Dongeng Punakawan

On 14/09/2013 at 00:31 punakawan said:

Nuwun,

Wayah Têngah Wêngi. Sâkå kadohan sadélå-sadélå kaprungu swårå kêntongan sambang, lamat-lamat kabucal déning sêmribit angin dalu, ratri sansåyå sêpi.
Akåså kinêmulan mêndhung pêtêng, lan riwis-riwis grimis tumurun. Ing dalu punikå Punåkawan sowan ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Dalam Lakon:

Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit

Episode: Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-1)

Sangsaya lara kagagat,
pêtêng rasanikang ati,
kapati sira sang katong,
kang tangis mangkin gumirih,
lwir guruh ing katrini,
matag panêdêng ing santun,
awor swaraning kumbang,
tangising wong lanang istri,
arêrêb-rêrêb pawraning gêlung lukar.

[Kidung Sunda, bait (pådå) : 3.33]

Tangis sedih Sang Mahaprabu Majapahit Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, ketika mendapati calon istrinya Dyah Ayu Pitaloka Ratna Çitraresmi Putri Kerajaan Sunda terbujur kaku di antara para menak Sunda yang gugur di Lapangan Bubat, wong Sunda mati, kadi sagara getih gunung wangke, bhrasta wong Sunda tan hana kari. Sang Dyah Ayu Pitaloka Çitraresmi Putri Sunda calon permaisuri Majapahit bersimbah darah mati bunuh diri dengan patrem yang masih menancap di dadanya.

[Semakin lama
semakin sakit rasa penderitaannya.
Hatinya terasa gelap,
beliau Sang Prabu semakin merana.
Tangisnya semakin keras,
guruh menggelegar di bulan Katigå,
yang membuka kelopak bunga untuk mekar,
bercampur dengan suara kumbang.
Begitulah tangis para pria dan wanita,
rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut].

Lwir guruh ing katrini, saat itu adalah mångså katigå, musim kemarau, jadi suara gelegar guruh pada bulan itu merupakan suatu hal yang tidak lazim.

Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang Bubat adalah Kidung Sunda yang berasal dari Bali, dan Kidung Sundayana {Lalampahan (Urang) Sunda}.

Perbedaan pokok antara keduanya ada pada mutu susatra Kidung Sunda yang lebih tinggi dan uraian ceritanya lebih panjang daripada Kidung Sundayana. Kedua naskah diduga berasal dari Bali, tetapi tidak diketahui dengan pasti apakah ditulis di Bali atau di Jawa atau di tempat lain.

Sumber sejarah lainnya adalah Carita Parahyangan serta Sêrat Pararaton, dan Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara. Buku lain yang juga banyak menceritakan peristiwa sejarah pada masa yang sama, yaitu Pujasastra Nāgarakṛtāgama, tidak sekali pun menyebutkan adanya peristiwa perang Bubat ini.

Carita Parahyangan yang ditulis dalam Bahasa Sunda Kuno memberitakan:

Manak deui prebu maharaja. Lawasniya ratu tujuh tahun. Kena kabawa ku kalawiyasa, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran tohan. Mu(n)dut agung dipipanumbasna. Urang reya sa(ng)kan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda pan prangprang di Majapahit.

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Sunda masa kini:

Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina. Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

[Punya anak, Prabu Maharaja, lamanya menjadi raja tujuh tahun, lantaran terkena bencana, terbawa celaka oleh anaknya yang bernama Tohaan, meminta terlalu besar saratnya. Bermula banyak orang yang pergi ke Jawa, karena tidak bersuami di Sunda. Terjadilah perang di Majapahit.]

Cuplikan Pasunda Bubat dari Serat Pararaton Bagian X : 28:

Tumuli pasunda-bubat.
Bhre prabhu ayun ing putri ring Sunda.
Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda,
ahidep wong Sunda yan awawarangana.

[Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat.
Sri Bhatara Prabu mengingini puteri Sunda.
Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda,
Orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan.]

Teka ratu Sunda maring Majhapahit, sang ratu Maharaja, tanpangaturaken putri. Wong Sunda kudu awiramena, tingkah ing jurungen. Sira patihing Majhapahit tanpayun yen wiwahanen, reh sira rajaputri makaturatura. Wong Sunda tanpasung.

[Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan putri. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang patih Majapahit (Gajah Mada) tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri (Citraresmi) sebagai upeti. Orang Sunda menolak].

Perang Bubat adalah perang yang diduga pernah terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Lingabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1357 M.

Perang campuh lumangsung, ngabalukarkeun loba pisan prajurit Majapahit nu tiwas, tapi tungtungna ampir sadaya pasukan Sunda tiwas digempur bébéakan ku pasukan Majapahit. Anepakén tiwas ku Gajah Mada, sedengkeun raja Sunda tiwas ditelasan ku bésanna sorangan, raja Kahuripan jeung Daha. Hiji-hijina nu salamet nyaéta Pitar, perwira Sunda nu pura-pura tiwas di antara pasoléngkrahna mayit prajurit Sunda. Lajeng anjeunna nepungan ratu jeung putri Sunda. Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina.

[Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dihabisi oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat prajurit Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri bersama di atas jenazah-jenazah suami mereka.]

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa Wage sebelum tengah hari, yang diabadikan di dalam Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 2 (Berita Nusantara II/2):

//satuluynya cina-
ritan ing trayodaçi
krsnapaksabadrama-
ça/
sahasra rwangatus pi-
tung puluh punjul sanga/i-
kang çakakala //
sang pra-
bhu maharaja sunda pe-
jah ta sira haneng
bubat i wilwatikta-
nagara //
irikang kala
sang prabhu maharaja ka-
hyun ngawarangaken ana-
k ira ya ta sang retna çi-
traresmi /
athawa dyah pi-
taloka lawan bhre
prabhu wilwatikta çri
rajasanagara ngaran ira /
nihan ta mulatnya //

[Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal trayodaçi (13) krsnapaksa (paro-gelap), badramaça (Badrawadamasa, sekitar bulan Agustus/September) pada tahun sahasra rwangatus pitung puluh punjul sanga/ikang çakakala // (1279Ç).

Sang Prabhu Maharaja gugur di Bubat di Negara Majapahit. Saat itu sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Ratna Çitraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara. Demikianlah asal-mulanya].

Menurut Pararaton, Perang Bubat terjadi pada tahun i çaka sanga-turangga-paksawani, sanga (9) – turangga (7) paksa (2) wani (1), dibaca 1279Ç atau sekitar tahun 1357M, bulan September.

Perang Bubat, perang yang merupakan lembaran hitam dari sejarah kebesaran Majapahit. Perang yang merupakan lembaran hitam juga bagi karir politik mahapatih Gajah Mada. Perang yang akhirnya memaksa Gajah Mada turun dari kedudukannya sebagai mahapatih Majapahit.

Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Çitraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara, seniman lukis pada masa itu.

Dyah Pitaloka di gambar secara diam-diam atas perintah keluarga keraton, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri.

Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit, karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit, dianggap masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar di masa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya.
Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima.

Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati.

Pertama, masalah kelaziman adat setempat. Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lazim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki.

Kedua, diduga alasan ini merupakan jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, di antaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

Namun Prabu Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Rombongan kerajaan Sunda kemudian berangkat ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Dua puluh tahun sejak Gajah Mada mengikrarkan sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang terkenal itu. Majapahit telah menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai Nusantara dan perairannya.

Dengan armada lautnya yang sangat besar, yang dipimpin oleh Senapati Sarwajala Nala, Gajah Mada telah berhasil mewujudkan cita-citanya mengajak kerajaan-kerajaan di Nusantara bersatu di bawah kekuasan Majapahit.

Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu, salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

Dari mulai Tumasik, Tanjungpura, Bali, Dompo, hingga Seram seluruh penguasanya menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Tetapi di kala semua kerajaan yang letaknya relatif jauh sudah menyatakan tunduk, ada dua kerajaan yang sangat dekat bahkan seperti di halaman rumah sendiri, belum menyatakan tunduk. Dua kerajaan tersebut adalah Sunda Galuh yang berpusat di Galuh, dan Gurun Seram bagian Timur.

Sebagai sebuah kerajaan yang sudah sangat kuat pada saat itu maka Majapahit dapat saja menundukkan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran), namun Sang Mapatih lebih memilih menghindari kekerasan dan pertumpahan darah Kerajaan Sunda Galuh saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama prabu Lingga Buana.

Di sebelah timur, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Majapahit di sepanjang sungai Pamali (sekarang bagian dari Kali Brebes).

Pandangan Gajah Mada untuk sesegera mungkin menyatukan kedua kerajaan Sunda tersebut ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, bertentangan dengan pandangan kalangan istana. Baik ibu suri Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyah berpendapat bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri, karena apabila dilihat dari silsilah keluarganya, salah satu leluhurnya berasal dari bangsawan Sunda. Sementara sikap prabu Hayam Wuruk sendiri terlihat lebih mendukung kedua ibu suri tersebut daripada Gajah Mada.

Seiring dengan perjalanan waktu, Jiwana Sang Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara (Raden Tetep) telah beranjak dewasa. Pada suatu waktu tibalah saatnya bagi prabu Hayam Wuruk untuk mencari seorang permaisuri yang akan mendampingi dirinya.

Maka dikirimlah beberapa juru gambar untuk melukis putri-putri yang cantik dari kalangan kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk kemudian diperlihatkan kepada sang prabu. Dengan harapan apabila ada salah satu gambar yang berkenan di hati sang prabu, maka tibalah saatnya bagi sang prabu untuk menjatuhkan pilihannya kepada putri yang beruntung tersebut.

Sudah sekian banyak juru gambar yang kembali membawa lukisannya, namun sang prabu Hayam Wuruk masih belum berkenan menjatuhkan pilihannya. Sampai tibalah saatnya dikirim juru gambar ke kerajaan Sunda Galuh untuk menggambar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang kabar kecantikannya sudah terkenal ke mana-mana.

Sementara itu, Gajah Mada melihat adanya kesempatan untuk membawa kepentingannya sendiri ke dalam utusan juru gambar Majapahit ke Sunda Galuh. Kemudian Gajah Mada menyusupkan beberapa orang bawahannya untuk pergi bersama-sama ke kerajaan Sunda Galuh menyampaikan maksud Gajah Mada agar kerajaan Sunda Galuh segera menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Sekembalinya utusan tersebut, prabu Hayam Wuruk ternyata berkenan dengan kecantikan putri Dyah Pitaloka dan berniat menjadikannya sebagai permaisuri. Maka diberangkatkan rombongan utusan kedua yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan di mana pesta perkawinan antara raja dan putri akan dilangsungkan.

Akhirnya disepakati bersama bahwa raja Lingga Buana, permaisuri, dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putri Dyah Pitaloka sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibu kota Majapahit.

Maka pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah prabu Lingga Buana beserta rombongan ke Majapahit. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi mereka mengingat maksud dan tujuan sang prabu ke Majapahit adalah untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka.

Perjalanan jauh mereka tempuh dari Galuh (Ciamis) menuju ke ibu kota Majapahit (Trowulan). Sesampainya rombongan tersebut di lapangan Bubat, tanpa terduga rombongan tersebut dicegat oleh utusan Gajah Mada yang menyampaikan maksud Gajah Mada agar putri Dyah Pitaloka diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai persembahan, tanda bahwa Sunda Galuh tunduk dibawah kekuasaan Majapahit.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit.

Namun rombongan sunda bersikeras agar Raja Majapahit harus turun sendiri menjemput pengantin dan rombongannya di daerah tersebut.

Sang Mapatih dihadapkan pada dilema, baik menerima maupun menolak persyaratan itu sama-sama akan membahayakan jalinan persatuan Nusantara yang sudah dengan susah payah dibangunnya sebelum ini.

Sebuah persatuan yang pada masa itu dapat dipertahankan diatas wibawa Sang Penguasa Kerajaan Majapahit. Para raja lain dibawah kekuasaan Majapahit akan membaca peristiwa tersebut sebagai isyarat melemahnya kerajaan besar tersebut oleh kepemimpinan Sang Raja yang masih muda itu.

Ini berarti akan berkobarnya kembali perang karena pemberontakan dari kerajaan-kerajaan dibawah Majapahit. Akhirnya perang mulut tak dapat dihindari, keduabelah pihak sama sama mempertahankan pendiriannya masing masing dan tidak mau mengalah.

Prabu Lingga Buana merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada tersebut, namun sebagai seorang pemimpim yang arif sang prabu tidak bertindak gegabah untuk dengan serta merta mengadakan perlawanan di tempat.

Namun kearifan hati sang prabu tidak diikuti oleh segenap anak buahnya. Dalam situasi demikian, setiap orang yang berada dalam rombongan tersebut pasti merasa marah dan dilecehkan.

ånå toêtoêgé

Dongeng selanjutnya:
Episode: Pasunda Bubat — “Mada Jiwana Pita”. (Parwa ka-2)

Nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: