu/permaisuri, dan nama putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun 1279 Çaka atau sekitar tahun 1357M tersebut, dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

***

(ii). bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat oleh VOC Belanda pada abad ke-17 untuk membuat kesultanan Mataram disibukkan oleh penentangan Sunda atau mencegah bersatunya kekuatan besar Sunda dan Jawa dalam menentang Belanda.

Hampir sama dengan pendapat pertama di atas, hanya yang ini dibuat oleh pihak penjajah VOC Belanda, untuk kepentingan politik penjajahannya.

Rekayasa oleh Penjajah; politik devide et impera

Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan.

Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah VOC Belanda, untuk tujuan perpecahan antar suku di Nusantara, khususnya di pulau Jawa.

Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada sehingga muncul dugaan bahwa tidak adanya nama jalan Gajah Mada, di Jawa Barat khususnya kota Bandung karena peristiwa Bubat.

Argumentasi tidak ada nama jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk di Jawa Barat, khususnya Bandung, itu argumentasi khas yang menunjukkan seakan menyimpan dendam turun-temurun terhadap Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Tetapi mari kita perhatikan, apakah di Jawa Timur dengan alasan yang sama kemudian tidak ada nama jalan Sri Baduga Maharaja, jalan Mundinglaya di Kusuma, jalan Ciung Wanara, dan jalan Dyah Pitaloka atau jalan Pasundan?

Sangat berlebihan rasanya, ketidak-adaan nama jalan tokoh pada daerah tersebut karena dendam dan benci, tapi yang pasti masing-masing daerah punya tokoh daerah yang lebih ditonjolkan.

Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah. Penulisan karya-karya sastra tersebut pada saat itu tidak sepenuhnya berdasar kepada data fakta sejarah, apalagi bila ditambah dengan kisah pola tutur berantai (seperti dongeng rakyat, legenda atau tutur tinular), lebih berdasar kepada pemikiran dan tendensi kepentingan, yang tidak menutup kemungkinan telah terjadi biasnya kisah yang sesungguhnya.

Sanak kadang padépokan ingkang dahat sinu darsono ing budi.
Oge salam kapihormat ka dulur sadayana nu ti lêmbur.

Sampurasun, sampurna ati ingsun.

ana toêtoêgé

Dongeng selanjutnya:
Episode: Pasunda Bubat — Menggugat Perang Bubat (Parwa ka-2)

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: