Dongeng Punakawan

On 20/09/2013 at 17:01 punakawan said:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit

Episode: Pasunda Bubat — Pasca Perang Bubat –

Dongeng sebelumnya, dalam Lakon:

Episode: Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-2) On 18/09/2013 at 01:32

Dongeng berlanjut, namun sebelum medar Menggugat Perang Bubat, kita simak terlebih dahulu peristiwa-peristiwa yang terjadi pasca Perang Bubat itu.

Tentang Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada, memang ada kelanjutannya dalam Kidung Sunda, dalam Pupuh III (Sinom), dalam bahasa Sunda, yang terjemahannya adalah:

Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan putri Sunda idamannya ini.

Setelah itu, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah (upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan). Tidak selang berapa lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.

Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

(Setelah beliau diperabukan dan semua upacara selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan.

Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau moksa (menghilang) tak terlihat menuju niskala (ketiadaan).

Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip “Siwa dan Budha” berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa Bubat.

Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap.

Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menempati jabatannya yang semua.

Kemudian ada juga versi yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang.

Pararaton menyatakan bahwa Gajah Mada mengundurkan diri dan jabatannya setelah peristiwa Bubat, “… samangka sira gajah mada mukti palapa.

Dengan demikian maka Mukti Palapa dalam situasi ini dapat diartikan sebagai “menikmati masa istirahat”.

Gajah Mada Mukti Palapa, bertolak belakang dengan Gajah Mada Tan Ayun Amuktia Palapa, yang berarti bahwa Sang Mahapatih tidak akan berhenti berkarya sebelum perjoangannya mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Majapahit terwujud, sedangkan Gajah Mada Mukti Palapa adalah suatu sikap atau perbuatan Sang Gajah Mada setelah melèngsèrkan dirinya sebagai Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit, menikmati kehidupan hari tuanya.

Bagaimanapun juga, Hayam Wuruk tetap berjiwa besar untuk menghargai jerih payah Mahapatihnya itu, oleh karena itu, Hayam Wuruk menganugerahi Gajah Mada wilayah sima (daerah perdikan) untuk keperluan istirahatnya.

Nāgarakṛtāgama menyebutkan nama daerah itu sebagai Madakaripura.

Tempat itu merupakan wilayah sunyi di pedalaman Jawa Timur sehingga cocok untuk Gajah Mada yang menarik diri dari dunia ramai. Selain itu, tempat itu juga disebut sebagai pesanggrahan bagi Gajah Mada. Hayam Wuruk pernah singgah di Madakaripura dalam perjalannnya ke Lumajang di tahun 1359 M.

Nāgarakṛtāgama Pupuh XIX (19) : 2

Wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
Simanugraha bhupati sang apatih gajamada racananya nutama

[Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi]

Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri.

Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Bagi Sang Maha Patih Gajah Mada yang hampir seluruh hidupnya diabdikan pada negaranya, maka di hari-hari senja beliau, Sang Maha Patih Gajah Mada ingin menghibur diri dengan menikmati keindahan alam sunyi itu, seraya melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga samadi (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (bertahan mêsu diri, dan secara perlahan-lahan meninggalkan kepentingan duniawi), melakukan pengembaraan batin, samadi manunggal kepada Hyang Wisesa Yang Maha Agung, Yang Maha Wikan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin menuju mokta.

Beberapa referensi menyebutkan bahwa Gajah Mada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa Bubat dimana Gajah Mada disingkirkan ke wilayah Madakaripura.

Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk bernama Rajasanagara sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajah Mada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini.

Sêrat Pararaton mengabarkan:

……Sang apatih Gajah Mada atelasan i çaka gagana-muka-matendu….

[…… Sang Patih Gajah Mada kemudian pralaya pada tahun çaka gagana (0) – muka (9) – mate (2) – ndu (1)].

i çaka gagana-muka-matendu, tahun çaka 1290Ç

Di mana letak Madakaripura yang sebenarnya ?

Hingga kini para arkeolog dan sejarahwan belum dapat memastikan tempat yang tepat sebagai tempat pertapaan akhir Gajah Mada.

Lokasi air terjun desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, yang diduga tempat persinggahan terkahir Gajah Mada.

Namun dari segi sejarah, Madakaripura (yang air terjun) belum dapat dikatakan sebagai situs purba peninggalan Gajah Mada, berkenaan karena belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang menyebutkan bahwa Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah Madakaripura (yang air terjun).

Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkeologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar.

***

Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Sunda. Sunda pun tidak berniat menyerang Majapahit. namun sebagai antispasi dan kewaspadaan,

Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat.

Sebagai bentuk kewaspadaan, mereka menyiagakan angkatan perang dan armada lautnya. Armada Sunda ditempatkan di perairan tungtung (tungtung, dalam bahasa Sunda, yang berarti ujung wilayah atau perbatasan) Sunda, yaitu di Cipamali (sekarang kali Brebes) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit.

Tentang janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Palembang, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.

Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan sampai pada jaman Pajajaran. Ketika itu Majapahit semasa dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur: Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang.

Gelombang pengungsian ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terakhir ini dipimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala.

Sampai akhirnya, Majapahit berkuasa kurang lebih 200 tahun, dan tidak ditemukan adanya kropak sejarah atau catatan sejarah lainnya, apakah Majapahit pernah menguasai Sunda.

Demikian pula Sunda, tidak pernah diketahui pernah atau tidak melakukan ekspansi ke Majapahit.

Peristiwa Bubat, bukan hanya meninggalkan kesedihan mendalam. Dengan demikian, sampai sekarang, di Jawa Barat tidak dijumpai nama jalan yang menggunakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Tetapi hal ini perlu dilakukan kajian yang obyektif kebenarannya, dan sejauh mana pengaruhnya.

Tetapi yang pasti akibat peristiwa Bubat, Kerajaan Sunda Galuh sempat mengalami kekosongan pimpinan. Calon penggantinya tidak bisa segera naik tahta.

Ketika terjadi peristiwa Bubat, Prabu Wastu yang lebih dikenal dengan Wastukancana baru berusia sekitar sembilan tahun. Sebelum dianggap cukup umur dan cakap memimpin, selama hampir sembilan tahun ia berada di bawah asuhan pamannya, patih Bunisora.

Wastukancana dikenal sebagai raja yang bijak dan berumur panjang sampai 104 tahun. Enam prasasti yang terdapat di situs Astana Gede Kawali Ciamis merupakan mahakarya peninggalan beliau.

Beliau wafat di tahun 1475, dan digantikan oleh dua orang putranya yang masing-masing berasal dari dua permaisuri. Wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jawa Barat (kini termasuk Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta) dan sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah akhirnya dibagi dua.

Sang Haliwungan dinobatkan menjadi Raja Sunda dengan gelar Prabu Susuktunggal. Saudara tirinya, Ningrat Kancana dinobatkan menjadi penguasa Galuh dengan gelar Prabu Dewa Niskala. Kedua wilayah kerajaan dibatasi Sungai Citarum.

Tetapi di tengah perjalanan, Dewa Niskala harus turun tahta karena melakukan dua kesalahan. ngarumpak larangan dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan, yang dalam Carita Parahyangan dinamakan “estri larangan ti kaluaran“. Wanita yang tidak boleh dinikahi.

Masalah rara hulanjar sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni tidak boleh memperistri perempuan yang masih bertunangan, kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

Sedangkan yang dimaksud istri larangan, yakni tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda — yang dimaksud adalah Majapahit –. Hal ini sangat erat hubungannya dengan akibat Peristiwa Bubat.

Setelah peristiwa Bubat, ada ‘pamali’, Raja Sunda dan kerabatnya tabu menikah dengan kerabat dari Majapahit. Tetapi Dewa Niskala justru menikahkan putrinya, Ratna Ayu Kirana (adik Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur), dengan Raden Baribin, kerabat Kerajaan Majapahit yang mengungsi bersama rombongannya ke Galuh karena pergolakan politik di sana dengan jatuhnya Prabu Kertabhumi (Brawijaya V).

Yang kedua, ia sendiri menikah dengan salah seorang gadis dalam rombongan tersebut. Gadis tersebut sudah bertunangan namun terpisah dengan kekasihnya.

Akibatnya, Dewa Niskala digantikan putranya yang bernama Jayadewata, yang berhasil mempersatukan dua wilayah yang sebelumnya terpisah.

Lewat perkawinannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal dari Sunda, untuk kedua kalinya ia dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja.

Sri Baduga Maharaja memilih berkedudukan di Pakuan yang terletak di kota Bogor sekarang. Ia berhasil mengantarkan Kerajaan Sunda Pajajaran ke puncak kejayaanya.

Dalam karya sastra, namanya sering diidentikkan dengan Prabu Siliwangi.

Napak tilas Lapangan Bubat

Trowulan selama ini merupakan situs yang ditenggarai sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, tempat Raja Hayam Wuruk bertahta dengan Mahapatih Gajah Mada. Dugaan kuat Lapangan Bubat tentunya tidak jauh dari situs Trowulan.

Nāgarakṛtāgama memberikan penjelasan sedikit dugaan letak Bubat.

Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXVI (86)

1.
akara rwang dina muwah ikang karyya kewwan narendra
wwanten lor ning pura tegal anamang bubat kaprakasa
sri-nathengken mara makahawan swana singhapadudwan
sabhretyanoraken ideran atyadbhuta ng wwang manonton.

[Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar,
Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat,
Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa,
Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.]

2.
ndan tingkah ning bubat arahrarddharatatandes alwa
madhyakrosakara nika n-amarwwanutug rajamargga
madhyarddhikrosa keta pangalornya nutug pinggir ing lwah
kedran de ning bhawana kuwu ning mantri sasok mapanta.

[Bubat adalah lapangan luas tandus lebar dan rata,
Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya,
Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai,
Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.]

Catatan:

setengah krosa:

Krosa adalah ukuran panjang yang berlaku pada waktu itu, namun tidak jelas berapa panjangnya bila dikonversi ke satuan meter. Konon berlari mengelilinginya, cukup membuat orang memeras berkeringat. Tetapi tidak dijelaskan pula berkelilingnya berapa kali, dan waktu berkelilingnya apakah di pagi hari (lari pagi), atau di siang hari saat terik matahari.

Bubat merupakan nama tempat di Majapahit yang selalu menimbulkan luka emosional masyarakat Sunda. Peristiwa Bubat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda,

Pernah direncanakan akan diangkat menjadi tema cerita film Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Tetapi yang menjadi pertanyaan, bisakah peristiwa itu mempertautkan budaya dua wilayah tersebut?

Sejenak kita membaca sejarah masa lalu, pertautan budaya kedua wilayah yang diwakili oleh Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Majapahit. Kedua kerajaan yang setara itu berusaha menjalin hubungan yang lebih erat lewat perkawinan.

Tetapi setelah tiba di Bubat, kisah yang dialami rombongan Kerajaan Sunda justru berakhir dengan tragis.

Rombongan yang dipimpin Prabu Linggabhuana itu bertujuan mengantarkan putri kesayangannya Dyah Pitaloka Sunda atau Dewi Citraresmi yang akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk. Namun karena kesalahpahaman, rombongan tersebut akhirnya habis tumpas karena perang yang tidak seimbang.

Prabu Linggabhuana yang merasa direndahkan karena putri kesayangannya dianggap sebagai persembahan dari kerajaan bawahan, lebih memilih mempertahankan kehormatannya.

Ia gugur bersama putri kesayangannya. Seluruh rombongan memilih belapati. Karena itu, peristiwa Bubat sering disebut perang Bubat.

Walaupun Gajah Mada sudah mengeluarkan Sumpah Palapa, namun Majapahit tidak pernah meluaskan wilayahnya ke Sunda. Kedua kerajaan tersebut berdiri sejajar seperti sebelum peristiwa terjadi.

Akan tetapi, tempat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda itu sangat boleh jadi bukan terletak di Trowulan sebagaimana anggapan selama ini.

Berdasarkan hasil foto udara dan ekskavasi situs tersebut menunjukkan, Trowulan, tempat yang ditenggarai menjadi pusat Kerajaan Majapahit itu memiliki banyak parit.

Dengan demikian, secara logika, sulit dibayangkan bagaimana Prabu Hayam Wuruk datang ke lapang Bubat untuk menghadiri upacara keagamaan dan kenegaraan dengan mengendarai kereta yang ditarik enam ekor kuda sebagaimana diceritakan dalam naskah Negarakretagama.

Namun, naskah yang berhasil diselamatkan saat terjadi Perang Lombok pada tahun 1894 itu, sayangnya tidak menyebutkan dimana letak Bubat.

Hayam Wuruk adalah raja terbesar Majapahit. Ia merupakan raja keempat Majapahit yang berkuasa selama tiga puluh tahun, dari tahun 1350-1389.

Pendiri kerajaan ini, Raden Wijaya berkuasa selama tujuh belas tahun (1292-1309) dimulai dengan mendirikan pemukiman di hutan Tarik yang letaknya dekat Mojokerto.

Di tempat inilah ia dinobatkan dan sekaligus menjadikan Tarik menjadi pusat kekuasaannya.

Raden Wijaya digantikan putranya, Jayanegara (1309-1328) dan kemudian digantikan putrinya Tribhuwanatunggadewi yang berkuasa selama 22 tahun (1328-1530).

Walaupun selama Jayanagara dan Tribuwanatunggadewi berkuasa terjadi beberapa kali pemberontakan, namun ibu kota Tarik tidak jatuh ke tangan musuh.

Dalam pandangan dan kepercayaan orang Jawa, Tarik merupakan kota bertuah. Karena itu tidak ada alasan memindahkan ibu kota kerajaan ke Trowulan.

Akan halnya Bubat, diduga merupakan kota bandar yang terletak di sisi sungai besar yang letaknya tidak jauh dari Tarik.

Dengan mengutip keterangan penduduk setempat dan keterangan yang diperoleh dari Kidung Sundayana, menyebutkan bahwa ketika rombongan Sang Prabu Linggabhuana dari Sunda hendak menuju ke Majapahit, kapal-kapal dari tatar Sunda melalui “kota bandar” yang terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas tanah lapang yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan.
Tanah lapang yang dimaksud itu adalah Lapangan Bubat.

Masih menurut penduduk setempat, di bagian selatan sungai ini pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dan bata kuno dalam jumlah cukup banyak yang berserakan di mana-mana. Tempat ini ditenggarai sebagai lokasi pusat ibu kota Majapahit.

Di tempat ini pula terletak Dusun Medowo yang dalam naskah Negarakertagama disebut Madawapura. Oleh karena itu, jika ingin menemukan tinggalan peristiwa Bubat, penelitian harus ditujukan ke Tarik.

Kisah Bubat juga menciptakan beberapa mitos, seperti tentang hulanjar, larangan laki-laki keturunan keraton Galuh untuk menikahi dengan perempuan keluarga Majapahit, atau ketiadaan nama jalan yang sesuai dengan nama negara para pelaku sejarah. Namun mitos tersebut sedikit demi mulai luntur.

Perkawinan antar suku (bahkan antar bangsa dan antar agama) dianggap hal yang wajar, masalah hulu lanjar pun secara moralitas masih dilarang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum.

Suatu kisah yang dikisahkan atau dari kepandaian penulis dalam memaparkan suatu peristiwa adakalanya mampu mengubah paradigma pembaca.

Tak salah jika suatu buku dinyatakan sebagai sumber ilmu, karena ia mampu mengubah pemikiran para pembaca. Demikian pula tentang penulisan sejarah Tragedi Bubat, banyak versi yang berkembang.

Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang suatu peristiwa, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak ikhlas tokohnya ditempatkan sebagai tokoh ‘jahat’, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.

Tragedi Bubat telah menciptakan motivasi bagi para penulis pasca proklamasi untuk menciptakan keutuhan negara sebagai suatu kesatuan wilayah Indonesia yang kuat, dan dijauhkan dari sifat sentimen kesukuan.

Hal ini bisa terlaksana jika satu pihak tidak merasa mendominasi sejarahnya terhadap pihak lain.

Upaya yang paling mengakar dilakukan pula ketika beberapa pihak menyatakan bahwa Tragedi Bubat itu tidak pernah ada, buku yang mengisahkan Tragedi Bubat, seperti Kidung Sundayana disinyalir diciptakan untuk memecah belah bangsa Indonesia, bahkan diduga ditulis oleh orang Belanda yang menginginkan terjadinya perpecahan dikalangan Bumi Putra.

Pendapat dan penafsiran demikian mungkin perlu dikaji kembali, karena cepat atau lambat kebenaran tersebut akan terkuak.

Sejarah tidak akan pernah dapat dihapuskan dan akan diuji sesuai kemampuan setiap generasi dalam mengungkap kesejatian sejarahnya.

Tak perlu juga malu untuk mengungkapkan jika kupasan sejarah tersebut dibuat dalam koridor yang ada didalam bingkai keindonesiaan.

Karena apapun masalahnya, Indonesia sebagai suatu bangsa telah memiliki perjalanan sejarahnya. Dari semua itu kita bisa bercermin, tentang mana yang baik dan perlu dilanjutkan dan mana yang buruk dan perlu ditinggalkan.

Menyimak yang tertulis dalam sumber-sumber sejarah yang ada Perang Bubat adalah perang yang diduga pernah terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Lingabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini: Kidung Sunda, Lalampahan Urang Sunda, Carita Parahyangan, Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, dan Sêrat Pararaton.

Terasa ada sesuatu yang janggal pada naskah-naskah tersebut, yang memerlukan kajian lebih dalam lagi. Hal ini adalah sesuatu yang wajar dan lumrah adanya, untuk mencari fakta yang sebenarnya atas suatu peristiwa sejarah, tanpa rekayasa apapun bentuk dan caranya.

ånå toêtoêgé

Episode selanjutnya: Menggugat Perang Bubat

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: