Dongeng Punakawan

On 18/09/2013 at 01:32 punakawan said:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit

Episode: Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-2)

Pembantaian orang-orang “kiri”, orang-orang komunis, orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa pemberontakan 30 September. Di Akhir 1965 hingga menjelang akhir tahun 1966, suasana sangat mencekam.

Saat itulah, dinihari di penghujung September 1965 di langit Timur lintang kemukus Ikeya-Seki menampakkan dirinya.

Jumlah pasti orang-orang komunis atau yang diduga ikut bertanggungjawab terhadap tewasnya perwira TNI Angkatan Darat di Lubang Buaya Jakarta, yang meninggal hampir tak mungkin diketahui.

Dalam waktu 20 tahun pertama setelah pembantaian, muncul sejumlah perkiraan serius mengenai jumlah korban.

Sebelum pembantaian selesai, ABRI memperkirakan sekitar 78.500 telah meninggal sedangkan menurut orang-orang komunis yang trauma, perkiraan awalnya mencapai 2 juta korban jiwa. Di kemudian hari, ABRI memperkirakan jumlah yang dibantai dapat mencapai sekitar 1 juta orang.

Pada 1966, Benedict Richard O’Gorman Anderson (profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell. Ia juga diakui secara luas sebagai pakar sejarah dan politik Indonesia pada abad ke-20), memperkirakan jumlah korban meninggal sekitar 200.000 orang dan pada 1985 mengajukan perkiraan mulai dari 500,000 sampai 1 juta orang.

Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang dibantai, lebih banyak dari peristiwa manapun dalam sejarah Indonesia.

Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD pada waktu itu, yang ayah mertua Susilo Bambang Yudhoyono -kini Presiden RI-), yang banyak berada di lapangan, pasca Peristiwa 30 September 1965, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur maupun di Bali, suatu ketika menyebut angka 3.000.000 (tigajuta) orang. Hingga akhir hayatnya, Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo bahkan tak pernah meralat angka yang disebutkannya itu.

Seratus ribu?, sejuta?, dua juta? atau tiga juta? Orang-orang komunis atau yang dianggap ikut bertanggungjawab dalam peristiwa G30S/PKI, mati.

September 1965. Empatpuluhdelapan tahun silam, sepertinya sudah diatur oleh sebuah skenario besar, Perang Bubat atau Pasunda Bubat pernah diudarakan dalam bentuk sandiwara radio berjudul Mada Jiwana Pita, bukan dalam bentuk sinetron seperti yang sering ditayangkan di televisi masa kini. Pada waktu itu pesawat televisi masih hitam-putih dan termasuk barang mewah yang langka, hanya sekelompok orang-orang kaya tertentu saja yang mampu memilikinya.

Sandiwara Mada Jiwana Pita itu diudarakan secara berseri di RRI lokal di sebuah kota di Jawa Timur, tempat Ki Begawan Sepuh “cantrik” Bayuaji dan Punåkawan pernah bermukim.

Sandiwara radio Mada Jiwana Pita menceritakan peristiwa Perang Bubat 650 tahun silam, kisah cinta yang berakhir tragis. Kisah cinta antara Jiwana Raja Majapahit dan Dyah Ayu Pitaloka Putri Kerajaan Sunda yang berujung pada peperangan, pembantaian dan pertumpahan darah di lapangan Bubat.

Mada adalah Mahapatih Gajah Mada, Jiwana adalah nama abhiseka Hayam Wuruk ketika masih remaja, dan Pita adalah putri Kerajaan Pasundan Galuh Dyah Ayu Pitaloka Ratna Çitraresmi.

Perang Bubat. Lakon yang dibangun oleh Sang Sutradara dalam suasana yang sangat mencekam.

Konon lintang kemukus, Lintang Gotong Mayit mengunjungi bumi di tahun 1279Ç atau tahun 1357M, 650 tahun yang lalu, ketika rakyat Majapahit dirundung kepedihan. Perekonomian negara yang nyaris hancur dan Perang Bubat.

Petikan sandiwara yang dicuplik dari Kidung Sunda bait 1.66b sd 1.68a, yang menggambarkan kemarahan para menak bangsawan dari Kerajaan Sunda kepada Mahapatih Gajah Mada:

Gajah Mada dicarékan ku utusan Sunda

Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karêpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

Abasa lali po kita nguni duk kita anêkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ênti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

Mantrimu kalih tinigas anama Lês Beleteng angêmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burêngik, padâmalakw ing urip.

Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharêpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu têmbe yen antu.

Alihbasa ke Bahasa Sunda:

[“Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!”]

Satu lesatan anak panah, entah terlepas dari busur siapa melaju menerjang utusan Gajah Mada tersebut hingga ambruk. Suasana pun menjadi tidak terkendali.

Perang pun tidak terlelakkan lagi terjadi di lapangan Bubat. Rombongan pasukan Sunda Galuh yang tidak siap berperang terpaksa harus menghunus pedang dan merentangkan gendewa menghadapi pasukan Majapahit yang juga sebenarnya tidak siap untuk berperang.

Ngadangu émbaran ieu, raja Sunda teu sudi lumaku salaku patalukan. Lajeng anjeunna sasanggeman mutuskeun yén leuwih hadé gugur salaku satria. Demi méla kahormatan, leuwih hadé gugur batan hirup bari dihina urang Majapahit. Sadaya pangagung katut rombongan Sunda tumut kana kaputusan ieu sarta milu béla ka rajana.

(Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.)

Lajeng raja Sunda nepungan istri katut putrana, anjeunna nyaritakeun niatna lajeng miwarang kulawargana mulang, tapi aranjeunna nolak kalawan keukeuh rék ngabaturan rajana.

(Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.)

Kalah jumlah dan berada dalam lokasi yang salah akhirnya seluruh anggota rombongan pasukan Sunda Galuh pun gugur di lapangan Bubat, termasuk prabu Lingga Buana dan permaisurinya.

Pinagut ing uni dening reyong, ghûrnitaning surak kadi guntur.

[Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.]

Sang Prabhu Maharaja wus angemasi karuhun

[Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur]

Sakeh sang mantry araraman aprang saking kuda, katitihan wong Sunda, anempuh mangidul mangulon anuju, nggonira Gajah Mada, sing tekareping padati wong Sunda mati, kadi sagara getih gunung wangke, bhrasta wong Sunda tan hana kari, i çaka sanga-turangga-paksawani,

[Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: sanga-turangga-paksawani, sanga (9), turangga (7), paksa (2), wani (1)].

Putri Dyah Pitaloka pun akhirnya bunuh diri. Akibat dari peristiwa tersebut prabu Hayam Wuruk akhirnya mencopot jabatan Gajah Mada dari mahapatih Majapahit yang selama ini disandangnya.

Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakên aneng made sira wontên aguling, mara sri narapati, katêmu sira akukub, perêmas natar ijo, ingungkabakên tumuli, kagyat sang nata dadi atêmah laywan.

(Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah meninggal.)

Wênêsning muka angraras, netra dumêling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marêka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.

(Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda yang datang berbakti kepada Sri Baginda datang ke tanah Jawa.”)

Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji, yakni panji kerajaan Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan Sang Patih Gajah Mada untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua jenazah dimandi-sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru.

Kelak di Sunda dibuat patung pribadi Sang Maharaja. Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa untuk menemui Bunsora dan mengirimkan surat untuk memimtakan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

(Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang berapa lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.)
Versi lainnya dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2:

Sakweh ing amtya, tanda Sénåpati, wadyabala, kuwandha raja, dolaya manacitta mapan Bhre Prabhu wilwatika i sedeng gering ngenes, Marga nira gering, karena kahyun ira masteri lawan Dyah Pitaloka tan siddha.

Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa Bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap.

Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikata jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada. Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.

Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa Bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri – putri Sunda Galuh dan keluarganya – beserta seluruh pengiringnya melakukan bunuh diri di lapangan Bubat.

Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.

Gajah Mada sendiri memandang peristiwa Bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara sudah jelas.

Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah Nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit.

Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa. Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya.

Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai.

Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh. Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang Bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan Bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu.

Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Peristiwa Bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai. Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan Bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi. Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut.

Pagelaran tari-tarian pun diselenggarakan di dekat pusat arena berkumpulnya prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk mempengaruhi beberapa prajurit Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan pelaksana lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada.

Kecantikan dan gemulainya gerakan penari Sunda adalah senjata utama mereka. Tujuan tersebut hampir berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap namun Gajah Mada tidak berhasil mereka singkirkan.

ånå toétoégé

Dongeng selanjutnya:
Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit
Episode: Pasunda Bubat — Menggugat Perang Bubat

_____________________________________________

Punåkawan atur uningå pambagyå:

Katur pårå sanak kadang,
Mugi pinaringå karahayon. Tinêbihnå ing sambékålå
,

Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram yang saya tulis ini sengaja saya awali dengan keruntuhan Majapahit, ontran-ontran: Perang Bubat, Parêgrêg; Adégé nagårå Islam ing Dêmak, bêdhahé nagårå Mådjåpahit, perkembangan Islam di Tanah Jawa, jauh lebih awal sebelum Danang Sutåwijåyå membangun Mataram.

Tidak ada sangkut-pautnya AdBM?

ADBM dan kini TADBM adalah dongeng semasa Panêmbahan Sénåpati di awal kebangkitan Mataram, ketika dia menyusun kekuatan politik, militer dan ekonomi untuk menguasai Tanah Jawa, mempersatukannya di bawah kedaulatan Mataram.

Lawan yang dihadapi Sénåpati Ing Ngalågå, kelak dia disebut demikian, sadar atau tidak sadar adalah mereka yang dahulunya adipati-adipati negara-negara vasal Majapahit. Sebut saja Ujunggaluh, Puråbåyå atau Mêrdiayun, Pramånå Raga. Kedu, Kadiri, Ngrowo, dan banyak yang lainnya lagi.

Sang Panêmbahan Sénåpati tentu tidak melupakan sejarah kebesaran leluhurnya, tidak seperti kebanyakan orang-orang masa kini, yang sering lupa pada sejarah kebesaran bangsanya di masa silam.

Dalam salah satu episode, Danang Sutåwijåyå dengan taktik militernya yang sangat jitu yang dimotori oleh Ki Juru Martani, kelak adalah pêpatih dalêm Måndåråkå di Kepanêmbahan Mataram, satu demi satu mentautkan kembali bekas-bekas wilayah Majapahit yang tercerai-berai. Mataram bagi Sénåpati harus sebesar Majapahit bahkan harus lebih besar lagi.

(Sebagai tambahan pengetahuan, bahwa Negara Mataram bagi Sénåpati bukanlah sebuah Kesultanan, tetapi cukup sebagai Kepanêmbahan, layaknya shogun bagi kekaisaran Jepang). Sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Sénåpati.

Sénåpati datang dengan filosofi nglurug tanpå bålå, digdåyå tanpå aji, mênang tanpå ngasoraké. Purubåyå Mêrdiayun dan Pramånå Rågå adalah contoh-contohnya.

Purubåyå Mêrdiayun dan Pramånå Rågå adalah dua kota kadipaten jaman Sénåpati, yang ketika awal kebangkitan Mataram, tidak mau tunduk pada kekuasaan Panêmbahan, maka sebagaimana Gajah Mada yang hendak mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Majapahit, Sénåpati dan para prajurit-prajurit tempurnya mengobarkan peperangan untuk mempersatukan kembali keduanya di bawah kedaulatan Mataram.

Di mana letak kota-kota itu?
Mohon bersabar, dongeng masih berlanjut

Sang Panêmbahan Sénåpati juga ingin mengembalikan kejayaan Mataram sebagai negara maritim. Mataram yang sudah ‘disalah-kaprahkan’ menjadi negara agraris sejak dipindahkannya kekuasaan Dêmak Bintårå dari Pantai Pesisir Utara Jawa (Pantura) ke Pajang di pedalaman Jawa Selatan oleh Djåkå Tingkir alias Sultan Hadiwijåyå,

Mataram bagi Sénåpati harus menjadi penguasa lautan sebagaimana Majapahit pendahulunya adalah negara maritim, neagara yang menguasai lautan, itulah maka lahir legenda Sénåpati sih-sinisihan karon sih kalihan Kanjêng Ratu Kidul .

Jelasnya: Sénåpati pacaran sama Kanjeng Ratu Kidul.
Di mana?
Bagaimana?
Kapan?

Dongengnya menyusul.

Sebagai penerus Majapahit, Sénåpati, demikian pula dengan para pelanjutnya kelak, seperti Sinuwun Sultan Agung Adi Prabu Hanyåkråkusumå adalah sangat bangga kepada leluhurnya dari Majapahit itu, meskipun Sri Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada, adalah penganut Hindu-Budha, Hindu-Jawa, dan semua sultan Mataram beragama Islam. Para sultan itu menyatakan bahwa Mataram tidaklah berdiri di atas kehancuran Majapahit.

Mataram adalah penerus sah kerajaan-kerajaan pendahulunya dan khususnya Majapahit, tetapi Mataram bukan hanya penerus kerajaan Hindu Jawa terakhir itu, disebutnya bahwa keluarga penguasa Mataram adalah keturunan langsung dari penguasa kerajaan Majapahit.

Salah satu bukti sejarahnya adalah salah satu lambang kebesaran Majapahit. Adalah cincin permata berwarna Merah Putih. Cincin itu telah berpindah-pindah tangan, Ratu Kalinyamat diketahui adalah salah satu penerima cincin itu, yang ia turun-temurunkan kepada generasi berikutnya. Ini mungkin sebagai isyarat, ketika cincin itu berada di tangan Kanjêng Sinuwun Sultan Agung Adi Prabu Hanyåkråkusumå.

Cincin permata berwarna Merah Putih itulah yang menjadi saksi dan sebagai penghubung antara Majapahit dan Mataram sebagai kelanjutan.

Sanak kadang ingkang tuhu dahat sinudarsånå ing budi,

Dongeng Arkeologi & Antropologi yang saya wedar di gandhok ini, sekedar menapak-tilasi sedapat mungkin alur fakta sejarah Nusantara, yang cerita fiksi-sejarahnya telah dimulai oleh Ki Dalang SH Mintadja, sejak PdLS (Singasari), Nagasasra Sabukinten (Dêmak Bintårå) dan kemudian AdBM (Mataram), sayang Ki Dalang SH Minardja atau Mas Singgih (demikian saya biasa menyapanya ketika beliau belum sédå). tidak sempat menulis tentang Kerajaan Besar Majapahit.

Sedikit “bahan baku” yang sempat saya tulis untuk menyusun certa yang belum sempat dituls itu, saya wedarkan kepada sanak kadang.

Èhh.. mbokmênåwå ada sanak kadang berniat menulis cerita fiksi-sejarahnya, yang terus terang tulis-menulis fiksi-sejarah bukan bidang keahlian saya. Dan ini sudah dimulai dengan hadirnya TAdBM (T= Têrusané, Toêtoêgé, Tjandaké AdBM).

Sumånggå

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: